First Meet, First Love and First Kiss

.

.

.

.

Apa itu cinta?

Kim Taehyung menatap langit kota Seoul yang kini mendung dengan tatapan kosong. Dia menopang dagunya di tangannya sambil bergumam tak jelas. Dia menyandarkan dirinya di pagar atap sekolah. Ransel sekolahnya terpasang rapi di punggungnya.

Siapa yang tak mengenal Kim Taehyung di sekolah ini?! Namja berambut light caramel dengan bibir tebal ini terkenal dengan kebadungannya yang luar biasa. Tidak, sebenarnya Taehyung tidak bandel. Taehyung dapat menjelaskannya, tapi semuanya tak mau mendengarkannya.

Taehyung hanya kesepian.

Orang tuanya harus berpisah saat umurnya sebelas tahun. Tak satupun dari mereka yang mau merawat anak semata wayang mereka. Dan kini, Taehyung hanya tinggal dengan sepupunya, Kim Sung Kyu. Taehyung sendiri hanya murid kelas satu SMA biasa. Sementara Sungkyu sudah bekerja, dan berusaha mati-matian melindungi Taehyung.

Sungkyu juga bernasib tragis, sama dengan Taehyung. Orangtua Sungkyu meninggal karena kecelakaan kereta, dan dia juga merupakan anak tunggal. Sungkyu hidup sebatang kara, dan jujur Taehyung mengaguminya. Sungkyu bisa berdiri sendiri, padahal pada saat itu usia Sungkyu baru 15 tahun.

Sungkyu pun juga sangat baik pada Taehyung. Saat mengetahui nasib Taehyung menjadi tak jelas karena ditelantarkan orangtuanya, Sungkyu bersedia merawat Taehyung. Usia Sungkyu pada saat itu baru 17 tahun. Sungkyu mengatakan bahwa mungkin tabungannya dan kerja sambilannya sebagai pelayan cafe sekaligus pianis dari kafe ke kafe bisa mencukupi kehidupan mereka berdua.

Taehyung memang bukanlah anak yang seratus persen badung. Dia hanya kebingungan kepada siapa dia melampiaskan semua rasanya. Dia juga hanya kesepian karena tak ada satupun orang yang ingin berdekatan dengannya. Tidak, Taehyung tidak berpenyakitan. Hanya saja, tatapan dingin yang selalu menyorot dari mata kecil Taehyung membuat semua orang segan mendekatinya.

Bibir tebal Taehyung mengeluarkan helaan nafas berat. Langit tampaknya semakin gelap saja. Taehyung menatap arlojinya. Seharusnya kelas sudah bubar dari lima menit yang lalu.

Dia membolos kelas Seni. Taehyung benci seni. Alasan dia membenci seni adalah, ibunya sangat mencintai seni. Dia ingin melenyapkan seluruh memori tentang orangtuanya itu. Orangtua yang sangat dia sayangi, dan kini malah asyik menikmati dunia mereka sendiri. Terbuai dengan kehidupan mereka sekarang yang masing-masing sudah mempunyai pasangan baru, tidak peduli nasib anak hasil kisah cinta mereka dulu.

Dan kini, di sinilah Taehyung. Dia kini berjongkok, menatap lekat-lekat tanah sambil menggigit bibirnya, berusaha untuk tidak menangis mengingat semua memori menyedihkan itu.

Katakanlah, seorang Kim Taehyung sangat lemah bila bersangkutan dengan masa lalunya. Taehyung terisak kecil lalu menghapus jejak air matanya. Tidak, dia tidak boleh menangis. Dia tahu dia lemah, tapi dia tetap tidak boleh menangis. Sungkyu tidak akan senang melihatnya menangis. Dan Taehyung tidak mau mengecewakan satu-satunya orang yang peduli padanya.

"V hyung...,"

Mungkin tidak satu-satunya. Seorang namja berambut hitam acak-acakan kini menghampiri Taehyung dan menyentuh lembut bahu Taehyung.

Dia adalah Jeon Jung Kook. Namja yang bisa saja Taehyung anggap malaikatnya atau pahlawannya sendiri. Jung Kook adalah anak dari pengusaha terkenal se-Korea Selatan. Jung Kook adalah anak yang sangat baik. Dia tidak dibutakan akan harta dan lebih senang bergaul dengan anak yang biasa-biasa saja. Seperti Taehyung contohnya.

"Berhenti memanggilku dengan nama itu, Jungkook."Dengus Taehyung pelan sambil mengelap wajahnya. Jungkook mengacuhkannya. Dia malah berjongkok sambil menatap Taehyung dengan tatapan khawatir.

"Kau menangis lagi, V hyung..,"Jungkook mengeluarkan selembar sapu tangan dari saku jas sekolahnya. "Uljima, jangan pikirkan sesuatu yang sedih."Jungkook pun mengulurkan sapu tangan itu ke namja bermarga Kim di hadapannya.

Taehyung menerima sapu tangan itu dengan senyum tipis. "Gomawo. Kau terlalu baik kepadaku."

Jungkook tertawa. "Aku baik kepada hyung karena hyung baik padaku. Sederhana saja."Tanggap Jungkook. "Hyung, pulang yuk. Sudah mau hujan."

Taehyung menatap Jungkook lama sekali. "Sesederhana itu?"Tanya Taehyung ragu-ragu. Jungkook mengangguk lalu mengaitkan jemarinya ke jemari Taehyung.

"Ne. Lagipula, kita juga satu esktra-kulikuler kan?!"Kata Jungkook sumringah. Taehyung ikut tersenyum mendapati sahabat sekaligus adik kelasnya kini tampak ceria.

Jungkook menatap Taehyung lembut. Senang sekali melihat namja mungil di hadapannya bisa tersenyum. Taehyung, atau yang biasa dia panggil V, sudah dia anggap kakak sendiri. Taehyung adalah sosok yang diluarnya sangat dingin. Tapi siapa sangka, Taehyung sebenarnya sosok yang lemah dan sangat baik.

.

Apa itu rasa suka terhadap seseorang?

Taehyung menatap kosong kakak sepupunya, Sungkyu. Sungkyu kini fokus terhadap novelnya, mengacuhkan Taehyung yang masih menatapnya kosong.

Merasa tidak dipedulikan, Taehyung beranjak pergi menuju kamarnya. Dia menghempaskan tubuhnya di kasur dengan seprai warna putih miliknya. Dia menghela nafas. Dia melirik kalender yang tergantung rapi di dinding kamarnya. Besok hari Sabtu. Sabtu adalah hari yang pas untuk berjalan-jalan menikmati indahnya kota, tentunya sehabis kegiatan esktra-kulikuler selesai.

Taehyung sendiri mengikuti eskul vocal. Eskul itu sudah nyaris mati dengan hanya terdiri dari 6 anggota. Empat anggota lainnya jarang masuk. Satu yang lainnya adalah Park Jimin, yang tidak terlalu akrab dengan dirinya. Meski Taehyung akui Jimin juga termasuk namja yang baik. Dia tidak pernah mengolok-ngolok Taehyung, dia bahkan sering tersenyum pada Taehyung. Senyum yang tulus, bukan senyum paksaan. Tapi tetap saja Taehyung akan membalas senyum itu dengan tatapan dingin.

Taehyung menggeliat di kasurnya. Biasanya pada saat ini Sungkyu mengoceh ria tentang, ya tentang apa saja yang bisa dia ceritakan. Dan Taehyung akan mendengarkannya tanpa menaruh ketertarikan sedikit pun. Taehyung memang termasuk orang yang jarang berbicara.

Jujur, Taehyung mengakui bahwa Sungkyu adalah namja yang manis. Dengan rambut berwarna cokelat gelap dan mata yang sangat sipit, itu membuatnya terlihat unik dan mungkin, sedikit cantik. Kulitnya putih bersih, tidak seperti Taehyung yang sedikit gelap.

Kim Sungkyu sangat ahli memainkan piano. Permainan piano Sungkyu sangatlah... Perfect. Dibandingkan menjadi pianis lepas, Sungkyu lebih cocok berman piano untuk okestra atau apalah. Suara Sungkyu juga sangat bagus. Dia terkadang memainkan piano sambil bernyanyi.

Taehyung jujur iri. Dengan paras seperti itu, Sungkyu dengan mudahnya mendapat teman. Tatapan mata Sungkyu selalu hangat, meski terkadang terkesan arogan. Sangat jauh dari Taehyung yang selalu mengeluarkan tatapan dingin atau pun kosong.

Sungkyu juga bisa dibilang namja yang, ehem, sering gonta-ganti pacar. Anehnya, pacarnya itu terkadang berjenis kelamin perempuan, terkadang juga laki-laki. Ya jelas, Sungkyu selalu menjadi uke kalau dia berpacaran dengan namja. Seperti kali ini, Sungkyu sedang menjalin asmara dengan namja yang sama dinginnya dengan Taehyung. Nama namja itu Kim Myung Soo. Taehyung sejujurnya tidak menyukai Sungkyu bersama si Myungsoo yang sok keren itu. Tapi asalkan Sungkyu bisa tersenyum dengan namja itu, Taehyung merelakan.

Kini Taehyung tenggelam di pikirannya sendiri. Dia berpikir, kenapa dia tidak pernah tahu seperti apa rasa cinta? Kenapa dia tidak pernah merasa apa itu rasa suka? Taehyung hanya mengerti rasa sayang yang diberikan secara tulus dari Sungkyu. Rasa sayang sebatas adik dan kakak. Tidak lebih. Dan Taehyung menikmati rasa sayang itu, di balik tatapan mata yang menusuk itu.

Taehyung memutar bola matanya. Nyaris semua teman sekelasnya sudah mempunyai pacar. Tidak sih, sebenarnya Taehyung tidak peduli akan hal itu. Taehyung selalu diacuhkan di kelasnya. Untuk apa Taehyung repot-repot memikirkan mereka yang notabene nyaris mempunyai pacar semua?! Memangnya Taehyung akan simpatik?!

Tapi jujur saja, Taehyung penasaran bagaimana rasanya punya pacar itu.

Sesaat kemudian, Taehyung memukul kepalanya sendiri. Kenapa tiba-tiba dia berpikiran seperti itu?! Taehyung merutuki dirinya sendiri. Dia kini mem-pout bibirnya, dan jujur raut wajah dingin Taehyung yang biasa, hilang seketika. Digantikan raut wajah imut yang menggemaskan. Taehyung hanya menunjukan ekspresi wajah itu ke dirinya sendiri. Bahkan Sungkyu tak pernah melihatnya mem-pout bibirnya dengan raut wajah imut seperti itu. Cukup dirinya saja yang tahu.

Taehyung mendengus. Dia merasa kantuk mulai menyerangnya. Namja kelahiran 1995 itu pun merebahkan dirinya di kasur, dan lima menit kemudian, dia sudah tertidur.

.

.

.

.

Author Note : Ini fanfiction Bangtan Boys atau Bangtan Sonyeondan atau Bulletproof Boy Scouts genre Romance / Hurt – Comfort pertama yang Jae buat! *dance 'No More Dream'/?*

Main cast-nya di sini Taehyung (Stage name : V) yang nyiu-nyiu/? Itu :3 Ayo tebak, di fic ini si V nanti sama siapa? :3

Oke, sebenernya official couple BTS belum ada yang resmi. Tapi waktu itu Jae nemu foto V sama seorang namja(?) dan mereka keliatan cute banget layaknya bocah-bocah yang lagi pacaran/? (sadar Jae kamu juga bocah!-_-)

Udah ketebak belum? Oke kalau belum bisa nebak.

Seok Jin Ah xD

Si visual kece. Kalau Jae nemu foto-foto mereka berdua, rasanya euh greget banget. Bikin melting sendiri (?). Udah Jin kece gitu, ditambah V yang damn-so-cute, jadi pengen culik mereka berdua/?.

Dan FF ini mungkin BTS x INFINITE wkwk /galau/. Sungkyu masih gak tau langgeng sama Myung atau putus. Biarinlah kali-kali Sungkyu kena crack pair haha.

Mind to review? Thanks before ^^

-Han Jae Rim