Declamer Character : Masashi Kishimoto

Pairing : ItachiXNarutoXFugaku

Rate : M

Genre : Drama, Hurt/ Comfort

Warning : Lemon, Rape, Dll

.

.

Summary : Kehidupan baru seorang Uzumaki Naruto yang menjadi ibu tiri seorang pemuda tampan bernama Uchiha Itachi. Pemuda keras kepala yang tak menyetujui pernikahannya dengan Uchiha Fugaku.

.

.

Beautiful Stepmom

.

.

" Ahh... aahhh... cukkhh... kuphhh Itachihh... " pinta Naruto disela desahannya. Tubuhnya terus terhentak mengikuti ritme permainan tubuh Itachi. Entah sudah berapa lama Itachi menyetubuhi dirinya, rasanya tubuh Naruto sudah sangat lelah tapi pemuda di atasnya masih terus bergerak cepat.

Dengan peluh yang membasahi tubuhnya Itachi terus bergerak menusuk lubang Naruto. Sejak kejadian hari itu dia menjadi semakin ketagihan pada lubang milik Naruto dan dia akan memintanya, tak perduli jika Naruto menolaknya " kau sempit Naruto " geram itachi, dia merasakan kenikmatan yang luar biasa saat lubang Naruto semakin menjepit erat miliknya.

" Akkhhh... Itachii... " teriak Naruto saat dirinya klimak, disusul Itachi yang juga mengeluarkan benihnya dalam tubuh Naruto untuk yang kesekian kalinya.

" Naruto " panggil Itachi namun wanita itu hanya diam dengan kedua matanya yang tertutup. Sepertinya Naruto pingsan akibat ulah Itachi yang menghajarnya sejak beberapa jam yang lalu. Itachi mencabut miliknya yang sudah lemas kemudian ikut berbaring di samping tubuh Naruto, dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Naruto hingga sebatas dada sebelum menyusul ke alam mimpi.

.

.

.

.

Seorang Uchiha Itachi selalu dan akan selalu menarik perhatian kaum hawa. Tak peduli jika pemuda itu hanya bermain- main, karena bagi mereka bisa berjalan dengan seorang Uchiha Itachi adalah kebanggaan tersendiri yang tanpa sadar menjadi persaingan.

" Mereka terlihat lebih agresif setelah kau putus dengan Karin " ucap Deidara, matanya tak lepas dari siswi-siswi yang mencoba menarik perhatian Itachi.

" Hn "

" Pagi Itachi-kun " sapa seorang gadis cantik yang dengan sengaja menghadang perjalanan Itachi menuju kelasnya. Gadis itu mulai menggoda Itachi dengan menunjukkan bagaimana indahnya tubuh yang dimilikinya juga suaranya yang dia buat seseksi mungkin. Karena menurut rumor yang dia dengar Itachi paling suka dengan cewek bertubuh seksi juga bersuara merdu saat mendesahkan namanya. " Namaku Shion " dengan percaya dirinya gadis itu mengulurkan tangannya ke arah Itachi.

"..."

" Lain kali saja perkenalannya cantik " ucap Deidara kemudian mengikuti Itachi yang sudah pergi terlebih dahulu. Dia sempat trekekeh saat mendengar bagaimana gadis manis itu mengumpat saat Itachi mencuekinya." Menurutku dia rumayan, kenapa kau tidak mengambilnya " tanya Deidara saat langkahnya sudah sejajar dengan langkah Itachi.

" Aku tidak tertarik "

" Apa kau sudah mempunyai incaran sendiri "

" Hn "

" Apa aku mengenalnya "

" Hn "

" Siapa? "

Itachi menghentikan langkahnya kemudian memandang wajah Deidara. " Kau tidak perlu tahu " ucapnya membuat Deidara yang awalnya sedikit grogi dengan pandangan Itachi langsung mengumpat kesal.

.

.

.

.

" Akhh... " rintih Naruto saat dirinya mencoba bangkit dari ranjang Itachi. Dia baru saja sadar dari pingsannya beberapa menit yang lalu dan hanya mendapati dirinya seorang di kamar itu. Dengan tertatih Naruto memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai dan memakainya asal. Air matanya kembali mengalir saat mengingat bagaimana Itachi memperlakukan dirinya.

Matahari tengah bersinar terik saat Naruto keluar dari kamar Itachi, berarti hampir setengah hari dia pingsan. Pantas saja perutnya sudah keroncongan minta diisi. Mengambil sayuran dari lemari pendingin Naruto mulai memasak ala kadarnya, yang penting bisa dimakan dan membuat tubuhnya kembali kuat.

" Ssstth... " desis Naruto saat dirinya duduk. Ini bukan pertama kalinya dia merasakan perih akibat tindakan bringas Itachi yang menggarapnya hampir setiap malam, dalam hati dia mengutuk pemuda itu agar tersedak bila saat ini tengah makan. " Kenapa tubuhku rasanya lemas sekali " gumamnya pelan. Setelah selesai membereskan bekasnya makan Naruto berjalan menuju ruang keluarga dan berbariang di salah satu sofa. Selain tubuhnya yang terasa lemas, kepalanya juga mendadak pusing " Ughh aku mual " Naruto merasa perutnya seperti diaduk- aduk dan ingin mengeluarkannya kembali.

Saat- saat seperti ini Naruto jadi teringat pada pamannya yang berada di kampung. Dia rindu bagaimana pria paruh baya itu merawatnya dengan penuh kasih sayang layaknya anak sendiri padahal mereka hanya seseorang yang bertemu akibat takdir Tuhan. " Paman aku merindukanmu " ucap Naruto sebelum kembali tertidur.

.

.

.

.

Naruto mengerjap- ngerjapkan matanya setelah beberapa menit yang lalu dia bangun dari acara tidur cantiknya. Dia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul empat sore, itu berarti sebentar lagi Itachi akan pulang sementara dia belum memasak apapun untuk pemuda itu.

Dengan tubuh yang masih lemas, Naruto berjalan menuju dapur. Dia mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam kulkas, dia hampir saja muntah saat mencium bau daging dan sesegera mungkin mengembalikan benda itu ke tempat asalnya.

Tak tak tak...

Dengan lincah tangan Naruto mulai memotong sayuran- sayuran itu menjadi beberapa bagian dan menyisihkannya menurut menu yang akan dia buat. Setelah selesai dari acara potong- memotong, Naruto mulai menumisnya satu persatu, merebus untuk bagian yang harus direbus terlebih dahulu kemudian mengolahnya hingga terbentuk beberapa hidangan beraroma lezat yang membuat perut semakin kerocongan.

Setelah semuanya selesai Naruto menatanya di atas meja makan, juga menyiapkan nasi yang masih mengepulkan asap tak lupa jus tomat untuk putra tunggalnya itu. Entah kenapa akhir- akhir ini Itachi selalu minta dibuatkan jus tomat.

" Masak apa hari ini Naruto? " tanya seseorang yang tiba- tiba saja memeluk tubuhnya dari belakang.

" Seperti yang kau lihat " Naruto sudah terbiasa dengan kelakuan Itachi akhir- akhir ini. Pemuda itu akan seenaknya saja memeluknya dan tak akan melepasnya apapun yang terjadi, bahkan jika Naruto berteriak- teriak seperti orang gila. Yang ada Itachi malah akan menyeretnya ke dalam kamar dan memperkosanya sampai pingsan.

" Bagaimana kalau sebelum makan kau menemaniku mandi dulu " tawar Itachi. Mulutnya sudah menjelajahi bahu dan tengkuk Naruto.

" Ngghh... tidak Itachi " tiba- tiba kepala Naruto kembali pusing dan tubuhnya terhuyung ke belakang. Untungnya ada Itachi, pemuda itu menangkap tubuhnya sebelum jatuh ke lantai.

" Kau sakit Naruto? "

" Kepalaku tiba- tiba saja pusing " jawab Naruto sambil memijat pelan keningnys. Dia terentak kaget saat Itachi tiba- tiba mengangkat tubuhnya ala bridal style " I... Itachi "

" Sebaiknya kita ke rumah sakit "

" Tidak " tolak Naruto sambil mencengkeram erat kemeja sekolah Itachi. " Aku tidak mau "

" Tapi Naru "

" Aku tidak mau " tolak Naruto dengan air mata yang mengalir keluar.

" Ok, aku tidak akan membawamu kesana. Jadi jangan menangi lagi " Itachi membawa Naruto ke dalam kamarnya dan meletakkan tubuh wanita itu dengan hati- hati di atas ranjangnya. " Kau tunggulah disini, aku akan ke apotik membelikanmu obat "

Beberapa menit kemudian Itachi sudah kembali sambil menenteng kantong kresek berwarna putih. " Kau sudah makan? "

" Sudah "

" Aku akan mengambil air di bawah untukmu minum obat "

Naruto hanya diam menerima perlakuan Itachi terhadapnya. Pemuda yang dulu sangat membencinya tiba- tiba saja berubah lembut hanya dalam kurun waktu beberapa minggu. Harusnya Naruto senang dengan perubahan itu sayangnya dia malah sedih dengan perlakuan Itachi saat ini karena dari pada memperlakukannya seperti seorang ibu, sikap Itachi terlihat seperti seorang suami terhadap istrinya. " Kenapa jadi seperti ini " kepala Naruto bertambah sakit saat memikirkannya. " Kapan kau pulang Fugaku-kun " ucap Naruto lirih, harusnya saat-saat seperti ini Fugakulah yang berada di sampingnya.

Klekk...

Pintu kamar terbuka disusul sosok Itachi yang datang sambil membawa satu gelas air putih juga sebaskom air di tangan satunya. " Minum obatmu dulu " Itachi mengambilkan obat dari bungkus plastik yang tadi dibawanya dan membantu Naruto meminum obat itu. " Kalau obat ini tidak berefek, besok aku akan membawamu ke rumah sakit "

" Tapi- "

" Tidak ada tapi- tapian Naru, selama di sini hanya ada kau dan aku, sepenuhnya kau akan menjadi tanggung jawabku "

Naruto yakin jika dirinya akan langsung tersedak minuman jika saat ini tengah meminumnya, dia heran dari mana si bocah bengal macam Itachi mendapatkan kata- kata bijak barusan. " Aku sudah merasa sedikit lebih baik, sebaiknya kau makan dulu "

" Setelah ini " Itachi mnyelimuti tubuh Naruto sebatas perut, dia mengambil kain yang tadi dibawanya kemudian mencelupkannya ke dalam baskom. Dia memerasnya terlebih dahulu sebelum meletakkannya di atas kening Naruto.

"... "

" Kenapa? " tanya Itachi saat Naruto memandangnya.

" Kau aneh " dia memejamkan matanya sambil menjawab pertanyaan Itachi. Pusingnya sedikit berkurang berkat kompres yang Itachi lakukan.

" Benarkah "

" Hn, sekarang pergilah makan kau pasti lapar. Aku ingin tidur "

" Hn " hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Itachi namun tubuhnya tak bergerak seincipun dari tempatnya duduk. Dia baru pergi saat Naruto sudah benar- benar tidur pulas.

.

.

.

.

Keesokan paginya keadaan Naruto sudah kembali membaik. Dia sudah bisa melakukan aktivitas rutinnya seperti menyapu, mengepel, memasak dan membereskan kamar Itachi yang sejak dia masuk ke dalamnya tidak pernah berubah, selalu berantakan dengan sampah yang bertebaran dimana- mana. Dan kebetulan sekali pemiliknya tidak pergi kemana-mana karena tengah asik bergelung di dalam selimut tebalnya. Naruto hanya tersenyum melihatnya, dia tahu jika Itachi pasti sangat lelah karena harus begadang menungguinya yang sedang demam.

" Bagaimana kalau hari ini kita keluar Naruto? " ajak Itachi masih di dalam selimut tebalnya

" Kemana? "

" Jalan- jalan, bukankah selama ini kau tidak pernah keluar rumah "

' Ya dan itu berkat dirimu' ucap Naruto dalam hati. " Sebaiknya kau istirahat saja, kau pasti lelah karena semalaman menjagaku "

Itachi menyibak selimutnya " Tapi aku ingin jalan- jalan " ucapnya sambil memandang tajam pada Naruto, niatnya ingin merajuk pada wanita itu tapi melihat wajahnya yang selalu datar sampai tuapun orang akan selalu salah mengartikan ekspresinya.

" Kau bisa mengajak teman- temanmu "

" Apa kau ingin bertemu mereka? "

" Tidak " jawab Naruto cepat " Mereka membuatku takut "

" Kalau begitu cepatlah bersiap, aku akan benar- benar membawamu ke tempat mereka jika kau menolak ajakanku "

.

.

.

.

Sekarang disinilah keduanya, Itachi dan Naruto tampak serasi dengan pakaian mereka. Naruto dengan atasan berenda berwarna putih dan bawahan rok pendek berwarna hitam. Memakai hels berwarna senada dengan bawahan yang dikenakannya. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai dengan sebuah bandanya menghiasinya. Benar- benar terlihat cantik, berterimakasihlah pada Itachi yang sudah menyeretnya ke dalam salon dan membelikannya satu stel pakaian.

Sementara Itachi tampak lebih santai denga pakaiannya yang serba hitam namun membuatnya terlihat lebih tampan. Keduanya berjalan beriringan persis sekali seperti pasangan yang tengah kencan.

" Mengajakku ke taman bermain, kau pikir aku bayi " omel Naruto, kalau hanya ke tempat seperti ini kenapa juga harus menyeretnya ke salon segala.

" Ya, aku yakin jika orang desa sepertimu tidak pernah datang ke tempat seperti ini "

" Akhir- akhir ini kau aneh sekali " entah apa yang Naruto pikirkan, tiba- tiba saja dia meraih tangan Itachi kemudian memeluknya dan mengajak pemuda itu berkeliling taman bermain.

" Hn " Itachi sendiri juga merasa aneh tentang perubahan sikapnya yang tiba- tiba. Dia merasa nyaman dan ingin selalu berada di dekat Naruto, padahal awalnya dia benci sekali dan bertekat akan membuat Naruto pergi dari kehidupannya juga Tou-sannya.

" Apa kau tidak mempunyai kekasih Itachi "

" Tidak "

" Kenapa? " tanya Naruto penasaran, tapi sedetik kemudian wanita itu paham begitu melihat tampang Itachi. " Pemuda sepertimu pasti play boy "

" Mereka membosankan "

Naruto mengangguk membenarkan ucapannya barusan, karena hanya seorang play boy yang berkata membosankan pada seorang wanita dan meninggalkannya begitu saja. " Itachi, belikan aku buble tea " pinta Naruto sambil menunjuk kearah stand penjualan yang tak jauh dari tempatnya. " Dan aku akan menunggumu di sini " lanjutnya sambil duduk manis pada bangku yang kebetulan berada tak jauh dari tempatnya.

Sakura, Hinata, Ino dan Tenten tengah asik bercanda sambil menunggu pesanan mereka. Empat sekawan itu tengah menikmati hari libur mereka dengan berjalan- jalan seharian, seperti hari- hari libur sebelumnya.

" Sakura " panggil Ino yang membuat ketiga temannya mengalihkan pandangan mereka. " Apa kau masih menganggap kami sebagai sahabatmu? " lanjut Ino, Hinata dan Tenten kini melihat kearah Sakura yang masih terdiam. Namun raut wajahnya kini berubah sendu.

" Maaf "

" Bukankah kita sudah bersahabat sejak lama, kau bisa membaginya dengan kami Sakura "

" Nona buble tea dua "

" Baik tuan, silahkan duduk terlebih dahulu "

Saat hendak duduk tanpa sengaja mata Itachi bertatapan dengan mata Sakura. Gadis itu tampak terkejut berbeda dengan Itachi yang biasa saja kemudian mengacuhkannya. Dia menarik salah satu kursi dan duduk tak jauh dari tempat Sakura dan yang lain berada.

" Hei Sakura, apa kau tak ingin menyapanya? " bisik Tenten sambil melihat ke arah Itachi yang tampak santai menunggu pesanannya.

" Se.. sebaiknya jangan, di.. dia terlihat menakutkan " ucap Hinata. Hinata memang selalu takut terhadap Itachi, kebanyakan gadis seumuran dengannya akan mengejar- ngejar Itachi tapi dia akan segera lari begitu melihat tampang Itachi.

" Menurut kalian apa yang sedang dilakukannya disini? apa dia sedang kencan dengan kekasih barunya "

" Itu tidak mungkin " jawab Sakura lirih, antara yakin dan tidak yakin. " Selama ini Itachi tidak pernah mengajak seorangpun dari kami keluar bersama, kecuali di lingkungan sekolah "

" Maksudmu? " tanya Ino heran, untuk apa mereka pacaran jika tidak pernah mengajak pasangannya keluar bersama.

" Dia memang suka gonta- ganti pasangan, tapi seperti ada dinding tinggi yang menghalangi kami untuk menjalin hubungan lebih jauh dengannya "

" Ini tuan "

" Hn " selesai membayar Itachi kembali ke tempat Naruto berada, dia tersenyum melihat bagaimana mata Naruto berbinar saat menatap berbagai macam wahana permainan di tempat itu. " Kau benar- benar terlihat seperti orang desa Naruto " ucap Itachi sambil duduk di sampingnya. " Ah aku lupa. Kau memang orang desa, pantas saja terlihat kampungan "

" Kenapa dari tadi kau terus menghinaku " jawab Naruto sewot sambil merebut dua buble tea yang berada di tangan Itachi. " Ini hukuman karena kau jahat padaku " lanjutnya membuat Itachi tertawa.

" Kau- " Itachi menghentikan ucapannya saat melihat bagaimana wajah Naruto yang tengah menikmati minumannya " Kau cantik sekali Naruto " ucap Itachi lirih, dia menarik minuman yang tengah dinikmati Naruto dan langsung menyambar bibir pink yang terlihat menggoda karena basah. Hanya ciuman singkat beberapa detik. " Kau mau naik itu " tawar Itachi sambil menunjuk salah satu wahana permainan di depannya.

" Bianglala? "

" Hn "

" Kau tahu Itachi, sudah lama sekali aku ingin menaikinya " dengan semangat Naruto menyeret tubuh Itachi untuk membeli tiket dan hanya butuh beberapa menit mereka bisa duduk manis di dalam bianglala yang mulai bergerak perlahan. Naruto terlihat begitu bahagia saat menikmati pemandangan di bawahnya melalui kaca, bahkan dia bisa melihat pemandangan di luar taman bermain saat bianglalanya bergerak semakin keatas.

Srett...

Naruto terkejut saat Itachi tiba- tiba menariknya hingga membuatnya terduduk di atas paha pemuda itu. " I... Itachi "

" Hn " Itachi memeluk posesiv tubuh Naruto, dengan mata terpejam dia mulai menikmati harum tubuh Naruto yang selalu membuatnya nyaman dan tergoda.

" Hentikan Itachi " pinta Naruto saat merasakan tangan Itachi yang mulai gerayangan. " A... ada yang melihat kita " lanjut Naruto saat tanpa sengaja matanya melihat dua gadis yang tengah memperhatikannya.

Itachi melirik kearah Naruto memandang, kedua onixnya lagi- lagi bertemu pandang dengan dua emerald yang menatapnya sedih " Biarkan saja " Itachi beralih pada bangku di hadapannya.

" Pliss Itachi "

" Jika kau terus berontak, maka aku akan memperkosamu saat ini juga " ancam Itachi yang berhasil membuat tubuh Naruto tenang "bagus " Itachi melepas satu persatu kancing baju Naruto hingga semuanya terlepas dan selanjutnya menarik bra merah milik Naruto membuat kedua payudaranya menyembul keluar.

" Aahhh... " Naruto hanya bisa mendesah saat tangan Itachi meremas kedua payudaranya. " itachihh... "

" Semakin hari, ini semakin padat Naruto " bisik Itachi, salah satu tangannya merambat membelai perut datar Naruto, singgah sebentar pada pusarnya sebelum bergerak semakin ke bawah.

" aahhh... " mulut Naruto kembali mendesah saat merasakan geli pada daerah pahanya sampai akhirnya jemari panjang Itachi sampai pada tujuan awalnya.

" Kau basah Naruto "

" Cukhh... kkupphhh... Oohhh... " mulut Naruto tak bisa berhenti mendesah saat jemari Itachi mulai mnyusup masuk kedalam celana dalamnya, menggoda daging kecil yang membuat tubuh Naruto bergetar nikmat.

" Hadap kemari Naruto " perintah Itachi. Begitu Naruto memalingkan wajahnya Itachi langsung menyambutnya dengan ciuman.

" Mpphhh... "

Keduanya terus berciuman, saling melilitkan lidah. Itachi tidak pernah bosan merasakan manis mulut Naruto juga ekspresi wanita itu saat dirinya menyentuhnya.

" Ngghhh... " lenguh Naruto disela ciumannya saat jemari Itachi mulai menusuk- nusuk lubangnya. Bunyi kecipak basah terdengar saat jemari Itachi bergerak semakin cepat dan terlihat cairan yang mulai menetes membasahi lantai di bawah mereka. " Oohh... Itachihh... "

" Kau suka Naruto? "

" Ngghh... " jawab Naruto sambil menggeleng. " Cukkhhh... kuphhh... akuhh... keluarhhh... Aakkhhh... " tubuh Naruto menegang saat dirima klimaks, bersamaan dengan itu bianglala yang mereka naiki berhenti di tempat semula mereka menaikinya.

" Kita keluar " setelah membenahi pakaian Naruto, Itachi menggendongnya ala bridal style yang berhasil membuat keduanya menjadi pusat perhatian saat keluar dari bianglala.

" Apa dia baik- baik saja tuan " tanya petugas saat melihat keadaan Naruto.

" Ini pertama kalinya dia naik "

Petugas itu paham dengan maksud ucapan Itachi, setelah membungkuk dan mengucapkan terimakasih dia kembali melayani pengunjung yang lainnya.

Sakura hanya diam sambi memandangi gelas berisi jus buah di hadapannya. Dia memang sudah terbiasa dengan sikap Itachi pada gadis- gadis di sekalilingnya tapi melihatnya dengan gadis tadi, entah kenapa hatinya tersa sakit lebih sakit dari sebelum- belumnya.

" Sa... Sakura " panggil Hinata, dia dan kedua temannya semakin cemas melihat sikap Sakura setelah tadi mereka membuntuti Itachi dan melihat dengan jelas apa yang dilakukan Itachi dengan kekasih barunya.

" Hn "

" Kau baik- baik saja "

" Tidak Hinata " jawab Sakura lirih, air mata yang sudah ditahannya semenjak tadi akhirnya keluar " Aku sakit " ucapnya disela isak tangisnya, persetan dengan orang- orang yang melihatnya, Sakura tidak peduli.

Tanpa sepatah kata Ino langsung membawa sahabat sejak kecilnya itu kedalam pelukannya. Hanya itu yang bisa dilakukannya sebagai sahabat, begitu juga dengan Hinata dan Tenten yang ikut memeluk mereka berdua. " Kau pasti bisa Sakura, kami akan membantumu "

" Terimakasih "

.

.

.

.

Itachi dan Naruto tiba di rumah saat langit sudah gelap, mereka turun dari mobil sambil menenteng beberapa kantong belanjaan karena sebelumnya mereka mampir terlebih dahulu ke supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan yang sudah menipis.

Klekk...

Naruto sedikit terkejut saat mendapati pintu rumahnya yang tidak terkunci. Padahal dia ingat betul jika sebelum pergi tadi dia sudah mengunci rumahnya.

" Ada apa Naruto? "

" Pintunya tidak terkunci " jeda sejenak sebelum wajah Naruto berubah pucat. " Rumah kita kemasukan pencuri "

" Ck jangan bercanda Naruto, tak ada pencuri yang berani memasuki kediaman Uchiha " Itachi membuka lebar pintu di depannya kemudian melenggang masuk diikuti Naruto yang berjalan dibelakangnya. " Kau lihat, tak ada apa- apa di sini "

Naruto keluar dari balik punggung Itachi, dia melihat sekelilingnya yang tampak sama sebelum dia pergi sampai tanpa sengaja matanya melihat siluet seseorang bersurai panjang yang tengah berada di dapur. Sebuah senyuman mengembang di bibirnya saat tahu siapa sosok itu dan tanpa membuang waktu dia menghambur memeluknya setelah melempar asal kantong belanjaannya.

" Akhirnya kau pulang, aku sangat merindukanmu "

Tbc

Thanks for read, see you next chap... ^ ^