Tobi anak sakit!

Melihat seorang member Akatsuki yang sedari tadi mingkem, semuanya cemas. "Suhu tubuhnya panas sekali, un!" Semua akan dilakukan. Bahkan menjadi seorang tukang dakwah. "Jashin-sama tidak mengajarkan kita untuk berbuat baik, nak." Menjadi penyinden. "Saya Itachi. Itachi, sinden panggung…" Dan sebagainya.

Disclaimer : Akang Masahi Kishimoto.

Keganjilan : Tidak memiliki kejelasan dan keselarasan. Terlalu OOC. Memiliki kesalahan dalam pengetikan. Canon. Terdapat OC. Jalur waktu yang tidak semestinya. Penggunaan bahasa yang bisa dikatakan 4l4y. Dan bahasa asing yang tidak digaris miring.

Flamer sangan dianjurkan untuk mengetik di kotak review. Karena aye, sama sekali tidak tau jurus-jurus para Akatsuki, asal desa, semuanya. Aye hanya tau secercah info tentang Naruto. Maklum, bocah kudet. Yang jelas pengetahuan aye sungguh kurang. Karena aye~ *dicekik* Bah, curhatan apa ini!?

-.-.-

Tek! Tek tek tek tek tek!

"Diceritakan ada seorang anak kecil bernama Deidara. Ia memiliki 3 mulut di dadanya, tangan dan wajah… suatu hari dia pergi ke klinik Tong Seng. Dan jadilah, mulutnya ada lima…" tutur saudara dari Pinokio berambut merah, Sasori sambil memainkan wayang, tepatnya boneka miliknya.

"Mulut Dei ada lima, rupa-rupa warnanya. Hijau kuning kelabu, merah muda dan biru…" senandung Sasori, membuat sang korban terledek berencana untuk memasang bom disetiap boneka milik saudara Pinokio tersebut.

"Aku, seorang rentenir. Mempunyai uang banyak. Kalau ber-amal tak bisa, karena aku seorang rentenir." Ucap seorang pria bercadar layaknya pemain film "Ayat-Ayat Cinta." Mendengar rekannya melantunkan lagu ber-unsur keduniawian, Hidan berdecak.

"Sebaiknya kau menyanyikan lagu rohani. Itu lebih baik…"

"…" ceramah dari seorang penyembah Jashin tidak mempan melawan rekan kerja seorang Yuujin Crab tersebut. Dengan angkuhnya, Kakuzu berpaling dari Hidan bak seorang model yang mengetahui bahwa kekasihnya hanyalah seonggok supir ojek keliling pasar Rebo. Melihat penganut ajarannya dicampakan oleh pria matrealistis, Jashin hanya geleng-geleng kepala.

"Amaterasu!" Seorang ABG tua tengah memanggang barbeque untuk makan malam hari itu. Ditemani sesosok tetumbuhan yang memandang para daging yang terjemur dengan tatapan napsu. Lidahnya menjulur layaknya setan kuyang tengah mencari bayi ditengah malam. Benar-benar mengerikan tamanan satu ini.

"Ko-Konan-chan… apa, yang kau lakukan?" tanya sang pemimpin dalam organisasi maling jemuran, yang tobat dari aksi mencuri bijuu sambil menatap seorang gadis berrambut biru yang tengah melipat-lipat kertas.

"Membuat origami." Ucap Konan singkat, masih fokus dengan kertas lipatnya. Sang pemimpin menggaplok jidatnya yang lebih sempit dibandingkan milik Sakura saking gregetnya.

"Kau… tau bukan, kertas apa yang kau pakai?" sang leader, Pain mendekati Konan yang sesungguhnya bukan muhriman.

"Iya. Kertas dari sobekan majalah playboy milikmu." Mengacuhkan Pain, Konan tetap melipat-lipat lembaran kertas yang malang. Merasa tercampakan, Pain memilih sebuah pojokan terdekat sebagai tempat untuk berpundung ria.

"Dimana Tobi, un?" tanya wanita ber-gender pria dengan rambut kuning layaknya jagung dipanen. Membuat semua member Akatsuki, kecuali Tobi dan Kisame yang berada di tempat lain menatap Deidara dengan mata juling.

"Deidara menanyakan Tobi!"

"Aneh!"

"Deidara maho!"

"Demi Jashin-sama!"

Bisik-bisik yang membuat telinga Deidara panas. Panas, sepanas reader melihat pacarnya selingkuh didepan pangkal hidung.

"JANGAN MENEBAR FITNAH, UN! DEKET BULAN RAHMADAN! INGAT, UN!" Deidara misuh-misuh. Lengan bajunya ia singsingkan layaknya Pemuda-Pemudi. Muncul urat-urat di dahinya. Saking dahsyatnya jeritan Deidara, Beethoven mampu mendengar lagi.

"Aku hanya bertanya, un! Dimana Tobi anak nakal, un?" mata Deidara nyalang menatap semua mahluk hidup disekitarnya yang terdiam. Bernafas saja tidak. Kaku, semua terdiam kaku dalam keheningan.

"Ekhem!" Pain berdehem kecil, membuat beberapa tindikan cetar membahenol miliknya bergoyang seirama dengan wajahnya yang bergerak-gerak tak konstan. Memecah keheningan. "Kalau kau bukanlah seorang maho, kenapa kau menanyakan Tobi?"

"…" semua memandang Deidara dengan tatapan kepo selangit. Deirada tak gentar ditatap oleh berpasang-pasang mata yang menyangka dirinya seonggok tukang mercon yang maho.

"Karena aku bosan, un! Dan aku ingin meledakan sesuatu, un!"

JEGER!

Pupus sudah harapan beberapa Fudanshi dan seonggok Fujoshi dalam markas. Mendesah kecewa saat Deidara mengatakan tidak memiliki hubungan istimewa dengan bocah penggemar topeng jeruk oreo milik Afika. Membuat Pain sweatdrop.

"Hei, dan dimana Kisame?" kali ini, sang ABG tua bernama Itachi bertanya. Membuat gosip yang baru.

"Itachi menanyakan Kisame!"

"Aneh!"

"Itachi maho!"

"Demi Jashin-sama!"

Kini, Itachi sadar. Fitnah lebih kejam dibandingkan membantai semua orang dengan klan bernama Uchiha.

-.-.-

"Tobi, kau senang jika memiliki banyak teman bukan?"

"Benar, Kisame- senpai!"

"Apalagi jika temanmu sangat lucu, bukan?"

"Benar, Kisame- senpai!" mendengar jawaban dari sang kohai, Kisame menyeringai senang. Diberikannya Tobi sebuah jala yang cukup besar. Tobi sedikit bingung, namun tetap menerima jala tersebut.

"Kita akan mencari teman baru!"

"Yey!"

"Dan teman itu bernama ikan!"

"Ye~ apa?" Tobi menatap wajah sang senpai dengan mata nanar. Kisame tersenyum senang, memamerkan gigi-giginya yang lebih tajam dibandingkan silet ataupun bambu runcing. Seketika tatapan nanar Tobi berubah sendu.

"Kisame- senpai… ikan-ikan itu perlu kebebasan! Karena sang ikan, ingin dimengerti… lewat tutur lembut dan laku halus…" ucap Tobi sesenggukan sambil memeluk kaki Kisame. Melihatnya, Kisame ilfeel sendiri. Nyaris, nyaris saja Tobi mati dihadapan Samehada milik Kisame. Sampai Kisame sadar, biaya penguburan Tobi akan membuat Kakuzu menangis 3 hari 3 malam. Akan mengganggu semua anggota Akatsuki yang berniat untuk melakukan ritual suci. Tidur.

"Tobi-kun…" Kisame menepuk pundak Tobi lembut, walau ogah-ogahan. Tobi mendongak, melihat wajah peri Kisame.

"Kau tau kalau Orochimaru telah membangun sebuah salon?" Tobi menggangguk.

"Kau tau bahwa limbah-limbah bekas make-up salon Orochimaru dibuang ke sungai ini?" Tobi menggeleng.

"Mungkin, jika limbah itu terbuang ke sungai ini… ikan-ikan di sungai ini terancam mati." Tobi melongo. Terlintas di pikiran Tobi akan tumpukan mayat ikan yang mungkin saja akan Kakuzu gunakan untuk makan sehari-hari, untuk berhemat. Membayangkan senpai- senpainya sakit perut, berebut kamar mandi, terlalu lama menahan sakit, lalu mati karena Kakuzu tidak sudi membayar uang puskesmas. Mengenaskan.

"Apa yang bisa kita lakukan, Kisame- senpai?" tanya Tobi cemungut dengan ekspresi imut membuat sakit perut. Kisame ingin jingkrak-jingkrak bahagia mendengar pertanyaan Tobi.

"Kita akan menyelamatkan ikan-ikan itu dengan cara…" Kisame merogoh sebuah jala miliknya. "MEMBAWA MEREKA SEMUA KE MARKAS!"

"Ayayay, senpai!" Tobi berdiri. Berjalan menuju pinggir sungai dengan arus yang amat deras. Namun sayang, tersandung jala dan…

"Hua, Kisame-senpai! Tobi akan baek! Tobi kecebur! Tolong!" Tobi menjerit-jerit layaknya Kushina saat melahirkan Naruto. Kisame nyaris, nyaris saja menggetok Tobi dengan bijuudama. Namun sayang, Kisame bukanlah seonggok bijuu.

"Tobi, tangkap jalaku ini!" Kisame melemparkan sang jala ke arah Tobi. Dengan susah payah, Tobi meraih sang jala. Saat tangan Tobi menggenggam sang jala erat, Kisame mendengar teriakan heboh.

"OROCHIMARUUUU!"

Membuat Kisame syok dan melepaskan pegangan jalanya.

"Kisame-senpai~!" hanyutlah Tobi terbawa arus. Tapi, tidak juga. Sang jala bersama Tobi akhirnya tersangkut di sebuah batu. Tobi aman…

Yah, teriakan itu dihasilkan oleh Tsunade. Saat tau make-up nya hancur di tangan Orochimaru. Beberapa alat kosmetik berjatuhan ke sungai. Terbawa arus, dan menuju ke arah Tobi.

"Hueee… Kisame-senpai~!" jerit Tobi tak terhingga sampai memecah atmosfer. Keroro Gunso yang tengah menyusun gundam didalam pesawat luar angkasa menjadi kesal setengah mati.

"Tamama, serang manusia bumi itu! Dia mengganggu acara menyusun gundamku!"perintah Keroro mutlak. Tamama sang alien biru menganggukpatuh.

"TAMAMA IMPACT!"

Jeduaaaar!

"Kisame-senpai~!"

JEBLUUUUUSSSS!

Tobi kelelep. Dan Kisame berenang menyelamatkanTobi, walaupun tau make-up Orochimaru amatlah mematikan.

-.-.-

TAP TAP TAP!

"LEADER!" jerit Kisame layaknya ibu-ibu yang mengeluh soal harga jengkol yang naik. Mendengar jeritan Kisame yang pilu dan menyayat hati, Pain menutup mata selamanya. Ehm maksudnya menutup telinga rapat-rapat. Saking kencangnya teriakan Kisame, salah satu tindikan Pain lepas.

Kisame memasuki markas dengan menggendong Tobi yang tengah pingsan ala bridal. Melewati semua anggota Akatsuki dan memasuki ruangan milik sang leader.

"Leader!" jerit Zetzu OOC saat melihat penampakan Kisame. Insang Kisame mengap-mengap. Dan, wala! Wajah Kisame merah merona! Efek dari make-up Orochimaru memang sangat berbahaya.

"Apa yang hiu itu lakukan pada Tobi, un!?" Deidara misuh-misuhtak jelas. Menggedor tembok gua dan mengumpat hal yang tidak semestinya.

"Dasar boneka barbie berjaket awan merah! Hiu panggang! Bocah biru, un!" seperti itulah umpatan Deidara yang tidak pantas. Tidak pantas, cenderung tidak jelas.

"Deidara peduli sekali pada Tobi. Sepertinya Deidara benar-benar maho…" bisik Hidan kepada Kakuzu.

"Hei, curhat padaku bayar 10 dolar." Pinta Kakuzu dengan matrenya. Membuat Hidan cengo mendadak.

"Leader!" jerit Kisame sambil meletakan tubuh Tobi di ranjang batu milik Pain. Kemudian mendekati Pain yang berdiri didekat ranjang.

"Ada apa ini?" tanya Pain se-kepo mungkin. Apalagi melihat wajah Kisame yang merah merona. Kisame menatap sang leader dengan tatapan sendu.

"Leader…" Kisame yang lelah ingin mendekati sang leader, ingin curcol senejak. Namun karena sebuah majalah bokep sialan, Kisame tersandung dan menubruk Pain sampai nyungsep. Posisinya, Pain ketindihan. Oh, bukan. Bukan ketindihan paralized.

"Hei!" jerit Pain kesakitan saat sang punggung tertabok oleh lantai yang beku dan tak bersahabat. Mendengar jeritan sang leader, member Akatsuki berlari tunggang-langgang menuju kamar sang leader.

"Kisame dan Leader-sama maho!" jerit Kakuzu sambilmenjatuhkan uang-uang miliknya. Kesempatan, Itachi mengembat selembar uang.

"Tidak mungkin, un!" semua mulut Deidara mengap-mengap layaknya gurami yang akan 'disembelih.'

"Demi Jashin!" sabit milikHidan jatuh menimpa kaki Itachi. Membuat uang yang Itachi pegang terjatuh, lalu dipungut lagi oleh Kakuzu.

"Ah! My innocent kugutsu!" Sasori segera menutup mata bonekanya.

"Pain… apa yang kau…" mata Konan berkaca-kaca. Tidak terima akan hal nista yang terjadi dihadapannya. Dan Konan, dengan kegelapan hati segelap saat mati listrik di rumah author pergi dari TKP.

"Kisame-senpai, jatuh nimpa leader, dihadapanku. Ea…" senandung Tobi yang baru sadar dari pingsan dihajar alien. Melihat Tobi yang sudah sadar, Deidara tersenyum kecut dan mengacuhkan Kisame si ikan merah.

"Tobi, kau membuatku cemas, un!" bentak Deidara panik sambil memeluk Tobi. Tobi yang dipeluk-pelukoleh sang senpai senyum-senyum gaje. Apalagi saat merasakan rambut sang senpai yang lembut. Selama ini, Tobi ingin sekali merasakan sentuhan rambut Deidara.

"Deidara, ingat! Kau bukan maho!" tegas Sasori. Tapi Deidara mengacuhkan peringatan Sasori saat menyadari…

"Suhu tubuhnya panas sekali, un!" jerit Deidara yang masih memeluk Tobi.

"Huatchiu!" Tobi bersin, sampai mengotori jubah Deidara. Namun Deidara tidak peduli. Kesehatan Tobi lebih penting sekarang.

"Un! Kita harus membelikan obat untuk Tobi!" jerit Deidara sambil menatap tajam anggota Akatsuki yang terdiam membisu. Bahkan, Kisame serta Pain tidak mengubah posisi sama sekali.

"Leader! Sebagai pemimpin, kau harus bisa menyikapi ini semua, un!" bentak Deidara yang cerewetnya minta ampun. Membuat Sasori cemburu karena tidak pernah dipedulikan seperti Tobi si anak sakit.

"Baik!" Pain segera bangkit dari posisinya yang mirip seonggok uke. Kisame terpelanting ditendang sang leader dan menobrok Kakuzu Oh, dan jangan lupakan posisi mereka. Saling tindih-tindihan. Nista sekali.

"Kisame no baka! Sudah cukup kau mem-per uke-kan Pain! Jangan uke-kan Kakuzu-kun lagi!" Konan misuh-misuh sambil menyiapkan panggangan barbeque khusus ikan hiu. Ditambah amaterasu Itachi.

"Baik. Kita harus mengumpulkan banyak uang. Bukan hanya Tobi yang sakit, melainkan Kakuzu yang telah di per-uke-kan oleh Kisame." Ucap Pain sambil memelototi Kisame. Dipelototi, Kisame nyengir kunti.

"Kita harus pergi ke Konoha, menyamar, dan bekerja untuk uang pengobatan Tobi beserta Kakuzu. Kalian paham?"

"Paham…" ucap semua anggota Akatsuki malas, kecuali Deidara.

"Paham, un!" membuat anggota Akatsuki lain yakin bahwa Deidara mencintai Tobi anak baek. Tepatnya, Tobi anak sakit.

-.-.-

Bagaimanakah perjuangan Akatsuki membelikan obat untuk Tobi? Bagaimanakah cedera Kakuzu sembuh? Apakah dijahit? Entahlah. Hanya Tuhan yang tau.

.

.

Bersambung…

Aye butuh jawaban.

Lanjut kaga?