Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto.

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M

Genre : Crime, Action, Friendship, Romance, Angst

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo(s)

Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

Selamat membaca!

Under Cover

Chapter 24. Akhir dari Segalanya

By : Fuyutsuki Hikari

.

.

.

"Dia datang mengantar makanan untuk sandera," seru pria yang mengantar Ken. "Bos Besar yang memberinya perintah," tambahnya penuh penekanan.

Dua orang penjaga yang berdiri di depan pintu langsung membukakan pintu teralis besi untuk Ken. "Dari sini, aku yang akan mengantarnya masuk, kau boleh pergi!" usir seorang penjaga. Statusnya di dalam organisasi lebih tinggi dari pria pertama yang mengantar Ken. "Apa yang kaulihat?" tanyanya tajam.

Ken menggelengkan kepala. Nyalinya sedikit ciut hanya karena bekas luka memanjang pada wajah pria di hadapannya ini. "Aku diperintahkan Bos Besar untuk memastikan tawanan menghabiskan makanannya. Bos tidak mau tawanan itu mati."

Penjaga tidak menjawab. Tanpa kata dia membawa Ken menyusuri lorong berpenerangan rendah menuju ruang tempat Kurama disekap.

Suara pintu yang dibuka membuat Kurama mendongakkan kepala. Dia menatap dua orang pria yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam.

"Apa kau butuh bantuan untuk memaksanya makan?" penjaga itu menawarkan diri dengan seringaian keji. Tangannya sudah sangat gatal karena lama tidak menghajar orang.

Ken menggeleng. "Bos tidak akan suka jika tahu dia terluka." Dia bisa mendengar helaan kekecewaan dari pria besar di belakangnya. Namun, pria bertubuh besar itu tidak mengatakan apa-apa lagi dan memilih pergi, meninggalkan Ken dan Kurama di dalam ruangan itu.

"Jangan menatapku seperti itu!" ucap Ken setelah pintu di belakangnya ditutup rapat. "Aku datang untuk mengeluarkanmu dari tempat ini."

Kurama menyipitkan mata, terlihat tidak percaya.

Ken membuka jas luar yang dikenakannya. Dilemparnya jas itu pada Kurama. "Kau memerlukannya untuk menyamar," terangnya. "Aku teman pamanmu," lanjut Ken. Dia menoleh ke belakang. "Kita tidak punya banyak waktu, pamanmu bisa mati jika kita tidak segera menolongnya."

"Kenapa aku harus percaya padamu?"

"Karena kau tidak memiliki pilihan," jawab Ken, parau.

.

.

.

Sebuah ledakan dari arah gerbang masuk membuat Orochimaru bangkit dari kursinya. "Kau membawa anak buahmu?" desisnya pada seorang pria lain yang berada di ruang kerjanya.

Bee mengerjapkan mata. Dengan cepat dia menggelengkan kepala. "Aku tidak membawa siapa pun," ucapnya. "Aku selalu memperhitungkan langkahku dengan hati-hati."

"Lalu apa itu?" teriak Orochimaru, menunjuk ke luar jendela. Empat buah mobil van anti peluru, enam buah mobil polisi masuk ke dalam halaman rumanya tanpa diundang. Baku tembak tidak terhindarkan.

"Aku sama sekali tidak tahu." Bee bersikeras, membela diri. Dia akan mati jika Orochimaru mencurigainya sebagai pengkhianat. "Anda harus segera pergi dari tempat ini," ujarnya, mengingatkan.

Orochimaru mendesis. Tidak banyak yang tahu jika pabrik obat-obatan terlarang itu berada tepat di ruang bawah tanah bangunan bergaya Vintage ini. "Selain orang kepercayaanku, tidak banyak yang tahu tentang tempat ini. Aku bahkan tidak pernah membawa Zetsu ke tempat ini. Lalu dari mana mereka tahu jika bukan darimu?" bentaknya.

Muu langsung bergerak. Ujung pedang tajamnya berada di leher Bee. "Kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup, Pengkhianat!"

"Aku bukan pengkhianat—"

"Kalau begitu seharusnya kau tahu jika mereka mulai mencium jika kau seorang pengkhianat," potong Orochimaru. Dia menekan tombol yang ada di bawah meja kerjanya untuk membuka pintu rahasia yang beradai di balik perapian batu. "Bereskan mereka!" perintahnya pada Bee sebelum melangkah masuk ke dalam pintu rahasia bersama Muu untuk melarikan diri.

Di luar, baku tembak masih berlangsung seru. Puluhan polisi mengepung hingga tidak ada celah bagi musuh untuk melarikan diri.

Naruto mendesis saat mendapati seorang anak buah Orochimaru menenteng bazooka seperti menenteng sebuah permen. "Berlindung!" teriaknya saat penjahat itu melepaskan isi dari senjatanya ke arah mobil polisi. Ledakan besar tercipta. Pertempuran berlasngsung semakin seru dan sengit.

Yugito tidak tinggal diam, dia membidik target dan melepas tembakan tepat mengenai kening pria itu. "Satu musuh tumbang!" lapornya, kepuasaannya langsung sirna saat melihat pria lain membawa sebuah bazooka lain di tangannya.

Tuhan, sebenarnya mereka memiliki berapa bazooka? Tanya Yugito di dalam hati.

Sementara itu di ruang bawah tanah, Kurama dan Ken akhirnya berhasil menemukan ruangan tempat Kakashi disiksa sedemikian rupa. Darah menetes-netes dari punggung pria itu. Ken mengernyit, dia lalu memberikan jaket yang dikenakannya dibalik jas kepada Kakashi. "Kau tidak bisa keluar seperti itu."

Kakashi tersenyum tipis. Bumi bergetar saat ledakan lain terdengar. "Sepertinya ada yang sedang berpesta," ucapnya lirih. Dia mengenakan jaket yang diberikan oleh Ken dengan gerakan pelan. Rasa sakit pada bagian punggung ditahan sedemikian rupa. "Kita harus segera pergi," tukasnya.

Mereka berusaha berjalan secepat mungkin untuk keluar dari tempat itu. Namun, kondisi Kakashi tidak memungkinkan ketiganya untuk bergerak lebih cepat.

"Ah, lihat siapa yang berusaha melarikan diri dari tempat ini."

Suara Muu dari arah berlawanan membuat langkah ketiganya terhenti seketika. "Bos menginginkan kalian hidup-hidup, tapi tidak ada salahnya jika aku membunuh kalian di tempat ini, 'kan?" seringainya terlihat sangat keji. Mata pedangnya berkilau terkena cahaya lampu.

"Pergi dari sini!" perintah Kakashi pada Kurama dan Ken, tapi sepertinya Muu tidak mengizinkan hal itu terjadi. Kakashi meraih sebuah pipa besi yang tergeletak di atas lantai. Dia berterima kasih pada siapa pun yang meninggalkan benda itu di sana.

Napas Naruto terdengar memburu saat melangkah masuk ke dalam bangunan. Bagian dalam rumah ternyata sangat luas walau kaca jendelanya telah hancur karena pertempuran di luar. Wnaita itu bersama Yamato dan Sanbi bergerak, menyisir lantai satu untuk mencari keberadaan Orochimaru, Kakashi dan Kurama.

"Apa kau baik-baik saja?" Yamato bertanya dengan nada cemas.

Naruto menganggukkan kepala. "Aku akan menyisir lantai dua," ujarnya. Dia merasa perlu membuktikan apa yang dilihatnya tadi, dan berharap jika penglihatannya memang salah.

"Ada suara perkelahian dari arah gudang bawah tanah," seru Sanbi menarik perhatian Yamato dan Yugito.

Yugito mengalihkan perhatiannya pada Naruto. Perubahan ekspresi rekannya itu tidak luput dari pengamatan tajamnya. "Aku akan membantumu menyisir lantai dua."

Naruto mengangguk lalu berlari menuju lantai dua bersama Yugito serta lima orang anggota kepolisian. Yamato, Sanbi dan sepuluh pasukan khusus bergerak menuju ruang bawah tanah, sementara di luar puluhan anak buah Orochimaru berhasil diamankan setelah tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan.

Di lantai dua, Naruto mulai menyisir setiap ruangan yang ada. Dia menendang setiap pintu lalu memeriksa kondisi di dalamnya dengan pistol teracung.

"Tidak ada siapa pun," seru Yugito dari ujung ruangan. Namun, Naruto yakin masih ada seseorang di lantai ini. Atau dia sudah naik ke lantai tiga?

Kalah oleh rasa penasaran, Naruto akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan yang dia tebak sebagai ruang kerja milik Orochimaru. Ruangan itu penuh dengan barang-barang antik yang pasti memiliki nilai jual tinggi di pasaran.

"Jadi kau pengkhianat itu?" ucapnya setengah berbisik saat merasakan sebuah benda dingin menempel di belakang kepalanya. Naruto tidak perlu menoleh untuk mencari tahu siapa pria itu karena bayangannya sudah terpantul pada perisai perak yang tergantung di tembok di hadapannya. "Kenapa?"

"Apa aku harus menjawabnya?" Bee balik bertanya dengan tenang. Sikapnya yang merasa tidak bersalah membuat Naruto merasa muak. "Uang, Naruto," terang pria itu setelah terdiam beberapa lama. Dia mengokang pistolnya. "Aku memerlukan banyak uang untuk biaya pengobatan wanita yang kucintai." Bee tidak peduli walau wanita itu sudah memiliki suami. Rasa cintanya pada mantan kekasihnya itu terlalu besar hingga dia tidak keberatan melakukan pekerjaan kotor demi mendapatkan uang.

"Tapi bukan dengan cara ini." Suara Yugito bergetar saat mengatakannya. Wanita itu tidak menyangka jika pengkhianat itu adalah Bee, kapten mereka sendiri. Orang yang sudah mengumpulkan anggota terbaik untuk menangkap anggota Hebi. "Buang senjatamu!" perintahnya tegas.

Bee terkekeh. "Apa kau yakin bisa membunuhku?" ejeknya. Dia berbalik cepat, berniat membunuh Yugito. Namun, Naruto melepaskan tembakan terlebih dahulu. Tubuh Bee goyah, senjata di tangannya terlepas dan dia pun jatuh ke atas lantai dengan suara keras, mati.

Kurama dan Ken tidak bisa pergi begitu saja. Delapan orang anak buah Orochimaru menghadang langkah mereka dengan senjata di tangan. Kurama berguling-guling di atas lantai lorong yang sempit saat tembakan itu diarahkan padanya. Dia meringis saat sebuah tembakan mengenai betis kanannya, sementara di sisi lain, Ken pun sama sibuk melawan anak buah Orochimaru tidak bisa berbuat banyak.

Muu menyeringai saat melihat tubuh Kakashi tersungkur di atas lantai berdebu. Senyumnya terlihat keji. Pedang yang digenggam dikotori oleh darah Kakashi. Pria itu suka melihat ekspresi kesakitan lawannya.

Dengan gerakan cepat, Muu menusuk ke bawah, berusaha menusuk kepala Kakashi dengan ujung pedangnya. Giginya gemeretak saat usahanya gagal, tapi dengan cepat dia kembali menyeringai saat ujung pedangnya berhasil melukai dada kanan Kakashi. "Mati! Kau akan mati di tanganku!"

Kakashi sengaja tidak bergerak. Dia terbaring di atas lantai dingin. Kedua tangannya langsung menangkap mata pedang Muu yang kembali ditusukkan ke arah wajah. Dia menendang perut Muu keras hingga pria itu tersungkur. Kakashi menelan dengan sudah payah. Penglihatannya sudah mengabur. Kakashi berusaha untuk berdiri, dan sebelum Muu bergerak, ujung mata pisau itu sudah dihunuskan tepat di jantung Muu.

"Berani sekali kau membunuhnya!" teriak Orochimaru dari ujung lorong. Pria itu memutuskan kembali ke dalam bangunan untuk mengambil beberapa dokumen penting; racikan obat terlarang yang masih tersimpan di dalam ruang kerjanya. Pria itu mengacungkan pistol di tangan, tersenyum keji. Dia mengarahkan senjata pada Kurama yang tengah bertarung, lalu melepasnya.

Suara letusan senjata terdengar memekakan telinga. Kakashi jatuh berlutut setelah melempar pedang di tangan hingga menancap tepat di kening Orochimaru.

Kakashi menjadikan diri sebagai tameng untuk Kurama. Dia pernah berjanji akan menjada Kurama dan Naruto di depan nisan Minato dan Kushina. Dan hari ini dia mewujudkan janji itu. Sementara suara teriakan Kurama menggema, terdengar memilukan di dalam lorong sempit berbau apek itu.

Tubuh Mei membeku di tempat saat berita duka itu disampaikan Kurenai padanya. Tubuhnya limbung, tangis wanita itu pecah sesaat setelah Kurenai memeluk untuk menghibur. Hal yang tidak jauh berbeda terjadi di dalam penjara wanita. Anko tidak bisa menyembunyikan air mata saat Fuu datang dan menyampaikan berita mengenai kematian Kakashi.

"Kenapa?" Anko bertanya dengan suara gemetar. Dari balik kaca pemisah dia menatap Fuu dengan penuh tanya. Tangannya gemetar, menggenggam gagang telepon penyambung. "Kenapa kalian membunuhnya?" suara itu hanya berupa gumaman lirih. Anko tercekat, lidahnya mendadak kelu, air mata turun dari sudut-sudut mata. "Aku sudah mengatakan pada kalian untuk tidak membunuhnya."

Fuu tidak langsung menjawab. Wanita itu memilih kalimat dengan hati-hati. "Bukan kami yang membunuhnya. Sejak awal, Kakashi bukan bagian dari kalian."

Anko tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia mengerjap beberapa kali, menghapus air mata di pipi dengan kasar. "Apa maksudmu?" Pertanyaan itu meluncur dengan mudah dari mulutnya.

"Dia bagian dari kami."

"Apa?"

"Kakashi ... dia bagian dari kami," sahut Fuu. Dia terdiam beberapa saat untuk menormalkan kembali nada bicaranya yang serak dan berat. "Orochimaru sudah mengetahui hal itu sejak awal."

Tangis Anko pecah lebih hebat. Wanita itu menundukkan kepala dalam. Hatinya berdenyut sakit, dada wanita itu semakin sesak setiap kali dia mencoba meraup udara untuk mengisi paru-parunya yang terasa kosong.

"Orochimaru memaksa Kakashi bergabung dengan menggunakan Profesor Namikaze sebagai ancaman, begitu juga sebaliknya," terang Fuu setelah menjeda untuk menarik napas dalam.

Tewasnya salah satu Kapten terbaik dari divisi khusus menjadi kehilangan terbesar untuk mereka. Senyumnya terkembang penuh kebanggaan saat kembali bicara, "Tapi Kapten Kakashi tetaplah Kapten Kakashi. Dia bergeming walau Orochimaryu menyiksanya. Dengan kondisi yang menyedihkan dia masih bisa membunuh Muu dan Orochimaru. Dia seorang pahlawan."

"Jadi Muu dan Orochimaru sudah mati?" bisik Anko. Tatapannya kosong. Perasaan wanita itu pada Kakashi bukan sebuah omong kosong. Kakashi berhasil memiliki hatinya yang lama telah mati.

"Kapten Kakashi tewas saat bertugas, kau harus bangga untuk itu," tutup Fuu sebelum menutup telepon yang digunakannya untuk bicara dengan Anko. Siang itu dia meninggalkan seorang wanita yang patah hati, kehilangan dan terluka dalam di belakangnya dalam keheningan panjang.

Pemakaman Kakashi dilaksanakan tiga hari kemudian. Pria itu dimakamkan di komplek pemakaman militer. Naruto berdiri bersisian dengan Kurama yang duduk di atas kursi roda serta Asuma yang terus menatap langit mendung di atasnya. Terlihat jelas jika putra sulung Jenderal Sarutobi itu tengah menahan diri untuk tidak menangis. Asuma memaksa diri untuk bersikap kuat di hadapan Naruto, Kurama, terutama Konohamaru yang sejak peti dimasukkan ke liang lahat terus menangis dalam diam.

Di belakang mereka; anggota Tim Alpha berdiri dengan ekspresi kesedihan yang sama. Utakata pun ikut hadir dalam pemakaman itu. Dia menggunakan dua buah tongkat untuk membantunya berdiri. Utakata menolak mengenakan kursi roda. Dia mengatakan ingin membuat Kakashi bangga karena dirinya bisa berjuang untuk kesembuhannya. Mereka masih tidak menyangka akan kehilangan Kakashi dalam misi ini. Mereka juga tidak menyangka jika Bee pengkhianat yang mereka cari selama ini.

Keluarga Uchiha menempati sisi lain, mereka mengikuti upacara pemakaman dengan khidmat. Sementara dibarisan pelayat, Terumi Mei berdiri, memeluk tubuh yang gemetar karena kesedihan. Di sampingnya berdiri Kurenai serta beberapa guru KHS serta kepala sekolah yang ikut mengantar Kakashi ke peristirahatan terakhirnya.

"Kami turut berduka!" ucap Fugaku saat pelayat lain mulai meninggalkan pemakaman. Dia menyalami Kurama, Naruto dan Asuma secara bergantian. "Maaf, Letnan Naruto, untuk kesekian kalinya kau harus kehilangan."

Bibir Naruto gemetar mendengar kalimat itu. Dalam kurun waktu satu tahun ini dia kehilangan; Sai, Jenderal Sarutobi serta Pamannya; Kakashi. "Terima kasih!" balasnya dengan suara hampir tidak terdengar.

Fugaku menepuk bahu Kurama sebelum berbalik pergi. dia memberi tatapan penuh peringatan pada sang istri yang masih menatap lekat pria berambut merah yang duduk di atas kursi roda.

Mikoto berdeham pelan, menegakkan punggung dengan gerakan anggun. Wanita itu memberi pelukan penuh simpati pada Naruto lalu beralih pada Kurama. Tatapan mereka bertemu. Mikoto lalu melirik pada Itachi lalu menyenggol pelan tangan putri sulungnya itu.

"Apa?" tanya Itachi tidak mengerti.

Mikoto memutar kedua bola matanya. Tidak mengerti kenapa Itachi tidak memiliki inisiatif untuk mendorong kursi roda Kurama. Merasa kesal, Mikoto akhirnya berbalik, mengikuti langkah suaminya menuju mobil mereka diparkir.

"Aku turut berduka cita." Sasuke menjadi orang terakhir dari kelompoknya yang menyampaikan ucapan bela sungkawa pada Naruto. Mereka ditinggalkan berdua di tempat itu, berjalan bersisian. "Pasti berat untukmu."

Naruto tidak menjawab. Dia memeluk dirinya sendiri. Udara akhir musim dingin berembus, meniup wajahnya yang masih terlihat pucat. "Jadi, kau akan melanjutkan study di luar negeri?"

Sasuke memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. "Ya," jawabnya pendek.

"Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, Sasuke."

Terkadang manusia hanya bisa berharap dan berdoa, tapi takdir yang akan menentukan segalanya.

Mencintaimu tidak membuatku menyesal, Sasuke. Bertemu denganmu sebuah anugerah terindah di dalam hidupku walau pada akhirnya perbedaan itu tidak bisa membuat kita bersama. Ah, tidak mengapa, karena aku akan menyimpan kenanganmu di dalam hati hingga tiba waktunya aku siap menerima pria lain untuk mengisi tempat yang pernah kau diami di dalam hati.

.

.

.

END

Hai, Guys! Maaf ya baru update. Untuk versi wattpad dan ffn berakhir sampai di sini. Terima kasih sudah bersedia menunggu hingga akhir.

Love you muach2. ^-^