"ONE MISTAKE"

-= Sherry Dark Jewel Present =-

Disclaimer: Yang pasti bukan Yuki…Yuki Cuma nulis Fic ni doang..

Rate : M

Pairing : akan muncul nanti seiring bertiupnya angin#plakk..

Genre : Adventure/Friendship/Romance(bakal lama)/Family

Warning : OOC, AU, Abal, typos bertebaran di mana-mana, alur bosenin, geje kayak yang nulis, dan entahlah,, LEMON di Ch ni

Summary : Apa yang kalian lakukan padaku? Kalian gila, kalian jahat, kalian tak punya perasaan. Kalian.. intukah yang namanya keluarga? Tidak kalian bukan siapa-siapa lagi akan datang lagi pada kalian. Aku akan membalas semuanya, semua yang kalian lakukan padaku. Tak sadarkah kalian? Kalian telah melahirkan seorang monster.

.

Don't Like Don't Read…oke..^^

.

Side Story

.

Tsuna menyeret rangsel kecilnya menuju rumah besar yang ada di depannya. Rumah tuannya, mau tak mau Tsuna harus mengakui ia sekarang telah dimiliki Teru. Tapi menginggat apa yang pernah dikatakan tuannya ia meyeringai. "jika kau bisa menjadi Pet yang baik.. aku akan memberikan apapun untukmu..". tumbuh dengan siksaan membuat Tsuna mau tak mau mendewasakan dirinya. Ia harus berpikir bagaimana mengatasi siksaan-siksaan yang ia terima. Tsuna tak mau selalu dikucilkan, direndahkan dan diinjak-injak. Dia lelah dengan itu semua. Mungkin sekarang ia menjadi budak sex adalah salah. Tapi jika mengingat apa yang ayahnya lakukan padanya. Itu lebih menyakitkan dari pada menjadi budak sex Teru. Ayahnya lah yang mengenalkan sex padanya.

.

7 Month Ago.

Rumah keluarga Sawada tengah sepi. Hanya ada Tsuna sendiri, Yoshi dan Nana tengah pergi ke luar kota untuk berlibur. Sedangkan Iemitsu tengah bekarja di italia. Meski kerja di italia, Iemitsu selalu pulang setiap tiga hari sekali. Katanya demi melepas kerinduannya pada Yoshi kecilnya.

Dan hari ini adalah jadwal Iemitsu pulang. Sayang Iemitsu tak tahu jika istri dan anak kesayangannya tengah ada di luar kota. Baru tadi pagi mereka berangkat dan memutuskan akan berlibur empat hari disana.

Iemitsu yang melihat rumah kosong dan hanya ada Tsuna dirumah pun marah, ia memukuli Tsuna. Padahal Tsuna tak tahu apa-apa, tapi apa yang bisa Tsuna lakukan. Ia hanya bisa meringis, berusaha tak mengeluarkan suara. Sedangkan Iemitsu hanya ingin melampiaskan kebenciannya pada Tsuna serta keluh kesahnya pada pekerjaannya yang sangat menyiksa emosinya. Iemitsu, di saat Tsuna membuat ulah, ia selalu dia hanya memnunjukkan sedikit . Karena ia ingin menjaga imagenya saat ada kedua orang yang ia sayangi. Tapi sekarang adalah kesempatan yang bagus.

Iemitsu memukuli Tsuna, tak hanya mengunakan balok kayu yang tergeletak di taman belakang. Ia juga memecut punggung Tsuna dengan ikat ia menyiksa Tsuna, tapi Iemitsu selalu saja heran setiap Tsuna dilukai separah apapun, ia akan sehat kembali hanya dalam sehari. Tapi ia tak tahu bagaimana Tsuna melakukan itu, sudahlah apa perdulinya dengan hal itu ia pun menyiksa Tsuna tanpa ampun.. ia yakin besok Tsuna akan sembuh, mungkin nanti malan Tsuna juga sudah baikan.. meski mungkin sedikit lebam dan memar menyelimuti tubuhnya.

Setelah puas ia pergi keluar rumah meningalkan Tsuna yang tergeletak kesakitan dilantai. Ia tak bisa mengerakkan tubuhnya yang sakit. Hanya bisa meringis dan menangis dalam diam hingga kesadarannya hilang.

.

Malam telah tiba, Iemitsu pulang dengan langkah gontai. Ia menghabiskan waktunya di kedai sake yang ada di pesimpangan jalan dekat rumahnya. Wajahnya merah menandakan ia mabuk berat, maklum bertemu kawan lama dan di ajak minum pasti membuat ia lupa waktu. Selain itu ia sekarang tengah memeluk pinggang seorang wanita yang memakai gaun merah yang sangat minim, hingga siapapun dapat melihat belahan dada sang wanita. Bahkan jika wanita itu duduk pasti akan terlihat g-string merah yang dikenakan.

Saat ia telah masuk rumah, dan melihat Tsuna yang tergeletak tak berdaya. Iemitsu langsung mendatanginya lalu menendangnya. "Bangun hik Bodohhhh..." sedangkan sang wanita hanya melihat saja.

Duak

Duak

"BANGUNNN...hik.."

Tendangan Iemitsu membuat Tsuna tersadar dari pingsannya. Badannya yang sudah sakit karena perbuatan Iemitsu pagi tadi, sekarang semakin sakit saat menerima tendangan Iemitsu. "ugh..."

"Dasar... hik...Das-ar An-hik-anak tak hik ber-guna.." ucap Iemitsu masi menendang Tsuna keras. Tsuna hanya meringis sakit.

Tsuna memandang ayahnya binggung. Dan semakin bingung lagi saat sang ayah tengah bersama seorang wanita yang tak dikenal.

"Sudahlah sayang lebih baik kita main saja.. biar kan saja anak itu" wanita itu pun menyuarakan pendapatnya. Iemitsu pun menghentikan siksaannya pada Tsuna. Lalu berbalik menuju wanita itu dan langsung mencium bibir sang wanita ganas.

Tsuna hanya dapat melihat sang ayah terkejut sangat. Ayahnya mencium seorang wanita dan itu bukan ibunya. Ayahnya selingkuh..?

Setelah lima menit mereka berciuman. Bibir Iemitsu pun melepas bibir sang wanita. "Kau..hik.. benar sayang.. hik..." ucap Iemitsu masih mabuk. Tapi Tsuna yakin sang ayah masih memiliki kesadaran untuk menyakitinya. "Tapi kau tau.. hik.. dia itu.. hik.. anak yang tak berguna... aku ingin meyiksanya lagi.."

"Begitukah sayang..? sekarang kita bermain saja...oke.."

"tentu sayang.. kita bermain.. hik.." Iemitsu lalu memandang Tsuna yang masih terkehjut dengan apa yang ia lihat.. lalu wanita itu membisikkan sesuatu pada Iemitsu hingga membuat Iemitsu menyeringai kejam. "kau pintar sayang...hik.." Iemitsu lalu melepas pelukannya pada wanita itu, dan mulai mendekati Tsuna.

"Aku ingin mencicipinya... mungkin bisa buat pemanasan kita" bisik sang wanita.

Tsuna yang melihat ayahnya berjongkok dihadapannya dengan senyum manis. Semakin membuat takut Tsuna, ayahnya tak akan tersenyum padanya. Tak akan pernah ia yakin itu,, "T-to-u-san"

"Tsuna Sayang.. hik... Anak ku sayang..hik.. ayah akan bermain... jadi jangan pernah katakan ini pada ibumu ya... hik..." Tsuna masih ketakutan hanya mengangguk patuh... "Ah..hik..ayah bahkan tidak pernah lagi..hik.. mengajak..tsu-kun.. hik... bermain.. jadi.. apa Tsu-kun mau ikut main..hik.."

Tsuna mengeleng cepat.. menolah tawaran ayahnya yang sesat itu. "t-ti-da-k.. ti-dak.. aku tak mau.." jawab Tsuna ketakutan.

"Bahkan.. Tou-san tak pernah lagi.. hik.. mengajarkan Tsuna.. hik.. sesuatu.." Tsuna berusaha bangun dari lantai tapi ia terjatuh lagi. Kembali mencium dinginnya lantai rumahnya itu. "Jadi ayah akan mengajarkan Tsuna cara menjadi Dewasa.. Tsu-kun pasti mau kan.. hik.." lalu Iemitsu pun mengangkat tubuh kecil Tsuna. Memangulnya seperti Tsuna itu seperti karung.

"Ti-dak... lepaskan.. aku tidak mau.." Iemitsu mencubit luka Tsuna yang ada di betisnya, membuat Tsuna berteriak kesakitan.. "Sa..kit..".

"Diam dan turuti saja Tou-san.. Tsu-kun.." Iemitsu menarik tangan wanita yang sedari tadi berdiri melihatnya.. "Ayo.. sayang..."

Lalu mereka pun memasuki kamar Iemitsu-dan nana- kamar terbesar dirumah itu. Iemitsu melempar Tsuna ke ranjang king size yang ada di sana lalu mendudukkan tubuh Tsuna dan mengikat kedua tangan Tsuna dengan ikat pingangnya. "Lepas.. lepaskan aku.. Tou-san.."

"Tenanglah Tsu-kun.. aku akan berbaik hati untuk mengajarkanmu menjadi dewasa.." Wanita bergaun merah mulai mendekati Iemitsu. "Jadi Tsu-kun... jangan tutup matamu ya... jika kau menutupnya maka aku akan menyiksamu lebih dari tadi..." Tsuna hanya menunduk ketakutan.. ia tak berani melihat sang ayah.. Iemitsu menarik dagu Tsuna hingga pandangan mereka bertemu.. "ingat.. kau harus menuruti apa yang ku ucapakan" Tsuna hanya mengangguk ketakutan. Iemitsu mulai memeluk selingkuhannya itu. "Tsu-kun ayah akan mengajarimu cara berciuman jadi lihatlah.."

Iemitsu lalu mencium selingkuhannya.. sesat kemudian ciuman lembut itu mulai menjadi lumatan-lumatan kasar.. lidah Iemitsu dan wanita itu bertarung ganas. Bahkan liur mereka telah menetes dari bibir mereka yang bertarung satu sama lain seakan tak ada yang mau mengalah. Tsuna tak bisa menutup matanya, karena sedari tadi mata sang ayah tak lepas memandang garang dirinya. Setelah lima menit bergulat lidah, ciuman itu pun terlepas, menyisahkan sang wanita yang tengah mengatus nafasnya.

"Tsu-kun.. pintar.. menuruti ayah agar tak menutup mata..lalu sekarang tou-san akan menunjukkan padamu caranya memanjakan tubuh wanita. Hahaha..." Iemitsu melepas gaun merah wanita itu, memperlihatkan bra merah dan g-string merah trasparan, hingga masih memperlihatkan dengan jelas vagina tanpa bulu milik sang wanita. "Ayo sayang kita ajarkan Tsu-kun bagaimana orang dewasa bermain"

"Tentu sayang" lalu mereka mendekati Tsuna dan duduk di hadapan Tsuna. "Lihat Tsuna.. ini adalah payudara.." ucap Iemitsu sambil melepas bra sang wanita... "wanita suka jika kita bermanin di sini.." lanjut Iemitsu lalu mulai bermain di buat dada sang wanita..

"Ah.. Sayang.. isap.." pinta sang wanita. Di tengah desahanya.

"Tentu sayang" Iemitsu menghisap bergantian buah dada besar milik sang wanita. Tsuna yang tak kuat melihat menutup matanya, tapi ia langsung mendapat tamparan dari sang ayah. "kau harus melihat Tsu-kun.." perintah Iemitsu . Tsuna menurut lalu kembali melihat sang ayah dengan selingkuhannya. "pintar.. karena Tsu-kun sudah belajar teorinya skarang Tsu-kun harus mencoba" ucap Iemitsu girang..

"Ta-pi.." tanpa Tsuna sadar wanita di hadapannya sudah mencium Tsuna. Tsuna berusaha menolah. Tapi ia menerima cubitan di tangannya yang terluka, membuat lukanya semakin keluar darah.

"Tsu-kun ingat? Tsu-kun harus menurut.." ucap Iemitsu dengan nada berbahaya. Tsuna mengangguk ketakutan dan menuruti perintas sang ayah. Ia pun mulai bergulat lidah dengan sang wanita. "hahaha.. pintar,, anakku pintar sekali.." wanita itu melengguh nikmat ditengah ciumannya dengan Tsuna .

Iemitsu pun menyeringai dan mulai membuka bajunya hingga hanya tersisa celana hitamnya saja. Melihat ciuman Tsuna dan sang kekasih gelap sudah selesai Iemitsu mulai mendekati mereka.. "Sekarang Tsu-kun mencontoh apa yang tadi tou-san Tsu-kun lakukan" Perintah wanita itu. Tsuna mau tak mau menurut, sekarang ia tengah menjilat dan menghisap payudara besar yang ada di depannya. "Ughh.. enak.. Tsu-kun terus,, ughhh.. ah.. isap.. yang kuat Tsu-kun."

"Sepertinya kau sangat menikmati permainan ini sayang.."tanya Iemitsu yang sekarang memeluk sang wanita dari belakang.. wanita itu langsung saja melumat bibir Iemitsu.. dan Tsuna masih melakukan tugasnya. Karena kedua tangan sang wanita masih menahan kepalanya agar tak menjauh dari buah dadanya. Setelah Iemitsu dan sang wanita melepas ciumannya Iemitsu melepas tangan sang kekasih dari kepala Tsuna. "Cukup Tsu-kun.. sekarang pelajaran ketiga.." Tsuna kembali melihat Iemitsu. Ia tak mau dihajar lagi karena tak memperhatikan dan menuruti keinginan gila ayahnya itu. "Sekarang Tsu-kun belajar membuat kissmark.. begini caranya" Iemitsu menunjukkan bagaimana caranya membuat kissmark, ia mencium, menghisap lalu mengigit tulang selangka sang wanita..

"ughhh.. sayang " desah sang wanita.

"Mudah kan Tsu-kun.. membuat kissmark bisa dimana saja sayang.. " tanya Iemitsu sambil memandang sang anak ramah. "Sekarang Tsu-kun bisa coba membuatnya.." Tsuna menuruti perintas ayahnya. Dan membuat sebuah kissmark di tulang selangka sang wanita yang masih tak ada tanda dari sang ayah.

"tak buruk.." ucap sang ayah. "Sekarang lihat Tou-san ya.." Iemitsu membaringkan sang kekasih lalu mulai bermain di vagina yang telah basah, Iemitsu mencium, menjilat dan menghisap vagina yang hanya tertutup kain kelebar jari telunjut itu membuat sang wanita mendesah dan berteriak nikmat. Iemitsu melepas hisapannya dari vagina itu, yang membuat desisan kecewa dari sang wanita. "tenang sayang.. sekarang Tsu-kun coba ya.."

Tsuna meneguk ludahnya ia melirik kesana-kemari ingin menolak tapi tubuhnya yang terduduk di ranjang itu terlebih dulu ditarik sang ayah hingga membuat mukanya mencium langsung vagina sang wanita yang tengah berbaring. Bau vagina itu membuat Tsuna mengeryitkan dahinya. Lalu ia mulai melakukan separti yang ayahnya lakukan tadi. Sang wanita kembali mendesah lalu akhirnya sang wanita pun orgasem. Menyemprotkan cairannya hingga mengenai bibir Tsuna.

"hahaha.. anak pintar itu tadi adalah cairan kenikmatan Tsu-kun.. sekarang jilati lagi dan isap hingga tak ada sisah cairan itu" Iemitsu melihat Tsuna menurutinya semakin membuatnya horny. Entah kenapa ini menyenangkan. Mungkin jika Yoshi yang sekarang berada di posisi Tsuna. Ia tak akan suka, karena Yoshi pasti akan mengadukan hubungan ini pada Nana. Iemitsu membelai kepala Tsuna yang masih menjilat dan menghisap vagina kekasihnya. "Pintar... cukup Tsu-kun" Tsuna menarik wajahnya. Wajahnya telah belepotan cairan sang wanita.

Iemitsu melepas ikatan g-string merah itu lalu memandang lagi sang kekasih sambil menyeringai. "tenang sayang sekarang bermainlah dulu dengan tsu-kun.. lalu persiapkan dirimu bertempur dengan ku.. hahaha" tawa Iemitsu..

"Tentu sayang.."

"Tsu-kun lihat.. ini Vagina" jelas Iemitsu sambil membuka Vagina sang kekasih. " Lalu ini klitoris.."lanjut Iemitsu. "Sekarang Tsu-kun lakukan lagi yang seperti tadi ya.." ucap Iemitsu. Lalu kembali mendorong wajah Tsuna ke arah vagina yang telah merekah di depannya. Tsuna menurut, dengan sedikit takut ia mulai bermain dengan apa yang ada di hadapannya, ia menjilat dan menghisap benda itu. "Tsu-kun gigiti kecil-kecil sayang.." Tsuna menurut ia mulai mengigiti daging yang ada di sekitar lubang vagina itu juga klitoris yang sekarang menegang keluar dari pelindungnya. Wanita itu mendesah nikmat. Gigi susu itu mengigiti vaginanya nikmat.

"Pintar.."Iemitsu membelai kepala sang putra. " sekarang tusuk tusuk lubang yang ada di bawah itu dengan lidah mu Tsu-kun.." Iemitsu membantu membuka vagina itu memperlihatkan lubang yang merekah disana. Tsuna mulai menusuk-nusuk lidahnya disana, sang wanita mengelinja nikmat. "sekarang isap lubang itu Tsu-kun" perintah sang ayah saat ia melihat sang kekasih akan mencapai orgasem keduanya. Tsuna kembali menurut ia menghisap libang itu. Bibirnya mulai terbiasa bahkan hidungnya tak lagi menolak aroma yang menguar di hadapannya itu. Hingga Tsuna merasa menghisap sesuati seperti tadi saat pertama ia bermain dengan benda di depannya itu. "telan itu Tsu-kun" ucap Iemitsu lalu membekap bibir mungil Tsuna hingga mau tak mau Tsuna menelan cairan itu.

"sayang kau mau lanjut dengan Tsu-kun?" tanya Iemitsu.

"Tentu sayang..." wanita itu bangkit dari tidurnya. Lalu tangannya membuka celana Tsuna. Penis Tsuna tengah setengah menegang.. "Tsu-kun nikmati ini ya..." wanita itu mengocoh penis Tsuna pelan tapi lama kelamaan mulai cepat. Tsuna merasakan nikmat atas perlakuan itu. Ia mendesis nikmat apa lagi saat wanita di hadapannya menghisap penisnya. Ia mendesah nikmat, menutup matanya hingga ia merasa akan mengeluarkan sesuatu dari penis mungilnya itu. Tapi saat akan keluar wanita itu melepas kulumannya dan terkikik geli melihat wajah Tsuna yang kecewa.

Iemitsu pun tertawa geli. Anaknya telah terangsang.. lihat penis kecil itu mengacung tinggi. "meyenangkan Tsu-kun.."

"Tou-san.."

"kau ingin keluar?" Tsuna mengangguk.. ia tak nyaman dengan penisnya yang sakit ingin keluar.. Iemitsu membuka ikat pinggang yang menggikat tangan Tsuna. Setelah ikatan itu terlepas Tsuna merusaha mengocok sendiri penisnya. Tapi tangannya di tahan oleh sang ayah. "eittt.. tidak boleh"

"Tou-san.. sa-kit.."

"jika Tsu-kun ingin keluar.. masukkan penis Tsu-kun ke sini.." ucap Iemitsu sambil menunjuk lubang vagina sang kekasih yang sekarang tengah membuka kakinya lebar. Tsuna pun melakukannya ia tak mau kesakitan karena penisnya yang masih menegang. Tsuna menuntun penisnya memasuki vagina itu. "Sekarang bergeraklah meju mundur.." Tsuna mengikuti instruksi snag ayah. "jangan sampai lepas Tsu-kun.. ayo gerakkan yang cepat" Tsuna menikmatinya ia menuruti perintah itu, mengerakkan penis kecilnya keluar masuk lubah vagina wanila yang ada dibawahnya. Hingga akhirnya ia menyemprotkan spermanya di dalam vagina itu. Lalu taksadarkan diri karena terlalu lelah.

"bagaimana sayang...?" tanya Iemitsu.

"Aku belum orgasem sayang... aku ingin penismu" ucap sang wanita nakal sambil meremas gundukan yang ada di balik celana hitam yang iemktsu kenakan.

"Dasar pelacur.."

"Aku pelacurmu.."

.

.

.

Tsuna terbangun pagi harinya, ia bisa melihat tubuhnya sendiri yang sedikit lebam dan memar juga setengah telanjang. Ia pun juga bisa melihat sang ayah dan wanita selingkuhan ayahnya telanjang di sampingnya. Mereka tertidur saling berpelukan dan lupa menyelimuti tubuh telanjang mereka.

Tsuna bangkit dari ranjang. Ia meringis merasakan lukanya yang masih sakit, lalu Tsuna pun memungut celananya yang kemarin dilepas oleh selingkuhan ayah. Tanpa berusaha mengunakan celana itu lagi. Tsuna berjalan keluar kamar itu menuju kamar kecilnya.

Saat ia telah sampai di kamarnya ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang kecil miliknya. Dan menangis. Ia kotor.. ia bahkan kehilangan keperjakaannya di umurnya yang sangat muda ini. Rasanya ia ingin mencabik tubuhnya. Tapi rasa sakit di tubuhnya dan memar memar yang memenuhi tubuhnya itu akan semakin menjadi jika ia berniat mandi dan menggosok kasar kulitnya. Ia tak mau menyia-yiakan nyawanya yang mungkin akan melayang karena dinginnya air yang ada di kamar mandi. Ia benci.. teramat sangat benci pada keluarga ini.. sejak saat ini ia putuskan bahwa mereka bukan keluarganya. Bukan... dan Tsuna pun mulai menutup matanya.. tertidur.

.

.

.

Tsuna yang lapar pun akhirnya memaksakan tubuhnya bangkit dari ranjangnya. Meski tak sesakit saat tadi pagi, siang ini.. ya sekarang jam dindingnya sudah menunjukkan pukul 12 lebih. Dan ia butuh makan. Ia pun masuk ke kamar mandi yang ada di dekat kamarnya. Membilas sedikit-sedikit tubuhnya, tubuhnya masih sakit. Lalu ia pun mengenakan baju longar agar kain bajunya tak bergesek dengan tubuhnya yang memar.

Saat Tsuna keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur. Ia sangat terkejut melihat sang ayah dan selingkuhannya tengah berhubungan badan di atas meja makan.

"Ugh.. Tsu-kuunnn.. Si-a-ng.." sapa sang wanita ramah. Sang ayah masih mengerakkan penisna keluar masuk vagina wanita itu. Tsuna terpaku tak dapat bergerak dari pintu masuk dapurnya

"Ah.. Sayang A-Aku.. ma-u...ke-luarrr...AGHHHHH..." dan wanita itu pun mencapai puncaknya. Disusuk Iemitsu yang mendesis nikmat sambil menyemprotkan Spermanya di lubang sang wanita.

"Tsu-kun.. masuklah... kau ingin sarapan kan... jadi cpatlah masak makanan.. karena Tou-sanmu ini juga belum sarapan dari tadi"

"Ya.. kau dari tadi hanya memakanku.. huh.." ucap sang wanita setelah turun dari meja makan.

"kau tahukan sayang aku akan kembali ke italia sore nanti." Ucap Iemitsu sambil mencium bibir ranum sang wanita. "Tsu-kun kemarilah... kau mau masak kan.. kami akan menunggu makananya di ruang keluarga.. jadi jangan buat kami menunggu lama.."

Tsuna pun memberanikan diri masuk ke dapur, lalu membuka kulkas untuk mengambil bahan-bahan makanan yang diperlukannya.

"Ah..Tsu-kun kita belum kenalan kan.." perkataan wanita itu pun memaksa Tsuna melihat sang wanita yang masih betah bertelanjang didepaannya. "Perkenalkan Aku Amura Mio.. Tsu-kun bisa memanggilku nee-san.. aku masih 20 tahun kok.." Wanita itu menyodorkan tangannya. Tsuna pun menyambut tangan itu karena ayahnya sudah menatapnya tajam jika Tsuna tak menyambut tangan kekasihnya itu.

"Salam ken-nal nee-san.."

"Baiklah sayang mari kita ke ruang keluarga.. aku ingin melihat film bersamamu"

"Pasti ujung-ujungnya kau akan menyerangku lagi" keluh Mio. Iemitsu hanya tertawa. Lalu mereka berdua keluar menuju ruang keluarga. Dan Tsuna mulai memasak diiringi suara desahan keras dari ruang keluarga. Sepertinya sang ayah benar-benar gila..

.

.

.

Sore harinya Tsuna tenang sat ini ayahnya telah pergi ke bandara untuk kembali ke Italia, di antar Mio. Tapi ketenangannya hancur saat pintu terbuka dan menunjukkan wajah Mio. "Nee-san" Mio mengunci pintu rumah itu.

"Tsu-kunn... aku akan menemanimu sampai ibu dan adikmu datang dari liburan.. dua hari lagi kan...?" tsuna masih terdiam, ia merasa firasat buruk saat ini. "Jadi selama aku disini... aku akan mengajarimu permainan yang lebih menyenangkan lagi." Seringai terpampang di wajah wanita itu. Dia benar-benar seorang pelacur. Tsuna tak bisa kabur lagi dan dua hari itu.. Tsuna lalui dengan menjadi budak sex Mio.

.

.

TBC

Author Note

So... ini Cuma Side Story.. karena ada yang tanya kenapa Tsuna tidak depresi setelah teru merkosa dia... tentu saja karena Tsuna sudah perna depresi setelah Mio menjadikannya budak sex selama dua hari.

Buat Echo Andalice : memang itu pasti tapi.. Mio yang labih dulu buat Tsuna depresi.. jadi pas tsuna mandang dirinya setelah di perkosa Teru.. ia jadi biasa aja.. karena Mio itu tipe sadis yang suka BDSM.. jadinya bisa dibayangin apa yang Mio lakukan sama Tsuna.. hahaha.. Yuki suka sesuatu yang aneh..#jeduakkk

Disini perjakaan memang sudah hilang tapi keperjakaan holenya itu hilangnya di ambil teru. Dan setelah kasuk mio.. Tsuna selalu menghindar dari sang ayah. Jadi tak pernah lagi ada kejadian kayak gitu.. kecuali pas waktu sama teru...

Yuki lagi pingin buat side story doang hehehe... buat yang tanya si yoshi kok bisa bejat.. bakal ada side storynya sendiri.. jadi tunggu aja..

Trus gimana nih?

Pa ada typo tau ni jelek?

Hehehe.. sekarang Yuki bakal jawab pertanyaan-pertanyaan semua..

Tsuna bakal ke rumah Teru lagi?

Ya dia bakal kesana...

Tsuna jadi sadis kan nanti..?

So pasti bakal sadis #smirk

Ni nanti Yaoi tau Straight..?

Fufufufu.. Yuki buat dua-duanya.. tapi akhirnya bakal Yaoi..^^

Dia bakal masuk dunia mafia dan jadi bos kan?

Hemm.. Mungkin... karena otak Yuki sering berputar-putar dari alur pertama cerita.. hahahha...

Boleh gak bunuh Yoshi?

Yuki Izinin... Asal.. ni Fic dah kelar.. hahahah...

Cukup sekian ne...

Makasi buat yang udah Fav.. Foll.. Review..

Juga makasi buat yang udah sempetin baca karya YUKI yang GILA ini...

Terima kasih banyak buat VandQ, Shiroi Keren, Xxferessa-TanXx, Yuki Amano, Wookie, Rin-X-Edden, Eemaki ShionIta Devy, Echo Andalice, Malachan12, Hikari Vongola dan mungkin ada yang gak kecatet.. makasih banyakk...

Review lagi ya..

Bye Bye...

Yuki