Hello! Apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat tanpa keurangan satu apa pun. (:

Dan selamat tahun baru! Semoga tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Yang nilai pelajarannya kurang memuaskan di semester kemaren, moga di tahun ini bisa lebih baik. Untuk yang masih jomblo, moga dapet pacar di tahun ini. Untuk yang udah pacaran lama dan nggak berhasil kode-in doi supaya dihalalin, moga tahun ini bisa jadi pasangan halal. Untuk penulis yang tahun kemaren banyak magernya moga tahun ini menjadi tahun yang gemilang untuk kita semua! #Amien

Ok, deh selamat membaca! Dan maaf, chapter ini juga masih super pendek.

Enjoy! ^^

.

.

.

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M

Genre : Crime, Action, Friendship, Romance, Angst

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo(s)

Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

Under Cover

Chapter 17 : Rencana

By : Fuyutsuki Hikari

"Apa maksud anda membubarkan divisi kami?" Fuu meraung marah, memukul keras meja kayu di hadapannya. Kedua matanya berkilat oleh amarah yang meletup-letup. Bagaimana dia tidak marah? Naruto meninggal dunia. Utakata masih koma dan seolah tidak cukup kini divisi pasukan khusus secara resmi dibubarkan. Ini pasti lelucon! Pikirnya geram.

"Fuu duduk!" perintah Bee tegas, namun sama sekali tidak digubris oleh Fuu. Berbeda dengan rekan-rekannya yang lain, Fuu memiliki keterikatan lebih dengan Utakata. Ya, ia memang mencintainya. Sedangkan Naruto, dia bukan hanya menganggap Naruto sebagai seniornya, tapi juga adiknya sendiri. Walau tidak dipungkiri jika mereka kerap bertengkar namun justru hal itulah yang membuat ikatan diantara mereka semakin erat.

Benar, Naruto memang jauh lebih muda darinya, namun jabatan serta prestasi Naruto membuat putri bungsu Namikaze itu dihormati oleh anggota-anggota militer lainnya yang berumur lebih tua darinya.

"Jangan diam saja Tuan Raikage." Yugito menimpali. Wanita itu menekan nada suaranya, meminta penjelasan. "Anda pasti memiliki alasan kuat membubarkan divisi khusus lalu mengumpulkan kami semua di sini, bukan?"

Raikage mengangguk pelan, membuat Fuu menghela napas keras lalu kembali duduk. "Mulai detik ini, kalian akan bergerak di bawah perintahku secara langsung, dengan perlindungan dari Tuan Fugaku."

Hangobi menyipitkan kedua matanya. "Apa maksud anda?"

"Kalian akan bergerak dalam kegelapan." Raikage menjelaskan dengan hati-hati. "Kegiatan kalian tidak akan tercantum dalam rekam laporan militer, begitupun dalam rekam laporan kepolisian." Raikage terdiam sejenak. "Tidak akan ada laporan mengenai pergerakan kalian," lanjutnya seraya menggelengkan kepala pelan.

Yugito mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. "Kami bergerak secara ilegal?"

Raikage kembali menggelengkan kepala pelan. "Tidak," jawabnya cepat. "Tuan Fugaku akan menjadi penanggung jawab atas apa yang kalian kerjakan."

"Uchiha Fugaku?" timpal Sanbi, seolah ingin memastikan jika indra pendengarannya tidak bermasalah.

"Benar." Raikage mengangguk, membuat enam orang di dalam ruangan itu terdiam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. "Tugas kalian sekarang—menyingkirkan semua anggota Hebi yang ada."

"Maksud anda?"

"Singkirkan mereka hingga ke akarnya," sahut Raikage menjawab pertanyaan Gobi dengan ekspresi serius.

"Bagaimana dengan pengkhianat di dalam tubuh militer yang kita curigai selama ini?" tanya Sanbi. "Jika kita menyingkirkan anggota Hebi, bagaimana kita bisa menangkap pengkhianat itu?"

"Dia akan segera muncul jika kita memberi umpan yang tepat," jawab Raikage dengan ekpresi tidak terbaca.

Ruangan itu kembali hening, menyisakan aura pekat di dalam ruangan itu. Keenam orang di dalam ruangan itu menutup mulut rapat, mencerna setiap informasi yang baru saja masuk ke dalam otak mereka sementara Raikage menatap satu per satu wajah anak buahnya. "Tugas pertama kalian sudah ada di depan mata," tukasnya memutus keheningan. "Ingat, bunuh dan habisi mereka semua!"

.

.

.

Anko berdiri mematung di bawah guyuran air dingin yang kini membasahi seluruh tubuhnya. Perlahan wanita itu mengusap wajahnya, memejamkan mata, mengingat percintaannya dengan pria asing yang bernama Kakashi itu.

Jauh di dalam hatinya, Anko tahu jika pria itu menjadikan dirinya hanya sebagai pelampiasan rasa frustrasinya. Di dalam mata pria itu sama sekali tidak ada nafsu, dan entah kenapa hal itu melukai harga diri Anko.

Kedua tangan wanita itu terkepal erat. Ia belum pernah ditolak oleh pria manapun selama ini, tapi Kakashi menolaknya. Pria sialan itu menolaknya secara terang-terangan lalu menggunakannya seperti boneka tanpa nyawa.

Anko memeluk tubuhnya sendiri, rasa panas menjalar di seluruh tubuhnya saat dia teringat bagaimana pria itu menghujamnya terus-menerus tanpa ampun, tanpa memberinya kesempatan untuk menolaknya.

Kenapa aku malah menyukai percintaan kami tadi malam?

Anko menggelengkan kepala pelan. Ini tidak benar, pikirnya. Apa yang terjadi tadi malam murni karena tugas, sama seperti apa yang dilakukannya saat melayani pria-pria lainnya selama ini, tidak lebih.

Menghela napas keras, Anko lalu mematikan kran shower, tubuhnya terlonjak kaget saat tiba-tiba pintu kaca di belakangnya terbuka. "Sialan! Apa kau tidak tahu ini ruang privasiku?" teriak Anko murka. Dengan cepat ia menyambar sebuah handuk kering yang dilipat rapi di tempat handuk.

Pria muda yang membuka pintu kaca itu hanya menaikkan satu alisnya dan membalas dengan pongah, "Sejak kapan kau merasa malu saat ada pria melihat tubuh telanjangmu?" ujarnya membuat Anko berbalik dan mendesis marah. "Kau seorang pelacur, Anko. Tidak lebih."

"Pergi! Atau kubunuh kau!" desis Anko penuh ancaman. Anko tahu seharusnya ia tidak marah mendengar ucapan terang-terangan pria itu, karena itu memang kenyataannya, namun kenapa sekarang ia harus marah? Sialan! Makinya di dalam hati.

Pria muda itu mundur satu langkah, mengangkat tangannya ke udara sebagai tanda menyerah. Ia tahu Anko bisa dengan mudah membunuhnya, karenanya ia cukup tahu diri kapan untuk berhenti bercanda dengan Anko.

"Tuan besar memanggilmu di ruangannya," ujar pria itu kemudian, sementara Anko melangkah keluar dari bawah shower lalu berdiri di depan kaca wastafel, mematut diri. Pria itu terdiam sejenak, kedua alisnya bertaut saat melihat ruam-ruam dan bercak keunguan pada kulit mulus Anko. "Sepertinya anak baru itu menggaulimu habis-habisan." Ia terkekeh pelan.

"Jaga mulutmu!" Anko berbalik, melotot marah. "Keluar sebelum aku kehilangan kesabaran dan membunuhmu!" ancamnya membuat pria muda tadi segera berbalik pergi meninggalkan kamar mandi nyaman milik Anko.

Anko menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya pada cermin di depannya. Selama ini tidak ada satu pria pun yang berani meninggalkan jejak sebanyak ini di tubuhnya. Anko tidak pernah mengizinkan pelanggannya untuk memberikan tanda di tubuhnya, dan sekarang Kakashi dengan kurang ajarnya meninggalkan begitu banyak tanda di tubuh mulusnya?

"Sialan!" umpatnya kesal karena ia justru menyukai apa yang dilakukan oleh Kakashi pada dirinya. Anko bahkan tidak keberatan saat pagi tadi seluruh tubuhnya terasa ngilu dan letih luar biasa. Pria itu bahkan tidak mengucapkan apa pun dan pergi begitu saja.

"Dia akan membayar penghinaan ini," janji Anko pada dirinya sendiri. "Aku akan membuatmu berlutut di bawah kakiku, Kakashi!"

.

.

.

Anko segera menyambar satu stel pakaian dari dalam lemari, mengenakannya dengan cepat lalu berdandan tipis sebelum bergegas keluar dari dalam kamarnya menuju ruang kerja Orochimaru.

Sudah tiga tahun lamanya ia tinggal di kediaman Orochimaru, boleh dibilang Anko menjadi anak buah favorit Orochimaru, karenanya pria itu memberi Anko perlakuan khusus mengenai tempat tinggal. Anko menghela napas lelah. Dalam hatinya ia tahu betul jika Orochimaru melakukan hal ini bukan semata-mata ingin menjaganya, namun karena Anko mengetahui terlalu jauh mengenai organisasi hitam ini, hingga Orochimaru memutuskan untuk memotong kedua sayap Anko, mengikatnya dengan rantai untuk memastikan wanita itu tidak berkhianat.

"Anda memanggil saya, Tuan?" Anko tersenyum manis, lalu mendudukkan diri di atas kursi di sebrang meja kerja Orochimaru.

Orochimaru duduk tenang, sementara tangannya sibuk melap satu persatu senjata apinya yang berjejer di atas meja kerja kayu mengkilatnya. Ia mengangkat salah satu pistol kuno koleksinya, mengecek isinya lalu melapnya kembali hingga berkilat.

"Aku akan mengirimmu kembali ke Konoha High School," terangnya membuat kedua alis Anko bertatut mendengarnya. "Tugasmu kali ini bukan memata-matai putra bungsu Uchiha Fugaku," lanjut Orochimaru tenang. "Ataupun membunuh seseorang," tambahnya dengan senyuman penuh arti.

Pria itu meletakkan pistol di tangannya ke atas meja dengan hati-hati, lalu menopangkan kedua tangannya di atas meja. "Aku ingin kau mengorek informasi mengenai seseorang," lanjutnya tenang saat Anko duduk diam, mendengarkan.

"Siapa?"

Orochimaru menarik laci meja kerjanya, mengeluarkan sebuah foto dari dalamnya lalu melemparkannya ke atas meja. "Namikaze Kurama—ilmuwan jenius yang malah menyia-nyiakan kejeniusannya itu dan menjadi salah satu pengajar di sekolah itu," terang Orochimaru dengan nada mencibir. "Aku memerlukan otak jeniusnya untuk kepentingan organisasi kita."

"Sebagai rekan Kabuto?" tanya Anko hati-hati. Tidak mungkin jika bos besar berniat untuk menyingkirkan Kabuto, kan? Tanyanya di dalam hati.

Orochimaru tersenyum samar, membuat Anko merinding seketika. Bosnya ini pasti tengah merencanakan hal licik, dan Anko benar-benar tidak menyukai apa pun yang tengah direncanakan oleh bos besarnya itu saat ini.

"Kita tidak memerlukan Kabuto lagi jika berhasil menyeret Kurama masuk ke dalam organisasi kita," terang Orochimaru membuat Anko menelan kering, takut. Orochimaru menyempitkan mata, "Kabuto sudah terlalu sering mengecewakanku," lanjutnya dengan tangan terkepal. "Dia nyaris membuat organisasi kita dalam bahaya jika saja Kakashi tidak berhasil merebut buku harian sialan itu dari tangan Kitsune," geramnya marah.

Orochimaru terdiam sejenak. "Karena itu, tugasmu kali ini adalah melaporkan kegiatan Kurama, cari kelemahannya dan laporkan padaku secepatnya."

Anko mengangguk paham. "Apa akan mudah memasukkan saya kembali ke sekolah itu?" tanyanya kemudian. "Bukankah keamanan di sekolah itu sekarang diperketat?"

Orochimaru tersenyum penuh arti, "Tidak jika kau memiliki kenalan yang tepat," jawabnya misterius.

.

.

.

"Aku sangat mengkhawatirkan kondisi kejiwaan Sasuke." Neji mendongakkan kepala, menatap langit Tokyo yang mendung. Pemuda itu merapatkan jaket tebal yang dikenakannya saat hawa dingin kembali menyerang. "Dia semakin sering keluar asrama akhir-akhir ini dan itu membuatku semakin cemas."

Shikamaru menghela napas panjang, sementara matanya mengamati sebatang rokok yang terselip diantara jemari tangan kanannya. "Sasuke hanya memerlukan waktu untuk menerima kenyataan pahit ini," timpalnya dengan ekspresi sulit dibaca. Shikamaru terkekeh pelan membuat Neji menoleh ke arahnya dengan kening ditekuk dalam. "Naruto pasti menghajarku jika tahu aku merokok di dalam lingkungan sekolah," ujar Shikamaru menjawab pertanyaan yang tersirat di wajah Neji.

"Dia pasti menghajarmu habis-habisan," Neji menimpali, mengangguk samar. "Apa yang akan terjadi pada kita setelah ini?" tanyanya setelah terdiam cukup lama.

Shikamaru mengangkat kedua bahunya ringan, melempar rokok di tangannya ke atas tanah lalu menginjaknya. "Kita hanya perlu menjalani hidup kita seperti biasanya," jawabnya datar disambut oleh keheningan lain yang kembali datang menguasai. "Bohong jika aku mengatakan semuanya akan baik-baik saja dan kembali seperti semula," ia kembali bicara dengan kepala mendongak, menatap bulir-bulir salju yang mulai turun dari langit. "Rasanya tentu tidak akan pernah sama lagi."

"Benar," Neji mengangguk samar, membenarkan. "Aku bahkan mendapati Lee menangis keras di dalam toilet saat ia mendengar berita mengenai kematian Naruto." Neji terdiam sejenak. "Dia bertanya padaku, kenapa Tuhan memanggil orang sebaik Naruto begitu cepat?"

Shikamaru menoleh, sementara Neji mengehla napas dan kembali bicara dengan nada suara bergetar, "Untuk pertama kalinya di dalam hidupku aku tidak bisa menjawab sebuah pertanyaan yang dilontarkan padaku." Ia tersenyum pahit, "Lidahku mendadak kelu saat itu. Aku dibuat bingung oleh pertanyaan Lee. Aku ingin menghiburnya, tapi aku tahu jika apa yang akan kukatakan sama sekali tidak akan membantu menghilangkan kesedihannya."

"Naruto benar-benar sialan," ucap Shikamaru dengan kekehan masam. "Dia datang begitu saja dalam kehidupan kita, membuat kita mulai memikirkan apa yang kita inginkan di dalam hidup, dan setelahnya dia pergi begitu saja. Dia bahkan pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu."

"Benar-benar khas Naruto bukan?" Neji menimpali.

Shikamaru mengangguk tipis. "Ya, benar-benar khas Naruto."

.

.

.

Sasuke terus berjalan, menyusuri jalan demi jalan yang pernah dilewatinya bersama Naruto. Pria itu terkadang tersenyum samar saat mengenang apa yang pernah dilaluinya bersama wanita itu. Wanita yang datang lantas menghilang dari kehidupannya tanpa permisi.

Pemuda itu berhenti berjalan, menatap lurus sebuah tempat dimana Naruto nyaris mati untuk menyelamatkan Sasuke dan teman-temannya yang lain dari kepungan anggota geng bersenjata.

Sasuke terkekeh pelan, menyisir rambut gelapnya dengan jemarinya. Apa yang dipikirkannya dulu? Membuang-buang waktu berharganya untuk sesuatu yang semu sementara di sisi lain ada begitu banyak pemuda dan pemudi seperti Naruto yang berjuang demi melindungi rakyat serta negaranya.

Miris, ujarnya di dalam hati.

Sasuke terdiam lama di sana. Menatap langit kelabu yang memuntahkan salju dari dalamnya.

"Hei, Naruto?!" panggilnya entah pada siapa. "Jika aku terus menunggumu di sini, apa kau akan kembali padaku?" tanyanya lirih yang dijawab oleh desauan angin musim dingin yang menyapu wajah pucatnya.

"Jika aku melanjutkan hidupku apa kau akan kembali padaku?" tanyanya lagi. "Bolehkah aku berpikir jika kau masih berada di suatu tempat, menyembunyikan diri dan akan kembali jika waktunya sudah tepat?"

Sasuke kembali terkekeh pelan, kepalanya menunduk, menatap sepatu mahalnya yang kini basah oleh salju. Ia kembali mendongak, tersenyum dan kembali berkata, "Aku akan menunggumu. Sehari, setahun, sepuluh tahun, selamanya hingga kau kembali padaku."

Hening.

"Jangan marah padaku karenanya, karena hal itu satu-satunya cara agar aku bisa bertahan untuk hidup selama ketidakberadaanmu disisiku."

.

.

.

"Woah, jadi kau benar-benar menghabiskan malam dengan Anko?" Ken, pria berusia paruh baya dengan bekas luka memanjang di pipi kanannya itu berseru penuh kebanggaan. Ia menepuk bahu Kakashi lalu menyodorkan sebatang rokok pada pria itu. "Kau pasti bekerja ekstra keras tadi malam," godanya dengan senyuman penuh arti.

Kedua alis Ken bertaut, "Apa servisnya tidak bagus?" tanyanya penasaran saat Kakashi mendudukkan diri di atas sofa dengan keras. "Aku dengar Anko pelacur nomor satu yang dimiliki oleh bos besar," ujarnya sungguh-sungguh. "Hei, apa servicenya seburuk itu?" tanya Ken lagi, pantang menyerah, terlebih saat melihat ekspresi kusut Kakashi. "Atau dia menolakmu?" tanyanya membuat Kakashi mendesah keras.

"Aku menyesal sudah menidurinya," jawab Kakashi dengan dengusan kecil, sementara Ken hanya bisa menatap rekannya itu dengan tatapan tak percaya. Kakashi menyisir rambut dengan jemarinya. "Mungkin akan jauh lebih baik jika tadi malam aku tetap berada di sini dan minum sampai mabuk denganmu," tambahnya dengan seringai lebar.

"Kau pasti sedang mengejekku, kan?" balas Ken kesal. "Si brengsek ini!" makinya sementara Kakashi menyulut rokoknya lalu menghisapnya nikmat. "Dasar tidak tahu diuntung! Kau harusnya bangga karena bisa meniduri Anko dengan cuma-cuma!" tegurnya dengan kedua tangan dilipat di depan dada. "Anko pelacur nomor satu milik bos besar," ia terdiam sejenak, melirik lewat bahunya, memastikan tidak ada orang lain yang masuk ke dalam kamarnya. "Yang aku dengar, Anko anak buah kepercayaan bos besar."

Kakashi melirik sekilas, pura-pura tidak tertarik walau dalam hati ia mencatat informasi yang dikatakan oleh Ken saat ini.

"Anko bahkan pernah menyusup ke dalam sekolah elit untuk memata-matai putra bungsu Menteri Pertahanan dan misinya sukses besar."

Kakashi tidak mengatakan apa pun. Pria itu bersyukur karena ia bisa menjaga ekspresi dan sikap tenangnya dengan baik. "Jangan bercanda!" balas Kakashi terdengar meremehkan. "Bagaimana bisa seorang pelacur masuk ke dalam sekolah elit?" ejeknya dengan gelengan kepala pelan. Kakashi menghela napas, "Bercanda juga ada batasnya, Ken. Bagaimana bisa seorang pelacur menyamar," Kakashi terdiam sejenak, pura-pura memasang ekspresi berpikir. "Dia menyamar menjadi apa disana?" tanyanya.

"Guru," jawab Ken.

"Ah… jadi dia menyamar menjadi guru?" Kakashi terkekeh. "Bagaimana bisa seorang pelacur menyamar menjadi seorang guru?"

Ken memutar kedua bola matanya dan menjawab dengan nada jengkel. "Bos besar mengajarkan segalanya pada Anko," ia mengangkat bahu ringan., "ya… walau pada akhirnya bos besar menggunakan Anko untuk kepentingannya juga."

Kakashi mematikan rokoknya di atas asbak. "Katakan apa yang bisa dilakukan Anko di tempat itu?" Ia tertawa pelan. "Menyamar menjadi guru? Yang benar saja!"

"Aku tidak bercanda, Brengsek!" maki Ken sembari menampar keras kepala Kakashi. Pria itu berdeham, duduk dengan tegak saat Kakashi menatapnya tajam. Ken mencodongkan tubuhnya, lanjut bicara dengan suara sepelan mungkin. "Anko juga mengerjakan tugas kotor yang tidak bisa dikerjakan oleh Kabuto di tempat itu."

Satu alis Kakashi terangkat, sementara Ken menganggukkan kepala dengan ekspresi serius. "Kau tahu kan jika Kabuto pernah memiliki kekasih siswi SMA?"

Kakashi mengangkat bahu ringan dan menjawab cuek, "Aku pernah mendengarnya." Ia terdiam sejenak, "Lalu apa hubungannya?"

"Anko diperintahkan bos besar untuk melenyapkan anak itu," terang Ken membuat satu alis Kakashi terangkat, tidak percaya. "Jangan tertawa!" ujarnya tersinggung. "Karena kesalahan Kabuto jugalah kau diperintahkan untuk merebut buku harian milih gadis itu dari tangan militer."

Ken mendesah keras. "Aku tidak akan heran jika Kabuto disingkirkan oleh Bos besar." Ia menggelengkan kepala pelan.

"Kabuto tidak mungkin disingkirkan begitu saja," timpal Kakashi tenang. Ia duduk dengan santai. "Bos besar harus mendapatkan penggatinya terlebih dahulu."

Lagi-lagi Ken mencondongkan tubuhnya, lalu berbisik pelan, "Karena hal itulah Anko dimasukkan kembali ke sekolah elit itu."

Kakashi mengernyit, menahan diri untuk tidak memaksa Ken agar bicara lebih banyak.

"Bos tengah merencanakan sesuatu," bisiknya. "Anko diperintahkan untuk mengawasi salah satu guru baru di sekolah itu."

"Jangan menyebarkan berita bohong, Ken!" tegur Kakashi dengan nada tenang mengagumkan. "Kepalamu bisa berlubang oleh peluru jika bos mendengar ucapanmu!"

Ken menggoyangkan jarinya di udara. "Aku mendengarnya langsung dari mulut bos besar saat dia bicara dengan Tuan Zetsu," bisiknya pelan. "Aku tidak sengaja mendengarnya saat membawakan minuman keras untuk menjamu bos besar," tambahnya membuat Kakashi merenung dalam.

.

.

.

Fuu dan Yugito menatap pantulan diri mereka untuk terakhir kalinya. Mereka mengecar rambut, mengenakan make-up tebal, menggoda serta pakaian minim untuk melancarkan tugas mereka malam ini.

Tugas mereka sudah sangat jelas—melenyapkan anak buah Kabuto ataupun Zetsu.

Fuu mengedipkan matanya ke arah Yugito genit, sebelum akhirnya keluar dari dalam kamar mandi wanita untuk masuk ke dalam klub malam murah tempat anak buah Kabuto dan Zetsu sering berkumpul.

Berkat laporan Yamato terbaru, mereka memiliki foto serta data anak buah Kabuto yang harus mereka singkirkan malam ini. Tugas mereka tidak bisa dibilang mudah, karena keduanya harus bisa menyulut perang antara kelompok Zetsu dan Kabuto.

Namun sepertinya Tuhan memudahkan tugas keduanya malam ini. Ketidakharmonisan hubungan Zetsu dan Kabuto ternyata berdampak pada hubungan para anggotanya. Anggota dari dua kelompok itu tidak pernah akur, dan acap kali berakhir dengan perkelahian antar anggota.

Fuu mengerling pada Yugito, mereka harus rela saat tubuh mereka disentuh oleh tangan-tangan kotor itu demi tugas. Keduanya berpura-pura ikut menikmati, dan dengan sengaja keduanya menggoda anggota kelompok Zetsu yang terus mengarahkan pandangan mereka pada keduanya, dan akhirnya pertengkaran itu pun terjadi.

Diawali oleh adu mulut, hingga perkelahian pun terjadi dengan hebat, menyebabkan kekacauan di dalam ruangan minim cahaya itu.

Musik keras berhenti diputar, sementara pengunjung dan wanita penghibur yang tidak terlibat memutuskan untuk menyelamatkan diri, mereka berlomba-lomba keluar dari dalam klub malam itu dan suara tembakan pun terdengar keras, disusul oleh jeritaan ketakutan yang saling bersahutan.

Dari balik kegelapan Fuu menyeringai, terlihat senang saat dua orang pria yang diketahuinya sebagai anggota Kabuto tergeletak, mati di atas lantai.

"Brengsek! Kau membunuhnya!" raung salah satu pria dari kelompok Kabuto, marah. "Aku akan pastikan bos besar mendengar tentang ini!" raungnya yang segera terdiam saat sebuah peluru menerobos masuk melewati kerangka kepalanya.

.

.

.

Kabuto merangsak masuk ke dalam ruang pertemuan Orochimaru dan Zetsu pagi ini. Keduanya pasti sudah mendengar perihal pembunuhan yang dilakukan oleh anak buah Zetsu terhadap anak buahnya tadi malam, pikir Kabuto berang. "Aku meminta keadilan darimu, Bos!" tukasnya pada Orochimaru dengan ekspresi serius, sementara Orochimaru balas menatapnya dengan satu alis terangkat.

"Aku menginginkan anak buah Zetsu yang sudah berani membunuh tiga orang anak buahku!" tukasnya semakin marah saat Zetus menarik salah satu sudut mulutnya, terlihat jelas jika saingannya itu tengah mengejeknya saat ini. "Anda tidak berniat untuk melindungi mereka, kan?" Gigi Kabuto gemeretak saat Orochimaru tidak menanggapi ucapannya. "Anak buahku terbunuh, mereka anak buahmu juga, Bos!" tambahnya, terdengar mengingatkan.

Orochimaru menghela napas panjang, dan membalas tenang, "Sebagai seorang atasan, seharusnya kau bisa menjaga perilaku anak buahmu, Kabuto!"

Kabuto terbelalak, rahangnya mengeras. Ia sama sekali tidak menyangka jika Orochimaru tidak menanggapi serius masalah ini.

"Seharusnya anak buahmu bisa melindungi diri mereka sendiri," tambah Orochimaru masih dengan nada dan sikap tenang. "Dalam organisasi kita, hanya yang kuatlah yang bisa bertahan," ia mengingatkan.

Orochimaru mencondongkan tubuhnya, mengambil gelas vodka mahal miliknya lalu menyesapnya pelan. "Lupakan masalah tadi malam! Anggap saja semua itu kecelakaan kecil."

Kabuto tidak menjawab.

"Pergi dan kerjakan tugasmu dengan baik, Kabuto!" Orochimaru memerintahkan dengan penekanan. "Jangan buat aku bekerja lebih keras hanya untuk membereskan pekerjaan tidak becusmu!"

Sementara itu di rumah sakit militer, Bee menghela napas panjang, menyisir kasar rambutnya dengan jemarinya. Sudah beberapa hari berlalu dan Naruto masih belum sadar dari komanya, sementara Utakata sudah dipastikan Sembilan puluh persen akan lumpuh.

Pria itu mendesah, memijat keningnya lelah. Dua berita penting ini masih dirahasiakannya dari anak buahnya yang lain agar konsentrasi mereka tidak pecah saat menjalankan tugas baru yang terasa lebih berat.

"Hei, gadis bodoh! Sampai kapan kau akan tidur dan melimpahkan pekerjaan berat itu pada rekan-rekanmu yang lain?" tanya Bee lirih yang hanya dijawab oleh suara alat pendeteksi jantung yang masih terpasang pada Naruto. "Mereka dan aku membutuhkanmu untuk kembali bergabung bersama kami," lanjutnya. "Ada banyak musuh yang harus kita bereskan," tambahnya pelan.

.

.

.

Berita mengenai pembunuhan terhadap tiga orang anak buah Kabuto akhirnya sampai ke telinga Kakashi. Dalam hati ia sangat terkejut karena bos besar tidak mempermasalahkan mengenai hal ini. Kakashi mengernyit, memasang ekspresi berpikir, jika apa yang dikatakan oleh Ken kemarin pagi benar adanya, itu berarti saat ini bos besar tengah mempersiapkan seseorang untuk menggantikan posisi Kabuto.

Kakashi mengepalkan kedua tangannya erat. Sialan! Makinya di dalam hati. Orochimaru tengah mengincar Kurama. Insting Kakashi mengatakan hal itu. Orochimaru pasti melakukan semua cara kotor untuk bisa mendapatkan Kurama, termasuk memerintahkan Anko untuk menjadi mata-mata di sekolah itu.

Ia menelan kering. Kakashi takut jika Anko berhasil mengorek segala sesuatu mengenai Kurama hingga mengakibatkan terbongkarnya penyamarannya saat ini. Tidak bisa! Ujarnya di dalam hati.

Kakashi sudah mengorbankan banyak hal demi misi ini, ia tidak mungkin membiarkan semua pengorbanannya dan Naruto sia-sia hanya karena Anko.

"Ken, apa kau melihat Anko?" tanyanya saat berpapasan dengan Ken di lorong.

Ken menyeringai penuh arti, salah mengartikan ekspresi Kakashi saat ini. "Kau menyesal sudah menidurinya tapi kau mencarinya?"

"Tolong jawab saja pertanyaanku, apa kau melihatnya?" tanya Kakashi tidak sabar. Keduanya mulai ditugaskan untuk berjaga di kediaman Orochimaru sejak dua hari yang lalu atas rekomendasi Zetsu. "Ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya."

"Pernyataan cinta?" goda Ken dengan kedipan mata.

Kakashi mendesis, berpura-pura hendak memukul Ken. "Jawab saja pertanyaanku!" desisnya dengan gigi gemeretak.

"Dasar pemuda dimabuk cinta!" Ken terkekeh. Ia menyapu semua ruangan, memastikan tidak ada satu orang pun berada di dekat mereka. Ken mencondongkan tubuhnya, lalu berbisik pelan, "Anko mulai menjalankan tugasnya hari ini," lapornya membuat tubuh Kakashi membeku untuk beberapa saat.

.

.

.

TBC

Sampai jumpa dichap selanjutnya ya! ^-^

#WeDoCareAboutSFN