Deidara, Sasori, Kisame, & Itachi Another Story

Kaori Suruga Present

Disclaimer : Original Character from Naruto by Masashi Kishimoto


Pagi yang cerah di tempat persembunyian Akatsuki. Kisame terlihat menyusuri pintu menuju hutan dengan santai dan tentunya sedikit menyeringai –yah apa boleh buat gigi yang dimilikinya adalah gigi ikan (?)- yah hanya sedikit.

"Kisame-channn…!"

Kisame langsung menoleh ke balik punggungnya dan terlihat Deidara berlari-lari kecil sembari melambai kearahnya.

Kisame menghela nafas, matanya sedikit menyipit, "Ada apa ?"

Deidara menghentikan langkahnya tepat di depan Kisame, kemudian menyeringai lebar, "Hei hei Kisame-chan, ayo kita ke kota!" Ucapnya girang.

"Hah ? Untuk apa ?" Ucap Kisame yang hanya menatap Deidara datar.

Seketika Deidara memanyunkan bibirnya, persis seperti seorang gadis yang sedang ngambek.

"Uh, Kisame-chan…Aku bosan! Aku ingin ke kota dan makan ramen." Eluhnya.

Hening sejenak, Kisame hanya diam dan tampak sedang berpikir.

Itachi sedang pergi menjalankan misi bersama Sasori, jadi tidak ada salahnya aku bersenang-senang kan ?

Kisame masih tampak serius berfikir sementara Deidara mulai menghentakkan kakinya – dan masih dengan memanyunkan bibirnya – kesal, tak sabar menunggu jawaban Kisame.

Huh tentu aku boleh, lagipula Itachi juga bersenang-senang dengan Sasori.

"Cepatlah Kisame-chan !"

Kisame sedikit tersentak, matanya kembali menyipit kearah Deidara, "Oke kita akan pergi ke kota."

Seketika itu juga mata Deidara berbinar, nampak begitu senang yang sedikit pun tidak berusaha ia sembunyikan.

"Kalo begitu ayo pergi, berarti ini kencan! " Seru Deidara sembari mengacungkan jari telunjuknya keatas.

Mata Kisame terbelalak kaget, tampangnya melongo dan ia merasa mungkin ia salah dengar.

"Tu-tunggu Deidara, apa yang kau katakan barusan ?"

"Kencan Kisame-channn 3."

Kisame menutup wajah dengan sebelah tangannya, ia tahu yah ia selalu tahu kalau mengiyakan ajakan Deidara akan membawa bencana.


Sementara itu , Itachi dan Sasori sedang berada di sebuah hutan yang berjarak sangat jauh dari Markas Akatsuki. Yah cahaya pagi sedikit menyinari area bekas perapian yang mereka buat tadi malam. Itachi masih menatap sekelilingnya tanpa sepatah kata pun dan Sasori masih berdiri dengan sedikit bersandar di salahsatu pohon yang jaraknya tidak begitu jauh dari posisi Itachi.

Itachi terdiam kemudian berbalik dan melangkah kearah Sasori perlahan.

"Ayo kita pergi Sasori." Ucap Itachi datar.

Sasori membuka matanya perlahan kemudian menatap Itachi, "Misi kita sudah selesai, kita akan kembali ke markas ?"

"Ya…"

Suasana kembali hening, Sasori hanya menatap salahsatu daun di salahsatu batang pohon yang sedikit melambai tenang karena desiran angin yang lembut. Matanya beralih ke Itachi yang sepertinya sedang menatap dan menunggu jawaban darinya.

Sasori menegakkan tubuhnya, "Kita pergi ke kota…"

Seketika mata Itachi menyipit, seperti menuntun penjelasan mengapa mereka harus kesana dan untuk apa – yang bagi Itachi mungkin terkesan merepotkan atau apalah –

"Aku merasa Deidara juga pergi ke kota."

Itachi hanya diam tetapi tak lama kemudian mengangguk kecil yang nyaris tak terlihat.

Kemungkinan Kisame pun pergi bersama Deidara.

"Baiklah kita segera berangkat, kita akan tiba besok pagi jika kita bergerak lebih cepat." Ucap Sasori.

"Baiklah." Balas Itachi datar – yang masih terlihat memikirkan sesuatu tapi entah apa itu -


Kisame mempercepat langkahnya, lagi, lagi, dan …

"Kisame-chan!" Seru Deidara yang mengekor dari belakang.

Kisame tak melirik sama sekali, tetap memacu langkahnya cepat. Deidara sedikit berlari-lari kecil dan akhirnya berhasil menyamai langkah Kisame.

Deidara menengadahkan kepalanya keatas kemudian melirik Kisame. Kisame memang lebih tinggi darinya, garis bahunya yang tegas kemudian pembawaannya yang gagah.

Deg !

Deidara menekan dadanya, jantungnya memacu cepat.

He-hei kenapa dengan jantungku?!

Kisame melirik Deidara, "Hei kau kenapa ?"

"Eh ?" Deidara mendongak, memaksa tersenyum tapi itu semakin membuat wajahnya aneh tak karuan.

"Aku baik-baik saja Kisame-chan!" Jawabnya cepat, menutupi kegugupannya.

"AH!" Teriak Deidara tiba-tiba –yang suaranya cukup menyakiti telinga Kisame-.

Kisame menyipitkan matanya, "Apa lagi kali ini."

Mata Deidara terbelalak kearah sebuah kedai di seberang mereka, Kisame mengikuti pandangan Deidara dan akhirnya terfokus kepada dua orang yang menggunakan seragam yang sama seperti milik mereka.

"Bukankah itu Itachi dan Sasori ?!" Pekik Kisame –Oke sebuah erangan agak berlebihan tapi itulah kenyataannya, kalian tahu dia kan hiu (?) salah tepatnya ah lupakan-.

"Sasori! Itachi!" Teriak Deidara sembari melambai kearah kedua orang itu yang kini menoleh kearah mereka.

Deidara berlari menghampiri Itachi dan Sasori dan Kisame mengikuti di belakang, pelan.

Mata Deidara berbinar menatap mereka berdua, "Hei kenapa kalian bisa disini? Bukankah kalian sedang dalam misi?"

"Kami hanya mampir." Jawab Itachi datar.

Garis mata Kisame berkerut, menatap Itachi kemudian beralih pada Sasori dalam diam –Ohooo Kisame-chan cemburu!-.

Sasori membuka matanya lalu menatap Deidara dan Sasori bergantian, "Lalu kalian? Sedang apa disini?"

Deg!

Kisame berkeringat dingin, jantungnya berdebar cepat. Itachi menatap Kisame datar tapi itu seperti menembakkan sebuah pistol tepat di jantung Kisame saat ini.

.Mati !

Kisame mengerang dalam hati. Sebaliknya Deidara begitu antusias, terlihat dari kedua matanya yang berbinar serta tawa yang tak pernah hilang dari wajahnya.

"Kami sedang kencan! " Jawab Deidara girang.

Kisame kembali mengerang dalam hati, mulutnya sedikit menganga dan wajahnya pucat –bisa kalian bayangkan?-. Itachi terlihat semakin tua, ah salah maksudnya tatapannya begitu dingin yang seakan bisa membuat Kisame membeku saat itu juga. Deidara tetap girang tetapi Sasori tak begitu. Memang wajah Sasori selalu datar tapi nampak sedikit guratan di alisnya.

Suasana hening sejenak, kemudian Itachi membuka mulutnya, "Apa itu benar Kisame?" Ucap Itachi, wajahnya merunduk dan hanya tersisa bayangan gelap yang menutupi binar matanya.

Kisame hanya diam, tak mampu berkata-kata. Mulutnya sedikit bergetar.

"Sebaiknya kita minum dulu." Sela Sasori.

"Ah, benar kata Sasori-chan. Lebih baik kita minum dulu di dalam. Bagaimana Kisame-chan? Itachi-chan?" Sahut Deidara.

"Baiklah." Balas Itachi datar.

Kisame hanya mengangguk setuju. Sasori masuk terlebih dahulu diikuti Itachi kemudian Deidara dan Kisame.

Kenapa ini terjadi padaku?! Kuso!

Kisame memijat-mijat pelipisnya yang berkedut. Ia sekarang merasa Deidara adalah malaikat maut yang datang untuk membunuhnya dengan cara yang tidak biasa.


"Mau pesan apa tuan?" Tanya seorang pelayan paruh baya yang memegang sebuah baki di tangannya.

"Sake." Jawab Itachi cepat.

Kisame melelirik Itachi sekilas kemudian kembali memandang kearah pintu masuk.

Sasori memutar-mutar sumpitnya kemudian tanpa menatap si pelayan,"Aku mau ramen."

"Ah! Aku juga! Kau mau pesan apa Kisame-chan?" Seru Deidara.

Kisame tampak ragu-ragu, jantungnya masih berdebar walau tidak secepat ketika Itachi menatapnya. Ia meremas tangannya perlahan yang ia letakkan diatas meja, berusaha menahan rasa gugup dan bersalahnya.

"Cepat pesan." Ucap Itachi ketus tanpa menatap Kisame.

Kisame membuka sedikit mulutnya,"Ba-baiklah. Aku pesan gyoza saja." Ucap Kisame dengan sedikit terbata.

"Baik, kalau begitu akan segera saya siapkan tuan."

Si pelayan berbalik dan berjalan ke sisi kanan menuju kearah dapur. Sementara itu, suasana kembali hening. Deidara sibuk memutar sumpit diatas meja sembari bersiul sedangkan Sasori memainkan kedua jari layaknya seorang pianis yang sedang konser di sebuah orchestra –kata konser dengan orchestra rasanya kurang cocok, kalo ada yang mengetahui kata yang lebih bagus beritahu aku, oce! (?)-. Kemudian ke sisi yang satunya, Itachi hanya menatap tembok tanpa bergeming sedikit pun –Aku akan merasa bahagia menjadi tembok itu, merasa di jelajahi mata Itachi itu mebuatku merasa di telanjangi (?) eh salah lupakan apa yang kukatakan barusan!- lalu Kisame masih tetap terduduk lesu dan sesekali membuang nafas, terkesan putus asa memang.

Kisame kembali mencurahkan apa yang ingin dikatakannya pada hatinya (?) sehingga hanya hatinya, otaknya, dan dirinya yang tahu mengenai kegelisahannya (?).

Itachi marah, Dia membenciku!

Dahi Kisame berkerut dalam, jarinya memilin satu sama lain membentuk lingkaran yang saling bertautan.

Kami-sama, what can I do now ?!

Sasori tiba-tiba melirik Kisame dan menyadari hiu itu sedang gelisah. Bukannya merasa khawatir, Sasori malah sekilas menunjukkan senyum licik dan tentunya tidak disadari oleh ketiga orang lainnya –Tepatnya dua, karena seperti yang kalian dan aku pikirkan mau bagaimana pun Kisame itu ikan eh hiu-.

Tak berselang lama seorang pelayan berjalan kearah mereka dengan baki yang penuh. Dengan cekatan si pelayan meletakkan mangkok-mangkok yang mengepulkan asap hangat serta beberapa gelas berikut cemilan pendamping sake tentunya.

"Maaf menunggu, Tuan. Silahkan dinikmati, saya permisi." Ucap si pelayan yang kini lebih muda dari yang sebelumnya kemudian membungkuk sedikit tapi tak begitu rendah seperti salam resmi.

Deidara dengan cepat meraih sumpit dan sedikit menggoyangkan badannya, "Selamat makan!" Serunya dan langsung melahap ramen itu.

Itachi meraih gelas sakenya kemudian meminumnya dengan sekali tegukan. Sasori meraih ramennya dan meletakkannya tepat di depan tubuhnya. Kemudian Sasori menatap Deidara.

"Hei."

Deidara memperlambat laju sumpitnya dan menatap Sasori,"Ada apa Sasori-chan?" Ucapnya tapi tetap melanjutkan makan.

"Tadi kau ingin mengatakan apa padaku?"

Deidara sedikit mengerutkan dahinya, berusaha mengingat,"AH! Aku kan saat ini sedang kencan dengan Kisame-chan . Dan kebetulan kalian ada disini, bagaimana kalau kita membuatnya menjadi double date?!" Seru Deidara.

Itachi memuncratkan isi gelasnya dan terbatuk-batuk. Sementara Kisame tersedak gyoza dan Sasori tampak kaget tetapi tak berlangsung lama kembali dengan ekspresi datar diikuti dengan dehaman.

Kisame yang akhirnya berhasil mengeluarkan gyoza yang utuh dari kerongkongannya berteriak, "Jangan bercanda kau Deidara!" Serunya sembari menggebrak meja.

Deidara menatap Kisame kemudian merengut persis seperti gadis manja dengan wajah merajuk,"Kau kenapa marah begitu Kisame-chii? Bukannya ini kebetulan yang bagus? Jadi kita bisa bepergian bersama, iyakan Sasori-chan? "

Sasori melirik Kisame kemudian Itachi lalu tersenyum tipis," Aku setuju saja, bagaimana denganmu Itachi?"

"Itachi, kau tidak usah menyetujuinya!" Pekik Kisame cepat.

"Hei, itukan tidak adil. Kau sudah bersama Deidara tentu saja aku pasti akan berpasangan dengan Itachi." Ucap Sasori.

Itachi nampak berfikir sementara Kisame berkeringat dingin. Kemudian Itachi memejamkan matanya.

Aku tidak ingin menjadi seperti ini. Tapi kau telah membuat semua ini terjadi Kisame.

Semua memandang Itachi, menunggu keputusannya. Kemudian Itachi membuka mata, melirik Kisame kemudian Sasori.

"Baik, aku setuju." Ucap itachi cepat dan pasti.

"Bagus Itachi-chan!" Seru Deidara girang.

Sasori tersenyum puas sembari menatap Kisame. Kisame tertunduk lesu dengan gaya facepalm ditambah pucat kemudian keringat dingin serta efek gemetar –Udah kayak menu komplit-.

Kamiiiii-sammmaaaaaa!


To be continue