Tobi anak sakit 7!

Pertemuan Madara dan Tobi hanyalah rekayasa. "Aku akan menjadi Uchiha paling kiyut di muka bumi!" Akinine harus sabar menghadapi Kakuzu yang gila harta. "Jadi tolong acuhkan aku!" Disaat ramalan Shion dan Kazuhi terucap, "Sangat mengerikan…"Rin tengah berkutat dengan buku milik Itachi.

Disclaimer, warning dan lain-lainnya liat di chap kemaren…. *ketauan males ngetik*

e-ehehe… kaga, kaga gitu. Aye hanya takut jika warning aye menuhin fict. Ehehe… *garuk panu*

segilas inpo : acuh artinya peduli. Jadi, tidak acuh artinya tidak peduli. Jangan keliru ya… :D *karena di fict ini ada kata 'acuh tak acuh'*

tentang fict : ini bukan yaoi TobiDei, SasoDei, KisaKuzu, apalagi SasuItachi. Nasib-lah yang membuat mereka nampak seperti pair. Umur Naruko adalah 13 tahun.

tanya : haruskan fict ini discontinued? Bukan, bukan karena aye kaga tau kelanjutannya. Tapi… aye rasa fict ino kelewat GaJe. Dan… ngetiknya 'Zetzu' atau 'Zetsu' yang bener? *muka polos sepolos kain kafan*

-.-.-

#Masih plesbek!#

Jam 11 siang

'Madara… kenapa harus Madara?' batin Tobi yang tengah mengalami sindrom galau kuadrat kali nelangsa bagi dilema. Sementara sosok Rin tengah megepalkan tangan erat sambil mengintip Tobi dari balik pohon toge.

'Pergilah ke warung Karin, Tobi!' batin orang itu sambil menghentak-hentakkan sang kaki layaknya Adi Wiguna dalam pilem melodrama berjudul 'Demi Tuhan!'

'Jika aku gagal, aku tidak pantas menjadi seorang murid!' batin sosok yang memang asli Rin Nohara, no hoax. Rin menjambak-jambak pohon toge terdekat, menyalurkan emosi tingkat kabupaten tersebut agar tidak menyeruak kemana-mana.

"Ah, untuk apa aku memperdulikan Rin? Dia kan sudah mati. Pasti, kejadian tadi… mimpi." Ucap Tobi sambil berdiri dari duduknya. Ucapan Tobi yang bisa dikatakan cukup keras tersebut membuat Rin mengap-mengap.

'Ja-jadi sejak aku mati… dia tidak menghiraukanku!?' batin Rin.

"Tapi… kalau itu mimpi, kenapa kepalaku benjol?" dan Tobi mengusap benjol mekar di kepalanya. Kemudian Tobi berlari menuju sungai jernih, ngaca. Rin mengikuti. Bersembunyi dibalik selendang-selendang para bidadari yang tengah digombali Jaka Tarub dengan lagu Coboi Junior.

'Selendang siapa ini? Ah, persetan.' Rin kembali mengamati Tobi yang lagi ngaca. Efek sinar matahari yang menerpa badan Tobi membuat Rin sekilas mengira bahwa Tobi adalah bidadari jatuh dari surga dihadapannya.

"Kata Minato-sensei, mengecek uang palsu caranya adalah dilihat, diraba, diterawang. Berarti kalau mengecek benjol ini palsu atau tidak…" Tobi melepas topeng jeruk oranye keong racun miliknya, agar pandangan matanya lebih detail. Dipandanginya sang benjol dari pantulan air sungai.

"Dilihat, mirip benjol." Tobi menggangguk cepat.

"Diraba…" tangan Tobi meraba-raba sang benjol dengan seksama.

"Ketebalan benjol, 10 cm. Diameter benjol, 5 cm. Sakit? Sangat.." Tobi memakai topengnya kembali.

"Diterawang…" Tobi garuk panu. "Bagaimana caranya? Ah terserah. Baik, ini benjol asli no hoax."

"Obito no baka…" gumam Rin.

"Tapi bagaimana mungkin arwah bisa memukulku seperti itu? Dan kalau itu bukan arwah, bagaimana bisa dia tau tentang misiku mencari lolipop?" tanya Tobi kepada rumput yang bergoyang, semut yang push up, dan kepada angin yang menari. Namun tidak, mereka tidak menjawab pertanyaan Tobi. Rin tepok jidat.

'Obito, maafkan aku.' Batin Rin sambil menatap Tobi sendu.

"Hm, baiklah. Aku akan membeli lolipop di warung mpok Karin saja. Aku benar-benar memerlukan lolipop itu untuk kuberikan kepada Akimichi Chouji. Kalau benar aku akan bertemu Madara, artinya Rin itu benar-benar arwah." Gumam Tobi sambil berjalan pelan menuju warung mpok Karin.

#Kembali ke jalur waktu#

"Begitulah. Tobi menuruti kemauan Rin. Pergi ke warung mpok Karin dan bertemu denganku." Ucap Madara, menyisakan rasa janggal di pikiran Konan.

"Tunggu dulu!" protes Konan sambil menatap tampang Madara. Madara balas menatap Konan.

" Tobi bilang, dia mencari lolipop untuk menggaet juubi. Tapi kenapa kau bilang… untuk diberikan kepada Chouji!?"

"Kau tidak percaya terhadap ceritaku?" tanya Madara dengan suara berat. Dahi Konan jadi penuh urat karena mendengar cerita dari Madara yang bisa dikatakan tidak akurat.

"Tidak sama sekali! Dan, Rin Nohara? Bukankah dia sudah…"

"Aku akan menceritakanmu perihal Rin." Jawab Madara.

#PLESBEK LAGI!#

Jam 10 pagi

Sebuah makan dengan rerumputan liar yang tumbuh disekelilingnya menjadi perhatian Madara. Sebuah cangkul berukuran sedang, pemberian dari Hashirama saat ulang tahun Madara yang ke-7 kini tergeletak manja di pundak Madara. Seringai Madara dikala pagi itu cukup membuat para hewan yang kebetulan lewat disana memilih pergi. Seringai Madara memang mengerikan.

"Sekarang saatnya." Ucap Madara singkat sambil mendekati sang makam lusuh. Makam seorang kunoichi kondang berambut coklat sebahu.

Rin Nohara.

Sang cangkul yang awalnya bebas bermanja-manja di pundak Madara kini harus menjalankan kewajibannya sebagai cangkul. Sebagai cangkul yang baek, sang cangkul pasrah saja saat Madara mengarahkan dirinya kearah makam Rin. Tidak bisa melawan, berontak, atau protes. Itulah cangkul yang setia pada majikannya.

"Cangkul cangkul cangkul yang dalam. Menggali makam di kebun kita. Lalala~" senandung cempreng Madara, membuat author nyaris muntah didepan laptop. Dengan semangat 45, Madara mencangkul sang makam hingga seperangkat alat sholat, ehm…hingga seperangkat kerangka manusia muncul di permukaan. Seringai nista kembali bertengger di wajah buluk Madara dikala kerangka Rin muncul ke permukaan. Diangkatnya sang kerangka, kemudian Madara memandang sang kerangka dengan seksama.

"Sesuai ramalan primbon. Hari ini, pada jam 10 pagi, aku bisa menghidupkan mayat!" seru Madara dengan nada riang cenderung mirip tante girang. Sebuah kain putih panjang yang tersembunyi dibalik belahan keteknya Madara keluarkan. Ditutupinya tengkorak Rin dengan kain tersebut. Kemudian Madara berdiri sambil mengulurkan tangan diatas tengkorak Rin yang terbalut pakaian lusuh.

"Mm… mantranya tadi bagaimana?" Madara berfikir sejenak, kemudian menutup mata.

"Din si Udin punya anak goblok. Sim salabim jadi apa prok-prok-prok!"

Tidak ada perubahan. Madara menghela nafas.

"Heh… Dengan kekuatan upil, aku akan membangkitkanmu!"

Tetap tidak ada perubahan. Madara bergeming sejenak.

"Bagaimana kalau…" Madara menyeringai. "Oi udah imsyak woi! Sahur udah lewat!" teriak Madara didekat tulang telinga Rin.

1 detik…

2 detik…

3 detik…

Terlihat gerakan dari kain putih yang menutupi tengkorak Rin. Madara tersenyum senang.

"KYAAA! AKU BELUM SAHUUUR!" dan akhirnya, sodara-sodara sebangsa setanah air. Rin Nohara, dengan otot, kulit, organ tubuh dan lain-lainnya bangkit dari tidur panjang. Tangan Rin menggapai-gapai keatas, memberikan reaksi terhadap teriakan Madara.

"Cukup! Teriakanmu bisa membuat semua orang tuli! Lagipula, ini sudah lebaran!" seru Madara, mengingatkan Rin yang mulai lupa daratan. Tangan Rin menyibak kain putih yang menutupi tubuhnya. Rin terbelalak.

"Kyaa! Kenapa bajuku lusuh begini!?" protes Rin sambil bangkit dari posisi telentang. Rin menatap baju lusuhnya dengan tatapan nanar. Sementara Madara hanya memandang sosok Rin dengan tatapan…

Kepengen.

"Boleh juga…" ucap Madara refleks saat melihat baju lusuh Rin. Telunjuk Madara menuding baju lusuh Rin, membuat Rin menyernyit heran.

"Ke-kenapa kau menunjuk kearahku!?" tanya Rin sambil berjalan mundur. Mencurigai tudingan tangan Madara yang menunjuk kearahnya. Nalar Rin bekerja, mengira bahwa maksud dari tudingan tersebut adalah buruk seburuk muka Orochimaru.

"Ka-kau… HENTAI!"

Plaaak!

Dan dengan suara gamparan tersebut, pipi Madara memar-memar bak telur ceplok kelindes motor balap milik Syahrini (?). Pelototan tajami Madara yang tak terima atas perlakuan tidak menyenagkan dari seonggok Rin Nohara ternyata kagak mempan. Rin memandang Madara kesal.

"Hentai bagaimana!?" tanya Madara sambil memegangi pipinya yang memar kena gampar. Rin balas memelototi Madara tajam, bahkan lebih tajam dari bambu runcing.

"Tentu saja hentai! Kenapa kau menunjuk kearahku dengan tatapan seperti itu!?" ujar Rin cepat sambil mengambil kain putih panjang milik Madara, kemudian menutupi bajunya yang lusuh serta sobek-sobek dengan sang kain. Madara garuk kepala.

"Bodoh… aku tidak hentai! Yang hentai itu Yahiko!" bentak Madara, membuat Yahiko bersin-bersin dari surga, dihadapan Jiraya. Eaaa…

"La-lalu kenapa kau menunjuk bajuku!?" tanggap Rin sambil menuding upil Madara yang sedikit mencuat dari lubang hidungnya. Madara manyun, dengan congornya mencuat maju, memberikan kesan bahwa dirinya adalah manusia yang unyu.

Dan sayang sekali. Madara sudah lupa umur jika ingin dikatai sebagai kakek-kakek menggemaskan.

"Karena bajumu sangat bagus! Dan aku ingin memilikinya!" balas Madara gusar, membuat Rin mengap-mengap. Tak disangka, ternyata Madara penyuka barang-barang antik. Antik cenderung nyentrik.

"Ka-kau aneh…"

"Bukan. Aku Madara."

"Ngeh…" reaksi Rin, dengan ekspresi masem yang tertangkap oleh ekor mata Madara. Madara mengikuti gaya Rin, memasang tampang masem. Rin geregetan. Menghela nafas, dan sebuah fakta baru muncul di pikirannya.

"Seingatku… bukankah aku sudah… mati?" ucap Rin sambil menunjuk wajahnya sendiri. Madara menggangguk pelan sambil menyeringai. Membuat Rin merinding saat tatapan mata mereka bertemu.

"Dan aku yang menghidupkanmu." Ucap Madara, membuat Rin terbelalak kaget. Rin melangkahkan kaki mulus semulus kulit nangkanya kedepan, merapat pada sang Uchiha tua.

"Ka-kau? Kau serius?"

"Tanyakan pada Jashin jika kau perlu. Demi semua upil yang pernah kuraup, aku yang menghidupkanmu."

"Keh… demi upil… kalau benar, apa tujuanmu menghidupkanku?" dan pertanyaan dari seonggok Rin Nohara membuat seringai Madara makin lebar selebar mulut kuchisake onna. Telapak tangan Madara yang kekar namun kotor karena terkena tanah kemudian menepuk ubun-ubun Rin. Membuat Rin tersentak kaget.

"Kenapa kau menyentuh rambutku!? Tanganmu kotor, kakek tua!" bentak Rin, dengan hujan lokal yang maha dahsyat. Madara nyaris budek, andaikata congek di telinganya tidak menghambat frekuensi seruan Rin merasuki gendang telinganya.

"Cerewet. Aku menghidupkanmu, karena ingin mengetahui…" tiba-tiba pandangan Madara berubah sendu, membuat Rin kembali menyernyit.

"I-ingin tau apa?" tanya Rin sambil memandang ilpil Madara yang tengah memainkan kedua jarinya bak Hyuuga Hinata ketahuan main ludruk oleh Hiashi.

"Ka-kapan…"

"Hem?"

"Kapan Naruto akan tayang lagi di Global TV?"

Rin sweatdrop akut.

"A-ayolah…" Madara makin menunjukan tingkah manjanya, membuat Rin ingin muntah. "A-aku ingin tau reaksi para penggemar Naruto yang tidak bisa nonton Naruto di youtube a-atau baca komiknya lewat internet saat melihatku… pa-pasti mereka pikir, aku Uchiha paling kiyut kan? Iya kan?"

Ucapan menjijikan dari Madara membuat Rin nyaris mati kejang-kejang. Dicengkramnya bahu Madara erat, kemudian diguncang-guncangkan sekuat tenaga. Mencoba untuk bertingkah dramatis, namun sayangnya yang nampak adalah autis.

"Kumohon, Madara! Pertanyaan gilamu membuatku ingin mati lagi!"

"Eh?"

"Kiyut katamu? Tidak! Mukamu buruk rupa! Uchiha yang paling kiyut itu Obito, kakek tua!"

"A-apa kau bilang?"

"Kau pikir hanya kau yang ingin eksis di televisi? Tidak! Aku juga! Dan jika kau ingin eksis, salahkan KPI!"

"Tunggu!" kini Madara berontak, dengan mencengkram bahu Rin erat. Membuat Rin meringis kecil. Madara menatap mata Rin dalam, dan Rin kembali merinding.

"O-Obito… kiyut katamu!?"

"Ti-tidak! Kutarik kembali kata-kataku! Obito tidak kiyut! Di-dia unyu!"

Dan dengan ucapan refleks tersebut, tangan kekar kotor dan bau jengkol Madara mulai mencekek leher jenjang Rin dengan biadap.

"KAU BERDUSTA! AKULAH UCHIHA PALING KIYUT DAN UNYU DI MUKA BUMI!" bentak Madara sambil melepaskan kecekannya sebelum mendorong Rin sampai nyungsep dengan tidak elit. Rin hanya bisa pasrah saat congornya tak sengaja mencium sang cangkul milik Madara.

"Ka-kau… kau Uchiha yang paling buluk di-di muka bumi… Uchiha yang paling kiyut… hanya… hanya Izuna, Obito, Sasuke dan Itachi…"

"U-uapah!? Ke-kenapa… KENAPA OBITO DAN ITACHI KERIPUT BISA MASUK KATEGORI UNYU!?" bersamaan dengan terpaan hujan lokal, Rin mengap-mengap saat Madara membentaknya.

"Coba… kau tanyakan reader…" ucap Rin dengan nada takut. Membuat pandangan Madara beralih kepada para pembaca IKADA.

Jika ada yang membaca bagian ini, nyawa anda dalam bahaya.

"Ketik! Ketikdi review bahwa aku adalah Uchiha paling kiyut dan unyu di muka bumi! Ketik!" bentak Madara sambil kembali menatap Rin tajam. Rin telen ludah dengan badan gemetar. Takut jikalau Madara akan menjadikannya opor lebaran.

"Kau…"

"Iya?"

"Dimana Sasuke, Itachi dan Obito?"

"Sasuke dan Itachi sedang reunian di gang kumuh… sementara Obito… dia sedang menggalau di taman teletubis…"

"Bagaimana kau bisa tau?"

"Da-dari chapter sebelumnya… aku membacanya bersama Minato-sensei dari surga…"

Madara gigit jari.

"Kenapa Obito menggalau di taman teletubis?"

"Dia… bingung harus mencari lollipop dimana… ugh…" ringis Rin sambil meraba sikunya yang berdarah. Tapi Madara cuek bebek ayam saja terhadap penderitaan sang ninja medis.

Dan menurut Madara, ninja medis tidak perlu dikasihani saat terluka.

Benar-benar cuek.

"Oi! Nona berambut coklat!"

"I-iya?"

"Seret Obito menuju warung mpok Karin! Buat seolah-olah kami kebetulan bertemu disana, dan jangan beritau apa-apa soal masalah ini! Jika dia bertanya kenapa harus kesana, katakan bahwa disana ada obral lollipop!"

"Ke-kenapa aku harus menurutimu?"

"Karena jika kau menolak, akan kuhidupkan sensei-mu. Kemudian, akan kucukur semua rambut durennya itu! Huahahahahahah!" Madara tertawa nista, membuat Rin terdiam tanpa kata. Sementara Minato dan Kushina yang tengah mengintip Kakashi dan Iruka yang lagi gombal-gombalan dari surga tengah cekikikan GaJe. Fujodanshi.

"Tidak! Tidak akan kubiarkan kau mencukur semua rambut Minato-sensei! Bisa-bisa, Minato-sensei kena talak dari Kushina-san! Kau jahat… jahat, kakek tua!"

"Namaku Madara, bukan kakek tua."

"Aaa, terserahlah!"

"Silahkan pergi untuk membujuk Obito pergi menuju warung Karin, dan rambut sensei-mu akan selamat." Ucap Madara tegas. Membuat Rin tak bisa membantahnya.

'Obito… apapun yang terjadi, ini demi kebaikan sensei kita…' batin Rin sambil melenggang pergi. Namun sebelum Rin berbalik, Madara mencengkram lengan Rin. Membuat Rin berhenti dengan mata membulat.

"A-apa?" tanya Rin sambil berbalik dengan gerakan patah-patah. Didapatinya Madara yang tengah menatapnya datar.

"Kau yakin akan pergi dengan pakaian itu?"

"O-oh…" wajah Rin memerah malu. "Ka-kau benar…"

#Kembali ke jalur waktu#

"Ja-jadi… jadi, Tobi tidak berniat untuk menjinakan juubi? La-lalu… lalu kenapa dia… kenapa dia bilang…" tanya Konan terbata, sementara Madara hanya menatap wajah Konan yang menyiratkan nestapa (?).

"Bukan Tobi. Tapi aku."

"Kau!?"

"Aku yang memintanya untuk menjinakan juubi. Sebagai imbalan, aku yang membayarkan lollipop-nya. Tapi, resiko menjinakan juubi adalah mati."

"Katakan yang jelas, Madara!"

"Khukhukhu… aku membujuk Obito untuk menjinakan juubi. Kubilang, juubi bisa mengantar kami menuju Rin. Jika Obito berhasil menjinakan juubi, aku akan menyerang Konoha. Membunuh Itachi, Sasuke dan Obito di Konoha karena telah merebut gelarku. Dan jika dia tidak berhasil menjinakan juubi, dia akan mati…"

"Ka-kau…"

"Dan jika Tobi mati, aku akan menjadi Uchiha paling kiyut di muka bumi!"

JEGEEERRR!

Tubuh Konan gemetar saat mendengar tawa Madara yang kelewat nista. Hati kecil Konan meringis saat mengetahui rencana licik Madara. Selama Konan hidup, belum pernah Konan mendengar sebuah konspirasi selicik rancangan sang Uchiha tua bangkotan mbah Madara. Nyali Konan ciyut. Madara sangat kejam melebihi ibu tiri Cinderella.

"Aku jenius, bukan?" tanya Madara sambil memperlihatkan seringainya. Konan memandang tampang buluk Madara dengan rasa gedeg campur dendam kesumat. Andaikata Konan adalah seonggok jinchuriki kyuubi, mungkin saja kepala Madara sudah lepas sejak tadi.

"Demi sebuah ambisi, kau rela mengorbankan Tobi?"

"Kenapa? Apakah itu kesalahan besar? Bukan hanya aku, tapi orang lain juga melakukannya! Apakah kau tidak pernah melihat ke luar, Konan-san? Koruptor contohnya. Dia mengorbankan hidup masyarakat miskin sebagai pemuas nafsunya pada uang!"

Kakuzu bersin.

"Keh, dan kau sama saja seperti koruptor itu! Bahkan, kau lebih buruk! Alasanmu tidak bisa diterima!" dengan terpaan hujan lokal, sebuah komentar Konan lontarkan untuk pemikiran Madara. Madara menghela nafas panjang, menghilangkan segenap emosi. Madara harus gentle, tidak boleh marah-marah kepada Konan bak anak SMP labil yang kena kanker a ka KANtong KERing.

"Persetan, itu bukan masalah untukku."

"Tapi itu masalah untukku! Karena Tobi… adalah rekanku!"

Sekarang Tobi bersin.

"Hah, kau ini… diamlah, dan tunggu kabar dariku. Do'a-kan Tobi, semoga proses kematiannya akan sangat menyakitkan…" kemudian Madara melenggang pergi. Meninggalkan Konan. Dengan seribu desah kecewa dan putus asa dari kunoichi berambut biru.

'Pain, kumohon datanglah…' rutuk Konan sambil menahan mewek, takut jikalau Tobi keburu ko'it. Bagaimana nanti jika Tobi menjabat gelar inalilahi? Siapa nanti yang akan menjadi alaram pagi para member Akatsuki? Setiap pagi, Hidan dan Tobi selaku member ter-heboh adalah alaram yang tak bisa dibekep dengan tombol 'stop/jeda.'

-.-.-

Kabuto membenarkan posisi kacamatanya sambil menatap kedua tamunya dengan tatapan miris. Helaan nafas, deheman kecil, bahkan sampai teriakan melengking Kabuto saat menyanyi lagu berjudul 'Leak ngakak mabuk asmara' beberapa menit lalu tidak dapat mengubah ekspresi Akinine dan Kakuzu.

"Kabuto-kun, main TOD yuk?"

"Iya, baiklah!"

Terkenang sebuah plesbek manis antara Kabuto dan Orochimaru. Dimana, disaat Kabuto galau ditinggal Sasuke yang pergi merantau bersama tim Taka, Orochimaru dengan suka rela mengajak Kabuto bermain TOD. Dan akibat dari permainan terkutuk itu, Orochimaru harus rela memendekan rambut hitam gemerlap kemilau cetar membahana miliknya.

Poor Orochimaru.

"Hei kalian! Ayo kita bermain TOD!" ucap Kabuto, dengan suara cempreng cenderung melengking. Membuat telinga Akinine yang baru sembuh dari ke-tuli-annya berdengung hebat binti maha dahsyat. Kakuzu tidak acuh. Mata ijonya menatap hampa kearah alat make-up milik Orochimaru. Miris.

"Kyaa! Telingaku sayang!" jerit Akinine sambil menutup sang kuping. Kabuto menghela nafas berat meratapi nasibnya yang ter-kacang-mahal-kan oleh sang ninja bercadar serta berhijab.

Ya, bercadar. se pelit-pelitnya Kakuzu, ia akan menyisihkan uang untuk membeli cadar cadangan. Dan cadar itu sangat berguna disaat cadar lamanya tertinggal di markas Akatsuki.

"Oi cadar! Aku bicara bersamamu! Jadi tolong acuhkan aku!"

Dan Kakuzu terdiam membisu. Membuat jiwa Kabuto benar-benar tergoncang. Terkacangkan adalah hal yang membuat suasana canggung, pembaca IKADA. Maklumi…

"Bermain TOD?" tanggap Akinine, membuat Kabuto menahan hasrat bunuh diri akibat tak diacuhkan oleh sang ninja bercadar. Ditatapnya Akinine dengan sebuah senyum menawan, membuat Akinine SEDIKIT terpesona.

"Ya! Kita bermain TOD! Kau, aku, dan si gadis bercadar!" ucap Kabuto refleks, membuat aksi nelangsa Kakuzu terhenti saat mendengar kata 'Gadis' yang diperuntukan untuknya.

"Aku laki-laki, bodoh!"

"Oh… kau, namamu 'Laki-laki bodoh'? Bukan Kakuzu?" tanya Kabuto dengan tampang se-innocent-mungkin. Pura-pura tolol. Mata Kakuzu melebar. Wajahnya memerah marah. Tapi Kabuto tak menyadarinya.

BUUUAAAAKKKK!

Tampang Kabuto, dengan tidak elitnya ditabrak oleh kepalan tangan sang ninja Taki Gakure bermata ijo. Membuat punggung Kabuto menabrak dinding hingga retak. Membuat gigi Kabuto ronjong parah. Akinine mengap-mengap melihat keadaan Kabuto yang mirip bencong dihajar bencong. Kemudian, mata kelam Akinine melirik kearah Kakuzu.

"Hei nona bercadar! Kau keterlaluan!" bentak Akinine sambil mendekat kearah Kakuzu. Mata Kakuzu menatap Akinine dengan geram. Ingin rasanya Kakuzu mengembat jantung Akinine, andaikata Kakuzu lupa jika Akinine adalah seorang anak bangsa yang perlu dibina hingga bisa membangakan negara.

Baik, jangan tabok author.

"Kau yang keterlaluan, bocah. Aku laki-laki. Bukan wanita." Ucap Kakuzu seraya menepuk kepala Akinine. Akinine yang merasa diperlakukan bak anak kecil (dan sesungguhnya dia memang masih kecil) menepis tangan Kakuzu kasar.

"Jangan perlakukan aku seperti itu!"

"Kenapa?"

Kabuto tengah mewek sambil berguling-guling di keramik yang dingin. Ter-kacang-kan.

"Karena itu mengingatkanku akan tou-chan Naruto!" bentak Akinine, yang tumben-tumbennya tidak diiringi hujan lokal. Melainkan hujan air mata. Kakuzu memandang Akinine tak percaya.

'Anak Hokage? Tidak mungkin!' batin Kakuzu sambil memandang Akinine sangsi. Kabuto, yang tengah guling-guling di lantai juga memandang Akinine tak percaya.

"Kau… putri Rokudaime Hokage?" tanya Kakuzu sambil menepuk bahu Akinine.

"Eng… lupakan. Jadi, bagaimana permainan TOD-nya?" ucap Akinine cepat, yang memang kebelet main TOD.

"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Kakuzu mencengkram erat kedua bahu Akinine. Membuat sebuah ringisan terlontar dari congor Akinine.

"Apa itu terdengar seperti pengalihan pembicaraan?" tanya Akinine dengan tampang polos sepolos kain kafan dari masjid. Kakuzu serangan jantung. Untung hanya satu jantungnya saja yang rusak.

"Tentu saja, bocah! Jadi, kau putri Rokudaime Hokage?"

"Ti-tidak juga! Aku, aku hanya anak angkatnya saja!"

"Anak angkat? Pantas saja warna mata kalian berbeda. Tapi… kenapa warna rambut kalian sama?"

"Memangnya di dunia ini tidak ada kebetulan, huh?"

"Siapa namamu?"

"Kenapa aku harus menjawabnya?"

"JAWAB! ATAU KU AMBIL JANTUNGMU!"

"I-iya! Namaku Akinine Soak! Puas, cadar?"

"Tidak mungkin! Namamu jelek sekali!"

"E-enak saja! Lepaskan aku!"

"Tidak sebelum aku mendapatkan uang tebusan dari Hokage."

"Apa katamu!?"

Dan dalam sekejap mata, Akinine telah hilang diembat Kakuzu. Membuat Kabuto terbelalak tak percaya. Ternyata… walau dengan keadaan terpuruk sedalam-dalamnya, Kakuzu tetap saja matrealistis. Dalam keadaan sekarat, Kabuto berusaha bangkit.

"Sial… Akinine, satu-satunya orang yang mengacuhkan ucapanku setelah Orochimaru-sama, diculik oleh manusia bejad binti matre bernama Kakuzu. Aku harus menyelamatkannya. Harus!" gumam Kabuto sambil menyeka darah di congornya.

-.-.-

"Nee, tou-san… kaa-san…"

"…"

"Sakura sudah menikah dengan Rock Lee, dattebayo."

"…"

"Iya, aku tau. Artinya dia bukan jodohku, ttebayo."

"…"

"…"

"Naruto!" sebuah suara nyaring binti melengking dari sesosok mahluk bernama Shion menggema di sekitar desa Konoha. Menyebut nama sang pemimpin desa. Naruto, sosok yang tengah diperhatikan Shion dari bawah patung Hokage keenam melirik kebawah. Shion dan Hidan tengah berdiri sambil menatapnya.

"Shion?"

"Kabar buruk!" potong Shion cepat. Membuat pertanyaan-pertanyaan aneh muncul di benak Naruto.

'Kenapa, Kami-sama?'

"Ada apa?" tanya Naruto yang masih sten bae diatas pahatan kepala Hokage keenam. Hidan garuk kepala. Bingung harus menjelaskan kronologinya dari mana.

"Bisakah kau turun?" tanya Hidan, dengan gelengan kepala sebagai jawabannya.

"Tidak. Aku ingin galau-galauan dulu disini, dattebayo!"

'Semprulateno…' batin Hidan sambil mengumpat.

"Tadi, aku dan Kazuhi meramalkan awan, dan ternyata…" seru Shion, membuat jantung Naruto berdebar. Was-was.

"Desa Konoha akan menerima bencana!"

Keringat dingin mulai menghiasi dahi Naruto.

"Bencana ini lebih berat dari harga BBM yang naik, Hokage-sama!"seru Hidan, membuat detak jantung Naruto berpacu makin cepat.

"Iya, Hokage-sama! Apa yang dikatakan Kazuhi benar!" tambah Shion sambil memandang Hidan. Memandang Hidan, yang Shion kira bernama Kazuhi.

'Menyesal aku menggunakan nama Kazuhi sebagai nama penyamaran. Kalau diperpanjang, artinya kan KAkuZUHIdan…' batin Hidan.

"Bencana apa itu, ttebayo?" tanya sang Hokage sambil berjongkok. Masih di pahatan wajah Hokage. Shion berjalan sedikit mendekat.

"Bencana itu…"

"Hmm?"

"Sangat mengerikan…"

"Apa itu?"

"Bencana itu…"

"Ya?"

"Harga ramen akan naik!"

"…"

"…"

Loading…

"UAPHAH!? TIDAK BISA! INI KABAR BURUK!" Naruto menjambak rambutnya frustasi, kemudian melompat turun. Ekspresi ketakutan tak bisa terelakan lagi dari wajahnya. Saat Naruto akan melangkah menuju kedai ramen, tangan Hidan segera mencegahnya.

"Dan bukan hanya itu."

"E-eh?" Naruto gelagapan. Hidan memegang kedua bahu Naruto, kemudian menatap kedua mata Naruto dalam.

"Konoha akan diserang!"

"Di-diserang!?"

"Belum tentu, Kazuhi!" balas Shion sambil menatap Hidan. Hidan balas menatap Shion.

"Ya, belum tentu. Tapi ada kemungkinan bahwa Konoha akan diserang." Ucap Hidan sambil melepaskan cengkramannya dari bahu sang jinchuriki. Naruto jadi ling-lung.

"Di-diserang bagaimana?" dengan tampang kelimpungan bak anak SMA yang belum mengerjakan PR, Naruto bertanya pada Shion dan Hidan. Namun tidak, mereka berdua mengabaikan sang Hokage. Mereka menatap langit.

"Jinchuriki yang malang…" ledek Kyuubi sambil terkekeh pelan. Naruto menghela nafas, emosi cenderung epilepsi.

"Ah, tenang saja. Mungkin ramalanku salah…" hibur Shion, membuat Hidan mendelik.

"Tidak! Jashin-sama bilang, Konoha akan diserang!" membuat Shion melirik Hidan kesal.

"Tidak, Kazuhi. Konoha akan baik-baik saja! Benar bukan, Naruto?" tanya Shion sambil menatap Naruto dengan tatapan melas. Mau tak mau, melihat tatapan melas Shion yang bikin iba, Naruto manggut-manggut. Hidan jadi naik darah.

"Tidak, Hokage-sama! Kau harus waspada!" Hidan memegang tangan kiri Naruto, kemudian menariknya.

"Ikut aku untuk berjaga-jaga!" ucap Hidan sambi menyeret Naruto. Melihat Naruto yang diseret paksa, Shion tak terima.

"Tidak! kau harus mengatasi harga ramen yang naik!" kemudian Shion menarik lengan kanan Naruto, menyeretnya menuju kedai ramen. Diseret-seret bak kain pel yang kotor, Naruto jadi kelimpungan.

"He-hei! Lepaskan, dattebayo!" Naruto jejeritan bak personel Cheribelle yang melihat Justin Bieber pakai bikini. Namun sayang, tak ada yang menghiraukan jeritannya yang menyayat hati dan ginjal tersebut.

"Kau dengar? Lepaskan Naruto, Kazuhi!" seru Shion, membuat kuping Hidan nyaris budeg. Ditatapnya wajah Shion yang menampilkan ekspresi kesal. Hidan jadi serba salah.

"Tidak bisa, Shion-chan… kita harus waspada!"

"Tidak bisa! Harga ramen harus distabilkan terlebih dahulu!"

"Ta-tapi Shion-chan, keamanan desa~"

" Naruto!"

'Apa lagi ini…' batin Naruto saat mendengar sebuah suara dari belakangnya. Suara yang memanggil namanya, familiar…

"Iruka-sensei?" Naruto melirik ke belakang, mendapati sang sensei dengan luka melintang di hidung tengah berlari kearahnya.

"Akinine hilang dari sekolah!" tambah Iruka, membuat mata sang Hokage melebar selebar mata Rock Lee.

"Na-Naruko hilang!?" tanya Naruto, dengan anggukan dari Iruka.

"Akinine, dia tidak nampak dimanapun. Kami sudah mencarinya kemana-mana, dan kami tidak menemukannya. Bagaimana ini?" tanya Iruka sambil mendekat.

"Kita harus mencari Naruko!" ucap Naruto. Dengan gelengan dari Iruka.

"Sejak kau mengadopsinya, anak itu bernama Akinine. Bukan Naruko." Ralat Iruka, dengan balasan ekspresi tak terima dari Naruto. Disaat Naruto akan berjalan mendekat kearah sang sensei, Shion mendelik.

"Hei, kau mau kemana!? Kita harus mengurusi harga ramen yang naik!" ucap Shion sambil kembali menarik tangan kanan Naruto. Melihat itu, Hidan mulai menarik tangan kiri Naruto. Naruto kelimpungan karena ditarik-tarik bak artis Hollywood.

"I-Iruka sensei! Bagaimana ini!?" ucap Naruto dengan tampang yang dimelas-melasin. Iruka garuk dahi. Kemudian…

Menarik kaki kanan sang Hokage.

"Naruto harus mencari anak angkatnya!" seru Iruka sambil menarik kaki kanan Naruto kuat. Tak mau kalah, Shion dan Hidan menarik tangan Naruto kuat. Tidak ada yang mau mengalah. Tepatnya, tidak ada yang mau mengerti betapa tersiksanya ditarik-tarik seperti tali tambang.

"Naruto-kun!"

Satu orang lagi. Hyuuga Hinata, penyembah jashin paling setia nomor 2. Berlari kearah Naruto dengan senyum psikopat yang mengembang di wajahnya.

"Aku mencintaimu Naruto! Ayo kita menikah hari ini juga bersama Sakura dan Lee!" dan Hinata menarik kaki kanan Naruto, membuat siksaan jasmani Naruto bertambah.

"Hn… ratapan jinchuriki." Ledek Kyuubi sambil mencakar-cakar teralis kerangkeng mbah Minato. Sementara Naruto hanya pasrah. Dengan arwah Jiraya yang ilpil melihat muridnya tersiksa parah.

-.-.-

Rin hanya duduk diam, memeluk lututnya sambil menatap hampa sekeliling ruangan yang minim pencahayaan itu. Berkali-kali dia harus menahan muntah saat mencium bau busuk air kobokan para member Akatsuki minggu lalu yang tercium di sekitar ruangan.

"Ck… jadi, begini…" Rin mendongak, menatap langit-langit ruangan. "Beginikah caraku mati untuk kedua kalinya?" Rin menghela nafas panjang sambil menunduk, merapat ke tembok yang kasar sekasar kulit author. Kesedihan membuatnya mulai menitikan air mata. Tentu air mata, mana mungkin air raksa? Memangnya raksa itu air?

Abaikan.

Tubuh Rin mulai gemetar, takut. Takut akan ancaman dari sesosok manusia bernama Madara Uchiha yang berbunyi : "Karena jika kau menolak, akan kuhidupkan sensei-mu. Kemudian, akan kucukur semua rambut durennya itu! Huahahahahahah!"

"Obito…" Rin mengusap air matanya. "Apakah yang kulakukan itu, berkomplot dengan Madara untuk menjebakmu adalah salah?" tanya Rin pada dirinya sendiri.

"Shinobi yang melanggar peraturan adalah sampah. Tetapi, orang yang mengabaikan teman lebih rendah dari sampah!"

Plesbek kecil, membuat Rin tersenyum kecut saat mengingat wajah Tobi disaat mengucapkan dialog itu.

"Bagaimana jika orang itu mengabaikan senseinya, Obito?"

Seingat Rin, Minato pernah bertanya hal itu kepada Obito. Dan yang Rin ingat, balasan dari Obito adalah…

"Jika dia mengabaikan teman, dia lebih rendah dari sampah. Dan jika dia mengabaikan sensei-nya, dia adalah tong sampah!"

"Keh… Obi-to-LOL…" ucap Rin dengan senyum kecutnya sambil menyembunyikan wajahnya dengan telapak tangan.

"Aku bukan tong sampah. Tapi aku lebih rendah dari sampah…" gumam Rin lagi, dengan kilasan-kilasan plesbek masa lalu disaat bersama tim Minato. Disaat Minato harus mencium ketek Kakashi akibat bermain TOD, kelicikan Kakashi yang kabur disaat Obito hampir membuka maskernya, wajah cemberut Obito yang terpaksa mengenakan gaun pengantin milik Kushina, senyum sumringah Rin saat berhasil mencuri gerobak ramen Teuchi, semuanya.

"Kakek tua itu, seenaknya saja mengurungku di tempat ini. Markas Akatsuki katanya? Kotor sekali…" ujar Rin, menyibukan diri dengan pertanyaan-pertanyaan yang dibuatnya. Saat Rin mulai bangkit dari kematian, ehm maksudnya dari duduknya, kaki Rin tak sengaja menyambar sesuatu.

Buku milik Itachi.

"Buku apa ini?" Rin membungkuk, mengambil buku dengan sampul belakang bergambar Upin Ipin milik Itachi. Melihat pose Upin Ipin dalam sampul buku, Rin geleng-geleng kepala.

"Demi upil Uchiha Izuna. Apa-apaan gambar ini?" komentar Rin sambil menyernyit melihat gambar sampul belakang buku milik Itachi. Bergambar Upin dan Ipin yang memakai bikini di ruang tamu sambil menonton film 'Sailor Moon bertopeng' dari televisi.

Benar-benar disturbing pict.

Dibukanya lembar demi lembar halaman buku, mencoba untuk melenyapkan jenuh. Di sebuah halaman tertentu, mata Rin terpaku.

Mengatasi Uchiha yang OOC.

-.-.-

Dimanakah Pain, Tsunade dan Orochimaru berada? Kemanakah Kakuzu akan membawa Akinine soak dalam kutip Naruko Uzumaki pergi? Berhasilkan Tobi menjinakan juubi? Dimanakan Kisame dan Zetsu pergi? Apakah Hinata berhasil untuk mengajak Naruto menikah? Dimanakah Matsuri membeli jus alpokat? Bagaimana cara mengatasi Uchiha yang OOC? Dan bagaimana pertarungan antara Itachi dan Sasuke?

Satu lagi.

Kapan author akan mati!? *abaikan*

TBC. Tolol, Bodoh, Centil, itu author. *ngaku*

Selamat hari lebaran… n.n –abaikan author gila ini-