Kedua pemuda sesama jenis itu berkali-kali mengerjapkan mata mereka secara bersamaan. Ekspresi yang tergambar di wajah mereka sama sekali tidak bisa dibaca, pemuda berambut pirang yang tengah memakai jubah hitam itu melongo dengan keringat yang bercucuran, sedangkan pemuda raven di sebelahnya hanya berekspresi datar namun tatapannya tetap setajam silet.

"Kau gila Sakura-chan, kau gila!"

Sasuke hanya geleng-geleng melihat kunoichi terhebat di dunia ninja itu melontarkan kata-kata satu menit sebelumnya.

"Tapi, kenapa.. dirimu.. Kau itu wanita, Sakura-chan! Bukan pria! Kenapa.."

"Lalu kenapa jika aku ingin menikahi, Hinata hah?! Kau sakit hati? Terpuruk? Sakit jiwa? Mencret-mencret? Aku tak perduli, cih. Apa urusanku padamu?" Desis Sakura, tajam.

"Jangan karena kau tidak bisa mendapatkan Sasuke sehingga kau jadi seperti i—"

BUAGHHH—Sebuah bogeman mentah telak mendarat di wajah tampan Hokage baru Konoha itu, membuahkan beberapa anak merah di kepalanya. "BAKA! Aku tidak mengharapkan Sasuke! Lagipula, Hinata jauh lebih baik dari Sasuke dan darimu! Aku tentu pilih Hinata!"

Naruto terdiam di tempatnya. Apa yang sahabat setimnya sejak dulu ini makan kemarin malam sehingga ia berubah menjadi penyuka sesama jenis begini? "Sakura-chan, tapi—"

"Tidak ada tapi-tapian, Naruto. Minggu depan, kau dan Sasuke akan menjadi saksi pertama pernikahanku dan Hinata!" Kedua rival itu hanya diam menanggapi perkataan Sakura, tentu mereka masih ingin melanjutkan hidup mereka dan tidak mati mengenaskan di tempat ini.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

Pernikahan Gila

.

By Yukimura Hana

.

Warning: OOC, abal, gaje, aneh, banyak typo! No yuri, tapi sedikit menjurus. Sekali lagi OOC, abal, gaje, aneh, banyak Typo!

.

.

.

Ruang Hokage, 10:30 waktu setempat.

Seharusnya, Hokage baru itu menikmati pekerjaan barunya di singgasana yang dikagumi seluruh penduduk konoha itu. Seharusnya, Hokage duduk dengan tenang sambil menyeruput teh dan mengerjakan berkas-berkas dari desa lain. Seharusnya, Hokage hanya harus meningkatkan kemakmuran, kebahagiaan dan kesejahteraan penduduk desa tanpa harus egois mementingkan dirinya sendiri.

Tapi, ini berbeda.

Ini masalah hatinya yang sejak kemarin mengusiknya. Ok, mungkin ia gila atau bisa jadi malah sahabatnya yang gila. Jika Sakura, gadis yang ditaksirnya sejak dulu itu berpacaran dengan Sasuke atau Lee, ia masih bisa terima. Tetapi ini..

SAKURA BERNIAT MELANGSUNGKAN PERNIKAHAN DENGAN HINATA DALAM KURUN 150 JAM KE DEPAN!

DUARRRRR!

Shock, stress, bingung, kesal, sedih, marah, benci semua jadi satu. Jika pernikahan wanita dengan lelaki atau lelaki dengan wanita itu masih ia bisa terima dengan ikhlas dan lapang dada. Tetapi ini.. WANITA DENGAN WANITA!

Oh, demi Dewa Jashin yang disembah Hidan! Cobaan apa yang Engkau berikan kepadaku!

Naruto menjambak helai pirangnya frustasi. Lebih baik ia disuruh bertarung lagi dengan embah buyut Sasuke yang nista itu daripada melihat dua orang yang ia sayangi menikah bersama.

Tunggu, dua?

Ya dua, yaitu Sakura dan Hinata. Akhir-akhir ini ia memang dekat dengan gadis bermarga Hyuuga itu. Walau sekarang Hinata tidak pingsan maupun tidak tergagap lagi saat bertemu dengannya, tapi rona merah di wajahnya masih tersisa. Tutur lemah lembutnya, ah.. Membuat Hokage keenam itu terbuai dalam khayalannya.

.TOK—suara ketukan pintu membuat Naruto mendengus kecil, karenanya khayalan yang susah payah ia bangun hilang begitu saja. "Masuk." Gumamnya. Hampir Naruto bersiap mengumpat sang pengetuk, ia dikagetkan oleh sosok itu. Gadis yang baru saja menjadi bintang khayalannya, sekarang ada di hadapannya.

"Hokage-sama, saya membawa laporan tentang misi yang anda berikan kemarin."

Ah, suara itu.. Reflek, Jinchuriki Kyuubi itu memejamkan matanya mendengar alunan merdu sang empu suara yang bergema di ruangannya. Suara indah, lemah lembut dan penuh kasih sayang di dalamnya, serasa di sungai madu yang manis mengalir dari hatinya.

"Ho-hokage-sama? Apakah anda mendengarku? Kenapa anda tertidur?" Seketika Naruto terbangun dari khayalannya, bahkan Kurama menertawakannya dari dalam sana. Baka! Baka! Baka! Umpatnya.

"Ah, ya Hi-Hinata."

"Ya, Hokage-sama?" Tanya Hinata, tanpa tergagap sedikitpun. Naruto mulai merasakan dunia sudah terbalik, terbukti dari gaya bicara. Sekarang yang gagap siapa, yang lancar siapa.

"Apakah ka-kau punya waktu luang unt—"

BRAKKKK!—sebuah bogeman matang yang mendarat di pintu Hokage membuat kedua makhluk di dalamnya melongo. Seorang gadis bersurai pink tentu saja sang pelaku utama, seluruh dunia ninja pasti mengetahuinya.

"HINATA-CHAAAAAAANNNN..." Teriaknya, menggelegar. Tak tau dengan jutsu apa, tiba-tiba tangannya menggenggam dan memeluk Hinata secara erat, padahal jaraknya masih 6 meter dari hadapannya.

"Aku merindukanmu." Ujar Sakura, penuh penghayatan.

"Sa-Sakura-chan, halo.."

KRAKKKK!—seperti sebuah es yang baru membeku, Naruto terpaku di tempat. Perasaan tadi dia enggak manggil Sakura, kok sekarang ada di ruangannya?

"Jangan macam-macam dengan Hinataku, Naruto!" Teriak Sakura, disertai deathglare dan aura yang mengerikan.

GLEK. Susah payah Hokage baru itu meneguk air liurnya sendiri. Oh Tuhan, apa yang Engkau perbuat pada sahabatku sendiri? Batinnya.

"Sa-sakura-chan, pelukanmu e-erat sekali.." Ujar Hinata dengan susah keren(?) Wajahnya membiru bagaikan orang yang nahan bab berminggu-minggu.

"Maaf-maaf! Oiya, hari ini kita akan memilih gaun untuk kita! Ayo!" Pintanya dan Sakurapun pergi meninggalkan Naruto yang masih terpaku.

—Hanya suara jangkrik yang sedang dilahap kurama yang terdengar di ruangan luas itu. Tiada suara, tiada aktifitas bahkan tiada yang bernafas.

"BAKA NARUTOOOOOOO!"

.

.

.

Gedung Hokage, 11:30 waktu setempat

Shikamaru berjalan melalui lorong-lorong gedung Hokage dengan membawa berkas-berkas yang menumpuk di tangannya. Berkas-berkas yang harus Naruto tanda tangani untuk di serahkan ke desa lain. "Naruto ini—"

"KELUAR KAU!"

HYUUU—Aura gelap seketika menguap di ruangan Hokage itu. Pemuda rambut nanas itu hanya menatap datar, seakan tak takut sedikitpun pada Shinobi terhebat di dunia Ninja yang ada di hadapannya.

"Kau kenapa sih, Naruto?" Yang ditanya hanya menampakkan kepala kuningnya dibalik telungkupan tangannya. Tak menjawab maupun tak menggubris pertanyaan yang dilontarkannya, membuat Shikamaru berdecak kesal.

"Hey, ini ada berkas yang kau harus periksa. Aku akan masuk."

Shikamaru melangkahkan kaki mendekat ke arah Naruto, kemudian meletakkan tumpukan kertas itu di hadapannya. "Naruto, kau kenapa sih?" Tanyanya lagi, dengan wajah malas.

"Shi...shika..hiks...hiks...maru..."

DEMI KOLOR EMBAH BUYUT SASUKE! DALEMAN BULUK NENEK CHIYO! APA-APAAN INI?

'Buset, Naruto jelek banget.' Batinnya.

"Ke-kenapa wajahmu makin hancur begitu?" Dengan tubuh bergetar, Naruto menatap Shikamaru disertai genangan air mata yang mengucur dari hidungnya(?) Wajah tannya berubah menjadi abu-abu seperti kulit ikan lele yang ada di taman tengah konoha.

"Kumohon...hiks...He-hentikan Sakura-chan... HUWAAAAA..." teriaknya, mendramatisir.

"Memangnya Sakura kenapa hah?" Tanya Shikamaru, malas.

"Dia...hiks..dia...dia..AKAN MENIKAH DENGAN HINATA!"

JEDDAR! GLUMBUL-GLUMBUL BLAARRR!

"Oh, hanya itu?"

GUBRAKKK—Naruto sweatdropped. Hanya itu? Dia bilang hanya? HANYA?

"Aku tidak mau tau, kau harus memata-matai Sakura-chan dan Hinata-chan! Cari informasi tentang pernikahan mereka dan laporkan kepadaku!"

"Tapi Naruto aku bukan—"

"Ini perintah! Cepat sana pergi!" Shikamaru hanya menguap malas, lalu melenggang pergi dari ruangan penuh nista itu.

BRAKKK— "KIAMAAAAAAAATTTT!" Teriak Naruto membahana.

.

.

.

Hinata berjalan santai melewati pasar, di kedua tangannya terdapat dua kantung belanjaan yang besar-besar. Di sebelah kanannya terdapat seorang gadis bersurai bubble gum yang tengah mengoceh tanpa henti.

"Hinata-chan, menurutmu aku bisa membuat sup tomat yang lebih enak dari kemarin tidak?"

"Mm.. Menurutku Sakura-chan, jika kau sering berlatih memasaknya, masakanmu akan menjadi makanan terenak di dunia." Jawab Hinata, dengan tutur lemah lembutnya.

"Ahh.. Hinata-chan! Kau selalu bisa menghiburku!" Ujar Sakura sambil memeluk Hinata dengan erat.

Sesosok pria muda dengan wajah tertutup masker menatap mereka dengan jijik. Sesekali, kamera di tangannya mengambil adegan yang menurutnya memalukan seperti tadi.

'Buset, gila beneran.' Batinnya. Shikamaru terus mengikuti mereka ke toko gulali, toko perhiasan, toko baju, toko kue, toko bunga, photobox hingga toilet.

Ehhh? Toilet?

"Aku tidak melihatnya, Aku tidak melihatnya.. Sungguh aku tak meli—"

BUAGHHHHH—Sebuah pukulan hangat mendarat di wajah tampan Pemuda Nara itu. Tentu saja kalian sudah tahu siapa pelakunya.

"APA YANG KAU INTIP BAKA!"

"Sa-sakura.."

"BIAR AKU MANGHAJARNYA, HINATA! DIA SUDAH MENGINTIPMU! AKU TAK TERIMA! HYAAA SHANNAROOOOO!"

'Perasaan gue gak nyuruh nghajar itu orang' batin Hinata, OOC.

BUAGHHHHH—Layaknya iblis, Sakura terus melancarkan pukulan manisnya ke arah Shikamaru, hingga Shikamaru sudah tak berdaya dan tewas seketika.

The end.

.

.

.

.

.

Masih ada ding hihihi #plakk ._.v

Setelah korbannya babak belur dan merasa puas, Sakura meninggalkan Shikamaru terdiam di ujung gang sempit sambil berpegangan tangan dengan Hinata. "Ayo, Hinata-chan!" Ajak Sakura. Hinata hanya mengangguk sambil bergidik ngeri.

Poops!— "Untung itu hanya bayangan. Cih, merepotkan. Lebih baik kembali saja." Gumam Shikamaru. Pemuda berambut nanas itu sudah malas mengikuti dua wanita itu dan memutar balik arah menuju ruangan Hokage.

.

.

.

Ruang Hokage, 13:00 waktu setempat.

Naruto berkali-kali memijit pelipisnya dengan kasar, tumpukkan berkas-berkas di mejanya membuat kepalanya serasa meledak. Ditambah lagi fakta bahwa Sakura akan menikahi Hinata memenuhi tiga perempat otaknya.

"SIALAAAAN!"

BRAKKKK—Dengar kasar meja tak bersalah itu menjadi korban kekesalannya. Lagipula, kenapa Sasuke brengsek itu menolak Sakura? Padahal akhir-akhir ini mereka sering pergi bersama tanpa dirinya seorang.

"Shikamaru, dimana kaaau?"

.TOK

Suara ketukan pintu membuat senyum Hokage muda itu mengembang, dengan perasaan berbinar ia membiarkan orang tersebut masuk ke dalam ruangannya. 'Shikamaru Shikamaru Shikamaru' nama itu terus terngiang di batin kecilnya, oh Shikamaru cepatlah masuk.

"Dobe.."

Bingo! Tebakannya melenceng, yang datang ternyata pemuda rambut raven yang tadi ia sebalkan, seketika senyum sumringah itu turun menjadi aura yang mengerikan.

"Apakah kau sudah menyelidiki tentang pernikahan Sakura dan Hinata?"

'Oh sht, ini aja lagi nungguin pe'a.' Batinnya, kasar.

"Sedang diproses, memangnya kenapa hah? Tumben kau peduli dengan aku dan Sakura." Ujar Naruto, malas. Sasuke mendecih kecil, mengalihkan pandangannya dari shappire milik Naruto.

'Ok Sasuke, kau bisa! Turunkan sedikit marga Uchiha dalam dirimu!' batin Sasuke, OOC.

"Aku, punya rencana.." Gumam Sasuke, mantap. Naruto mengerutkan keningnya dan mencondongkan telinganya ke arah Sasuke untuk mendengar rencananya.

"Jadilah Ukeku.."

GUBRAKKK! Penduduk Konoha sweetdroped. Ok, maaf salah ketik.

"Begini.." Naruto menyeringai kecil mendengar Ice Prince itu membisikkan rencananya. Rencana yang oke untuk mantan penjahat tingkat-S seperti Sasuke, tapi tentu hanya seperempat saja yang bisa masuk di otaknya itu.

"Kenapa tidak kau saja yang melakukannya?" tanya Naruto, agak sebal. Lagi-lagi dia harus terjun di rencana nista milik Sasuke.

"Cih, jika aku, kau mau 'Hinata-chanmu' itu menjadi milikku?"

Naruto menggeleng cepat, lebih baik ia jadi uke Sasuke daripada harus melihat Sasuke bergandengan tangan dengan Hinata. Membayangkannya saja sudah membuat Naruto kesal setengah mati, apalagi melihatnya? Bisa-bisa ia mencret-mencret seperti yang Sakura bilang kepadanya kemarin.

"Naruto." Suara bass milik seseorang di ambang pintu membuat duo rival itu menoleh. Ahh.. ini dia yang sedari tadi di tunggu-tunggu. "Yo, Shikamaru. Silakan masuk."

Shikamaru melangkah masuk tanpa mengucapkan sepatah katapun, beberapa lembar foto di tangannya ia letakkan di meja sang Hokage. "Aku tak bisa mengikuti mereka lagi, sekian." Ujarnya, sambil berlalu pergi dari ruang Hokage itu.

Naruto dan Sasuke terpaku menatap lembaran gambar tersebut, terutama Naruto yang sudah menahan tangisnya layaknya anak TK yang kehilangan permennya. Oh, jadi Sakura benar-benar serius atas ucapannya, eh?

"Mereka gila." Ujar Sasuke dengan ekspresi datar.

Naruto diam tak menggubris perkataan Sasuke, matanya menjelajahi setiap inci dari gambar tersebut. 'Oh Hinata.. kenapa kau jadi seperti ini?' batinnya. Dan duo nista itu hanya bisa meratapi sahabat mereka di sudut ruang Hokage.

Hyuuga Mansion, 17:56 waktu setempat.

Hinata memandang cahaya sunset disetai senyuman manis yang terulas di bibirnya. Ah, sepi. Ayahnya tengah ke luar desa menyelesaikan urusan klannya, sedangkan Hanabi menjalankan misi yang diperintahkan oleh Hokage.

Hokage.. ia tertawa kecil ketika membayangkan wajah Hokage yang baru saja naik tahta tiga minggu yang lalu. Wajah tampannya, kulit tannya, senyum lima jarinya, semuanya.. Jadi bernostalgia saat ia dipeluk pada pencarian bikochou dulu, dan saat tangannya digenggam olehnya pada perang Shinobi keempat.

Desiran hangat menjalar menuju pipi porselennya, pemuda itu.. Pemuda yang membuatnya berubah menjadi seperti sekarang ini. Semangat api konoha yang tertanam pada pemuda itu menjalar memasuki tubuhnya. Mengajarinya untuk selalu berusaha dan pantang menyerah. Naruto..

"Psstt...Hinata!" Mendengar namanya dipanggil, reflek kepalanya menoleh ke asal sumber suara. Tidak ada orang, mana yang memanggilnya?

"Ssstt..Hinata!" Amethystnya membulat seketika ketika mengetahui seseorang yang memanggilnya. Seorang pemuda berambut pirang mengenakan jubah hitam yang tengah nangkring di atas pohon sakura milik ayahnya. Keringat yang mengucur melalui pori-pori tan milik sang pemuda menambah kesan atletis, dengan background sunset yang menawan mendeskripsikan pemuda tampan ini, keren.

"Ho-hokage-sama?"

Naruto menyeringai, taktik pertamanya sukses dengan hasil yang memuaskan. Perlahan ia turun dari pohon yang susah keren ia panjat demi background yang kece itu.

"Ada apa, Hokage-sama?" Bukannya menjawab pertanyaan dari sang gadis, Naruto malah mendudukkan bokongnya tepat di sebelah Hinata sambil melipat kedua tangannya, menatap langit jingga yang perlahan berubah menjadi biru dongker.

"Tidak, aku hanya ingin bermain kesini saja." Jawabnya, disertai senyuman lima jari.

"Tetapi, ke-kenapa anda lewat situ, Hokage-sama?"

BLETAK! —Pukulan telak untuk Naruto. Otaknya bekerja keras mencari jawaban yang tepat untuk dilontarkan pada gadis bersurai indigo di hadapannya. Alisnya bertaut, tangannya menumpu pada dagunya serta bibirnya mengkerucut, ah Naruto, kenapa kau begitu baka?

"Aku takut ada penjaga di depan rumahmu." Tuturnya, bisa gawat jika rencana kerennya terbongkar.

"Tapi kan, sekarang kau Hokage, jadi pasti dibolehkan."

BLETAK! —Lagi-lagi Naruto tidak bisa berkata apa-apa. Pukulan secara halus yang ganasnya melebihi pukulan Sakura itu membuatnya tertohok berkali-kali, oh Naruto benar-benar baka.

"A-ah.. i-itu, ah Hinata! Bolehkah aku meminta teh dan kue?" Tanya Naruto mengalihkan topik pembicaraan. Hinata yang memang dasarnya polos segera mengangguk dan berjalan ke dalam rumahnya.

'Sialan, hampir aja ketauan.' Batin Naruto. Sebuah alat berwarna hitam ia keluarkan dari dalam sakunya, setelah menekan salah satu tombol, terdengarlah suara seseorang dari dalamnya.

"Hey, Teme. Aku harus melakukan apa lagi?" Dengan setengah berbisik, Pangeran pirang kita melakukan pembicaraan dengan orang itu. Hanya bermodalkan "Ya." Dia menjawab apa yang dikatakan Sasuke, dasar.

"Hokage-sama, kau berbicara dengan siapa?"

GLEK. Hokage keenam itu terpaku, segera dimatikannya alat penghubung itu dan berbalik menatap Hinata yang tengah menatapnya khawatir, di kedua tangannya terdapat benda pesanan Naruto.

'Naruto kok jadi gila, kasian.' Batin Hinata, sambil geleng-geleng kepala.

"A-ah, ti-tidak. Bukan dengan siapa-siapa! Ah, ini pasti enak!" ujar Naruto dengan mata berbinar, segera diserobotnya benda itu dan dimakannya dengan lahap. "enyuakk..."

"Makan dengan pelan-pelan, Hokage-sama. Nanti anda tersedak."

Naruto hanya nyengir lima jari, lalu menatap keindahan amethyst di hadapannya. Tanpa diperintahkan, detak jantungnya berdebar dengan cepat. Lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan beberapa potong kalimat yang tadi dikatakan Sasuke. Oh, ayolah Naruto..

"Hi-Hinata.." Hinata menoleh ke arah sang empu suara yang memanggilnya, disertai senyuman hangat yang menawan membuat suara Naruto semakin tercekat di tenggorokannya.

'Oh sht, gimana cara gue ngomongnya." Batin Naruto.

"Be-besok ada waktu enggak? A-aku mau ngajak kamu ja-jalan."

Blush! Sembilan kata yang memiliki makna penting itu membuat sang Heiress Hyuuga ini memerah, dengan mata yang memancarkan ketidakpercayaan ia menatap ke arah Shappire Naruto, mencari kebenaran di dalam sana.

"A-apakah Hokage-sama serius?" Tanyanya. Naruto mengangguk antusias, lalu berbaring di gazebo kayu itu, menatap taburan bintang yang menghiasi malam konoha.

"Jika tidak mau, tidak apa-apa kok." Ujar Naruto, menoleh ke arah Hinata dan tersenyum. Hinata menggeleng cepat dan membalas senyum Naruto dengan malu-malu. "Baiklah.."

Sekarang giliran Naruto yang menatap ke arah Hinata dengan perasaan tidak percaya. Darahnya seakan mengalir menuju wajahnya dan kupu-kupu berterbangan dari dalam perutnya. Reflek, ia melompat menuju gadis indigo itu dan memeluknya.

"AAAAAA... TERIMA KASIH HINATA!" teriaknya, kesenangan. Hinata hanya bisa menahan degup jantungnya agar tak ambruk di gazebo ini.

"Baiklah Hinata, ini sudah malam, sebaiknya aku pulang dulu. Jaa ne! Sampai jumpa besok sore di taman konoha!" Ujar Naruto, lalu berlalu meloncat ke atas tembok pembatas klan Hyuuga itu.

"Jaa, Naruto-kun.."

Naruto berjalan melalui kompleks perumahan elit Hyuuga itu dengan santai, semenjak menjabat jadi Hokage baru Konoha, ia sudah jarang bersantai-santai seperti ini. Sepertinya seporsi mangkuk ramen lumayan untuk mengisi perutnya.

"Baiklah, aku akan ke kedai paman teuchi dulu." Ujarnya.

.

.

.

Konoha Hospital, 19:35 waktu setempat.

Sasuke menatap datar ke arah pintu transparan itu. Sudah sekitar satu setengah jam ia menunggu seseorang disana, tanpa berniat masuk menanyakan kapan orang itu akan keluar.

KLEK—Mendengar pintu itu terbuka, reflek pemuda raven itu bersembunyi di balik pepohonan, memperhatikan orang yang ia tunggu sedari tadi berjalan keluar dari tempat itu.

"Jadi, kau ingin memesan seratus bunga lily putih minggu depan?" tanya seorang gadis bersurai kuning pucat pada gadis itu.

"Hm, ya. Hinata bilang, selain bunga lavender, ia menyukai bunga lily. Bisa kan, Ino?" Ino hanya mengangguk menanggapi perkataan Sakura. Mereka terus berbincang melewati jalan setapak yang diterangi lampu tersebut. Sesekali mereka tertawa dengan obrolan mereka sendiri.

'Minggu depan, Hinata, bunga lily?' tanya Sasuke pada diri sendiri. Kakinya terus melangkah mengikuti gadis bersurai bunga musim semi itu tanpa ia sadari. Merasa bersalah eh, Sasuke?

"Aku berniat melaksanakannya di taman konoha, semo—"

KRASH!—Tanpa sengaja, Sasuke menginjak bekas botol minuman yang tergeletak sembarangan di jalan. Seketika, keringat dingin memenuhi wajah stoicnya, takut-takut dibunuh Tsunade kedua itu di tempat mengenaskan seperti ini.

HYUUU—TAK!

Sebuah kunai mendarat telak tepat di sebelah telinganya, jantungnya berdegup cepat namun tetap berusaha berekspresi datar layaknya Uchiha. Onyxnya dengan tajam menatap ke arah dua gadis yang tak jauh dari hadapannya.

"Siapa itu?!" Teriakan dari Sakura yang memekakkan telinga itu membuat pemuda Uchiha itu tersentak, susah payah ia menyembunyikan jejak chakranya, tetapi dapat ketahuan hanya dengan botol bekas?

"Kau salah dengar mungkin, Sakura." Ujar Ino sambil menenangkan sahabatnya itu.

"Hmm, mungkin. Yasudah, ayo lanjutkan jalannya."

Sakura dan Ino kembali berjalan menuju rumah mereka, meninggalkan Sasuke yang masih terpaku di tempatnya.

'Cih, sial.'

.

.

.

Apartemen, 21:07 waktu setempat.

Naruto memandang bulan sabit dari balkon apartemennya. Apartemen yang sudah ia singgahi sejak kecil hingga menjadi Hokage sekarang memang tak banyak berubah, hanya sedikit lebih rapi daripada dulu-dulu. Serta, pewangi arroma lavender yang akhir-akhir ini sering ia beli menyeruak di ruangan kecil itu.

Angannya menerawang, memikirkan rencana Sasuke yang baru hari ini masuk ke dalam otaknya. Jika dia berhasil menggagalkan pernikahan Sakura dan Hinata, siapa yang harus ia pilih? Jelas-jelas Sasuke menolak mentah-mentah Sakura dengan berbagai alasan. Dan ia sudah lama menaksir gadis bersurai bubble gum itu. Tetapi, akhir-akhir ini ia memang dekat dengan Hinata.

Sakura atau Hinata?

Mengucapkan nama mereka saja membuat Hokage Konoha itu melayang, kecantikan, keanggunan, dan kehebatan mereka dalam bidang ninja memang tak bisa dipungkiri, dia mengakui itu. Tapi, masa ia harus poligami?

Naruto menggeleng cepat, apakah ia harus mengikuti ayahnya? Memilih Sakura yang notabenenya mirip ibunya, Kushina?

Ia menggeleng lagi, atau ia harus mengikuti ibunya? Memilih Hinata yang tenang, lemah lembut dan pengertian layaknya Ayahnya, Minato? ARGGHH! Kenapa cinta serumit ini?

Suara gemuruh dari dalam perutnya mengganggu pikirannya, semangkok ramen yang ia makan tadi tak cukup untuk menahan lapar yang melanda perut besarnya. Jika ia memiliki istri yang bisa memasak, pasti akan enak sekali. Tetapi, adakah di antara keduanya yang bisa memasak?

Sakura, ia tak pernah mencoba masakan kunoichi hebat itu. Menurutnya, Sakura hanya bisa memasakan satu jenis makanan yang sama sekali ia tidak suka, yaitu sup tomat, kesukaan Sasuke. Dan ia tidak tau lagi, apakah Sakura bisa membuat ramen kesukaannya?

Hinata, ia juga tak pernah mencoba masakan Heiress Hyuuga itu. Tetapi, ia sering mendengar teriakan Kiba dan Shino yang rebutan bento buatan Hinata saat melewati tempat team mereka latihan. Apakah sebegitu enak masakan Hinata hingga Shino yang sependiam itu menjadi OOC seperti dirinya?

"Hey Hinata, bisakah kau membuatkanku ramen?" Ujarnya tanpa sadar, berharap angin menyampaikan ucapan sederhana namun bermakna itu ke telinga sang gadis.

.

.

.

.

.

-TBC-

Hai. Hana is back. Lama gak ngepost, lagi buntu. Eh pas lagi nyari ide, ketemu angan beginian. Sebenernya ini oneshot, tapi karena kepanjangan, aku bagi dua shot.

Hm, Ok. Mind to review?;)