A/N : Terima kasih, buat yang udah review, favorite, dan follow cerita ini. Hal-hal semacam itu benar-benar menyenangkan hati saya sebagai author. Ternyata udah chapter 11 ya? Waaaa~ saya senang sekali, apalagi buat minna-san sekalian yang udah nemenin saya dan terus menyemangati sejak dari chapter 1. Terima kasih atas support-nya~

Sedikit PENGUMUMAN : Untuk Naruto Fanfiction Estafet, masih ada tiga kursi kosong. Jadi, bagi yang ingin bergabung, silahkan PM ke saya. Pendaftaran masih dibuka.

Ini bagian terakhir dari Arc Pembantaian Uchiha, semoga minna-san sekalian suka konklusi a la Daughter of Vayu. Pliss, jangan bunuh saya dulu, oke? Selamat membaca dan jangan lupa review~!


Chapter 10


"The good enemy accompanies you on the journey,
but you will never reach your destination with him."
Toba Beta


Kakashi terbelalak mendengar cerita Itachi. Ia bukanlah tipe orang yang mudah terkejut, namun ia tidak pernah menyangka, seorang shinobi muda, anggota ANBU, harus menanggung beban yang sedemikian berat untuk membantai klan-nya sendiri dan menyelamatkan dunia dari Perang Besar Shinobi. Uchiha Itachi harus menanggung semuanya. Seorang anggota klan Uchiha yang dianggap jenius. Kakashi menatap punggung Itachi saat mereka melesat menembus udara malam yang dingin, melintasi langit-langit desa.

Sebagai seorang ANBU (walau tidak begitu aktif lagi) yang bekerja langsung di bawah Hokage Ketiga, Kakashi tahu sedikit-banyak tentang Shimura Danzo. Fraksi oposisi, pendiri sekaligus pemimpin "Ne", sebuah divisi ANBU yang tidak begitu banyak diketahui publik. Kakashi benar-benar geram mendengar rencana Danzo untuk memerintahkan Itachi membantai seluruh anggota klan-nya. Kini Kakashi mengerti mengapa Itachi menitipkan Sasuke di rumahnya malam ini.

Karena Itachi tidak akan sanggup membunuh adiknya itu.

Kini, kedua ninja berseragam ANBU itu melesat membelah langit malam untuk menyelamatkan dua orang yang paling berharga dalam hidup mereka.

Dalam hati, Kakashi berharap agar Sasuke dan Naruto baik-baik saja.


"Kau tahu namaku," sosok bertopeng itu berkata sambil menatap Naruto. Ia terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya tertawa kecil. "Ah, tentu saja... Betapa bodohnya aku... Tapi aku tidak menyangka dia akan melakukan hal seperti itu."

Naruto menatap tajam pada sosok Uchiha Obito. Ia tidak sempat bereaksi saat Obito melompat dari tempatnya berdiri ke hadapan Naruto. Dalam sekejap mata, ia sudah mendekat hingga Naruto dapat mendengar bisikannya dengan jelas.

"Nee, Naruto-kun, kau datang dari masa depan juga, 'kan?"

Naruto terbelalak mendengar pertanyaan itu. 'Juga'...? Apakah Obito ini... Ia menoleh, menatap sharingan yang terlihat dari balik topeng yang dikenakan oleh Obito. Obito... Obito yang ini... apakah dia datang dari masa depan juga?

Naruto segera melompat mundur, menghindar sejauh mungkin dari sosok bertopeng itu. Saat ini, Naruto benar-benar merasa tak berdaya. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana caranya menghentikan pembantaian klan Uchiha? Naruto bahkan tidak tahu apakah dia sudah terlambat atau belum. Ia tidak melihat satu pun mayat anggota klan tergeletak di tempat ini. Hanya bercak darah yang mewarnai tembok-tembok dan jalan-jalan.

Lalu ia mendengar suara jeritan.

Melengking nyaring membelah langit malam berbulan pucat.

"Yang terakhir," bisik Obito. Ia segera melompat dari tempat itu.

Naruto berlari, mengejar Obito secepat kakinya bisa membawa. Mereka masuk semakin dalam ke kompleks kediaman Uchiha, ke arah rumah utama yang dikenali Naruto sebagai tempat tinggal Sasuke dan keluarganya. Naruto merasakan firasat buruk dari jeritan yang barusan ia dengar.

Dan firasat itu pun menjadi nyata.


Sasuke dan Pakkun berlari menyusuri jalan kompleks kediaman Uchiha. Pakkun berusaha menyesuaikan kecepatan langkahnya dengan anak itu. Jika ia berlari terlalu cepat, Sasuke akan tertinggal, namun ia tidak bisa berlambat-lambat. Bau Naruto tercium begitu kuat, menandakan anak itu masih berada di sekitar tempat ini.

Sasuke memperhatikan jalan yang mereka ambil. Ia hafal kompleks ini seperti punggung tangannya sendiri, dan jalan yang mereka lalui mengarah ke jantung kompleks. Tempat itu begitu sepi. Kalau saja Sasuke tidak tengah memikirkan keselamatan Naruto, maka ia akan menyadari noda darah yang telah mengotori dinding-dinding dan rumah-rumah yang mereka lalui.

"Pakkun, masih seberapa jauh lagi?" tanya Sasuke terengah-engah.

"Sedikit lagi. Baunya semakin kuat," kata Pakkun sambil terus berlari.

Sasuke berpikir untuk memanggil Kakashi. Bagaimana kalau ternyata orang yang akan ia hadapi bukanlah orang sembarangan? Sasuke tidak yakin ia akan mampu melawan shinobi yang hebat. Ia mulai bertanya-tanya, kemana Itachi disaat-saat seperti ini? Itachi pasti bisa menolongnya. Namun, ia tahu Itachi memiliki kewajiban lain dengan misi yang akan ia laksanakan.

"Pakkun, kita harus memanggil Kakashi-san," kata Sasuke berhenti tiba-tiba. Ia tidak sanggup lagi jika harus berlari. Rasa takut mulai menghampirinya, membuat sel-sel tubuhnya menolak untuk bergerak.

"Bocah, kita harus cepat..." desak Pakkun.

"Bagaimana kalau Naruto berada dalam bahaya yang tidak bisa kita tangani?" Tidak bisa kutangani, Sasuke mengoreksi di dalam hatinya. Ia menggigit bibirnya.

"Jangan konyol, Bocah! Lagi pula, kau pikir dimana kita berada saat ini?!" kata Pakkun. Ia sendiri mencemaskan keadaan Naruto dan ia tidak ingin bocah Uchiha ini menghambatnya. Sasuke tersentak. Mereka tengah berada di kompleks Uchiha.

Ia memandang berkeliling, dan baru menyadari horor apa yang selama ini mengelilinginya. Bercak darah menodai dinding, menggenang di jalan-jalan. Kenapa ia tidak menyadarinya sedari tadi?

"Pakkun... i-ini...?"

"Kau baru menyadarinya?" tanya Pakkun. "Kita harus segera menemukan Naruto."

"Apa yang sebenarnya terjadi...?"

Telinga Pakkun berdiri mendengar jeritan seorang wanita.

"Tidak ada waktu."

Mereka kembali melesat.


Naruto bisa menebak dimana kini ia berada. Rumah utama Uchiha. Tempat tinggal Sasuke dan Itachi. Obito berada di sini. Naruto yakin itu. Ia mendengar jeritan dari tempat ini. Buru-buru, anak itu segera memasuki rumah tanpa pikir panjang. Matanya terbelalak saat tiba di ruang depan rumah.

Obito berdiri, dengan tanto berlumuran darah di tangan. Tubuh seorang pria terpuruk di lantai, sementara seorang wanita duduk, menatap lubang kosong di topeng yang ia dikenakan oleh panjang hitamnya terurai, menutupi wajahnya, sementara tangannya menggenggam kunai sebagai upaya terakhir untuk mempertahankan diri.

Naruto segera mengenali wanita itu sebagai Uchiha Mikoto, ibu Sasuke.

"Mikoto-san!" seru Naruto. Obito menoleh, begitu juga dengan Mikoto.

"N-Naruto-kun!" seru wanita itu.

Sejak pertemanannya dengan Sasuke, Mikoto sudah menjadi sosok ibu bagi Naruto. Uchiha Fugaku, ayah Sasuke, mungkin tidak terlalu menyukainya, namun Mikoto selalu tersenyum lembut pada Naruto, dan terkadang mengingatkannya akan Kushina. Kini, Naruto memiliki satu kesempatan untuk menyelamatkan seorang Uchiha dan mengubah sejarah.

Naruto memandang berkeliling berusaha mencari cara untuk melawan Obito. Pandangannya tertuju pada kunai yang menancap beberapa meter dari tempat ia berdiri. Tanpa pikir panjang, Naruto melesat dan menyambar kunai itu. Dengan hati-hati, ia melemparkan kunainya ke arah Obito. Ia melompat dan memposisikan diri di antara Mikoto dan Obito, berusaha melindungi wanita itu.

Obito membiarkan kunai itu menembus tubuhnya. Naruto mendecakkan lidah dengan kesal. Ninjutsu milik Obito ini benar-benar menyebalkan.

"Mikoto-san, Fugaku-san...?" tanya Naruto.

Mikoto menggelengkan kepalanya, berusaha menahan tangis. Naruto mengerti. Ia menyambar tangan Mikoto dan meraih kunai lain yang tertancap di sekitar ruang tatami itu. Mikoto perlahan berdiri dan berlari mengikuti Naruto. Keduanya mulai bergerak ke arah pintu. Namun, baru beberapa langkah, Naruto merasakan sebuah tinju beradu dengan perutnya. Nafasnya tersentak keluar. Untuk beberapa detik, ia berusaha mengatur kembali nafasnya, meringkuk sambil mencengkram perutnya sementara Mikoto berusaha melindungi Naruto.

"Naruto-kun!" seru Mikoto.

"Te-tenanglah... Mikoto... san..." kata Naruto terengah-engah. Ia memaksa kakinya untuk berdiri. Naruto memejamkan matanya dan memanggil siluman rubah ekor sembilan; Kurama.

Bantu aku!

Tentu saja, Bocah!

Naruto merasakan chakra Kurama mulai memasuki sistemnya. Memang tidak sekuat dulu saat ia masuk ke dalam Bijuu Mode, namun cukup untuk membuatnya mampu menghasilkan Kage Bunshin yang cukup stabil. Tubuhnya masih belum mampu menahan beban yang ditimbulkan oleh chakra Bijuu, bahkan dengan bantuan Kyuubi, ia masih belum cukup kuat.

Tangan Naruto telah membentuk segel yang amat familiar. Ia mengumpulkan chakranya dan melepaskan jurus.

"Kage Bunshin no Jutsu!" seru Naruto.

Beberapa klon bayangannya muncul.

"Ho? Ternyata kau sudah bisa menggunakan Kage Bunshin rupanya..." kata Obito. "Yah, mengingat kau yang datang dari masa depan, tentu akan lebih mudah untuk mempelajari kembali jurus-jurusmu ini, bukan?"

"Diam, brengsek," kata Naruto. "Mundurlah, Mikoto-san, aku yang akan menghadapinya."

"Tapi Naruto-kun...!"

Sebelum Mikoto dapat melanjutkan perkataannya Obito telah menyerbu maju, begitu juga dengan klon-klon milik Naruto. Dengan mudah, Obito menghancurkan satu per satu klon Naruto hingga ia dengan mudah menyambar leher Mikoto. Naruto yang asli muncul dengan kunai di tangan, dan tanpa segan-segan, ia menancapkan senjata itu ke bahu Obito. Namun, Obito tidak lantas melepaskan Mikoto begitu saja. Walau dengan kunai menancap di bahunya, Obito dengan mudah melemparkan Naruto ke seberang ruangan.

Ia melepaskan kunai yang menancap di bahu, dan dengan kunai yang sama, ia menusuk tubuh Mikoto.

Tepat di jantung.

Jeritan panjang membelah langit-langit ruang tatami yang rendah. Jeritan Mikoto dan Naruto. Obito menjatuhkan tubuh Mikoto begitu saja ke lantai tatami yang kini mulai dinodai oleh darah merah. Perlahan, Naruto bangkit dan merangkak menuju tubuh Mikoto untuk memastikan kondisi wanita itu.

"Kau gagal, Naruto-kun..." kata Obito. "Aku membunuh wanita itu."

"...Kau...!"

"Pada akhirnya, aku tidak bisa mengaharapkan Itachi akan membunuh mereka. Itachi di masa ini terlalu lembek," kata Obito. "Semua karena kau, Uzumaki Naruto."

"Brengsek!" seru Naruto. Dengan penuh emosi, ia menyerbu, namun dengan mudah Obito menghindari serangannya dan melemparkan tubuh kecil Naruto ke seberang ruangan.

"Aku tidak percaya. Ku pikir orang yang akan kutemui di masa ini adalah Kakashi. Tapi sepertinya dia justru mengirimmu ke tempat ini," kata Obito. "Kakashi bukanlah satu-satunya orang yang diajari jurus ini oleh Minato-sensei, Naruto-kun. Aku juga diajari, meski ia tak pernah begitu berharap aku akan menguasainya dengan sempurna seperti Kakashi.

"Tidak banyak orang yang tahu bahwa saat kau menggunakan jurus ini, bentuk pengambilan chakra yang khas akan menunjukkan perubahan chakra yang sangat signifikan, sehingga aku langsung tahu bahwa Kakashi telah menggunakan Jurus Pembelokan Waktu. Awalnya kupikir ia menggunakannya untuk dirinya sendiri... Ternyata ia mengirim kau..."

"Kecewa?" tanya Naruto sinis.

"Sedikit," jawab Obito. "Nee, Naruto-kun, apa aku perlu membunuhmu sekarang?"


Sasuke dan Pakkun telah tiba di depan kediamannya. Rumahnya begitu gelap. Apakah Otou-san dan Okaa-san baik-baik saja? Pakkun mengendus bau Naruto hingga ke tempat ini. Apa yang Naruto lakukan di rumahnya malam-malam seperti ini? Sasuke berlari memasuki rumah, dan langsung memasuki ruang tatami. Matanya terbelalak ngeri melihat pemandangan yang terbentang di hadapannya.

Tubuh ayahnya terpuruk di satu sisi ruangan, sementara ibunya terbaring di tengah ruangan. Satu sosok lain berdiri, dengan satu tangan memegang tanto dan tangan lainnya mencengkram kerah baju Naruto. Sasuke berteriak sekerasnya. Pakkun telah melompat dan menggigit tangan sosok bertopeng yang siap menikam Naruto dengan pedang kecilnya.

"Okaa-san! Otou-san!" seru Sasuke. "N-Naruto!"

Obito menoleh dan menatap Uchiha Sasuke dengan sebuah seringai di balik topengnya.

"Uchiha Sasuke," gumam Obito.

Sasuke menoleh pada sosok bertopeng itu ketika ia mendengar namanya disebutkan. Ia melihat Sharingan tersembunyi dari salah satu mata topeng yang terlihat. Siapa...? Anggota klan-kah?

Tiba-tiba sekelilingnya berubah menjadi gelap, hingga ia mendengar sebuah jeritan panjang. Darah. Sakit.

Sasuke menjerit.


Sial! Dia terkena genjutsu! Itulah yang Pakkun pikirkan sementara ia tetap tidak melepaskan gigitannya dari tangan Obito. Genjutsu itu mungkin memang tidak sehebat Tsukuyomi milik Itachi, namun tetap saja menimbulkan efek yang sama bagi Sasuke. Dengan Naruto yang masih berada dalam bahaya, Pakkun tahu ia harus melawan musuh ini seorang diri hingga Kakashi tiba.

Namun, seekor ninken melawan ninja seperti Uchiha Obito? Siapa pun bisa menebak siapa pemenangnya.

Pakkun menyentakkan rahangnya untuk memutuskan lengan Obito yang memegang tanto. Sebagai ninken, ia memiliki rahang yang lebih kuat dibanding anjing pada umumnya, sehingga satu sentakan, lengan Obito telah terputus. Tidak ada darah yang keluar. Hanya sesuatu berwarna putih yang terlihat seperti tanah liat. Pakkun merasakan rasa yang tidak enak di mulutnya dan meludahkannya ke tanah.

Paling tidak, dengan begini, ia tidak perlu cemas dengan tubuh Naruto akan tertikam tanto.

"Namun aku tetap dapat mematahkan lehernya," kata Obito. Tangannya kini telah berpindah pada batang leher Naruto, membuat anak itu menggeliat berusaha melepaskan diri dari cengkraman Obito yang membuatnya sulit bernafas.

Matanya mulai berkunang-kunang saat ia menyadari suplai udaranya mulai terhenti. Naruto mencakar tangan itu, berusaha melepaskannya dari lehernya dan kakinya terus menendang-nendang udara, sebagai bentuk upaya untuk melepaskan tetap tidak bergerak.

Pandangan Naruto mulai buram. Ia tidak mampu lagi berpikir.

Ia mendengarkan sesuatu hancur, lalu beberapa teriakan. Pandangan matanya beralih pada Sasuke yang masih di bawah pengaruh genjutsu. Entah horor apa yang saat ini ia lihat.

Sasuke-bego...


Mereka nyaris terlambat.

Atau kah sudah terlambat?

Kakashi terbelalak ngeri saat melihat tubuh Naruto tergantung lemas dari tangan satu sosok bertopeng yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Pandangannya beralih pada Sasuke yang terduduk diam tak bergerak. Seluruh ototnya berkontraksi dan matanya terbelalak, seolah melihat sesuatu yang benar-benar mengerikan. Itachi telah lebih dahulu bereaksi. Ia mengalirkan sedikit chakra ke dalam tubuh Sasuke.

"Kai!"

Sasuke terlepas dari genjutsu. Ia jatuh terpuruk, terengah-engah dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Sasuke memuntahkan makan malamnya tadi. Itachi sudah berada di sisinya, menggosok punggung adinya itu, berusaha menenangkannya.

"Nii-san?" bisik Sasuke lirih.

"Ssshh... Sasuke... Aku ada di sini..." kata Itachi menenangkan.

"Otou-san dan Okaa-san..." kata Sasuke terisak. "Otou-san... Okaa-san..."

"Tenanglah, Sasuke... Aku ada di sini..."

Sementara Itachi menenangkan Sasuke, Kakashi hanya bisa menatap adiknya tergantung lemas tak berdaya di tangan seorang pria bertopeng yang tampak tidak akan ragu-ragu untuk mematahkan leher Naruto. Pakkun telah mendarat di sisi Kakashi. Sosok bertopeng itu menoleh dan menatap Kakashi selama beberapa saat.

"Hatake Kakashi..." gumam sosok itu.

"Lepaskan Naruto," kata Kakashi tajam.

Sosok itu terdiam selama beberapa saat, mempertimbangkan situasi. Ia menatap Sasuke dan Itachi, lalu kepada Kakashi.

"Tugasku malam ini sudah selesai," kata sosok itu. "Maaf, aku juga mengambil bagianmu, Itachi-kun..."

Sosok bertopeng itu melemparkan Naruto ke dinding. Kakashi segera melompat sebelum tubuh mungil itu menghantam dinding dengan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai bantalan. Kakashi memeluk Naruto erat-erat serta memeriksa kondisi vitalnya. Nafasnya tidak teratur dan ia jelas tidak sadarkan diri. Sebelum Kakashi sempat melakukan serangan balik, sosok bertopeng itu telah menghilang, meninggalkan mayat Uchiha Fugaku dan Mikoto di ruang tatami itu.


"Seharusnya tidak seperti ini," gumam Itachi sambil membaringkan Sasuke di sisi Naruto. Bocah berambut pirang itu masih belum sadarkan diri. "Ia sudah melanggar kesepakatan. Ia berjanji untuk tidak menyentuh desa atau pun Sasuke."

Kakashi tidak berkata apa-apa. Dalam diam, ia mengoleskan salep pada lebam di tubuh Naruto setelah membalut semua luka yang ada. Naruto masih belum sadarkan diri, namun kodisinya telah stabil.

"Dia... siapa dia?" tanya Kakashi pada Itachi. "Pria bertopeng itu..."

"Uchiha Madara," jawab Itachi getir.

Mata Kakashi terbelalak mendengar nama ? Uchiha Madara yang dulu bertarung dengan Hokage Pertama? Bagaimana bisa ia masih hidup dan cukup sehat untuk bertarung seperti itu? Kakashi mengamati memar yang masih tersisa di leher Naruto. Jejak tangan terlihat memerah, membuat Kakashi meringis melihatnya.

"Aku bertemu dengannya. Ia berkata ingin membalaskan dendamnya pada klan Uchiha dan memiliki tujuan yang sama denganku. Kami membuat perjanjian bahwa dia tidak akan menyentuh desa dan Sasuke," kata Itachi. "Pada akhirnya dia melanggar perjanjian. Tapi satu hal menggangguku, Kakashi-san..."

"Ada apa?"

"Ia terus bertanya tentang kau dan Naruto-kun. Terutama Naruto-kun," kata Itachi. "Aku takut ia berada dalam bahaya. Naruto-kun sudah seperti adik bagiku. Aku tidak ingin ia menderita."

Kakashi menghela nafas. Itachi memang seorang shinobi berbakat, namun tetap saja, kenaifan usianya terkadang masih terlihat. Itachi yang cinta damai tumbuh menyaksikan sisa-sisa kehancuran pasca Perang Besar Shinobi Ketiga. Tidak mudah memang, menyaksikan kehancuran desa dan negara seusai perang itu.

Bahkan terkadang Kakashi masih dihantui peristiwa di Jembatan Kannabi.

"Kita harus melindungi Naruto-kun, Kakashi-san," kata Itachi.

"N-Naruto-kun... Dalam bahaya...?" dengan suara lirih, Sasuke bertanya dan membuka matanya. "Itachi-niisan..."

"Ssshhh... Sasuke-kun... Ia akan baik-baik saja. Kau dan Kakashi-san akan selalu melindunginya bukan?" kata Itachi menenangkan.

"B-Bagaimana dengan... Niisan?" tanya Sasuke.

Itachi tidak menjawab. Ia menoleh pada Kakashi.

"Kakashi-san, aku harus pergi. Semua orang di desa mengira aku lah yang membantai semua anggota klan. Lagi pula, masih ada satu tugas yang harus kulakukan," kata Itachi. "Danzo benar-benar menjalankan misinya. Aku yang sekarang adalah seorang kriminal, dan kumohon, rahasiakan ini dari semua orang. Cukup kau, Naruto, dan Sasuke saja yang tahu kebenaran di balik peristiwa ini."

Itachi bangkit dari duduknya di sisi tempat tidur. Namun sebelum ia bisa berdiri sempurna, sebuah tangan kecil mencengkram bajunya dengan erat.

"Itachi-niisan..." kata Sasuke, tidak mampu menahan airmatanya. Itachi tersenyum lembut pada adiknya itu.

"Tetaplah kuat, Sasuke... Untukku dan untuk Naruto-kun, oke?" ia menepuk lembut kepala Sasuke. "Kakashi-san, aku akan berangkat sekarang."

Perlahan, Itachi melepaskan cengkraman Sasuke dan beranjak menuju pintu kamar. Ia membuka pintu saat mendengar suara debam dan Kakashi yang secara refleks langsung menyelamatkan Sasuke yang berusaha bangkit dari tempat tidur.

"Niisan... Kumohon jangan pergi..." kata Sasuke sambil berusaha mendorong dirinya untuk berdiri. Ia menepis tangan Kakashi dan terus mendorong tubuhnya untuk tegak dan berjalan terhuyung-huyung ke arah Itachi. Pria berseragam ANBU itu menangis. Tanpa ia sadari, air mata merebak, membuat pandangannya kabur.

"Kumohon... jangan pergi..." kata Sasuke lirih.

Itachi hanya bisa tersenyum sedih melihat adiknya itu. Ia berjongkok di hadapan Sasuke, mengangkat kedua jarinya dan mengetuk dahi Sasuke dengan lembut. Ia menatap kedua bola mata gelap yang kini digenangi oleh air mata. Ia ingin tinggal, bersama Sasuke dan semuanya. Itachi ingin agar semua kembali seperti dulu lagi. Kenapa semua ini harus terjadi? Senyum lembut itu tak pernah menghilang dari wajah Itachi.

Pandangan Sasuke mengabur, sebelum semuanya ditelan oleh kegelapan. Hanya telinganya yang masih menangkap perkataan Itachi, namun suara kakaknya itu terdengar begitu jauh. Sebuah janji, janji yang selalu ditepati oleh Itachi. Janji yang selalu diucapkan olehnya.

"Maaf, Sasuke... Lain kali, ya."


A/N : TAMAT.

.

.

.

Becanda! Belum tamat kok... dan nggak tahu mau ditamatin kapan (sampai Naruto jadi Hokage? XD)... Tell me what do you think!