A/N: Yo men.. Yama is here.. B) makasih yang udah ripiw di cerita Yama sebelumnya.. ada yang nungguin cerita 'berbahaya' Yama? :o #Plakk #Pede kenapa berbahaya? Karena bisa menimbulkan serangan jantung.. ah baca di Warning aja ya. Yama udah mulai sibuk *mencak-mencak* kesel! *curhat lagi* Hei! Kayaknya tiap fic Yama curhat mulu! Kami-sama, di mana kebahagiaanku kau simpan? Di gudang? Aih.. lupakan. Mungkin ini fic 2 shoots, lebih atau kurang? Don't know… but.. keep stay cool NHL B)

WARNING:

Berbahaya! Bukan untuk haters NaruHina! OOC (maybe, don't know) don't like don't read, typo(s), Senior Highschool life, mungkin alurnya cepat jadi baca pelan-pelan saja =), bisa menimbulkan serangan jantung, gigi kering, mata iritasi, perut mulas, kepala puyeng dll!

DISCLAIMER:

©Masashi Kishimoto-sama, story by ane, sedikit inspirasi dari drama *piiiiiip*, konfliknya 357˚ beda! Tapi Akatsuki punyaku *tampared*

GENRE:

Romance, sedikit humor crispy *kress*

MAIN CHARA:

Naruto U, Hinata H

RATE:

(T)een

UDAH, GITU AJA SIH

.

.

.

My Girlfriend

.

.

.


Pagi yang cerah di Kota Konoha. Suasana yang sunyi dan damai mewarnai pemandangan di depanmu, tepat saat pertama kali kau membuka mata dari tidur. Burung-burung bercicit ria sembari terbang kesana kemari. Di tambah dengan sinar hangat mentari yang bersembunyi di balik awan. Ah, memang damai jika kita membayangkannya dari ujung Kota.

Kenyataan selalu bertolak belakang dengan deskripsi di atas, jika kita mengunjungi Konoha Senior High School yang terkenal elit dan murid-muridnya yang sejenius otak Habibie—mari katakan untuk di dunia mereka, mereka seperti keturunan Nara. Suasana memang sepi jika sekolah peninggalan Hashirama ini tidak sedang dalam kegiatan belajar mengajar, tapi jangan bayangkan jika ribuan kaki itu sudah menyerbu gerbang sekolah …

Suasana menjadi ribut—super ribut, ada suara mesin motor, orang terbahak, teriakan melengking para cewek, suara bola memantul, barang pecah, dan lain-lain. Lebih ribut daripada pusat kota.

Tentu keadaan tersebut menganggu kepala anak-anak berotak encer—walaupun hampir semuanya encer, setidaknya ada yang bersikap serius dalam menanggapi sekolah, seperti seorang gadis indigo yang tengah berlari tergopoh-gopoh ke kelasnya, kelas 2-C. Bel sekolah akan berbunyi 10 menit lagi, makanya ia begitu terburu-buru.

Krieeek… (suara pintu kelas terbuka)

Hyuuga Hinata—si gadis indigo itu, menyembulkan kepalanya perlahan dari balik pintu kelas. Matanya menerawang dan meneliti setiap inchi sudut kelas. Lalu ia menemukannya. Seorang pemuda tan dengan 3 tanda lahir di pipinya, teman sebangkunya sekaligus pujaan hatinya.

Tap. Tap. Tap.

Bunyi langkah kaki yang masih kalah keras dari keributan kelas. Ia melangkah pelan menuju bangkunya. Gadis itu perlahan melepaskan tas selempangnya, kemudian ia duduk di bangku pojok kelas itu tanpa bersuara.

Hinata menatap si pemuda tan yang sedang bercanda dengan Inuzuka Kiba, si penggemar anjing sekaligus sahabat si pemuda.

"Oh, ohayou," sapa Kiba dari bangkunya yang berada di depan si pemuda kepada Hinata. Hinata tersenyum lembut.

"O-Ohay—"

"AAAAAAAAH!"

Teriakan itu dari suara baritone yang membuat seisi kelas diam sejenak, bahkan ada yang mengoceh "Bujug buset!" sebelum akhirnya menatap si pemilik suara dengan kaget.

Tak terkecuali Kiba dan Hinata, mereka menatap Naruto—si pemilik suara dengan bingung. Naruto hanya mengeluarkan cengiran maut khasnya.

"Go-gomen ne, kupikir Kiba menyapa hantu, terlebih lagi aku kaget si hantu membalas sapaannya, dan suara si hantu itu tepat di sampingku, j-jadi.. jadi …"

1

2

3

"Ahahahaha…" tatapan itu berubah menjadi suara tertawa lembut dari Hinata dan tawa mengejek dari Kiba. Naruto menghela napas.

"Jangan pikir aku penakut, ya!" belanya.

"M-Menurutku, dari sikapmu itu kau memang p-penakut, Naruto-kun," jawab Hinata. Naruto kemudian mengeluarkan 'senjata'nya lagi—cengiran khasnya kepada Hinata.

BLUSH!

"Hei, hantu!" sapanya. Hinata memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya dari pujaan hati. Yah, siapa yang tak kenal cengiran khas itu dari seorang Naruto? Walau otaknya masih 50% agak jauh encernya dari otak murid-murid 'keturunan sekolah' ini, ia cukup tenar—apalagi di kalangan gadis. Tenar karena ketampanannya, kebaikannya, dan tentu saja cengirannya! Tapi bagi seorang Hinata, Naruto lebih dari itu.

"Ara? Kau marah ya? Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung.. bla bla bla"

Hinata awalnya menyimak ocehan-ocehan Naruto, tapi sekarang ia sedang terfokus pemandangan di sampingnya.

"Deidara-kun, b-boleh aku pinjam itu?" bisik Hinata sepelan mungkin kepada si blonde. Ia sedang iseng membentuk tanah liat menjadi bentuk cicak.

Si blonde yang kaget akan bisikan lembut tersebut menoleh ke kiri dan ke kanan, akhirnya ia menemukan Hinata-lah yang memanggilnya.

"Apa? Yang mana kau mau pinjam?" bisiknya. Hinata menunjuk cicak palsu di tangan si blonde.

"Jaa, wakatta, un," Deidara memberikan cicak tanah liatnya kepada Hinata. Hinata mengambilnya cepat-cepat, takut Naruto menyadari perbuatannya. Sedangkan Kiba, tersenyum jahil, seperti mengerti apa yang dipikirkan Hinata. Senyuman jahil itu ia tularkan ke Deidara, akhirnya Deidara juga mengerti rencana dadakan itu.

"Hinata, ayo jawab, kau marah ya? Baiklah jika kau marah, yang penting aku sudah minta…" perkataan Naruto terhenti. Matanya bulat merasakan sesuatu yang menempel di pipinya. Sepertinya ada yang melempar? Ah, ia tak peduli. Buru-buru ia mengambil 'tempelan' itu dari pipinya sebelum akhirnya berteriak: "AAAAAAAAH!"

Teriakan baritone itu terdengar lagi, dan memancing seorang siswa mengoceh "Bujug buset!" kembali. Seisi kelas menatap Naruto dengan kaget bercampur bingung, ditambah sweatdrop di masing-masing kepala siswa.

"Ehehe, apa yang kalian lihat? Teruskan aktifitasnya!"

Seakan menuruti Naruto, kelas kembali ribut, disusul tawa Kiba, Hinata dan Deidara serempak.

"Wahaha, dasar penakut!" ejek Kiba di sela-sela tawanya.

"Oi, oi! Aku hanya kaget! Sungguh!" belanya. Satu hal yang benar-benar ia tidak sukai: di ejek penakut.

"Bohong kau, sesama blonde itu punya telepati, jadi aku tahu persis apa yang ada di pikiranmu, un," ujar Deidara asal. Naruto mengernyitkan alis.

"Siapa yang membuat rencana ini?"

Hinata buru-buru mengambil kembali cicak palsu itu dari tangan Naruto, dan mengembalikannya kepada Deidara.

"Arigatou, Dei-kun." Sepelan mungkin ia mengucapkannya. Malang. Telinga Naruto menangkap frekuensi gelombang suara kecil itu.

"Arigatou? Kau meminjamnya lalu melemparkannya kepadaku?" selidik Naruto. Awalnya Hinata menatapnya innocent. Melihat Naruto manyun seperti bebek, Hinata tak kuasa menahan tawanya. Naruto juga ikut tertawa, sambil sedikit mengoceh lagi di tengah tawanya.

Kiba tersenyum senang. Di matanya, mereka benar-benar pasangan yang serasi. Apa daya hanya Hinata yang menyukai Naruto. Perasaannya yang berkembang menjadi cinta itu belum terbalas oleh Naruto. Salah Hinata juga sih, karena ia belum mengakuinya ke Naruto. Takut sakit hati, alasannya.

"Ehem."

Seisi kelas menoleh ke asal suara. Deheman itu…! Tak heran seisi kelas akhirnya sunyi walau sekali deheman, kau bahkan dapat mendengar suara cacing menggemburkan tanah.

"Bagus, kalian diam. Kita akan memulai pelajarannya." Guru seksi tua yang awet muda itu melangkah cepat ke meja guru di depan kelas.

BLAM!

Suara buku-buku yang dibawanya saat ia taruh ke atas meja, menambah kesan horror pelajaran ini. Tsunade Senju, guru killer dalam mata pelajaran mengerikan sedunia—matematika, memperhatikan dengan teliti setiap sudut kelas. Matanya menyipit ketika melihat seorang anak sedang berbisik dengan teman sebelahnya. Tiba-tiba, ia melancarkan serangan pensilnya.

PLETAK!

"A-aduh…" Hidan meringis setelah ia dilempari pensil oleh Tsunade-sensei. Ia sudah membayangkan segala kemungkinan ketika sudah berurusan dengan janda itu, seperti liang lahat, kuburan, batu nisan, pohon beringin dan semacamnya.

"HIDAN! KAU TAHU TIDAK BOLEH MENGOBROL DI PELAJARANKU!"

"I-iya, janda."

"KAU BILANG APA?!" Tsunade mengangkat bangku di depannya, membuat seisi kelas bergidik ngeri.

"I-iya, Tsunade-sensei."

"KAKUZU! KAU JUGA TAHU KAN!"

"H-hai, Sensei."

"BAGUS! JIKA ADA YANG BERBICARA LAGI, NASIB KALIAN AKAN LEBIH PARAH!" teriaknya dengan posisi tangan di depan leher—kayak mau ngegorok gitulah, membuat seisi kelas memundurkan meja serempak. ckckck.

Yahh, dan kelas nahas itu pun menjalani proses belajar mengajar mengerikan yang tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata.


.

.

My Girlfriend

.

.


"Fyuuuh…" Naruto menyeka keringatnya yang terus bercucuran selama pelajaran guru killer tersebut. Hinata tampak sedang sweatdrop, melihat pemandangan di depannya. Ya, Hidan dan Kakuzu tengah dikerubuti teman-teman yang lain dan disuguhi pertanyaan-pertanyaan tentang kejadian tadi.

"Bagaimana rasanya saat dilempar pensil, Hidan-kun?"

"Ya sakitlah, geblek!"

"Bagaimana rasanya saat di bentak seperti itu, Kakuzu?"

"Misalnya gue punya uang cukup buat beli Tokyo Tower terus kecopet."

"Dasar badut uang!"

"Abaikan saja mereka, Hinata," kata Naruto. Hinata berbalik, dan langsung mengulum senyum termanisnya yang pernah ia buat. Naruto spontan mematung melihatnya.

'Senyuman itu lagi.. membuatku.. argh! Sadar, baka! Sadar!'

"Naruto-kun?"

"Ah, i-iya, Hi-Hinata," jawabnya. Semburat merah tipis mewarnai pipi tannya. "Aku keluar kelas dulu ya," lanjutnya gugup.

Hinata hanya menatap 'kepergian' Naruto dengan sendu. 'Apa ada yang aneh? Ah, perasaanku saja.'

.

.

.

Di luar kelas, tepatnya di koridor. Naruto baru saja menjauhkan kakinya dari kelas, namun belum 1 meter, sesosok pemuda familiar berdiri di depannya.

"Dobe …!" pemuda berambut Raven memandanginya datar. Naruto cukup terkejut melihat si Raven. Matanya berbinar.

"T-Teme!" Naruto memukul bahu sahabatnya yang juga cukup terkenal, jika di rate, masih di atas Naruto. Uchiha Sasuke—si Raven itu terkekeh.

"Kau ini, jarang menyapaku, dan berduaan terus sama si Jidat!" Naruto tertawa renyah.

"Iya, si Jidat selalu ingin bersamaku, mendokusei ne," jawabnya.

"Mendokusei ne? Ampun, Teme! Kau ketularan si Nanas?" Naruto berkata dengan nada yang aneh. Yah, semenjak bertetangga dengan Nara Shikamaru—si Nanas, Sasuke selalu bermain dengannya, yah selain bermain dengan si Jidat tentunya.

"Ehem! Siapa itu Jidat, hah?!"

"Itu kau, sayang. Kami membicarakan jidatmu yang indah itu," jawab Sasuke ringan, sambil merangkul kekasihnya itu—Haruno Sakura.

"Naruto-kun, eh?" sapa Sakura.

"Yo! Kau jangan berduaan dengan pacar mulu, padahal aku juga menginginkan Sasuke-mu!" goda Naruto. Sakura yang mengerti maksud Naruto hanya tertawa pelan … Sayangnya Sasuke salah mentafsirkan kalimat itu,

JEDUG!

"Ahh! Ittai.. ittai! Kenapa kau menjitakku?" tanya Naruto polos, sambil mengusap puncak kepalanya.

"Dasar homo!" Sasuke berkata dengan sinis. Naruto mengernyitkan alis.

"Apa?!" Naruto 1000% bingung. Perkataan Sasuke sama sekali tidak nyambung—menurutnya.

"Pantas saja kau belum punya pacar karena kau homo ya? Hahaha.." Sakura tertawa, mendukung kekasihnya si pantat ayam itu *dibom*

"Aku tidak mengerti?"

"Kau mengucapkannya tadi! Kau menginginkanku?! Apa maksudmu?"

"Eh.. euh, maksudku itu.." Naruto salah tingkah. Author sempat memperingatinya agar tidak salah pairing.

"Homo memang susah di ajak bicara!" Sasuke merangkul Sakura agar kasar. "Ayo kita pergi!" ia membalikkan badannya dengan elit.

"T-Tunggu Teme! A-aku.." Naruto terhenti, raut wajahnya khawatir. Sasuke menghentikan langkahnya.

"..AKU PUNYA PACAR! AKU NORMAL-TTEBAYO!"

Sasuke langsung membalikkan badannya dengan indah, lupa dengan Sakura yang pasrah masih dirangkul sehingga daritadi kecekik mulu. TRING! Kejahilan terlintas di otak encernya. Lampu diskotik menyala di atas kepalanya, langsung direbut Kakuzu untuk dijual. Sasuke acuh. Ini akan menjadi pertunjukan yang seru, batinnya.

"Hn. Tunjukkan dan buktikan!"

Ini kesempatanku, batin Naruto. Ia sempat berputar, gadis mana ya yang kira-kira ia bisa jadikan pacar 'dadakan?' Terkesan terpaksa memang, tapi tak ada cara lain selain membuktikan bahwa ia normal. Masalah yang benar-benar sepele! Mendokusei ne! Naruto juga sudah ketularan virus si Nanas gara-gara masalah ini.

"Kau berbohong. Jaa nee." Sasuke yang pura-pura tidak sabar hendak mengangkat kakinya, dan teriakan tidak terima itu terdengar. Sasuke menyengir. Namun bukan cengiran seperti Naruto, tetapi cengiran jahil ala Sasuke.

"KAU LIHAT?! DIA ADA DI SINI."

Sasuke terhentak. Secepat itu dia punya pacar? hei. bagaimanapun juga Sasuke itu sahabatnya, ia mengetahui persis '5 jempol' kelakuan atau keadaan Naruto. Naruto tidak punya pacar. Bahkan hal itu diketahui Sakura.

Spontan kedua pasang mata itu berbalik. Mata onyx dan emerald menatap lekat-lekat 'pacar' Naruto.

"HINATA?!"

"H-halo.. ngg.. Sasuke-kun, S-Sakura-san.." Hinata menjawab pasrah. Naruto mengeluarkan cengiran tampannya. Sasuke ber-'Ckh' ria.

"Buktikan, Dobe, jangan bilang kau memaksanya untuk menjadi pacar dadakan."

DEG!

Naruto panik. Naruto merasa Sasuke membaca pikirannya. Tidak mungkin dia paranormal, kalau iya, kurang ajar Sasuke menyembunyikan bakat terpendamnya itu (bakat terpendam kan tersembunyi? :o). Paranormal kurang asem, umpat Naruto dalam hati.

Sudah diputuskan, dengan semangat juang 2013, ia akan membuktikannya dengan cara yang romantis.

"Hinata…" ucap Naruto pelan, mengangkat dagu Hinata. DEG! Hinata kaget. Ia langsung memalingkan wajahnya. Sudah bisa ditebak, wajahnya benar-benar merah akibat pertemuan kedua mata itu—mata sapphire dan lavender. Tapi Naruto membalikkan posisi wajahnya agar menghadap pemuda itu lagi.

Naruto semakin mendekatkan wajahnya secara slow motion dan menutup matanya. Benar-benar dekat. Hinata dapat merasakan hembusan napas dari Naruto. Kenapa bisa begini? Apa salahnya? Refleks ia menutup juga matanya, pasrah.

Semangat 2013 Naruto mundur jadi 1998, ia gugup total, tapi samar-samar ia mendengar suara bisikan Sakura seolah menyemangatinya ala '45.

"Buktikan kenormalanmu!"

Ya. Batinnya, walau masih ragu. Aku harus menyelesaikan masalah S-Rank kayak di komik Naruto, dengan semangat '45 ditambah semangat shinobi! (?)

Jarak antara si pirang dan indigo akhirnya tereleminasi, sebelum akhirnya kedua bibir itu bertemu.

CUP!


.

.

To Be Continued

.

.


OMAKE: (Hinata POV)

Aku tidak tahu, perasaanku terhadapnya berkembang. Belum 2 menit saja aku langsung merindukannya. Aku ingin menyusulnya, daripada duduk melamun di sini sendirian, sedangkan yang lainnya sibuk dengan aktifitas masing-masing.

Aku berdiri dari bangkuku dan melangkah keluar kelas, diiringi tatapan cengo' Kiba khusus untukku. Belum 1 meter jarak dari kelas, Naruto-kun sedang berdiri sambil berputar kebingungan. Ia spontan tersenyum lembut begitu melihatku, refleks dia menarik tanganku lalu merangkulku agar kasar.

Aku merasa agak tidak menerima walaupun senang, bagaimana pun harus ada etikanya dong! Tanpa menyapa lagi.

"KAU LIHAT? DIA ADA DI SINI."

Hah? Apa mereka habis membicarakanku? 'Illegal' sekali perbuatan mereka.

Tiba-tiba, setelah Sasuke-kun mengucapkan sesuatu, kira-kira, "Buktikan, Dobe, jangan bilang kau memaksanya jadi pacar." Naruto-kun mengangkat daguku perlahan. Aduh, setelah dirangkul kasar, apa ia mencoba melakukan 'itu?' Sangat tidak sopan!

Eh, pacar? Tunggu. Kata siapa? Itu illegal! Barack Obama belum mensahkannya. Aku yang akan mensahkannya duluan!-?- tapi jangan sekarang...

Oh tidak. Terlambat...

CUP!

.

.


a/n: udah kebiasaan Yama selalu ada author note, hehehe. Guest star! 3 anggota Akatsuki, Deidara, Kakuzu dan Hidan, hehehe. Alur kecepetan? Ripiw! *modus* Yama lagi speechless, bingung mau ngomong apa :D Eh! Bisa pake pembatas paragrap yeeeeeey! *jingkrak-jingkrak* #tendanged Norak aih :/ yang pasti, plis REVIEW jika ada kekurangan, dalam bentuk apapun. Yama berusaha menerima jika memang baik untuk Yama ;p Yosh, minna-san. See u next chap! *ilang pake pasir Gaara*