=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

Fullmoon Fever

[Case Closed?]

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

.

.

.

Departemen kepolisian.

Sudah hampir satu tahun badan yang bertanggung jawab untuk mengayomi dan melindungi masyarakat tersebut dibuat kelimpungan dengan berbagai kasus pembunuhan yang rajin absen setiap bulan. Para korban selalu ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Termutilasi. Lebih tepat seperti dimangsa hewan besar sebangsa beruang, sebelum anggota badan lainnya ditemukan berserakan di sekitar tempat kejadian. Tentu saja, makhluk ganas semacam itu mustahil berada di perkotaan yang bahkan jauh dari rimba belantara.

Para saksi yang dimintai keterangan juga tidak meringankan proses penyelidikan mereka sama sekali. Iblis, setan, apalah. Hanya itu yang mereka katakan sebelum pola pembunuhan ini menjadi lebih rapi terselubung setiap lembar kalender berganti.

"Apa kita harus percaya pada ucapan mereka?" seorang admin kepolisian dengan nama Miki terpampang di kartu tanda pengenalnya, bergumam. Jemari lentik mengetik lincah di atas keyboard, mengoreksi setiap data korban kasus misterius ini di layar monitor.

"Korban bulan ini, Mizki," lenguhnya kemudian. Foto close up seorang anak SMA terpantul di kacamata yang ia gunakan. Wanita itu memanyunkan bibir. Mengerutkan alis kekanak-kanakan.

"Malang sekali nasibnya, masa SMA bukannya hal paling indah untuk gadis remaja?" ia bertanya lebih kepada… tak seorang pun.

Satu-satunya lelaki yang selalu mengenakan jaket coklat dan topi bulat berwarna hitam di dekat perempuan itu sama sekali tidak memberi respon. Jemarinya bertaut menyangga berat kepala yang semakin bertambah akibat tumpukan arsip menjejal ruang memori di balik tengkoraknya. Sampai kapan kasus ini akan terus bergulir? Citra dan kinerja mereka mulai dipertanyakan karena dalang dari serial killer ini belum terendus olehnya.

"Pembunuhan acak, tanpa mengenal korban." ia bergumam. Teman wanita seruangannya melirik sekilas. Alur alis pria itu membentuk cekungan tajam dan dalam, kedua mata terpejam. "Korban di habisi dengan cara sadis dan keji. seperti binatang buas." Lelaki bernama Yuuma itu mendesah lelah. Membuka sepasang manik berwarna kuning emas perlahan, sebatas ujung kuku.

"Yuuma kun, mengapa kamu begitu yakin kalau ini pembunuhan?" gadis bersurai pirang, mendekati warna oranye, bertanya padanya. Mereka berdua sama. Sama-sama hanya menatap kosong objek di masing-masing meja. Jika bukan karena suara tawa sinis lelaki itu yang mana memancing perhatiannya, pasti ia tidak akan menoleh saat ini. Sambil cemberut.

"Kau juga percaya pada hal-hal di luar nalar semacam itu, Miki?" garis mata lelaki itu melengkung naik. Bibir tersenyum, tinggi menyungging di satu ujung. Ia tahu maksud ucapan gadis di seberang kanan mejanya. Tentu saja seorang Yuuma akan selalu mantap pada kecurigaan otak cemerlangnya. "Kurasa novel terjemahan berarti 'senja' itu sudah cukup memberimu dosis." lelaki itu menenggelamkan kepala di lipatan siku setelah menyindir bacaan kegemaran sang lawan bicara. Menahan tawa hingga tubuh berguncang seperti kakek-kakek di jalanan saat gempa melanda.

Atau begitulah sekiranya bayangan sosok bertopi hitam berambut gulali di mata Miki saat ini. "Hina aku sepuasmu, awas saja kalau aku memergokimu membaca buku-buku bertema sama denganku." ia menghardik seraya melempari Yuuma dengan spidol kehabisan tinta yang reflek ia sambar dari tempat pulpen ujung mejanya. Proyektil itu melesat lurus menuju objek sasaran. Namun Yuuma memang bukan tipe pria pengalah, lelaki itu dengan sigap menangkap benda asing yang menghampirinya.

"Tap!"

Tertangkap sempurna di antara telunjuk dan jari tengah. Ia mengangkat wajah, menggerakkan spidol di tangan dengan gestur dan mimik yang kompak berkata ti-dak-ke-na. Miki berdecak kesal di tempat duduknya, gadis itu melipat tangan di dada. Berpaling acuh dari pria bodoh bertampang menyebalkan yang kembali mengudara gema tawanya.

Tak lama berselang, suara daun pintu ruangan mereka dibuka seseorang dari luar mengusik keduanya. Disusul Sosok wanita tinggi semampai dengan rambut hitam bergelombang menyambut penglihatan mereka, yang mana secara spontan teralih dikarenakan wanita itu sempat berkata,

"Ah, Miki chan dan Yuuma kun sedang bermesraan rupanya," lirikan mata menyipit jahil. Tak perlu ditanyakan bagaimana reaksi kedua anak adam berlainan jenis ini kemudian. Corak stroberi sudah menari-nari di balik pipi mereka tanpa bisa dikontrol lagi. "Begitu ya kalau kerjanya tidak sedang di awasi, kalian nakal sekali." lanjutnya sambil terkikik geli seorang diri.

"A-Avanna san! Apa-an sih! Yuuma kun yang mulai duluan!" gadis itu kelabakan membela posisinya yang merasa paling dipermalukan. Sedangkan si pria mencoba mempermak wajah yang terlanjur kecolongan merah padam dengan ekspresi garang ─yang jelas-jelas itu mustahil mengingat kecocokan bentuknya selevel penyanyi idola berjuta fans.

Miki sekarang merengut, emosi tak terkendali meluap-luap dari suara ketikan sadis di balok-balok tuts. Perempuan bernama Avanna itu tertawa. Tak peduli pada sikap tsundere Miki yang memang sudah bukan hal baru baginya, lalu melenggang menuju Yuuma. "Yuuma kun, kau mungkin tertarik dengan ini" sebuah arsip baru ia hadapkan pada lelaki itu. Kali ini darah berlomba-lomba berlarian dari wajahnya, lenyap seketika meninggalkan kulit pucat yang menggantung lesu.

"Bagus, apa lagi sekarang?"

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

Sebuah foto gadis berkuncir dua penjepit persegi kini berada di tangan Yuuma. Remaja putri berambut sewarna emerald membentuk tiga rumpun anak rambut melintasi wajah putih permata ─namun tidak sampai menghalangi dua manik berwarna senada di baliknya─ tengah menghadap ke arah kamera pemotret misterius yang mengambil gambarnya, yang mana saat ini tengah di rawat di rumah sakit akibat luka serius.

Lelaki bertopi bulat itu memperhatikan sedikit lebih seksama penampilan gadis bersurai sepanjang lutut di dalam gambar. Bulatan kuning di mata yang tampak berpendar, kemungkinan saat blitz bekerja, sedikit mengusik rasa ingin tahunya.

"Gadis remaja itu selalu terlihat di beberapa tempat di malam-malam pembunuhan bulan purnama. Saat orang-orang lebih memilih berdiam diri di rumah dan semua tuna wisma mengungsi ke tempat-tempat ibadah," Avanna membuka mulut, mengusir sunyi yang mengambang. "apakah menurutmu mata itu asli?"

Ritme ketikan Miki menurun seiring percakapan intens dua rekan kerjanya. Sesekali dia melirik ke meja Yuuma, tapi kecewa karena yang di dapat hanya punggung Avanna. Foto itu dicetak langsung dari kamera manual yang masih menggunakan gulungan negative. Itu kenapa hasilnya sedikit buram. Namun sang pemotret jelas seorang pro, melihat hasil jepretan gambarnya termasuk dalam kategori bisa dibilang bagus, dalam artian asli dan natural.

"Memang terdapat kemungkinan bahwa itu hanya lensa kontak biasa," tapi bukti dan laporan tentang gadis ini, serta insiden yang menimpa fotografer setelahnya… Alis Yuuma mengernyit. "tidak ada salahnya kita mencari tentang siapa gadis ini." baru saja kalimat itu terlontar, wanita yang jauh lebih tua dari lelaki itu menarik secarik foto lagi dari sela helaian arsip baru yang di serahkannya.

"Coba perhatikan kakak beradik yang hilang sejak kasus ini mulai beredar." Manik merah jambu bergilir antara satu foto ke foto lain. Sejenak menit berlalu, senyuman sinis mulai berkedut di bibir Yuuma. Apa seniornya ingin berkata secara tidak langsung bahwa gadis ini adalah gadis yang sama? Memang ada kemiripan pada gaya rambut serta warnanya, namun mana ada gadis kecil berumur enam tahun tumbuh menjadi gadis bertinggi tubuh kurang lebih 150-160cm dalam kurun waktu sepuluh bulan? Apa otak wanita di sebelahnya ini juga tercemar kegemaran serupa rekan kerja seruangannya?

"Mengada-ada, mustahil." Ia melempar punggung ke sandaran kursi "hanya manusia kolot tak berpendidikan yang masih percaya hal-hal mistis masih eksis di abad dua puluh satu," kritikan pedas. "ini hanya pembunuhan berantai di mana pelakunya cukup lihai melarikan diri, tapi tidak menghilangkan jejak dan bukti," sambungnya panjang lebar.

Miki tadinya sudah tenggelam dalam kesibukan kembali teralihkan oleh suara Yuuma yang melesat naik satu oktaf. Bukan membentak, tapi bentuk penekanan pada pendirian lelaki yang dikenal selalu percaya diri tersebut. "Tidak ada laporan binatang lepas dari kebun binatang. Kota juga cukup luas bagai rimbunan hutan beton yang artinya mustahil binatang buas dari rimba ada di sini. Jika memang binatang buas, makhluk itu juga pasti sudah bisa tertangkap oleh pawangnya. Orang yang tahu betul apa yang dia kejar dan buru serta sifat dan kebiasaannya."

Yuuma menghela napas sejenak. "Lalu kalian ingin aku menyerah pada satu pilihan omong kosong semacam werewolf dan sejenisnya?" tak satu pun dari kedua perempuan di dekatnya berkutik, apalagi menyela tingkah binal 'si kuda liar'. "satu-satunya werewolf yang ku yakini adalah seorang psikopat gila peneror warga kota dan menyebarkan pemahaman sesat beracun tanpa dasar." Mereka hanya bisa membisu membiarkan Yuuma mengeluarkan beragam teori logis dari super komputer di kepalanya.

"karena hanya dia yang berburu mangsa di malam purnama, tidak satupun makhluk buas di muka bumi bertingkah demikian"

.

.

.

"Menyenangkan sekali mempermainkan karakter sepertinya di dunia kita ini. Iya kan, Beelz?"

"Sebaiknya kau lebih banyak menulis daripada sekedar bicara."

"Tentu saja."

.

.

.

"Seekor kuda boleh terlihat tangguh saat ini, tapi bagaimana jadinya jika kucing-kucing ini berhasil menjatuhkannya?"

"Lanjutkan saja monologmu, Kurone. Aku muak dengan ocehanmu, aku ingin keluar sebantar untuk mencari camilan."

.

.

.

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

Fullmoon Fever

[Case Closed?]

Story © Nekuro Yamikawa

Vocaloids © YAMAHA, Crypton Future Media & joined companies

Genre : Fantasy / Tragedy

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

THANKS FOR READ...