Sequel of I am a bad girl

Ooc, Gs, Typo(s), tidak sesuai EYD dll.

Ranted : T

Chapter : 1/?

It's HunHan Story.

.

Hampir satu minggu semenjak mereka meresmikan hubungan mereka dalam sebuah pernikahan yang digelar secara sederhana. Kini Luhan sudah benar – benar menjadi istri syah seorang Oh Sehun. Mereka sudah merencanakan untuk berlibur atau bisa dikatakan berbulan madu tapi sayang rencana itu harus diundur karena kesibukan Sehun yang notabennya seo rang model.

Sehun memang tidak kembali ke London dan memilih untuk mengambil pekerjaan di korea. Tapi itu tetap saja menyita waktunya untuk Luhan. Namun, seakan mengerti dengan pekerjaan suaminya Luhan tetap sabar walau kadang dia merutuki Sehun karena pria itu pulang terlalu larut membuatnya harus terlelap sendiri tanpa sebuah pelukan yang belakangan ini selalu didapatkannya.

Sepeti malam ini, Luhan mendapatkan pesan bahwa Sehun akan pulang malam. Dia menyuruh Luhan untuk tidur terlebih dahulu dan jangan menunggunya. Akhirnya Luhan membaringkan tubuhnya di kasur besar dan menarik selimut itu sampai sebatas dada.

Tiga jam berlalu, tapi Luhan masih tak bisa terbang kealam mimpinya. Dia tetap terjaga meski matanya tertutup. Tak lama kemudian suara derap langkah terdengar. Dia tau, Sehun baru saja datang, tapi Luhan tak berniat membuka mata dan menyambut suaminya itu, dia lebih memilih untuk tetap berbaring dan pura – pura tertidur.

Suara pintu dibuka dengan pelan terdengar. Luhan masih bergeming ditempatnya dan memejamkan mata. Dia mendengar Sehun menghela nafas panjang, perlahan derap langkah itu menjauh seraya tertutupnya pintu kamar mandi.

Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka membuat semerbak harum sabun tercium oleh Luhan. Perlahan dia merasakan kasurnya bergoyang dan kemudian deru napas lembut terasa di wajahnya. Sebuah tangan menyingkapkan selimut dan kemudian melingkar dipinggangnya.

"Kenapa kau tidak tidur hem?" Tanya Sehun dengan suara rendah. Sepertinya Sehun sudah mengetahui kalau istrinya memang belum terlelap. Luhan menghembuskan nafas panjang, dia beringsut perlahan kedalam pelukan Sehun tanpa membuka matanya.

"Kau menungguku lagi?" tanya Sehun sambil mempererat pelukannya. Tangan Luhan mengusap punggung Sehun pelan dan menggesekan hidungnya didada bidang Sehun.

"Tidak, aku hanya sedang tidak bisa tertidur." Jawabnya sedikit membuka mata. Walau penerangan kamar yang minim tapi dia masih bisa menatap Sehun yang terlihat sangat kelelahan.

Luhan melepaskan pelukannya, dia duduk dan bersandar pada punggung kasur membuat Sehun mengerutkan keningnya. Dia melipat kaki dan menaruh sebuah bantal dihadapannya.

"Tidurlah disini, kau terlihat kelelahan." Ujar Luhan sambil menepuk – nepuk bantalnya. Dengan senang hati Sehun menggeser posisi tidurnya. Tangan lembut Luhan mulai memijat – mijat kepala Sehun, membuat Sehun bernafas lega. Luhan tau, Sehun memang membutuhkan hal ini.

"Bagaimana?" Tanyanya. Sehun berdeham pelan sebelum menjawab.

"Seharusnya kau tidak melakukan ini…" Bisiknya.

"Tidak, aku tau kau kelelahan. Kata orang dengan memijat seperti ini badanmu akan rileks." Sela Luhan. Sehun tersenyum kemudian mengangguk. Setelah hampir 15 menit, Sehun menangkap tangan Luhan membuat gerakannya terhenti.

"Sudah cukup, aku sudah baikan. Sebaiknya sekarang kita tidur." Ujarnya. Luhan mengangguk dan kembali memposisikan tubuhnya dalam pelukan Sehun. "Terima kasih, kau memang istri yang sempurna." Bisik Sehun tepat ditelinga Luhan. Membuat wanita itu sepertinya akan bermimpi indah sepanjang malam ini.

~Marriage~

Matahari masih bersembunyi di balik pegunungan, kesunyian malam masing sangat terasa. Tapi seorang wanita yang tak lain Luhan sudah bangun dan bahkan sekarang tengah sibuk membereskan perabotkan dapurnya untuk kembali digunakan memasak. Sebuah apron bermotif bunga menempel di tubuhnya, rambut panjangnya digulung kemudian diikat tinggi – tinggi.

Kini tangannya sibuk memotong beberapa sayuran dan sebuah bawang bombay. Kemudian dia mencampurkan semua bahan dan mengaduknya. Wanita itu sedang berencana membuat sebuah vegetable pancake. Beberapa kali matanya melirik smartphone yang menampilkan petunjuk – petunjuk untuk memasak makanan ini.

"Kau sudah bangun?" Tanya sebuah suara mengejutkannya. Luhan hampir saja menjatuhkan bahan makanannya, kalau saja sebelah tangannya tidak menahan mangkuk besar itu dia yakin adonannya sudah mendarat dilantai.

"Kau menganggetkanku." Ujar Luhan kembali mengaduk adonannya. Sehun meminta maaf dan berjalan mendekatinya. Pria itu memperhatikan Luhan sambil menunpu kedua tangannya diatas meja makan.

"Daripada kau memperhatikanku seperti itu, lebih baik kau mandi. Bukankah hari ini kau harus berangkat pagi?" Tanya Luhan menatap Sehun sesaat kemudian kembali menatap adonannya. Tapi Sehun tak menjawab, dia mendekati Luhan dan memeluk wanita itu dari belakang.

"Kau wangi." Bisik Sehun. Luhan mengangguk.

"Tentu saja, aku sudah mandi tidak sepertimu. " Ujar Luhan membiarkan Sehun memeluknya sementara dia mengaduk beberapa bahan.

"Kau mau aku membuatkanmu makanan untuk kau bawa?" Tanya Luhan melepaskan pelukan Sehun dan memutar tubuhnya agar mereka bisa bertatapan.

"Ide bagus, kau tau aku lebih suka makanan buatanmu dari pada masakan restoran." Luhan terkekeh dan sedikit merapikan rambut Sehun.

"Kalau begitu pergilah mandi sementara aku menyiapkannya." Sehun mengangguk dan menyodorkan pipinya. Luhan tersenyum kemudian sedikit menjinjitkan kakinya dan mengecup pipi Sehun. Kemudian pria itu berjalan menuju kamar mandi sambil menggaruk rambutnya yang berantakan.

~Marriage~

Sehun sudah selesai mandi, saat dia membuka pintu kamar, semerbak harum masakan menyapa indra penciumannya. Dia langsung mendapati Luhan tengah menyiapkan sarapan dimeja makan.

"Kau sudah selesai?" Tanya Luhan yang melihat Sehun baru saja keluar dari kamarnya.

"Kau memasak apa?" Tanya Sehun sambil duduk dikursinya.

"Pancake, dengan beberapa sayuran dan daging. Katanya ini baik dikonsumsi pagi hari." Ucap Luhan sambil menatap smarthphone ditangannya.

"Kau mendapatkan resep ini dari internet?" tanya Sehun disambut dengan anggukan oleh Luhan. "Istriku memang pintar." Bisik Sehun saat Luhan duduk disampingnya. Luhan hanya terkekeh pelan dan memukul pundak Sehun.

Merekapun akhirnya sarapan bersama dengan kehangatan yang sangat terasa, sesekali Sehun menceritakan beberapa pekerjaanya yang harus dia lakukan, sesekali Luhan menimpalnya dan tak jarang dia mendengus saat Sehun menceritakan bahwa dia harus melakukan pemotretan dengan beberapa model wanita. Dan menurut Sehun, reaksi Luhan sangatlah menggemaskan.

"Ini." Luhan menyodorkan sebuah tempat makan. "Kau menyuruhku membuatkan makanan untukmu bukan? Jangan katakan kau lupa karena terlalu banyak memikirkan model wanita itu." Ucap Luhan sarkastis. Sehun terkekeh dan meraihnya dari tangan Luhan.

"Apa ini?" Tanya Sehun.

"Butter Rice dengan beef teriaki dan telur gulung." Jawab Luhan kemudian menatap mata Sehun. "Jam berapa kau pulang?" tanyanya. Pria itu menghela nafas panjang dan menaruh tempat makan dan kunci mobil di meja. Tangannya meraih pinggang Luhan menariknya agar semakin mendekat.

"Maafkan aku, belakangan ini aku benar – benar sangat sibuk. Tapi tenang saja, soal model wanita itu aku hanya bercada, kau tau aku…"

"Bukan seperti itu." Kekeh Luhan. Dia membenarkan jas yang digunakan Sehun kemudian mengusapnya. "Aku tau kau bukan pria macam itu. Aku hanya bertanya jam berapa kau pulang." Lanjutnya.

"Tapi aku tau ada suatu yang lain." Ujar Sehun mengusap pipinya. Luhan tidak bisa untuk tidak menutup matanya dan menyandarkan kepalanya di tangan Sehun.

"Aku hanya kesepian berada disini sendiri. Walau eomma memang selalu datang kesini dan mengajakku kebeberapa tempat, tapi tetap saja…" Luhan menghela nafas panjang. "…berbeda."

"Tapi sudahlah, aku tau ini memang pekerjaanmu. Lagi pula jika dipikir - pikir aku pernah hidup tanpamu bertahun – tahun." Ucap Luhan sambil terkekeh. Sehun ikut terkekeh dan mengusak rambut Luhan pelan.

"Kau harus pergi." Ujar Luhan sambil membenarkan kerah jas Sehun yang terlihat kusut.

"Kau benar. Jam berapa sekarang?-Oh Tuhan. Sepertinya aku akan kembali mendengar omelan manager." Ucap Sehun sambil meraih kunci mobil. Sedangkan Luhan hanya terkekeh dan membawa bekal makan Sehun.

Luhan menunggu didepan garasi sementara Sehun mengambil mobil. Tak lama kemudian pintu garasi terbuka menampakan Sehun dengan mobilnya. Pria itu membuka kaca mobil dan menatap Luhan.

"Jangan melupakan ini." ucap Luhan sambil menyodorkan bekal makannya.

"Tentu saja." Jawabnya kemudian menaruh bekal makan itu dijok mobil. "Aku benar – benar akan pulang larut malam. Aku harap kau tidak menungguku dan langsung tidur." Luhan mengangguk.

"Hari ini aku akan pergi berbelanja dengan eomma. Kemudian memasak bersama, mungkin hal itu membuatku lelah dan akan cepat terlelap." Jelas Luhan disambut dengan anggukan oleh Sehun.

"Love you." Ucap Sehun.

"Love you too."

Akhirnya Sehun benar – benar berangkat untuk bekerja, kembali meninggalkan Luhan yang kini tengah menatap kepergiannya.

~Marriage~

Hari sudah semakin larut. Luhan baru saja keluar dari kamar mandi dengan sebuah piama yang terpakai ditubuhnya. Dia menatap kasurnya yang masih kosong. Dia belum kembali. Luhan menatap kearah jam yang sudah menunjukan pukul 8 malam. Luhan mendesah nafas pendek, dia berjalan kearah kasur tapi sebelum itu tangannya menyambar sebuah buku yang tergeletak di meja rias.

Sambil menunggu Sehun kembali, tak jarang Luhan menghabiskan waktunya untuk membaca beberapa buku, tapi kebanyakan dia membaca novel yang mengangkat tema percintaan. Sebenarnya ini sudah menjadi kebiasaan lama Luhan dari semenjak dia berada di tingkat sekolah menengah. Tapi saat dia pergi ke London semua berubah.

Tiga jam berlalu, mata Luhan sudah mulai terlihat lelah, tapi sepertinya Sehun belum menunjukan tanda – tanda kehadirannya. Tadi pria itu sempat mengirimkan pesan singkat yang mengabarkan kalau dia baru saja makan malam bersama kru.

Akhirnya Luhan memutuskan untuk menaruh bukunya dimeja dan menarik selimutnya mencoba untuk tidur. Tapi insomnia kembali menyerang membuatnya tak bisa terlelap. Luhan menatap jam yang diletakan di meja yang ada disampingnya. 23:56. Tak lama lagi tengah malam dan Sehun belum kembali. Luhan meraih ponselnya, ternyata ada sebuah pesan masuk.

Tidurlah… bayangkan aku ada disampingmu. Love you.

Luhan menghembuskan nafas panjang dan kembali menaruh ponselnya dimeja. Dia menatap tempat Sehun yang masih kosong dan mencoba mengikuti apa yang diucapkan Sehun. Dan tak lama kemudian diapun terlelap, masuk kedalam alam mimpinya.

~Marriage~

Suara pintu dibanting membuat Luhan terkejut dan bangun dari tidurnya. Kemudian dia mendengar langkah kaki yang diseret – seret. Tak lama setelahnya lampu ruang tengah terlihat menyala, Luhan sadar kalau Sehun baru saja pulang. 04:23. Oh Tuhan! Bagaimana bisa Sehun pulang sepagi ini. Luhan berniat keluar dan bertanya tapi derap langkah itu mendekat membuat Luhan mengigit bibirnya dan kembali meringkuk di tempat tidur.

Helaan nafas berat didengarnya. Tak lama kemudian dia merasakan Sehun berbaring dikasur membuatnya terkejut. Menit – menit berlalu, Luhan tak bisa menahan matanya untuk terbuka dan menatap apa yang terjadi.

Oh dear. Dia terkejut saat menatap Sehun dengan pakaian lengkap tidur dengan wajah yang terlihat lelah. Luhan akhirnya bangkit dan membawa piama Sehun. Perlahan dia duduk disamping Sehun dan mengusap lengan pria itu.

"Biarkan aku mengganti bajumu." Bisik Luhan. Sehun mengangguk pelan dan membiarkan Luhan membuka kemeja yang dipakainya.

Sehun tidak membuat Luhan kesulitan, dia mengangkat sedikit tubuhnya saat Luhan hendak memakaikan piama pada tubuhnya. Setelah selesai menggantikan pakaian suaminya, Luhan mengusap wajah Sehun dengan handuk basah.

Setelah semua selesai, Luhan kembali merangkak dan keatas kasur dan menempatkan dirinya disamping Sehun. Pria itu yang sadar akan kehadiran Luhan langsung memeluknya. Luhan menaruh sebelah tangannya dipunggung Sehun dan menepuk – nepuknya pelan.

"Ada apa denganmu?" Bisik Luhan. Tapi Sehun menggeleng tanpa membuka mata sedikitpun. "Baiklah, kau berhutang satu penjelasan padaku." Sehun kembali mengangguk pelan. "Sekarang tidurlah."

~Marriage~

Luhan sudah bangun dari tidurnya walau waktu masih menunjukan pukul 5 pagi. Matanya masih terlihat sangat lelah, mungkin karena dia kurang tidur, apalagi saat dia melihat Sehun kembali dengan keadaan sepeti itu.

Dia sudah berpakaian rapi, sebuah dress berenda dengan warna putih. Luhan berjalan mengendap - endap, berusaha tak menimbulkan suara sekecil apapun. Dia tidak ingin membangunkan Sehun yang kini terlihat tidur dengan lelapnya.

Luhan mulai mengambil apron berwarna softpink dengan motif pokadot. Luhan menaruh jari telunjuknya di dagu, berpikir. Dia harus membuat sesuatu yang benar - benar membangkitkan nafsu makan. Luhan kembali mencari beberapa resep makanan di internet.

Dan tak lama kemudian dia menemukan sesuatu yang menurutnya sangat pas. Dan kemudian tangannya langsung sibuk mengaduk, memasak dan meracik beberapa bumbu yang dibutuhkannya.

Titik – titik keringat bermunculan di dahi Luhan, membuat wanita itu harus menyerkanya beberapa kali, Luhan berjalan kesisi ruangan membuka jedela, tak sengaja matanya menatap jam.07:23. Luhan mengigit bibirnya. Pandangannya beralih pada pintu kamarnya yang masih tertutup rapat.

Dengan ragu dia melangkahkan kaki yang terbalut sandal rumah itu menuju kamarnya. Luhan berniat membuka pintu tapi kemudian mengulurnya lagi. Dia tau, Sehun harus bangun dan pergi bekerja tapi melihat kondisi Sehun tadi pagi membuatnya tak tega bahkan untuk sekedar membangunkannya.

Tapi kemudian secara tiba – tiba pintu terbuka membuat Luhan tersentak dan melangkan mundur. Dia mendapati Sehun berdiri dengan mata yang sedikit terbuka, menatapnya.

"Kau sudah bangun?" Tanya Sehun. Wanita itu mengangguk. "Jam berapa ini?" Tanya Sehun sambil berjalan keluar dan menutup pintu.

"Jam setengah delapan kurang. Aku baru saja berniat membangunkanmu tapi…" Ucapan Luhan terhenti saat Sehun menatapnya. "…aku tidak tega membangunkanmu. Kau terlihat kelelahan kau tau. Ada apa denganmu?" Tanya Luhan sambil menautkan jemarinya pada Sehun dan menarik pria itu ke meja makan.

Sehun menguap dan meregangkan tubuhnya tanpa melepaskan tangan Luhan, dia mengerjapkan mata beberapa kali agar matanya bisa benar – benar melihat dengan jelas. Dia akhirnya duduk dan mendapati makanan sudah tersedia dihadapannya.

"Kau benar – benar istri pintar, kau tau aku kelaparan." Ucap Sehun tapi Luhan tak melepaskan pandangannya dari Sehun membuat pria itu mengerutkan kening. "Apa?"

Luhan menghembuskan nafas panjang. "Kau belum menjawab pertanyaanku." Ucap Luhan sambil menyodorkan mangkuk nasi pada Sehun.

"Aku akan menjelaskannya nanti, sekarang biarkan aku makan oke babyLu~" Ujar Sehun sambil mengedipkan matanya membuat Luhan tidak bisa untuk tidak memutar bola matanya.

"Kau tau kita sudah menikah tapi masih saja memanggilku seperti itu."

"Memangnya kenapa dengan itu?" Sela Sehun.

"Kau terdengar seperti anak muda yang baru saja jatuh cinta." Sehun menghentikan tangannya yang sedari tadi menyuapkan makanan kedalam mulutnya, dan menatap Luhan.

"Aku memang merasa seperti anak muda yang sedang jatuh cinta, dan akan selalu seperti itu karena kau tau… kau selalu membuatku jatuh cinta."

Luhan mendengus dan memalingkan wajahnya. Tapi dia harus mengakui kalau kata – kata Sehun barusan membuat pipinya memerah.

"Kau mengatakan padaku kalau aku terdengar seperti anak muda yang baru saja jatuh cinta, tapi dirimu.. lihatlah, kau seperti seorang gadis yang baru pertama kali dirayu oleh pria."

Luhan memukul tangan Sehun pelan membuat pria itu terkekeh dan mereka kembali melanjutkan sarapannya dengan tenang tanpa pembicaraan.

~Marriage~

"Kau tidak pergi bekerja?" Tanya Luhan yang terkejut saat melihat Sehun memakai pakaian rumah. Pria itu menggeleng dan menghampiri Luhan yang sedang duduk di sofa yang berada diruang tengah.

"Ini alasannya kenapa aku pulang pagi hari." Jawabnya kemudian duduk disamping Luhan.

"Aku tak mengerti."

"Aku menyelesaikan semua pekerjaanku kemarin, aku melakukan beberapa pemotretan sekaligus dan kau tau membintangi beberapa iklan dalam waktu yang sama."

Luhan membelalakan matanya, sejauh yang dia tau, pemotretan itu tak semudah kelihatannya, dan… pembuatan iklan. Dia yakin sekali itu akan memerlukan banyak sekali tenaga.

"Kau pasti bercanda." Ucap Luhan menatap Sehun tak percaya. Pria itu mengusak poni Luhan yang mulai memanjang.

"Tentu saja tidak, untuk apa aku bercanda?"

"Tapi itu memerlukan banyak tenaga kau tau…"

"Maka dari itu hari ini aku ingin beristirahat." Sela Sehun kemudian menggeser posisi duduknya dan berbaring disopa panjang itu dengan paha Luhan menjadi bantalnya.

"Ada yang ingin aku katakan." Ujar Sehun membuat Luhan membuka matanya. Wanita itu menatap Sehun dengan wajah kebingungan. "Aku harus kembali ke London." Lanjut Sehun.

Hal itu tentu saja membuat Luhan terkejut, jujur saja dia sudah hampir melupakan London saat kembali ke korea dan kembali menjalani kehidupan normalnya –walau tak sepenuhnya normal karena kebiasaan lama saat dia masih melekat pada dirinya- dan menjelani semuanya bersama Sehun. Tapi saat dia mengungkit soal London, entah kenapa ada bagian dari hatinya yang mengatakan kalau dia merindukan London.

"Apakah kau tidak bisa bekerja disini saja?" Tanya Luhan ragu. Sehun menghembuska nafas panjang dan menggeleng.

"Ternyata pihak labelku sudah menandatangani kontak sebelum aku memutuskan untuk kembali ke korea." Jelas Sehun. Luhan memalingkan wajahnya sambil mengangguk pelan.

"Ada hal lain." Ujar Sehun membuat Luhan kembali menatapnya sambil mengigit bibir bawahnya mempersiapkan apapun yang harus didengarnya. "Disana kita akan bulan madu." Dan ucapan itu membuat Luhan sedikit ternganga dengan mata yang sedikit membulat.

"K-kau bercanda?" Tanya Luhan tergagap.

"Tidak, tentu saja. Walau sepertinya aku harus menghabiskan waktu 2 sampai 3 hari untuk menyelesaikan pekerjaan itu, tapi aku jamin setelah itu aku akan tebebas dari pekerjaan dan memiliki banyak waktu untukmu." Jawab Sehun, tapi Luhan tak merespon dia hanya menatap pria itu dengan mata tak berkedip. "Bagaimana kedengarannya? Aku akan menambil cuti sekitar satu bulan dan kita bisa menghabiskan waktu bersama berkeliling London kemudian kembali ke Seoul saat musim gugur dan menghabiskan waktu bersama umma dan appa kita."

Kata – kata Sehun benar – benar mendeskripsikan hari – harinya yang akan menjadi sangat menyenangkan membuat Luhan tak bisa berucap apapun karena semua katanya tercekat ditenggorokan.

"Lu… kau tau ini saatnya kau mengatakan sesuatu."

"AKU MAU." Jawab Luhan sedikit berterikan membuat Sehun terkejut. Luhan langsung mengerjap dan mengalihkan pandangannya. "Kau tau, itu terdengar sangat menyenangkan." Lanjut Luhan.

"kalau begitu aku ingin kau bersiap – siap. 3 hari lagi kita akan berangkat."

Luhan kembali mengerjapkan matanya. "T-tiga hari?" Sehun mengangguk.

"Sebaiknya apa yang harus aku siapkan untuk pergi ke London?" Tanya Luhan. Sehun langsung menatapnya dari mulai kepala sampai ujung kakinya kemudian mendekatkan tubuhnya pada Luhan, membuat wanita itu sedikit mundur.

"Everything."

.

.

.

~To Be Continued~