Sepuluh Tahun Dari Sekarang!

Disclaimer ©Masashi Kishimoto

Story ©Haruka Hitomi 12

Warning : GaJe, OOC, OC, AU, typo(s), dll

CHAPTER 4

"Ah, kenapa Sai-kun lama sekali? Aku harus menyusulnya! Oh ya, kapan-kapan kalau kau ada waktu, kita mengobrol lagi ya! Yahhh… kalau Sasuke mengijinkanmu sih… seingatku, dia kan sangat over protective padamu! Jaa… Sakura-jidat!"

Gadis pirang itu berlari kecil menemui Sai. Sakura balas melambai pada Ino. Ia lalu mendengus pelan dan duduk disalah satu kursi.

'Sampai kapan aku dan Sasuke ada di dunia ini… dan dimana kelereng itu sekarang…?'

.

.

.

"Kau saja yang tidur disini! Aku mau di sofa!" Sakura berseru dengan wajah memerah. Tentunya hal ini ia ucapkan setelah orangtua mereka pergi.

"Hn."

"Jangan hanya merespon begitu saja bodoh! Aku mencurigaimu!"

"Aku tak tertarik denganmu," Sasuke mengendikkan bahunya sambil mengalihkan pandangannya.

Mereka sekarang tengah berada di apartemen yang diberikan khusus oleh orangtua mereka. Tentunya hanya ada satu kamar. Dan kau tahu lah…

Akhirnya Sakura menyeret bantalnya ke sofa dan berbaring disana. Bersyukurlah sofa itu lumayan besar-cukup untuk satu orang untuk tidur. Sementara Sasuke memasuki kamar. Yah, sudahlah… itu keputusan mereka. Lagipula, hal yang sebenarnya mereka masih berusia tujuh belas tahun, bukan dua puluh tujuh tahun. Dan juga, usia tujuh belas bukan usia menikah, jadi mereka tak mau seenaknya mengambil resiko.

.

.

Sakura menggeliat kala ia merasa memang sudah waktunya untuk bangun. Ia memandang sekeliling lalu bergelung lagi dalam selimutnya. Heh? Selimut?

'Tu-tunggu dulu!' Sakura langsung mendudukkan dirinya, 'Sejak kapan aku pakai selimut?! D-dan… kenapa aku ada di kamar?!' dan pikiran-pikiran negative mulai bermunculan di kepalanya.

"Hoh? Kau sudah bangun?"

Suara baritone itu membuatnya menoleh dan ia mendapati Sasuke dengan pandangan cueknya yang biasa keluar dari kamar mandi-lengkap dengan bajunya, bagaimanapun ia masih tahu diri.

"Kau!" Sakura menunjuk Sasuke dengan tatapan horror, "Apa yang kau lakukan padaku hah?! Kenapa aku bisa ada disini?!"

"Hn. Sleep walking," Sasuke berucap cuek sambil mengeringkan surai ravennya dengan handuk yang melingkar di lehernya.

Dan alasan yang dikeluarkan Sasuke-sebagaimanapun seriusnya, semua orang tahu itu dusta. Sakura memicingkan matanya, "Aku bukan tipe orang seperti itu!"

"Kau kan tidak sadar. Lagipula, jangan berpikir aneh-aneh, begitu kau pindah kesini aku langsung pindah ke sofa!" ucap Sasuke lalu ia membuka pintu, "Dan lagi, aku mandi disini karena memang kamar mandinya cuma satu! Sekarang buatkan sarapan, aku lapar!"

Sakura mengomel kesal sambil menyibakkan selimut, "Enak saja kau menyuruh! Hei Sasuke! Jangan pergi dulu bodoh!" dan percuma saja nyonya Uchiha itu harus mengencangkan otot leher guna meneriaki Sasuke, "Ya sudahlah… aku mandi dulu saja…" lalu ia beranjak ke kamar mandi.

.

.

"Hei pinkie, mana sarapannya?"

Baru saja Sakura melangkahkan kakinya diatas tangga, ucapan Sasuke sudah lebih dulu menyambutnya.

"Kenapa kau tidak membuatnya sendiri sih? Masa' kau tak bisa masak?" balas Sakura kesal.

"Malas. Lagipula sekarang kau satu-satunya wanita di tempat ini. Sudah kewajibanmu untuk memasak!" Sasuke mengalihkan pandangannya ke televise. Merasa tidak ada hal yang menarik, ia mematikannya lalu berbalik memandang Sakura yang masih diam ditempatnya.

"Kau kenapa sih? Cepatlah memasak!" ucap Sasuke mulai kesal.

"Errr… Sasuke… maaf," Sakura mengusap tengkuknya kikuk, "Aku… tak bisa masak…"

Dan ucapan terakhir Sakura membuat Sasuke meragukan Sakura benar-benar wanita, "Kau ini wanita bukan? Sudah ketua klub judo, galak, tak mau memakai make up, tak bisa memasak pula!" ucap Sasuke kesal sambil berjalan mendahului Sakura ke dapur.

"Ya maaf, aku hanya mau begitu nanti-nanti saja! Paling tidak setelah aku menikah!" ucap Sakura membela diri sambil mengikuti Sasuke ke dapur.

"Sekarang kau sudah menikah kan?" Sasuke menyeringai tipis membuat Sakura memukulnya dari belakang.

"Jangan seenaknya!" walau begitu wajahnya tetap memerah, "Ini hanya ilusi! Aku hanya mau memasak untuk Gaara! Yah, kalau aku bisa memasak sih…" ucapnya.

Sasuke terkekeh sambil memulai acara memasaknya. Yah, orangtua yang kelewat sibuk, kakaknya yang terkadang malas bertanggung jawab atas adiknya sendiri, membuatnya mau tidak mau harus bisa memasak sendiri kalau keluarganya sedang pergi. Walau di rumahnya ada berpuluh maid, tapi lelaki itu tak pernah suka masakan yang dibuat pelayan-pelayannya-tidak enak kalau menurutnya.

Dan Sakura saat ini hanya bisa berkali-kali berdecak kagum melihat Sasuke memasak. Walau harga dirinya yang tinggi, didalam hatinya sana, ia bertekad untuk bisa memasak.

.

.

Satu jam kemudian, Sakura sudah berucap puas sementara Sasuke membereskan piring-piring, "Huaahh~… enak sekaliiii…! Kalau begitu, yang memasak kau saja ya, Sasu-ayam!" seru Sakura sambil menegak minumannya.

"Hn. Kau ternyata hanya bisa menyuruh ya!" balas Sasuke sambil mengambil gelas Sakura.

"Ah! Karena kau sudah memasak, biar aku saja yang mencuci! Habisnya kau daritadi mengomeliku terus!" ucap Sakura sambil mengambil alih piring-piring dari tangan Sasuke.

"Akhirnya kau sadar juga…" Sasuke mengacak rambut Sakura-membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal lalu menuju bak cuci piring.

Gadis itu mulai menyalakan air dan membasuh piring-piring itu satu-persatu. Sasuke bersandar di tembok dibelakang Sakura, "Kau bisa mencuci piring kan?" tanyanya dengan senyum jahil.

"Tentu saja bisa! Menghina kau!" balas Sakura kesal, "Setelah ini… kita mau bagaimana?"

"Yah, mencari informasi. Aku ingin semuanya jelas!" ucap Sasuke sambil mendekati Sakura dan mengambil piring-piring yang sudah dicuci lalu memasukkannya kedalam lemari.

"Tapi kelereng itu ada dimana ya…? Bagaimana kalau kita tak bisa kembali lagi?" tanya Sakura sambil mengeringkan tangannya.

Sasuke tak menyahut dan membuka pintu apartemen mereka, "Ayo," ucapnya.

"Kemana?"

"Entah, tapi siapa tahu kita bisa dapat informasi lebih."

.

.

.

Sasuke dan Sakura menghela nafas. Tak ada gunanya, berputar-putar diseluruh penjuru Konoha hanya untuk menemukan sebuah kelereng hijau kecil kemungkinannya hampir nol. Mereka terduduk disebuah bangku taman saat ini, awal musim semi, beruntunglah cuaca tak terlalu panas.

"Bagaimana sekarang…?" ucap Sakura lemas.

"Sudah hampir siang," Sasuke melirik arlojinya dan onyxnya menyusuri setiap sudut taman itu, "Disana ada café, kita makan siang dulu!"

Sakura mengangguk dan mengikuti Sasuke. Tapi didalam hati ia berpikir, sejak kapan ia menjadi begitu penurut dengan laki-laki menyebalkan ini? Oh ya, sejak insiden hilangnya kelereng itu-atau bahkan, mungkin setelah ia menjadi nyonya Uchiha baru di masa depan? Entahlah.

.

Sambil menunggu pesanan, keduanya hanya diam. Sasuke yang menatap keluar jendela dan Sakura yang sibuk dengan ponselnya.

"Hei, bukankah itu mereka? Sakura-chan! Teme!"

Keduanya menoleh dan mendapati Naruto yang tengah melambai pada mereka dengan Hinata yang ada dibelakangnya-ikut tersenyum.

"Ah! Naruto! Hinata-chan! Kemarilah!" seru Sakura.

"Hn. Dobe," Sasuke hanya tersenyum tipis kala pasangan Uzumaki itu ikut bergabung satu meja dengan ia dan Sakura.

"Hahaha… kebetulan sekali bertemu dengan kalian! Kukira di hari pertama pernikahan kalian takkan keluar rumah! Yah… bermesraan dan semacamnya~…" Naruto menggoda pasangan Uchiha baru itu.

Sasuke baru akan menjawab kalau usia mereka masih tujuh belas tahun jadi takkan berbuat aneh-aneh, ketika ia sadar, kalau Naruto berasal dari masa ini. Jadi ia mengurungkan niatnya.

"A-apa sih, Naruto…" Sakura memalingkan wajahnya yang dipenuhi rona merah.

"Hei, Saku!"

Sakura menoleh saat Sasuke berbisik padanya, "Apa?"

"Apa… lebih baik kalau misal Dobe dan Hinata tahu soal ini?" tanya Sasuke masih berbisik.

"Soal apa?"

"Tentang kita yang dari masa lalu! Percayalah, kita takkan bisa kalau hanya berdua, ditambah kita tak punya informasi apapun!" balas Sasuke sambil melirik Naruto dan Hinata yang masih memesan makanan, "Siapa tahu mereka bisa membantu kita menemukan kelereng itu!"

"Kupikir benar juga… demmo, apa kita bisa percaya pada mereka?"

"Aku bersama Dobe sejak SD…"

"Benar juga… kita juga bertemu Hinata sejak SMA, mereka bertemu kita sejak lama... Baiklah, lebih baik begitu saja!"

"Nee, Sakura-chan, Teme! Kalian serius sekali, membicarakan apa?" tanya Naruto.

Sakura menyikut Sasuke dan Sasuke memberi isyarat, 'Kau saja yang bicara!' gadis merah muda itu menghela nafas lalu menatap Hinata dan Naruto.

"K-kami… ah… ada sesuatu, yang penting… aku… ingin m-membicarakannya de-dengan kalian…" ucapnya.

"Dan apa itu Sakura-chan?" Hinata yang sejak tadi diam, menyahut dengan senyum lembutnya-yang bagi Sakura tetap sama.

"Etto… ano… k-kami… kami… ukh… ka-kami…" Sakura menyikut-nyikut Sasuke-meminta bantuan, akhirnya lelaki itu menghela nafas.

"Kami bukan dari masa ini."

Ucapan Sasuke membuat Naruto langsung tertawa lepas sementara Hinata, sepertinya ia masih bingung.

"Kau ini bicara apa Teme? Hahaha… lawakanmu jelek sekali!"

"Aku serius Dobe!" ucap Sasuke. Naruto menghentikan tawanya.

"Bisa tolong jelaskan? Kalian sejak kemarin kuakui, bertindak aneh," ucap lelaki bersurai blonde tersebut.

"I-itu benar Naruto, Hinata, kami… adalah Sasuke dan Sakura sepuluh tahun yang lalu…" Sakura menyahut sambil memainkan jarinya diatas meja, "Dan entah bagaimana bisa kami sampai disini."

Naruto-yang mungkin agak-lemot, kebingungan menjawab pernyataan Sakura.

"Jadi… kesimpulannya… Sasuke dan Sakura yang ada didepanku dan Naruto-kun sekarang ini, dari… masa lalu?" tanya Hinata, "Itu… tidak masuk akal… apa yang terjadi dengan kalian…?"

"Kuharap kau tidak menganggap kami bercanda Hinata. Ini serius. A-aku… tak tahu harus bagaimana mengatakannya, demmo… kami benar-benar bukan dari masa ini. Kemarin lusa, saat pulang sekolah-ah, mungkin kalau dari masa ini… sepuluh tahun yang lalu ya… aku berjalan pulang dan mendapat sebuah kelereng dari seorang nenek.

"Aku tak melakukan apapun, paginya, saat aku dan Sasuke bangun, kami bukanlah remaja berusia tujuh belas tahun lagi. Saat kami bangun, hari itu tepat menunjuk kemarin… h-hari… pernikahan itu…" jelas Sakura.

Naruto menggaruk kepalanya, "Oke, misalnya saja, aku anggap aku percaya, apa yang terjadi pada hari itu Sakura-chan? Hari dimana kau mendapat… apa tadi? Kelereng? Kau bisa nyasar ke masa sepuluh tahun mendatang karena kelereng?!"

"Ya, aku serius, kau ingat kejadian saat aku disuruh mengepel koridor?" tanya Sakura.

Hinata mengangguk sementara Naruto masih sibuk berpikir. Sedetik kemudian, ia menjentikkan jarinya, "Oh! Aku tahu! Saat kita masih SMA-sepuluh tahun lalu, karena saat itu Sasuke membuatmu dihukum oleh… siapa namanya… guru fisika itu…"

"Anko-sensei, Naruto-kun…" jawab Hinata.

"Ah, ya! Anko-sensei! Wah, saat itu kau kan meneriaki Sasuke di koridor bukan?" Naruto tertawa-mengingat masa-masa itu.

"Ya. Dan kami sebenarnya berasal dari tahun 2003-masa dimana kita masih SMA. Kami tidak bercanda Naruto, Hinata," ucap Sasuke.

Mereka berempat terdiam. Sampai pesanan datang pun, tak ada yang menyentuh makanan-semua masih bergelut dengan pikiran masing-masing.

"Aku percaya…" semua menoleh kearah Hinata, "Memang aneh dan tidak masuk akal kalau Sasuke dan Sakura berasal dari masa lalu, tapi kurasa kalau hal itu benar, ada alasan masuk akal keanehan tingkah kalian," gadis bersurai indigo itu tersenyum manis.

"Benar juga…" Naruto mengangguk-anggukan kepalanya, "Kalau begitu, apa alasan kalian menceritakan hal besar ini padaku dan Hinata? Kalau banyak yang tahu, ini bisa membuat geger. Pasti ada alasan khusus."

"Ya, kami ingin… meminta bantuan kalian. Kami tidak tahu bagaimana caranya harus kembali ke masa kami," Sakura mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan, "Kalau tak bisa kembali… bagaimana…? Kita melewati ruang dan waktu, pasti ada akibatnya…"

Hinata menggigit kukunya, "A-apa ini ada hubungannya dengan kelereng itu?"

"Mungkin. Tapi sayangnya, kelereng itu hilang, kemarin, sebelum upacara pernikahan itu," Sasuke melipat tangannya didepan dada.

"Teme, Sakura-chan, kau meminta bantuan padaku dan Hinata apa tidak salah? Kami tidak tahu apa-apa soal ini," ucap Naruto.

"Karena kami percaya pada kalian," ucapan Sasuke membuat Naruto dan Hinata mengangkat kepala mereka, "Aku mengenal Dobe sejak SD, dan mengenal Hinata sejak hari pertama di SMA, kita sudah lama mengenal, dan aku rasa, kami bisa mempercayai kalian."

"Ya, Sasuke benar…" Sakura mengangguk sambil tersenyum, "Kami takkan memaksa, tapi kami juga tak punya pilihan lain, bagaimana cara kami bisa kembali ke masa kami sendiri."

"Aku dan Naruto-kun… pasti akan membantu… benar kan Naruto-kun?" Naruto mengangguk semangat mengiyakan ucapan Hinata.

"Pasti!" ucap lelaki itu.

"Nee, ayo kita makan dulu…" Hinata tersenyum-dengan senyuman yang menurut Sakura dan Sasuke tak pernah berubah, sama seperti cengiran semangat Naruto…

.

.

.

-TSUZUKU-

Gyyaaa! Jangan bunuh saya kalo ini kependekaaannn! Gomenn… saya gak kuat ngetik, salahkan ujian praktek saya yang membuat saya terkekang dengan dua kewajibannnn~… (T^T)

Hadeh, hadeehhh… kenapa ni fict makin GaJe ya…? Maafkanlah kependekan (?), typo, ke-GaJe-an dan kekurangan lainnya. Chap depan kalo kuat saya panjangin deh (reader: PHP lu Thor!)

Ya dah, beginilah chap 4, ngebosenin kah? atau gimana? Mind to RnR? Menerima segala jenis pendapat, arigato~… *ojigi*