Author: Oh! Saya lupa satu hal, ini cuma buat menghilangkan kebingungan aja sih

a. Setting cerita ini di game!verse

b. Timeline cerita ini GSC dan FRLG berbarengan (makanya Red di sini versi rambut hitam, bukan Red rambut cokelat, terus juga di sini adanya Gold alias Hibiki/Ethan versi GSC, Ethan versi HGSS belum ada)

c. Di sini ada canon xover, dari anime Pokemon Origins, FRLG, GSC, dan pokemon Yellow (di mana Red bisa dapat semua starter)

Ethan: Jadi ini alasannya aku nggak disebut, malah Gold…

Gold: Yo! Diri gue versi baru, enak yah punya rival yang lebih baik. Silver versi dirimu nggak se-menyebalkan Silver versi gue. Terus Lyra lebih imut dari Kris…

Ethan: … … …

Author: Hati-hati Gold, Kris bakalan marah kalau ngedenger omongan dari mulutmu itu… (terus sejak kapan Ethan copas gaya Red?)

Disclaimer: Pokemon beserta seluruh karakter bukan punya author

Warning: Aman


Pidgeot yang membawa Green terbang dari depan gerbang pemisah Kanto dan Johto menuju rumahnya mulai mengurangi ketinggian disaat telah memasuki daerah kota Pallet. Green memberi aba-aba agar pokemon berbentuk burung namun berukuran besar untuk mendarat di depan rumah. Melihat langit mulai berwarna gelap, ada perasaan khawatir dan bersalah. Semoga ia tidak terlambat untuk makan malam. Apalagi marahnya Daisy adalah hal terakhir yang ia inginkan.

Setelah mengembalikan pokemon tipe terbang kepercayaannya dalam setiap pertarungan, dengan perlahan pintu rumah berwarna cokelat diketuk. Dari dalam terdengar suara perempuan meminta untuk menunggu. Green merasa aneh, suara Daisy terdengar berbeda. Ketika ia sedang berpikir tentang identitas yang merespon terhadap ketukan pintu, seseorang membukakan pintu. Terlihat seorang gadis dengan rambut cokelat panjang berdiri di hadapan.

Green kenal baik siapa dia.

"Leaf? Untuk apa kau di sini?" ia terkejut dengan mulut menganga.

"Tentu untuk makan malam, adikmu yang mengundangku sekalian membantu di dapur katanya. Terus kenapa menganga seperti itu? Wajahmu mirip Magikarp membutuhkan air" Leaf melipat kedua tangan di depan dada dan menyingkir dari depan pintu, membiarkan Green masuk.

"Memangnya kau bisa masak? Kudengar dari ibumu terakhir kali hampir meledakkan seisi dapur…"

Leaf masih sabar mendengar cemoohan laki-laki yang lebih tua walaupun terlihat sekali tangannya ingin bertemu dengan wajah si pencemooh. Leaf lebih memilih kembali ke dapur untuk membantu Daisy menyiapkan makan malam hari ini. Apalagi menurut sang kakek, orang tua Leaf juga akan ikut makan malam di rumah mereka. Green hanya mengangguk mengerti.

Di dalam rumah ia melihat kesibukan tiga orang wanita berbeda umur yang asyik berkutat di dapur. Kakeknya membaca buku entah judulnya apa, pasti berhubungan dengan pokemon, pikir Green. Dan terakhir adalah sang paman yaitu ayah dari Leaf.

Leaf bisa dikatakan cukup beruntung, ia tinggal di Hoenn sehingga keluarganya lengkap. Tidak seperti dirinya yang berakhir ayah beserta ibunya meninggal karena perang. Tapi yah, ia tetap bersyukur hidup hingga sekarang di waktu ketenangan dan kedamaian, kecuali permasalahan Giovanni. Ia sangat yakin, kembalinya laki-laki pemilik tim Rocket berarti akan membawa hal buruk. Ditambah Fire, Green merasa curiga dengan kemiripan Fire terutama dari bagian wajah dengan sang sahabat (dan mantan rival). Walaupun warna mata dan rambut berbeda. Oh dia kembali melamun di depan televisi seperti tadi siang.

"Kak, melamun itu tidak baik untuk kesehatan…" Daisy duduk di sampingnya, ia memasang wajah khawatir lagi.

Green tidak menjawab, ia hanya menghela nafas panjang.

"Makan malamnya sudah jadi, Daisy? Perutku sudah minta jatah nih" suara Green sedikit meninggi, ia bahkan terdengar sedikit merengek.

"Iya… iya… tinggal menunggu panggang basculin untuk matang, oh aku cek dulu kalau begitu! Mungkin sudah matang" dengan perkataan tersebut, Daisy pergi meninggalkan Green di sofa. Kakeknya mungkin sedang sibuk di laboratorium dan akan datang tepat waktu makan malam.

Green bersyukur ia punya sifat menyebalkan (hei, dia sudah menerima kekurangannya karena umur sudah bukan anak-anak lagi!) sehingga permasalahan yang dihadapi mudah ditutupi. Ia menopang dagu di paha dan menonton televisi dengan wajah malas.

'Red sudah pasti tahu tentang Giovanni kalau melihat bagaimana dia bicara tadi siang. Dia 'kan punya Mewtwo, hasil kejahatan tim Rocket empat tahun yang lalu, bisa saja pokemon buas itu memberi informasi kedatangan si laki-laki menyebalkan itu. Tunggu… jangan bilang dia juga tahu soal latar belakang Fire yang misterius lagi!'

Green mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia memilih berdiri dari posisi duduk dan mematikan tv, terlalu banyak misteri dan masalah hanya dalam satu hari ini. Ia tidak mau memikirkannya dulu, apalagi perut minta diisi. Harumnya panggang basculin mulai menyeruak dari dapur memenuhi rumah. Disaat ia berjalan untuk menuju ruang makan, Green berhenti di depan lemari es. Mengambil sekotak jus aspear.

Beberapa menit kemudian, makan malam bersama keluarga Leaf berjalan dengan tenang dengan diselingi pembicaraan hangat. Green tidak lupa membuat lelucon bahwa ia bersyukur Leaf tidak meledakkan dapur rumah dengan memasak dan untung saja ia hanya mendapatkan tatapan tajam dari perempuan berambut panjang.

Pagi hari masih tenang, hanya terdengar kicauan pidgey liar yang terdapat di pepohonan Kanto. Green sudah sibuk di belakang laboratorium untuk membantu sang kakek memberi makan semua pokemon. Khusus untuk tim utama miliknya ia sampai mandikan dan disisir atau perawatan sejenisnya bagi pokemon yang lemah terhadap air. Arcanine kesayangannya sekaligus paling terkuat diantara semua pokemon sampai menyalak senang bahkan untuk Gyaradosnya dengan sengaja membuat Green basah dengan percikan air.

"Aww… Gyarados, jangan! Lihat, sekarang bajuku basah semua. Meh, aku bisa ganti baju lagi" Green tersenyum dengan perangai pokemonnya yang aktif.

"Green! Setelah mengurusi pokemon milikmu, datanglah ke lab oke? Ada hal penting untuk dibicarakan" dan sang kakek langsung pergi duluan karena memang memberi makan semua pokemon telah selesai.

Green tahu kalau sampai kakek kesayangannya meminta untuk datang ke lab dan meminta bicara pasti hal penting dan membosankan akan terjadi. Terakhir kali dia sampai harus mendengar ceramahannya tentang bagaimana menjadi Trainer yang baik ketika dirinya menginjak 11 tahun. Sekarang, tentang apa? Itu saja pertanyaan di benak Green.

"Oke, kalian sudah bersih! Kembali ke pokeball oke? Aku harus ganti baju… ah, tidak perlu. Aku malas. Lagipula hanya baju yang basah. Celana tidak" setelah semua pokemon miliknya masuk ke pokeball dan ia mengaitkan keenam pokeball ke sabuk, Green berjalan dengan santai menuju laboratorium milik kakeknya. Sesampainya di sana ia disambut oleh asisten yang kemudian mempersilahkan Green masuk ke kantor khusus sang kakek.

Tanpa basa-basi ia buka pintu dan langsung duduk di sofa yang tersedia.

"Oke, Gramps… ada apa?" Green memilih melipat kedua tanga di depan dada

"Pertama-tama… Green apa kau sadar kalau bajumu basah?"

"Meh, tidak apa-apa. Ayolah, mau bicara apa? Sehabis ini aku pulang untuk ganti baju. Kalau tentang aku diminta jadi penggantimu sayangnya aku menolak. Ada asistenmu yang bisa diberi kepercayaan. Ingat Professor Elm? Dia kan tadinya asistenmu" Green mengambil salah satu pokeball dan ia lempar-lempar di tangan. Mungkin ia mulai merasa bosan.

Professor yang ada di meja kerja alias kakek dari mantan Gym Leader satu ini hanya menghela nafas lelah. Green walaupun sudah tak terlalu parah dibandingkan saat masih kecil, tetap saja masih ada kebiasaan tak baik menempel pada si cucu tertua. Oh, tadi ia ingin bicara apa? Hampir saja Professor Oak kehilangan fokus pembicaraan.

"Bukan. Aku juga tahu kalau dirimu lebih tertarik menjadi Gym Leader daripada peneliti… Ini tentang kau tahu kan kebiasaan bahkan peraturan Pokemon League Kanto?" Dan baru pertama kalinya sang kakek berwajah cukup serius.

Oke, Green walaupun terkenal memiliki sifat santai ia tidak sampai ke titik tak membaca keadaan sama sekali. Mendengar pertanyaan sang kakek, ia mengerti pembicaraan ini akan mengarah ke mana.

"Oh… Tidak… tidak… tidak. Ide buruk! Aku memang suka mengusili Leaf tapi kalau sampai memberitahu dia harus jadi trainer? Aku menolak. Dan lebih baik dia di sini, mengurus pokemon" dan Pokeball di tangan ia kembali letakkan di sabuk.

"Yah masalahnya keluarganya bisa didenda kalau sampai tidak mendaftarkan Leaf… oh yah, Fire juga. Namun Fuji mengingatkan agar dia tidak menginjakkan kaki diluar Kanto" Professor Oak menghela nafas lelah ia memandang ke luar jendela di kantornya. Temannya mengingatkan hal tersebut lewat telepon, tapi kenapa?

"Uh… Gramps?

Professor Oak menghentikan sesi berpikir mendengar panggilan cucunya.

"Ya?"

"Fire itu… siapa? Tidak mungkin seorang laki-laki punya wajah Red. Aku kenal si orang gunung tidak punya saudara jauh. Hanya punya ibu satu-satunya yang jadi tetangga kita. Apalagi dia punya rambut cokelat, kita tidak punya saudara laki-laki tahu! Saudara terjauh hanya Leaf, oke?"

"Aku juga tidak tahu, tapi Fuji…"

Green menatap langsung wajah kakeknya.

"Ah tidak, ayo ganti bajumu Green. Nanti malah sakit" pengalihan pembicaraan kakeknya yang terlalu mencolok justru membuat Green merasa kesal, sedikit.

"Gramps, aku tahu kalau Dr. Fuji itu ahli cloning, dia membuat Mewtwo yang berakhir Red jadi orang gunung. Jangan menutupi tentang dia, aku sudah muak dengan kakek tua itu"

"GREEN!"

"Itu memang kenyataannya, bukan?" Green berdiri dari sofa, ia tidak ingin bicara lagi. Perasaannya hari ini jadi tidak karuan.

"Fire… memiliki hubungan dengan tim Rocket, tapi Fuji tidak menjelaskan apa hubungan tersebut."

Green benar-benar keluar dengan cepat tanpa berkomentar, kali ini ia menutup pintu ruang kerja sang kakek dengan tenaga penuh. Suara yang kencang mengagetkan pokemon di dalam lab beserta asisten-asisten peneliti. Ia memilih berjalan untuk keluar dari lab tersebut. Saat menuju pintu keluar, ia ditatap aneh oleh para asisten dan dibalas dengan tatapan sengit. Hal itu menyebabkan fokus mereka beralih kembali ke kegiatan masing-masing.

Green butuh ketenangan, Cinnabar Island menjadi tujuannya sekarang.


Author: Chapter ini lebih pendek, soalnya entah kenapa dipanjangin malah jadi kaku. Ya udah deh, sampai sini aja. Dilanjutin dengan cepat deh. Author lagi kena banyak ide sekarang hahah. Terus maaf kali ini nggak ngebales komentar...

Hilbert: Author, keliatan banget prokrasnya sama apa itu di file udah ada fanfic tentang senior Red jadi faller ke dunianya Satoshi/Ash? Siapa Ash/Satoshi lagian?

Author: Hush, Hilbert! Jangan bikin author keliatan jelek sih. Ah makasih yah untuk yang baca, favoritin, komentar bahkan yang dengan sabar nunggu setahun buat author payah ini buat update…

Anyway, sampai jumpa di chapter selanjutnya!