Jangan ada yang protes karena saya update terlalu cepat (⌐_⌐)

Disclaimer

Hoshino Katsura-sensei

Summary

Aku memang bukan siapa-siapa, tapi tak bolehkan jika aku jatuh cinta? Seorang rakyat jelata yang bahkan tak masuk dalam hitungan jumlah penduduk di suatu Negara jatuh cinta pada seorang pangeran yang berada di kasta tertinggi. Aku tahu aku lancang, tapi percayalah... ini bukan salahku.

Pairing

Yullen a.k.a Yuu Kanda X Allen Walker

Rate

T

Genre

Hurt/Comfort, romance, Yaoi, dll

Warning

Yaoi, BoyXBoy, yang gak suka silahkan tekan BACK

...

"Ugh..." Sesosok pemuda berambut putih nampak meringkuk dibawah selimut tebalnya. Awalnya dia sempat berpikir bahwa semua yang dia alami semalam hanyalah mimpi. Tapi rasa sakit yang menjalar dari pinggang sampai ke selangkangannya terasa nyata. Tapi kenapa dia sudah memakai piama lengkap dan tidur dibalik selimut? Siapa yang melakukannya? 'Tuan muda Yuu..' Tidak tidak mungkin. Allen segera menggelengkan kepalanya.

"Ngnghh.." Berusaha untuk bangun walau usahanya hanya sia-sia. Kepalanya terasa sangat berat dan pusing. Wajahnya juga panas. Apa yang harus dia lakukan? "Hiks.." Bulir bening mulai berjatuhan dari kedua manic kelabunya. Menggigit bibir bawahnya Allen berusaha untuk tetap kuat dan berhenti menangis.

.

.

.

Kanda dengan mengenakan setelan jas mewah berwarna hitam terlihat menuruni anak tangga. Aura dingin terlihat beberapa kali lipat lebih menusuk dari biasanya. sepertinya mood pangeran es itu sedang benar-benar buruk.

"Eh? Yuu-chan~... kau bangun sangat pagi seperti biasanya." Sapa Lavi yang sudah duduk manis di ruang makan.

"Hn.." Kanda hanya bergumam singkat.

"Dimana All-chan? Kenapa kau tak mengajaknya turun juga?" Tanya Lavi.

"Bukan urusanku." Jawab Kanda judes.

"Ya ampun, sampai sekarang aku masih penasaran kakak iparku makan apa waktu mengandungmu." Canda Lavi sambil menghela nafas.

"Kalau begitu matilah dan tanyakan padanya."

'Yang lebih membuatku penasaran lagi adalah apa Tuhan lupa memberikan hati pada keponakanku ini? Mengenaskan.' Batin Lavi.

"Lenalee-chaan~ bisa tolong kau panggilkan Allen sayang..." Teriak Lavi dengan nada menggoda.

"Baik tuan.." Jawab Lenalee dengan kedutan disudut dahinya. Padahal dia sudah mengingatkan pada kekasihnya itu untuk tak bersikap seperti itu saat berada dilingkungan keluarga besar kerajaan. Terutama saat berada disekitar Yuu dan Tiedoll. Walaupun mereka sudah resmi bertunangan tapi Lenalee ingin bekerja dengan professional. Sebenarnya baik Tiedoll ataupun Yuu Kanda tak seorang pun dari mereka yang merasa keberatan. Kanda orang yang terlalu apatis dan Tiedoll adalah orang tua yang terkenal sangat baik.

Lenalee menapaki anak tangga menuju lantai atas, berjalan di lorong mansion mewah itu menuju sebuah ruangan besar yang menjadi kamar pribadi sang pangeran dan sekarang juga ditempati oleh Allen Walker.

Tok tok tok...

"Maaf tuan muda Allen, tuan besar Lavi dan tuan muda Yuu sudah menunggu anda di bawah." Ujar Lenalee sopan setelah mengetuk pintu.

Hening...

Tetap menunggu beberapa lama namun masih tak ada jawaban. "Tuan muda?" Panggil Lenalee lagi lalu kembali menunggu.

'Apa masih belum bangun ya?' Batin Lenalee. Bagaimana ini? Sebentar lagi kan tuan besar Tiedoll akan pulang.

"Tuan? Maaf saya akan masuk sekarang," Masih tak ada jawaban.

Menghela nafas dan memberanikan diri, Lenalee perlahan membuka salah satu daun pintu dari sepasang daun pintu yang terbilang besar itu.

Greeek..

"Tuan muda Allen?" Panggil Lenalee sambil mengedarkan pandangannya ke dalam kamar.

Kamar Kanda terbilang sangat besar. Lampu Kristal dengan hiasan permata Nampak menggantung dengan indahnya di tengah langit-langit. Tembok kaca besar yang ditutupi oleh tirai indah berwarna putih dengan corak indah khas bangsawan. Beberapa lampu hias dengan model klasik Nampak menghiasi dinding kamar. Permadani tebal membalut dinginnya lantai, satu set sofa yang juga terkesan klasik dan berkelas berada tak jauh dari pintu. Sebuah televisi dengan ukuran super besar dan sebuah sofa panjang juga terlihat di sudut kamar. Sebuah tempat tidur ukurang king size mengisi bagian tengah kamar besar itu, dikanan dan kirinya terdapat meja hias sebagai pelengkap yang salah satunya terdapat telefon rumah. Dan beberapa barang serta ornament lainnya. Terdapat tiga pintu yang masing masing terhubung ke ruang kerja sekaligus perpustaakn pribadi, ruang pakaian dan kamar mandi.

Lenalee hanya bisa speeches melihat ruangan itu. Rasanya dengan semua fasilitas ini tak heran jika sang pangeran jadi apatis dan jarang keluar kamar jika sedang berada di mansion. Semua yang dia butuhkan ada di sana, bahkan balkon kamarnya langsung menghadap pada taman yang berada di samping mansion.

Tersadar akan lamunannya, Lenalee segera melangkah masuk dan berjalan menuju tempat tidur.

"Tuan muda Allen," Panggilnya pelan saat melihat sosok yang dicarinya ternyata masih tertidur dibalut selimut.

"Lena..lee..san.." Guama Allen dengan suara parau dan mata sayu. Menyadari hal itu sang gadis segera meletakkan telapak tangannya di kening Allen.

"Ya Tuhan! Anda demam tuan, tunggu sebentar." Lenalee segera berlari keluar kamar dan menuruni anak tangga.

Dia harus segera memberitahu Lavi dan Kanda.

.

.

.

"Ada apa Lenalee-chan, kenapa kau berlari seperti itu?" Tanya Lavi yang melihat kedatangan Lenalee.

"Tuan, tuan muda Allen demam." Ucap Lenalee dengan kepanikan dimatanya.

"Demam?" Tanya Lavi.

"Ya, demamnya sangat tinggi."

"Ceh! Dia tak akan mati karena demam." Komentar Kanda lalu menyesap minumannya.

"Yuu. Kau tidak boleh seperti itu, bersikaplah sedikit lebih baik." Nasehat Lavi pada sang ponakan.

"Ck! Bukan urusanmu."

"Baiklah..baiklah..jangan salahkan aku jika 'mengambil' tunanganmu." Ucap Lavi sambil berdiri. Kanda segera membuka matanya dan menatap tak senang pada sang paman. Lenalee hanya mampu terdiam.

"Ayo Lenalee," Si merah menarik tangan Lenalee. Sebenarnya sang gadis ingin protes tapi melihat wajah serius yang jarang dilihatnya dari sang kekasih maka untuk kedua kalinya Lenalee memilih untuk tetap diam. Pilihan yang bijak.

.

.

.

Tak ingin membuat orang lain repot Allen berusaha bangkit dari tempat tidurnya walaupun seluruh tubuhnya terasa sakit dan berat. Keberuntungan sedang tak memihak padanya, tubuh Allen terhuyung dan jatuh oleh tarikan grafitasi.

Bruk..

Bertepatan dengan itu Lavi dan Lenalee sampai ke kamar sang pangeran es.

"All-chan!/Tuan muda!" Teriak keduanya berbarengan dan berlari menuju Allen.

"Ya Tuhan, Allen!" Panggil Lavi sambil meraih tubuh sang pemuda eropa dan membawanya ke dalam sebuah dekapan.

"Tuan muda,"

"Lenalee cepat panggil kakakmu." Ucap Lavi sambil mengangkat tubuh Allen, hendak membaringkannya ke tempat tidur.

.

.

.

.

15 menit kemudian...

"Lenalee-chaaaan~ apa kau baik-baik saja sayaaaang..." Teriak Komui sambil membuka pintu dengan dramatis.

"Bukan aku yang sakit nii-san, pasienmu ada di tempat tidur." Ucap Lenalee sambil menahan emosi.

"Kyaaaaaaa~ Albinooo... Wah bocah eropa ya?" Komui langsung menari-nari tak jelas dengan kedua matanya yang entah kenapa sudah berubah jadi lambang hati.

Plak!

"Jangan macam-macam! Dia itu tunangan tuan muda Yuu yang dipilih langsung oleh tuan besar." Ancam Lenalee setelah nempeleng kepala sang kakak menggunakan buku tebal dengan kedua tangannya.

"Lenalee-chan~..." Ratap sang kakak dengan air mata berderai-derai.

"Aku khawatir pada All-chan, kalau lebih lama lagi dia akan benar-benar mati karena tingkahmu Komui-nii..." Sela Lavi yang sudah tak tahan.

Sring!

"Dasar mesum! Jelek.. pesek.. pendek..PEDOPIL!" Maki Komui saat menyadari keberadaan Lavi. Orang yang dianggapnya sebagai rival yang sudah merampas Lenalee 'kecilnya'

BUAGH!

Dan kali ini Lenalee benar-benar menghantam sang kakak sampai tumbang. "Dia bukan pedophil karena aku bukan anak-anak. Bersikap sopanlah pada tuan besar. Kau pikir kau berada dimana sekarang nii-san!?" Ucap Lenalee dengan penuh penekanan dan aura iblis.

'Ha...ha...ha...' Lavi speechless.

Drama berakhir dan Komui pun segera memeriksa kondisi Allen.

"Jangan khawatir, sebaiknya biarkan dia istirahat. Mungkin dia hanya kaget dengan suasana di sini." Ucap Komui menenangkan.

"Syukurlah kalau begitu," Lavi menghela nafas lega.

"Tapi jangan harap kau bisa mengambil Lenalee ku.." Komui langsung memeluk sang adik erat.

"Ya ya ya, sekarang lebih baik kau segera pulang nii-san." Ucap Lenalee sambil menyeret sang kakak yang meraung-raung karena tak ingin berpisah.

.

.

.

Tepat pukul 07.00 sebuah mobil antic memasuki gerbang besar mansion keluarga bangsawan Kanda. Mengetahui jadwal kedatangan sang kakek maka Kanda pun sudah bersiap menyambutnya. Tiedoll turun dari mobilnya.

"Yuu-chan, kenapa kau hanya sendiri nak? Mana cucu menantuku?" Tanya sang kakek diikuti suara tawa khas seorang kakek.

"Dia ada di kamar," Jawab kanda singkat dengan raut wajah datar.

"Hohohooo, apa dia masih tidur? Kau tak bersikap nakal padanya kan nak?" Goda sang kakek dengan senyum jahil.

"Ceh..dasar kakek tua." Gerutu Kanda sambil memalingkan wajah kesalnya.

"Hahahaa, aku hanya bercanda," Tiedoll menepuk pundak Kanda dan berjalan memasuki mansion. Langsung berjalan ke lantai atas menuju kamar sang cucu dimana disanalah orang yang dia cari berada. Sementara Kanda hanya terdiam di mulut tangga, enggan mengikuti langkah sang kakek.

"Ayah!?" Lavi berjengit karena kaget, saat dia baru saja keluar dari kamar Kanda ternyata sang ayah sudah berada disana.

"Oh putraku..aku merindukanmu." Ucap Tiedoll sambil memeluk Lavi dengan gemas.

"Inilah alasan kenapa aku membenci orang tua." Gerutu Lavi sambil berusaha melepaskan diri.

"Hohohoo..kau malu-malu pada ayahmu nak." Tiedoll makin mengeratkan pelukannya.

"KALAU KAU TERUS MEMELUKKU AKU AKAN MATI. DASAR KAKEK TUA!" Teriak Lavi sambil mencak-mencak berusaha melepaskan diri.

"Apa Allen-kun masih tidur?" Tanya sang Ayah mengacuhkan amukan sang anak.

"Dia demam, tapi Komui sudah memeriksanya." Akhirnya Lavi berhasil juga melepaskan diri.

Tiedoll melangkahkan kakinya menuju Allen yang tengah berbaring di tempat tidur.

"Hey nak, apa kau tidak suka berada di sini?" Sapa Tiedoll sambil menyingkirkan rambut Allen yang sedikit menutupi dahi. Tiedoll duduk dipinggiran tempat tidur.

"Ngh.. tuan.." Ucap Allen lemah.

"Ternyata aku masih belum diakui sebagai kakek ya? Malangnya aku.." Canda sang kakek. Allen hanya tersenyum walau terlihat jelas kalau dia sedang kepayahan.

"Kenapa?" Tanya Allen singkat.

Mengerti akan maksud dari pertanyaan Allen makan Tiedoll pun tersenyum. "Sejak pertama kali melihatmu aku langsung tahu kalau kau orang baik. Dan ternyata aku benar," Tiedoll tertawa pelan.

"Tapi kenapa harus membohongiku?" Tanya Allen lagi.

"Karena kalau aku jujur kau pasti akan kabur." Jawab Tiedol. Lavi Nampak memperhatikan dengan seksama.

"Ku rasa kau satu-satunya orang yang cocok untuk mendampingi cucuku." Ujar Tiedoll lagi.

"Tapi...aku tak pantas.."

"Bukan status social yang ku cari." Tiedoll menatap Allen seraya tersenyum lembut. "Kau orang yang baik, ramah, kuat dan juga ceria. Itu yang ku butuhkan,"

"Kenapa?" Tanya Allen lagi yang memang tak mampu bertanya banyak.

"Dengar nak, dulu cucuku itu anak yang sama sepertimu. Ceria dan ramah pada semua orang, Yuu kecil yang polos." Tiedoll menerawang jauh, mengingat ke masa lalu. "Tapi semenjak kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan, Yuu berubah jadi lebih pendiam dan suka mengurung diri. Dan saat melihatmu aku berpikir kau pasti orang yang bisa menolong Yuu."

"Apa yang bisa kulakukan?" Suara Allen terdengar parau.

"Jadilah dirimu sendiri nak, kau akan menemukan cara untuk bisa menolong Yuu dengan menjadi dirimu sendiri." Mendengar kalimat ambigu dari Tiedoll, kepala Allen semakin berdenyut.

"Jangan membuatnya semakin pusing yah, biarkan All-chan istirahat dulu." Ucap Lavi. Wajahnya Nampak tersenyum senang. Sepertinya dia mengerti semuanya sekarang.

"Baiklah, kalau begitu kau istirahat dulu. Cepat sehat, aku punya hadiah untukmu." Hibur Tiedoll sambil mengusap-ngusap puncak kepala Allen.

"Um.." Allen tersenyum tipis dan mengangguk. Rasanya beban yang ada di dadanya banyak berkurang. Terasa lega sekarang.

Tanpa mereka ketahui ternyata sosok Yuu Kanda berada di luar pintu. "Ceh, menggelikan. Dasar orang-orang bodoh." Gumamnya sambil berlalu pergi.

.

.

.

Keesokan harinya

Kondisi Allen sudah sembuh sepenuhnya dan hari ini adalah hari pertunangannya dengan Yuu Kanda. Allen terlihat sangat manis dengan setelan jas khas kerajaan yang berwarna putih. Sangat kontras dengan rambut dan kulit putihnya. Tak jauh darinya duduk dengan angkuhnya seorang Yuu Kanda dengan jas yang sama berwarna merah maroon. Tak banyak yang menghadiri acara ini karena Tiedoll tak ingin membuat mood cucunya semakin hancur dengan keberadaan banyak orang disekitarnya.

Hanya ada Tiedoll, Allen, Kanda, Lavi, Lenalee, Komui dan Howard Link orang yang merupakan tangan kanan Tiedoll.

"Karena semuanya sudah berkumpul maka aku akan langsung memulai acara ini," Ucap Tiedoll membuka percakapan. "Hari ini adalah hari pertunangan cucu kesayanganku satu-satunya, hohohoo.." Tiedoll tertawa pelan sambil melihat kearah Kanda yang berwajah kesal.

"Aku sendiri yang memilihkan tunangan untuknya, namanya Allen Walker." Tiedoll memperkenalkan Allen yang sejak tadi hanya menunduk karena gugup dan berbagai perasaan lainnya. "Ayo angkat wajahmu nak, biarkan mereka semua melihatnya."

"Ma-maaf.." Ucap Allen sambil mengangkat wajahnya perlahan. Melihat senyuman di wajah semua orang yang ada di ruangan itu (kecuali Kanda dan Link) seketika wajah Allen merona merah.

"Lihat dia manis sekali bukan, seperti seekor anak kelinci." Goda Lavi.

'Ceh! Moyashi lebih cocok untuknya dan kau Baka Usagi.' Gerutu Kanda dalam hati.

"Nah kalau begitu mari kita mulai acara pertukaran cincin sebagai peresmian pertunangan ini." Tiedoll mengisyaratkan tangannya untuk memanggil Kanda dan Allen.

Dengan raut wajah angkernya Yuu Kanda beranjak dan berdiri tepat disamping sang kakek.

"Allen, ayo cepat kesana." Bisik Lavi pada sosok yang masih duduk termangu.

"Ah..ba-baik," Ucap Allen gugup dan segera beranjak dari kursinya. Berdiri disamping Tiedoll bersebrangan dengan Kanda.

"Yuu, Allen kalian masing-masing ambil satu cincin dari tanganku ini." Sang kakek mengulurkan sebuah kotar persegi dengan dua cincin didalamnya. Cincin berwarna silver dengan desain sederhana namun terlihat berkelas.

"Mmm...siapa dulu yang menyematkan cincin? Bagaimana menurutmu?" Tanya Tiedoll sambil melemparkan pandangannya pada Link.

"Maaf tuan, saya rasa yang pertama menyematkan cincin sebaiknya tuan muda Yuu." Jawab Link sambil membungkuk hormat.

"Baiklah Yuu, sekarang ayo sematkan cincin di jari manis Allen-kun."

Menuruti permintaan sang kakek. Maka Kanda meraih sebelah tangan Allen yang terlihat pucat dan kurus.

Blush..

Wajah si pemuda eropa langsung merona merah saat tangan besar dan dingin milik Kanda menyentuh jemarinya. Melihat itu Tiedoll semakin melebarkan senyumannya, sementara Kanda masih bertahan dengan tampang angkuhnya.

"Nah Allen-kun, sekarang giliranmu." Ucap sang kakek.

Allen masih terdiam, jantungnya sudah berdebar tak karuan. Perlahan sang pemuda eropa mengangkat wajahnya untuk menatap seorang Yuu Kanda yang berada tepat dihadapannya.

Deg!

Seketika Allen langsung menahan nafasnya dan membeku. Bayangan akan malam itu langsung berputar dibenaknya, melihat Allen yang terus manatapnya seperti itu membuat Kanda sedikit kesal dan itu berpengaruh juga pada raut wajahnya yang jadi semakin angker. Matanya yang dingin dan gelap menatap Allen dengan tajam. Membuat Allen semakin bergetar ketakutan. Kejadian malam itu kembali berputar dengan sangat jelas dibenaknya.

Deg!

Deg!

Deg!

Bruk!

Allen tumbang dengan suksesnya.

"Kyaaa! Tuan muda Allen!" Pekik Lenalee panic.

"Allen-sama." Link juga Nampak terkejut.

"Allen-kun! Kau kenapa nak?" Tiedoll panic dan segera turun dari kursinya.

"Ya ampun Yuu-chan! Kenapa kau malah membuatnya pingsan!?" Kesal sang paman sambil berjalan menghampiri Kanda.

"Memangnya kau lihat aku melakukan sesuatu padanya!?" Balas Kanda dengan nada kesal.

'Justru karena kau tidak melakukan apapun makanya dia pingsan.' Batin Komui speechless.

.

.

.

"Aduuh, kepalaku pusing.." Ringis Allen sambil memegangi kepalanya. 'Aku berada di kamar lagi,' Ucapnya dalam hati saat menyadari dimana dia berada sekarang.

Meong..

Allen mengerjapkan matanya beberapa kali, apa dia tak salah dengar barusan. "Sepertinya aku dengan suara kucing," Ucap Allen pelan.

Meong..

Mengangkat kepalanya perlahan Allen mencoba mencari asal suara.

"Hwaaaaaaa! Kuciiiiiiiiiing..." Teriak Allen membahana saat melihat seekor kucing dengan jenis American Shorthair berwarna red tabby duduk manis diatas tempat tidurnya sambil menggoyang-goyangkan ekornya yang panjang.

Seakan lupa dengan kepalanya yang pusing Allen segera duduk dan menyambar sang kucing. Memeluknya dengan gemas, si kucing yang juga Nampak senang justru ikut ngusel-ngusel di wajah sang pemuda eropa.

"Huwee...manisnyaaa~ lembuuut..." Ucap Allen sambil terus ngusel ngusel. Wajahnya berseri dengan rona merah karena senang.

"Sampai kapan kau akan terus seperti itu."

Deg!

Suara yang terdengar dingin membuat gerakan Allen terhenti dan wajahnya membiru. Suara ini pasti milik Yuu Kanda. Dan ternyata benar saja, Kanda duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil melipat kedua tangannya di dada. Wajah Allen langsung membiru.

"Ceh, payah! Jangan salah faham, kalau bukan karena orang tua itu aku tak mau berada di sini." Kanda segera beranjak pergi.

"Ma-maaf, ku-kucingnya." Ucap Allen terbata.

"Kakek tua itu yang memberikannya." Jawab Kanda tanpa menoleh dan terus berjalan.

Allen terdiam sampai sosok Kanda menghilang dan pintu kamar kembali ditutup.

Meong...

"Hiii..kau manis sekaliiii..." Seakan lupa pada dunia (?) Allen kembali melanjutkan ritualnya.

Tok tok tok

Suara pintu yang diketuk membuat Allen kembali menghentikan kegiatannya.

"Iya," Jawab sang pemuda dari dalam.

"Tuan muda, ini saya Lenalee. Tuan besar memanggil anda."

'Pasti karena aku mengacaukan acara pertunangan tadi, dasar payah.' Rutuk Allen pada dirinya sendiri.

"Ya, tunggu. Aku segera keluar," Allen beranjak dari tempat tidur masih sambil memeluk kucing.

"Apa kakek marah padaku?" Tanya Allen setelah keluar dari kamar.

Lenalee tersenyum. "Itu tidak mungkin, tuan besar hanya ingin tahu keadaan tuan Allen saja." Jawab Lenalee. Allen menghela nafas lega.

.

.

.

"Kau suka hadiahnya?" Tanya Tiedoll saat melihat kedatangan Allen.

"Iya, saya sangat suka kucing. Terimakasih tuan," Jawab Allen sambil membungkuk sopan.

"Mulai sekarang aku ingin kau memanggilku kakek dan berbicara non formal. Aku ingin kita berinteraksi dengan cara kekeluargaan," Pinta sang kakek. "Ini perintah," Belum sempat Allen membuka mulut Tiedoll sudah berbicara duluan.

"Ba-baik kakek,"

"Sekarang kau pergilah jalan-jalan, aku tak ingin cucuku makin stress berada di sini."

"Jalan-jalan?" Allen menaikkan sebelah alisnya.

"Ya, pergilah berkeliling kota Jepang bersama Yuu."

Glup..

Allen menelan ludah paksa. Jalan-jalan bersama Kanda hanya akan membuatnya semakin stress.

"Aku juga akan ikut bersama All-chan," Tiba-tiba Lavi muncul entah dari mana.

"Kalau begitu ajak Lenalee juga," Usul sang ayah

"Dengan senang hati~" Jawab Lavi berseri-seri.

.

.

.

"Kau mau jalan-jalan kemana All-chan?" Tanya Lavi yang berada di kursi kemudi.

"Umm..aku tidak tahu," Jawab Allen bingung karena dia memang tak tahu banyak tentang kota Jepang. Ditambah lagi dengan keberadaan Yuu Kanda yang duduk disampingnya.

"Jangan hiraukan Yuu-chan, dia memang seperti itu. Dikasih es krim juga baik lagi," Canda Lavi yang langsung dihadiahi death glare dari Kanda.

Allen melirik takut-takut pada sosok Yuu Kanda.

"Apa?" Tanya Kanda judes.

'Hiiiii...seraaamm...hiks..tolong aku...' Ratap Allen dalam hati sambil beringsut menjauh dan nemplok di pintu mobil.

"Kau membuatnya takut Yuu-chan." Lavi menghela nafas. Lenalee pun hanya mampu menghela nafas pasrah.

"Bagaimana kalau kita ke danau saja? Saya rasa lebih aman kalau kita menghindari keramaian." Usul Lenalee.

"Kau benar, bisa gawat kalau public tahu sang pangeran berada di keramaian." Sahut Lavi.

"Ceh, lakukan yang kalian suka. Aku tak akan ikut campur." Ucap Kanda.

"Dengan senang haatii~" Lavi memacu mobilnya menuju tempat yang indah dan damai. Jauh dari keramaian kota..

.

.

.

Sebuah danau yang berada di dekat bukit kecil, tempat yang sangat indah dan dipenuhi oleh pepohonan. Udara yang sejuk dengan angin yang berhembus sepoi. Beberapa angsa Nampak berkeliaran disekitar danau.

"Waaah... indahnyaaa..." Ucap Allen senang saat sudah turun dari mobil.

Lavi, Lenalee dan Kanda pun turun dari mobil.

"Ada angsa.." Seru Allen seolah ini pertama kalinya dia melihat angsa.

"Angsa di sini sangat agresif, sebaiknya jangan diganggu." Ucap Lavi mengingatkan. Namun tak memperhatikan Allen.

"Hmm.. baiklah," Jawab Allen.

"Mm..tuan Lavi." Panggil Lanelee.

"Kalau ku sentuh bagaimana?" Tanya Allen.

"Tidak tidak, kau tak boleh menyentuhnya.."

"Tuan Lavi," Panggil Lenalee lagi.

"Tapi sudah ku sentuh." Jawab Allen dengan tampang polos tanpa dosa. Mengabaikan tatapan si angsa dengan mata nyalang.

"Eh?" Lavi tersentak dan melihat kearah Allen. "Huwaaaaa! Allen cepat lari!" Teriak Lavi panic.

"Makanya perhatikan sekitarmu saat sedang bicara!" Teriak Lenalee kesal.

Allen yang bingung segera berlari pontang panting. Berlari sekuat yang dia bisa.

"Dasar angsa sialan! Menjauh darinya!" Maki lavi sambil berlari mengejar angsa.

"Tuan muda Allen lari lebih cepat lagi," Lenalee pun ikut berlari.

"Huwaaaaa! Tolong akuu! Kenapa angsa di Jepang larinya cepat sekali." Ratap Allen sambil terus berlari saat menyadari sang angsa hanya berjarak kurang dari satu meter darinya.

Set!

Grep!

Allen terkejut saat ada yang menarik tangannya dan sekarang seperti ada yang memeluknya. Lalu terdengar suara teriakan angsa yang memilukan.

"Kwaaaakk!"

"Dasar lamban." Ucap Kanda dingin.

Ternyata pelaku penarikan tangan sekaligus tersangka tendangan langsung jarak dekat pada sang angsa adalah seorang Yuu Kanda yang kini juga sedang memeluknya menggunkan satu tangan.

Blush..

Wajah Allen langsung terasa panas dan matanya berkunang-kunang.

"Sampai kapan kau akan terus menempel padaku?"

"Ma-maaf.." Allen segera melepaskan diri dan menjauh.

"All-chan~ kau baik-baik saja." Lavi segera nemplok dari belakang. Memeluk leher Allen dengan kedua tangannya.

Melihat itu persimpangan muncul di sudut dahi Kanda.

"Aku baik-baik saja Lavi-san.." jawab Allen berusaha tersenyum.

"Syukurlah.." Melihat reaksi Kanda, Lavi justru makin menjadi-jadi dan malah menggosok-gosokkan pipinya ke pipi Allen.

"Hihihi..geli Lavi-san.."

Aura hitam pekat langsung menguar dari sosok Kanda. Lavi memeluk Allen dengan erat dan makin ngusel-ngusel.

"Hahahaa..hentikan Lavi-san.." Allen tertawa lepas.

Kanda makin naik pitam.

Set!

"Sudah sudah hentikan!" Ucap Lenalee sambil menarik telingan Lavi membuat pelukan si merah terlepas.

"Aw..aw..aw..ittai..ittai..kau bisa membuat telingaku panjang Lenalee-chan~" Lavi merigis kesakitan.

"Eeh? La-Lavi-san.." Ucap Allen iba dengan gerakan tangan yang terhenti diudara.

"Ck! Dasar murahan." Kanda berdecak kesal dan berbalik. Pergi begitu saja meninggalkan Allen yang menatapnya dengan tatapan terluka.

Kenapa? Kenapa Kanda sangat membencinya? Apa sehina itukah dia dimata seorang Yuu Kanda? Allen terdiam memikirkan nasibnya. Gelandangan sepertinya mungkin memang tak seharusnya berada di dunia dengan kasta tertinggi seperti ini. Rasanya dia merindukan kehidupannya yang bebas dijalanan.

"Haah.. apa sih yang ku pikirkan? Seharusnya kan aku bersyukur," Menghela nafas dan kembali tersenyum. Allen memilih menikmati kesejukan alam dan berbaring diatas rerumputan.

"Hmm..rasanya sejuk sekali. Berbeda dengan London yang panas." Gumam Allen.

.

.

Dikejauhan Nampak dua pasang mata sedang memperhatikan dari balik pepohonan.

"Jadi itu tunangan sang pangeran? Ternyata benar orang asing," Ucap seorang pria.

"Anak kecil, ini akan lebih mudah dari dugaanku." Seorang wanita tersenyum penuh makna.

"Kau mau menculiknya?" Tanya si pria.

"Jangan bercanda, kita lakukan hal yang lebih menarik lagi." Jawab si wanita dengan senyum yang terlihat mengerikan.

"Kalau begitu biarkan aku menyapanya,"

.

.

.

Hampir saja Allen tertidur, suara langkah yang mendekat membuat matanya kembali terbuka.

"Apa aku mengganggumu?" Sapa si pria berkulit coklat dengan rambut sedikit keriting.

Allen segera duduk dan mendongak untuk melihat pria yang menyapanya.

"Ah maaf kalau aku mengganggumu," Ujar si pria lagi.

"Tidak kok, aku tidak merasa terganggu sama sekali." Jawab Allen yang kemudian memilih untuk berdiri. 'Tinggi sekali, sepertinya bukan orang Jepang juga,' Ucap Allen dalam hati.

"Siapa namamu?"

"Aku Allen, Allen Walker." Jawab Allen dengan senyum ramahnya.

"Allen Walker, orang yang menarik. Berapa usiamu?" Tanyanya lagi.

"17 tahun.."

Tangan si pria terulur hendak menyentuh Allen. namun tiba-tiba seseorang muncul dari belakang dan menarik tangan si pemuda eropa menjauh.

"Eh?" Allen yang terkejut hanya terdiam saat tangannya ditarik kebelakang. Membuatnya mundur beberapa langkah.

"Sedang berlibur juga Tyki Mikk."

"Ka-Kanda-san?" Allen mendongak terkejut saat mengetahui ternyata Kanda yang menarik tangannya. Dan kembali terkejut saat melihat raut wajah serius dari Kanda.

"Senang bertemu denganmu pangeran, maaf kalau aku lancang menyapa tunanganmu." Ucap Tyki dengan sebuah senyuman yang membuat Kanda semakin jengah.

"Ceh, syukurlah kalau kau sadar." Balas Kanda. Allen hanya mampu terdiam, entah kenapa tekanan udara terasa berat membuatnya susah bernafas. Tanpa sadar Allen justru mengeratkan gengggaman tangannya. Entah sadar atau tidak Kanda sejak tadi tak melepaskan genggamannya di tangan Allen.

"Yuu-chan, All-chan, apa kalian sedang ada tamu?" Lavi muncul bersama Lenalee. "Oh Tyki Mikk rupanya," Lavi tersenyum.

'Orang ini, kenapa dia bisa berada di sini.' Batin Lenalee was was.

"Sepertinya aku mengganggu, kalau begitu aku permisi dulu." Pamit Tyki sambil membungkuk hormat khas bangsawan. Lalu tersenyum menatap Allen.

"Jangan pernah bicara pada orang asing. Terutama orang tadi," Ucap Kanda sambil menarik tangan Allen dan berjalan.

"Eh? Ka-Kanda-san..kita mau kemana?" Tanya Allen.

"Sebaiknya kita pulang sekarang All-chan," Lavi menghampiri Allen dan tersenyum.

'Ada apa ini? Memangnya siapa pria tadi?' Batin Allen tak mengerti. Semuanya jadi bersikap aneh saat orang asing itu datang. Akhirnya Allen pun hanya mengikuti tarikan tangan Kanda walaupun sedikit kesusahan mengikuti langkahnya. Mungkin ini bukan saatnya untuk bertanya.

TBC

Ckckckck... cape ngetik jadi Kirin update aja segini?

Adakah yang mau mendonorkan reviewnya? Hahahaa...

Balasan review

Nee-chan

Hahahaa.. arigato ya nee.. semoga chap ini juga gak mengecewakan.

Wah ternyata lemon nha masuk dalam kategori hot ya? Gx nyangka XD

Iya rasanya Lavi tokoh yg cocok buat jadi pamannya Allen. soalnya dia bakalan sering godain Kanda dengan cara nemplokin si Moyashi. Kalau soal tokoh yang lainnya nanti di chap tiga bakal nambah lagi. Soal sikap Kanda...yah... pelan-pelan mungkin (?) berubah. Hahaa.. arigato nee RnR nha.

.

Rye Yureka

Salam kenal ^_^

Hahahaa,, yah Yuu marah tuh makanya beringas XP

Iya, Allen tunangannya Yuu yang dipilihin sama kakeknya.

.

Rikkagii Fujiyama

Hahahaa terimakasih ^_^ ini udah Kirin update chap duanya, semoga masih bersedia RnR

.

Griffo 205

Mpreg ya? Yah kita ikutin aja dulu alurnya.. heheee.. arigato RnR nya..

.

YukiMiku

Arigato RnR nya.. semoga chap ini juga gak mengecewakan ^_^

.

Madness break

Iya, ini diadaptasi dari manga dengan judul yang sama ^_^

Semoga chap ini juga gak mengecewakan, arigato RnR nyaa..

.

AoiFuu

Salam kenal juga, iya akhirnya Kirin bikin Yullen jg XD

Wah hobi kita samaaaa... kirin juga penganut siapapun semenya yang penting keren, Gaara lah ukenya. Hahahaaa

Kirin Cuma baca yang bhs. Indo.. bhs Inggrik Kirin payah, hehee.. gomen NaruGaa nya masih belum ada yang Kirin update.

.

Baka-Rii-chan

Hahahaa.. gomen gomen.. Kirin udah bikin peran Kanda jd kejam XP

Kasih Kanda ganjaran ya? Gak ah nanti Kirin kena marah Moyashi.. hahaa...

Arigato ya RnR nya.. semoga masih bersedia RnR lagi.

.

Luckygirl 14

Arigato ^_^

Semoga chap ini juga gx mengecewakan.

.

Yosh! Kirin tunggu kritik dan sarannya.