Naruto by Masashi Kishimoto

Saya hanya meminjam karakternya dan sama sekali tidak mengambil keuntungan materi di dalamnya.


Anyelir Merah

untuk Anne Nella


Kedua mata Sakura mulai menyapu keadaan di sekelilingnya. Tak ada sosok Sasuke di mana-mana. Jelas semalam mereka telah melakukan malam yang dahsyat seperti biasa. Namun sudah beberapa hari ini Sakura merasa kosong. Tak ada ucapan selamat pagi yang mesra ketika dia membuka kedua matanya beberapa pagi ini. Pagi hari setelah bercinta, sosok Sasuke seolah lenyap begitu saja. Tak ada kecupan selamat pagi yang biasanya mendarat di dahinya. Tak ada sapaan mesra yang menyapu telinganya. Hanya ada setangkai anyelir putih yang selalu hadir di pagi hari ketika dia membuka matanya. Anyelir yang diletakkan di atas tempat tidur, mengganti kekosongan sosok Sasuke.


Bagian II


Kegelisahan muncul di hatinya. Selama pernikahannya dengan Sasuke, tak pernah sekali pun Sasuke melewatkan pagi hari setelah percintaan mereka dengan menghilang seperti hari-hari terakhir. Ada apa dengan Sasuke? Apakah masa-masa indah pernikahan mereka telah lewat?

Sakura pernah mendengar bahwa tak jarang para lelaki memiliki wanita idaman lain meski masih terikat janji suci yang pernah diucapkannya di altar pernikahan. Selama ini Sakura tidak pernah merasa curiga bahwa Sasuke termasuk satu dari sekian lelaki itu. Apalagi selama mengarungi bahtera rumah tangga, mereka selalu berusaha menjaga kemesraan di antara mereka. Namun sikap Sasuke yang selalu menghilang setiap pagi dan selalu pulang ketika malam sudah larut mau tidak mau membuat Sakura curiga.

Keinginannya untuk bekerja pagi ini seakan sirna. Ketidaktahuannya akan keberadaan Sasuke membuat hati Sakura gelisah. Dia tidak bersemangat melakukan hal apa pun. Dia mencoba menghubungi ponsel Sasuke. Namun nihil. Tak ada respons dari Sasuke atas panggilan tersebut.

Dengan langkah gontai, Sakura meletakkan anylelir putih di dalam vas bunga. Sakura menyesap harumnya, sebelum meletakkan vas di atas meja rias kamarnya.

.

.

Sudah seharian ini Sakura berusaha menekan rasa gelisahnya. Sasuke belum juga menghubunginya atau sekadar membalas pesan-pesannya. Dulu Sakura merasa kalau dia dilarang bekerja, maka hidupnya akan hampa. Nyatanya tak ada kabar sedikit pun dari Sasuke-lah yang membuat hatinya hampa dan kosong seperti saat ini.

Mencoba untuk tetap berpikir positif, Sakura berencana ingin membuat tempura malam ini, makanan kesukaan Sasuke. Saat memilih-milih bahan makanan untuk membuatnya, ponsel di atas meja jatuh tersenggol tangannya. Sakura merunduk, mengambil ponsel itu.

Guncangan saat jatuh membuat layar ponsel itu langsung terbuka pada pesan masuk dengan tanggal seminggu yang lalu. Sakura mengerutkan keningnya. Nama pengirim pesan itu adalah Naruto. Seingatnya Naruto tidak pernah mengirimkan pesan apa-apa padanya seminggu yang lalu.

From: Naruto

Aku mengerti perasaanmu tapi kau harus menerima kenyataannya.

Kerutan di kening Sakura bertambah. Apa maksud dari pesan Naruto? Dia sama sekali tidak mengerti pesan yang disampaikan oleh Naruto. Tanggal pesan itu dikirim adalah seminggu yang lalu. Padahal Sakura ingat betul bahwa seminggu yang lalu dia tidak pernah merasa menerima pesan seperti itu dari Naruto.

Didukung oleh rasa penasarannya yang kuat, Sakura kembali membuka pesan-pesan Naruto selanjutnya.

From Naruto:

Berhentilah bersikap seperti ini. Kau punya hidup yang harus kaulanjutkan.

From Naruto:

Mengertilah, dia tidak akan kembali! Kau tidak boleh terus-menerus menganggapnya masih ada.

Sakura semakin tidak mengerti perkataan yang tertuang dalam pesan-pesan itu. Seminggu yang lalu. Ada kejadian apa sehingga Naruto mengiriminya pesan seperti itu? Sakura berusaha mengingat-ingat kejadian apa yang membuat Naruto mengiriminya pesan seperti itu. Namun saat mencobanya, kepala Sakura sakit bukan main. Rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuknya saat dia mencoba mengingat semuanya.

Sakura akhirnya melanjutkan membaca pesan-pesan lainnya yang ternyata masih dari pengirim yang sama.

From: Naruto

Itu bukan salahmu. Kau tidak bisa menyalahkan dirimu. Sudah takdir jika dia harus meninggalkanmu.

From: Naruto

Kau berhak melanjutkan hidupmu!

Sakura sudah tidak sabar. Dia langsung menghubungi nomor Naruto agar mendapat penjelasan langsung dari pesan-pesannya selama seminggu ini. Sakura tak pernah merasa menerima pesan-pesan seperti itu. Tapi kenapa pesan-pesan itu ada di ponselnya?

Nomor Naruto sama sekali tidak menjawab panggilannya. Hanya suara operator provider yang menjawab panggilannya secara otomatis. Sakura berpikir dengan keras. Apa yang terjadi?

Akhir-akhir ini dia sering melupakan hal-hal yang terjadi dalam hidupnya. Seperti dia kehilangan sedikit ingatannya pada waktu tertentu. Mungkin Sakura bisa bertanya pada Sasuke saat lelakinya itu pulang malam ini.

Sakura melanjutkan kegiatan memasaknya yang sempat tertunda. Setelah semuanya selesai, Sakura berusaha menghubungi kembali nomor Sasuke. Tapi tak ada jawaban. Tak henti-hentinya Sakura mencoba menghubungi nomor Sasuke. Seharian ini Sasuke tidak mengabarinya. Namun hasilnya nihil. Tak ada satu pun panggilannya yang diterima oleh Sasuke. Hanya ada suara operator provider yang menjawab bahwa nomor Sasuke tidak bisa dihubungi.

Sakura menangis. Mungkinkah apa yang ditakutkan olehnya benar-benar terjadi? Bahwa Sasuke memiliki wanita idaman lain di luar sana? Mungkinkah Sasuke benar-benar meninggalkannya? Tidak. Sakura menggelengkan kepalanya dengan kalut. Sasuke mencintainya. Sasuke tidak mungkin meninggalkannya. Lagi pula butuh hal lebih dari keinginan meninggalkannya untuk meninggalkannya. Karena sampai kapan pun Sakura tidak akan membiarkan Sasuke pergi dari hidupnya.

.

.

Tempura yang sudah dingin menjadi saksi betapa lamanya Sakura sudah menunggu kepulangan Sasuke. Sudah enam jam Sakura menunggu Sasuke dengan gelisah di dapur mereka. Pengurus rumah tangga mereka sedang cuti, tak ada siapa pun di rumah yang bisa menemani Sakura untuk menunggu Sasuke. Tidak ada kabar sama sekali dari Sasuke. Padahal biasanya jika Sasuke pulang terlambat karena lembur atau meeting, Sasuke selalu mengabarinya.

Hal ini membuat Sakura semakin gelisah. Air mata mulai mengalir di pipinya. Lalu tiba-tiba sepotong ingatan muncul ke permukaan.

Sakura mendekap kedua mulutnya. "Tidak! Tidak! Tidakkk!"

.

.

Sakura membuka pintu kamarnya dengan hati-hati. Dia mengendap-endap saat masuk ke dalam kamarnya sendiri. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Seharusnya Sasuke sudah pulang. Lampu kamar padam. Pelan-pelan Sakura mengendap-endap menuju kaki tempat tidur. Tempat tidur kosong. Tak ada sosok Sasuke.

Sakura menghela napasnya. Hari ini lagi-lagi dia harus lembur di kantornya. Sasuke pasti marah besar. Berulang kali dia meminta Sakura untuk berhenti bekerja. Bagi Sasuke, Sakura seharusnya hanya diam di rumah dan mengurus anak-anak mereka nanti. Tidak perlu bekerja dengan serius sampai larut malam seperti sekarang ini. Untuk apa? Toh kekayaan Sasuke cukup untuk menghidupi mereka sampai usia senja nanti.

Namun Sakura tidak peduli. Dia tidak peduli dengan larangan Sasuke. Sakura lega karena Sasuke belum pulang. Maka dia bisa menghindari konfrontasi yang mungkin terjadi jika Sasuke memergokinya pulang kerja larut malam seperti ini. Namun hatinya juga sedikit gelisah karena tidak ada satu pun kabar dari Sasuke. Biasanya Sasuke akan menghubunginya jika pulang terlambat.

Lalu Sakura memeriksa ponselnya. Ada tujuh panggilan tak terjawab yang berasal dari nomor Sasuke. Sakura menepuk dahinya. Dia lupa, ternyata dia mengaktifkan mode sunyi pada ponselnya. Sasuke pasti marah besar. Dengan segera Sakura menghubungi balik nomor Sasuke. Satu detik, dua detik, bahkan sampai satu menit, tak ada jawaban.

Sakura mencoba menghubungi nomor Sasuke lagi. Namun yang menjawab bukanlah Sasuke.

"Sakura-chan," kata suara yang menjawab panggilan telepon Sakura.

"Naruto? Sasuke di mana?" Sakura sedikit bingung. Kenapa Naruto yang menjawab panggilannya.

"Sasuke, dia kecelakaan. Aku baru tiba di lokasi kejadian. Kuatkan dirimu, Sakura-chan."

Ponsel Sakura terjatuh begitu saja. Dia menutup mulutnya.

"Tadi dia berusaha menghubungimu. Dia khawatir karena sejak sore kau tidak menjawab teleponnya. Bahkan sampai kami selesai meeting, kau tidak merespons panggilannya. Dia memutuskan untuk menjemputmu. Dia..."

Sakura tidak lagi mendengarkan perkataan yang diucapkan oleh Naruto. Tubuhnya merosot lemas. Anyelir putih pemberian Sasuke kemarin malam masih segar tertata di vas bunga. Sakura beringsut, menggapai vas bunga itu. Dia tidak peduli pada vas bunga yang pecah di sekitarnya. Dia hanya peduli pada setangkai anyelir putih terakhir pemberian Sasuke. Sakura menyesap dalam-dalam anyelir itu. "Sasuke-kun," bisiknya.

.

.

Naruto sudah memberikan alamat rumah sakit tempat Sasuke dirawat setelah mengalami kecelakaan. Kondisinya kritis. Naruto bilang harapan Sasuke sangat tipis. Sakura bergegas menuju lokasi. Dia mengemudikan mobil sedannya, pemberian Sasuke saat ulang tahunnya tahun lalu. Anyelir putih masih berada di tangan Sakura. Sakura menggenggam tangkainya. Sakura mengapit anyelir itu dengan kemudinya. Dia berusaha menguatkan dirinya dengan sesekali memandang anyelir itu.

Dulu Sasuka pernah bertanya, apa bunga kesukaannya? Sakura langsung menjawab anyelir putih. Dia tidak tahu kenapa dia menjawab anyelir putih. Dia hanya suka. Dan rasa sukanya pada anyelir putih bertambah karena Sasuke selalu menghadiahinya setangkai anyelir putih sebelum dan sesudah mereka bercinta. Membuat Sakura merasa sangat dicintai. Kini anyelir putih jualah yang menguatkannya saat berita kecelakaan Sasuke menghampirnya.

Sakura lemas, tapi dia tetap berusaha mengendalikan mobilnya dengan cepat. Dia ingin segera melihat langsung keadaan Sasuke. Sakura sudah tidak memedulikan apa-apa lagi. Kalau Sasuke meninggalkannya dia tidak akan sanggup. Dulu dia pernah berkata pada Sasuke, daripada harus ditinggalkan lebih dulu, Sakura lebih memilih untuk meninggalkan Sasuke lebih dulu. Sasuke bisa mencari Sakura-Sakura yang baru. Sedangkan Sakura tidak akan sanggup mencari pengganti Sasuke.

Sakura hanya bisa melebarkan kedua matanya saat melihat truck dari arah yang berlawanan sedang melaju kencang ke arahnya. Sakura membanting kemudinya ke kiri, menghindari bentrokan yang mungkin terjadi. Hal terakhir yang dilihatnya adalah setangkai anyelir putih yang telah berubah warna menjadi merah. Karena sampai akhir pun, "Aku selalu menginginkanmu, Sasuke-kun."

.

.

.

Sasuke masih terpekur di atas pusara Sakura. Dia sudah tidak memedulikan apa-apa lagi. Seandainya dia tahu kalau Sakura akan meninggalkannya, maka dia berharap dia tidak akan selamat dari kecelakaan yang menimpanya. Kenapa dia harus selamat jika Sakura yang harus meninggalkannya? Apalagi saat itu dokter yang menangani Sakura mengatakan bahwa Sakura sedang dalam kondisi hamil delapan minggu. Kehilangan istri dan calon bayi dalam waktu yang bersamaan membuat dunia seakan runtuh di depan mata Sasuke.

Selama seminggu ini Sasuke selalu bersikap seolah-olah Sakura masih hidup. Dia selalu meletakkan setangkai anyelir putih setiap malam di ranjang pengantin mereka. Berharap saat dia membuka mata di pagi hari, maka pemandangan Sakura yang sedang menyesap bunga itu akan menyapanya seperti pagi-pagi sebelumnya. Namun semuanya hanyalah harapan semu. Karena Sakura tak pernah kembali.

Sebuah tepukan mendarat pelan di bahu Sasuke.

"Pulanglah dulu. Hari sudah senja." Naruto menatap Sasuke dengan sedih. Dia mengerti kesedihan mendalam yang dialami Sasuke. Namun dia tidak ingin Sasuke terus larut dalam kesedihannya.

"Bukan salahmu, Sasuke. Semua bukan salahmu."

"Hn."

Sasuke meletakkan setangkai anyelir putih di atas pusara Sakura. Jika Sasuke tidak bisa menemaninya sampai nanti. Biarlah anyelir putih itu yang menemani Sakura sampai Sasuke menyusulnya. Sinar matahari senja membuat warna putih anyelir itu bergradasi menjadi kemerahan.

.

.

Selesai

.

.

Omake

Naruto sampai ke rumahnya setelah mengantar Sasuke ke makam Sakura. Dia mengeluarkan ponselnya. Kedua alisnya bertaut, bingung saat melihat ada panggilan tak terjawab dari nomor Sasuke. Seingatnya tadi Sasuke bilang ponselnya tertinggal di rumah. Dilihat dari jam saat panggilan itu adalah saat Sasuke sedang di makam bersamanya. Lalu siapa yang menghubunginya dengan nomor ponsel Sasuke?

.

Benar-benar selesai

.

.

An: Seperti biasa, aku ucapkan terima kasih buat semuanya yang sudah membaca fanfic ini. :)

Terima kasih juga yang udah meluangkan waktunya untuk review, follow, bahkan fave. *peluk*

Untuk pertanyaan retoris di akhir omake, kalian pasti tahu kan siapa yang nelepon Naruto dan nggak diangkat sama dia? Hehehe...

Salam hangat,

ahalya