"ONE MISTAKE"

-=Sherry Dark Jewel Present=-

Disclaimer: Yang pasti bukan Yuki…Yuki Cuma nulis Fic ni doang..

Rate : T (bisa berubah nanti)

Pairing : akan muncul nanti seiring bertiupnya angin#plakk..

Genre : Adventure/Friendship/Romance(bakal lama)

Warning : OOC, AU, Abal, typos bertebaran di mana-mana, alur bosenin, geje kayak yang nulis, dan entahlah,,

Summary : Apa yang kalian lakukan padaku? Kalian gila, kalian jahat, kalian tak punya perasaan. Kalian.. intukah yang namanya keluarga? Tidak kalian bukan siapa-siapa lagi akan datang lagi pada kalian. Aku akan membalas semuanya, semua yang kalian lakukan padaku. Tak sadarkah kalian? Kalian telah melahirkan seorang manster.

.

Don't Like Don't Read

.

Prologue

.

"TSUNA"

"Tsuna.. bangun.. bangun kau anak bodoh.." teriak seorang wanita dari luar pintu kamar Tsuna gedoran pintu terdengar bertalu-talu. Sangat keras. "Anak bodoh cepat kau bangun" perintah wanita itu.

"ehk.." Tsuna bangkit dari tidurnya. Diliriknya jam yang ada di meja nakas, 'pukul 06.30 ya' bocah manis itu hanya bisa menghelang nafasnya. Lalu melangkahkan kakinya ke pintu, membuka pintu itu untuk memberi tahu ibunya—orang yang sedari tadi menggedor-gedor pintu kamarnya—bahwa ia sudah bangun.

Cklek..

"Cepat kau mandi dan siapkan sarapan" perintah wanita itu pada Tsuna. Lalu pergi meninggalkan Tsuna sendirian di tengah pintu kamarnya. Tsuna hanya bisa terdiam

Tsuna, atau Tsunayoshi Sawada adalah bocah berumur 8 tahun, tahun ini ia duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar. Ia anak yang manis dengan perawakan mungil rambut coklat yang sama dengan iris matanya. Namun tak ada kebahagian yang biasa diberikan pada anak seusiannya. Ibunya—wanita yang meninggalkannya tadi—sangat tidak suka dengannya meski ia anak kandungnya.

Nana Sawada sangat membenci Tsuna, ia lebih perhatian pada Yoshimitsu Sawada—adik kembar Tsuna. Yoshimitsu Sawada selalu mendapatkan apa yang ia inginkan adiknya lebih tinggi darinya, jika Tsuna manis maka Yoshi tampan. Yoshi pun membenci Tsuna karena menurut Yoshi, Tsuna memiliki apa yang seharusnya miliknya. Sedangkan sang ayah Iimitsu Sawada lebih menyukai Yoshi dan tak pernah mengakui keberadaan Tsuna.

Sebenarnya semua ini tak akan pernah terjadi jika kejadian dua tahun yang lalu tak perna ada.

.

.:: Yuki ::.

.

Two Years Ago

Tsuna tengah bermain ditaman bersama Yoshi dan kedua orang tuanya. Nana dan Iimitsu hanya memandang Tsuna dan Yoshi yang tengah tertawa gembira di bak pasir. Dua bocah berusia enam tahun itu menunjukkan sorot bahagia.

"Tsu-kun Yo-kun mau kemana..?" Tanya Nana pada Tsuna dan Yoshi yang tengah berjalan bersama menjauh dari mereka. Mendengar seruan sang ibu keduanya berbalik melihat sang ibu. Senyum masih berkembang dikeduanya. "Kami mau jalan jalan Kaa-san.." jelas Yoshi pada Nana.

"Kalau begitu hati-hati ya.." ucap sang ibu pada mereka berdua. Yang dibalas dengan angukan kepala lalu melangkahkan kaki lagi. "Mereka sudah besar ya pa.." adunya pada sang suami.

"Ya ma.. tak terasa mereka sudah enam tahun. Tahun depan mereka akan masuk sekolah dasar" ucap Iimitsu bangga. Inilah impiannya memiliki keluarga yang bahagia, istri yang cantik dan setia serta dua putra yang manis.

.

.:: Yuki ::.

.

"Nii-san lihat.." Yoshi menunjuk sebuah apel yang mengantung rendah di pohon. "Aku mau itu Nii-san" rajuk Yoshi pada Tsuna. Tsuna tahu maksut sang adik, ia ingin Tsuna ambilkan apel itu, tapi ia juga ingin apel itu.

"Baiklah.. tapi nanti kita bagi dua ya.." kata Tsuna. Yoshi hanya menganguk antusias..

Tsuna menuju di bawah tempat apel yang mengantung, di berusaha mengambilnya. Meloncat-loncat mencoba mengapai apel. Dan..

HAAPP..

"dapat.." Tsuna tersenyum saat melihat apel telah berpindah ketangannya. "Lihat Yoshi.." menunjukkan apelnya pada sang adik.

Yoshi pun mendekati lalu mengambil apel itu. "Ini untuk Yoshi ya.." ucapnya lalu berlari sambil tertawa. Yoshi ingin mengoda sang kakak yang manis.

"Yak Yoshi.. kan apelnya kita bagi dua.." protes Tsuna mengeraj Yoshi yang berlari semakin Jauh. "Yoshi..Tunggu…"

Yoshi masih tertawa melihat sang kakak mengejarnya "Ayo Nii-san tangkap aku..hihihi.." Yoshi terkikik geli.

\

"Yak.." Tsuna mempercepat larinya, matanya masih tertuju pada adiknya yang tengah berada tiga meter di depannya. Hingga..

CKIITTTT

BRUUKKKK

"YOSHIII…."

Yoshi terserempet mobil yang tengah melaju di jalan, tadi ia tak melihat jika akan ada mobil yang melaju kencang dari arah selatan. Tsuna menghampiri Yoshi.."Yoshi kau tak apa.. Yoshi" ditepuk-tepuknya wajah sang adik..

"Maaf aku akan bertanggung jawab" ucap sang pengemudi mobil pada Tsuna yang tengah memangku kepala adiknya.

"Yo..Yoshi.."

"Uhgg..Ni-nii-san.." gumam Yoshi lirih namun masih dapat didengar oleh Tsuna. Yoshi mulai membuka manic matanya.

"Yosh-"

"Astaga..Yo-kun apa yang terjadi?" terlihat Nana yang tengah berlari menghampiri Tsuna, Yoshi dan sang pengemudi. Iimitsu ada di belakangnya ikut berlari menuju putra mereka.

"Yoshi.."

Iimitsu menemui sang pengemudi, mengajak untuk berbicara agak menjauh dari putra dan istrinya. Sedangkan Nana langsung menuju Yoshi dan mengendongnya. "Kaa-san.."

"Yo-kun kenapa bisa seperti ini..? kau juga Tsuna kenapa kau tak menjaga adikmu.." ucap Nana sedikit meninggikan suaranya dari biasanya.

"Kaa-san ak-"

"Kaa-san Yoshi tadi dikejar Nii-san, karena Nii-san ingin mengambil apel yang Yoshi dapat dari pohon yang ada di taman" adu Yoshi pada sang ibu sambil menyelipkan wajahnya pada ceruk lehar Nana.

"Tsuna tidak melakukan itu Kaa-san. Tadi Tsuna yang-" pejelasan Tsuna terpotong ditengah-tengah karena bentakan Nana.

"Kau itu bagaimana Tsuna? Kenapa kau mengejar adikmu? Dan mau mengambil apel miliknya.. kau kan kakak seharusnya kau menggalah sedikit pada Yo-chan. Lihat Yo-kun jadi terserempetkan" Bentak Nana

"Ta-tapi Tsuna tidak meng-"

"Dan jangan pernah berbohong Tsunayoshi.. Ibu dan ayah tak pernah mengajarkanmu untuk berbohong.." Lanjut sang ibu. Tsuna hanya diam, ucapannya saja tak dipercaya oleh sang ibu. Hanya satu yang menjadi pertanyaannya kenapa Yoshi berbohong.

.

.:: Yuki ::.

.

Kerena kejadian itu perlakuan Nana dingin pada Tsuna.. Yoshi pun jadi tak begitu mendekat pada Tsuna. Namun Tsuna masih mennyayangi adik kecilnya itu, ia selalu mau jika diajak main Yoshi tapi lama-kelamaan di saat Yoshi melakukan sesuatu yang salah dan membuat orang tuanya marah, ia akan menyalahkan sang kakak. Sedangkan sang kakak tak pernah bisa menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Dari pecahnya vas kesayangan Nana, Hilangnya berkas penting milik Iimitsu, rusaknya bunga-bunga di taman rumah dan kejadian lainnya yang dilakukan oleh Yoshi. Maka Yoshi akan menyalahkan Tsuna. Semakin lama ia semakin kesal pada Yoshi namun Tsuna tak bisa apa-apa, hal itu membuatnya penutup diri dari keluarganya.

Kebencian Yoshi pada Tsuna semakin besar saat di kelas satu Sekolah Dasar, Tsuna lebih pintar darinya dan Kyoko lebih menyukai sang kakak. Kyoko adalah gadis yang sangat disukai Yoshi namun Kyoko lebih tertarik pada Tsuna yang pintar dan baik. Hal itu yang membuatnya membenci Tsuna. Yoshi selalu berusaha membuat sosok Tsuna sangat buruk dimata teman-temannya, entah rencana-rencana licik apa yang akan diterima Tsuna.

Dan itu membuat Tsuna semakin dibenci oleh teman-temannya akibat Yoshi. Bahkan Kyoko pun mulai tak mau berdekatan dengannya. Orang tuanya juga semakin membencinya. Hingga semuanya menjadi seperti sekarang. Ia hanya sendirian.

.

.:: Yuki ::.

.

Tsuna telah selesai mandi ia pun berjalan menuju dapur untuk memasak sarapan untuk keluarganya ah bukan rasanya di sini ia hanyalah orang asing yang menumpang. Ia mulai tak mau mengakui Nana dan Iimitsu sebagai orang tua bahkan Yoshi sudah tak perna ia akui sebagai adik sejak ia semakin sering dijadikan alasan kesalahannya.

Tsuna menyiapkan semua bahan masakan yang akan ia buat. Pagi ini ia tak membuat sesuatu yang susah ia hanya membuat Pencake saja juga menyiapkan Kopi untuk Iimitsu, Teh untuk Nana dan Jus apel untuk Yoshi. Bahkan sekarang ia tak pernah lagi sarapan bersama keluarganya ia selalu mengambil sarapannya lalu memakannya dikamar setelah itu berangkat. Nana dan Iimitsu tak pernah menghiraukan apa yang Tsuna lakukan, yang penting Tsuna mau membuatkan sarapan membersihkan rumah dan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bukankah Tsuna sudah seperti seorang pembantu di rumah itu?.

.

.:: Yuki ::.

.

Tsuna membuka pintu lokernya untuk menggambil sepatu ganti, tapi sebuah benda tajam mengores telapak tangannya hingga membuatnya darah mengucur dari sana. Tsuna tak menjerit kesakitan ataupun meringis. Ia sudah terlalu terbiasa dengan semua ini sejak teman-temannya membencinya.

Dipakainya wabaki yang ia ambil, lalu pergi menuju toilet untuk membersihkan darah ditanagannya yang masih terus mengucur mengotori lantai. Ia tak perduli dengan lantai koridor yang ia kotori dengan tetepan darahnya, nanti pasti akan dibersihkan oleh petugas kebersihan sekolah.

Selesai membersihkan tangannya dan membelitnya dengan perban yang selalu ia bawa ditasnya. Tsuna berjalan ke kelasnya.

.

.:: Yuki ::.

.

In The Class

Tsuna membuka pintu kelas. Lalu

BUKKK

Penghapus papan tulis mendarat langsung pada mukanya, membuat muka manis itu putih tertutup kotoran kapur. ia masih tak perduli ia melangkahkan kakinya menuju bangku pojok dekat jendela lalu membersihkan wajahnya dengan sapu tangan berwarna oranye miliknya.

"Hei Deme-Tsuna.. kau masih berani masuk sekolah hah..?" ucap seorang anak padanya diikuti tawa oleh penghuni kelas lainnya.

"Iya..kenapa kau tak keluar saja dari sekolah ini, Kau membuat kelas ini selalu apes.. kau tahu" hardik gadis yang duduk di tengah gerombolan gadis-gadis popular yang ada dikelasnya.

"kau benar.. disetiap ada Deme-Tsuna pasti semuanya akan berantakan.. benar-benar pembawa sial" sahut gadis lainnya.

Tsuna tak pernah lagi menangapi mereka, ia hanya memasang tampang datarnya. Jika ia membalas semua ejekan dan bully yang ia terima. Itu akan membuat mereka semakin senang dan semakin parah. Namun jika ia diam saja mungkin lama kelamaan semuanya akan berhenti. Meski ia tak yakin untuk Yoshi.

"ayo.. Tsuna.. tak bisa membalas hah..?" ucap anak lainnya diiringi suara tawa yang semakin keras saja. Tsuna masih tak menghiraukan mereka, menurutnya pemandangan langit di luar jendela lebih menarik dari pada anak-anak yang tengah mengejekya.

"dasar Pecundang.."

"Apa kau bisu dan tuli,,? Deme Tsuna?"

"Sekali Deme.. maka tetap akan menjadi seorang Deme"

"Dia takut membalas kita.. dasar penakut"

"dasar Deme Tsuna.. bukankah Yoshi lebih baik dari Tsuna.. kasihan Yoshi harus punya saudara kembar seperti dia.."

Tsuna masih tak menghiraukan mereka. Anak-anak itu mulai geram dengan sifat Tsuna.. "Teman-teman lebih baik kita pergi saja. Tak usah mengurus seorang Deme seperti dia..dasar anak aneh.." cetus salah satu siswa yang di jawab anggukan oleh lainnya.

"Kau benar mungkin dia sudah benar-benar gila.." salah satu siswi berkata sambil menunjuk Tsuna. Lalu anak-anak lainnya mulai bubar menuju bangkunya masing-masing karena jam menunjukkan pukul 8.40 tandanya 10 menit lagi akan bel.

Lalu Yoshi pun datang.. ia menyapa semua teman-temannya dan dibalas senang oleh anak-anak lainnya. Lalu Yoshi melirik Tsuna yang ada di bangku pojok belakang. Ia hanya menyungingkan seringai. Yoshi sedari tadi sudah ada di depan pintu kelas, ia tak masuk karena ingin mendengar semua ejekan untuk Tsuna. Dan ia senang mendengar dan melihat semua itu. Ia melebarkan seringainya, sepertinya ia mempunyai sebuah rencana untuk menjatuhkan sang kakak lagi. Dan sudah tak sabar untuk mejalankannya.

.

.:: Yuki ::.

.

TBC/End?

Hai Hai Minna-San

Ini Fic pertama Yuki di KHR

Ah senengnya bisa nulis ni cerita…^^

Gimana? Menurut kalian? Ini Fic pantes gak buat dilanjutin?

Buat Senpai-Senpai di sini mohon bantuannya ya..^^

Arigatou Gozaimasu..

Review Please