Blushing

Desclaimer : Masashi Kishimoto

Rating/Setting : T / AU

(Untuk rating mungkin bisa K-T, aku juga belum tahu *dasar author bodoh :D)

Story by Farindpussy

Warning : Segala macam warning tumplek blek disini, jadi harap maklum. Hohohoho

Pleasse R&R.

THANK YOU for reading.

.

.#.

.#.

.#.

.#.

.

"Tadaima."

Sasuke membuka pintu apartemennya dengan perlahan. Matanya menatap berkeliling, menyusuri ruang tamu minimalis yang tersusun rapi dengan dekorasi yang sederhana pula. Sasuke tidak mendapati istrinya. Biasanya, sang istri akan selalu menyambut kedatangan Sasuke dengan senyum hangat dan warna merona dikedua pipi chubbynya. Sasuke melepas sepatu kerjanya dan menggantinya dengan sandal rumah, dia berjalan menuju dapur, tempat favorit sang istri. Benar saja, Sasuke mendapati sang istri tengah memasak membelakanginya, sebuah headphone terpasang dikedua telinganya. Sasuke meletakkan tas kerjanya perlahan dan mulai melonggarkan dasinya. Sebuah senyum manis terpasang diwajah tampannya. Sambil melepas jas kerjanya, tanpa sadar Sasuke terus memperhatikan sang istri dengan senyum yang masih terpatri samar diwajahnya.

.

Flasback On

Tiga bulan yang lalu, tepatnya seminggu sebelum ulang tahun Sasuke yang ke 25 tahun. Saat ini dirinya, bukan hanya dirinya saja tapi juga kedua orang tuanya, Uchiha Fugaku sang kepala keluarga yang tampak duduk tenang namun menampakkan wajah serius dan Uchiha Mikoto sang Ibu yang duduk sambil tersenyum dengan wajah ramahnya, dan Sasuke jangan ditanya lagi, wajah datar tanpa ekspresilah yang selalu dia tampilkan. Malam ini mereka duduk di ruang tamu keluarga Uchiha menyambut tamu 'istimewa' ya tamu 'istimewa'.

Didepan ayah Sasuke, duduk pria sebaya ayahnya yang juga berwajah tenang namun serius, Hyuuga Hiashi dan disebelahnya tampak gadis dengan rambut sepinggang yang dari tadi hanya menunduk dan sibuk meremas-remas ujung gaun selututnya dengan gugup, Hyuuga Hinata.

"Jadi kau...?" tanya Sasuke yang lebih mirip seperti gumaman saja. Gadis dihadapannya ini adalah gadis yang dia ketahui sebagai gadis penggemar rahasia sahabatnya, si kepala duren atau Uzumaki Naruto sewaktu SMA dulu. Yang akan merona hebat tatkala ada yang menyebut nama Naruto didekatnya dan akan pingsan jika Naruto mengajaknya bicara. Untuk selebihnya Sasuke tidak tahu dan tidak akan pernah peduli.

"Tsk.. mendokusai," gumam Sasuke yang sepertinya tertular rekan bisnisnya, Nara Shikamaru.

Namun gumaman Sasuke mampu membuat Hinata mendongak demi mendapati tatapan mata gelap Sasuke yang seakan-akan ingin memakannya bulat-bulat saat itu juga. Hinata mulai membuka mulutnya untuk berbicara meski dengan nada yang terdengar jelas bahwa dia sangatlah gugup.

"Y-ya Uchiha san," ucapan kalem Hinata membuat dua orang lainnya yang merasa memiliki marga Uchiha juga menoleh, "A-ahh maksud saya S-Sasuke san." Hinata memaksakan senyum canggungnya, membuat Mikoto terkekeh geli.

"Jadi, sepertinya ini akan lebih mudah," ucap Mikoto sambil menatap dua pria lain dihadapannya dan disampingnya.

"Hn, apakah akan jadi minggu depan?" tanya Fugaku.

"Terserah saja, aku serahkan semuanya pada kalian," jawab Hiashi.

"Oke!" Mikoto berseru riang, tatapannya beralih pada Hinata, "Kita akan belanja banyak untuk pernikahan kalian, Hinata chan."

"Tunggu!" cicitan Hinata dikalahkan oleh suara bariton Sasuke.

"Tidak ada penolakan." Mikoto menggerak-gerakkan jari telunjuknya didepan wajah Sasuke yang akhirnya hanya bisa pasrah demi sang Ibu tercinta.

Sasuke hanya melirik Hinata yang hanya bisa pasrah tanpa lupa berblushing ria saking malunya.

"Kebetulan minggu depan juga ulang tahun Sasuke, Hinata. Mungkin kau akan memberikan kado terindahmu dimalam pertama kalian," tampak binar kebahagiaan diwajah Mikoto. Hampir-hampir Hinata pingsan saking malunya jika sang ayah tidak segera mengajaknya untuk pulang dari kediaman Uchiha. Acara perjodohan yang singkat, padat dan mungkin kurang jelas.

23 Juli 20xx pukul 23.33 Apartemen Sasuke

Hinata memasuki apartemen Sasuke dengan ragu-ragu. Kedua tangannya menjinjing gaun putih pengantinnya yang panjang menyapu lantai. Apartemen Sasuke sangatlah mewah, namun dengan barang-barang seadanya, sangat rapi dan maskulin tanpa adanya sentuhan wanita sedikit pun. Hinata melangkahkan kakinya perlahan, seluruh badannya terasa pegal-pegal, tatapan matanya tak secerah waktu acara pernikahannya tadi, sayu dan terlihat sangat mengantuk.

"Kamar mandi ada di ujung kiri dapur, jika kau ingin berganti pakaian. Aku akan tidur dulu, aku sangat capek," ucap Sasuke sambil menutup pintu kamar perlahan, belum sempat Hinata menjawab, Sasuke kembali membuka pintu, "Pakaian mu ada di almariku," setelah mengucapkannya, Sasuke kembali menghilang dibalik pintu.

Hinata mengangguk perlahan. Dia segera mengganti pakaiannya dan berkutat didapur 'seadanya' milik Sasuke. Kemarin dia belanja banyak hanya untuk mempersiapkan semuanya. Meskipun Hinata sangat lelah dan berulang kali harus menyemangati dirinya agar tidak menyerah, namun jika teringat senyum Sasuke tadi waktu dipernikahan mereka entah kenapa terlihat tulus seperti tanpa paksaan, maka itu membuat Hinata ingin memberikan sesuatu pada Sasuke meskipun sudah agak terlambat, atau mungkin sangat terlambat.

.

.

Pukul 02.55

"Otanjoubi omedetou, Otanjoubi omedetou, Otanjoubi omedetou."

Sasuke membuka matanya perlahan ketika didengarnya suara lembut mengalun didekat telinganya. Wajahnya juga terasa agak panas dan matanya yang belum sepenuhnya terbuka disambut oleh silaunya cahaya lilin. Hinata bergeser sedikit ketika Sasuke perlahan duduk dan berusaha mengembalikan kesadarannya ke dunia nyata.

"Tutup matamu dan buatlah permohonan Sasuke kun," kata Hinata dengan lembut disertai senyuman tulus dibibirnya. Belum-belum Sasuke mengucapkan sesuatu karena kejutan kecilnya, untuk pertama kalinya Sasuke tertawa kecil dihadapan seorang wanita selain Ibunya.

"A-ada apa S-Sasuke kun?" tanya Hinata, gugupnya kumat.

"Arigatou Hinata," kata Sasuke sambil memakan sedikit kue Hinata. Enak, tidak, ini sangat enak, pikir Sasuke. Kue tomat yang pas, juga tidak manis, mungkin ini yang akan menjadi awal sebuah cinta yang perlahan tumbuh diantara keduanya. Tidak harus marah, kesal ataupun benci dalam menerima perjodohan ini. Sedikit toleransi mungkin dapat mengubah semuanya kelak.

"S-Sasuke kun, kau belum membuat permohonan," Hinata mengerucutkan bibir mungilnya, membuat wajahnya yang penuh coreng-moreng tepung dan sedikit rona merah itu tambah lucu. Mungkin Hinata tanpa memakai blush on pun pipinya akan selalu merona.

"Bagaimana kalau permohonanku..." Sasuke tidak melanjutkan kata-katanya. Dia mengambil kue dari tangan Hinata dan meletakkannya di meja disamping tempat tidur kemudian mendekatkan bibirnya ketelinga Hinata. Pipi mereka saling bersentuhan, menimbulkan sensasi hangat diantara keduanya. Membuat jantung Hinata berpacu sama cepatnya dengan talu genderang festival, membuat wajahnya memanas dan kian memerah seiring kata-kata Sasuke yang diucapkan ditelinga Hinata disertai hembusan perlahan nafas Sasuke,

"...adalah kado terindahmu yang dikatakan Okaa san ku waktu itu." Sasuke menjilat ujung daun telinga Hinata yang sudah tampak memerah.

Flasback Off

.

"... suke kun... Sasuke kun.." Hinata melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Sasuke yang tampak melamun ria. Saat ini Sasuke tengah membayangkan Hinata yang langsung pingsan setelah perlakuannya dimalam pertama mereka waktu itu. Padahal Sasuke hanya menjilatnya sedikit, bagaimana kalau banyak, Sasuke tidak sanggup membayangkannya. Dan itu membuat malam pertama mereka gagal bahkan sampai saat ini. Sasuke kembali tertawa kecil. Ia baru tersadar ketika sebuah ciuman lembut mendarat dipipinya,

"Kau tidak memperdulikanku," gerutu Hinata, yang justru tampak imut dimata Sasuke.

Pria yang dingin dan minim ekspresi ini akan tampak sangat berbeda jika hanya dihadapan Hinata. Senyumnya seringkali terkembang dan kadangkala juga manja. Topeng sehari-harinya akan lepas begitu saja kala berhadapan dengan istri yang kini telah ia cintai itu. Masa-masa sulit untuk saling menerima mereka lalui bersama, hanya dalam waktu kurang dari empat bulan. Sasuke tersenyum, perlahan dia menyibakkan poni Hinata dan mencium keningnya dengan lembut.

"Aku tadi ketemu Naruto," tiba-tiba ide untuk menggoda Hinata muncul.

Hinata memiringkan kepalanya dan menatap Sasuke dengan tatapan penuh tanya, "Lalu?" tanya Hinata akhirnya.

"Kau tidak memerah?" Sasuke malah balik bertanya.

"Untuk apa?" Hinata mengerutkan dahinya dengan kesal.

"Hmmm, lalu sekarang siapa yang bisa membuatmu memerah?" Sasuke menyeringai dengan kata-katanya sendiri. Tentu dia sudah tahu jawabannya.

"Tidak ada." Hinata menolehkan kepalanya dan berusaha menutupi rasa malunya.

"Lalu kalau aku melakukan ini apa kau juga tidak akan memerah?" Sasuke semakin menyeringai. Dia menarik Hinata kedalam pelukannya.

"Kyaaaahmmpphh." Teriakan Hinata tertutup oleh bibir Sasuke yang mulai menginvasi bibirnya hingga mereka kehabisan nafas.

Sasuke menatap Hinata yang sudah sangat memerah, "Ayolah Hinata, kapan kita membuat adik?" tanya Sasuke, sebuah seringaian menghiasi wajahnya.

Hinata diam sejenak. Sangat sebentar. Hanya sekitar dua detik sebelum akhirnya Hinata sukses pingsan dalam pelukan Sasuke dengan wajah yang sangat amat memerah sampai ketelinga dan lehernya. Sasuke hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia mengangkat tubuh Hinata ala bridal style menuju kamar mereka. Meskipun harus menahan kecewa setiap kali Sasuke memintanya, tak urung juga Sasuke akan tertawa, mengingat bukan sahabat durennya lagi yang mampu membuat Hinata pingsan, tetapi dirinya. Uchiha Sasuke. Yang sampai kapanpun akan tetap memiliki Hinata. Hinata hanya miliknya, miliknya seorang. Dan selamanya.

.

.

.

.

Hohohohohoho, akhirnya kelar juga.

Yeeee, *senyum-senyum sendiri, gg ada reader yang nemenin sih?

#sedih nih ceritanya.

Oke, terima kasih, terima kasih untuk yang mau baca.

Aku sayang kalian semua *kaya ada yang mau baca aja!*pundung dibawah jembatan.

untuk silent reader maaf reviewnya kehapus *nangis guling", saya benar" minta maaf huweee

maklumlah,,, author baru yang gaje, ;( ...