Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto

Title : When Love Comes Late

Genre : Hurt/Comfort, Romance, Drama

Rate : T

Pairing : NaruSaku, SasuKarin, slight SasuSaku.

Warning : AU, OOC, gaje, abal, ancur, minim deskriptif, typo(s), dll.

Summarry: Ketika cinta datang terlambat, apakah yang akan dia dapatkan? Penyesalan ataukah justru Cinta Sejati? Sakura Haruno adalah seorang gadis cantik yang menganggap cinta itu menyakitkan, semenjak ia berpisah dengan cinta pertamanya—Uchiha Sasuke—padahal bagi Ino, sahabatnya...cinta itu menyembuhkan segalanya. Akankah seorang Naruto Namikaze sanggup membuatnya berpaling dari Sasuke?

Chapter 1 : I Hate You

Saranggeun apeun-go (cinta itu menyakitkan), meskipun bagi Ino 'Sarangeun modeun geosul chiyu hamnida' (cinta itu menyembuhkan segalanya) tapi tidak bagiku. For me, Love isn't part of my destiny—Haruno Sakura—

Oo Sakura's POV oO

"Gomen, aku sudah tidak menyukaimu lagi!" kata-katanya masih berdengung di telingaku kemana pun aku pergi.

Uchiha Sasuke, orang yang satu minggu yang lalu berpacaran denganku pergi begitu saja seakan-akan aku hanya barang rongsokkan yang tidak berguna. Dia bilang, dia telah menjadi anggota sebuah Production House yang terkenal—Shimura Entertainment— dan sekarang dia pergi begitu saja seakan-akan aku hanyalah Koran yang sudah selesai di baca, sudah tidak ada yang menarik, maka hanya tinggal di loak atau di timbun di gudang sampai berlubang di makan tikus. Padahal kemarin dia masih belum jadi siapa-siapa. Bukan seorang artis, hanya seorang manusia biasa, sahabatku sejak kecil...sama seperti Ino. Kini aku dan dia sudah selesai. Selesai. The end. Tidak ada hubungan apa-apa lagi. Tapi aku tidak akan menangis juga tidak terlalu bersedih, hanya merasa kesal dan sakit hati. Di pikirnya aku ini wanita macam apa? Dan mulai sekarang aku berjanji, akan menutup kuping, menutup mata, menutup semua memori tentang dia sama sekali, dan aku berharap beberapa tahun lagi aku bahkan tidak tahu siapa itu Uchiha Sasuke.

"Kau jahat! Aku benci padamu, Sasuke-kun! Aku pasti akan membalaskan dendamku!"

oooOOcherryblossomOOooo

Siang hari di musim semi yang sejuk, dua tahun setelah Sasuke meninggalkanku, dan sekarang telah menjadi artis terkenal. Benar-benar terkenal hingga aku nyaris tidak mengenalnya lagi. Peduli amat, bahkan aku tak pernah melihat konsernya, membeli CD-nya, membeli posternya apalagi bergabung dalam fans club-nya yang kebetulan teman-temanku ikuti. Aku hanya pernah mendengar salah satu lagunya di radio secara tidak sengaja, yang bahkan begitu mudah aku lupakan. Yah, semudah dia melupakkanku. Padahal sedikit pun aku tidak pernah bisa melupakan perasaanku terhadapnya. Semakin aku berusaha malah semakin sulit. Jika Ino sampai tahu tentang ini, dia pasti akan meledekku habis-habisan karena komitmenku dulu jelas salah total. Aku yang dulu berkata, tak pernah mencintainya, sungguh sedikit pun tak pernah, dan tak akan pernah mencintainya lagi. Ingin balas dendam. Sanggupkah aku mengatakannya secara langsung? Sanggupkah aku melakukannya jika seandainya aku bertemu lagi dengan Sasuke-kun?

Aku memang membencinya. Sangat membencinya malah, tetapi di sisi lain aku juga mencintainya. Mungkinkah sebagian dari diriku akan selalu mencintainya? Tidak bisakah aku berpaling pada laki-laki lain? Tidak bisakah aku mencintai orang lain sepenuh hatiku?

Biarpun hari sudah siang tetapi cuaca masih tetap sejuk. Musim semi memang indah. Musim semi adalah musim favoritku sebab setiap kali musim semi datang aku selalu teringat persahabatanku dengan Ino. Aku yang dulu lemah dan cengeng, dan sering di bully oleh teman-teman karena dahiku yang lebar, akhirnya bisa menjadi gadis yang kuat berkat Ino. Saat dia bilang aku adalah bunga Sakura yang masih kuncup dan belum mekar, aku sangat tersentuh dan juga terharu. Sekarang aku adalah bunga Sakura yang sudah mekar, tetapi aku ingin sekali meminta maaf padamu Ino, karena aku tidak bisa menjadi gadis yang tegar seperti dirimu sebab jauh di lubuk hatiku...aku tetaplah Sakura yang cengeng dan tempramental.

Hari ini aku duduk di sebuah taman yang sejuk dan tenang. Sungguh jarang ada orang, di taman desa Konoha tempat tinggal baruku semenjak aku berpisah dengan Sasuke-kun ini. Desa yang nyaman dan jauh dari kota Tokyo, ibu kota negaraku yang selalu berisik itu. Taman yang tenang di mana tidak ada seorang pun yang menggangguku. Yah, tidak kosong sama sekali sih masih ada beberapa orang yang sedang berpacaran. Salah satu pasangan yang tidak jauh dari tempatku bahkan bermesraan dengan terang-terangan. Apakah mereka itu tidak punya malu, berpacaran di tempat umum seperti ini? Bergandengan tangan, berangkul-rangkulan, bahkan berciuman. Perasaanku entah kenapa mendadak menjadi tidak enak, rasanya begitu sesak dan sakit. Apakah kalau aku dan Sasuke-kun dulu lebih lama berpacaran, kita akan sering bergandengan tangan, berangkulan, berpelukkan, dan juga berciuman seperti halnya pasangan-pasangan yang lain?

"Bab, gomen ne aku harus segera pergi sekarang, manajerku menelponku!" kata seorang cowok pada pacarnya yang tampak merengut cemberut.

"Ah, kenapa harus sekarang sih? Kita kan tidak sering bertemu. Kau kan sangat sibuk dan jarang berada di Konoha," protes pacarnya. Cowok itu tampak mengenakan topi dan sunglasses-nya.

"Aku tahu. Aku juga belum mau berpisah, tapi kau sendiri tahu kan manajerku seperti apa? Dia itu cerewet sekali!" kata si cowok yang kemudian mengecup kening gadis itu.

"Jaa nee, Sara-chan!" lalu dengan buru-buru cowok itu berdiri, tapi entah kenapa aku merasa tidak asing dengan suara cowok itu?

Yah, peduli amat. Aku sudah bosan duduk di taman. Aku pun memutuskan untuk kembali pulang ke apartement-ku. Aku terlalu terbawa perasaanku. Mungkin semangkuk anmitsu bisa menenangkan hatiku. Kalau tidak salah aku masih memiliki sedikit persediaan di dalam kulkas. Aku berdiri ketika pemuda yang di panggil manajernya itu berjalan dengan cepat hingga tabrakkan pun tidak bisa di hindari lagi.

'Brukk'

"Gomennasai," kataku dengan terburu-buru. Lalu dengan cepat aku berlari meninggalkan tempat itu. Sayup-sayup aku dengar cowok itu berteriak...

"Hey, tunggu!"

Oo End Sakura's POV oO

oooOOcherryblossomOOooo

"Siapa itu, sayang?" tanya seorang gadis yang di tinggalkan cowok itu di taman tadi,

"Tidak tahu, tadi dia menabrakku..." sahut si cowok sambil mengedikkan bahunya dan membetulkan letak kaca matanya.

"Sudah ya, aku pergi dulu!"

"Tunggu! Sasuke tunggu sebentar!"

"Ada apa?"

"Lihat! Apa Handphone itu punyamu? Hahaha, tak kusangka seleramu seperti wanita. Makanya jangan masuk Boyband, harusnya kau masuk group band indie saja!" ledek gadis itu,

Cowok yang bernama Sasuke itu melihat ke arah yang di tunjuk sang gadis, sebuah smartphone berwarna pink.

"Sara-chan, tidak semua members boyband itu banci, you know! Banyak juga yang keren-keren sekaligus maskulin diantara mereka semua! Itu bukan punyaku, mungkin punya gadis yang menabrakku tadi!" tegas Sasuke,

"Ya, aku tahu tapi bagaimana ya Sasuke...kalau menurutku anak band jauh lebih keren. Mereka sangat energik dan yang lebih penting, tidak nyanyi keroyokan!"

"Heh? Berani sekali kau berbicara seperti itu di depanku, aku tersinggung nih!"

"Hehehe gomen, Sasuke. Itu kan hanya pendapatku saja, gadis-gadis lain belum tentu memiliki pendapat yang sama denganku!" tegas Sara,

"Ya, tidak apa-apa. Aku suka gadis yang jujur dan apa adanya!" kata Sasuke sambil tersenyum, membuat Sara blushing di buatnya.

"Ini, ambilah!" ujar Sara sambil menyodorkan ponsel yang baru saja di pungutnya pada Sasuke,

"Eh demo, aku sibuk Sara-chan! Kau saja yang mengembalikannya!"

"Aku juga sibuk Sasuke. Sudahlah, kau saja yang kembalikan! Call me later, bye!" ujar gadis tersebut, dan dengan terpaksa Sasuke pergi sambil membawa ponsel tersebut...soalnya mau bagaimana lagi? Dia kan harus segera pergi.

oooOOcherryblossomOOooo

"Nani? HP-ku tidak ada! Jangan-jangan terjatuh waktu tabrakkan tadi!" umpat seorang gadis berambut soft pink dan bermata emerald.

"Ponsel itu kan banyak nomor-nomor pentingnya, hanya itu yang membuatku cemas, bukan harga ponselnya!"

"Ada apa, Sakura?" tanya seorang gadis cantik dan sexy, tetangga sebelah apartement Sakura yang juga adalah salah satu sahabat baiknya, kebetulan gadis itu baru pulang ke apartement miliknya.

"Ponselku tidak ada, Karin-nee. Sepertinya jatuh waktu aku bertabrakan dengan seseorang di taman tadi. Huuh!" cerita Sakura pada gadis berambut merah bernama Karin itu.

"Coba kau telepon saja pakai ponselku. Nih..." ujar Karin, lalu Sakura menerima ponsel itu.

"Arigatou, Karin-neesan. Pulsanya pasti aku ganti!"

oooOOcherryblossomOOooo

"Sudah berapa gadis yang kau dapat di sini, Sasuke?" tanya Suigetsu di sela-sela istirahatnya setelah sesi pemotretan selesai,

"Entahlah, tidak banyak. Dan aku tidak berpacaran dengan yang mana pun kok, kita kan terlalu sibuk. Huuh menyebalkan, lama-lama aku capek...padahal kita ini hanya sekumpulan remaja yang usianya 15-20 tahun! Harusnya di usiaku yang ke 18 ini aku bisa bebas bersenang-senang!"

"Salah sendiri, kenapa ingin menjadi seorang penyanyi?" komentar cowok yang termuda di antara mereka—Konohamaru Sarotobi— sembari mengupas kulit pisang.

"Sasuke, bagaimana sih caranya mendapatkan banyak gadis seperti dirimu? Sepertinya itu mudah sekali untukmu?" tanya Juugo sehabis meminum setengah botol air mineral.

"Itu mudah sekali Juugo-san," sahut Sai yang baru datang dari toilet.

"Bagaimana caranya, muka pucat?" sambung Deidara.

"Menurut buku yang aku baca, pertama-tama kau harus merayu wanita-wanita yang kau inginkan itu, Dei-senpai. Lalu, mengajaknya makan berdua. Setelah itu kau harus membuat suatu moment yang bagus untuk menyatakan cintamu. Habis itu baru kau memeluknya dan...muach!" ujar Sai sambil memeragakannya dengan memeluk Konohamaru dan berakting seakan ingin mencium cowok itu, tentu saja Konohamaru sangat kaget dan langsung mengotori wajah Sai dengan buah pisang yang baru ia makan setengahnya. Sai hanya tersenyum aneh seperti biasa.

"Apa yang kau lakukan, nii-san? Hentikan! Itu sangat konyol dan menjijikkan! Kenapa harus aku? Padahal Sasuke-niisan jauh lebih cantik daripada aku!" pekik Konohamaru, diiringi tawa Suigetsu dan Deidara.

"Apa maksud perkataanmu barusan, Konohamaru? Kau bilang aku cantik, hah? Dengar, yang cantik itu Dei-niisan!" marah Sasuke,

"Just kidding brother, don't angry with me okay, please! Gomen ne," kata Konohamaru takut-takut, tapi Sasuke hanya tertawa sinis membuat bulu kuduk Konohamaru merinding seketika.

"Sasuke, giliranmu!" teriak Kabuto, manajer 'Eagle' dari jauh.

"Baik," kata Sasuke yang langsung pergi.

"Hah, hampir saja aku mati ketakutan..." ujar Konohamaru merasa lega,

"Ya, beruntung kau tidak di bunuhnya!" sambung Juugo.

"Hey, tapi kenapa tadi kalian berdua malah tertawa di atas penderitaanku hah? Dasar, bukannya bantu aku bujuk Sasuke-niisan supaya tidak marah!" protes Konohamaru pada Suigetsu dan Deidara, Sai sejak tadi hanya tersenyum aneh seperti biasa.

"Habis, wajahmu yang cemas tampak lucu gaki!" sambung Deidara.

Tiba-tiba terdengar suara Handphone berdering. Konohamaru mengeluarkan ponselnya yang tidak berbunyi dari dalam kantong celana jeans-nya. Suigetsu, Deidara, Juugo, dan Sai pun mengeluarkan ponsel masing-masing tetapi tidak ada satupun yang berbunyi atau setidaknya bergetar.

"Ponsel siapa ya?" tanya Konohamaru bingung,

"Entahlah, mungkin ponsel si Sasuke!" jawab Deidara,

"Hey, bersikap sopan-lah sedikit! Biarpun senpai lebih tua dari kami berlima, Sasuke itu leader kita!" tegas Juugo,

"Mau bagaimana lagi, hanya dia yang lebih cocok menjadi leader diantara kita berenam!" sambung Suigetsu, sambil menyenderkan kepalanya pada bantalan kursi.

Di lain tempat...

"Bagaimana?" tanya Karin pada Sakura,

"Tidak di angkat," jawab Sakura dengan lesu.

"Kalau begitu, ayo kau coba telepon lagi!" Sakura menghubungi nomor pribadinya lagi tetapi tetap tidak tersambung, dan terus mencobanya untuk yang kesekian kalinya.

"Argh, Kuso! Baterai ponselmu habis Karin-nee..."

"Ya sudah, kita coba lagi nanti. Aku mau mandi, bye!" pamit Karin yang kemudian masuk ke dalam apartement-nya sendiri dan menutup pintu.

"Hai, arigatou nee-san!" teriak Sakura.

oooOOcherryblossomOOooo

Malam di sebuah apartement di desa Konoha...

"Moshi-moshi?" sahut Karin yang hendak pergi tidur,

"Moshi-moshi, apakah kau yang menelepon ponsel ini tadi siang?" tanya suara di sebrang sana,

"Oh, iya. Apakah kau yang menemukan ponselnya?"

"Hn," jawab Sasuke singkat

"Ah...baiklah, jadi siapa kau?"

"Aku Sasuke. Uchiha Sasuke. Aku ingin mengembalikan ponsel ini,"

"Nani? Uchiha Sasuke? Salah satu member Eagle?" Karin kaget sampai kantuknya hilang sama sekali,

"Hn,"

"Oh iya, kau mau mengembalikkan ponsel itu? Tapi Sakuranya...ah tidak aku Sakura, pemilik ponsel itu. Bisa kita bertemu besok? Aku ingin mengambil ponsel itu kembali!"

"Wakatta, mau di mana kita bertemu?"

"Di kedai ramen Ichiraku, tahu tidak?"

"Hn, aku tahu. Itu dekat dengan tempat syutingku. Okay, besok jam 9 pagi, bisa?" tanya Sasuke,

"Iya, baiklah. Besok aku akan datang tepat waktu!" ujar Karin dan sambungan telepon itu pun terputus. Karin tersenyum senang, tidak menyangka gara-gara meminjamkan ponselnya pada Sakura tadi siang...dia akhirnya bisa bertemu dengan idolanya.

Ya, Karin Uzumaki adalah salah satu fans fanatic Boyband Eagle. Boyband asuhan Shimura Entertainment yang beranggotakan enam cowok-cowok keren. Boyband yang sudah sangat terkenal di Asia seperti; Jepang, Cina, Taiwan, Hongkong, Korea, bahkan Indonesia. Boyband yang telah merampungkan dua buah album dalam kurun waktu dua tahun, dan mulai di kenal lewat lagu OST One Deadly Kiss yang berjudul 'Kimi ga Ireba' dan single 'Last First Kiss' saat awal debut mereka. Di antara members lainnya Karin memang paling menyukai Uchiha Sasuke, karena cowok itu yang paling tampan di antara members lainnya, paling keren, paling jago nge-dance, seorang leader, dan merupakan rapper Eagle. Posisi Deidara dan Suigetsu adalah suara tinggi, sedangkan posisi Juugo dan Sai adalah suara rendah, dan main vocalis mereka adalah Konohamaru. Konohamaru sendiri adalah sepupunya Sakura walaupun gadis itu sangat anti dengan Boyband. Sakura memang lebih suka Group Band Rock seperti L'Arc En Ciel daripada Boyband. Berbeda sekali dengan dirinya yang sangat menyukai Boyband. Selain Eagle Karin juga sangat menyukai Hey Say Jump! Terutama Yuto Nakajima dan Yamada Ryosuke.

"Gomen ne, Sakura..." desah Karin.

oooOOcherryblossomOOooo

"Hey, apakah kau Sakura-san?" tanya Sasuke menghampiri seorang gadis berambut merah panjang berkacamata, yang sedang meminum segelas Apple Juice.

"Eh? Sasuke-san?"

"Sudah lama menunggu?"

"Tidak," jawab Karin.

Mereka berdua pun mengobrol dengan seru tentang banyak hal, termasuk tentang tempat-tempat wisata yang paling terkenal di Konoha no Sato. Selama ini Sasuke memang tinggal di Tokyo, jadi dia sama sekali tidak tahu-menahu tentang Konoha. Alasan mereka ke Konoha pun karena Eagle akanmembintangi sebuah drama, dan Konoha adalah desa yang terpilih untuk lokasi syuting sekaligus pemotretan mereka sebagai penyanyi, bintang iklan, sekaligus bintang beberapa majalah ternama. Drama mereka yang berjudul 'Blind Love' rencananya akan di tayangkan di Jepang mulai bulan depan. Sasuke sendiri tidak tahu kenapa dia merasa nyaman sekali berbicara banyak dengan gadis di depannya ini, padahal sebenarnya dia adalah orang yang sangat tertutup.

"Sasuke-san, apakah kau mau suatu hari nanti kita pergi ke tempat-tempat menarik di Konoha? Aku bisa mengantarmu, aku tahu banyak tempat-tempat yang menarik di Konoha lho," ucap Karin malu-malu.

"Hn," jawab Sasuke sambil tersenyum membuat Karin blushing. Hati Karin saat ini seakan nyaris meledak saking senangnya, tetapi kesenangannya itu terganggu oleh dering ponselnya...

"Moshi-moshi?"

"Moshi-moshi. Ini Sakura, Karin-neesan. Kau ada di mana? Ada telepon dari ponselku tidak?" tanya Sakura yang sedang berada di tempat telepon umum.

"Gomen, Sakura...aku tidak bisa bicara denganmu sekarang. Nanti saja aku telepon lagi!" jelas Karin pelan, ia kemudian memutuskan sambungan telepon dan menaruh ponselnya kembali ke dalam tas.

"Sakura? Kau...bukan Sakura? Jadi siapa kau sebenarnya?" tanya Sasuke heran, ternyata tadi dia mendengarkan pembicaraan Karin. Karin pun terpaksa menjawab,

"Aku...aku Ka-karin...a-aku teman Sa-sakura. Di-dia sendiri yang menyuruhku ke sini untuk mengambil ponselnya..."

"...tapi tadi kau bilang kau Sakura?"

"Mmm...i-itu...gomennasai Sasuke-kun...aku hanya ingin bertemu dengan idolaku,"

"Sudahlah, aku banyak pekerjaan. Bilang saja pada temanmu itu, kalau aku menunggunya untuk mengambil ponselnya sendiri!" Sasuke bangkit berdiri dan meninggalkan Karin,

"Sasuke-kun!" Karin pun mengejar Sasuke,

"Gomen Karin-san, kau memang cantik...tapi aku tidak menyukai pembohong!" ucap Sasuke sambil tersenyum sinis, lalu berbalik pergi.

"Sasuke-kun, gomen..." Karin masih berusaha mengejar Sasuke,

"Ah ya, mengenai tawaranmu untuk mengunjungi tempat-tempat menarik di Konoha...setelah aku pikir-pikir lagi, sebaiknya aku memilih untuk mengajak teman-temanku saja untuk pergi bersama saat kami tidak sibuk. Jaa!"

"SASUKE-KUN!" teriak Karin, tetapi Sasuke segera pergi menuju tempat parkir lalu menjalankan mobil sport black metalik-nya itu.

oooOOcherryblossomOOooo

"Hey, Karin-nee! Baru pulang?" tanya Sakura saat ia dan Karin berpapasan di koridor apartement-nya. Siang Ini Sakura memang baru saja pulang dari mini market untuk membeli beberapa minuman dan makanan ringan.

"..."

"Nee-san, kenapa kau cemberut begitu? Oh iya, aku boleh pinjam ponselmu lagi tidak? Soalnya aku belum mau membeli ponsel baru," tanya Sakura pula, Karin sendiri hanya menatap Sakura kesal.

"Pinjam saja sama orang lain! Ini semua gara-gara kau! Orang yang aku suka jadi marah padaku, apakah kau puas?" bentaknya, lalu Karin pun berlari ke apartement-nya dan membanting pintu sampai Sakura tersentak kaget. Sakura benar-benar heran dengan tingkah Karin yang aneh.

oooOOcherryblossomOOooo

"HUUH! Kenapa sih orang itu tiba-tiba marah padaku?"

"Ada apa forehead?" tanya suara dari dalam,

Kali ini Sakura sedang berada di lantai 26, di lantai ini terdapat apartement milik Ino yang kebetulan bersebelahan dengan apartement Shikamaru. Sakura yang merasa kesal karena Karin tiba-tiba marah-marah padanya langsung mendatangi apartement Ino untuk curhat.

"Daijoubu, aku hanya sedikit kesal pada Karin-neesan."

"Kenapa dengannya?"

"Mana aku tahu? Tiba-tiba saja dia marah-marah nggak jelas. MENYEBALKAN!"

"Astaga, sudahlah kau jangan marah-marah terus! Ayo, kita ke kamarku!" ajak Ino, dan Sakura pun mengikuti Ino di belakang.

Sakura duduk di ranjang Ino. Ino sendiri mendekati lemari es mini miliknya untuk mengambil minuman untuknya dan juga Sakura,

"Forehead, kau ingin minum apa?"

"Apa saja yang ada, pig!" jawab Sakura,

Ino hanya mengangguk lalu mengambil sebotol jus jeruk dan dua buah gelas. Tiba-tiba mata emerald Sakura terpaku pada sebuah frame usang yang bagian depannya sengaja di baringkan oleh Ino entah karena apa. Lalu, ia meraih frame itu. Ada foto lima orang anak yang usianya sekitar 10 tahun di sana. Tiga laki-laki dan dua perempuan.

Setitik air mata meluncur di pipi Sakura tanpa bisa ia mengerti kenapa? Entahlah, tiba-tiba saja ia ingin sekali menangis melihat foto itu. Ada perasaan rindu yang berkecamuk di dalam hatinya. Membuat dadanya terasa sakit dan sesak.

Tampak kelima anak itu tersenyum ceria dengan wajah berseri-seri, tetapi bagi Sakura perasaan senang yang terlihat dalam foto itu seolah hanya ilusi. Sakura ingat beberapa hari yang lalu ia tidak sengaja menemukan sebuah frame foto dengan gambar yang sama persis dengan milik Ino ini, saat ia sedang merapikan baju-baju dalam lemari. Ia menemukan frame foto tersebut dalam sebuah kotak kayu berukuran sedang. Ada juga beberapa barang lainnya di dalamnya. Kotak itu seakan adalah sebuah kenangan yang sengaja ia simpan dan tidak untuk dilupakan, tetapi percuma saja ia sama sekali tidak ingat apapun.

"Ino, kau tau kan aku pernah mengalami kecelakaan hingga amnesia?"

"Aku tidak mungkin lupa. Selama kau hilang ingatan...aku, Shikamaru, dan Sasuke-kun berusaha keras untuk memulihkan ingatanmu. Aku ingin sekali kau mengingatku, forehead. Aku sampai frustasi karena kau tetap tidak mengingat kami, tapi untunglah setelah satu tahun berlalu kau ingat semuanya, termasuk semua tentang kami..." kata Ino sambil meletakkan sebotol jus jeruk dan dua buah gelas itu di atas meja.

"Sebenarnya aku belum ingat semuanya?"

"Heh? Maksudmu?"

"Ada beberapa hal yang tidak aku ingat..."

"Sakura..." Ino menatap Sakura iba,

"Aku..." perlahan Sakura menyebutkan nama setiap orang yang ada di foto itu sembari menyentuh foto itu dengan jemari lentiknya dan senyum di paksakan. Ia berharap, saat itu orang-orang yang namanya telah ia sebut menyahut, dan seketika perasaan takutnya selama ini akan hilang. Rasa sepi itu akan hilang, begitu juga dengan rasa rindunya.

"Sasuke-kun..." perlahan saat menyebut nama itu rasa sakit hati kembali membuncah, Sakura tak akan pernah lupa pada sosok orang yang telah membuatnya patah hati itu. Never.

"Ino..." kini telunjuknya mengarah pada foto Ino di sana. Lalu berpindah lagi, kali ini seorang anak laki-laki di samping Ino, "Shikamaru..."

Kali ini telunjuk Sakura mengarah pada sosok anak laki-laki yang berdiri di posisi paling ujung kanan, tepat di sampingnya. Sosok yang ia lewati tadi sebelum menunjuk fotonya sendiri. Posisi Sakura saat itu memang di apit oleh sosok itu dan juga Sasuke, baru setelah itu ada Ino dan Shikamaru.

"Dan..." Sakura menggantungkan kalimatnya, kini gadis itu tampak berpikir keras.

"Sakura, kau tidak ingat padanya?" tanya Ino yang sudah duduk di samping Sakura sembari menatap Sakura sedih,

"Ino...siapa dia? Kenapa hatiku mendadak sakit melihatnya, bahkan jauh lebih sakit dari saat aku memandang sosok kecil Sasuke-kun?"

Sakura memejamkan kedua matanya. Wajah itu...wajah tersenyum itu. Senyum yang entah kenapa paling ia sukai dari senyuman teman-temannya yang lain. Senyum yang entah kenapa dikhawatirkannya menjadi milik orang lain. Senyum yang sudah lama tidak ada. Senyum yang sudah lama sekali tidak ia lihat. Mendadak Sakura merasa kepalanya terasa sakit, pening bukan main.

"Aku juga tidak ingin meninggalkan Sakura-chan tapi aku harus pergi, gomen ne..."

"Kau akan kembali, kan?"

"…"

"Kita bisa bertemu lagi, kan?

"Tidak tahu, tapi aku ingin sekali bertemu lagi dengan Sakura-chan!"

"Aku tidak mau tahu, pokoknya kita harus bertemu lagi!"

"Sakura, kau baik-baik saja?" tanya Ino cemas,

Sakura menghela nafas dengan berat, "Naru..." lalu air matanya menetes, dan menetes lagi.

Sakura merintih kesakitan. Sesak. Dadanya terasa begitu sesak. Sementara air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Ia sama sekali tidak ingat siapa nama lengkap anak itu, yang baru ia ingat sekarang hanyalah nama kecil itu 'Naru'. Perlahan diletakkannya bagian depan frame itu di atas dada, seolah benda itu bisa menghilangkan rasa sakit yang begitu menjepit di sana.

"Uzumaki Naruto. Ah, bukan. Mungkin sekarang namanya sudah kembali menjadi Namikaze Naruto..." kata Ino yang kemudian meminum orange juice miliknya,

"Maksudmu?"

"Kau ingat, dulu saat kita berusia lima tahun, kau bertemu dengan Naruto. Seingatku kau selalu memanggilnya Naru-kun. Dia pindah ke Jepang setelah ibunya bercerai dengan ayahnya, makanya ia mengganti marganya dengan Uzumaki..."

"Pindah ke Jepang? Memangnya dia berasal dari mana?"

"London. Ayahnya, Minato Namikaze adalah blasteran Jepang-Inggris...tetapi setelah 5 tahun berlalu orang itu mengajak bibi Kushina untuk rujuk. Kushina-basan sepertinya masih mencintai orang itu hingga akhirnya ia setuju menikah lagi dengan mantan suaminya itu, dan gara-gara itulah Naruto harus kembali ke London."

"...dan meninggalkan kita?"

"Mmm, sudah delapan tahun berlalu. Aku dan Shikamaru sangat penasaran seperti apa si 'baka' itu sekarang? Apakah tetap cute seperti dulu ataukah sudah berubah menjadi cowok tampan sekaligus keren seperti Sasuke-kun? Aku juga penasaran, dia masih mengingat kita berempat atau tidak ya?"

"Apa aku pernah menyukainya?" tanya Sakura dengan pipi memerah,

"Hahaha, itu tidak mungkin. Sejak kecil kau hanya memuja Sasuke-kun. Kau selalu membandingkan dia dengan Sasuke-kun, membuatnya jadi kesal sendiri. Kau benar-benar meremehkannya forehead, kau juga sering sekali marah-marah dan memukulnya."

"EH? Doushite?"

"Alasannya mudah saja, karena kau hanya memandang Sasuke-kun seorang. Ya, ku akui dia memang sangat tampan, aku sendiri juga dulu sering bersaing denganmu untuk mendapatkannya, ingat tidak?"

"Kalau yang itu aku ingat, tapi aku heran kenapa sekarang kau tidak menyebalkan seperti dulu pig! Sejak kita masuk Senior High School, kau tidak pernah lagi sesumbar tentang Sasuke-kun apalagi menjadi penganggu?"

"Karena aku tidak sepertimu yang hanya menatap Sasuke-kun, seperti bunga matahari yang selalu memandang matahari. Forehead, apa kau benar-benar tidak bisa move on dari si playboys brengsek itu? Apakah kau tidak bisa berpaling pada cowok lain dan merelakan Sasuke-kun?"

"Perasaan itu tidak bisa di paksakan, pig!"

"Dia selalu memandangmu sejak kecil, sepertinya dia menyukaimu. Apa sedikitpun kau tidak menyukainya? Ya, aku tahu kebersamaan kita sangat singkat...hanya lima tahun saja, tapi Sakura apa kau benar-benar tidak menyukainya sedikit pun?"

"Siapa maksudmu, pig?"

"Tentu saja Naruto!"

"Entahlah sepertinya tidak tapi sepertinya hatiku menganggapnya istimewa, buktinya walaupun aku tidak mengingatnya...rasanya aku sangat kehilangan dia pig!"

"Begini, sebenarnya dulu itu kau sangat terobsesi dengan Naruto?"

"Maksudmu, pig?"

"Ya, kau ingin sekali memiliki seorang adik...makanya kau selalu memperlakukannya seenakmu! Kau juga sering bilang padaku kalau kau ingin orang tuamu mengangkatnya sebagai anak agar dia menjadi adikmu," cerita Ino panjang lebar.

"Adik? Memangnya dia lebih muda dari kita semua?"

"Yup, ulang tahunnya bulan Oktober."

"Lalu bagaimana dengannya? Apa dia mau menjadi adikku?"

"Kau ini baka, ya? Tentu saja tidak! Dia itu kan paling tidak suka di perlakukan seperti anak kecil!"

"Jadi begitu ya? Itulah sebabnya aku merasa sangat kehilangan?"

"Mmm..."

"Ino, aku ingin sekali bertemu dengannya lagi. Apa kita benar-benar putus kontak dengannya?"

"Ya, itulah yang paling aku sesali darinya. Pertemuan kita...karena pada akhirnya perpisahanlah yang terjadi. Bukan hanya kau, aku dan Shika juga sangat merindukannya. Tidak tahu kalau Sasuke-kun. Mereka kan sering sekali bertengkar, Naruto benar-benar menjadikan Sasuke-kun rivalnya."

"Aku ingin sekali semua ingatanku cepat pulih, agar aku bisa mengingatnya."

"Kalau tidak salah kecelakaan itu terjadi, saat kau berusia 14 tahun kan?"

"Ya, gara-gara aku nekad menyelamatkan seorang anak kecil yang hampir tertabrak mobil."

"Eh, kita bicarakan hal lain yuk? Kudengar saat ini Sasuke-kun berada di Konoha..."

"Hah? Benarkah?"

"Ya, untuk syuting drama dan iklan, juga pemotretan beberapa majalah ternama. Dia sudah mencampakanmu, wajar kalau kau membencinya forehead!"

"Ino, sebenarnya aku sendiri tidak yakin...apa aku benar-benar membencinya? Karena sebagian dari diriku selalu mencintainya..."

"Hhhh, come on forehead! Kau benar-benar tidak bisa move on, ya? Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu?"

"Entahlah, pig..." ucap Sakura yang kemudian menyimpan frame foto yang sejak tadi di peluknya, lalu meraih gelas di atas meja, dan meminum orange juice miliknya.

oooOOcherryblossomOOooo

Hampir dua jam berlalu sejak cowok berambut blonde dan beriris sapphire dengan tanda lahir berbentuk kumis kucing di kedua pipinya itu mengemas barang-barangnya. Cowok itu berulang kali mengeluar-masukkan pakaiannya dari dalam lemari ke dalam koper. Lalu mengeluarkan beberapa pakaian dari koper dan memasukkannya kembali ke dalam lemari, dan terus terulang seperti itu.

"Ya ampun, apa harus kaa-chan yang mengemasi barang-barangmu? Kau tampak bingung memutuskan pakaian mana yang akan kau bawa dan pakaian yang akan tetap kau simpan di dalam lemari," ucap seorang wanita cantik berambut merah panjang dengan iris violet yang indah.

"Tidak perlu kaa-chan, sekarang aku sudah selesai!" jawab cowok itu sambil tersenyum,

"Baguslah kalau begitu, kami juga sudah selesai mengemas barang-barang kami."

"Kaa-chan, apa kita akan naik pesawat? Aku..."

"Iya, kaa-chan mengerti. Kau kan claustrophobia," potong wanita itu.

"Gomen..."

"Bukan salahmu, itu semua terjadi karena kecelakaan itu. Kecelakaan yang hampir membuat kami kehilanganmu Naruto. Kaa-chan mengerti kau pasti masih trauma. Jadi kita akan berangkat ke Jepang dengan menaiki pesawat jet pribadi!"

"Percuma saja, pesawat jet sama-sama ruangan tertutup dan sempit. Aku tidak akan ikut ke Jepang saja. Kalian saja yang pergi, aku akan tinggal di sini bersama baasan dan jiji!"

"Naruto, pesawat jet kita itu luas kok. Kita juga akan lebih cepat sampai, jadi kau tidak usah khawatir soal itu. Kalau kau takut, kaa-chan akan menutup matamu dengan kain...bagaimana?"

Naruto tampak berpikir. Dia baru saja akan menutup lemarinya ketika matanya menangkap sesuatu. Sebuah pita berwarna merah. Naruto ingat, pita itulah yang menjadi alasannya untuk ikut pergi ke Jepang. Ya, ia sangat merindukan pemilik pita merah itu. Ia pun tersenyum lalu memasukkan pita itu ke dalam koper dan menutup resleting-nya.

"Ore mo iku!"

"Baguuss!" seru wanita itu bersemangat,

"Kaa-chan, di sana kita akan tinggal di mana?"

"Nanti kaa-chan dan tou-chan akan langsung mencari rumah untuk kita, tapi selama kami belum menemukan rumah yang cocok...untuk sementara kau tinggal di apartement Karin-neechan saja ya?"

"Memangnya ada apa dengan rumah kita yang dulu?"

"Kau lupa? Kaa-chan kan sudah menjualnya,"

"Benar juga. Lalu Karin-neechan tinggal di lantai berapa?"

"Kalau tidak salah lantai 22."

"NANI?" kaget Naruto, mukanya langsung berubah pucat. Yang benar saja, pasti akan sangat melelahkan pergi ke lantai 22 dengan menaiki tangga darurat setiap harinya. Naruto pun menghela nafas panjang, mau bagaimana lagi itu jauh lebih baik daripada dia terkena serangan jantung gara-gara menaiki lift.

"Hhh, aku benar-benar ingin sembuh dari claustrophobia-ku!"

"Makanya cepatlah sembuh, Naruto!" ujar Kushina sambil tersenyum dan mengecup puncak kepala putera semata wayangnya itu.

oooOOcherryblossomOOooo

"I can hear you are screaming..." dering ponsel yang di simpannya di atas meja membuyarkan pikiran Sasuke yang masih terbayang-bayang kejadian tadi pagi, dan dia terlihat sangat kesal.

"Kuso! Kenapa orang-orang selalu berbohong padaku?" ujar Sasuke yang kemudian mengangkat ponsel itu,

"Moshi-moshi?"

"Moshi-moshi, gomen...apakah kau yang menemukan ponselku?" tanya suara di sebrang sana,

"Hai, kau mau meminta ponsel ini kembali?"

"Tentu, kalau tidak untuk apa aku menelepon?"

"Baiklah, ingin bertemu di mana?"

"Bagaimana kalau di cafe X di dekat apartement kawasan Aomori? Apakah kau tau tempatnya?"

"Hn, aku pernah ke sana."

"Baiklah, kutunggu jam 2 siang ya? Soalnya aku ada kuliah pagi! Oh iya, bisakah aku tau siapa yang berbicara denganku sekarang? Yah, agar aku bisa lebih mudah mencarimu nanti!"

"Namaku...ah nanti saja aku beri tahu, biar aku yang mencarimu. Besok aku akan memakai baju berwarna dark blue dan celana jeans. Namamu?" tanya Sasuke, ia sengaja tidak memberitahu namanya agar kejadian tadi pagi tidak terulang lagi.

"Ah, namaku Sakura. Haruno Sakura. Oh iya, besok aku kan memakai blouse sebawah lutut berwarna merah muda, juga bolero dan sepatu boot yang warnanya senada. Jam dua siang di cafe X ya, jaa!" dan sambungan telepon pun terputus,

'Tuutt...'

'Haruno Sakura? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu? Mungkinkah salah satu mantan pacarku ya?' tanya Sasuke dalam hati, tentu saja dia tidak ingat siapa saja yang pernah menjadi pacarnya saking banyaknya mantan yang ada. Beberapa menit kemudian dia menggelengkan kepalanya.

'Atau jangan-jangan Sakura itu...salah satu sahabatku waktu kecil dulu. Ah, masa bodoh. Aku lupa!' tambahnya dalam hati.

_TBC_

A/n : Fic kedua Muki yang bersambung dengan segala kegajean dan kekurangannya. Dan yang bagian Naru claustrophobia itu, muki terinspirasi dari Kdrama 'Secret Garden' lalala. Well, like usual Muki belum siap menerima flame. So, REVIEW please! Arigatou. ^_^