A/N: Hai.. Yama is back! *watados*. Gak apdet lama karena asik mudik :p. Yama ganti penname, YBuitenZ'Org. Y-nya itu singkatan dari 'Yama', jadi tetep panggil saya Yama yaa.. Kalo ada yang mauu siih.. *mainin tanah*.

Banyak banget ide berjejalan di otak Yama selama mau buat chap ini-_- jadi rada lupa lanjutannya-_- tapi dah inget kok *starry eyes*. Yang bikin ane inget untuk lanjutin, pas itu ane main(?) ke toko DVD, nemu deh film Jepang judulnya 'SADAKO', dan pemerannya itu namanya AKANE! Terus pas main(?) Google, nemu anime judulnya Ramon 1/2(?), lupa namanya-_-, pokoknya pemeran ceweknya Akane.

Enjoy ;p

.

SUMMARY:

"Sementara ini, kita hanya pacar kontrak, dattebayo. Ingat, hanya demi Sakura-chan dan Sasuke."

"APA?! KONTRAK?!"

BRAK!

"Aa, ittai desu neee..."

"Hei, siapa kal—"

"H-haloo," seorang gadis dan seorang pemuda nyengir kuda. Mereka saling bertindihan karena mendobrak pintu kamar Naruto dan Hinata yang lupa di kunci. Naruto dan Hinata yang awalnya pengen mencak-mencak, langsung menciut.

"Ketahuan nguping deh ..."

"Nguping?! Kalian d-dengar semuanya?!" seru Hinata kaget. Gadis dan pemuda itu menangguk malas.

"Kalian pacar kontrak?"

"Ya."

Naruto dan Hinata berpandangan, menyadari apa yang mereka jawab dari pertanyaan retorika itu.

"Ups..."

.

.

WARNING!

Kalau ada kemiripan ide, maaf! Tapi Yama TAK AKAN pernah menyontek ide! OOC, AU, Typo(s), alur cepat mungkin, no haters NaruHina allowed! DLDR! Beberapa slight pair.

DISCLAIMER:

Kishimoto-Sensei, this story is mine.

GENRE:

Macem-macem=w=

MAIN CHARA:

Naruto U. Hinata H.

.

.

My Girlfriend

.

.

Sang pelaku pendobrakan—Sakura dan Sasuke tampak kaget.

"Sia-sialah perjuangan kita, Sasuke-kun," Sakura mengusap wajahnya dengan kasar sebelum berpaling melirik Sasuke yang berwajah masam. Sasuke balas melirik Sakura dengan lebih tajam. Karena tak mau kalah, Sakura balas melotot.

Lalu mereka pelotot-pelototan.

"Game ini tidak lucu," dengus si pemuda raven yang membuat Sakura malu sendiri karena bertingkah konyol. Sakura nyengir kuda.

"Lagian yang bikin ide itu aku, tahu!" seru Sasuke sambil bangkit dari jatuhnya, sempat membuat RUM*R terpana, kenapa Sasuke bisa sedangkan dia juga terjatuh dan gak bisa bangkit lagi? Berarti posisi dia terpana sekarang adalah tengkurap.

o.O?

"Ya, ya, ya," Sakura memutar bola matanya. Ia melirik Naruto dan Hinata yang menatap Sasuke dan Sakura heran. "Kenapa kalian?"

"Ide, katamu tadi?" tanya Naruto pelan. "Kalian bekerja sama?"

"Hn," jawab Sasuke, menatap Sakura seperti mengatakan 'jelaskan-semuanya.' Lalu dibalas anggukan Sakura.

"Well, saat Sasuke mengira kau adalah gay, ia hanya ingin membuatmu kalah dan mengakui kau adalah gay," jelas Sakura sambil duduk di tepian ranjang sebelah Hinata. Kedua pasangan itu tampak bingung, terlihat dari sorot matanya. Sebelum mereka bertanya, Sakura menjelaskan lagi.

"Dia ingin menjahilimu, Naruto! Tapi ia cukup kaget kau tiba-tiba ngaku punya pacar! Nah, supaya percaya, dia menyuruhmu untuk membuktikan bahwa itu bukan pacar dadakan. Kami agak percaya kalian pacaran karena Naruto berani mencium Hinata," kata Sakura sambil melirik Hinata yang pipinya memerah, mengingat first kiss-nya di ambil oleh pemuda yang ia sukai. Sakura melanjutkan dengan semangat. Sedangkan wajah Sasuke pucat.

"Entah apa yang membuat Sasuke punya ide akting pingsan tanpa alasan yang logis. Ia memberi isyarat padaku saat kalian berciuman.. dan aku di suruh dia berakting bahwa—kejadian pingsannya itu betulan, karena ia ingin membicarakan sesuatu denganku. Syukurlah, anehnya ambulans datang. Ia memang di masukkan ke dalam ambulans, tapi diturunkan di kantin atas permintaannya. Aku juga pura-pura pingsan, aku sadar bahwa seseorang membawaku ke UKS. Setelah kalian pergi, aku buru-buru kabur mencari Sasuke, aku menemukannya dia berada di kantin," jelas Sakura panjang lebar sambil melihat wajah Sasuke yang merah padam karena malu.

Hilang sudah harga diriku dan Uchiha, batinnya.

"Ternyata aktingku dan Sasuke-kun sangat bagus!" jerit Sakura bangga, mengambil kesimpulan.

"Aktingnya buruk," gumam Naruto geleng-geleng kepala.

"Lanjutkan," kata Hinata tiba-tiba yang dari tadi fokus mendengarkan.

"Di kantin kami hanya mengobrol tentang kejadian tadi," sela Sasuke yang duduk di sofa. Sakura mengangguk membenarkan.

"Jadi, saat itu—di depan toilet, kau berbohong dengan mengatakan Sasuke sudah keluar dari rumah sakit?" selidik Hinata dibalas anggukan Sakura. "Pantas kau juga ikut-ikutan menambahkan 'tanpa alasan yang logis' di kalimatmu."

"Ya, haha.. untuk menutupi kebohongan!" seru Sakura dengan senyum lebar. "Tanganku di belakang membentuk huruf 'X' kok! Kalo gak bohong nanti ketahuan."

"Lalu, apa saat di kantin kau melihat kami berdua?"

"Hah? Tidak," jawab Sakura sambil mengernyit. Sasuke tidak mengatakan apa-apa.

"Baguslah," keduanya menghela napas.

"Memangnya kenapa?" tanya Sakura kepo, siapa tahu ada berita bagus untuk diberitahu ke Ino.

"Gaak," Naruto melirik ke atas sambil siul-siul.

"Aku melihatnya, karena dari kemarin aku memata-matai kalian," kata Sasuke tiba-tiba. Naruto menoleh lambat-lambat ke sofa tempat Sasuke duduk. Sasuke menyeringai.

"Kalian sering sekali bertengkar, lalu berbaikan. Itu sempat membuatku curiga, tapi aku tidak member—"

"KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU, BAKA?!" potong Sakura berapi-api sambil mencak-mencak.

"Merepotkan, kau akan blak-blakan menanyai Naruto. Jadi aku memata-matai mereka tanpa sepengetahuanmu," jawab Sasuke kalem dan datar.

"Oh.. hehe," Sakura garuk-garuk kepala belakang—kikuk—sambil tersenyum sok imut. Sasuke menghela napas.

"Kalian itu miss-communication dan menyimpulkan sesuatu seenak jidat Sakura, tanpa mengonfirmasi satu sama lain. Kunci dari kuatnya suatu hubungan adalah keterbukaan," Sasuke malah menasihati, menghiraukan Sakura yang kembali mencak-mencak karena jidatnya di sebut.

"Hah ... Kalian ternyata pacar kontrak," Sasuke merebahkan diri di sofa dengan lengan di kepala sebagai bantal. "Tapi kurasa kalian saling mencintai, terlihat dari sikap kalian."

DEG.

'Dia meramal lagi!' batin Naruto.

"Kalian deg-degan?" tanya pemuda raven itu dengan mata tertutup.

Kedua pasangan itu refleks memalingkan wajah karena malu.

"Dobe, akui saja, dan tembak beneran si Hinata itu," kata Sasuke sambil menoleh sedikit ke kedua pasangan itu. Sakura sendiri tak mau ambil pusing, dengan lancang dia merebahkan diri di ranjang Naruto dan Hinata dengan posisi menyamping. Tapi, that's Sakura for you, jadi pasangan 'kontrak' itu tidak protes.

"Teme," geram Naruto sambil meremas ujung sprai ranjang.

"Pikirkan baik-baik, Dobe, tak mungkin Hinata yang memulai. Dia itu cewek."

Naruto refleks melirik Hinata yang menunduk dengan pipi yang memerah.

"Kesempatan itu cuma satu."

Naruto memeras otak untuk mencerna perkataan Sasuke yang—menurutnya—sok tahu tapi ada benarnya juga. Apa dia berniat menjahili Naruto lagi? Naruto harus memeras otak kalau begitu.

"Atau Hinata akan direbut Kiba. Lalu Akane dengan bebas mengejarmu."

"Cukup! Kau tahu darimana semua itu, TEME?!" seru Naruto kesal, "Aku tak mau dipermainkan lagi!" serunya menambahkan sambil berdiri dari tepian ranjang dan menunjuk Sasuke dengan jari telunjuknya.

Yang ditunjuk hanya menyeringai.

"Begitu juga Hinata, ia tak mau cintanya dipermainkan, apalagi olehmu."

DEG.

Jantung Naruto deg-degan lagi, tubuhnya serasa merinding dari ujung kaki ke atas kepala. Di hatinya, perasaan bersalah muncul. Tapi ada juga perasaan senang, jika benar Hinata juga mencintainya. Ia bisa menilai dari sikap gadis pendiam yang agak pemalu itu. Tapi ia harus punya bukti nyata. Akan menyakitkan jika menembak tapi akhirnya ditolak.

"Kurasa tak ada yang perlu ku beritahu lagi. Oh, ingat, Dobe-chan, aku memata-mataimu seperti yang kukatakan tadi, jadi jangan heran atas pernyataanku," kata Sasuke datar, tapi agak menekan kata 'Dobe-chan' sambil menggendong Sakura yang ketiduran di ranjang NaruHina, lalu menghilang di balik pintu kamar mereka.

Hening.

"Dobe-chan? Dia pikir aku ini apa," gumam Naruto sangat pelan, yang terlihat hanya gerak mulutnya saja. Hinata mengangkat wajahnya, menatap mata biru Naruto yang tersimpan banyak harapan.

"N-Naruto-k-kun.."

Naruto balas menatap gadis indigo yang sangat ingin ia miliki sambil tersenyum canggung. Tampak gadis itu tersenyum miris sambil memainkan kedua telunjuknya. Makin manis saja! Pikir pemuda itu.

"Y-ya?" Ia tertular gagap.

"Ano.. aku tidur di sofa saj—"

"Tidak. Aku tidur di sofa, kau di kasur. Paham?" potong pemuda jabrik itu dengan tatapan serius, gagapnya hilang seketika.

"Kenap—"

"Karena kau nanti masuk angin. Di sofa itu dingin. Kita masih ada kegiatan besok hari, nanti kau sakit!" jelas Naruto yang lagi-lagi memotong perkataan Hinata. Hinata mengangguk lemah, ia tak mau terlibat argumen lagi dengan pemuda yang ia sayangi.

Hinata melihat jam tangan putihnya, menunjukkan pukul 10 malam.

"O-Oyasuminasai," ucapnya pelan, lalu berbaring di kasur dan membungkus dirinya dengan selimut. Naruto refleks tersenyum.

"Ya." Ucapnya tak kalah pelan, ia berbaring di sofa dan menepuk kedua tangannya. Lampu kamar mereka pun padam, dan yang tertangkap mata sekarang adalah kegelapan.

.

.

"Jadi, mereka baikan lagi, ya?" Akane menyeruput coklat panasnya dan menaikkan kakinya ke atas meja di depannya. Kiba melakukan hal yang sama sambil menyeruput kopinya.

Ya, mereka sedang berada di taman depan villa untuk berdiskusi, tentunya. Hanya berdua saja, karena Karin menolak untuk ikut. Sudah ngantuk, alasannya. Diiyakan oleh Akane, karena sisi egonya mengatakan Karin tak terlalu membantu mereka, kata lainnya sih tak berguna.

"Kau tahu, Akane?" Kiba meletakkan cangkir—uhuk—plastik kopinya yang sudah tinggal setengah ke atas meja. "Rasanya aku tak terlalu tertarik dengan Hinata lagi."

"Aku sudah putus asa, Kiba," lirih Akane sambil menunduk. Ia menggoyang-goyangkan hot chocolate-nya. "Padahal aku menyukainya segenap hatiku. Sedangkan mereka 'kan cuma kontrak! Apa ia bisa memilih antara yang tulus atau tidak?" lanjutnya.

Pemuda penyuka anjing itu tidak mengatakan apa-apa, namun mendongak ke atas untuk melihat langit malam. Malam ini cukup cerah, bintang-bintang bertaburan dengan indah dan ada bulan purnama terlihat jelas. Kiba tersenyum kecil.

"Kurasa ini terakhir kalinya aku mengejarnya sejak SMP," Akane meneguk hot chocolate-nya lagi sampai habis. Ia meletakkannya ke atas meja. "Aku bukan untuknya."

"Kau sadar juga, ya! Aku juga sudah bosan," celetuk Kiba akhirnya, membuat Akane mingkem. Pemuda itu menyeruput kopinya lagi. "Karena aku selalu memata-matai mereka, aku bisa menyimpulkan sesuatu, mereka sebenarnya saling peduli dan menyukai," ia menambahkan. Akane serius mendengarkan.

"Training Motivasi ini benar-benar menyadarkanku untuk berhenti mengejar dan memaksa. Kurasa aku mengikuti keegoisanku selama ini," katanya lagi. "Coba kau pikirkan, apa untungnya bagi kita? Sepertinya kau juga sudah menyadarinya saat kita melihat Hinata sesenggukan di sebuah gazebo. Kenapa dia menangis? Karena kesalah pahaman mengenai Naruto, dan secara tidak langsung kita! Kita sudah mengadu dombanya."

Kiba menyeruput kopinya untuk kesekian kalinya. "Intinya, mereka sudah saling menyukai sejak awal. Mereka sedih, tentu saja, karena merasa sakit hati. Sakit hati karena kesalah pahaman itu!" Kiba meletakkan cangkir kopinya yang sudah kosong di sebelah cangkir Akane.

"Kau cerdas dalam menyusun rencana, Akane. Rencana licik dan penuh keegoisan. Bodohnya aku bisa menurutimu dulu, kurasa kita harus menghentikan semua ini."

Kiba mendongakkan wajah Akane ke langit malam yang cerah.

"Naruto hanya satu diantara ribuan orang," Kiba menunjuk bintang yang sinarnya terang. "Tapi di dunia ini bukan hanya Naruto, masih ada yang lain, dan kau bisa pilih dia." Sekarang ia menunjuk bintang lain yang tak kalah terangnya.

"Lagian, kalian 'kan sama-sama Uzumaki, satu keturunan. Berarti saudara jauh dong? Kau menyukai saudara jauh?"

Akane melongo, jika ditafsirkan ia mengatakan 'Hah? Baru nyadar!' dan mata Kiba sekarang membentuk 'minus'.

"Dia benar-benar Uzumaki? Tapi rambutnya kuning, kupikir ia Namikaze!"

"Lihat saja di nama absennya!" cerocos Kiba sambil melipat tangan di dada.

"Iya aku tahu, tapi kupikir ia hanya ngaku-ngaku saja.." Akane memasang pose berpikir, lalu ia digeplak oleh Kiba.

"Aaah, dasar!" komentar pemuda itu sambil tertawa tertahan. "Lo geblek juga ye! Nama gak bisa diganti hanya sekedar pengakuan sepihak!" desisnya pedas, tapi tidak ditanggapi Akane.

Gadis itu tertawa kecil, ia tersenyum ke arah Kiba. Senyum tulus yang tak pernah dilihat Kiba sekalipun yang biasanya seringai, tanpa sadar wajah tampannya memerah namun tersamarkan dengan tato ungu di pipinya. Tiba-tiba si gadis langsung memeluk dan agak meremas jaket hitam Kiba.

"Terima kasih kealimanmu, atau apalah. Aku tahu siapa yang akan kupilih," bisiknya, membuat Kiba nyengir lebar ke-GR-an.

"Siapa?" tanyanya kepo, setelah gadis Uzumaki itu melepaskan pelukannya.

"Nanti kau tahuuu~" sikap centil Akane kumat, ia mengerjapkan sebelah matanya. Kiba mual tiba-tiba.

"Hei, bagaimana kalau kita ke kamar mereka?" tawar Akane dengan seringai jahil ala Suigetsu. Kiba mengangguk, entah kenapa. Ia hanya mau saja, tak ada alasan khusus. Tapi setelah berpikir ...

"Kau mau minta maaf?" tanya Kiba dengan tampang inosen.

"Masa aku mengakuinya begitu saja seperti 'Aku mengadu domba kalian, sori ye!', mana harga diriku?!" seru Akane, ia bangkit dari kursinya dan menepuk-nepuk rok jeans belakangnya. Kiba nyengir.

"Memangnya kau punya harga diri?" desis Kiba sangat pelan, lalu terdiam karena tak tahu harus ngomong apa lagi, tapi entah kenapa ia senang, sikap Akane yang dulu—yang judes, centil, tapi sebenarnya baik itu muncul lagi.

Lalu kedua orang tak bertanggung jawab itu masuk ke dalam villa tanpa membawa cangkir—uhuk—plastik mereka.

.

.

Sudah 15 menit, Naruto tak bisa tidur, bukan karena hawa dingin buatan AC atau masalah tempat ia berbaring saat ini. Posisinya sudah nyaman, ia memakai jaket dan kaus kaki agar tak kedinginan. Bantalnya juga ada, ya bantal dari kamar ini, lah. Tiap kamar disediakan dua bantal, pas untuk Naruto dan Hinata.

Naruto menatap langit-langit kamar yang gelap, matanya belum terlalu ngantuk. Ia banyak pikiran, ia meresapi dan mencerna nasihat Sasuke, mau tak mau yang ada benarnya juga. Tentu saja ia gengsi mengakui. Bagaimana juga, mereka sahabat tapi suka bersaing. Bukan, bukan bersaing jahat yang seperti itu, kurasa kalian mengerti.

Lalu pemuda itu mendekati Hinata yang sudah terlelap dengan indah. Begitu tenang, dan cantik. Naruto tersenyum kecil mengamati gadisnya—kelak. Ia duduk di tepian ranjang, tepat di samping Hinata sambil membelai rambut indigonya.

'Kunci dari kuatnya suatu hubungan adalah keterbukaan.'

"Ya, kami selalu menyimpan sesuatu sendiri-sendiri," Naruto menjawab pernyataan Sasuke seperti berbicara sendiri, tapi secara tak langsung mengutarakan unek-uneknya.

'Kalian pacar kontrak, tapi kurasa kalian saling mencintai, terlihat dari sikap kalian.'

"Aku sadar mencintaimu, Hinata-chan," bisiknya, "tapi kuharap cinta ini tak sepihak."

'Kalian deg-degan?'

"Mungkin aku saja yang deg-degan tiap melihat wajahmu. Kau seakan memborku," bisiknya lagi. Kini merapikan selimut Hinata.

'Dobe, akui saja, dan tembak beneran si Hinata itu.'

Naruto terdiam, belum bisa membalas perkataan Sasuke yang itu, ia belum berani. Belum berani menembak Hinata tentunya. Entah, hati kecilnya sangat ingin ia menembaknya, tapi akal sehatnya mengatakan takut ditolak.

'Pikirkan baik-baik, Dobe, tak mungkin Hinata yang memulai. Dia itu cewek.'

"Oh, tolonglah," gumamnya sambil mengusap wajahnya. "Kau membuatku speechless!"

'Kesempatan itu cuma satu.'

Naruto merenungkan kalimat yang satu itu. Teme benar, kapan lagi ia bisa memiliki Hinata. Kalau tidak sekarang ...

'Hinata akan direbut Kiba. Lalu Akane dengan bebas mengejarmu.'

"Sial, kau, Teme," geram Naruto. "Memata-matai hingga sejauh itu."

'Hinata tak mau cintanya di permainkan, apalagi olehmu.'

Naruto kembali speechless, ia memperhatikan Hinata yang masih terlelap. Tanpa sadar ia membelai pipi putih nan halus gadis itu. Ia menyipitkan matanya dan tersenyum.

"Aku mencintaimu Hinata."

Ia menyibakkan poni indigonya dan mengecup keningnya dengan lembut.

"Andai kau menjadi milikku, sungguhan. Aku akan membahagiakanmu."

Sekarang ia mengecup pipi Hinata. Gadis itu mulai bergerak dan merenguh pelan.

"Maafkan aku jika menyakitimu."

Sekarang ia memperhatikan bibir Hinata, wajahnya memerah mengingat kejadian memalukan di kantin. Ia merutuk dalam hati, kenapa harus terbawa suasana saat itu. Apalagi itu di tempat umum. Hinata juga tampaknya belum berani membalas.

"Jika kau mendengarku sekarang, apa kau mau bersamaku?"

Ia mendekatkan wajahnya ke depan wajah Hinata. Mata birunya yang biasanya terlihat cerah, sekarang tampak sendu. Karena menurutnya sia-sia saja mengatakan atau menembak saat seseorang sedang tidur. Jadi seperti bicara sendiri.

Naruto menghela napas, sebelum menjauhkan wajahnya, ia mendengar bisikan lirih dari depannya.

"Ya, aku mau."

Naruto membelalakkan matanya, melihat sepasang mata besar berwarna lavender sudah terbuka sepenuhnya. Ia melihat gadis di depannya menyunggingkan senyum bahagia, bahkan matanya berkaca-kaca.

"Terima kasih," bisik gadis itu lagi.

Naruto menganga. Batinnya tersentuh—terharu. Mata amethyst-nya ikut berkaca-kaca. Ia menjauhkan wajahnya, lalu memalingkan muka. Ia tersenyum bahagia, dan akhirnya cairan bening itu keluar begitu saja dari matanya.

Hinata duduk di atas tempat tidur sambil menunduk malu.

"Perkataanmu tadi..." gadis itu menggantungkan kalimatnya, "sungguhan kan?"

Naruto menyeka air mata haru yang sebenarnya buaya dan menghirup napas dalam-dalam, ia mencium wangi parfum lavender yang baru ia sadari dari tubuh Hinata. Ia tersenyum tulus, sangat bahagia.

"N-Naruto-kun?"

Naruto berbalik dan menyeringai nakal, sontak tubuh Hinata merinding seketika.

Bruk.

Naruto mendorong Hinata hingga posisinya terbaring, ia mengunci gadis itu dengan lengan kekarnya di sebelah kiri dan kanan, ia berada di atas Hinata.

"Kau tidak percaya?" bisiknya, mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata yang memerah.

"P-perc-caya k-kok.." Hinata menjawab dengan susah payah.

"Kita akan melakukannya lagi," kata Naruto sambil tersenyum. Tiba-tiba Hinata merasa sesuatu yang hangat menempel di bibirnya. Yah.. Naruto melakukannya lagi, tentu yang satu ini dengan pasti kecupannya dibalas oleh Hinata..

Karena sekarang mereka sudah mengikat hubungan sungguhan, terima kasih kepada ide jahil Sasuke yang secara tak langsung menjadi makcomblang. Umm, Sakura? Tidak.. tidak, dia tidak terlalu berperan~ Hahaha~

Di toilet, Sakura terpeleset.

.

.

Dibalik pintu kamar Naruto dan Hinata yang sedikit terbuka. Dua remaja menjadi saksi kejadian langka itu.

"Tuh kan, kubilang apa, mereka saling menyukai," bisik Kiba ke Akane yang wajahnya agak murung. Lalu Akane agak mendongak ke atas, menatap Kiba yang memang lebih tinggi darinya sambil tersenyum simpul.

"Sudahlah, tidak perlu di sesal.."

CUP.

"..li...!"

"Mereka sudah mengikat hubungan, bagaimana kalau sekarang kita?" katanya sambil tersenyum, kali ini menurut Kiba, manis. Kiba yang sedang terlena, mengangguk pelan dengan mulut terbuka dan iris mata melebar.

Akane terkikik, lalu ia melambaikan tangannya. Ia kabur dan menghilang dari pandangan kaget si pemuda yang kini sudah mengikat hubungan dengannya setelah beberapa langkah.

Kiba memegang pipinya yang dicium Akane barusan, ia menjadi geer sendiri, siapa tahu itulah jawaban Akane saat di taman depan tadi. Berharap itu boleh kan? Dan lagipula, sudah banyak kemungkinan jika kita dicium seorang gadis...

"Kenapa aku jadi menyukaimu, Akane?" ia tertawa kecil lalu meninggalkan kamar berisi dua sejoli yang sedang menikmati kebersamaan mereka.

Mereka akhirnya mendapatkan kebahagiaan masing-masing, jika saja kita tak berusaha merebut kebahagiaan orang lain dan bertindak cepat sebelum orang yang kita sayangi direbut oleh orang lain...

Lagipula, semua indah pada waktunya bukan? ;)

.

.

Di dalam kamar Sakura.. anggap saja Dei tidak ada karena perannya cuma sedang tidur.

"Aku melihat semuanya, Sasuke-kun~! Saat aku habis dari toilet tadi!" seru Sakura bangga sambil memegang pinggangnya yang berkemungkinan encok, karena di toilet dia kan terpeleset. Ia langsung menelepon Sasuke setelah melihat sebuah kejadian langka.

"Apa?" tanyanya tanpa ada nada antusias.

"Akane mencium Kiba, kau tahu? Mereka sepertinya pacaran!"

"..."

Sasuke sempat terdiam, lalu menanggapinya.

"Baguslah, mereka takkan mengganggu Dobe lagi."

"Itu saja tanggapanmu?" Sakura pura-pura kecewa.

"Terus gue harus bilang apa? Masa bilang 'WOOW.. SURPRIIISE~! Cucok buangett! Yey matanya bagus ah chyiin~, eyke shaluut deh ama yeey~!'"

"Lo ga usah gitu juga!" bisik Sakura sambil melirik Dei yang udah tidur di sofa dengan lirikan yang sulit diartikan. Kayaknya hampir semua laki-laki yang sekamar ama cewek harus tidur di sofa! Malang.

Klik.

"Yah, telponnya mati," gumam Sakura lalu merebahkan diri di kasurnya.

Di kamar Sasuke, Tenten tertawa terbahak-bahak.

.

.

OWARI

.

.

OMAKE KEPANJANGAN(?):

"BAIK! KITA AKAN MENGADAKAN FULL GAMES HARI INI!" teriak Tsunade dengan suara toa-nya. Sekarang, seluruh murid di suruh kumpul pagi-pagi untuk .. wait, what? Hanya bermain games? Oh, mother of Earth.

Tapi tidak ada yang membantah, kau mau tulangmu remuk di tangan si Janda itu yang sudah cerai dengan Dan karena alasannya tua dan mau menikah dengan si Duda Jiraiya alias kakek Naruto lalu kelak Tsunade akan menjadi NENEK Naruto?! Malangnya nasibmu Naru.

"Ohayou Gozaimasu!"

"Naruto?" seluruh murid menoleh ke pasangan baru yang terlihat paling bersemangat. Naruto menyeringai sambil merangkul Hinata yang menunduk malu, membuat semua orang bertanya-tanya kecuali teman sekelas mereka yang sudah tahu gosipnya.

"Bersemangat, Dobe-chan?" tanya Sasuke menyeringai sambil mengunyah permen. Naruto tersenyum senang.

"Yup! Lawan aku nanti, Teme-ojiisan!"

"Enak saja, gue bukan Om-Om!" seru Sasuke kesal, di pelipisnya muncul urat nadi kemarahan.

"Om-Om?" Tenten lalu tertawa terbahak-bahak, sekarang sorot lampu dan kamera(?) di arahkan ke gadis bercepol itu. "Om-Om bencong.. wuakakak.. pas malem-malem nelpon pacarnya di kamar gue.. wkkwaakk..."

Para murid laki-laki terbahak-bahak dan para murid perempuan alias fansclub Sasuke langsung nge-gedubrak ria.

"Tap-Tap-Tapi.." Sasuke bingung mau ngomong apa, wajahnya memerah malu. Ia melihat Sakura yang pura-pura gak kenal sama dia. Ingin mengalihkan perhatian, "AKANE DAN KIBA PACARAN!"

Sekarang sorot lampu di arahkan ke Akane dan Kiba.

"Wh-What?" tanya Akane sok Inggris.

"CIEEE~ PACARAN~" seluruh murid berteriak serempak, termasuk pengurus villa dan para guru yang gak mau kudet.

"A-aa.." wajah Kiba memerah malu. "NARUTO DAN HINATA PACARAN JUGA!"

Teman-teman sekelas mereka memang sudah tahu, jadi diam saja, tapi tidak dengan murid-murid lain yang langsung riuh dan bersorak-sorai.

Ingin membuat lebih heboh lagi, Akane berteriak, "MEREKA JUGA CIUMAN!"

"HOO~ NGINTIIIIP!" iya, keadaan makin heboh—untuk meledek Akane tentunya. Sekarang Kiba—orang yang bersangkutan, langsung kabur karena masih ingin punya muka.

Merasa kasihan walau ia juga diledek, Naruto kemudian ikut berteriak.

"TSUNADE-SENSEI AKAN MENIKAH DENGAN KAKEKKU!"

Si Naruto cari mati.

.

.

END OMAKE

.

.

A/N: HUEEE... *nangis ala Tobi Anak Baik dan membuat banjir ala Juvia*, OMAKE GAJEEL, eh GAJE... endingnya gak jelas pulaa HUEE

Lupakan, umm.. YES, ini chapter terakhirnyaa, makasih semua yang udah review, baca, nge-alert, nge-fave, nge-follow atau silent readers sekalipun, makasih semua udah ngehargain fic Yamaa!

Yama bakal bikin cerita baru nih, tapi OneShoot, pengen nyoba :9 banyak ide berjejalan di otak cerdas (ceileh pedean:p) Yama, dan udah Yama catet. Tapi kalau bisa diketiknya kalau sempet, mungkin sekarang Yama SEMI-HIATUS. Makasih dukungan kaliaan \oo/

Okay, thanks to:

Rika Shimon

laila angel sapphireBluee

.9

Nabila Chan BTL

NARUHINA4ever

Arakida Kirito

Red devils

Guest

nandae namikaze

Karizta-chan

Yukori Kazaqi

a-KATSU-ki

Bhie Forsaken

Cuee Jogler

viii-chan

U. Dila-chan

safira.

SyHinataLavender

Nitya-chan

namikaZE Siron

nowan456 yoval

yogiblueside

Suuki Araku

Chess sakura

asbobi

MiMeNyan

Soputan

.bs

TheBrownEyes'129

Dila Edogawaa / Dilaedogawa12

IndoSedSarSupMie Ichiraku (penname kamu enak bangeet !^^)

aftu-kun

nhl

uzugakure no satoy

Maaf jika ada kesalahan penulisan, dan review yang gak di bales.. Huh.. Besok sekolah? HELL WHY! :o Sibuk lagi. Umm, sekian dari author ini. Selamat idul fitri! #telat dan hari kemerdekaan Indonesia!^^

See you in another fic #insyaallah

LAST REVIEW

PLEASE?^^a

V

V

V