Warning: AU, OOC, Typo, Kalimat yang tidak berkesinambungan,

Alur kecepetan, dll.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

A/N: Salam kenal, author baru nih.

Sebenarnya masih ngerasa nggak pas sih sama judulnya, ada yang mau sukarela memberi usulan tentang judul nggak? Nanti aku pertimbangin loh usulannya. Soalnya menurutku judulnya nggak menarik banget, plis kasih usulan ya. Trus soal genre, kalo genrenya salah kasih tahu juga ya.

Terima kasih.

I Don't Love You

PROLOG

"Dengan ini saya nyatakan kalian menjadi pasangan suami istri."

Perempuan berambut merah yang menggenakan gaun pengantin rancangan desainer ternama mencondongkan badan untuk mencium suaminya- laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya beberapa detik yang lalu. Laki-laki itu mencium istrinya sekilas yang mendapat sambutan heboh dari para tamu yang menghadiri pernikahan mereka yang di adakan di gedung pernikahan paling mewah di kota. Sang perempuan tersenyum dan kebahagiaan terpancar di wajahnya yang cantik.

"Silakan para tamu untuk memberi selamat kepada pasangan kita yang sedang berbahagia ini." MC terkenal yang didaulat menjadi pembawa acara di pernikahan kali ini mengumumkan kepada para tamu agar berdiri dari tempat duduk mereka dan mengahampiri pasangan suami istri yang berada di depan mereka untuk sekedar berjabat tangan dan memberikan selamat. Atau bagi mereka yang belum mengisi perut, berdiri dari tempat duduk dan menghampiri jamuan yang telah disediakan. Soal memberikan selamat bisa ditunda.

Lelaki berambut kuning jabrik yang duduk di barisan paling depan, dengan bersemangat menggandeng wanita disebelahnya untuk berdiri dan mengucapkan selamat. Wanita yang sedang hamil tiga bulan ini agak kewalahan meladeni suaminya yang kelewat antusias dan menyuruhnya untuk hati-hati.

"Sabar sebentar Naruto-kun, biarkan orang tua mereka dahulu,"

"Orang tua mereka juga orang tua ku, Hinata. Aku sudah tidak sabar untuk memberi selamat kepada sahabatku yang paling songong itu," balas Naruto masih sambil menarik tangan Hinata, istrinya.

Namikaze Naruto, anak kedua dari gubernur dan pemilik perusahaan elektronik paling terkenal di seluruh negara Hi, Namikaze Minato dan Namikaze Kushina yang memang terkenal dengan sikap antusiasnya terhadap apapun sekarang telah berhasil menarik istrinya yang dinikahinya tahun lalu, Namikaze Hinata dan sudah berada di depan pengantin baru itu.

"Teme! Selamat ya, aku nggak nyangka kalau akan ada cewek yang betah lebih dari satu jam bersamamu," kata Naruto, menyalami tangan sahabatnya, Sasuke.

"Hn, Dobe. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di dunia ini kalau akan ada satu lagi orang kayak kau," balas Sasuke sambil mengerling perut Hinata yang mulai membesar.

"Apa maksudmu? Jangan iri begitu dong, kau kan nanti malam juga bisa membuatnya," kata Naruto, nyengir.

"Naruto-kun!" "Naruto!" Dua orang wanita yang bisa mendengar percakapan mereka berdua menegur Naruto karena dianggap telah melanggar batas dalam membicarakan sesuatu yang pribadi. Hinata, yang berdiri di sampingnya malah sudah memerah. Sasuke, yang diajak bicara malah pasang tampang biasa saja.

"Baiklah... baiklah... kalian wanita-wanita sensitif." kata Naruto, dia lalu berganti untuk menyalami perempuan di samping Sasuke.

"Nee-chan, selamat ya. Jangan sampai si teme ini membuatmu menangis." Naruto lalu memeluk kakaknya, Namikaze Karin, yang sekarang sudah menjadi Uchiha, dengan hangat.

"Tidak akan Naruto, Sasuke tidak akan membuatku menangis." kata Karin, dia terharu dan menitikkan air mata saat memeluk Naruto. Dia tidak menyangka, Naruto, adik kecilnya yang nakal sekali waktu kecil, sekarang sudah akan menjadi calon ayah dan sebentar lagi akan memimpin perusahaan. Dia juga tidak percaya kalau dia akan meninggalkan Naruto dan kedua orang tuanya untuk tinggal bersama suaminya. Dia menganggap semua ini berkah, berkah yang sangat patut disyukuri. Menjadi seorang Uchiha. Menjadi istri Uchiha Sasuke.

"Nee-san, selamat. Cepat-cepat memberi kami keponakan ya!" giliran Hinata memberi selamat kepada kakak iparnya, setelah sebelumnya memberi selamat kepada sahabat suaminya yang juga temannya waktu sekolah dulu.

"Terima kasih Hinata, jaga kandunganmu." nasehat Karin kepada adik iparnya yang sangat disayanginya itu.

"Ayo Hinata, aku sudah lapar sekali. Aku sudah tidak sabar ingin memakan ramen Uchiha yang terkenal itu." Naruto lagi-lagi menarik tangan Hinata untuk dibawa ke meja yang sudah tersedia berbagai macam jamuan, mulai tradisional sampai yang modern.

Semua makanan di meja jamuan adalah makanan dari restoran Uchiha yang dikelola oleh Uchiha Mikoto, ibu Sasuke. Dengan bantuan dari anak pertama dari Uchiha Mikoto yaitu Uchiha Itachi, restoran Uchiha yang terkenal dengan ramennya ini sudah memiliki cabang dimana-mana di negara Hi. Waktu masih satu sekolah dengan Sasuke, Naruto selalu mampir ke rumah Sasuke untuk makan siang. Alasannya dia tidak membawa uang saku untuk makan siang di sekolah, makanya setiap pulang sekolah Naruto selalu makan siang di rumah Sasuke untuk menikmati ramen Uchiha dengan gratis. Ibunya Sasuke senang-senang saja Naruto setiap siang mampir ke rumahnya, karena rumah bakal menjadi rame kalau ada Naruto yang memang tipe anak berisik, dia sudah menganggap Naruto seperti anaknya sendiri. Sayangnya Sasuke lebih memilih menjadi seorang Intel, seperti ayahnya, Uchiha Fugaku, yang menjadi ketua Badan Intelejensi Nasional.

Para tamu yang datang mulai dari keluarga kedua belah pihak, sahabat-sahabat, teman-teman lama, teman-teman model Karin, teman-teman intel Sasuke, teman-teman orang tua mereka dan bahkan orang yang Sasuke tidak kenal hadir di acara pernikahannya dan memberikan selamat kepada mereka.

Setelah tiga jam acara selesai, akhirnya Sasuke dan Karin yang sudah capek menerima tamu, masuk ke mobil dan menuju hotel yang sudah dipersiapkan untuk tempat tinggal mereka sementara sebelum pindah ke kediaman Uchiha.

Sasuke yang sangat kelelahan langsung menidurkan tubuhnya di ranjang besar di kamar hotel mereka, dia langsung tertidur tanpa berganti baju ataupun melepaskan sepatu yang dikenakannya. Maklumlah, sehari sebelum pernikahannya dia baru pulang dari misi selama seminggu menangkap sindikat narkoba yang sudah menjadi buronan polisi selama bertahun-tahun. Karin yang melihat suaminya langsung tertidur agak kecewa karena Sasuke bahkan tidak menanyakan keadaannya, mereka bahkan tidak sempat mengobrol panjang waktu di pernikahan karena banyaknya tamu yang hadir, yang harus mereka layani dengan baik.

"Sasuke, kenapa kau langsung tertidur? Aku ingin bercerita denganmu, menghabiskan malam pertama kita sebagai pengantin," Karin melihat Sasuke dan senyum maklum pun menghiasi wajahnya. "Baiklah, kelihatannya kau sangat kelelahan. Kita masih punya banyak waktu. Jalan kita masih panjang," Karin lalu melepaskan sepatu Sasuke dan menyelimuti suaminya lalu mencium kening Sasuke. "Have a nice dream."

Tiga tahun kemudian

"Happy birthday Shinji... happy birthday Shinji... happy birthday dear Shinji... happy birthday Shinji..."

"Shinji, hadap kamera!" Uchiha Karin, membawa kamera digital untuk memotret keponakannya yang berulang tahun, yang sekarang sedang mencoba untuk memotong kue ulang tahunnya yang besar dan dilapisi cokelat dimana-mana. Ibunya, Namikaze Hinata ikut memegang pisau yang ada di tangan mungil Namikaze Shinji, dia khawatir pisau itu akan melukai anak laki-lakinya yang bertambah umur hari ini.

"Ayo Shinji potong kuenya," ayahnya, Namikaze Naruto menyemangati anaknya untuk segera memotong kue ulang tahunnya. Rupanya dia sudah tidak tahan untuk mencicipi kue dengan lelehan cokelat dimana-mana itu.

Namikaze Shinji, balita yang genap berumur tiga tahun hari ini, dengan susah payah memotong kue ulang tahunnya. Setelah dengan perjuangan bersama ibunya akhirnya kuenya bisa dipotong secuil dan ditaruh di piring plastik yang sudah disediakan.

"Potongan pertama untuk Ayah," Hinata membantu anaknya untuk mengambil kue yang sudah dipotong, tangan mungil Shinji yang belepotan cokelat dan kue menyuapi ayahnya yang sudah bersiap menerima suapan anaknya. Suapan kue yang meleset dan mengenai pipi kecokelatan Naruto membuat balita berambut pirang itu tertawa-tawa.

"Sekarang Ibu juga harus mencicipi kuenya," Naruto yang iseng menyuruh Shinji untuk menyuapi Hinata dengan maksud agar pipi Hinata juga belepotan cokelat seperti punyanya.

"Naruto-kun," Hinata yang mau memprotes hanya bisa memelototi suaminya saat anaknya sudah menyuapinya dengan kue cokelatnya.

"Sekarang Shinji, suapi pamanmu yang malah mojok disana itu," Karin lalu menggendong Shinji yang sudah menyuapi kakek neneknya, paman bibinya dan sepupunya, dan mengambil sepotong kue di piring. Dia dan Shinji menghampiri Sasuke yang malah duduk-duduk sambil memainkan handphonenya.

"Sasuke, kau nggak mau mencicipi kue ini? Shinji dengan senang hati akan menyuapimu sendiri lho," Karin mendekatkan Shinji ke Sasuke.

"Tidak Karin, dia kotor sekali. Memangnya Naruto memandikannya dengan cokelat atau apa?" Sasuke yang melihat Shinji sudah belepotan cokelat nggak hanya di tangannya tapi juga sampai baju-bajunya, ngeri.

"Ayolah Sasuke, dia masih kecil masih waktunya bermain-main. Lihat semua orang disini sudah mendapat suapan, sekarang giliranmu, ayo Shinji suapi pamanmu," Shinji mendekatkan tangannya ke mulut Sasuke, "Ayo Sasuke buka mulutmu." bujuk Karin, Karin sendiri sudah terkena noda cokelat di pipinya.

Sasuke dengan ogah-ogahan membuka mulutnya dan seperti semua orang, suapan Shinji meleset dan mengenai pipi Sasuke yang sebelumnya bebas noda itu. Karin tertawa melihat suaminya merengut karena keponakannya, Shinji tertawa karena dia berhasil mencoreng pipi orang lain lagi.

"Bagus sekali Shinji," Naruto tertawa ngakak melihat tampang Sasuke. "Hinata, kameranya mana? Ini bagus banget untuk dikenang selamanya." Hinata yang pipinya sudah bersih lagi menghampiri Naruto dan membawa kamera digitalnya, setelah dia melihat tampang Sasuke, dia juga tertawa kecil.

Naruto lalu memotret mereka bertiga, Karin yang masih menggendong Shinji dan tertawa sampai matanya menyipit, Shinji yang asik menjilati tangannya, dan Sasuke yang sibuk menghapus noda cokelat di pipinya.

Pesta yang di adakan di rumah Naruto dan hanya dihadiri para keluarga menjadi sangat meriah saat para badut datang. Apalagi diiringi tangis Hyuuga Mizuka, anak dari Hyuuga Neji, kakak sepupu Hinata. Rupanya cewek berumur lima tahun itu takut badut.

"Aduh Mizuka-chan jangan nangis dong, lihat badutnya kan lucu. Kamu mau balon? Itu badutnya bawa banyak balon..." bujuk Hinata yang panik melihat keponakannya nangis.

"Tidak apa-apa Hinata, kelihatannya dia hanya capek. Kemarin dia sempat demam pasti sekarang dia merasa gak enak badan," Hyuuga Tenten, ibunya Mizuka mencoba menenangkan Hinata.

"Maaf ya Nee-san, aku lupa kalau Mizuka takut badut. Soalnya Shinji-kun pengin banget ada badut di ulang tahunnya," sesal Hinata.

"Tidak apa-apa, ini kan ulang tahunnya Shinji, biar dia bersenang-senang hari ini," Tenten masih menenangkan Hinata.

"Yo Mizuka-chan, kenapa menangis, Hyuuga kecil?" Naruto yang baru datang dan menggendong Shinji membawa banyak balon warna-warni di tangannya.

"Mizuka takut badut Naruto-kun."

"Eeeh... takut badut? Masak? Kamu kan dulu sering mengkarate aku, kenapa malah takut badut?" ejek Naruto ke Mizuka yang ada di gendongan ayahnya.

"Kau mau di karate beneran ya, Naruto?" ancam Neji.

"Iyalah Neji, kau ini kenapa dari dulu tidak berubah sih, masih nggak berkeperikemanusiaan aja. Tenten-neesan coba ya Neji ini dibawa ke dukun biar dikasih ramuan agar lebih mengahargai hidup," kata Naruto.

"Kayak kau berubah Naruto, masih berisik aja dari dulu," balas Neji.

"Sudahlah, kalian nggak malu pada anak-anak kalian yang ada di gendongan ini?" lerai Tenten. "Neji, Mizuka sebaiknya diperiksakan lagi, aku takut kalau dia kenapa-napa."

"Baiklah. Hinata, Naruto, kita pulang dulu kalau begitu." pamit Neji.

"Maaf ya Nii-san, Mizukanya jadi sakit." kata Hinata.

"Nggak pa-pa Hinata."

"Ya udah, kita pulang dulu. Bye Shinji, kadonya di buka ya. Hinata, Naruto, kita pulang dulu." Tenten pamit.

"Kita akan kesana untuk menjenguk Mizuka kalau pestanya sudah selesai." kata Naruto.

"Bye." Keluarga Hyuuga itu lalu pulang setelah pamit kepada orang tua Naruto.

"Ayo Shinji sekarang kita bermain dengan badut!" Naruto yang bersemangat menggendong Shinji dan tangannya yang bebas Shinji menggandeng tangan Hinata.

Seminggu setelah ulang tahun Shinji, Sasuke dan Karin sedang liburan di kepulauan Green Island, kepualauan tropis yang ada di tengah-tengah gurun pasir Suna. Kepulauan ini sangat ekslusif, pemiliknya adalah keluarga Rei dari Suna. Hanya orang-orang yang terpandanglah bisa menikmati pulau yang sangat indah ini, dengan pantai pasir putih dan pondokan yang mewah, menjadikannya objek wisata nomor satu di Suna.

Karin yang merencanakan, katanya untuk bulan madu kedua. Dulu waktu bulan madu mereka yang pertama mereka cuma dapat libur tiga hari. Sebenarnya Karin mendapat libur lebih panjang karena dia sudah menjadi model profesional dan internasional, jadi dia bisa menolak tawaran modeling untuk bulan madunya, tapi Sasuke yang masih menjadi junior di Badan Intelejensi Nasional hanya mendapat libur tiga hari, maskipun ayahnya adalah ketuanya. Lagipula kali ini Sasuke mendapat libur panjang dari Departemennya, jadi Karin yang belum puas dengan bulan madu pertamanya mengajak Sasuke untuk berlibur lagi. Sasuke sih nurut aja.

Mereka sampai di cottage yang sudah mereka sewa pagi-pagi dan sudah waktunya untuk sarapan bersama-sama wisatawan lain di ruang terpisah dari cottage-cottage yang disewakan. Karena terlalu bersemangat, setelah sarapan Karin langsung menuju pantai untuk berenang dan meninggalkan Sasuke yang masih di meja makan untuk membaca koran, dia masih capek untuk sekedar melihat-lihat pantai atau pemandangan indah yag disuguhkan pulau tropis ini dan berjanji akan menyusul Karin kalau sudah selesai membaca koran.

"Kau ini bagaimana sih? Aku kan sudah memesannya jauh-jauh hari, kenapa malah sekarang cottagenya penuh?" Sasuke yang terganggu dengan suara keras wanita di meja resepsionis mendongakkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata seorang wanita yang memakai topi pantai besar dan membawa koper di tangannya sedang memarahi resepsionis yang kelihatannya takut-takut. Merasa bukan urusannya, Sasuke kembali membaca korannya.

"Maaf, tapi ternyata cottage terakhir sudah di pesan oleh keluarga Uchiha. Maafkan atas kesalahan kami." Resepsionis yang berwajah takut-takut itu mencoba menjelaskan masalahnya ke wanita yang marah di hadapannya. Merasa namanya disebut, Sasuke melipat korannya dan menghampiri keributan itu, untung tidak banyak orang disana, sehingga tidak menjadi tontonan orang-orang yang ingin tahu.

"Uchiha?" wanita bertopi pantai bertanya dengan heran ke resepsionis tepat saat Sasuke datang kesana dan wanita itu memalingkan wajahnya ke Sasuke.

"Sasuke-kun?"

"Sakura?"

To Be Continued...

Kritik dan Saran mohon dikirimkan ke kotak Review ya...

A/N: Salam kenal, author baru nih.