Dua hari dua malam perjalanan dari Konoha, Hashirama dan kawan-kawan akhirnya touchdown di medan perang. Timing yang tepat karena kebetulan Naruto sedang kehabisan tenaga saat ini. Nidaime, Sandaime dan Yondaime terkesima berat melihat ribuan mayat shinobi aliansi bergelimpangan di tanah tak tertata itu. Sesekali bayang-bayang perang dunia shinobi sebelumnya berkelebat masuk di benak mereka.

"Madara, kau...?" Hashirama bergumam tak percaya melihat sohibnya hidup lagi.

"Hahahahahaha! Aku sudah menunggu kedatanganmu, HASHIRAMA!" mantan sahabat Senju Hashirama itu tertawa dengan begitu senangnya melihat segala kekacauan sudah terlaksana. Juubi ikut menggeram horror menyahuti tawa tuannya.

'Jadi ini yang namanya Uchiha Madara. Nenek moyang gue, begini?!' Sasuke agak sensi melihat ke-OOC-an embah kakungnya yang baru aja ketawa nista. 'Cih ... ternyata doi gak cool. Masih gantengan gue lagi.' tukasnya dalam hati.

"Hentikan semua ini, Madara! Jangan ulangi kesalahanmu di waktu lalu. Kau ingat impian kita, 'kan? Kita tidak ingin melihat adanya pertumpahan darah lagi antar shinobi! Percayalah ini bukan dirimu yang sebenarnya!" Hokage pertama memulai ceramahnya. Semua orang serta merta terdiam mendengar pidato live 'Bapak Para Shinobi' itu berkumandang. Bukannya insyaf, Madara justru menyeringai lebih lebar mendengarnya.

Nidaime Tobirama tak mau kalah, ia ikut maju ke depan. "Nii-sama, sudah saatnya kita menghentikan kegilaan orang ini. Sebelum semuanya terlambat." Pria bersurai putih jabrik itu lalu memasang kuda-kuda jurus elemen airnya.

"Hmph, kalian para Senju memang memuakkan. Apa kalian tidak ingat pesan terakhirku waktu itu, hm?"

Refleks dahi Hashirama dan Tobirama mengernyit kasar mencoba menggali ingatan. Pesan terakhir ... yang mana itu, ya? Mereka tidak ingat. Lagipula Madara terlalu banyak mengirim ultimatum pada Konoha seingat mereka.

Satu menit mereka berpikir Madara masih toleransi, mungkin karena faktor usia mereka jadi pikun. Namun begitu di menit kelima mereka masih ga inget juga, Madara langsung mengambil senjata kipas besarnya tanpa sabar. "Kalo ga inget bilang aja! Ga usah sok-sok mikir lo berdua! Hah!"

Syuut!

Uchiha terkuat itu melompat dari atas Juubi dan menarik napasnya dalam-dalam, "Katon gouryuuka no jutsu!" dan ia menyembur naga api raksasa dari mulutnya. Beruntung Tobirama cepat tanggap, sebelum api menyentuh kulit orang-orang ia sudah membuat dinding air sebagai kekkai. Sementara yang lain berlindung di belakangnya.

"Emang pesen terakhirnya apaan, sih? Masa Hokage bisa pada nggak tau gini?" Hashirama bertanya pada Sarutobi. Gak sadar muridnya yang tua itu justru lebih pikun darinya.

"Kalo saya ingetnya pria bertopeng yang mengaku sebagai Madara." Minato berkata sesuai ingatannya tujuh belas tahun silam.

"Tunggu dulu, kayaknya gue inget." Tobirama bergeming sejenak, "Nii-sama ... kaset video itu!" sang adik langsung menoleh panik pada kakaknya, bulir keringat bermunculan di pelipisnya. Akhirnya mereka ingat, pesan terakhir Madara sebelum menghilang waktu itu, adalah….

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Pesan Terakhir Madara

A Naruto FanFiction by Asakura Ayaka

Canon, Timeline maju mundur, OOC akut, nista dan gila menjadi satu

.

.

.

.

-Lima puluh lima tahun yang lalu-

Weekend yang cerah di Konoha, seorang pria kece badai dengan handuk pink menggantung di leher baru aja selesai dari jogging paginya berkeliling desa. Itu Senju Tobirama. Saat hendak membuka pagar besar rumahnya, shinobi yang waktu itu belum jadi Hokage ini menemukan sebuah kaset rekaman menggeletak asal di tanah. Tobirama otomatis celingukan bingung mencari orang, 'punya siapa, nih?' pikirnya sebelum mengambil kaset itu dan membawanya ke dalam rumah.

"Nii-sama, aku menemukan ini di luar." Hashirama yang saat itu lagi asik uncang-uncang cucu kecil—Tsunade—di kakinya langsung berdiam diri. Matanya menyipit ke arah benda yang dibawa sang adik.

"Jangan bilang ... itu bokep baru?" ujar Hashirama dengan senyum penuh maksud. Tobirama ikutan nyengir dan naik-turunin alisnya, entah apa yang dipikirkan dua kakak-beradik ini.

"Yuk kita nonton, bang."

"Tar dulu lah, ada anak kecil nih, bro—"

"HOKAGE-SAMA!"

Glek!

Seorang penjaga kediaman mereka tiba-tiba memberi laporan mencengangkan. Katanya lima menit yang lalu terjadi penampakan Madara di depan rumah. Madara meninggalkan suatu benda hitam di depan, namun itu bukan dompet apalagi surat gulungan rahasia juga. Melainkan sebuah kaset yang dicomot Tobirama barusan.

"K-Kata Madara, kita h-harus n-nonton pidio itu b-bbbareng-bareng, H-H-Ho-Ho-Hokage-sama." ucap si penjaga tergagap-gagap yang ternyata adalah salah satu keturunan Hyuuga itu.

"Begitu?" Hashirama langsung serius, gak mungkin kaset itu berisi video rate M kalo Madara yang ngirim. "Kumpulkan semua anggota klan. Bisa saja ini ancaman." himbaunya lagi.

.

.

Waktu berjalan dengan amat cepat, para Senju dari yang tua sampe yang muda duduk manis dalam sebuah aula besar sesuai perintah Hashirama. Di depan sana Tobirama sudah memegang remote yang tertuju ke layar. Semua serempak melafalkan bismilah sebelum nonton. Hashirama berdoa panjang lebar yang hanya disahuti amin singkat oleh koloninya.

Beralih lagi ke Tobirama, begitu jempol doi memencet play, belum apa-apa sudah nongol wajah sangar Madara dengan sharingan melotot ganas di layar.

"SENJU! LIAT MUKA SAYA!"

Semua orang langsung bergidik merinding liat tampang sangar Madara yang amat ketara di-zoom itu. Matanya seperti minta dicolok obeng kembang.

"SAYA TIDAK TAKUT! SAYA TAU DI BELAKANG KAMU SIAPA!" mendengar ini, Hashirama refleks noleh ke belakang dan gak menemukan siapapun di sana. Tch, Madara sok tau banget.

"PASUKAN KAMU AKAN SAYA AMBIL SEMUA!" telunjuk Madara makin nyolot ke arah kamera berasa film 3D, "KAMU PUNYA SENJATA INI, SAYA PAKAI SEKARANG UNTUK MELAWAN KALIAN! INI GAYA KAMU, 'KAN?! BEGITOH?!" lalu kakinya menghentak bumi tiga kali hingga tanah menjadi retak-retak ambles, para Senju mulai tutup telinga mendengar debaman ngebass-nya.

"INGAT, BUKTIKAN UCAPAN SAYA! TIDAK LAMA LAGI, SENJU DAN SEMUA PENGIKUTNYA, DAN SEMUA YANG MASIH MEMBELA SENJU AKAN HABIS-SEHABIS-HABISNYA. DE-MI-TU-HAAAAANNN!" sontak Tobirama langsung mengecilkan volume speaker begitu gunung-gunung yang menjadi background video Madara meledak bersahutan, memuntahkan lava panas secara gamblang ke langit Konoha. Entah itu pakai efek canggih apa, tapi video itu jadi makin angker saja, wajah Madara yang tertutup sebelah rambutnya menampilkan seringaian akut dan ia tertawa ala-ala kunti. Rambut gondrong jibraknya terbang-terbang ketiup angin.

"Ini trailer film apa sih, Jii-chan? Horror banget." Tsunade kecil nyeletuk asal.

Jeda sebentar, layar menghitam tiba-tiba. Dan begitu nyala lagi, terlihat Madara yang sedang menyeruput segelas minuman white coffee di pinggir balkon kamar. Background-nya tau-tau berubah lagi jadi sunset pantai. Madara mengangkat sedikit cangkir gelas dengan kalem.

"Konoha White Coffee. Kopi nikmat gak bikin kembung, gak bikin deg-degan, gak bikin marah-marah lagi. Trust me, it works." Madara memasang wajah ganteng seakan video nista sebelumnya ga pernah ada.

"IH, ini apaan, sih?!"

"Tau, masa ada iklannya! Emang Uchiha punya sponsor, apa?"

"Next, next!"

"Mending nonton gosip!"

Para penonton misuh-misuh. Saat mereka sudah bersiap pulang dengan bungkusan nasi kotak di tangan, video berlanjut ke scene ketiga. Madara kini duduk bersila di atas sebuah sofa hitam. Doi lagi nyalain cerutu di mulutnya sambil senyum miring. Mata kirinya lalu berkedip ganjen ke arah kamera.

"Kyaaaaaaaaa ganteeeng! Uchihaaaa!" suara gadis-gadis klan Senju anggota Madara FC langsung membahana di aula. Penonton gak jadi pulang.

"Senju, masih ingat saya?" ucap Madara anteng dengan kaki yang kini naek satu ke sofa, kimono v-chest yang dipakainya melorot ke kiri menunjukkan betapa bidangnya dada itu. Cewek-cewek makin menjerit alay.

"Kalian mau bikin saya mati? Tidak bisa, Senju. Kalian yang harus mati. Ingat, kalian sudah menghancurkan hidup saya, kalian sudah menghabiskan harta saya, menghancurkan klan saya, membunuh adik saya, merampas istri saya, menyia-nyiakan hati saya, dan menyita Kyuubi dari saya. Ingat, karma does exist! Camkan itu, Senju!" Madara melempar cerutunya ke kamera penuh kesal. Kemudian layar menjadi rucek abu-abu tanda video telah berakhir.

Krik krik krik krikk

Hashirama dan lainnya sweat drop di tempat. Apa-apaan itu, 'menghabiskan harta saya, merampas istri saya, dan menyia-nyiakan hati saya'? sepertinya itu tidak termasuk dalam list perbuatan klan Senju terhadap seorang Uchiha Madara. Entah script siapa yang tadi dihapal pria Uchiha itu. Hashirama mulai memutar memori ingatannya waktu kecil sewaktu mengenal Madara pertama kali, ia ingat dulu Madara tidak segila dan senarsis ini. Semua berubah semenjak Madara merasa dirinya tak dianggap penting di Konoha. Justru sebaliknya, founding father desa itu malah disangka ancaman berbahaya. Hashirama bertekad meluruskan semuanya.

"Tobirama, lindungi desa. Biar aku yang menghadapi Madara sendiri…."

.

.

#####

.

.

Kembali ke masa kini, masa perang dunia shinobi keempat. Hashirama sekarang ingat apa pesan terakhir Madara. Pertarungan masa lalu kembali terulang dengan Madara dan Hashirama berdiri di garis depan.

"Please, Mad. Jangan kayak anak kecil, lo udah tua bangka masih aja ambekan gara-gara masa lalu."

"Diem lo, Ram!" Madara nyerocos tak terima dirinya dibilang tua bangka. "Hati gua terlanjur sakit! Semua orang pada gak tau diri, gua enek sama dunia ini!" bentaknya terus terang dengan mulut sudah berbusa, "Ngomong-ngomong balikin kaset video gua yang waktu itu! Aib besar tuh!" Madara kini menunjukkan raut agak waswas ke Hashirama, semburat merah tipis-tipis merona di tulang pipinya. Semua juga tau video laknat itu amat malu-maluin, gak terkecuali pemain utamanya sendiri—Uchiha Madara. Dia gak sadar termakan emosi dendam waktu itu sampe nekad syuting di studio mahal.

Hashirama akhirnya menemukan ide cemerlang. Ia melakukan kuchiyose no jutsu dan—wussh!—kaset video itu sudah berada di tangannya sekarang. "Nih, gue balikin. Tapi lo tes dulu aja, siapa tau ketuker sama kaset-kaset gue yang laen." saran Hashirama seriusan. Madara langsung nyamber kaset itu dengan juteknya, lalu menatapnya agak sengit.

"Be-er-be. Gua coba dulu."

POFF!

Dalam sekejap mata sosok Madara menghilang bersama asap dengan dalih nyobain kaset yang diberikan Hashirama. Juubi ditinggal sendirian, sementara Obito masih sibuk bernostalgia dengan Kakashi di dimensi lain.

"Ini kesempatan kita. Segel Juubi sekarang!" perintah Hashirama pada seluruh aliansi. Minato siap action dengan koleksi jurus-jurus segel klan Uzumaki yang dikuasainya. Sebentar lagi ... perang dunia shinobi akan berakhir seiring berhentinya amukan monster ekor sepuluh itu. Kemunculan Hashirama emang sangat membantu pihak aliansi yang hampir K.O di tangan Madara.

.

.

Sementara di suatu tempat lain yang jauh dari medan perang, Madara sudah siap memutar video yang diberikan Hashirama tadi. Dipencetnya tombol play dengan tenaga penuh dan mata melotot. Loading video agak lama semakin menguras kesabarannya yang serasa lagi buffering YouTube, tak jarang pria itu malah menggebrak-gebrak televisi 14 inch yang ada.

Brak brak brak!

"Brengsek, lama!"

Brak brak brak!

"Gembel!"

And finally, setelah lima belas menit seperti itu, gambar yang muncul di layar kaca adalah….

'Kau buatku gerah-rah-rah-ahh, ini lebih dari sekedar rasa. Atau ilusi semata-ta-ta-taahh, kau buatku bergairahh.'

"WTF APA INI!" perempatan siku muncul di jidat Madara. Semakin murka sajalah pria ini ditipu Hashirama dengan video boyband entah-apa-itu yang kini masih terputar di tipi. Madara masih menonton lanjutannya.

"Gara gara gara kamu aku mabuk kepayang, kali kali kali kali aja kau juga sayang—"

DUARRR!

Tidak kuat lagi, Madara menghancurkan TV itu dengan tangannya sendiri. Ia semakin merasa terkhianati dengan semua kekonyolan ini. Penuh amarah menggebu dirinya berteleportasi kembali menuju medan perang lagi. Sialnya—entah saat itu dia salah lokasi atau apa—Madara tak menemukan siapa pun di sana. Tak ada Juubi, tak ada aliansi shinobi, tak ada kehancuran yang tersisa. Intinya perang sudah selesai tanpa sepengetahuannya. Semua berkat ide Hashirama yang kelewat licik padanya.

"KURANG AJAR KAU, HASHIRAMAAAAAAAA!"

.

.

.

.

FIN


(Credit belongs to mas Aria Wiguna selaku pemain asli video Demi Tuhan :3 iklan-iklan minuman white coffee, dan lagu 'Ahhh' milik SMASH yang diputer Madara). Sebenarnya gak saya cantumin juga kalian pasti tau kan hihihii, saya hanya buat fic parody-nya saja tanpa ngambil untung.

Yak, author kembali dengan penname baru dan fic yang amat nista. Sudah menjadi hobi Aya untuk memparodikan sesuatu yang lagi trending untuk dimasukkan dalam alur canon. Thanks for reading ^^ oh

Kuucapkan Selamat Ulang Tahun untuk kamu, Lulu Retno Wulan P. alias Tsurugi de Lelouch :* hadiahnya fic ini ya kekekekee hope you like it, dear.

Sampai bertemu lagi di karya berikutnya. Sekedar pesan, saya rencana hiatus sampai Agustus nanti :') Jaa ne~