[Jum'at, 20 Desember 2019. Pukul 06.00 WIB — Kos Putri Karakuraity]

"Uuungh..."

Dengan susah payah, gue paksa mata gue untuk terbuka setelah semaleman tertidur. Gue singkirin selimut yang nutupin tubuh gue dari semalem, kemudian mendudukkan pantat gue di ranjang yang gue tiduri.

Gue mengucek mata gue sebentar, kemudian menguap lebar. Gue melirik ke kalender hadiah dari minuman yang punya jargon 'cintai ususmu setiap hari' yang tergantung di atas meja kecil di samping gue.

"Ah. Sekarang sudah tanggal 20, ya."

Gue berdiri dari ranjang, kemudian menatap bingkai foto yang ada di meja di bawah kalender tadi.

... Foto gue, Toushiro, Ulquiorra, Ishida, dan Hirako yang sedang dudukdi ruang klub WIFI—World Internet Federation Idealism, tepat di meja tempat kami diskusi, lengkap dengan bangku merah empuk putarnya.

Toushiro dan Hirako yang sibuk dengan laptopnya, Ishida yang tertawa iblis sambil menatap tabletnya, Ulquiorra yang memainkan PSP dengan wajah tanpa ekspresi, dan gue yang tersenyum ke kamera. Hanya gue yang serius saat mau difoto itu. Yah, yang ngefotonya juga HP gue sendiri yang gue kasih timer.

Gue mengelus foto itu. Tepat di wajah Toushiro yang menatap laptopnya.

"Selamat ulangtahun, Toushiro..."


Hak Cipta: BLEACH © Tite Kubo. Terinspirasi dari AnoHana.

Peringatan: AU sangat, OOC sama aja. Penggunaan bahasa gaul untuk sudut pandang orang pertama. Semacam sequel dari fanfiksi saya yang berjudul Para Pencuri Wifi. Mending baca yang itu dulu biar ngerti jalan cerita. Karena agak-agak nyerempet ke fanfik yang itu.

Ano hi Mita Keitai no Namae wo Boku-tachi wa Mada Shiranai —
(Kita Masih Belum Tahu Nama Handphone yang Kita Lihat Waktu Itu)

Episode #01: Arwah Musim Dingin —


Tahun 2019, anomali cuaca makin parah saja. Kalo dulu matahari nggak kelihatan gara-gara jumlah air yang menguap bertambah dan awan menjadi banyak, sekarang bahkan lebih aneh lagi; salju turun di Indonesia.

Gue sama sekali nggak ngerti dan nggak tertarik kenapa hal gaje semacam itu bisa terjadi. Gue bukan Toushiro yang meskipun males make otaknya buat hal yang bener aja bisa tahu segalanya.

Ah, iya. Hari ini ulangtahunnya Toushiro, ya. Mungkin nanti gue bakal ngasih dia hadiah.

Gue sekarang sedang melamun di jendela kelas gue di Universitas Karakura. Menatap salju yang turun dengan perlahan melalui jendela kaca itu. Mengabaikan dingin yang menerjang meskipun gue cuma memakai celana panjang dan kaos putih yang dilapisi jaket hitam yang tidak terlalu tebal.

Sekarang gue sudah di penghujung semester pertama gue sebagai mahasiswi jurusan bahasa Inggris di universitas ini. Gue sebenarnya masuk ke jurusan ini karena Toushiro yang nyaranin. Gue inget banget pas disuruh milih jurusan waktu itu,

"Noh, Ruk. Bahasa Inggris elu 'kan jelek banget. Sampe-sampe elo nganggep bahasa Inggris sebagai bahasa planet lain. Mending elo masuk jurusan bahasa Inggris aja, noh. Jadi kita bakal tenang kalo misalnya ke luar negeri."

— Toushiro ngomong dengan seenak jidat kayak biasa.

"Elu o'on atau gimana, sih? Kuliah itu harus milih sesuai kebisaan tauk. Lagian, gimana kita bisa jalan-jalan ke luar negeri kalo Bokap elo sama gue aja kerjanya cuma jualan pulsa?"

— Gue juga ngomong dengan seenak jidat, sih.

"Tenang aja. Biayanya biar Ishida atau Ulquiorra yang bayarin."

Gue cuma membalasnya dengan jitakan waktu itu.

Gue sendiri juga bertanya-tanya, kenapa sekarang gue bisa berada di jurusan kampret ini, sedangkan gue cuma bisa ngerti kalo disuruh ngedenger sama menulis bahasa Inggris. Kalo disuruh ngomong, mah, bahaya. Lidah gue nyaris keram.

Gue juga bertanya-tanya, kenapa gue mau-maunya pergi ke kampus jam segini—setengah tujuh, cuma buat ngeliat kalo kelas pelajaran writing gue sendiri masih kosong.

Gaje.

Akhirnya, gue duduk di sebuah kursi di pojok depan kelas, kemudian memejamkan mata, menenggelamkan kepala gue di atas tas selempang yang gue jadikan sebagai bantal.


"Putih kepada hitam, bagaimana keadaan disana? Ganti."

— Apa itu? Kenapa rasanya akrab di telinga gue? Kapan gue mendengar kalimat itu?

"Putih kepada Hitam, kecepatan download 150 Kb/s. 15 Minutes remaining sebelum file pertama selesai. Kerja bagus, Kuchiki Rukia. Ganti."

— Apanya? Apa yang kerja bagus? Kenapa nama gue disebut? Itu suara elo, 'kan, Toushiro?

"Rukia..."

— Apa? Kenapa elo manggil gue?

"RUKIA!"


Gue membuka mata. Suara yang keras tadi seolah membuat gue berpindah dunia. Dunia gelap tadi perlahan berganti menjadi wajah seorang perempuan yang memperhatikan gue dengan wajah khawatir.

"Ah, Hinamori. Ada apa?"

"Kamu yang seharusnya ditanyain 'ada apa', Rukia. Saat aku datang, kamu udah tidur. Terus, pas aku tanya sama yang lain, mereka bilang kamu udah tidur dari pas mereka datang."

Gue mengangkat kepala gue dari tas tempat kepala gue menempel daritadi. Menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangan gue, kemudian menatap ke sekeliling.

Ah. Jadi gue ketiduran, ya.

"Sekarang jam berapa?" tanya gue kepada cewek bermata coklat yang berada di depan gue. Hinamori melihat ke jam tangannya. Kemudian menjawab dengan suara lembutnya,

"Jam setengah delapan. Bentar lagi mau masuk."

"Oh..." gumam gue menanggapinya pelan. Merasa gue udah nggak apa-apa, Hinamori bangkit dari jongkoknya, kemudian pergi duduk ke bangku di belakang gue.

Drrt. Drrrrt.

Gue merasakan getaran-getaran di paha gue. HP gue bergetar. Karena males, akhirnya gue memutuskan untuk mengabaikannya. Karena cuma SMS, jadi palingan setelah empat getaran langsung hilang.

Drrrt. Drrrt.

Drrrt. Drrrt.

Drrrt. Drrrt.

... Kenapa nggak hilang? Telpon, kah? Nggak, kalo telpon, pasti terdengar bunyi ringtone, bukan cuma getaran. Gue memasukkan tangan gue ke kantong celana, mengambil HP touchscreen yang dikasih sama tim produksi iklan Pop Mie 3 tahun yang lalu.

Gue melihat layarnya yang kelap-kelip, lalu gue tekan tombol tengah. Getarannya terhenti. Begitu juga dengan kelap-kelipnya. Gue melihat apa yang ada disitu,

Sebuah gambar icon kue ulangtahun berwarna putih yang dihiasi lilin dengan tulisan Ultah Toushiro. 18 Tahun. Kirim pesan ucapan selamat ulangtahun? [Ya] atau [Tiidak]?

Ah. Alarm ulangtahun ternyata. Padahal gue udah hapal, tapi tetep aja gue pasang.

Gue menekan tombol [Ya]. Gue kemudian mengetik kalimat di atas HP gue.

Widiiih. Sekarang elo udah 18 tahun, ya. Nggak kerasa banget. Jadi, sekarang elo udah bisa, dong, masuk ke situs dan tempat yang ada tulisan' 18+'nya? Hohoho. #plakk

Mentang-mentang sekarang elo udah jauh, jangan lupain kita-kita, ya. Intinya, selamet ulang taun. Happy birthday. Tadinya gue mau ngucapin pake bahasa Jepang yang elo puja-puja itu, tapi sayangnya gue nggak tahu. Hehe. ==a

Inget, Toushiro! Tumbuh tuh ke atas, bukan ke samping! Apalagi ke bawah! :p

Tertanda, Wakil Ketua Abadi-mu,

Kuchiki Rukia.

Gue kemudian menekan tombol tengah yang berfungsi untuk mengirim. Beberapa menit berselang, sang dosen perempuan berwajah setengah bule masuk memberikan pelajaran. Gue langsung menyimpan HP gue kembali ke kantong celana.


[Pukul 16.00 WIB — Toko Hadiah]

Sepulang dari ngampus, gue langsung berlari kesini. Toko hadiah. Tujuannya nggak lain dan nggak bukan buat ngebeliin Toushiro hadiah.

Gue berjalan pelan, menyusuri etalase. Melihat-lihat barang yang mungkin Toushiro suka. Seinget gue, Toushiro sama sekali nggak punya fetish terhadap apapun. Ah, apa gue harus ngebeliin dia dakimura? Atau kaos anime? Berarti gue harusnya pesen online aja, nggak perlu kesini.

Melirik dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah. Menyusuri setiap sudut dari benda-benda yang disusun di sebuah lemari. Merasa nggak menemukan apapun, gue meninggalkan lemari itu.

Tanpa gue sadari, kaki gue membawa gue ke bagian pakaian.

Dari sisi ke sisi berjajar dengan rapi pakaian segala usia dan kelamin. Tapi nggak ada yang sreg di mata gue.

Gue berjalan terus, hingga akhirnya melihat sebuah manekin. Yang gue perhatikan bukannya wajah manekin tersebut yang kayak Slenderman, tapi sesuatu yang melilit leher manekin tersebut.

Sebuah syal berwarna putih yang dihiasi hiasan berwarna hitam dan hijau.

"Mbak, yang ini berapa harganya?" tanya gue pada petugas yang kebetulan lewat di dekat manekin tersebut. Mbak itu diam sejenak, kemudian mengambil syal tersebut, kemudian membalik-baliknya. Menunjukkan kertas harga yang menggantung disana.

Rp. 40.

"Jadi belinya?" tanya Mbak itu. Gue hanya mengangguk pelan. Mbak itu kemudian bertanya sekali lagi, "Mau dibungkus sekalian?"

"Iya. Tolong," jawab gue. Mbak itu kemudian berjalan menuju tempat kasir. Gue mengekorinya dari belakang. Setelah sampai disana, Mbak itu mengambil kertas kado dan kotak dari bawah meja kasir. Mbak itu kemudian memasukkan syal itu ke dalam kotak, kemudian membungkusnya.

"Ini," ujar mbak itu sambil menyerahkan kotak tersebut. Gue menerimanya, kemudian menyerahkan uang yang tertera di mesin kasir.


[17.00 WIB — Kompleks Pemakaman Karakura]

Gue mendorong gerbang pemakaman itu dengan pelan. Agak menimbulkan bunyi berdenyit, memang. Tapi gue tetap membukanya, kemudian berjalan masuk ke dalam.

Yang dapat dilihat oleh mata gue adalah makam yang terbaris rapi sejauh mata memandang, dan diselimuti oleh putihnya salju. Seolah sudah hapal tempatnya di luar kepala, gue berjalan agak jauh lagi, makin masuk ke dalam.

Di kantong jaket gue terdapat kotak persegi panjang yang berisi hadiah, sedangkan di tangan gue terdapat sebuket bunga yang gue beli di toko bunga barusan.

Gue nggak suka naik kendaraan. Karena itu, gue berjalan dari kos-kosan, ke kampus, ke toko hadiah, dan kesini hanya bermodalkan kaki. Masa' bodoh makan waktu berjam-jam atau kaki gue pegel.

Gue terus melangkah. Dengan wajah yang bercampur antara bahagia dan sedih.

Di mata gue, tertangkap sosok cowok tinggi yang berjalan melawan arah sama gue. Seolah dia baru kembali dari tempat yang gue tuju—

— Atau memang begitu.

Cowok itu berjalan dengan pandangan kosongnya. Kacamata yang dipakainya mengembun karena dinginnya cuaca. Jaket hitam tebalnya telah dipenuhi oleh salju di bagian pundak, tanda bahwa dia diam di bawah hujan salju dalam waktu yang cukup lama.

Gue mengenalnya sebagai Ishida Uryuu, anggota ketiga dari klub WIFI.

Dia berjalan begitu saja saat kami berhadapan. Seolah dia nggak melihat gue, atau menganggap gue nggak ada.

Gue menghentikan langkah gue sebentar, kemudian menatap ke belakang. Menatap punggung Ishida dengan pandangan nanar. Sedangkan Ishida sendiri hanya terus melangkah menuju pintu kompleks.

Gue mengalihkan pandangan, kemudian menatap ke depan. Gue berjalan menuju sebuah makam yang berada di pojok paling ujung. Tepat berada di dekat dinding pembatas dan di bawah pohon.

Tuhan begitu baik. Bahkan Dia memberikan elo pohon untuk melindungi elo dari tindihan salju. Hingga hanya makam lo satu-satunya yang terkena sedikit salju.

Di atas makam itu sudah terdapat satu karangan bunga. Milik Ishida, gue rasa.

Gue jongkok di depan makam itu. Menaruh buket bunga yang gue bawa di dekat nisan. Gue mengambil kotak kado yang ada di kantong jaket gue. Membuka bungkusnya, kemudian membuangnya ke sembarang arah.

Setelah kotaknya gue buka, dan gue ambil syal di dalamnya, gue buang juga kotak itu secara sembarangan. Gue kemudian melilitkan syal berwarna putih itu di batu nisan di hadapan gue.

Gue membersihkan kepala nisan yang sedikit terkena salju, kemudian berdiri dari jongkok. Mengambil HP yang ada di kantong celana gue, kemudian melihat pojok atas dari layar. Terdapat sebuah gambar tanda pesan yang tidak terkirim.

Tentu saja.

Itu bukan karena HP elo dimatikan, 'kan, Toushiro?
Itu juga jelas bukan karena di luar jangkauan.
Masa' kartu operator elo habis masa? Makanya beli pulsa, dong. Padahal Bokap elo jualan pulsa.

—Tadinya gue mau bilang begitu, namun nggak bisa.

"Tentu saja elo nggak bisa nerima SMS gue. Karena di surga sana nggak ada HP, 'kan, Toushiro?"

— Di batu nisan tersebut tertulis: Hitsugaya Toushiro. 20 Desember 2001 – 13 Juni 2019.


Toushiro, mati karena gue. Ishida menjauhi gue karena alasan tersebut. Ulquiorra sama sekali tidak tahu karena setelah lulus SMA dia langsung kembali ke Spanyol. Hirako... Terkadang dia masih nyapa gue kalo nggak sengaja ketemu di jalan.

Karin—anak SMP yang jadi maid yandere di Festival anime 3 tahun yang lalu—yang kini telah menjadi anggota basket putri di SMA gue dulu, bahkan menyatakan dengan jelas 'kebencian'nya kepada gue.

Semuanya salah gue.

Seandainya hari itu gue nggak sok keren nyuruh Toushiro ngebiarin gue ngeboncengin dia naik motor, dia mungkin nggak apa-apa sampe sekarang. Masih bisa numpang wifi seharian di kampus.

"Beneran bisa?"

"Iya, gue bisa, kok! Elo naik aja di belakang!"

"Gue ngeri, ah! Elo aja baru bisa naik motor kemarin, 'kan?"

"Udah! Tenang aja!" — Suara motor yang digas terdengar.

"Rukia!"

"Apaan? Jangan bilang elo takut kebut-kebutan?"

"Di depan!"

"Hah?"

BRUAAK!

Gue memejamkan mata . Menutup telinga. Gue nggak mau mendengar suara-suara itu lagi. Tolong, siapapun, hentikan kaset rusak yang berputar di kepala gue. Tolong, siapapun, singkirkan gambar Toushiro yang berdarah-darah dari bayangan gue.

Toushiro! Kenapa elo yang harus mati, sih?!

Kenapa gue yang cuma patah tulang, dan elo yang harus merenggang nyawa?!

Tanpa sadar, gue menangis. Padahal Toushiro selalu bilang kalo gue adalah perempuan yang paling anti dengan airmata. Gue jatuh terduduk di tanah, kemudian memeluk batu nisan Toushiro yang dingin.

"Toushiro..."

"Toushiro, elo bisa ngedenger gue, nggak?"

"Sekarang gue udah kuliah di jurusan bahasa Inggris kayak yang elo bilang. Keinginan elo udah gue penuhi, jadi sekarang berhenti ngambek dan bangun, ya?"

"Gue nggak bakal ngejitak kepala elo lagi, sumpah. Gue bakal berhenti ngelakuin hal-hal yang nyakitin elo. Terus... Terus... Ah, iya! Gue bakal nyediain Beng beng tiap hari buat elo..."

"Toushiro, elo denger, 'kan?!"

Gue memeluk batu nisan itu lebih kuat lagi. Padahal sudah enam bulan mencoba berhenti mikirin Toushiro setelah insiden itu. Tapi kenapa gue masih terikat sama elo?

Gue terus memeluk batu nisan itu, sambil memanggil namanya,

"Toushiro..."

"Iya, apaan?! Manggil-manggil mulu."

"Habisnya elo nggak nyaut-nyaut, sih—"

Ucapan gue terhenti di tengah jalan. Gue melihat ke arah depan makam Toushiro. Gue dapat melihat sosok cowok pucat berambut putih yang memakai piyama serba putih sedang berdiri dengan wajah lesu disana.

"Apa? Ngapain elo ngeliat gue dengan pandangan begitu? Elo manggil gue 'kan?"

"A-ah—"

"Betewe, gue ngapain disini, sih? Ini... Kuburan, 'kan? Terus, kenapa gue make' piyama? Gue nggak inget pernah beli piyama! Juga... Kenapa gue nggak make sendal?! Dingin..."

Gue terdiam. Mulut gue terbata-bata, mengucapkan sesuatu bahkan tidak mampu. Air mata mengalir dengan derasnya dari mata gue.

"Woi, Rukia? Pinjem jaket sama sebelah sepatu, dong—Eh, elo nangis?"

— Kenapa... Toushiro ada disini?


~ Bersambung ~


Catatan Penulis:
Fuwahahaha. Karena Para Pencuri Wifi sudah saya putuskan untuk tamat, akhirnya saya malah membuat sequelnya, dengan versi angst dan supernatural. Padahal versi aslinya itu humor, tapi malah bercabang kesini. Sungguh mengerikannya diri saya ini.

Dari judulnya juga udah kelihatan, 'kan? Fanfiksi ini terinspirasi oleh salah satu anime favorit saya dan (mungkin) kita semua, AnoHana. Tapi tenang saja, ceritanya beda, kok. Setidaknya saya nggak bakal ngebuat ceritanya jadi sama persis.

Kenapa Toushiro yang mati? Karena Toushiro adalah tokoh berpengaruh di PPW. Yang lain nggak ada yang seberpengaruh dia.
Kenapa Rukia yang jadi tokoh utama? Pengen aja.

Kenapa Kira Kazuki makin kesini makin jelek aja mukanya? Tanyakan pada yang maha kuasa.

Jadi, apa pendapatmu tentang cerita satu ini?

Ceritakan di kotak ripiu~