Uta no Prince-sama Disclaimer by Broccoli

Maji Love STARISH by Oto Ichiiyan

Rate : M (ya! pada akhirnya rating dinaikan! #Laugh)

Genre : General, Romance, Drama, Friendship

Pairing : TxOxC, NxSxS, MxR, etc.

Warning : OOC, OC, Typos, Gaje, etc.


First Day of Making Maji Love STARISH


Haruka Nanami terbangun dari tidurnya saat tengah malam setelah mendengar suara pintu kamarnya terbuka. "Sawaragi-san?" panggil Haruka pada gadis berambut indigo yang terlihat tengah memakan cemilan sambil berjalan mendekati kasurnya. Ia mengambil posisi duduk dan memandang heran gadis tersebut. "Apa yang mau kau lakukan, Sawaragi-san?" tanyanya.

Michiko menengok. "Eh? Aku membangunkanmu ya, Nanami-san?"

"Tidak juga." Komposer STARISH itu memperhatikan gerak-gerik Michiko.

"Oh iya, karena sekarang kita sekamar, kau boleh memanggilku Michiko saja."

"Eh?" Gadis bermarga Sawaragi yang kini tengah sibuk dengan laptop hitamnya itu tersenyum kecil begitu mendengar Haruka memekik. Ia memakan snack yang dibawanya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya pada layar laptop. "Sepertinya aku akan mengganggu tidurmu kalau aku mengetik di sini, jadi aku ke ru—"

"—tak apa, Michi-chan." Haruka tersenyum memaklumi.

"Hontou ni, Haruka-chan?"

"Hai," jawabnya senang, setelah Michiko memanggilnya dengan nama kecil.

Tiba-tiba Michiko menggerutu seraya mengetik apa yang terlintas di benaknya. "Menyebalkan rasanya kalau dapat 'ide' di tengah malam, padahal aku ingin beristirahat." Ia tertawa pelan dan menengok ke arah Haruka. "Kau juga selalu seperti ini 'kan, tiap kali mendapat ide bagus tentang musikmu?" tanyanya dan langsung dijawab anggukan oleh teman sekamarnya itu, walau dengan raut wajah bingung.

"Anoo, apa perlu aku temani?" tanya Haruka.

"Tidak perlu, aku justru tak bisa konsentrasi jika ada orang yang memperhatikanku saat aku sedang mengetik naskah cerita."

.

.

.

Sebuah lingkar hitam nampak di bawah kedua kantung matanya. Michiko menguap kecil sambil berjalan dengan terkantuk-kantuk menuruni tangga menuju lantai dasar untuk sarapan bersama STARISH dan Haruka. Ya Tuhan, kenapa aku harus dapat ide bagus saat tengah malam? Aku sampai tidak tidur semalaman! katanya dalam hati. Begitu sampai di ruang makan, ia berhenti di ambang pintu yang sengaja dibuka lalu mengintip. Namun aksinya diketahui oleh semuanya, Michiko langsung bersembunyi kemudian mengintip lagi dengan wajah datar—yang membuatnya terlihat mirip dengan Ai Mikaze, bagi STARISH.

"Apa yang kau lakukan di sana, Sawaragi?" tanya Shou sweat drop.

Saat ditanya, gadis itu malah kembali bersembunyi, lagi?

Twitch! Dahi si penyuka topi itu berkedut. Gadis ini makin lama makin aneh!

Haruka tertawa pelan dengan sebiji keringat turun di belakang kepalanya, sweat drop. "Michi-chan, ayo ke sini. Sarapannya sudah siap," ajaknya seraya menaruh seporsi sandwich buatannya di tempat Michiko yang masih terlihat kosong karena gadis itu masih saja bersembunyi lalu mengintip kemudian sembunyi lagi dengan tidak jelasnya.

Otoya hanya tertawa melihat tingkah Michiko. "Kau unik, Sawaragi."

"Unik?" bingungnya dengan kepala menyembul dari balik pintu.

"Ke marilah dan cepat sarapan, Little Heiress," kata Ren yang seenak jidat memanggil gadis tersebut dengan sebutan 'Little Heiress'. Melihat kedua matanya mengedip beberapa kali dengan semburat merah di kedua pipinya membuat heir dari Jinguji Group itu tertawa pelan.

"Jangan seenaknya memberikan panggilan aneh pada orang lain, Jinguji," kata Masato.

Laki-laki yang identik dengan warna jingga itu tersenyum nakal. "Kau mau juga?"

"Tidak, terima kasih."

"Bisa kau menyingkir dari situ, Sawaragi-san?" tanya seseorang dari belakang Michiko. Sontak ia menengok dan terlihat Tokiya Ichinose tengah berdiri memandanginya dengan wajah datar. "Gomen," cicit Michiko setelah sadar bahwa dirinya menghalangi jalan seraya menyingkir.

"Mooo, Tokiya! Jangan terlalu dingin begitu dengan Michi," protes Otoya.

Tokiya tak menyahut dan duduk di sisi kanan teman sekamarnya itu.

"Ayo sarapan bersama-sama, Michi-chan!" seru Natsuki yang tiba-tiba mendorongnya dari belakang. Michiko pun masuk ke ruang makan sekaligus dapur tersebut lalu duduk tepat di tengah-tengah Natsuki dan Haruka. Kedua matanya berbinar-binar melihat seporsi sandwich buatan Haruka untuknya. "Ittadakimasu," bisik gadis itu sambil memejamkan mata, bersyukur atas nikmat yang ada di depannya.

Melihat tingkah Michiko yang kelewat polos, membuat STARISH dan Haruka terdiam.

Shou yang ingin memakan sandwich-nya juga ikut diam.

"Anoo, apa ada yang salah dengan cara makanku?" tanya Michiko setelah memakan satu gigitan sandwich.

"Ahaha, t-tidak kok. Hanya saja, Michi terlihat seperti anak kecil," jujur Otoya.

Aura gelap langsung keluar dari tubuh Michiko. "Atashi wa kodomo... janai."

Crap! Aku salah bicara! Otoya tertawa dibuat-buat, "a-ah iya, Michi bukan anak kecil."

Senyum ceria terlihat di wajah manisnya dan membuat semua orang yang ada di sana menghela napas lega. Bahkan saat marah kelihatan lebih menyeramkan dari Shou, kata anggota STARISH—minus Shou—dan Haruka. "Eh? Kalian tidak makan? Setengah jam lagi kita berangkat ke studio," tukas Michiko seraya memakan sandwich-nya lagi.

Suasana jadi tenang walau ada sedikit keributan antara Natsuki dan Shou.

Kedua iris mata amethyst milik Michiko memperhatikan mereka satu persatu dalam diam lalu memandang tangan kanannya. Saat kedua mata itu kembali memandang anggota STARISH, tanpa sengaja ia bertubrukan dengan mata Cecil yang ternyata tengah memperhatikannya sambil meminum segelas susu putih kesukaannya. Mereka saling memandang tanpa ada niat untuk berpaling, sampai Haruka menyadarkan Michiko yang sempat terperosok ke dalam bola mata emerald tersebut.

"Michi-chan mau lagi sandwich-nya?"

Ia menengok lalu tersenyum ceria. "Boleh?"

Teman sekamarnya itu mengangguk seraya menaruh seporsi sandwich lagi ke piring Michiko yang hanya tersisa daun selada dan irisan tomat.


'-' Maji Love ._.


Sepertinya suasana hati dari seorang Michiko Sawaragi jauh lebih baik dari saat ia datang pertama kali bertemu STARISH. Gadis yang kini berpakaian kemeja berlengan pendek bermotif kotak-kotak hitam putih dengan dipadukan celana hitam selutut itu terus saja menyapa orang-orang yang ia temui. Meskipun dirinya sendiri tidak mengenal siapa orang yang disapanya. Namun tak bisa dipungkiri para pegawai laki-laki yang ada di gedung teater—milik Agensi Shining lagi?—terpanah melihat Michiko yang nampak manis dengan topi baret berwarna hitam di kepalanya.

Brak!

"Ohayou!" sapa Michiko dengan penuh semangat dan berhasil membuat semua orang yang berada di ruang rapat terjungkal ke belakang karena terlalu kaget.

Seorang laki-laki paruh baya datang menghampirinya. "Ohayou, Michi."

"Wajahmu tidak berubah, Ojii-chan," kata gadis itu dengan innocent-nya.

"Ojii-chan!?"

"Sikapmu juga masih tidak berubah," sahutnya sambil menjitak pelan kepala Michiko dan tidak menggubris Otoya, Shou, dan Haruka yang memekik kaget. Melihat Michiko meringis, ia pun menengok pada rombongan yang dibawa gadis tersebut. "Ohayou, STARISH, Haruka-chan," sapanya lalu tersenyum ramah.

"A-a, ohayou gozaimasu," jawab mereka.

Natsuki memandang takjub pada laki-laki berambut perak yang kini sedang bercanda dengan Michi. "Aku kaget melihat kakek Michi-chan yang masih semuda itu."

Mendengar ucapan Natsuki, keduanya menengok. "Kakek?"

"Eh? Benar, kan?" Wajah laki-laki bertubuh jangkung itu terlihat bingung.

"Pfft! Ahaha! Lihat! Shinomiya-san percaya dengan perkataanku!" seru Michiko.

Di belakang Natsuki, terlihat Shou yang menepuk keningnya sendiri begitu mendengar ucapan dari teman sekamarnya sejak di Saotome Gakuen itu. "Baka! Mana mungkin mereka cucu dan kakek! Lihat dan perhatikan!" Dengan paksa ia dorong wajah Natsuki yang sebelumnya menengok padanya untuk memperhatikan sosok si penulis novel Maji Love STARISH dengan laki-laki tersebut. "Wajah mereka nggak mirip, kan? Lagipula mana mungkin seorang Minato Higarashi punya cucu, sementara dirinya saja belum menikah, Natsukiii!" terang Shou dengan nada emosi plus gemas.

"Sou...ka. Eh? Minato Higarashi!?" Kini Natsukilah yang memekik.

"Sutradara terbaik empat tahun berturut-turut itu, bukan?" tanya Haruka pada Shou.

Yang ditanya mengangguk beberapa kali. "Benar-benar kereeen!"

Minato Higarashi, seperti yang dikatakan Shou. Ia adalah seorang sutradara terkenal yang sudah menyabet empat penghargaan sebagai sutradara terbaik secara berturut-turut itu juga menjadi kandidat di ajang penghargaan yang sama pada tahun ini. Sudah banyak film layar lebar, drama, PV, iklan yang ia sutradarai dan berakhir dengan sukses. Tidak tanggung-tanggung, empat dari enam film layar lebar di mana Minato menjadi sutradara dinobatkan menjadi film terbaik. Oleh karena itu, banyak aktor dan aktris yang ingin membintangi film-filmnya.

"Minato Higarashi, aku yang menjadi sutradara di film ini," kata sang sutradara memperkenalkan diri secara resmi seraya membungkukkan badan sedikit.

"Dan kakekku," tambah Michiko. Ia sukses mendapat jitakan lagi dari Minato.

"Anak ini selalu menganggapku 'kakek'. Memang wajahku setua itu, ya?"

Di belakang Minato, terlihat Michiko yang menganggukkan kepala beberapa kali dan membuat anggota STARISH dan Haruka sweat drop. "Daripada disebut kakek-cucu, mereka malah terlihat seperti saudara kembar," gumam Haruka tanpa sadar. Tiba-tiba Natsuki menggapai tangan kanan Minato lalu berjabat tangan. Tak lupa mata berbinar-binar penuh kekaguman miliknya.

"Aku Natsuki Shinomiya! Sudah lama aku mengagumi film-filmmu, Minato-san!"

Semua pasang mata menatapnya tidak percaya. Baru kali ini Natsuki mengaku tentang kekagumannya selain pada benda-benda kecil dan imut.

"Ahaha, senang bertemu denganmu, Natsuki-kun."

Jiwa laki-laki jangkung itu terasa melayang begitu Minato mengacak-acak rambutnya.

Dengan cepat Shou langsung menarik jiwa teman sekamarnya tersebut agar tidak pergi dari tubuhnya karena terlalu senang. "Fuuuh, hampir saja," gumamnya. Tak mau ketinggalan, Shou juga ikut menjabat tangan Minato dengan antusias. "Namaku Shou Kurusu. Mohon bantuannya, Higarashi-san!"

"Ternyata selain tertarik dengan Hyuuga-san, Kurusu-san juga tertarik dengan Ojii-chan," kata Michiko yang tiba-tiba menarik kesimpulannya sendiri.

"Aku tidak tertarik! Aku hanya mengagumi mereka, tahu!" koreksi Shou.

Gadis itu tampak menganggukkan kepala lalu menulis sesuatu di file-nya.

"Masato Hijirikawa. Yoroshiku onegaishimasu, Higarashi-san."

Minato terlihat gugup karena Masato melakukannya dengan terlalu formal.

"Suatu kehormatan tersendiri bisa bekerja sama dengan Higarashi-san. Namaku Ren Jinguji dari STARISH." Ia membungkukkan badan sebentar lalu tersenyum penuh pesona. Sutradara berambut perak dengan model melawan grafitasi itu ikut tersenyum dengan sweat drop di bagian belakang kepalanya.

Otoya Ittoki yang sedari tadi sibuk membenarkan resleting jaket birunya tiba-tiba mengangkat tangan kanannya. "Ore, ore, ore! Ore wa Otoya Ittoki desu! Yoroshiku onegaishimasu, Minato-sensei!"

Kedua iris mata soft blue-nya melirik ke tempat Michiko berada kemudian tersenyum.

"Hai, kochira koso, Otoya-kun," kata Minato seraya menyentuh pipi kiri Otoya sebentar.

"Eh?" Mendapat perlakuan yang 'spesial' seperti itu membuat Otoya terdiam.

Oh! Tidak lupa semburat merah nampak di kedua pipinya.

"Ehem, perkenalkan. Namaku Tokiya Ichinose. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik beberapa bulan ke depan." Terdengar suara seseorang menahan tawa dari belakang Minato setelah Tokiya memperkenalkan diri. Sontak saja laki-laki itu memberikan death glare-nya pada orang tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah Michiko Sawaragi. "Apa ada yang lucu, Sawaragi?" tanyanya dengan nada datar—bisa dibilang Tokiya sedang menahan emosi.

Ia menengok dengan wajah polosnya. "Aku tidak menertawaimu, Ichinose-san."

Melihat Michiko melirikkan matanya ke arah lain, Tokiya pun mengikutinya.

"Cecil? Apa yang sedang kau lakukan di pojokkan begitu?" tanya Otoya seraya menghampirinya. Ternyata sang Pangeran dari Agnapolis itu sibuk dengan benda hidup dan selalu berbunyi 'meow' yang ia temukan tengah memainkan bola plastik hitam di pojokkan ruangan. "Huwaaa! Kawaii na ano neko wa!" Ia berjongkok di samping Cecil yang ikut bermain menggelindingkan bola dari tangan kanan ke tangan kiri untuk ditangkap oleh si kucing berbulu krem lebat.

Minato menghampiri mereka dan membuat kucing itu ikut menghampirinya.

"Kau menyukai kucing ya, Cecil-kun?" Ia menggendong kucing tersebut.

"A-ah! Gomenasai! Watashi wa Cecil Aijima desu. Yoroshiku onegaishimasu!"

Gerakan dan cara pelafalan Cecil yang sedikit kaku membuat Minato tertawa pelan. Matanya melirik ke arah Haruka Nanami. "Pasti kau teman sekamar Michi, Haruka Nanami. Kau juga komposer dari STARISH, kan?"

"Eh? Bagaimana..."

"Michi bercerita tentangmu padaku."

Haruka menatap si penulis novel yang sedari tadi sudah duduk dengan file terbuka di hadapannya. Tak lupa sebuah pulpen bertinta merah di tangan kanannya. "O-oh, soudesu ka."


._. STARISH '-'


'Duo M' terlihat tengah menatap serius pada akting Tokiya Ichinose di layar monitor. Michiko bersiul pelan begitu melihat aktingnya yang sangat menjiwai sosok Tokiya dalam novel Maji Love STARISH karanagannya. Walau kemampuan akting Tokiya belum sepenuhnya ia tunjukkan karena di scene kali ini, ia hanya berakting tengah membereskan barang-barangnya karena pindah ke asrama Saotome Gakuen. Setting tempatnya pun dibuat mirip dengan kamar asli Tokiya dan Otoya. Minato juga tersenyum puas saat gerakan tangan Tokiya terhenti dan tampak ragu-ragu untuk mengambil buku catatan berwarna biru gelap miliknya sejak kecil tersebut.

Michiko memberi aba-aba pada Otoya untuk masuk ke dalam.

Bukannya masuk, laki-laki yang kini berpakaian kaos merah dan bercelana jeans panjang itu malah terdiam.

Twitch! Michiko emosi mode on!

"Cut!"

Dengan seenak jidat, gadis itu langsung menghentikan syutingnya.

"Michi! Jangan seenaknya memotong scene!" seru Minato selaku sutradara.

Wajah Michiko yang sejak awal terlihat manis, kini makin manis seperti seorang tupai yang tengah menyimpan makanannya di dalam mulut. "Seharusnya saat aku memberikan aba-aba, Ittoki-kun masuk," jelasnya. Minato terlihat ingin protes, namun Michiko lebih dulu menyelanya. "Aku yang menulis skenario, jadi aku bebas mengatur arah juga agar sesuai dengan naskah."

"Tapi tetap saja aku yang jadi sutradara, baka!" kesal Minato.

Oh, great! Mereka bertengkar lagi, kata para kru dalam hati.

Baik Michiko dan Minato sama-sama tidak mau mengalah dengan argumen masing-masing. Para kru yang pernah bekerja sama dengan mereka 'sangat' kewalahan jika sang penulis skenario dan sutradara bertengkar, karena sulit membuat mereka akur. Para pemain nampak terdiam dengan sweat drop di kepalanya. Otoya yang meresa bersalah langsung membungkukkan badan.

"Huwaaa! Gomen, gomen! Aku melamun tadi!" katanya panik.

"Tidak, tidak. Si Michi yang salah karena tidak pas mengambil timing," bela Minato.

"Mooo! Aku yakin sesuai dengan ucapan Ichinose-san dalam hati."

"Seberapa yakin, heh?" Sifat arogan Minato mulai keluar sambil mendekatkan wajah pada Michiko yang duduk di sampingnya. "65%." Jawaban gadis itu membuatnya sukses mendapat jitakan lagi untuk kesekian kalinya dari Minato. "Baka! Pokoknya kalau kau menghentikan scene ini lagi, akan kupenggal kepalamu," ancamnya dengan wajah serius.

Hawa membunuh keluar dari tubuh laki-laki tersebut.

Yang lain tampak merinding dan melangkah mundur.

"Huh? Siapa takut?" Suara datar Michiko terdengar menantang.

Tak mau memandang gadis itu lebih lama lagi, Minato pun menyuruh Tokiya dan Otoya mengulang kembali.

.

.

.

Tokiya menghela napas berat begitu melihat tumpukan kardus-kardus dengan gambar beruang merah muda di tiap sisinya. Ia duduk di kasurnya seraya menengok jam dinding. 2.00 P.M., dan satu jam lagi laki-laki itu harus sudah berada di halte bis untuk bertemu dengan manager-nya. Tak mau membuang waktu, Tokiya kembali bangkit kemudian merapikan barang-barangnya lagi yang masih berada di dalam tiga kardus.

"Hei! Sedang apa kau di sini? Sebentar lagi akan ada badai salju."

Seorang bocah kecil berambut merah bata menatap heran pada Tokiya kecil.

"A-aku... Kaa-san... hiks."

Bocah itu terlihat kelabakan begitu mengetahui Tokiya—yang masih berumur lima tahunan itu—tengah menangis. "A-ah! Pasti kau kehilangan Ibumu, ya?" tanyanya lalu mendadak ia memeluk tubuh bocah berambut biru gelap tersebut untuk menenangkannya. "Sudah, sudah. Jangan nangis lagi. Kita cari sama-sama Ibumu di sekitar sini, oke?"

Perlahan Tokiya kecil mengangguk dan mengikuti bocah itu yang sedang menuntunnya.

"Tokiyaaa!" Suara seorang memanggil namanya terdengar dari belakang Tokiya.

Ia menengok. "KAA-SAN!" Dengan segera Tokiya menghampirinya dan melepas tangan bocah yang berniat untuk membantunya mencari sang ibu. Lagi-lagi Tokiya kecil menangis di pelukan ibunya karena ketakutan. "Kaa-san, hiks." Mendengar tak ada sahutan dari ibunya, Tokiya mendongak. Wanita itu tengah tersenyum tipis pada bocah berambut merah di hadapan mereka.

Tokiya yang lupa untuk berterima kasih langsung melepas pelukannya.

Namun bocah itu nampak dihampiri oleh wanita paruh baya yang diyakini adalah ibunya dan mereka berniat pergi dari sana. Mungkin karena merasa tengah diperhatikan, ia berbalik kemudian melambaikan tangan pada Tokiya kecil dengan senyuman ceria di wajah chubby-nya. "Jaa mata ne, Tokiya!"seru bocah itu.

Merasa tidak adil, Tokiya bertanya dengan nada keras. "Siapa namamu!?"

"Otoya desu!"

Ingatan masa lalu yang ingin dikubur oleh laki-laki yang diam-diam memiliki identitas ganda di muka publik itu kembali muncul. Bahkan senyumannya sewaktu mereka bertemu di taman kota tersebut mampu membuat seorang Tokiya Ichinose merona. Ia menggaruk pelan rambut biru gelapnya sambil menaruh buku-buku bacaan di atas meja belajar.

"Ini dia kunci kamarmu, Tokiya-kun." Ringo Tsukimiya memberikannya kunci.

"..." Tokiya menerima kunci tersebut dalam diam.

Ringo tertawa pelan melihat tingkahnya. "Kau akan sekamar dengan Otoya-kun."

"Otoya?" Apa Tokiya tidak salah dengar? Ia akan sekamar dengan Otoya yang itu?

Guru berpenampilan perempuan—yang nyatanya adalah laki-laki—tersebut mengangguk. "Otoya. Otoya Ittoki. Semoga kau bisa akur dengannya, Tokiya-kun," harap Ringo setelah mengingat tingkah murid 'nyentrik' dengan rambut merah itu yang terlihat berkebalikan dengan sifat Tokiya yang selalu bersikap tenang dan pendiam.

"Otoya... Ittoki?"

Tangannya terhenti saat kedua matanya melihat buku catatan berwarna biru miliknya.

Lama ia menatap buku tersebut sebelum mengambilnya dari dalam kardus.

Cklek! Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan membuatnya berdiri sambil menengok.

"Sumimasen deshita..." Sosok laki-laki sepantaran dengan Tokiya walau memiliki tubuh lebih pendek sedikit darinya itu terlihat cengengesan. "Maaf, kau Tokiya Ichinose yang akan menjadi teman sekamarku, bukan?" tanyanya dengan nada gugup. Ia takut salah masuk kamar lagi.

Suasana mendadak jadi hening.

"..."

Tokiya tak menjawab. Entah raut wajah apa yang diperlihatkannya saat ini begitu melihat sosok yang selama ini ingin ia temui, kini tengah berdiri tepat di hadapannya dengan sebuah kardus besar di kedua tangannya. Tidak salah lagi. Laki-laki ini adalah Otoya yang waktu itu menolongku, kata Tokiya dalam hati setelah memperhatikan sosok itu dari atas sampai bawah. Terutama pada bagian rambut yang berwarna merah bata, sama seperti bocah yang sepuluh tahun lalu membantunya untuk mencari sang ibu.

Tiba-tiba suasana haru dan bahagia terasa di kamar tersebut.

Sosok itu menatap Tokiya bingung lalu tiba-tiba memekik. "Kau! HAYATO!?"

"..." Suasana kembali suram dengan sendirinya.

"Eh? Se-sepertinya aku salah masuk kamar lagi. Gomenasai."

Belum sempat sosok yang diyakini bernama Otoya tersebut melangkah, Tokiya menahannya dengan ucapan. Ya ucapan, bukan dengan gerakan menahan lengannya seperti yang ada di drama-drama romantis lainnya. "Aku Tokiya Ichinose dan HAYATO adalah adikku." Ia berbalik membelakangi sosok Otoya yang memandangnya dengan wajah kaget seraya kembali merapikan barang-barangnya. Kepala Tokiya menunduk sedikit lalu nampak meringis karena hatinya terasa perih.

"O-oh, begitu. Kalian kembar, ya? Oh iya, namaku Otoya Ittoki. Yoroshiku onegaishimasu!" Otoya membungkukkan badan dengan kesusahan, tanpa mengingat pertemuan pertama mereka sewaktu masih kecil. Beberapa puluh detik kemudian, laki-laki itu menengok ke arah kamera. "Apa scene-nya masih lama?"

Nampaknya semua orang yang ada di sana sudah terhipnotis dengan adegan barusan.

Minato yang tersadar langsung menghentikan syutingnya. "E-eh!? Cut! Cut! Cut!"

"WAAA! Akting kalian bagus!" Michiko bertepuk tangan dengan wajah datar, seolah tanpa ada minat untuk memuji sama sekali. Perlahan senyum tipis mengembang di wajah manisnya. "Sudah kuduga sebelumnya, akting kalian terlihat sungguh alami," kata Michiko lalu melirik ke arah Otoya yang berjalan menghampirinya. "Walau harus diulang sebanyak dua kali."

"Ahaha, gomen, gomen. Akting Tokiya terlalu bagus, aku jadi terhipnotis."

Mendengar pujian dari teman sekamarnya itu, tentu membuat Tokiya merona, samar.

Kedua mata Minato melirik ke arah Michiko dan tersenyum, seolah berkata 'kau benar'.

"Kalau begitu, kita ambil 'gambar' yang menakjubkan lagi!" seru Michiko dengan gaya memberikan komando pada semua kru. Gerutuan kecil terdengar dari Minato karena—lagi-lagi—perannya diambil alih oleh gadis bertubuh mungil itu.

To Be Continued

Yo, minna! Saya kembali lagi untuk update—walau pertama niatnya mau update kemarin. :) Bagaimana dengan chapter 3 nya? Terlalu panjangkah? Kalau iya, gomen. Saya selalu menurut pada imajinasi yang berjalan di otak saya saat mengetik naskah cerita. Mungkin setelah ini saya gak bisa update cepat karena tugas-tugas akan menumpuk mulai hari ini. Jadi, yaaa begitulah. #BingungMauNgomongApa

Oh iya, tentang rating... oke, saya ganti karena alurnya memang mengarah ke sana, walau gak parah-parah banget. Paling yang parah cuma adegan kissing-nya, yang mirip dengan French Kiss #RenModeOn

Big thanks for Readers, and

Rizuki Satoru : ahaha, hangercliff ya? gak nyadar kalau saya banyak kasih hangercliff #BacaUlangNaskahnya Michiko keliatan misterius? #SujudSyukur Akhirnya bisa buat OC yang misterius! #BowHugAndKiss Thanks banget kalau Rizuki-san mau mengikuti fic saya sampai akhir. :) Saya usahain yang terbaik supaya para pembaca termasuk Rizuki-san senang. #OtoyaModeOn

NaRin RinRin : :) Tapi gak janji untuk update cepat di chapter depan. Gomen. #Bow Ahaha, saya juga mau di posisi Michiko karena hidupnya penuh dengan keberuntungan #EvilLaugh Tapi kalau di dunia nyata, kayaknya jarang para idola yang mau main film BL, kecuali dalam fanfiction #Ngebayangin :) Mudah-mudahan aja saya bisa nulis cerita mereka karena kalau dibaca lagi sinopsisnya, malah yang banyak adegan pair lain #Bingung But, thanks a lot, NaRin-san.

GirLLovePink IsCuteGirl : eh? Benarkah? Yokatta... Saya senang kalau (manggilnya apa ya? #Bingung) kamu suka dengan fic ini. :) Latar belakangnya bakal ketahuan kok sedikit demi sedikit di chapter depan #EvilLaugh Hai, hai. Daijoubu desu yo. :) Thanks ya. #GiveASweetSmile

Semoga kalian semakin suka dengan fic pertama saya ini, walau rating-nya diubah. #Bow Saya nyari aman aja, soalnya takut readers yang masih di bawah umur baca fic ini. Nanti saya dikira ngajar yang gak bener lagi. :D Tapi terserah para pembaca juga kalau masih nekat. #Laugh Dosa tanggung sendiri ya.

Keep Smile and Have A Nice Day or Dream!

#ComeBackHome