Yongyuan Bu Likai Wo

Author : Barbie Huang

Pair : KRISTAO – CHANTAO – CHANBAEK

Cast : WUFAN / Kris (EXO M) - Huang Zi Tao/ Tao (EXO M) - Park Chanyeol (EXO K)

Slight : Park Chanyeol – Park Baekhyun (Incest)

Genre : Romance, Drama. School Life, Hurt, Triangle Love

Disclaimer : SMEnt and EXO (* ofc GOD.

Inspirated : RIVAL NEXT DOOR (Shiraishi Yuki)

.

YAOI / BOY X BOY / SHOUNEN AI / BL

.

DONT LIKE, DONT READ!

.

DONT 'COPY PASTE' MY HARDWORK! GOD WATCHING! GOD NEVER SLEEP!

.

Perhatian : Karena chapter ini saya post saat bulan puasa. Mohon kebijakan para reader untuk membaca FF ini disaat keadaan yg tepat. Memang tidak ada adegan aneh- aneh atau menjurus ke rate dewasa. Hanya saja untuk jaga- jaga. Sebaiknya dibaca saat malam hari / saat sudah berbuka puasa. Terima kasih~


.

.

.

.

Tidak bisakah seperti ini selamanya?

Tidak ingin genggaman tangan kita terlepas—

Tidak bisakah aku memeluk keduanya secara bersamaan?

Tanpa harus memilih satu diantaranya?

.

.

.

.


CHAPTER IV- KISS


.

Sudah nyaris pukul 8 malam, namun Wufan belum juga pulang kerumah Tao. Wufan tidak mungkin pulang kerumahnya karena kunci rumahnya berada dilaci kamar tamu yang digunakan Wufan, Tao sudah memeriksa. Apalagi ayah dan ibu Wufan baru akan pulang beberapa minggu lagi. Tidak ada alasan Wufan akan pulang kerumahnya.. karena itu, Tao seakan hilang akal. Jadi Wufan sedang berada dimana hingga belum pulang selarut ini? Bahkan ponselnya tidak aktif.

.

Dengan wajah luar biasa cemas.. Tao menunggui Wufan diteras depan rumahnya. Bukan hanya udara yang amat dingin, keadaan diperburuk dengan hujan lebat saat ini. Hanya dengan memakai sweater berwarna merah, Tao duduk disebuah kursi.

"Wufan.. Dimana kau!" Bisik Tao sembari memeluk tubuhnya. Dingin—Tao tidak bisa membayangkan Wufan kedinginan diluar sana. Wufan tanpa kehangatan.. dimana? Dimana pemuda itu sebenarnya? Oh Tuhan, Tao bisa gila jika Wufan tidak pulang sekarang juga!

Karena hari hujan, Tao tidak membiarkan Chanyeol untuk keluar dari rumahnya. Bukan tanpa alasan, karena tubuh Chanyeol memang agak lemah. Apalagi Chanyeol suka sekali berkunjung kerumah Tao lewat pagar belakang pembatas kediaman Park dan Kediaman Huang. Ia bisa terjatuh bahkan tergelincir mengingat hujan masih saja mengguyur kota itu. Dengan ancaman, 'Tidak akan mengajak bicara Chanyeol selama sebulan', pemuda bersurai coklat karamel tersebut mau menurut. Alhasil, hanya Tao yang kini menunggui Wufan pulang.

"Wufan..." Tao nyaris menangis. Ia tidak menyangka Wufan akan menghindarinya sampai seperti ini. Ia hanya ingin Wufan ada dihadapannya. Apapun yang Wufan inginkan, Tao akan berusaha untuk memberi.. Hanya agar Wufan tidak berlaku lagi seperti ini untuk kedepannya.

"Wufan—kumohon."

.

Graak

.

Hingga suara pagar terbuka mengalihkan pandangan Tao yang dari tadi menatap lantai menuju kedepan. Mata Tao membulat sempurna kemudian ia berdiri tegap. Lega menyergap hati ketika melihat pemuda tampan yang basah kuyub berlari kearahnya. Siapa lagi kalau bukan—

.

"Oh, Tuhan! Wufan!" Tao langsung mengusap wajah basah pemuda tampan yang sudah berdiri didepannya. "Kau kehujanan!"

.

"Ma—maaf.. Aku—aku pulang—larut." Wufan berusaha berbicara selagi giginya bergertak karena menggigil. Tao menggeleng pelan dan tersenyum. Ia begitu lega melihat Wufan, ia tidak akan memaki atau menasehati pemuda tampan itu saat ini. Wufan sudah pulang dan berdiri dihadapannya saja sudah cukup!

"Ayo, masuk!" Tao langsung merangkul pundak Wufan dan membawa masuk kedalam rumah. Tidak menunggu, Tao dan Wufan menuju kamar mandi. Bagaimanapun Wufan benar- benar basah kuyub, ia harus cepat mandi agar tidak terserang penyakit. Tao dalam diam membantu Wufan melepas jas sekolah, setelahnya ia langsung mengisi bathtub dengan air hangat. Benar- benar tidak ada pembicaraan. Mereka sibuk dalam pikiran masing- masing. Entah pemikiran tentang kesalahpahaman yang mungkin terjadi ataupun—perubahan.

.

"Wu.. Fan.."

.

Panggilan halus itu menghentikan gerakan Wufan yang akan membuka kancing kemeja basah yang masih ia kenakan. Ia tatap punggung pemuda manis yang membelakanginya dengan taat. Tao masih menghadap bathtub. Wufan tidak membuka suara, ia hanya memandang punggung Tao yang bergetar pelan. Wufan tidak tahu, mati- matian pemuda manis itu menahan sesuatu.

.

"..kau menghindariku?"

.

Pertanyaan yang dilayangkan tanpa basa- basi oleh seorang Huang Zitao.

.

"Ya."

.

Jawaban jujur dari Wufan membuat air mata Tao tumpah begitu saja, cepat- cepat ia hapus air mata dari pipi dan berbalik badan. Menatap dengan tajam pemuda tinggi berambut pirang yang juga memandangnya. Sorong mata mereka berbeda cahaya. Berbeda makna dan berbeda maksud. Berbeda paham—

.

"Kenapa?"

.

Pertanyaan Tao menuntut seperti busur panah. Merayu Wufan untuk mendekati pemuda manis yang kembali menitikkan air mata. Jarak mereka dekat, hanya selangkah.. memudahkan layangan tangan Wufan mengusap air mata dipipi si peri manis. Bagi Wufan.. Tao adalah peri. Bagi Wufan.. Tao adalah dunia dongengnya yang akan selalu berakhir dengan kalimat 'Happily Ever After', ironisnya Tao lah penoreh luka terdalam dihati Wufan.. bagi Wufan—keberadaan Zitao adalah anugerah dimuka bumi ini. Bagi Wufan—keindahan dan kesempurnaan terangkum pada sosok Huang Zitao.. bagi Wufan—

.

Tao tidak tergantikan.

.

"Aku ingin merubah takdir-ku." Wufan memasukkan tangannya kedalam saku celana kemudian mengarahkan genggaman tangan itu tepat dihadapan Tao. "..untukmu."

.

Tao memandang sesaat wajah Wufan kemudian menengadahkan tangannya tepat dibawah genggaman tangan Wufan. Begitu Wufan membuka genggaman tangannya, sebuah benda sangat mungil terjatuh tepat ditadahan tangan Tao. Mengenal benda mungil yang ada ditangannya, Tao menatap Wufan lekat. Tidak percaya.

.

"Anting ini..." Bisik Tao pelan sekali. "Kau.."

.

Wufan mengangguk kemudian mengeluarkan alat melubangi telinga dari saku celananya. "Aku bantu memasangnya.."

.

Tao menggerakkan tangan kanan kearah telinga kiri Wufan, menyingkirkan helaian rambut pirang basah agar tidak menutupi daun telinga si tampan. Ia lihat anting mungil berwarna hitam pekat terpasang sempurna pada telinga Wufan, sama seperti anting yang ada ditangan Tao. Oh Tuhan... Apakah Wufan sangat bersungguh- sungguh untuk mengubah takdirnya?

"Wu Fan.. aku—"

"Aku hanya ingin memberimu anting itu.. Bukankah kau sendiri yang mengatakannya?."

.

Tao nampak berfikir sejenak, kemudian mengangguk pelan. Wufan tersenyum dan menarik tangan Tao untuk mendekat dengannya. Pemuda panda memandang wajah Wufan dengan taat. Ucapan Wufan seperti kebohongan. Bukan—Wufan seperti benar- benar ingin melakukan sesuatu dan merubahnya agar tidak sama lagi.. Tao hanya takut.

.

Apa yang sebenarnya ingin Wufan ubah?

.

"Tutup matamu." Bisik Wufan lembut.

.

Tao menutup mata, menuruti ucapan Wufan. Membiarkan dirinya sepenuh hati menuruti suara Wufan. Yang ia rasakan hanyalah pelukan dan daun telinga sebelah kanannya terasa dingin. Alkohol?

.

"Percaya padaku."

.

Bisikan Wufan seakan menjadi bius penenang bagi Tao. Ia menggenggam kuat kemeja Wufan dibagian dada. Jaraknya dengan Wufan tipis sekali. Tao merasakan hembusan nafas Wufan ditengkuknya. Suara Wufan seperti melody dipendengaran Tao saat ini, begitu menenangkan... hingga rasanya nyaman. Tidak takut.

.

Semua terjadi begitu cepat, saat Tao merasakan besi tipis itu menembus kulit dan daging. Membuat Tao terpekik kecil ketika anting mungil tersebut sudah masuk kedalam lubang telinga baru miliknya. Tao memejamkan mata erat- erat saat perih dan nyeri ia rasakan dibagian telinga. Tak sadar, ia sandarkan kepalanya pada dada Wufan. Menyembunyikan wajahnya yang meringis menahan perih. Sakit—

.

Sakit?

.

Yang mana?

.

"Tao..."

.

Panggilan Wufan membuat Tao mendongakkan wajah, dengan mata berair ia tatap si tampan yang tengah tersenyum. Wufan menuntun Tao menuju cermin besar yang berada dikamar mandi itu, kini memeluk tubuh Tao dari belakang.. Wufan menatap pantulan dirinya dan Tao didalam cermin tersebut. Menjepit helaian rambut hitam disela- sela daun telinga Tao..

.

"Selamat.. kau baru saja merubah takdirmu." Bisik Wufan tepat ditelinga Tao.

.

Tao dengan perlahan, mengangkat tangan, memegangi daun telinga sebelah kanan yang terpasang sebuah anting berwarna hitam pekat. Sama seperti milik Wufan, bedanya.. Wufan, anting bagian kiri dan Tao, anting bagian kanan. Seperti Couple Piercing saja.

.

"..indah." Tao tersenyum tipis melihat pantulan dirinya dan Wufan dicermin. Mata Tao kembali melihat telinganya dari cermin, ia sebenarnya belum siap memakai anting- anting seperti ini.. akan tetapi, ada sebuah keinginan kuat untuk Tao agar mengikuti Wufan. Lagipula, Tao sepertinya tidak menyesal. "...Wufan—terima kasih."

.

Wufan tersenyum tipis sekali, ia tidak menyangka Tao akan berterima kasih padanya. Dengan pelan, Wufan mengarahkan tubuh Tao agar berhadapan dengannya. Memandangi anting yang tersemat didaun telinga Tao, membuatnya begitu lega. Sangat! Mereka bertatapan cukup lama hingga Tao membuka suara.

"Mengapa.. kau ingin merubah takdirmu, Wufan?"

Wufan diam.

"Kau juga melubangi telingamu.. pasti ada alasan kuat hingga kau ingin memakai anting seperti ini, bukan?"

"Ya.."

Tao mengusap wajah Wufan lembut sekali. "Mengapa...?"

.

Jangan salahkan aku.

.

"Karena.." Wufan terhenti sejenak. Ia berfikir sangat keras.. Apakah ia siap merubah kehangatan ini dalam satu kalimat menyakitkan namun melegakan?

.

Jika kau tidak mau mendengarnya—

Tutup telinga dan hatimu.

Jangan dengarkan!

"Wufan?"

Maafkan aku.

.

"..karena aku.." Wufan menangkup pipi Tao dengan kedua tangannya. "...tidak bisa lagi menjadi sahabatmu, Tao."

.

DEG

.

Mata Tao membulat sempurna, tidak menyangka ucapan itu keluar begitu saja dari bibir Wufan. Belum sempat Tao membuka mulutnya untuk berbicara—

.

Sebuah penyatuan kecil terjadi dengan tiba- tiba.

.

Ciuman.

.

Tubuh Tao diam seketika saat dengan jelas ia merasakan bibir lain menekan bibirnya. Tidak bisa berfikir ketika tangkupan tangan terlepas, digantikan dengan pelukan posesif. Tao tidak bisa melakukan apapun saat ia sadar dengan jelas siapa yang melakukannya.. Wufan menciumnya... tepat dibibir.

.

Wufan— sahabatnya.

.

Tidak boleh!

.

"A—ah!" Tao berusaha mendorong tubuh Wufan, namun semakin banyak tubuh itu meronta... Wufan semakin memperdalam ciuman mereka. Membuat Tao kehabisan nafas untuk melawan. Pasrah ketika tubuhnya terdorong hingga membentur dinding. Tidak bisa melakukan apapun selain membiarkan Wufan menguasai dirinya. Tidak! Ini semua harus dihentikan.. Tao tidak boleh hanyut dalam ciuman Wufan yang menuntutnya lebih jauh!

.

Tidak!

.

Hentikan!

.

Tao mendorong tubuh Wufan sekuat tenaga hingga ciuman basah mereka terputus begitu saja, Tao membekap bibirnya yang terasa sedikit bengkak oleh ulah Wufan beberapa detik yang lalu. Bukannya minta maaf, Wufan tersenyum tipis dan menjilat bibir bawahnya. Membuat Tao tersentak—Wufan yang berbeda...

.

Siapa?

.

"Apa yang—sahabat tidak melakukan hal seperti itu, Wu Fan!" teriak Tao keras. Ia tidak terima dengan wajah Wufan yang seperti tanpa ekspresi dan..tanpa dosa.

.

"Sudah kukatakan bahwa aku tidak bisa menjadi sahabatmu lagi."

.

Tao menggeleng cepat, air mata tak bisa Tao hindari kali ini. Ia menangis dan Wufan tidak mengatakan apa yang Tao harapkan. Wufan hanya memandangi Tao tanpa berkedip. Memandangi sosok manis yang membuatnya jatuh dan terpuruk. Apa yang ia lakukan baru saja, adalah bukti bahwa kesungguhan hati Wufan tidak bisa bertahan lagi sebagai—sahabat Tao.

.

"..kau sahabatku.. apa yang kau katakan!"

.

"Aku tidak bisa!" Wufan sedikit berteriak.

.

Tao terdiam karena baru kali ini Wufan serius membentaknya. Mata Wufan dingin seakan menahan pilu. Nafas berat Wufan terdengar sendat, pemuda tampan itu tidak bisa menahan hati lebih lama. Ia ingin dilihat sebagai 'orang lain' dimata Tao.. bukan sahabat yang tidak bisa memiliki ikatan lain. Tidak ingin punya batasan ketika mereka bersentuhan dan berinteraksi lagi.

.

"Antara aku dan Chanyeol... siapa yang lebih kau sayangi?"

.

Mata Tao membulat sempurna ketika pertanyaan telak dilayangkan oleh Wufan. Tidak percaya dan tidak mau mendengar pertanyaan seperti itu sebenarnya, Tao mengalihkan pandangan kearah bawah, menunduk. Tidak kuasa melihat wajah Wufan yang penuh tuntutan. Bisa dilihat tangan Tao bergetar pelan. "Aku.. tidak ingin menjawabnya."

.

"Kenapa?"

.

"Jangan bodoh Wu Fan! Kau dan Chanyeol sama berartinya untukku! Kau dan Chanyeol—bukan pilihan yang bisa aku pilih!" Tao menggeleng cepat. Ia tatap mata pemuda tampan yang nampak kosong dihadapannya. "Bukankah kita sahabat, Wu Fan... sebenarnya apa yang terjadi padamu? Apa aku melakukan kesalahan hingga kau tidak mau menjadi sahabatku lagi?"

.

Ternyata... kau tidak mau mengerti—

.

Wufan tersenyum miris. "Apa aku sebegitu tak bisa kau baca, Tao? Apa maksudku tak bisa kau tangkap sama sekali?"

.

Apa perasaanku tak pernah sampai?

.

"Aku tidak bisa menangkapnya! Tolong jelaskan padaku! Kau membuatku bingung—" kali ini Tao ikut berteriak. "Kau.. kau menciumku.. mengapa.. kau tidak membuatku mengerti..."

.

Wu Fan menatap tajam sorot mata rapuh dihadapannya. Mereka sama- sama menuntut saat ini, tidak ada yang mau mengalah untuk tunduk. Tao mengepalkan tangan ketika mulut Wu Fan tidak juga terbuka untuk bicara. Wu Fan pasti masih berfikir... ia sepertinya memikirkan apa yang harus ia katakan agar Tao mengerti maksudnya dengan jelas. Karena Wu Fan juga sudah lelah—

.

"Wu Fan, jika kau tidak bicara, aku—"

.

"Pernah..." Wufan memotong ucapan Tao cepat. Tao langsung menutup mulutnya, fokus mendengar ucapan Wufan yang sudah berlanjut. "Pernah aku berfikir untuk membuang bahkan melupakan perasaan ini agar kita bisa terus bahagia pada jalan yang aman."

.

Wu Fan mendekat selangkah, namun Tao menjauh selangkah.

.

"Pernah.. ketika aku memelukmu dan mencium puncak kepalamu.. aku ingin mengutarakannya. Kau tahu bagaimana rasanya dihantui perasaan yang selalu membuncah? Menahannya hingga dada terasa sesak.."

.

Tao diam.

.

"Jika kau masih belum mengerti, Zi Tao.. Jika kau masih perlu penjelasan lain.." Wu Fan menunduk sejenak kemudian kembali menatap Tao dengan lekat. Hanya ada mata yang berat disana.. Hanya ada keinginan untuk memiliki. "Aku akan mengatakannya dengan jelas.. tetapi—berjanjilah... kau tidak akan lari dari kenyataan dan takdir."

.

Apakah kau siap?

.

Tao menunduk, ia layangkan kedua tangannya untuk menutup telinga. Akan tetapi, tangan Wu Fan sudah menahannya. Membuat Tao menyadari bahwa jarak tubuhnya dan Wu Fan kembali menipis, ia bisa dengan leluasa menatap pahatan sempurna dari wajah tampan Wu Fan. Begitu tampan hingga mata Tao tidak mengerjap sekalipun.

.

Dengarkan aku—

.

"Aku mencintaimu...

.

DEG

.

...Aku mencintaimu...

.

DEG

.

..Mencintai seorang Huang Zi Tao, bukan sebagai sahabat."

.

Dugh

.

Tao mendorong tubuh Wu Fan amat keras hingga Wufan nyaris saja tersungkur. Tao menggeleng cepat kemudian berlari meninggalkan tempat itu, meninggalkan Wufan yang hanya bisa terdiam ditempat. Tao pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.. Tao pergi begitu saja—

.

Tao sudah mendengarnya.. dan bukanlah wajah bahagia yang tergambar.

.

Bruk

.

"Khhh.." Wu Fan terduduk, ia pejamkan matanya dan merebahkan kepala pada sisi bathtub. Wu Fan masih merasakan tangannya yang bergetar hebat, demi Tuhan ia gugup setengah mati. Seperti nyawa ada diujung kaki ketika kalimat cinta tersebut terucap begitu saja. Wu Fan masih bisa merasakan lembutnya belah bibir merah muda yang tadi bersentuhan dengan bibirnya. Wu Fan masih bisa merasakan getaran tubuh Tao—

.

"Aku.. mengatakannya.. Tuhan.."

.

.

.

Don't speak

Don't tell me cause it's hurt

.

.

.

Brak

.

Tao masuk kedalam kamarnya, wajahnya terlihat sangat merah dan basah. Tao menangis, ternyata. Ia tepis air matanya dengan kasar, namun tidak berguna karena ia masih menangis. Tao terduduk ditempat, bersandar pada kokohnya pintu kayu tersebut. Ia mendongakkan wajah karena merasa oksigen tidak mau masuk kedalam paru- paru. Sesaknya luar biasa—

.

"Tuhan.. Tuhan..." Tao terisak. Suara hujan diluar sana ternyata kalah pilu oleh isakan Tao. Ia tidak menyangka Wu Fan.. sahabatnya.. akan mengatakan hal seperti itu. Tidak penah ia duga Wu Fan akan terlihat seperti itu dihadapannya.. bukan Wu Fan yang selalu mengejeknya ataupun menyindirnya. Bukan Wu Fan yang akan menertawainya dengan keras dan mengecup sayang puncak kepalanya sebagai sahabat. Bukan—

.

-..Mencintai seorang Huang Zi Tao, bukan sebagai sahabat."-

.

"Sakit.." Tao mengusap lubang telinga yang baru saja dibuat Wufan. Rasanya berdenyut nyeri.. Namun— ada bagian yang lebih sakit kini Tao rasakan.

Hati.

Hatinya jauh lebih sakit.

.

"Aku tidak bisa.. tidak mungkin menganggap Wu Fan lebih dari sahabat...hiks.." Tao memeluk lututnya kemudian menenggelamkan wajah disana. Ia bersyukur karena malam ini hujan, karena isakan keras yang kini ia teriakannya seakan redam. Disela- sela isakan keras itu.. Tao menyebut nama..

.

Wu Fan dan...

.

"Chanyeol—"

.

.

.

.

.

Cinta tidak harus memiliki?

Omong kosong...

Yang ada hanyalah.. Cinta itu perjuangan hingga saling memiliki..

.

.

.

.

.


Pagi harinya.


.

Chanyeol memanjat tembok belakang rumahnya kemudian melompat kedalam pekarangan belakang kediaman Huang tersebut. Ia masih menggigit roti dimulutnya. Setelah ia menepuk pelan telapak tangan, ia kembali memegangi roti tersebut dan memakannya. Dengan santai, Chanyeol berjalan menuju teras halaman belakang tersebut, ia tersenyum ketika pintu tersebut tidak terkunci. Tao memang selalu membuka pintu itu setiap pagi, karena Chanyeol pasti selalu datang lewat sana.

.

Setelah masuk kedalam rumah, Chanyeol menelan kunyahan terakhir dari roti yang tadi ia makan. Keadaan rumah Tao masih sunyi, tumben. Biasanya Tao akan heboh sekali didapur bersama Wufan. Chanyeol mengangkat bahu kemudian berjalan kekamar Tao. Tanpa mengetuk, pemuda tampan tersenyum langsung saja membuka pintu kamar si pemuda panda.

.

"Tao.." panggil Chanyeol ketika melangkah masuk.

.

Mata Chanyeol penangkap pemuda panda yang masih duduk didepan meja hias. Pemuda panda yang melamun menatap pantulan dirinya dicermin. Chanyeol mengernyit saat tahu jika Tao belum menyadari keberadaannya. Kaki panjang tersebut melangkah dengan perlahan mendekati Tao. Kemudian terhenti ketika ia berdiri tepat dibelakang pemuda panda.

.

"Ah.." Tao tersentak saat melihat Chanyeol pada pantulan cermin dihadapannya. Chanyeol tersenyum kemudian memeluk Tao dari belakang. Tao yang duduk dikursi hanya bisa tersenyum ketika kedua lengan panjang Chanyeol melingkar dilehernya. "Selamat pagi.. Chanyeol."

.

"Selamat pagi... Apa yang kau lamunkan, Princess Peach?" bisik Chanyeol kemudian mengecup pipi Tao cukup lama.

.

"Ti—tidak.." Tao tersenyum kaku kemudian mengambil sebuah sisir. Chanyeol membuka pelukannya lalu mengambil sisir dari tangan Tao. Tanpa perlu dijelaskan, Tao tahu pasti bahwa Chanyeol ingin menyisirkan rambutnya. Dulu, Chanyeol sering sekali menyisirkan rambut hitam Tao. Dengan sangat lembut dan hati- hati, Chanyeol menyisir rambut Tao, sedang sang pemuda panda hanya diam sembari menatap Chanyeol dari cermin. Ada ketenangan yang ia rasakan ketika melihat sosok Chanyeol.

.

"Chanyeol.." panggil Tao lembut.

"Hmm?"

Tao tersenyum tipis kemudian berbalik badan, Chanyeol menghentikan kegiatannya menyisir rambut Tao dan menatap pemuda manis tersebut dengan lembut. Tao berdiri dari duduknya kemudian memeluk Chanyeol erat. Awalnya Chanyeol cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Tao secara tiba- tiba, walau akhirnya Chanyeol membalas pelukan pemuda manis tersebut sama eratnya. Tubuh Chanyeol yang lebih tinggi dari Tao, membuat pemuda manis itu dengan mudahnya menyembunyikan wajah diceruk leher Chanyeol.

"Ada apa? Ada yang mengganggu pikiranmu?"

Tao menggeleng.

"Kau tidak enak badan? Kalau begitu hari ini tidak usah bersekolah." Chanyeol mengusap rambut Tao sayang. Kembali hanya gelengan yang ia dapatkan. Chanyeol bisa membaca bahwa Tao sedang gundah.. Ada yang membuat Tao tidak nyaman hingga ia butuh pelukan.

"Chanyeol.. maukah bernyanyi untukku?"

Chanyeol mengarahkan wajah untuk sedikit melihat wajah Tao yang tersembunyi diceruk lehernya. Walau ia bingung, Chanyeol akhirnya mengangguk. Ia sandarkan pipinya menyentuh helaian rambut hitam Tao kemudian menepuk pelan kepala Tao dengan kasih sayang. Semata- mata agar Tao nyaman didalam peluknya.

.

"Kita menukar takdir.. yang membimbing pertemuan kita satu sama lain..."

.

Suara nyanyian Chanyeol dimulai.. Tao menutup mata, mencoba senyaman mungkin berada didalam pelukan Chanyeol. Kehangatan yang Tao cari.

.

"Aku tahu kita telah saling menyayangi selama ini.."

.

Teringat wajah Wu Fan begitu saja dibenak Tao, membuat mata dan wajahnya memanas. Tao mempererat pelukannya pada tubuh Chanyeol. Masih saja belum bisa ia percaya kejadian tadi malam yang terjadi begitu saja. Tidak ingin mengingat, tidak ingin percaya..

.

"When you smile, sunshine.. sinar terang yang tak bisa diekspresikan dengan kata- kata.."

.

Setetes air mata jatuh dipipi Tao, tubuhnya bergetar seiringan dengan isakan halus yang terdengar lirih. Chanyeol mengetahui pemuda manis itu sedang menangis kini. Namun—nyanyianya tak terhenti. Jika Tao menginginkan Chanyeol bernyanyi, Chanyeol tidak akan berhenti sebelum Tao yang meminta.

.

"Gejolak yang hancur didalam hatiku.."

-Baby Don't Cry (EXO)

.

Tao mengangkat kepala, menatap Chanyeol sembari menggigit bibir bawah. Chanyeol sangat bingung mengapa Tao menangis saat ini. Apa yang terjadi dengannya tadi malam? Apakah terjadi sesuatu dengannya dan.. Wu Fan?

.

"Jangan menangis.." bisik Chanyeol mengusap air mata dipipi merah pemuda panda yang tersenyum tipis. "Baby.. Don't cry.." lanjut senandung Chanyeol yang membuat Tao mengangguk pelan dan kembali memeluk tubuh Chanyeol dengan erat. Betapa beruntungnya Tao ketika Chanyeol selalu ada disisinya ketika ia butuh seseorang.

.

Chanyeol sahabatnya—

.

"Terima kasih, Chanyeol.." Tao menghapus air mata. "Aku merasa lebih baik jika berada didekatmu."

Chanyeol tersenyum. "Berarti kau mau bercerita padaku, mengapa kau bersedih?"

Tao mengerjapkan mata, ia berfikir. Jika ia mengatakan apa yang telah terjadi tadi malam, tidak ada jaminan Chanyeol akan berkelahi dengan Wu Fan. Tao sangat mengenal Chanyeol, ia pernah nyaris mematahkan kaki seorang anak ketika tak sengaja membuat Tao nyaris terjatuh dari tangga saat mereka masih tingkat 2 Sekolah Menengah Pertama. Tao tentu saja tidak mau Chanyeol dan Wu Fan bertengkar.. Tao tidak akan sanggup melihatnya.

.

"Se— sepertinya kita akan terlambat jika tidak segera berangkat.. Hmm.." Tao berjalan menuju tas ranselnya diatas meja belajar, menjauhi Chanyeol yang pandangannya tetap mengikat Tao. Jujur saja, Chanyeol paling tidak suka jika Tao menyembunyikan sesuatu darinya. Apalagi Tao tidak bisa berbohong, Chanyeol tahu dengan jelas.. kini, Tao tengah menyembunyikan sesuatu.

.

"Huang Zi Tao."

.

Panggilan Chanyeol sontak membuat Tao terhenti. Suara berat pemuda tampan tersebut berubah, tegas dan mengintimidasi. Tao menghela nafas panjang kemudian berbalik badan. Menatap Chanyeol dengan taat. Mengerti tanpa perlu dijelaskan lagi, Chanyeol meminta kejelasan. "Bisakah.. aku menceritakannya disaat—aku sudah menyiapkan apa yang harus kukatakan padamu?"

.

"Menyangkut hal apa hingga kau harus mempersiapkannya?" Chanyeol adalah pemuda yang amat keras kepala. Namun—hanya untuk hal yang menyangkut tentang Tao.

.

Tao tersenyum tipis sekali. "Hal yang bisa merubah persahabatan kita."

.

Setelah mengatakannya, Tao langsung berjalan keluar kamar. Meninggalkan Chanyeol yang membulatkan mata, tidak berbohong ia sangat terkejut mendengar perkataan Tao. Tangan Chanyeol sudah terkepal, ia tidak boleh berfikir yang tidak- tidak saat ini. Ia harus menahannya. Namun ada satu nama yang langsung terlintas didalam benaknya...

.

"Wu Fan.." bisik Chanyeol bengis.

.

.

.

.

.


Ketiga pemuda tinggi berjalan beriringan. Banyak yang memperhatikan mereka, apalagi para gadis- gadis yang berada disekitar sana. Ketiga pemuda itu menuju sekolah mereka. Namun ada yang tidak biasa. Jarang sekali mereka diam seperti ini tanpa ada candaan atau pembicaraan yang mereka hebohkan. Apalagi si pemuda panda yang biasanya tidak bisa diam, Tao.

Chanyeol, melihat ada sesuatu yang aneh antara Tao dan Wu Fan. Tidak biasanya Tao akan berjalan disamping Chanyeol.. maksudnya, Tao biasa berjalan ditengah- tengah antara Wufan dan Chanyeol. Tapi.. kali ini Tao memilih berjalan disamping kiri Chanyeol, alhasil pemuda tinggi berambut coklat karamel tersebut yang berada ditengah. Keanehan lain, Tao dan Wu Fan sama sekali tidak berbicara. Sepatah katapun.

.

"Kalian bertengkar?"

.

Pertanyaan spontan dari Chanyeol membuat langkah mereka terhenti. Baik Wu Fan dan Tao terlihat cukup terkejut dengan pertanyaan langsung seorang Park Chanyeol. Tao menunduk saja, sedangkan Wu Fan menatap tajam Tao yang merapat pada Chanyeol. "Kau melakukan sesuatu yang membuat Tao merajuk atau bagaimana, Wu Fan?"

.

Wu Fan hanya mengangkat bahu menanggapi pertanyaan Chanyeol. "Tanyakan pada Tao. Dia yang mendiamkanku."

.

Deg

.

Dada Tao berdesir pelan saat mendengar Wu Fan menyebut namanya dengan lancar. Mengapa? Mengapa Wu Fan nampak biasa saja.. ia bahkan terlihat tidak memiliki beban. Kembali pada Wufan yang biasanya. Walau Tao tahu dengan jelas dari tadi mata Wufan mengikutinya. Bahkan ketika mereka keluar rumah, mata Wufan seperti pedang yang menusuk tubuh Tao hanya dengan sorot.

.

"Tao?" Chanyeol mengarahkan pandangan pada pemuda panda yang memeluk lengannya kuat- kuat. "Kalian bertengkar karena masalah apa kali ini? Apa Wufan menyembunyikan pakaian dalammu lagi?"

.

"Yah! Bisakah tidak mengungkit hal itu lagi? Sudah kukatakan, benda itu hanya tidak sengaja masuk kedalam tasku!" Wufan berteriak kesal.

"Sudahlah! Kau memang mesum.. mengaku saja!" Chanyeol mencibir.

"Kau juga sama! Saat kau terkilir, dengan manjanya kau minta dirawat oleh Tao selama sebulan penuh! Padahal kakimu sudah sehat dalam tiga hari!"

"H—Ha?! Kau tidak bisa menuduhku seperti itu!"

"Mengaku saja, dasar sial!"

"Apa yang harus kuakui jika hal itu tidak benar!"

Tao mengerjapkan mata melihat pertengkaran kecil antara Chanyeol dan Wu Fan. Rasanya—wajar. Rasanya lebih nyaman seperti ini. Pertengkaran kecil yang malah mempererat mereka. Chanyeol dan Wufan yang selalu berebut perhatian Tao. Tidak ingin ada yang berubah.. selamanya seperti ini juga tidak apa- apa. Tidak harus merasakan rasa sesak seperti tadi malam. Tidak ingin melihat wajah Wufan yang begitu kesakitan menahan hati.. dan.. ciuman itu.

.

Deg

.

Tao menggeleng cepat, ia tidak mau mengingat bagaimana buruknya pengalaman ciuman pertamanya. Ia tidak menyangka Wufan akan mengambil ciuman pertamannya dengan cara seperti itu. Sama sekali tidak.

.

"Hey! Tao katakan pad—" Chanyeol yang masih berdebat dengan Wufan terdiam begitu saja saat ia menangkap wajah Tao yang begitu dekat dengannya. Namun, fokus mata Chanyeol tertitik pada telinga disebelah kanan Tao. Ia lihat benda mungil yang terpasang pada daun telinga Tao.

.

"Anting?"

.

Sorot mata Wufan berubah dingin. Berbeda dengan Tao yang langsung memegangi daun telinganya. "Wu... Wu Fan.. yang memasangkannya.."

.

Chanyeol langsung menangkap Wufan dengan sorot mata dingin. Seketika ia melihat anting yang sama terpasang ditelinga Wufan sebelah kiri. Sama.. Wufan memberi Tao sebuah anting tanpa memberi Chanyeol. Lalu—kedua sikap mereka yang aneh.. Chanyeol mulai berfikir dan menyambung kejadian yang ada sebagai praduga. Chanyeol bersumpah, ia tidak mengerti apa yang terjadi antara Wufan dan Tao. Pemuda berambut coklat kamarel tersebut hanya bisa terdiam sambil berfikir.

.

"Chanyeol! Nanti sepulang sekolah kita ketoko anting ini lagi bagaimana? Wu Fan pasti lupa membeli satu lagi karena tadi malam hari hujan. Kau mau?" Tao langsung menangkup wajah Chanyeol. Bisa Tao tangkap wajah kecewa Chanyeol saat melihat hanya dirinya dan Wufan yang memakai anting. Dan Tao benci itu! Ia tidak akan membedakan antara Chanyeol dan Wufan. Karena bagi Tao kedua pemuda tampan itu sama spesial-nya. Jika Tao memiliki sesuatu, Chanyeol dan Wufan juga harus memilikinya. Itu berlaku juga dengan Chanyeol dan Wufan. Mereka banyak memiliki barang- barang berbentuk sama.

.

Tapi Chanyeol melepas tangkupan tangan Tao untuk bisa menatap Wufan yang hanya bisa memandang Tao sedari tadi. Tanpa bicara.

.

"Kita akan selalu bertiga, kan? Makanya.. Jika aku dan Wufan memakai anting—kau juga! Chanyeol juga harus!" Tao sedikit menarik lengan baju Chanyeol yang masih saja memandang Wufan dengan tajam. "Karena—karena bagiku, Chanyeol dan Wu Fan adalah sama.. tidak ada yang berbeda!"

.

Sama—Tidak ada yang berbeda?

.

"Wu Fan! Kita akan selalu bertiga.. tidak akan ada yang berubah, kan?" Kali ini Tao memandang Wufan, pemuda tampan hanya bisa menahan rasa sakit luar biasa atas semua pertanyaan Tao yang sama sekali tidak memikirkan perasaannya. "Benarkan, Wufan? Kita tidak akan terpecah."

.

Dengan lugu kau hancurkan harapanku...

.

"Iyakan, Wu Fan?!" Tao masih menuntut jawaban dari Wufan. "Kita tidak akan pernah berubah. Chanyeol, aku dan kau akan selalu seperti ini, kan?"

.

Apakah ini jawabanmu tentang pernyataan cintaku tadi malam?

.

Chanyeol tersenyum tipis ketika Tao menuntut Wufan seperti itu. Ia tahu dengan jelas, secara tidak sadar.. Tao menyakiti Wufan saat ini dengan berbagai pertanyaan tersebut. Sebenarnya, Chanyeol tidak mempermasalahkan anting itu, karena jujur saja ia tidak percaya tahayul ataupun.. takdir. Tao mengira Chanyeol akan bersedih karena Wufan hanya memberikan Tao anting sedangkan Chanyeol tidak. Tapi, ketika melihat Tao semakin panik, Chanyeol jadi tidak tega juga.

.

"Baiklah, kita akan ke toko itu sepulang sekolah." Chanyeol mengusap rambut Tao lembut, namun fokus Tao masih saja pada Wufan. Chanyeol tersentak ketika ia melihat mata Tao memerah sembari menatap Wufan tajam. Chanyeol sadar, bahwa yang kini sedang dibicarakan Tao adalah hal serius.

.

"Mengapa kau tidak menjawab, Wu Fan?" Tao berjalan selangkah mendekati pemuda tampan tersebut. "Aku bertanya padamu.. kita bertiga akan selalu bersama... kan?"

.

Apa aku harus berbohong lagi?

.

Chanyeol mengerutkan keningnya, mengerti bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres antara Wufan dan Tao, bukan hanya karena masalah anting. Tidak biasanya Tao menanyakan hal seperti itu dengan tuntutan. Mata Tao juga nampak merah dan berat. Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam? Disaat Chanyeol tidak ada diantara mereka.. apa yang sebenarnya—

.

"Kau mengerti.. aku yakin kau bisa mengerti." Ucapan Tao seakan cairan asam yang masuk kedalam luka Wufan. Secara terang- terangan bahkan dengan tegas, Tao tidak mau merubah apapun walau ia mendengar ucapan cinta dari Wufan tadi malam. Seakan semua tidak berguna dan jauh lebih buruk.

.

Sadarkah kau—mengorek luka hatiku lebih dalam?

.

"Kau kejam."

.

Perkataan Wufan membuat Tao terdiam. Apalagi Chanyeol yang semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Wufan dan Tao. Sejurus kemudian, Tao berlari meninggalkan Chanyeol dan Wufan. Tentu saja Chanyeol langsung mengambil tindakan untuk mengejar Tao, namun bisikan Wufan menghentikan langkah Chanyeol—

.

"Aku mengatakannya, Chanyeol..."

.

"Ha?" Chanyeol yang terhenti memandang Wufan dengan taat. Tidak ada keraguan dimata Wufan. Pemuda tampan keturanan Canada tersebut malah terlihat dingin dan tegas. Matanya mulai berbahaya ketika Chanyeol memandangnya dengan tatapan marah luar biasa. "Jangan katakan bahwa—"

.

"...Kesepakatan tersebut—tidak berlaku lagi untukku."

.

.

.

.

.

.Aku akan menunggu hingga kau mau menerima kenyataan...

..bahwa kau juga mencintaku.

Berbohonglah saat ini...

Tutupi rasa cinta itu dengan kenyamananmu

Namun yang harus kau tahu—

Aku masih ditempat yang sama..

Menunggumu berbalik arah—

Arah dimana hanya ada aku yang membuka pelukan untukmu...

Selamanya.

.

.

.

.

.


Continue


.

.

.

AAHHH! Saya g pernah bosan mengucapkan terima kasih pada semua reader. Terima kasih atas semua dukungannya bahkan koreksinya. Jika masih ada yang membingungkan di chapter ini. saya akan berusaha memperjelas di chapter depan. #bow

Dan, karena ini bulan puasa, saya minta maaf yah kalau pernah menyinggung hati reader sekalian. Yah biar puasa saya jalannya lancar ^^

FF lebay alay aneh yang saya bikin ini kali aja ada yang nyinggung hati reader tanpa sengaja. #mohon maaf.

(Taoris di Russia kyk Honeymoon yah~ Ahhhhh! Mereka berdua sweet bgt! Kawinin nyok~)

Oke, sekian.

.

Barbie Huang.