A Promise by Kusanagi Mikan

Vocaloid by Yamaha and Crypton FM

Warning : GaJe, typo, abal, de-el-el

Chapter 6


- Normal PoV -

"Tadaima," ucap Len begitu membuka pintu rumahnya.

"Okaeri," balas Tou-san, Kaa-san, Lenka, dan... Haku?

Len mengernyit melihat Haku. "Yowane-san? Kau sedang apa di rumahku? Dan memakai baju maid pula?"

Haku menunduk. "Aku..."

"Mulai hari ini, Haku-chan akan bekerja di rumah kita, Len," potong Kaa-san.

"Bekerja?" ulang Len.

"Yap."

Haku menunduk. "Kagamine-san... Aku, Tei, Mayu, dan Kiku di skor dari sekolah. Gara-gara itu, orang tuaku marah dan mengusirku. Mereka bilang aku membuat malu... Lalu, orang tuamu mengakku kesini... Dan aku memilih bekerja saja. Jadi, mohon bantuannya, Kagamine-san!"

Len masih terpaku di tempatnya. Ia tampaknya bingung dengan Haku yang tiba-tiba bekerja di rumahnya, sebagai maid!

"Len..." panggil Haku. Ia membungkuk. "Maafkan aku! Maaf atas semua kesalahanku! Maaf telah menyakiti Rin dan Miki, mengikuti kemauan Tei! Maafkan aku, Len!"

"Tidak usah menunduk seperti itu, Yowane-san. Aku memaafkanmu, kok. Asal, jangan lakukan hal seperti itu lagi, ya!" kata Len.

Haku mengangguk pelan, kemudian ia pergi. Len tidak peduli. Lelaki itu lalu berjalan ke kamarnya. Yang ada di pikirannya hanya Rin, Rin, dan Rin.

"Mana mungkin..." gumam Len sembari menutup pintu kamarnya, dan duduk di kursinya. "Mana mungkin... Beberapa hari lagi Rin akan meninggal..."

Len terpaku. Rin... Gadis itu... Beberapa hari lagi akan meninggal. Len menjambak poninya dengan frustasi. Air mata perlahan mulai mengalir.

"Kenapa harus Rin? Kenapa tidak aku saja?"


Kamar Rin

"Len sedang apa, ya?" gumam Rin. Ia sekarang terbaring di ranjangnya dengan selang infus di tangan. Tangan kanannya memegang sebuah novel berjudul A Wish.

Gadis itu tampak tidak tenang. Ia tampak ingin sekali berjalan-jalan, namun tidak bisa. Rin termangu di tempatnya, bingung mau melakukan apa. Novelnya sudah habis di baca, dan ia tidak ada kegiatan lain.

"Besok... Aku ingin ketemu Len, lagi, ah! Aku juga ingin ketemu Miki-chan, Piko, dan teman-teman di sekolah! Aku juga ingin pergi ke pantai, dan ke bukit. Juga ke taman bunga. Aku juga ingin ke toko buku," ucap Rin pada dirinya sendiri. "Aku ingin ke semua tempat itu... Sebelum aku meninggal."


Keesokan Harinya

Di kelas, Len sama sekali tidak bisa konsentrasi. Padahal, Yuki-sensei menerangkan penuh semangat. Tapi tidak ada yang di dengarkan oleh Len. Ia sibuk memikirkan Rin. Rin. Dan Rin.

"Kagamine-san!" seru Yuki-sensei keras. Namun Len belum tersadar dari lamunannya tentang Rin.

"Sst, Len!" Piko ikut membantu menyadarkan Len dari lamunannya.

"KAGAMINE LEN!" hardik Yuki-sensei lebih keras sambil memukulkan penggaris ke papan tulis.

Len baru tersadar. "Iya!"

"Bisakah kau memperhatikan pelajaranku, Kagamine-san? Jika tidak bisa, silahkan keluar dari kelasku."

"B-Bisa. Gomen, Yuki-sensei."

"Jangan melamun!" kata Yuki-sensei lagi, lalu melanjutkan pelajaran.

Len menghela napas pelan. Ia sudah punya rencana saat pulang sekolah nanti.

- Skip sampe pulang sekolah -

"Piko! Miki!" panggil Len. Piko dan Miki menoleh.

"Ada apa?" tanya Piko.

"Kalian mau ikut aku mengunjungi Rin, tidak?" tanya Len.

"Boleh! Aku mau!" jawab Miki.

"Kalau Miki mau, aku juga, deh," Piko tersenyum.

"Baiklah, ayo!"

Mansion Mikagane

"Len kok belum datang, ya..." keluh Rin pada Rinto. Saat ini, mereka sedang berada di halaman Mansion Mikagane. Rin, tentunya duduk di kursi roda.

"Mungkin Len masih sekolah, Rin... Ntar juga datang, tunggu saja," Rinto menenangkan Rin.

Rin mengangguk sambil cemberut. Ia sudah tidak sabar. Dari pagi, Rin sudah menantikan Len. Rin ingin cepat-cepat bertemu dengan Len.

"Riiiiiinnnn!"

Rin dan Rinto langsung menoleh ke arah suara, pintu gerbang. Ternyata itu Len, Miki, dan Piko.

"Len! Miki! Piko!" seru Rin senang.

"Baru di omongin... Panjang umur..." gumam Rinto.

Len, Miki, dan Piko berlari ke arah Rin. Miki langsung memeluk Rin, reflek.

"Rin-chan! Aku kangen! Gimana kabarmu?! Kenapa kamu duduk di kursi roda?!" tanya Miki bertubi-tubi.

"Satu-satu, Miki-chan..." Rin megap-megap karena Miki terlalu erat memeluknya.

"Kau memeluknya terlalu erat, Miki!" seru Len panik, takut Rin kenapa-kenapa.

"Ehehe," Miki melepaskan pelukannya.

Piko menepuk bahu Miki pelan. "Dasar, baru datang main peluk saja!"

Miki hanya tersenyum. Rin tertawa dan berkata : "Tidak apa-apa, kok!"

Rinto tersenyum, kemudian meninggalkan Rin bersama teman-temannya. Rinto tampaknya tidak ingin menganggu momen-momen Rin bersama teman-temannya.

"Bagaimana keadaanmu, Rin?" tanya Len.

"Baik, kok!" jawab Rin riang.

"Terus, kenapa kamu pake kursi roda?" tanya Miki.

"Ini gara-gara sakitku," jawab Rin lagi, namun nadanya agak berbeda.

Miki mau bertanya lagi, tapi Len memberikan tatapan untuk Miki agar tidak usah bertanya. Mungkin, Len akan memberitahu Miki nanti.

"Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" ajak Piko.

"Ke mana?" tanya Rin. Piko mengendikkan bahu.

"Aha! Bagaimana kalau kita ke toko buku?" usul Miki.

Mata Rin berbinar. "Wah! Aku mau!"

Len dan Piko saling berpandangan. Kedua lelaki itu sebetulnya kurang suka ke toko buku. Tapi karena Miki yang memberi usul, dan karena Rin yang setuju, maka Len dan Piko setuju.

"Baiklah..." Len dan Piko mengangguk.

"Di dekat sini ada toko buku, lho! Kita kesana aja!" lanjut Miki.

"Di dekat sini? Wahh, aku baru tahu! Ayo cepat!" Rin tidak sabar.

"Oke deh! Ikuti aku, ya!" Miki mulai berjalan, Piko mengikuti dari belakang. Sementara Len mendorong kursi roda Rin.

"Len," panggil Rin pelan.

"Ada apa?"

"Ng, memangnya Len nggak capek mendorong kursi rodaku terus?"

Len tersenyum. Pelan-pelan, ia mengusap rambut Rin yang lembut dan beraroma jeruk. Rin agak terkejut tampaknya dengan perlakuan Len.

"Aku nggak keberatan, kok. Asalkan bisa bersama Rin," jawab Len.

Rin merona. Namun ia berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya. Len tersenyum melihat tingkah Rin. Ia tertawa kecil.

"Ahaha, Rin malu, ya?" goda Len.

"B-Berisik!" seru Rin.

Len terkekeh. Senang sekali rasanya melihat pipi Rin yang bersemu merah seperti itu. Tapi, Len tahu, ia hanya akan melihat pipi Rin yang bersemu merah itu tidak lama. Sebentar lagi, Rin akan pergi untuk selama-lamanya. Kalau teringat hal itu, rasanya Len ingin berteriak sekencang-kencangnya. Mengatakan bahwa semua ini tidak adil.

"Itu toko bukunya!" seru Miki, membuyarkan suasana hening.

Semua menoleh ke arah yang di tunjuk gadis berambut merah itu. Benar sekali, ada toko buku di situ. Tidak begitu besar, sepi, dan jauh terlihat seperti toko buku lama. Namun itu lebih bagus, kalau ramai mungkin akan sulit bagi Rin.

"Kelihatannya toko buku lama," komentar Piko.

"Memang! Toko buku ini sudah ada sejak zaman Ibuku. Tapi buku-bukunya bagus! Ayo masuk!" cerocos Miki. Tumben ia banyak bicara seperti ini. Biasanya, Miki sangat pendiam.

Keempat anak itu memasuki toko buku. Sepi. Hanya ada penjaga toko dan satu dua orang di dalamnya. Miki langsung menghambur ke bagian buku-buku tebal bernama ensiklopedia. Sepertinya jiwa pelajarnya kambuh. Sementara Piko, dia langsung berjalan ke bagian komik.

"Kau mau ke bagian mana, Rin?" tanya Len.

"Ng... Itu," Rin menunjuk bagian novel-novel.

Len mengangguk, dan mendorong kursi roda Rin ke bagian novel. Len sebetulnya kurang suka novel. Ia lebih suka komik. Namun apa boleh buat, Rin yang meminta.

Tangan lentik Rin mengambil sebuah novel di rak buku. Di punggung novel tertera judul novel itu, A Promise.

"Kau tahu Len," Rin mulai membuka lembaran novel itu. "Apa isi dari novel ini?"

Len menggeleng. "Tidak. Aku belum pernah membacanya."

Rin tertawa kecil. "Len memang nggak suka baca novel, ya! Aku sudah pernah baca novel ini, dan aku menyimpulkan intinya."

"Apa?"

"Sebuah janji," jawab Rin.

"Ng?" Len tidak mengerti.

"Ya, janji. Janji... Apapun itu, harus kau tepati. Tidak peduli apa pun resikonya. Karena kau telah berjanji. Apalagi, jika kau laki-laki. Laki-laki harus selalu menepati janji!" jelas Rin.

"Haha... Kau menyindirku, ya?" goda Len.

"Menyindir apa? Enggak, kok!"

Len tersenyum. Bahagia sekali rasanya dia saat itu. Namun perkataan Rinto tentang umur Rin yang tinggal beberapa hari lagi memaksa Len pergi dari perasaan bahagianya.

Namun Len berusaha tersenyum dan tidak menampakan kesedihannya. Dia ingin Rin tidak ikut sedih. Dia ingin Rin bahagia di hari-hari terakhirnya. Entah apa yang membuat Len begitu ingin membuat Rin bahagia.


Sore hari tiba. Keempat anak itu berjalan menuju Mansion Mikagane. Miki dan Piko memilih langsung pulang.

"Dah, Rin!" Miki dan Piko melambaikan tangannya.

Rin balas melambaikan tangan dengan riang. Sementara Len hanya tersenyum simpul.

"Len, hari ini hari yang berkesan untukku!" ujar Rin riang.

"Memangnya kenapa?"

"Karena, aku ke toko buku! Dan bertemu Miki-chan juga Piko-kun! Aku senang sekali!" celoteh Rin.

"Besok aku main lagi, deh. Sama Miki dan Piko," janji Len.

"Benarkah? Wahh! Aku enggak sabar!"

Len tersenyum. Ia lalu berlutut sehingga tingginya sama dengan Rin yang duduk di kursi roda.

"Aku pulang dulu ya, Rin," pamit Len. Rin mengangguk sambil tersenyum riang.

Cup!

Sebuah ciuman mendarat di kening Rin, membuat gadis itu merona. Jantungnya berdegup kencang.

"L-Len?" panggil Rin gugup.

Len tersenyum, kemudian melambaikan tangannya, berjalan pulang. Rin terpaku di tempatnya, sama sekali tidak menggerakan kursi rodanya.

"Wah wah," Rinto mendekati Rin. "Len berani juga yang. Hihi."

Rin menoleh. "Nii-san!"

Rinto terkekeh. "Rin sudah besar, ya."

Wajah Rin memerah. "Apa, sih!"

"Hehe... Kita masuk, yuk!" Rinto mendorong kursi roda Rin.

Rin hanya diam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah. Walau begitu, entah kenapa ia merasa senang dengan perlakuan Len. Ia tidak sabar menyambut hari esok.

#Bersambung