NARUTO FANFICTION

Disclaimer: Masashi Kishimoto

ARTI DARI SEBUAH PERASAAN

Warning: Abal, OOC, AU, TYPO bertebaran dimana-mana, dkk.

Rated: T

Genre: Adventure, Fantasi and Romance

Pairing: Uzumaki Naruto and Hyuga Hinata (NARUHINA)

ARTI DARI SEBUAH PERASAAN by RAMADI HLW

chapter 1

"Sudah lama sekali ketika dia mengatakan untuk menjadi seorang Hokage dan pergi latihan bersama Jiraiya-sama" kata seorang pria yang bernama Iruka, dan ditanggapi oleh salah seorang wanita yang bernama Sizune "Benar, bukankah ini waktunya mereka kembali?" tak ketinggalan seorang wanita yang menggunakan jubah berwarna hijau dan terdapat tulisan kanji yang berarti judi dipunggungnya angkat bicara "Akan jadi masalah jika mereka tidak kembali, karena ada sesuatu yang besar yang akan segera dimulai" kata wanita tersebut yang bernama Tsunade dan merupakan seorang Hokage.

Sudah sekitar tiga tahun lamanya dia meninggalkan desanya dan sekarang merupakan hari dimana ia kembali ke desanya. Seorang lelaki dengan rambut kuning dengan mata sebiru langit cerah tak henti-hentinya tersenyum bahagia saat melangkah melewati gerbang Konohagakure, ya dia adalah Uzumaki Naruto.

Naruto POV

Aku melangkahkan kakiku melewati gerbang Konohagakure, sebuah perasaan yang sangat luar biasa merasuk kedalam hati dan pikiranku. Aku melihat sebuah tiang yang lumayan tinggi, 'mungkin dari atas tiang ini aku dapat melihat desaku dengan leluasa' pikirku ketika melihat tiang tersebut. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan kulepas ranselku dan aku pun berlari memanjat tiang tersebut."Aku jadi ingat masa lalu, tempat ini tidak banyak berubah, semuanya Uzumaki Naruto telah kembali" ucapku saat tiba diatas tiang tersebut. Saat melihat jalan aku mendapati seorang wanita dengan penampilan serba pink dan rasanya aku begitu familiar dengannya dia berjalan mendekat sambil memanggil namaku, aku melompat dari atas tiang dan menghampirinya "sudah lama sekali Sakura-chan" aku tersenyum tapi tiba-tiba dia memandangku dengan wajah penuh tanya, dia berkata "Kau lebih tinggi dariku ya?", untuk memastikan perkataannya aku mencoba untuk mengukur tinggiku dengan menggunakan tangan yang kuletakan dikepalaku dan kusejajarkan dengannya, ternyata benar perkataannya. "Sakura-chan kau juga bertambah cantik!" Sakura hanya dapat bersemu mendengar perkataan dari Naruto. Sebuah suara dari seorang yang berada dibelakangku menghentikan aktifitas reuni kecil kami "Jika kalian sudah selesai, susul Aku di kantor Hokage" kata orang tersebut yang merupakan Sensei yang melatihku selama kurang lebih tiga tahun, dia adalah Jiraya dan biasanya aku memanggilnya Erro Sennin.

Normal Pov

Seorang wanita berambut indigo dengan mata amethyst sedang terburu-buru saat berjalan untuk pergi berlatih, Dia adalah Hyuga Hinata. Hinata terlambat dan berusaha untuk berjalan lebih cepat untuk sampai ke tempat dimana Kiba dan Shino menunggunya untuk berlatih. Karena Dia merasa akan lebih cepat jika melewati atap rumah dari pada berjalan Dia memutuskan untuk melewati atap, ketika Dia hendak melompat Dia mendengar suara tawa yang begitu akrab ditelinganya, suara yang sangat Dia rindukan. Dia berbalik dan melihat pemilik suara yang berada di sebrang jalan tersebut, "Naruto-kun" bisiknya saat ia melihat seseorang dengan rambut kuning jabrik dan tanpa sengaja dia bertatapan dengan mata biru secerah langit milik pemuda tersebut.

Naruto berada diantara Sakura dan Jiraya, sepanjang perjalanan ke kantor Hokage dia bercerita tentang kejadian-kejadian lucu yang ia alami selama latihan, sesekali mereka tertawa lepas saat mendengar cerita Naruto. Ketika Naruto menoleh ke kiri, dia melihat seorang gadis berambut indigo, matanya bertatapan dengan mata yang berbentuk seperti permata amethyst hal itu membuat Naruto berhenti sejenak hanya untuk menatapnya. Dia mengerjapkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian kembali melihat kearah gadis yang ia lihat tadi dan sosok ia lihat tadi sudah tidak ada disana, karena hal tersebut Naruto mengerutkan keningnya dan memajukan bibirnya. "Naruto?" Sakura menatapnya lucu. Naruto balik tertawa saat melihat sakura yang tertawa melihat tingkahnya, tapi ia tak bisa melupakan gadis yang ia lihat tadi, 'seorang gadis cantik yang terlihat akrab dan aneh, siapa Dia ya?' pikir Naruto saat kembali meneruskan perjalanan kekantor Hokage.

Hari berikutnya.

Malam ini Naruto terlihat begitu semangat menuju Kedai Ichiraku, ketika ia berlari tanpa sengaja ia menghantam tubuh seseorang hingga mereka berdua terjatuh. Dia berdiri dan membersihkan pakaiannya, saat ia melihat kebawah siapa orang yang ia tabrak tiba-tiba tubuhnya terasa membeku 'Dia gadis itu, gadis pemilik rambut indigo itu' pikirnya, "Anno, apakah anda baik-baik saja?" kata gadis itu namun dengan posisi masih menundukkan kepalanya. Tanpa menghiraukan pertanyaan gadis tersebut Naruto mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu berdiri, sekali lagi Naruto dibuat terkejut hingga membuat mulutnya menganga.

"Hinata?" kata Naruto, dan hal itu membuat Hinata tidak berani bertatapan dengan Naruto karena wajahnya yang telah memerah, dengan segenap keberaniannya Hinata berkata "Naruto-kun". "Hinata-chan, apakah kau baik-baik saja?" Hinata hanya dapat menjawab dengan anggukan dan tersenyum lembut kepada Naruto. Karena melihat mata dan senyum Hinata yang begitu menawan membuat hati Naruto serasa ingin lompat dari tempatnya. Hinata yang menatap naruto yang sedang melamun mengerutkan keningnya karena sedikit bingung melihat Naruto yang tiba-tiba terdiam membisu, mendadak Hinata khawatir melihatnya, "Naruto-kun, apakah kau baik-baik saja?", "Huh" hanya itu yang dapat keluar dari mulut Naruto karena ia terkejut atas pertanyaan Hinata, "oh yeah, Aku baik-baik saja, Aku hanya teringat pertarungan kami melawan Kakashi-sensei, Aku dan Sakura memenangkan pertarungan tersebut. Sakura harus pergi membantu Shizune-neechan dan Tsunade-Obaachan karena itu Aku pergi sendiri ke Kedai Ichiraku" padahal bukan itu sebenarnya yang ada dipikiran Naruto, tapi karena ia menyampaikannya dengan begitu cepat dan diakhiri dengan senyum lima jari andalannya mau tidak mau Hinata langsung mempercainya, dan hal itu sekali lagi membuat wajah Hinata menjadi merah, tanpa Hinata sadari Naruto mengetahui hal tersebut 'kenapa wajah Hinata selalu memerah setiap dekat denganku ya?' pikirnya saat melihat wajah Hinata.

"Annosa..! apakah Hinata-chan mau menemaniku makan ramen bersama di kedai Ichiraku?" sekali lagi wajah Hinata bertambah merah, dan hanya dibalas dengan anggukan oleh Hinata. Naruto mengulurkan tangannya kepada Hinata dan Hinata ragu-ragu untuk menyambut tangan Naruto. Entah bagaimana semua yang di ucapkan dan dilakukan oleh Naruto begitu berkesan dimata Hinata, sebaliknya Naruto bingung kenapa setiap yang di ucapkan dan dilakukannya dapat membuat wajah Hinata menjadi merah. Hinata memberanikan untuk menyambut tangan Naruto dan memberikan senyum terbaiknya kepada Naruto.

Sepanjang perjalanan mereka disibukkan dengan pikiran mereka masing-masing, Hinata sibuk mengatur nafas dan detak jantungnya agar tidak pingsan karena begitu senangnya Dia bisa bergandeng tangan bersama Naruto menuju kedai Ichiraku, 'apa ini bisa dikatakan kencan?' pertanyaan it uterus terngiang dipikiran Hinata. Sedangkan Naruto sibuk berdebat dengan pikirannya sendiri, 'apa yang salah denganku? Mengapa senyum Hinata membuat hatiku terasa ingin lompat dari tempatnya? Tidak… tidak… tidak… Hinata itu hanya sahabatku, ya sahabatku, orang yang berharga bagiku, ahh…. Kenapa Aku jadi bimbang begini?' Naruto menggelengkan kepalanya dengan cepat karena ia merasa dengan begitu ia dapat menghilangkan pikiran-pikiran anehnya.

Naruto menarik kursi yang berada di sebelahnya dan mempersilahkan Hinata untuk duduk. "Oi.. Ojii-san…! Aku sudah kembali..!" seorang pria tua tersenyum melihat kearah Naruto dan mengobrol dengan Naruto saat mulai membuat ramen pesanan Naruto, lalu gadis yang merupakan anak dari Teuchi pemilik kedai Ichiraku muncul dari belakang. "Naruto-kun" teriak gadis tersebut dan memeluk dengan erat Naruto, kemudian gadis itu melihat orang yang duduk disebelah Naruto, melihat hal itu Dia mengangkat sebelah alisnya dan terdiam melihat hal tersebut. Berbagai macam pertanyaan muncul di benak gadis tersebut, namun hal tersebut tak berlangsung karena teriakan Naruto "Ayame-niichan lepaskan pelukanmu, Aku bisa mati karena tidak bisa bernapas!." Ayame melepas pelukan mautnya dari Naruto dan ia mulai melempar berbagai macam pertanyaan kepada Hinata, dan dijawab oleh Hinata dengan kemampuannya yang dapat dibilang terbatas dalam hal menjawab pertanyaan yang menurutnya sangat menyudutkannya. Naruto dan Teuchi hanya bisa sweetdrop mendengar pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan oleh Ayame.

Hinata bernapas lega ketika Ayame meninggalkannya untuk membantu Teuchi menyiapkan ramen pesanan Naruto dan Hinata. Hinata kembali mengumpulkan keberaniannya untuk membuka pembicaraan dengan Naruto. "Na..Naruto-kun… Ke..Kenapa Kau dan Sa..Sakura-chan bertarung dengan Ka..Kakashi-sensei?" tanya Hinata dengan nada bicara yang tergagap, "Aku baru saja kembali dari latihanku yang cukup lama Hinata-chan, oleh sebab itu Tsunade-Obaachan dan Erro Sennin ingin melihat perkembanganku dengan bertarung dengan Kakashi-sensei". Keheningan melanda mereka ketika mereka mulai memakan ramen yang sudah dipesan. Sesekali Naruto melirik Hinata yang sedang makan di sebelahnya, namun saat Hinata hendak melihat kearahnya secepat kilat Naruto memalingkan wajahnya agar tidak tertangkap oleh Hinata karena memperhatikannya. Sedikitpun Naruto tidak menyadari bahwa Hinata melakukan hal yang persis dengan yang dilakukannya. Ayame dan Teuchi hanya tersenyum geli melihat tingkah kedua muda mudi tersebut.

Akhirnya mereka selesai makan dan meninggalkan kedai Ichiraku, sebelum meninggalkan Kedai Ichiraku Hinata membungkuk hormat dan berterimakasih kepada Teuchi dan Ayame. Naruto dan Hinata mulai berjalan meninggalkan Kedai Ichiraku, "Hinata-chan, apakah Aku boleh mengantarkanmu sampai rumah?" Naruto mengatakan itu dengan cepat dan acuh tak acuh, tapi Naruto tidak bisa percaya dengan apa yang barusan ia katakan, 'kenapa aku bisa mengatakan hal tersebut?' pikirnya sambil menyalahkan dirinya yang berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu. Hinata tampak terkejut dan wajahnya kembali merona mendengar tawaran yang disampaikan oleh Naruto, ia hanya dapat menjawab dengan anggukan atas tawaran Naruto. Waktu terasa berlalu begitu cepat, sepanjang perjalan mereka saling bercerita dan tertawa walaupun sebenarnya hanya Naruto yang terus bercerita sepanjang perjalanan. Mereka berhenti didepan gerbang kompleks kediaman Hyuga, Hinata masih tersenyum dan merona dia membungkuk dan mengucapkan terimakasih kepada Naruto karena telah menemaninya hingga sampai kerumah. Kemudian dia masuk kedalam kompleks kediaman Hyuga, begitupun dengan Naruto setelah ia melihat hinata telah masuk kedalam Gerbang Kompleks kediaman Hyuga ia berdiri sementara didepan Gerbang tersebut, tak berapa lama kemudian ia berjalan meninggalkan kediaman Hyuga tersebut, tanpa menghentikan langkahnya sesekali Naruto melihat kebelakang, dan kembali tersenyum mengingat kejadian yang baru ia alami.

Hinata POV

Setelah masuk dan kembali mengunci gerbang, Aku bersandar di gerbang tersebut dan memejamkan mataku untuk mengingat apa yang baru Aku alami. Aku masih bisa melihat senyumnya, tawanya, suaranya, matanya ketika bertatapan dengan mataku, sungguh membuat jantungku berdebar dengan kencang. Tanpa kusadari seseorang telah berada tak jauh didepanku, kemudian dia menyandarkan badannya di dinding sebelahku bersandar. "Neji-niisan" kataku ketika melihatnya telah bersandar disebelahku, "apa yang membuat Hinata-sama pulang hingga malam begini? Dan kenapa Hinata-sama senyum-senyum seperti itu saat memejamkan mata?" dia memang orang yang tidak suka berbasa-basi pertanyaan yang ia ajukan langsung pada pokok permasalahnya, dengan segenap keberanian Aku menceritakan hal yang baru Aku alami bersama Naruto-kun, mengingat itu membuatku kembali merona. Neji-niisan berdiri dari posisinya bersandar dan berjalan dihadapanku dan dia tersenyum lembut kepadaku "Aku senang Hinata-sama mendapatkan malam yang begitu berkesan" setelah mengatakan hal tersebut Dia memberi isyarat kepadaku agar masuk kedalam. Aku langsung menuju kamar, bukannya tidur Aku malah mengambil buku harianku, dan mulai mengisinya dengan kisahku yang begitu berkesan hari ini.

End Hinata POV

Naruto POV

Kulihat Dia telah masuk kedalam dan mulai menutup kembali gerbangnya, bukannya langsung berbalik dan pergi meninggalkan tempat ini namun Aku malah berdiam diri dan berpikir apa ada yang salah dengan diriku, 'Aku baru makan malam bersamanya dan mengantarkannya pulang, bukankah yang namanya teman juga makan bersama sepanjang waktu dan mengantarkan temannya pulang kerumah adalah hal yang wajar, ya hanya itu saja Dia hanya salah satu dari teman, teman yang berharga.' Aku meggeleng dan mencoba menghilangkan ketidakpastian yang sedang Aku derita. Aku berbalik dan berjalan menuju rumahku, sesekali aku melihat kebelakang dan itu membuatku tersenyum dan bersemu karena kembali teringat dengan yang baru Aku alami dengannya.

End Naruto POV

Normal POV

Neji yang melihat adik sepupunya yang telah masuk kedalam rumah hanya tersenyum dan kemudian ia kembali membuka gerbang kediaman Hyuga dan melihat keluar, ia melihat sosok durian yang begitu kuning mulai menjauh dari daerah tersebut, ia kembali tersenyum melihat hal tersebut.

Hinata sedang berlatih Jyuuken tingkat tinggi disalah satu tempat di kediaman Hyuga, Neji yang melihat hal itu tersenyum bangga karena pukulan-pukulan yang diberikan Hinata mengakibatkan kerusakan pada batang kayu tempat ia berlatih. Hinata merasakan kehadiran Neji saat menghampirinya, kemudian ia menonaktifkan Byakugannya dan mengubah posisi yang semula dalam sikap bertempur untuk menyambut kedatangan Neji. Neji tersenyum kepadanya, walaupun mereka sudah semakin dekat selama tahun-tahun terakhir ini, Hinata masih sedikit waspada saat bersama sepupunya ini. Hinata tersenyum kepada Neji sebagai balasannya. "Hinata-sama, Aku akan pergi menjalankan misi bersama Lee, Ten Ten dan Guy-sensei untuk membantu Tim Tujuh untuk menyelamatkan Kazekage" Neji mengatakan hal tersebut dengan perlahan dan tenang. Hinata yang mendengar hal tersebut merasa dirinya tidak dapat bergerak karena berita ini begitu mengejutkannya, dengan tubuh yang gemetar Hinata berkata "Hati-hati Neji-niisan.." dan sambil tersenyum Neji menjawab "Selalu". Kemudian Neji melompat dan berlari menuju gerbang Konohagakure meninggalkan Hinata di tempat ia berlatih tadi.

Hinata mulai mengatur nafas saat ia telah tiba di hutan kecil yang dikhususkan sebagai tempat bermeditasi, kekhawatiran melanda pikirannya kala ia mendengar berita dari sepupunya tadi, dimana Tim Tujuh yang telah lebih dahulu pergi menyelamatkan Kazekage. 'bukankah Kazekakage ditangkap oleh Akatsuki, mengapa Tim Tujuh yang pergi untuk menyelamatkannya' pikirnya saat ia mulai mendudukkan dirinya disalah satu pohon di hutan kecil tersebut. Perlahan Hinata memejamkan matanya, dan mulai memusatkan pikirannya pada satu hal mungkin dengan begini ia dapat menghilangkan pikiran-pikiran buruk yang terus bersarang di kepalanya. Wajah pria pirang yang selalu tersenyum, mata biru yang berkilau seperti safir mengingat hal tersebut perlahan meredakan ketakutan yang melandanya. "Naruto-kun.. kembalilah dengan selamat" bisiknya kepada angin berharap dapat didengar oleh Naruto.

To Be Continue

Akhirnya saya Author yang baru ini, selesai membuat sebuah fic yang begitu banyak kekurangan ini. Mungkin Fic ini sudah pasaran atau mungkin ada yang sama jadi saya mohon maaf bila ada kesamaan alur cerita, sekiranya bagi senpai-senpai ataupun reader-san yang telah berpengalaman memberikan kritik dan saran lewat Reviewnya. Akhir kata saya ucapkan terimakasih telah membaaca Fic saya yang tak seberapa ini.

Medan 5 Juni 2013

Ramadi HLW