Yeah! I know! It has been more than one month!

Yup! Hiatus lebih dari sebulan, akhirnya Nana bisa balik lagi! (:

Alasan? Banyak!

Dan yg alasan paling nggak enak adalah.. acc FFn yg sempat nggak bisa di buka... -_-

Harusnya Nana update beberapa hari yang lalu, tapi mendadak account nggak bisa di buka... terpaksa mundur... #pundung

Gray : Yah.. itu yang di sebut dengan nggak beruntung!

Nana : (Cengok ngeliat Gray)

Gray : (Ikut cengok ngeliat Nana)

Setelah cengok-cengok'an selama enam jam... #hoi!

Nana : (poker face) Lu ngapain di sini, Gray?

Gray : (poker face) Gua juga nggak tau. Na.

... oke! Lupakan!

Gray : Yo minna! Karena Nana lagi bad mood dengan manusia bernama Sting! Jadi akulah yg akan menemainya di A/N utk beberapa chappy ini! Yoroshiku ne! ^^

Oke! Nanti aja berbacotnya di bawah Gray!

Happy Reading minna! :)


Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fairy Tail Fanfiction

Is He Really That Nerd?

By Nnatsuki

Warning : AU, Typo(s), OOC, Failed Humor, The Nerd Natsu.

Chapter 7

.

Wanna make you my somebody

Wanna see this world with you

So hard to find love like this

Chances are far and few

Alunan musik merdu yang memanjakan telinga milik seorang pemuda berambut raven yang tengah memejamkan matanya, bibirnya bergerak-gerak sedikit ikut menyanyikan lirik yang telah terekam di pikirannya, kedua tangannya di posisikan sebagai bantal bagi kepalanya.

Yup! Siapa lagi kalau bukan Gray Fullbuster yang tengah hanyut dalam melodi lagu yang kini menjadi lagu favoritnya.

Thanks to Juvia who has recommended that song to him.

Gray menghembuskan nafas pelan. Rasanya hari seperti ini sangatlah jarang di dapatnya. Biasanya dia yang sibuk mengerjakan tugas kini dapat duduk tenang dengan posisi terbaik sambil mendengarkan lagu dari hand phone-nya. Tentunya dia menggunakan head set agar hanya dirinya yang dapat menikmati lagu yang di nyanyikan sangat professional oleh si penyanyi.

Brak!

Kedua mata Gray terbuka kaget. Dia langsung bangkit dari posisi duduknya dengan sikap siap meninju orang yang sudah merusak acara hiburannya.

Mata dark blue-nya menatap tajam ke arah samping kanannya, sumber suara keras yang sudah berani mengagetkannya.

Dan ternyata pelaku atas kekagetan Gray adalah temannya yang berambut pink, Natsu Dragneel.

"Dragneel! Beraninya kau mengagetkanku! Dan dari mana suara keras itu?!" Hardik Gray.

Natsu memandangnya dengan pandangan aneh. Lalu menggerakkan jari telunjuk kanannya menunjuk tasnya sendiri.

"Apa sih yang kau bawa di dalam tasmu?! Batu?!" Keluh Gray sambil kembali duduk di kursi taman.

Oh yeah! Mereka berdua tengah berada di taman yang dekat dengan Coffee Lovers berada.

Natsu tak memedulikan perkataan Gray. Dia ikut duduk di bangku taman sambil menyerahkan sebuah kaleng kopi instan.

"Heh?! Kenapa tiba-tiba kau membelikanku kopi?!" Tanya Gray.

Natsu mendengus keras, "Bodoh! Mana sudi aku membelikanmu! Ini titipan Juvia!"

Mendengar nama kekasihnya di sebut, Gray barulah menyadari…

Kemana perginya Juvia?!

"Hei! Kenapa Juvia tidak ada?! Kemana dia?!" Seru Gray panik sambil berdiri dari tempatnya untuk kali kedua.

"Hei! Hei! Calm down, Ice lover! Juvia sedang menemani Luce ke toko buku!" Jelas Natsu.

Gray menghela nafas lega. Kembali duduk sambil mengambil kopi instan dari tangan Natsu dan bergumam 'Terima kasih'.

Gray membuka pengait kaleng itu tanpa kesulitan. Dia langsung meminum kopi instan dingin itu dalam tegukan besar.

Man! What a delicious coffee!

Gray melirik ke arah Natsu, yang tengah meminum kopi instan-nya dalam diam.

"Jangan bilang kalau Juvia juga membelikanmu?!"

Natsu meneguk kopinya sebelum menjawab, "Jangan khawatir, Ice Lover! Aku sendiri yang membelinya!"

"Don't call me like that, Flame-head!"

"Whatever, Ice-Brain!"

Gray menyeringai mendengarnya. Natsu yang melihat saha- oh no! no! Rival sejatinya ikut menyeringai.

"Long time not to see you like this, Hot-head!" Ujar Gray melemparkan Bro Fist-nya ke arah Natsu.

Natsu tertawa sambil membalas tinju tangan Gray, "What? Miss me already, Fullbuster?"

"In your dream, Dragneel!" Balas Gray sambil membereskan Head Set-nya, berkat gangguan tas Natsu yang beratnya mirip berat gunung itu membuat mood untuk mendengar musiknya hilang.

"Ngomong-ngomong… Jellal dan Erza lama sekali! Selama inikah hanya untuk mengambil mobil?!" Gray yang tengah mengontak-antik hand phone-nya melirik Natsu.

"Kau tau sendiri Erza! Sekali saja tertarik dengan suatu barang di toko, satu jam kemudian baru dia akan keluar!" Jawab Gray kembali mengantongi ponselnya.

"Typical Erza… " Natsu terkekeh mendengar kalimat itu dari Gray. Dia meneguk tegukan terakhir kopinya. Lalu melempar kaleng kopi kosong itu ke kotak sampah yang letaknya sekitar lima meter dari tempat mereka duduk.

"You know Flame-head… you look uglier with that stupid glasses!" Komentar Gray out of blue sambil melempar kaleng kopinya ke tempat yang sama.

"Nah! Just shut the hell up, Ice-brain!" Ucap Natsu ketus.

"Lagipula… aku bukan kau yang memohon-mohon memintaku mengantarkan surat cinta ke Juvia!" Balas Natsu.

"Well… aku sangat berterima kasih padamu saat itu! Dan sangat tidak sopan untuk membawa-bawa masa lalu!" Kecam Gray.

"Heh! Since when a stupid Ice Lover like you know a word 'politeness'?!" Balas Natsu.

"What the-"

"GRAY-SAMAAAAAA!"

Pasangan rival ini menghentikan aktivitas saling mengejek mereka karena mendengar suara familiar yang jelas adalah milik sang ketua klub renang ini.

"Yo Juvia!" Sapa Gray seraya menangkap Juvia yang menghambur memeluknya.

"Gomenne, Gray-sama! Juvia terlalu lama! Juvia terpaku melihat pulpen yang sangat imut!" Ungkap Juvia. Gray tertawa mendengar alasan Juvia, yang Gray tahu memang benar. Kadang Juvia bisa bersikap lucu.

"Tak apa! Ohya! Thanks for the coffee, beautiful!" Gray mengecup pipi kanan Juvia.

Mmm…. Apa mereka benar-benar melupakan akan Natsu dan Lucy yang tengah memerhatikan mereka?

"Syukurlah kau cepat kembali, Juvia! Aku sudah kesal bersama dengan si Fla- Gah!" Kalimat Gray terpotong berkat serangan mendadak dari Natsu berupa injakan keras di kaki.

"Jadi Juvia… apa kau jadi membeli pulpen itu?" Tanya Natsu membelokkan cerita.

"Hai! Juvia membeli pulpen yang sesuai dengan warna kesukaan Juvia, biru!"

"Haha! Syukurlah!" Jawab Natsu. Gray tengah mengelus-elus kaki kanannya yang telah mendapat hadiah indah dari Natsu. Death-glare dari Gray di anggap angin lalu oleh Natsu.

Rrrr…. Rrr….

"Sebentar… " Natsu mengambil ponselnya dari kantung celananya. Panggilan masuk dari Jellal.

"Halo?"

"Hei Natsu! Cepat kalian menuju ke pintu masuk taman! Aku dan Jellal sudah sampai!" Suara tegas itu jelas milik Erza.

"Hai! Hai!" Natsu lalu mematikan sambungan teleponnya.

"Apa yang di katakan Jellal?" Tanya Lucy yang sejak tadi diam.

"Mereka sudah sampai di pintu masuk taman. Ayo kesana!" Ajak Natsu.

Keempat murid ini lalu berjalan menuju pintu taman yang tak jauh dari posisi mereka tadi. Dan benar saja, sebuah mobil MPV Subaru berwarna hitam sudah menunggu mereka.

"Ingat! Gray dan Juvia di belakang!" Jelas Jellal saat mereka sudah sampai.

Tanpa protes dari Gray (karena terakhir menggunakan mobil Jellal, Natsulah yang di belakang) mereka berdua memasuki mobil. Juvia terlebih dahulu dan di susul Gray. Natsu lalu merapikan kembali kursi yang tadinya di lipat Gray untuk membuka jalan baginya dan Juvia ke kursi belakang.

Natsu dan Lucy yang cukup beruntung untuk duduk di kursi tengah, dengan Natsu di kursi tepat belakang pengemudi dan Lucy di sebelahnya, di belakang kursi Erza.

"Yap! Semuanya tidak ada yang tertinggal, kan?" Tanya Erza yang duduk di kursi sebelah pengemudi. Jellal sebagai pengemudi mobil.

"Hai!" Jawab keempatnya.

"Maaf sebelumnya, tadi Erza sibuk berdiri melihat baju cosplay. Dan kalian tahu sendiri kalau nona muda ini sudah memasuki toko sangatlah sulit menyuruhnya keluar," Jellal tertawa kecil sembari menghindar dari kepalan tangan Erza yang hendak memukulnya.

Natsu dan Gray mendengus kecil, tepat sekali dugaan mereka…

"Hei minna! Are you hungry?" Tanya Jellal tiba-tiba.

Gray dan Natsu memiringkan kepala mereka ke kanan (secara mengejutkan reaksi mereka sama!), heran akan pertanyaan yang… sangat umum namun mengena di hati (?).

"Kenapa kau, Jellal? Mau mentraktir kami?!" Typical Gray, yang selalu menanti traktiran.

"Aku mau Strawberry Cake!" Typical Erza, yang tak pernah bosan memakan makanan manis.

"Juvia hari ini ingin makan Ramen," Typical Juvia, yang mempunyai mood dalam masalah makan.

''Sepertinya aku hanya akan memakan sedikit… " Typical Lucy, yang menjaga pola makanannya.

"Apapun yang akan kau traktir, Jellal… pasti kumakan… " Typical Natsu, pemakan segala…

"Kalian ini punya favorit sendiri-sendiri ya…?" Jellal sweat dropped mendengar pendapat teman-temannya. Dia ingat kalau teman-temannya ini berasal dari divisi yang berbeda.

"Well… kalian tahu kalu sekarang sedang ada festival yang baru di buka hari ini?" Tanya Jellal.

"Tidak," Jawab kelimanya kompak.

"Lagi pula festival apa?" Tanya Erza.

"Festival komputer…?" Tanya Gray.

"Festival kendo…?" Tanya Erza.

"Festival renang…?" Tanya Juvia.

"Festival novel…?" Tanya Lucy.

"Festival fotografi…?" Tanya Natsu.

'Beda orang, beda minat… ' Batin Jellal.

"Bukan… tapi festival… " Potong Jellal.

"Festival…?" Tanya kelimanya kompak.

"Makanan… "

Hening.

Erza membuka dashboard dan mengambil peta kota Magnolia.

"Jellal! beritahu aku di mana letak festival itu!"

Jika Erza sudah mengeluarkan perintah, mau tidak mau, turutilah perintah itu.

Well… sepertinya keempat murid di belakang tidak merasa keberatan. Lihat senyum lebar yang terukir di wajah mereka yang mirip dengan senyum anak lima tahun yang di beri permen oleh ibunya.

-000XXX000-

Mobil yang di tumpangi enam sekawan ini telah sampai di sebuah lapangan yang luasnya tiga kali luas lapangan sepak bola. Di penuhi dengan tenda-tenda yang berwarna-warni. Banyak orang-orang yang lalu lalang memasuki wilayah di mana festival itu berlangsung. Dari yang tua sampai muda, bersama teman atau keluarga, laki-laki atau perempuan, semuanya memiliki emosi yang sama di wajah mereka, bahagia.

Namun yang paling menggoda dari tempat ini hanya satu.

Wangi dari segala jenis makanan yang menguar dan membuat Mr and Miss stomach semakin bersuara minta di isi.

"Yup! Ayo semuanya!" Ajak Jellal. Syukurlah mareka bisa menemukan tempat parkir karena tempat parkir festival ini padatnya luar biasa.

Kini mereka hanya berjalan sedikit ke tempat pembelian tiket.

"Karena aku yang ingin mentraktir kalian, jadi aku yang akan membelikan tiketnya," Kata Jellal, yang di sambut angukan semangat teman-temannya.

"Tapi sepertinya butuh waktu lama untuk mendapatkan tiketnya… " Gumam Lucy.

"Eh?" Kelima temannya langsung menoleh ke arah loket pembelian tiket.

Yang antriannya sangat, sangat panjang…

Mungkin… akan menghabiskan berjam-jam untuk antri…

Melihatnya keenam murid ini langsung berhenti berjalan.

"Bagaimana Jellal?" Tanya Erza. Impiannya untuk makan sepuasnya sedikit hancur melihat antrian yang… wow

"Nah! Don't worry about it!" Jellal terus berjalan ke arah loket itu, membuat semua temannya memandangnya heran akan kesabarannya untuk mengantri.

"Natsu! Kau ikut aku!" Tanpa sempat menjawab, Natsu sudah di ta- bukan! Di seret oleh Jellal untuk ikut dengannya.

"H-hei Jellal! Kenapa aku harus ikut?!" Bentak Natsu di saat jarak mereka sudah jauh dari yang lainnya.

"Nah Natsu! Bukannya dalam hati kau yang paling ingin masuk ke sana…?" Tanya Jellal sambil menyeringai. Natsu tak menjawab, namun Jellal tahu di balik kacamata tebalnya, Natsu tengah mendeath-glare-nya.

"Awas kau nanti!"

Sedangkan keempat murid yang lain, tengah menyusun rencana.

"Pokoknya kita harus ke tempat penjual kue! Aku ingin makan Starwberry cake!" Seru Erza.

"Hei! Masa kita makan kue dahulu! Kita harus ke penjual makanan yang berat, seperti ramen!" Seru Gray.

Sepertinya, yang lebih tepat adalah dua murid yang tengah bertengkar soal makanan mana yang akan di santap terlebih dahulu.

"Penjual kue dulu!

"Penjual ramen dulu!"

"Kue!"

"Ramen!"

"Kue!"

"Ra-"

"Bagaimana kalau Jellal-san yang memutuskan? Kita di traktir olehnya, jadi dialah yang harus memutuskannya," Juvia dengan bijak melerai sahabat dan kekasihnya.

"Yah… itu lebih bagus… " Gumam Erza dan Gray cemberut. Lucy sweat dropped akan tingkah mereka yang mirip anak umur tujuh tahun.

"Yo minna!" Suara Jellal memecah suasana suram Erza dan Gray.

Mereka menoleh ke arah ketua OSIS sekolah mereka. Jellal melambai ke arah mereka dengan wajah senang. Sedangkan Natsu? Gloomy-gloomy face.

Keempatnya terbelalak melihat kedatangan Natsu dan Jellal. Sihir apa yang mereka gunakan hingga bisa secepat ini membeli tiket?!

"Jellal… kau tidak memotong antrian kan?" Tanya Erza.

"Tidak! Hanya sedikit trik… iyakan, Natsu?" Tanya Jellal menoleh ke arah Natsu. Natsu hanya mendengus keras.

"Natsu? Kenapa kamu tiba-tiba suram?" Tanya Lucy.

"Tidak Luce. Tak apa-apa," Jawab Natsu yang sempat melempar death-glare keenamnya ke Jellal dan yang pertama untuk Gray yang tengah menahan tawa.

"Baik! Kita sudah mendapat tiket! Sekarang akan kujelaskan dulu mengenai festival ini!" Ungkap Jellal. Semuanya langsung mendekat ke arah Jellal, minus Natsu yang sedikit di paksa Lucy.

"Coba lihat nama festival ini!" Jellal menunjuk ke arah spanduk besar yang ada di atas.

Food Hunting's Days.

"Intinya, festival ini adalah festival di mana kita bisa berburu semua makanan! Makanan tradisional maupun modern, ada! Kita cukup membeli tiket masuk dan kita bisa seharian berburu makanan sepuasnya!"

Mendengar kata 'sepuasnya' membuat semua mata berbinar, bahkan mood Natsu langsung membaik.

"Tapi… " Ohno! Kata Tapi biasanya akan menghambat perburuan ini…

"Bukan berarti kita tidak mendapat tantangan, memang kita bisa makan sepuasnya, tapi… si pemilik stan akan memberikan tantangan jika kita datang ke tempatnya! Tantangan yang di berikan sesuka hati si pemilik stan! Jadi mulai sekarang aku berharap kita semua bisa bekerja sama dalam perburuan kita!" Jellal menyudahi pidato singkatnya.

-000XXX000-

"Ya ampun… aku tak akan menyangka akan seramai ini!" Ujar Lucy.

"Maklum… ini hari pertama festival ini baru di buka… " Timpal Natsu.

Kini keenam pemburu makanan yang tengah mencari mangsa telah berada di tengah lautan pemburu lainnya. Cukup sulit karena banyak stan yang sudah ramai di datangi pemburu.

"Begini, lebih baik kita mendatangi stan yang sepi, aku yakin pasti semua makanan di sini enak-enak!" Usul Jellal.

"Kalau begitu… bagaimana dengan stan yang ada di sana?" Juvia menunjuk stan yang terletak seratus meter di depan mereka.

"Stan cumi bakar? Bagaimana?" Tanya Gray.

"Aku tak masalah," Jawab Natsu mewakili yang lainnya.

"Kalau begitu-"

"Minna! Cepatlah sedikit!" Kalimat Jellal terpotong akan teriakan Erza yang…. entah sejak kapan sudah ada di depan stan.

Yang lainnya hanya bisa sweat dropped melihatnya. Bahkan Erza pun akan menggila jika sedang lapar…

"Selamat datang! Kalian yang tamu yang… ke-158!" Sambut si pemilik stan, seorang kakek yang tengah mengipasi cumi-cumi bakar yang tengah di pelototi oleh keenamnya.

'Wah… cumi-cuminya besar semua!' Jangan tanya kenapa pikiran mereka berenam bisa sama.

"Ehem!" Deheman keras dari si kakek menyadarkan lamunan keenam pemburu lapar ini.

"Baik! Sekarang siapkan diri kalian! Berdiri dengan posisi siap!" Tiba-tiba nada bicara kakek itu berubah dari yang ramah menjadi tegas, khas militer.

Keenam pemburu ini kaget akan perintah si kakek, tapi demi mendapatkan cumi-cumi bakar gratis… mereka langsung melakukannya.

"Tangan di kepal! Ibu jari di depan keempat jari! Bahu tegap! Wajah condong ke depan! Mata berada pada satu titik!" Lanjut kakek itu.

"Yang laki-laki, busungkan dada kalian! Jangan seperti banci!"

Oke. Mungkin memang ada tantangannya, tapi bukan yang seperti militer ini.

"Tutup mata kalian!" Tanpa di suruh dua kali, semuanya pelan-pelan memejamkan matanya.

"Awas! Jangan sampai aku tahu ada yang mengintip!"

Semuanya memejamkan mata kuat-kuat. Lutut mereka gemetar. Tangan di kepal kuat-kuat menahan rasa takut, cemas, penasaran dan lainnya. Keringat dingin mulai turun dari pelipis mereka.

Mendadak suasana menjadi sangat… menengangkan.

"Sekarang! Pasang pose kalian yang paling konyol!"

Huh?

"Cepat!"

Lakukan saja dari pada tidak dapat cumi-cumi bakar!

Keenam bahu milik pemburu ini sedikit di turunkan. Kepalan tangan mereka di buka. Dan mulai mereka memasang pose yang dapat menurunkan harga diri.

Demi keselamatan… sebaiknya jangan membayangkan pose apa yang mereka praktekkan!

Klik!

Eh? Kenapa ada bunyi seperti…

"Nah! Buka mata kalian!"

Keenam pemburu itu membuka mata mereka (masih dalam pose konyolnya… ) mendapati kakek itu tengah tersenyum licik dengan memegang kamera.

Jangan-jangan…

"HAHAHAHAHA! Kalian memiliki pose konyol terbaik!" Tawa kakek itu sambil menunjukkan foto pose konyol mereka yang…. Wow…

"…"

"Akan kupajang di restoranku sepulang nanti!"

"JII-SAAAAAAAANNN!"

Well… selamat akan keberhasilan kalian menghasilkan… foto konyol terbaik…

"Hahaha! Silakan kalian makan sepuasnya!"

Keenam pemburu malang ini langsung menduduki kursi yang sudah di siapkan di depan stan kakek licik ini.

Rupanya… harga diri juga dipertaruhkan dalam pemburuan ini… tak pernah di sangka-sangka oleh keenam pemburu muda ini…

Tapi! Jangan lupa akan kepintaran (atau kelicikan?) yang di miliki oleh pemburu kita ini.

"Itadakimassu!" Seru keenamnya kompak. Para gadis menunggu dengan sabar si kakek menaruh cumi bakar mereka di atas piring. Dan para pemuda? Langsung mengambil cumi-cumi bakar itu dari tempat pembakarannya.

"Hei kalian! Tidak sopan!" Gertak Erza.

"Hahaha! Tak apa, nona! Aku suka anak muda yang bersemangat memakan cumi-cumi bakarku!" Ujar kakek itu.

'Bukan bersemangat, tapi ini sudah terlalu lapar!' Sekali lagi jangan tanya kenapa pikiran mereka bisa sama…

"Sepertinya festival ini baru saja di buka ya?" Tanya Juvia.

"Iya! Cukup menarik juga! Keuntungannya juga lumayan! Sekaligus untuk promosi juga!" Jawab si kakek yang tengah mengipasi cumi-cumi bakar. Pesanan para pemuda lapar ini. (Kenapa makanan mereka sudah habis?! Begitu laparkah mereka?!)

"Kalau begitu, berjuanglah Jii-san! Jangan sampai kalah dari yang lain!" Sorak Lucy.

"Hahaha! Selain anak muda yang bersemangat, aku juga suka gadis muda! Kuberi tambahan untuk gadis-gadis cantik seperti kalian!" Jawab kakek itu sambil mengenip genit. Para pemuda kita langsung menghentikan acara makan mereka dan menatap tajam kakek itu seolah mengirim pesan Dare-to-flirt-them-or-I-will -kill-you!

"Baiklah! Saatnya kita pergi! Permisi!" Sahut Jellal mewakili Natsu dan Gray. Menyadari akan tak amannya berlama-lama berada di stan kakek genit ini.

"Sayang sekali… boleh aku berfoto bersama kalian, nona-nona?" Tanya kakek itu.

Namun kakek itu langsung tutup mulut melihat ketiga pemuda itu menunjukkan kepalan tangan mereka seolah mereka tak sengan melemparkan kepalan itu ke wajahnya.

Keenam pemburu yang cukup kenyang namun belum puas kembali berjalan sambil melihat sekeliling, mencari mangsa kedua.

"Hei. Kalian tak haus?" Natsu angkat bicara.

"Mau mencari minum sebelum mencari makanan lain?" Tanya Jellal. Semuanya menganguk setuju.

"Lihat! Ada penjual minuman di sana!" Gray menunjuk ke arah kiri mereka, tiga meter dari tempat mereka sebuah stan yang menyediakan Bubble Tea.

"Bubble Tea? Boleh juga," Komentar mereka.

Mendengar komentar komandan kelompok mereka, langkah keenamnya di arahkan ke tenda berwarna hijau muda itu.

"Selamat datang! Namaku Maki! Kalian sudah siap dengan tantangan yang akan kuberikan?" Seorang gadis ceria yang nampak seumuran dengan mereka menyambut kedatangan keenam pemburu yang kali ini haus.

Keenamnya menganguk mantap dengan mata berbinar serius. Namun dalam hari berharap tak perlu harus menggantung harga diri mereka.

"Nah! Salah satu dari kalian harus meminum habis Bubble Tea spesial buatan toko kami!"

Hanya meminum Bubble Tea? Sounds easy!

"Nama Bubble Tea itu adalah Bubble Tea pengantar kematian!"

Ooww…

"Jadi… siapa yang ingin berkorban?"

Keenam pemburu itu saling melirik satu sama lain.

"Kalian!" Erza menunjuk ke arah tiga pemuda kita.

"Apa?! kenapa harus kami?!" Protes ketiganya bersamaan.

"Kalian ini laki-laki atau bukan?" Ingat, kalimat orang bijak, laki-laki harus mengalah dari perempuan.

Ketiga calon korban kita tengah menatap serius satu sama lain.

"Kalau begini… "

"Hanya ada satu cara… "

"Yaitu… "

Ketiganya mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

"JANKEN!"

Ketiga gadis itu dengan Maki hanya sweat dropped melihat para pemuda itu.

Hasilnya?

Natsu dan Gray mengeluarkan batu, Jellal mengeluarkan gunting.

"Jellal… " Natsu dan Gray tersenyum jahat. Jellal bergidik ngeri.

"Jellal! Cepat minum!" Titah dari kekasihnya membuat Jellal semakin tak bisa berkutik.

"Silakan!" Maki memberikan sebuah gelas besar yang panjangnya tiga puluh senti berisi Bubble Tea berwarna hijau pekat. Entah apa bahan dari Bubble Tea terkutuk itu…

Jellal menelan ludah sebelum mengambil gelas besar itu. keringat dingin kembali membasahi pelipisnya.

Mungkin… seperti ini rasanya saat orang ingin di eksekusi…

Jellal mengangkat gelas itu dengan lambat. Seolah ingin menunda detik kematiannya. Dan akhirnya satu tegukan berhasil masuk ke tenggorakan pemuda berambut azure ini.

Seketika… wajah Jellal berubah warna menjadi ungu.

"Ugh! Minuman macam apa ini?!" Umpat Jellal membanting gelas itu ke meja dan memijat-mijat lehernya.

Natsu dan Gray dengan kejamnya malah tertawa melihat penderitaan Jellal.

Erza menggeleng pelan. Dia mendekati Jellal. Lalu di tuntunannya Jellal untuk duduk ke kursi yang ada di depan stan itu. Erza menepuk punggung Jellal sambil tersenyum kecil.

"Erza… " Jellal merasa senang akan kepedulian kekasihnya.

"Jellal… " Erza meremas kecil bahu Jellal sebelum mengambil kembali gelas minuman nista itu.

"Kau harus meminumnya!" Tanpa di sangka-sangka Erza meminumkan minuman itu dengan paksa ke Jellal.

"Ugh! Erza! Aku- UAAHHH!"

"HUAHAHAHAHA!" Natsu… Gray… tidak seharusnya kalian menertawai teman kalian…

"Hihihi… " Lucy dan Juvia… mengikuti jejak kedua pemuda itu…

"Habiskan Jellal!" Perintah Erza yang terus meminumkan minuman mengerikan itu, tanpa memberikan kesempatan untuk Jellal berhenti.

Sedangkan Maki hanya tersenyum miris melihat pasangan itu…

Lima menit kemudian… minuman itu habis, berpindah ke dalam perut Jellal.

Jellal? Keadaannya setengah sadar setengah tidak… wajahnya sudah berubah warna menjadi ungu muda (tak ada peubahan sepertinya…)

"Jellal… kau tidak apa?" Tanya Erza menggoyang-goyang pelan tubuh Jellal.

Erza… kau tidak bisa membaca mimik wajah ya…? Jellal sudah seperti orang sekarat!

"Yo Jellal! Lihat ke sini!" Suara Natsu membuat kedua mata Jellal terbuka dan melirik ke arah sebelah kanannya.

Natsu dan Gray duduk di sebelahnya, dengan Natsu yang memegang kameranya.

"Natsu… " Geram Jellal. Natsu hanya tersenyum licik sambil menekan tombol shutter.

Klik!

Natsu langsung melihat hasilnya. Seketika Natsu menaruh kameranya di meja stan dan menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya yang sudah memerah karena terlalu banyak tertawa. Gray yang melihatnya langsung mengambil kamera Natsu untuk melihat gambar yang di ambil Natsu barusan, seketika juga Gray meletakan kembali kamera Natsu dan memegang perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.

Jellal menatap tajam mereka. Namun tatapan dan mimik wajahnya sama sekali tidak cocok.

"Awas kalian nanti… " Ucap Jellal.

"Karena kalian sudah memenuhi tantangannya! Silakan kalian memilih Bubble Tea-nya!" Seru Maki.

"Aku Strawberry Bubble Tea!" Erza seperti biasa, Strawberry

"Aku pilih Peach Bubble Tea," Jawab Lucy.

"Juvia memilih Blueberry Bubble Tea!" Jawab Juvia.

"Aku Grape Bubble Tea!" Jawab Gray.

"Aku Avocado Bubble Tea," Jawab Natsu.

"Aku... Melon… " Ucap Jellal lemah.

"Baik!" Maki segera menuju ke dapurnya untuk membuat pesanan.

"Jellal-san, terima kasih sudah bantuannya!" Ujar Juvia.

Jellal menganguk. Pelan-pelan dia mendaratkan kepalanya ke atas meja stan. Kepalanya terasa pusing sekali. Entah apa karena minuman nista itu atau karena syok Erza sungguh tega memaksanya meminum minuman… yah… tak perlu di bahas lagi…

"Karena Jellal terlihat tidak bisa di korbankan lagi, maka di antara kalian berdua yang akan menjadi korban selanjutnya!" Jelas Erza tegas dengan tatapan berani-membantah-habislah kalian!

Jellal menyeringai kecil melihat Natsu dan Gray tengah menelan ludah sambil menganguk-anguk cepat.

'Ha! Sekarang giliran kalian yang menderita!' Seru Jellal sambil tertawa jahat di dalam hati.

"KIra-kira… kita mau ke stan apa lagi?" Tanya Juvia seraya ingin mengubah suasana.

"Stan kue!" Oke! Kita tak bisa menolak usulan Erza. Jellal sudah tumbang, otomatis Erzalah yang mengambil alih jabatan.

"Etoo… keadaan Jellal sekarang tidak memungkinkannya menyetir mobil… jadi siapa yang akan menyetir mobil…?" Tanya Lucy.

"Jangan khawatir! Natsu dan Gray bisa menyetir mobil! Kalaupun mereka tumbang, aku yang akan menyetir mobil!" Jawab Erza.

Natsu, Gray dan Juvia bergidik ngeri.

Oh tidak! Jika Erza sudah duduk di kursi pengemudi dan menyetir mobil… sama saja mengantar penumpangnya ke ruma sakit…

"Silakan pesanan kalian!" Maki datang membawa satu-satu pesanan keenam pemburu ini.

"Baiklah! kita minum sambil melihat stan lain! Maki, terima kasih untuk Bubble Tea-nya!" Ucap Erza mewakili teman-temannya.

"Sama-sama! Ohya, Ini! Jika ada waktu datanglah ke tokoku!" Maki memberikan sebuah brosur mini ke Lucy.

"Akan kami usahakan! Terima kasih banyak, Maki!" Ucap Lucy.

"Tak masalah! Sampai jumpa!" Maki melambaikan tangan kepada kelima pemburu (minus Jellal) yang tegah berdiri dari tempat duduk mereka.

"Natsu! Gray! Bawa Jellal! Lucy dan Juvia! Bawakan minuman mereka! Aku akan membawakan minuman Jellal!" Titah Erza. Keempatnya menganguk dan melakukan tugasnya tanpa protes.

"Hei dude! You look horrible… " Komentar Gray sambil menaruh tangan kiri Jellal di sekeliling belakang lehernya.

"Yeah! Where is your cool face?" Komentar Natsu sambil melakukan hal yang sama dengan tangan kanan Jellal.

"Just shut up guys… " Natsu dan Gray hanya tertawa kecil sambil berjalan mengikuti para gadis dengan membopong Jellal.

Mata caramel Erza berusaha mencari sebuah stan yang menyediakan kue, yang sayang cukup sulit mencarinya karena ramai para pemburu makanan yang hilir mudik keluar masuk stan.

Namun tiba-tiba hitung mancungnya yang sensitif terhadap bau kue mulai bekerja.

"Minna! di sana ada stan kue!" Seru Erza riang.

Mereka semua mengikuti Erza yang sudah berjalan cepat ke arah stan yang untungnya tengah sepi. Erza yang telah sampai di depan stan dengan mata yang berbinar-binar senang. Setidaknya Erza tidak sampai melepas kedua Bubble Tea yang tengah dia bawa…

"Selamat datang! Anda hanya sendiri?" Tanya seorang wanita muda yang di duga adalah pemilik stan kue ini.

"Ti-tidak … a-aku bersama dengan teman-temanku… " Jawab Erza gagap. Bukan! Bukan gagap karena takut akan tantangannya nanti. Tapi karena sudah tidak sabar melahap Strawberry cake yang telah terpajang manis di depannya. Tepat setelahnya kelima pemburu kita tiba.

"Sepertinya sudah lengkap! Baiklah! Silakan duduk terlebih dahulu! Saya akan pergi menyiapkan tantangan kalian!" Wanita itu pergi ke dapurnya.

Para gadis langsung duduk dengan tertib sambil menaruh minuman yang mereka bawa. Natsu dan Gray juga mendudukkan Jellal ke kursi dan Jellal langsung mendaratkan kepalanya ke meja stan, sepertinya rasa pusingnya masih belum sembuh.

"Maaf membuat kalian menunggu… " Suara ramah wanita muda out menarik perhatian kelima pemburu ini. Wanita itu datang dengan sebuah nampan besar dengan enam potong Cheese cake.

"Nah… akan kujelaskan tantangan ini," Erza langsung bergerak maju dengan wajah yang terlampau serius, membuat keempat temannya sweat dropped dan wanita muda itu tersenyum.

"Di sini… masing-masing dari kalian akan memakan sepotong Cheese cake ini… "

Hehe… tak masalah…

"Namun… di salah satu kue ini, aku menaruh wasabi di dalamnya… "

"…. "

Nah… ini yang kita sebut sebagai 'keberuntungan'!

"Ugh… " Jellal menggeliat tak nyaman, merasa cemas akan 'keberuntungan'-nya hari ini.

"Nah… silakan kalian pilih… " Wanita itu menaruh nampan kuenya di depan keenam pemburu kita yang tengah berdoa mengharapkan keberuntungan besar mendatangi mereka.

Kelimanya menghirup nafas panjang. Secara bergantian mengambil kuenya. Sayangnya Jellal… yang mendapat sisa kue karena dia masih terlalu lemas bergerak.

"Aku akan menghabiskan kueku dulu, Jellal. Setelahnya akan kusuapi kuemu," Ujar Erza yang tengah memotong potongan pertama kuenya.

Jellal hanya menganguk pasrah. Setidaknya nanti Erza akan menyuapinya… semoga dengan cara yang lebih lembut…

Kelima pemburu ini sudah menyiapkan potongan pertama di depan mulut mereka. Berharap-harap cemas bukan kue mereka yang di isi wasabi.

Satu suapan kue memasuki mulut mereka, dengan mengunyah perlahan dan menelannya.

Hasilnya?

"Tidak terasa ada wasabi!" Seru kelimanya kompak.

Wanita muda itu tersenyum, "Wasabi-nya berada di bagian tengah kue,"

Kelima pemburu kita mendesah frustasi. Berarti mereka harus memakan semua kue itu?!

Tanpa takut-takut, mereka semua langsung memotong potongan yang lebih besar dari yang sebelumnya dan langsung melahap potongan kue itu.

Hening. Tak ada yang bersuara, kecuali dentingan sendok dengan piring kecil dan suara mengunyah kue.

Dan akhirnya….

"Huaaa! Apa ini?! Rasanya pedas!"

Kita telah menemukan pelaku pemakan kue berisi wasabi.

Dan dia adalah…

"Gray!"

Gray tengah mengipas-ngipas mulutnya dengan kedua tangan besarnya. Buru-buru di ambilnya Bubble Tea yang belum di sentu dan meminumnya dengan cepat.

"Hahahaha! Sekarang Gray yang kena!" Seru Natsu sambil tertawa. Jellal menyeringai melihat Gray tengah bergulat dengan rasa pedas wasabi.

"Fuh… syukurlah bukan aku yang mendapatnya… " Erza menghela nafas lega. Di ambilnya piring kue Jellal untuk menyuapi kekasihnya kue.

"Lihat Gray… siapa yang kali ini tertawa…?" Mendadak rasa pusing Jellal berkurang melihat penderitaan Gray. Juvia hanya bisa menggelengkan kepala sambil menepuk-nepuk punggung kekasihnya.

Sedangkan Natsu tengah sibuk mengabadikan momen paling berkesan ini. Lucy hanya bisa tertawa kecil melihat Natsu yang begitu bersemangat memotret Gray.

"Sayangnya Gray-san… kamu harus menghabiskan kue itu… " Kata wanita pemilik stan. Gray memandangnya dengan tatapan tak percaya.

"Gray… selamat menikmati kue wasabimu!" Seru Natsu dan Jellal berbarengan.

Poor Gray…

-000XXX000-

"Ugh… perutku rasanya seperti di pelintir kuat-kuat… " Keluh Gray.

"Haha! Itulah akibat menertawakan orang lain! Hukum karma berlaku!" Sorak Jellal senang. Kini giliran Gray yang di bopong Natsu dan Jellal. Entah kenapa Jellal bisa sembuh karena menertawakan Gray…

"Huh! Setidaknya Natsu juga akan bernasib sama!" Natsu mendengus mendengar penuturan Gray.

"Sayangnya keberutunganku cukup bagus hari ini! Unlike you, Ice-brain!" Jawab Natsu.

"What are you saying to me, Flame-brain?!"

"Stop! Stop! I don't want to hear your useless fighting!" Lerai Jellal.

Untungnya jarak para pemuda ini cukup jauh dari para gadis sehingga Erza tidak akan mendengar pertengkaran dua rival ini.

"Hei kalian!" Panggilan dari Erza membuat ketiga pemuda ini menoleh, "Kalian ingin ke mana setelah ini?"

"Hmm… bagaimana jika kita mencoba makanan yang lebih berat?" Usul Jellal.

"Boleh saja! Aku tak masalah… "Jawab Natsu.

"Ada yang punya usul?" Tanya Jellal.

"Juvia merasa kita harus mencoba ramen! Stan ramen yang ada di sana!" Juvia menunjuk sebuah stan yang ukurannya lebih besar dari ketiga stan yang telah mereka datangi.

"Yosh! Ayo kita di sana!" Juvia bersorak senang. Dia langsung merangkul Lucy dan Erza untuk pergi ke stan itu.

Dalam hati Gray mengutuk kesialannya, berkat ulah Dewi Fortuna kini dia tak bisa memakan ramen dengan tenang.

"Selamat datang! Untuk berapa orang?" Seorang bapak yang tersenyum ramah menyambut kedatangan keenam pemburu hijau ini.

"Hmm… sepertinya di antara kalian sudah yang tumbang akibat tantangannya… " Komenar bapak itu melihat kedatang Natsu dan Jellal yang membopong Gray.

"Dia baru saja memakan kue yang berisi wasabi," Jelas Erza.

"Hahahaha! Bisa-bisanya kue di beri wasabi!" Bapak itu tertawa terpingkal-pingkal sambil menyiapkan semangkuk ramen besar.

"Oke! Karena tantangan cukup berat, lebih baik kalian memilih orang yang tepat!" Tutur bapak itu.

Erza melihat ke arah Natsu.

"Aku?" Tanya Natsu santai.

"Jellal dan Gray sudah di korbankan, kini giliranmu Natsu!" Ujar Erza.

"Baiklah… " Mereka berenam menduduki kursi stan itu. Jellal mendudukkan Gray di sebelah Juvia. Sedangkan Natsu duduk di bagian tengah, di samping kanan Lucy dan di samping kiri kursi Jellal.

"Yup! Sudah menentukan siapa penantangnya?" Jellal dengan semangat menunjuk Natsu, diam-diam Natsu melirik Jellal sinis.

"Baik! Ini dia!" Bapak itu menaruh sebuah mangkuk ramen besar yang asapnya mengepul.

Mata semua orang terbelalak melihat isi dari mangkuk ramen itu.

Kuah ramen biasanya berwarna cokelat penuh bumbu. Namun tidak untuk ramen yang satu ini. Kuahnya berwarna merah pekat.

"Kuberi nama… ramen pengantar ke neraka!"

Sepertinya para pemilik stan di sini cukup gila dalam menamai makanan mereka.

Keempat pemburu ini (minus Gray) bergidik ngeri dengan apa yang akan di lahap Natsu.

"Jika ingin ke kamar mandi, letaknya ada di sana!" Bapak itu menunjuk ke kamar mandi yang antriannya sudah panjang dan para pengantri memiliki masalah yang sama, sakit perut.

Setidaknya bapak ini cukup berbaik hati sengaja memilih stan yang dekat dengan kamar mandi…

"Anak muda… kau siap?" Tanya bapak itu ke Natsu.

Natsu tersenyum simpul, "Selalu siap!"

Bapak itu melihat Natsu heran, "Wah! Wah! Kau penantang pertama yang tak terlihat ketakutan, anak muda!"

Justru melihat kepercayaan diri yang di pancarkan Natsu membuat temannya lega, sekaligus khawatir.

"Natsu… aku janji akan mengantarkanmu ke rumah sakit nanti… " Ujar Jellal sambil menepuk pelan bahu Natsu.

"Nah! Tak perlu khawatir Jellal!" Natsu tetap tak gentar, di ambilnya sumpit dan menarik sumpit itu kuat-kuat, memisahkan dua sumpit yang rupanya tergabung.

"Jangan khawatir Natsu! Akan aku belikan minum sebanyak-banyaknya!" Ujar Erza cemas.

"Kalau kamu tidak kuat, jangan di paksakan Natsu!" Tambah Lucy.

"Natsu-san tidak perlu memaksakan diri!" Tambah Juvia.

"Nah! Aku akan baik-baik saja! Sungguh!" Natsu menyakinkan teman-temannya.

Gray mendengus kecil. Dia kesal akan teman-temannya yang begitu peduli dengan Natsu.

Yah… harus Gray akui tantangan Natsu lebih berat dari tantangannya dan Jellal.

"Yap! Mulai!" Aba-aba dari bapak pemilik stan itu membuat Natsu langsung menyumpit ramen-nya dan memasukkan sesumpit ramen mengerikan itu penuh-penuh.

Kelima temannya mendapat Natsu cemas. Mereka takut Natsu akan pingsan setelah memakan ramen yang… sepertinya di buat di neraka.

Bahkan Jellal sudah menyiapkan ponselnya, siaga untuk menelpon ambulans kapan saja.

"Wow… " Desah Natsu.

"Kau perlu air Natsu?" Lucy menyodorkan segelas air yang baru saja di siapkan bapak itu.

"Tidak. Tapi… " Natsu terus memakan ramen-nya.

Teman-temannya dan bapak itu terheran-heran. Kenapa Natsu sama sekali tak mengeluh selama memakan ramen pengantar ke neraka itu?

Semuanya tak ada yang berkomentar, lima pasang mata terus mengawasi Natsu Dragneel yang masih belum mengeluarkan protesnya.

Beberapa menit kemudian, Natsu telah menyelesaikan tantangannya.

Tanpa ada keluhan apapun!

Semua orang menatap Natsu seolah tak percaya akan keberhasilannya memakan ramen fenomenal itu.

"Lihat! Sudah kubilang tak apa-apa!" Tutur Natsu sambil memberikan cengiran khasnya.

Semuanya melihat Natsu takjub. Sungguh keajaiban Natsu masih terlihat baik-baik saja setelah memakan ramen luar biasa itu.

"Emm… Natsu… kenapa kau bisa baik-baik saja setelah memakan ramen ini?" Tanya Jellal mewakili semuanya.

"Loh? Kalian lupa kalau aku suka makanan pedas?"

Semua mata teman-temannya terbelalak kaget. Yup! Mereka benar-benar lupa!

"Eh? Aku baru tahu kau suka makanan pedas, Natsu." Tutur Lucy.

"Yah… aku cukup kuat makan makanan pedas apapun… jadi ramen super pedas ini tak masalah bagiku!" Ungkap Natsu.

Gray mendesah kecewa. Dia sungguh-sungguh tak ingat akan Natsu yang suka makanan pedas!

Sayang dia tak bisa melihat wajah penderitaan Natsu…

"Hahaha! Baru kau orang pertama yang berhasil memakan ramenku tanpa perlu ke kamar mandi!" Seru bapak itu terlihat senang.

"Sebentar! Aku akan siapkan ramen kalian dan kalian boleh tambah sesuka hati!" Seri bapak itu mulai bekerja dengan anak buahnya.

Gray yang mendengar kata 'tambah' membuat pemuda berambut raven ini bangkit dari kesuramannya dan meyiapkan sumpit ramen-nya.

"Gray-sama… kamu sudah sembuh…?" Tanya Juvia sweat dropped.

"Belum sepenuhnya! Tapi aku pasti sembuh kalau kau mau menyuapiku, Juvia!"

Natsu dan Jellal mendengus keras, mulailah Gray dengan gombalnya yang sebelas per dua belas dengan Loke.

"Jii-san! Ramen-nya belum siap juga?" Tanya Natsu.

"Kau sudah makan semangkuk penuh dan minta tambah lagi?!" Raung Gray.

"Hentikan Gray! Itu memang haknya Natsu!" Timpal Erza.

Gray mendengus keras. Kenapa hanya Natsu yang tidak menderita?!

-000XXX000-

"Setelah ini kita mau stan mana?" Tanya Gray.

Mood-nya cukup membaik karena Juvia bersedia menyuapi ramen-nya juga karena Gray mendapat tambahan tiga mangkuk ramen dari bapak pemilik stan.

Kini mereka tengah duduk di kursi panjang yang untuk melepas lelah akibat perut yang sudah terisi penuh dengan cumi-cumi bakar, Bubble Tea, kue, dan ramen.

"Kalian belum puas makan?!" Tanya Lucy tak percaya.

"Belum," Jawab ketiga pemuda itu. Lucy memandang mereka heran. Dia saja sudah merasa terlalu banyak mengonsumi makanan siang ini.

"Ah ya! Jam berapa sekarang?" Tanya Juvia. Gray langsung melihat jam tangannya.

"Jam 4.30, kita datang ke sini sekitar jam tiga tepat." Jawab Gray.

"Berarti sudah satu setengah jam kita di sini… kalian ingin pulang atau tetap di sini?" Tawar Jellal.

"Kita kelilingi sulu tempat ini! Mengingat susahnya mendapat tiketnya!" Ya ampun Natsu! Kau masih menyimpan dendam akan masalah membeli tiket itu?!

"Baiklah! Ayo melihat-lihat lebih jauh festival ini! Juga penghibur setelah kemarin kita semua mendapat ulangan mendadak itu… "

Erza… jangan lagi membawa-bawa masalah ulangan dadakan itu…

"Ada usul untuk stan berikutnya?" Lucy angkat bicara.

"Juvia pikir sebaiknya kita memilih stan yang menyediakan makanan ringan," Usul Juvia.

"Takoyaki?" Semua mata melihat ke arah Natsu. Jellal menatap satu-satu temannya, mendapati mereka semua menganguk.

"Yosh! Saatnya kita kembali berburu!" Sorak Gray bangkit dari tempat duduknya.

Dengan anggota yang lengkap –tak ada yang tepar- kini keenam pemburu makanan yang sebenarnya sudah puas, namun mengingat sulitnya mendapatkan tiket, mereka akan mengelilingi festival ini sampai puas.

"Hei! Menurut kalian makanan di sini bisa di bawa pulang?" Tanya Gray.

"Kalau bisa memangnya buat apa?" Tanya Natsu.

"Untuk makan malam!" Jawab Gray santai.

Gray… Gray… tidak pernah mau rugi…

"Dasar… sekali-kali cobalah untuk memasak sendiri! Jangan makan makanan instan terus!" Omel Erza.

"Yah… kau tahu sendiri seperti apa kalau aku memasak, Erza… " Ujar Gray.

"Kalau begitu akan kumasakan untukmu, Gray!" Seru Erza mendadak penuh dengan semangat.

"Errr…. Tak perlu Erza… bagaimana kalau kau memasak untuk Jellal… ?" Tawar Gray.

Jellal yang medengar namanya di bawa langsung melempar death glare-nya ke arah Gray seolah berpesan, apa-maksud-ucapanmu-membawa-bawa-namaku?!

"Jellal? Aku heran… dia selalu tak sadarkan diri setelah memakan masakanku, mungkin karena terlalu menakjubkan…?" Jawab Erza.

'Itu namanya tak sadarkan diri karena masakanmu terlalu 'mengerikan' Erza… ' Batin Gray dan Natsu yang entah kenapa pikiran mereka sama.

"Kalau begitu… bagaimana kalau Na-"

"Lihat! Stan-nya sudah dekat!" Sekali lagi, Natsu dengan cerdik bisa menghindari akan bahaya maut mencoba masakan Erza yang… tak akan bisa kau bayangkan rasanya…

"Takoyaki!" Erza langsung melesat meninggalkan Gray yang tengah terdiam sambil menatap tajam Natsu yang tersenyum bangga.

"Selamat datang! Ada berapa orang?" Tanya seorang pria yang tengah membolak-balikkan takoyaki.

"Enam orang!" Seru Erza.

"Perempuan semua?" Tanya pria itu lagi.

Erza menggeleng cepat, "Tiga perempuan! Tiga laki-laki!"

Tepat sekali kelima pemburu lain tiba di stan yang mengeluarkan bau khas takoyaki ini

"Wah! Pasangan muda yang bersemangat!" Seorang wanita datang sambil membawa beberapa tempat khusus yang di gunakan untuk menghidangkan takoyaki.

"Kalian siap dengan tantangannya?" Tanya wanita itu.

"Siap!" Terdengar jelas suara Erza dan Gray yang paling keras.

"Kalau begitu, aku akan jelaskan tantangannya! Kalian bertiga… " Wanita itu menunjuk Natsu, Gray dan Jellal, "harus memberikan gombalan paling luar biasa kepada…. " Wanita itu menunjuk Erza, "gadis ini!"

Hening.

Semuanya tengah memproses penjelasan wanita itu.

Memberi... gombalan… ke… Erza….?!

"APA?!" Teriak ketiganya bersamaan.

Heck! Wanita ini tak tahu akan Erza yang paling benci di gombali!

Bahkan Erza pernah meninju Loke-Sensei karena gombalannya yang membuat sang suara Kendo ini merasa panas.

Oh tidak… jelas tantangan ini adalah yang paling berat…

Dan paling menakutkan….

"Kami beri waktu lima menit untuk menyiapkan gombalan kalian! Jangan meminta batuan dengan orang lain!" Tambah pria itu.

Ketiga pemuda itu terdiam memusatkan pikiran mereka, mencari gombalan yang… paling aman agar mereka tidak mendapat hadiah 'tinju spesial Erza Scarlet'.

Lucy dan Juvia memilih untuk diam seraya berdoa akan keselamatan tiga pemuda malang ini.

Erza tengah melakukan pemanasan untuk bersiap memukul mereka sekeras mungkin.

Dan ketiga pemuda malang kita? Secara bersamaan tengah menjambak rambut mereka sambil berkata dalam hati…

'Sial! Kenapa harus Erza dari ketiganya?!'

.

.

.

Lima menit kemudian….

"Yosh! Siapa yang siap untuk mengutarkan gombalannya?" Tanya pria itu semangat.

Ketiga pemuda itu saling berpandangan dan menganguk mantan.

"Janken!"

Seperti biasa…

"Gray! Aku duluan!" Sorak Natsu dan Jellal. Gray mendesah kesal, menghadap Erza yang tengah duduk bak seorang ratu yang menunggu laporan sambil memasang wajah seramnya.

"Erza… " Panggil Gray.

"Ya Gray…?" Tanggap Erza dengan suara seram.

"Kau tahu apa perbedaan Strawberry dengan dirimu…?"

"Tidak… "

"Strawberry itu manis di mulut, tapi kau itu manis di hatiku… "

…. Well… kerja bagus Gray…

Erza tersenyum kecil. Dia berdiri dari kursi stan yang di duduknya.

"Terima kasih Gray!"

Buak! Dengan wajah tanpa dosa Erza meninju wajah Gray yang langsung membuatnya…. Yah.. kalian juga tahu…

Natsu dan Jellal bergidik ngeri melihat nasib Gray. Lucy dan Juvia tersenyum miris. Juvia langsung mendekati kekasihnya. Sedang Erza kembali duduk dengan wajah cuek.

Sekarang tinggal Natsu dan Jellal yang akan di beri 'tinju spesial Erza Scarlet'. Seperti biasa, janken…

"Yap Natsu! Kau berikutnya!" Sorak Jellal sedikit lega. Natsu mengumpat di dalam hati akan akan keberuntungannya yang sudah habis.

"Erza… "

"Ya Natsu…?"

"Kau tahu apa perbedaan dari matahari denganmu…?"

"Tidak… "

"Matahari menyinari dunia, tapi kau menyinari hatiku… "

Erza tersenyum kecil. Dia berdiri dari kursi stan yang di duduknya.

"Terima kasih Natsu!"

Buak! Masih saja Erza tak merasa bersalah.

Lucy langsung mendekati Natsu yang tidak sadarkan diri.

Jika ada orang yang bisa bertahan dari serangan 'tinju spesial Erza Scarlet', pasti orang itu bukan manusia!

Kini giliran Jellal yang di eksekusi.

"Erza…?"

"Ya Jellal…?"

"Kau lihat pohon di sini…?" Sebenarnya… tidak ada pohon di sekitar sini… tapi demi Jellal bayangkan ada sebuah pohon besar menaungi mereka.

"Ya… " Erza menjalankan saran yang di berikan.

"Daun di pohon terus berguguran, namun tidak untuk cintaku di hatimu… "

Erza tersenyum kecil. Dia berdiri dari kursi stan yang di duduknya.

"Terima kasih Jellal… " Erza mencium pipi kiri Jellal.

Buak! Namun kali ini, secara notaben yang di pukulnya adalah kekasihnya, Erza langsung menangkap tubuh Jellal yang langsung kehilangan kesadaran.

Pria pemilik stan itu hanya tertawa terbahak-bahak melihat potongan kisah romantis yang berujung humor di matanya.

-000XXX000-

"Terima kasih, Natsu! Gray! Jellal!" Seru Erza riang.

Ketiganya menganguk kecil, masih merasakan kepala mereka bergetar sakit akan tinju mentah yang di bari Erza secara cuma-cuma.

Karena ketiga pemuda ini tak bisa di bangunkan dari pingsannya, Erza memutuskan untuk membawa takoyaki-nya pulang dan juga mereka mendapat tambahan yang banyak karena si pemilik stan takut melihat kehebatan Erza membuat ketiga pemuda malang itu tepar.

"Ne… kalian masih kuat makan…?" Tanya Lucy.

"Tidak… " Jawab ketiganya.

Lucy sweat dropped mendengarnya. Namun juga merasa kasihan akan nasib ketiga pemuda ini yang nampaknya masih ingin mencoba segala makanan di festival ini, tapi apa daya setelah mendapat tinju indah Erza.

"Kalian ingin keliling lagi?" Tanya Erza. Lucy dan Juvia menganguk, sedangkan Natsu, Gray dan Jellal menggeleng.

"Kalau begitu, kita pecah saja menjadi tiga kelompok! Aku dengan Jellal, Gray dengan Juvia, dan Natsu dengan Lucy, mengerti?"

"Hai!" Jawab Lucy dan Juvia.

"Hah... " Jawab Natsu, Gray dan Jellal.

Poor guys… sudah kehilangan semangat untuk berburu…

"Yosh! Ayo Jellal!" Erza dengan santai menyeret Jellal meninggalkan teman-temannya, Jellal tampak pasrah di bawa kabur oleh kekasihnya.

"Ayo Gray-sama!" Juvia menarik-narik tangan Gray. Gray menghela nafas panjang sebelum bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti Juvia.

Lucy hanya bisa tersenyum miris melihat kedua pemuda yang di bawa lari oleh kekasihnya. Dia melirik ke arah Natsu yang masih mengusap-usap kepalanya yang masih terasa nyeri.

"Ne Na-"

Syut!

Mata cokelat Lucy melebar saat melihat selembar kertas yang entah kenapa, tidak ada angin tidak ada hujan, datang dan dengan indahnya menabrak wajah Natsu.

Natsu tetap terlihat tenang, namun dalam hati mengumpat keras-keras akan sesuatu atau seseorang atau apapun itu yang sudah membuat kertas tak berdosa itu menabrak wajahnya.

"Kertas apa ini?" Natsu yang penasaran membalik kertas itu dan membaca informasi yang di cetak kertas yang rupanya adalah sebuah brosur.

Lucy mendekati Natsu hendak ikut membaca brosur itu. Namun niatnya tak terjadi karena tiba-tiba Natsu menarik tangan Lucy dan mulai berlari.

"Eh? Natsu! Kita mau kemana?!"

Natsu menoleh ke Lucy sambil memberikan cengiran ramahnya, "Aku yakin di sekitar sini ada tempat yang menyediakan itu!"

"Menyediakan apa?!"

"Mencetak foto!"

-000XXX000-

"Huh?! Apa maksudmu, Flame-Head?! Untuk apa kami harus ke stage utama?!" Seru Gray melalui ponselnya.

"Bodoh! Sudah turuti saja, Ice-Lover! Jellal dan Erza sudah sampai! Cepat kesini atau keberikan ponsel ini ke Erza!"

"Cih! Baiklah!" Gray memencet tombol putus keras-keras, geram akan sikap Natsu yang semena-mena menyuruhnya ke stage utama. Memang apa yang akan terjadi di sana?! Kebakaran?!

"Jadi kita harus pergi menuju ke stage utama, Gray-sama?" Tanya Juvia sambil menikmati es krim rasa kiwinya.

"Begitulah! Entah ada angin apa sampai bisa membuatnya semangat sekali… "

Juvia tersenyum bijak, "Tapi Juvia ikut senang! Jarang sekali Natsu-san terdengar begitu senang!"

Gray tersenyum kecil, "Orang itu semakin sulit di tebak semenjak saat itu… "

Juvia tersenyum lebar, "Tapi Juvia senang Gray-sama begitu memperhatikan sahabatnya!"

Gray berjengit mendengarnya, "Gah! Siapa sudi memperhatikan si Flame-Brain itu?!"

"Yang penting ayo kita pergi ke stage utama, Gray –sama! Tapi… " Juvia menunjuk ke arah Gray, "Juvia jadi bingung… "

Gray mengangkat alisnya, "Kenapa?"

"Sejak kapan Gray-sama membawa kucing?"

-000XXX000-

Natsu melihat kesana kemari dengan wajah frustasi. Dia terus mengecek jam tangannya. Lalu kembali memperhatikan jalan dengan wajah siap menerkam siapapun. Geram.

"Sabar… baru lima belas menit yang lalu sejak kau menelpon Gray… mungkin jarak mereka cukup jauh dari sini… " Tutur Jellal yang dari tadi memperhatikan Natsu yang ingin membakar Gray jika dia sudah sampai di tempat mereka.

"Lima belas menit, Jellal! Apa sih yang mereka lakukan sampai selama ini?! Acaranya di mulai lima menit lagi!" Seru Natsu frustasi.

"Yah… yang bisa kita lakukan adalah menunggu. Dan pelankan suaramu jika tak mau di dengar orang!" Jellal melirik ke arah Erza dan Lucy yang tengah bercakap-cakap.

Natsu menghela nafas keras-keras, berusaha menahan amarahnya. Dia merasa kesal akan Gray yang begitu lama hanya untuk berjalan ke stage utama dan juga kesal pada dirinya sendiri.

"Natsu-san! Jellal-san!" Natsu dan Jellal langsung menoleh ke arah kanan mereka saat mendengar suara Juvia memanggil nama mereka.

"Juvia! Dan… Gray?" Natsu yang berencana hendak memarahi Gray menjadi batal karena…

"Kenapa kau membawa seekor kucing, Gray?" Tanya Jellal heran.

Gray datang dengan seekor anak kucing dengan bulu berwarna cokelat susu yang tengah bermain-main dengan mengaruk-garuk kukunya yang masih belum tajam ke kemeja Gray.

Gray dan Juvia yang bersama dengan anak kucing… artinya…

"Papa kucing dan Mama kucing… " Ucap Natsu dan Jellal berbarengan.

Gray memandang mereka dengan tidak senang tapi tetap saja tak bisa menahan semburat kecil di wajahnya dan Juvia hanya bisa menundukkan kepala malu.

Natsu dan Jellal menyeringai jahil.

"Ne Natsu… sepertinya kita harus menyiapkan pakaian pesta… " Ujar Jellal tatap dengan seringainya.

"Ohya…? Pesta untuk apa…?" Tanya Natsu juga dengan seringainya.

"Pesta pernikahan kawan kita, Gray Fullbuster dengan Juvia-"

"Cukup! Hanya karena anak kucing bukan berarti kalian bisa seenaknya!" Natsu dan Jellal tertawa melihat Gray yang marah namun wajahnya merah padam.

"Jellal! Natsu! Kalian- loh Gray? Aku tak pernah tahu kau dan Juvia ini orang tua dari kucing itu?" Tanya Erza terheran-heran.

"Bukan! Kucing ini datang sendiri mengikutiku!" Bantah Gray.

Gray mengangkat anak kucing lucu itu ke arah Erza dan Lucy. Kucing itu menatap kedua gadis cantik itu dengan manik hitam polosnya.

"Meonggg… "

Lucy tersenyum lebar sambil mengambil anak kucing itu dari tangan Gray dan menggendongnya seakan kucing itu adalah bayi manusia.

Erza menepuk bahu Gray, "Bagus Gray! Jadilah papa yang baik untuk kucing ini!"

"Bukan itu!" Seru Gray.

Dug! Dug!

Keenam pasang mata milik keenam pemburu kita menoleh ke arah suara yang di hasilkan dari ketukan kecil di microphone.

"Selamat sore para penonton! Pertama-tama kami ucapkan selamat bagi semuanya yang sudah menikmati festival Food Hunting's Days ini!" Suara tepuk tangan menggelegar di panggung terbuka itu.

"Sebelum kita melanjutkan ini, ada baiknya saya menjelaskan sedikit… setiap akhir festival ini, kami selalu mengadakan sebuah lomba yang khusus untuk anda, para pemburu makanan kami!"

"Setiap hari kami selalu mengganti tema lomba, dan untuk hari ini… lomba yang di adakan adalah… " Si MC berhenti sejenak.

"Lomba foto terkonyol ala Food Hunting's Day!"

Mata Gray, Juvia, Jellal, dan Erza membulat mendengar tema lomba itu.

"Kami semua menerima foto-foto konyol yang di dapat karena mengerjakan tantangan-tantangan luar biasa yang di sediakan oleh para pemilik stan di sini!" MC itu meneruskan.

"Dan… pemenang lomba foto terkonyol ala Food Hunting's Days adalah… "

Semua mata di sana hampir tak berkedip karena sangat penasaran dengan pemenang lomba ini.

"Foto konyol bertema 'Wasabi Pembunuh' yang di abadikan oleh Natsu Dragneel!"

"YESS!" Sorak Natsu sambil meninju udara.

Lalu di layar besar yang sudah ada di panggung, terpampang foto besar Gray Fullbuster yang tengah berguling-guling karena rasa pedas wasabi dengan wajah yang… tak bisa di artikan… di lihat sekali terlihat sedang menangis… di lihat yang kedua kali terlihat seperti sedang meraung-raung…. Dan di lihat berkali-kali kesimpulannya tetap sama… menyedihkan.

"DRAGNEEL!" Raung Gray.

"BERANINYA KAU MENGIRIMKAN FOTO NISTA ITU?! KENAPA BUKAN FOTO JELLAL SAJA?!"

Natsu berusaha menghentikan tawanya, "Tapi kata Luce fotomu jauh lebih baik dari foto Jellal!"

Gray menatap Lucy dengan wajah horror. Lucy pura-pura tidak mendengar dengan cara berbicara dengan Juvia.

"Tapi menurut Juvia foto Gray-sama memang lebih konyol dari foto Jellal-san… "

Tawa Natsu dan Jellal meledak mendengar pernyataan jujur Juvia. Erza menjabat tangan Lucy akan kejelian matanya menentukan foto terkonyol. Dan Gray? Memandang Juvia tak percaya.

Gray menundukkan kepalanya dalam-dalam, "Aku tak akan masuk sekolah besok… "

"Silakan Natsu Dragneel untuk naik ke panggung!" Pinta MC.

"Ayo Gray!" Ajak Natsu menarik lengan Gray.

"Yang menang lomba kau! Buat apa aku ikut ke sana!" Ejek Gray.

"Juga sang model foto, Gray Fullbuster! Keduanya di persilakan menaiki panggung untuk menerima hadiah sebesar 50.000 Jewels!"

Detik itu juga Gray sudah ada di atas panggung dengan menyeret Natsu yang syok berat karena di seret dengan kecepatan mengejutkan.

"TERIMA KASIH BANYAK!"

Gara-gara mendengar 50.000 Jewels…

~To Be Continue~


Chapter paling butuh perjuangan membuatnya... -_-

Ada acara ilang semangat karena suatu masalah...

Gray : Makanya A/N-nya bareng gua aja! Jadi nggak emosi liat Si rambut pisang itu!

Nana : (Gemetaran sambil narik selimut)

Gray : Ya ampun Na... gua tau muka gua ganteng! Tapi nggak perlu gemetaran gitu juga kali!

Nana : Berisik lu! Gua gemetaran karena dari waktu lu masuk, kamar gua jadi dingin banget! (gemetaran)

Gray : Yah... itu sih salah elu Na! (mukul-mukul sesuatu warna putih) Na! Ini apaan? Kok enak buat di tidurin?! (make sesuatu itu jadi bantal)

Nana : GRAY! ITU KUCING GUA YANG LU TIDURIN!

Gray : What?! (langsung bangun) kok kucing lu ada di kamar lu?!

Nana : Nah lu kok ada di kamar gua?!

Gray : Kan gua mau nemenin lu di A/N!

Nana : Tapi bukan buat ngericuh!

Mau Stinky... mau Gray... sama aja... bikin kepala sakit.. -_-

Yah udah deh... bales ripiu dulu!

redsky-dragneel : A...Iie! ^^ kebetulan semua yg di tanyakan itu adalah pelajaran Nana! Jadi Nana paham pertanyaannya! Tapi karena Nana terlalu males ngetiknya jadilah copas.. -a Hihi! Daijoubu! :D Aaa... gomennasai... Nana nggak bisa... Thx for the review!

AN Narra : ... Gomennasaii... (_ _) ya... sayang banget... :( jadi nggak bisa liat Nastu lagi! #plak! Hoho! NaLu is the best! xD Etoo... memang Natsu itu rada kekanakan.. tapi tetep cool! xD Ah... gomenn... Nana nggak bisa.. -_- Thx for the review!

keiko haruno : Hihi! Lebih tepatnya dua kali! :) Yang di kelas Loke itu Hell buat anak cowok karena dengerin gombalan Loke yg bikin enek! #terlalu jujur Aha... gebukin Sting-nya setelah fanfic ini selesai... karena Nana yg bertanggung jawab akan masalah Sting ini!xD #semangat! Hai! Arigatou! Thx for the review!

Tia Ikkimaza-chan : ... Gomennasai... (_ _) Ah! I'm so sorry! My mistakes! I just so tired and I think I failed when I edit the previous chapter.. I truly sorry! #deep bow Hihi! Its okey for me! I still have practice more! Don't worry about that! :) Yhx for the review!

Devil Clown : Then I will comment it one by one. 1. You think this story will be end after I uncover Natsu's identity?! Hell no! Even me, the author, haven't fix the ending yet! You still don't what will happen! 2. I won't! I have a reason and I don't want to share it! 3. ... It is a praise..? Or you just make fun of me? 4. Yes! Fine! But I'm a human! Nor evil!

monkey D nico : Oke! Thx for the review!

a first letter : Aye! Arigatou! Thx for the review!

Kyosuke Anzen : Sorry dude! I can't update as fast as you hope! I'm truly sorry! Thx for the review!

RyuuKazekawa : Ara... daijoubu Ryuu-san! :) Haha! Sebelum bully udah kabur duluan! ^^" Namanya juga Sting-playboy-Euclife! xD #balik nendang Sting Aye! Arigatou! Aaa.. Nana nggak bisa.. Gomenn... Thc for the review!

Jim : I'm truly sorry! I won't update soon as you hope! Even in holidays! Thx for the review!

Bagas : ... nggak perlu ngomong begitu juga... -_- Ini sudah ada! Thx for the review!

Yumeka Himuro : Yume-san! xD Aye! Douita! Arigatou sudah membaca fic gaje Nana! Daijoubu! Nana ngerti! Mantan silent juga! xD ah... arigatou! #peluk Yume-san #di tendang Hohoho! Tentu saja Wow yg positif! xDDD Begitulah Loke dan gombalan eneknya! Huaaa! Gomen Yume-san! #langsung nendang Loke karena penyebab Yume-san keselek Hihi! Biologi x Kimia cucok banget! xD Go Natsu! Kalo nggak inget lagi pake kacamatanya mungkin Natsu udah... yah.. gitulah! xD Nana juga baru ngerti Hidrogen setelah betah buku selama sehari penuh.. -_- #ngakak sambil guling Huahahahhah! Sugoii Yume-san! #masih ngakak Sting : Yee! Ngasih gopek! Goban ngapa! Nana : Nih! #ngasih gocap, tempelin di jidat Stinky Sting : LEBIH PARAH INI MAH! Nana : Pergi lu sono! #nendang Sting Hmmm... kita liat aja! xD Hoho! oke.. cuma buat Yume-sana aja Nana iyaiin.. (_ _) Gray : Emang gua ganteng kok! Nana : Buat gua masih kece Natsu! :P Ups... Lucy curcol! xD Hai! Arigatou! T.T Aye sir! Thx for the review!

niixz-valerie-5 : ... I'm sorry... Thx for the review! (Nama anda saya beri tanda haypen karena takut akan hilang jika di post nanti)

Mushi kara-chan : Huaaa! Gomennasai! Nana nggak nyangka ada yg begitu menunggu fic Nana update! TTOTT Hontouni GOMENNASAI! #bungkuk" Nana ngerti perasaan Mushi-san! T^T Setiap hari berharap update, rupanya nggak, sampe akhirnya.. saat udah nyerah, eh! Update deh fic itu! xD Ara.. ^^" Gomenne.. Untuk sementara Nana nggak membuat adegan menegangkan seperti di chappy sebelumnya... ^^ karena berhubung dgn sesuatu di chappy berikutnya ini ^^ Hai! Arigatou! T^T Nana akan berjuang utk update cepat demi Mushi-san! Hontounu arigatou! :) Thx for the review!

Rhulz Revanthane : Etoo... Nana belum pernah denger manga itu... -a #gomen... Ah... arigatou! xD AH... sayang nggak bisa...

reff : A... arigatou! ^^ gomen... Nana nggak bisa... T3T haha!1 Seegera mungkin! ^^ Kita liat aja! :) Thx for the review!

Vin'DieseL No Giza : #berdiri. Datengin Sting. tarik kerah abjunya. Gampar kuat" Udah tuh! ^^ Thx for the review!

Alecia Marianne : Hallo Cia-chan! #boleh kan manggil begitu? A... oke.. Nana nggak komentar.. ^^a takut salah ngomong... Haha! xD Sepertinya Cia-chan nggak marah akan Erza yg punya kemampuan memasak yg membunuh... Hihi! Di chappy ini 70 % isinya kehidupan sehari-hari Nana! xD Arigatou! Nana senang Cia-chan mengerti akan apa yg ingin Nana sampaikan! Iie! Nana seneng dapet review yg seperti ini! ^^ Arigatou! Aye! Thx for the review!

Kaoru Dragneel : Huaaaa... TT0TT Hontouni arigatou! #peluk Kaoru-san #di tendang Nana senang sekali! Terima kasih banyak! Hai! Nana akan belajar lebih serius! kaoru-san juga! ^^ Thx for the review!

Rin Fullbuster : Aye! Tapi chappy ini nggak sepanjang kemarin.. -_- H-hai! Arigatou! T0T Etoo... kita liat aja! ^^ Thx for the review!

HikaruHitachiin : Aye! T0T Arigatou! #sekali lagi Tentu saja! Hihi! kita liat aja nanti! xD Hoho! Thx for the review!

Lacie Helra-Chan : La-chan! xD Daijoubu! xD arigatou La-chan udah mau mereview fic gaje ini! a... arigatou! ^^ Pasti bisa! Ganbatte! La-chan lebih senior dari Nana! :) Hihi! Syukurlah! Hai! Arigatou! xD Yup! Ini chappy sungguh ngaret lantaran nggak mood karena masalah yg Nana curhat itu... #curcol sembarangan.. #gomen Hai! Thx for the review!

stillewolfie : Hai... arigatou... senang ada yg mengerti galauan Nana... #peluk Wolfie-san #di tendang begitulah nasib author yg hobi ngaret! hoho! #tawa nista aha! #tepuk tangan begitulah... :) Ara Natsu... jangan gitu! :3 Hihi! Nana nggak heran Wolfie-san bilang gitu! :) Sengaja Nana rem kuat" adegan NaLu-nya! #emang mobil! Ahahaha... hidup Nana emang udah banyak typo.. -" Gomennasai! ah! Arigatou sdh mau mengikuti fic gaje ini! APA?! Bales Wolfie-san! Sini Nana yg balesin! #nagapa lu yg manas! Ah! Kalau Wolfie-san ingin adengan NaLu, Nana rencananya akan membuatnya di chappy depan! ^^ Thx fo the review!

Marina Dragneel : Iie! ^^ Terlambat pun Nana sudah senang banget Mari-san mau mereview! ^^ A.. gomennasai.. (_ _) haha! Nggak papa! Nana juga mantan silent readers! xD typo adalah bagain hidup Nana! Biar Nana aja yg tonjok si Dan! ah.. arigatou! :) hihi! Apalagi Nana! Udah pingin nyiksa Stinky! #maniak nyiksa Stinky haha! Ini dia chappynya! :) a... sayangnya nggak... -_- tapi Lucy akan segera tahu! :) haha! Nggak papa! xD Makin banyak Nana makin suka! Aye sir! Thx for the review!

Riin Heartfilia : Yo Riin-chan! :D Aye! Arigatou sudah menunggu! Hoho! Namanya juga Natsu suamiku! xD #plak! dan makin lama Nana makin benci sama dia.. -_- Aye! Arigatou! T.T Aye! Arigatou my best freind! xDD Riin-chan mo Ganbatte! Thx for the review!

Dan Mochizuki : Aye! Your welcome! a-aye.. arigatou! sayangnya pendapat orang beda" Dan-san... haha... memang rasanya banyak yg terjadi setahun lagi.. mungkin karena Nana mendapat lingkungan baru... aye! Arigatou! Thx for the review!

Erza Fernandes : A... arigatou! Hai! TT0TT Arigatou! Aye sir! Thx for the review!

S4KUR4MIYUZ4KI : aa.. -_-a karena harus di berhentikan... ^^a Thx for the review!

abi468 : Ah.. arigatou! :) Sesuatu...? -' Sesuatu yg bagaimana nih ya..? Ah! Baguslah Abi-san nggak bosen membaca fic ini! ^^ Aye! Ini sudah ada lanjutannya! Thx for the review!

mayrizki-pavita : Aye! Yoroshiku mo, Pavita-san! :) Nama Pavita-san Nana beri tanda haypen supaya tidak hilang jika di post nanti! :)Ini sudah update! A... Seperti biasa Nana selalu ngaret... -_- sayangnya nggak bisa secepat yg Pavita-san harapkan.. Nana terlalu sibuk jadi nggak bisa update cepat! Gomennasai! Thx for the review!

Audrey Naylon : Aye! Akan selalu di lanjut! :) Hai! Yoroshiku mo, Au-san! ^^ Thx for the review!

Ren : Ara... terlalu senang kah Ren-san...? :) Hai! Selalu akan update walau sesibuk apapun! :) haha... semakin Nana update semakin dekat kita menuju identitas Natsu! ^^ aye! Arigatou! xD Tentu saja! xDD Thx for the review!

Hanara VgRyuu : Aa... kalo yg di maksud fic yg super sedih itu... Nana mau konsul dulu sama editor... (_ _) rada kurang yakin sama idenya... Haha! Apa perlu Nana panggilkan Erza? .-. #plak! Nggak! Karena Nana ingin memberikan chappy yg nggak berat dulu! ^^ Hihi! Mood Nana sedang sangat bagus saat membuat chappy 6! ^^ Nana juga suka! Sayang susah utk mewujudkan mood utk membuat chappy kayak gini lagi... -" Arigatou! Thx for the review!

LHeartfiila : Ah... arigatou! ^^ Tapi tetap Nana akan senang sekali jika lHeartfilia-san mau memberikan komentarnya! Aye sir! Thx for the review!

karinalu : Hai Karin-neeeeeeeeee! Aye! Daijoubu! ^^ hoho! Lucy udah nggak sabar nih! lagi... dan lagi... haha! Sabar Karin-nee! :) Natsu pasti akan melakukan sesuatu! #ups! Gaje gaje sangat berarti buat Nana! :)) ahahaha... #tawa suram Nana nggak bisa update cepet.. - Thx for the review!

Nervous : Aye! Terima kasih atas 3 reviewnya! Thx for the reviews!

nshawol56 : Bella-neeeeeeee! xDD Ah! Daijoubu! xD Arigatou sudah mau mereview! Aye! Juatru Nana pingin denger Bella-nee pidato... -.- Aye! Arigatou Bella-nee! Thx for the review!

Sakurajima no Yama : Ah... di chappy depan! ;) Aye sir! Thx for the review!

D Phoniex 07 R : Huaa! Ariagtou! T.T #bungkuk" aye! Nana senang phoenix-san senang! :) Aye sir! Thx for the review!

justweirdo : Hoho! Iya dong! Natsu gituloh! xDD Aye... -_- etoo... Nana nggak bisa... -_- #gomen hoho! Kita liat saja! xD Thx for the review!

Guest : Huaaa! Arigatou! T.T Aye sir! Thx for the review!

Azumi Nafis : Ara... nggak kok! ^^ Haha! Namanya juga Stinky! xD Huaa! Nana nggak suka yaoi... -_- Thx for the review!

RufukuAtsuko : ... Nana nggak bisa lagi update kilat... -_- Thx for the review!

Hikaru Dragfilia : Arigatou! T.T Aye sir! Pastinya! Thx for the review!

Guest : Aye! Thx for the review!

Gery O Donut : Ini sudah lanjut. Thx for the review!

haruki : Ah.. gomen.. udah deket ujian soalnya.. -" Aye! Arigatou! xD Thx for the review!

Kisasa Kaguya : Anoo... jangan... -a kalo ingin menyiksa Sting, itu tanggung jawab Nana! #nah loh! Ahh... panggil aja Nana! ^^ Benarkah?! HOREEE! #tebar bunga Ah... arigatou! T.T Daijoubu! Arigatou sudah bersedia membaca fic ini! ^^ tapi tetap masih belum bagus.. ^^ Nana juga dalam tahap menuju lebih baik lagi! :) Aye sir! Hontouni arigatou! Thx for the review!

SSAPHIRA : AH! Arigatou Sa-chan! :) Haha! Humor nggak jadi.. -_- ara... arigatou! :) Aye! Selalu! ... Sa-chan nggak tau Nana ini Hiatus ya.. ?- - Thx for the review!

alvina : Aye! Arigatou! T.T Haha.. yg penting sudah mau review! :) Thx for the review!

ErinMizuMizuna-Chan : Hai Erin-san! :) Daijoubu! Hoho! Kita liat aja nanti! :) Sama dong! #tos! Nggak banget deh si Stinky itu! - Pasti terus lanjut kok! Arigatou! Thx for the review!

Sudah! Eh? Banyak yg komplain kalo NaLu di fic ini kurang berasa, ya? #emang makanan! Kurang berasa...

Emang Nana sengaja! *0*v karena NaLu bakal banyak banget moment-nya setelah identitas Natsu kebongkar! xD

Kelamaan? Oke! Chappy depan NaLu moment!

And you know what, minna! Akemi, editor Nana, sudah membaca fanfic ini! ._.

Dan sialnya, dia belum bilang apa"... -_-

Berhenti curcol! Ada yg Nana ingin katakan!

Nnatsuki Tidak akan pernah bisa update cepat!

Bahkan libur sekali pun!

And Please! I beg you! Please!

Give me some Time to update!

Nana benar" minta maaf tidak bisa mewujudkan keingan readers untuk update cepat, alasannya, mungkin bagi readers alasan Nana konyol, namun inilah kenyataannya!

I'm sorry for my lateness!

Mind to keep ypur review...?

Matta ne!

Nnatsuki