Chapter 1 : Beginning of the Accindent

Mysterious Accident

.

.

.

Warning : AU, Typo(s) bertebaran, GaJe, OOC, Humor jelek nyempil disana-sini, alur muter-muter, kejadian yang tidak masuk akal, bloody scene.

Disclaimer :

Vocaloid bukan punya saya melainkan punya Yamaha Corp and Crypton Future Media. Mysterious Accident, tentunya, punya saya.

Summary : Kecelakaan? Itu hal yang biasa tapi jika dihubungkan dengan sesuatu yang diluar nalar manusia.. Apa jadinya?

Don't Like Don't Read

Silahkan pencet tombol 'back' kalau tidak suka..

HAPPY READING, MINNA-SAN

.

.

.

The Mysterious Accident

.

.

.

Pagi yang cerah di Crypton City. Seorang pemuda berumur 16 tahunan sedang menaiki sepedanya menuju sebuah sekolah terkenal di kota itu. Di boncengan sepedanya ada seorang gadis berambut hitam dengan manik mata hazel yang menggemaskan. Gadis itu mencengkram erat sisi kemeja pemuda itu. Pemuda itu mengayuh sepedanya biasa-biasa saja.

"Kagamine-san, kenapa sepedanya terasa sangat cepat. Padahal aku masih punya banyak waktu sebelum bel berbunyi." tanya gadis itu.

"perasaan aku bersepeda biasa-biasa saja, Yuki-chan" jawab Len.

"Kagamine-san, kenapa mengayuh sepedanya cepat sekali?" ulang gadis bernama Yuki ini.

'apa dia tidak dengar?' pikir pemuda itu. Sejurus kemudian Len merasa sepedanya seperti disenggol oleh sebuah kendaraan besar. Yuki dan pemuda itu terjatuh dari sepeda. Pemuda itu menatap daerah di sekelilngnya dan menemukan dirinya ada di sebuah trotoar disamping jalan besar nan ramai. Bukan jalanan yang lebarnya biasa-biasa saja dan jarang dilewati kendaraan.

BBIIIPP...BBBIIIPPP

BRUK! CRASH!

Darah menciprati seluruh wajah dan kemeja pemuda yang sedang terduduk bingung ditengah trotoar. Mata saphire-nya mebelalak dan tak berkedip barang satu mili detik. Mayat gadis berambut hitam dikuncir dua yang tergeletak bersimbah darah di tengah jalan. Kenapa Yuki bisa ada disana sementara pemuda itu dan sepedanya ada di trotoar? Lalu kenapa darah dari gadis itu bisa sampai menciprat ke wajahnya? Lalu kenapa dia bisa ada disini sekarang padahal dari tadi dia merasa dia sedang bersepeda bersama Yuki dijalan biasa menuju sekolah. Apa dia sedang bermimpi?

.

.

.

Pemuda itu mencubit pipinya menggunakan kuku jarinya dan langsung meringis kesakitan.

.

.

.

Atau dia sedang mabuk? Kurasa tidak mungkin seorang siswa yang notabenenya sangat anti sama yang namanya minuman keras atau sake bisa mabuk. Dia hanya bisa mabuk menggunakan jus pisang yang jumlahnya bergalon-galon.

Polisi, ambulance, tim forensik berdatangan. Petugas dari ambulance itu mengevakuasi gadis itu dan memasukkannya kedalam kantong jenazah yang berwarna kuning. Seorang petugas mengangkat bagian kepala sampai dada gadis itu dan seorang lagi membawa bagian kakinya. Alat-alat pencernaan gadis itu hancur dengan gilasan ban truk gandeng itu. Truk gandeng itu diamankan sekelompok polisi. Jalanan dialihkan kejalan lain untuk kepentingan penyelidikan. Pemuda itu merasakan matanya sangat panas. Dia ingat, dia bahkan belum berkedip sampai detik ini. Dia mengedipkan matanya beberapa kali. Pemuda itu menarik sepedanya dan langsung menaikinya menuju sekolah.

.

.

.

(Skip Time. Time : 07.50

Place : Vocasora Gakuen)

Seorang gadis berambut honeyblonde berpita putih dan bermata saphire berjalan menuju kelasnya. Di koridor dia bertemu dengan salah seorang temannya.

"Lenny~" teriaknya sampai terdengar oleh seluruh kelas didekat koridor itu. Tapi orang yang dia panggil seperti tidak mendengar dan terus beralan dengan tatapan kosong sampai akhirnya menabrak Rin.

"gomen" kata pemuda itu.

"daijoubu, Lenny?" tanya gadis itu. Pemuda itu mendelik.

"ayolah, Rin-chan berhentilah memanggilku seperti itu" kata pemuda itu.

"lalu ada apa? Kenapa dari tadi kau bengong melulu, Ka-ga-mi-ne Len"

"akan kuceritakan saat makan siang. Ayo kita masuk kelas. Aku belum mengerjakan PR matematika" ucap pemuda bernama Kagamine Len sambil memakai sweater biru tak berlengan dan lencana sekolah dibagian dada kirinya. Len menutupi kemeja putihnya yang penuh bercak merah oleh darah Yuki. Cewek yang dipanggil Rin oleh Len mengekor dibelakangnya.

.

.

.

.

Pelajaran sedang berlangsung. Len masih saja memikirkan kejadian naas itu. Bayangan mayat Yuki yang bersimbah darah dan terbagi dua mebuatnya terus memikirkannya. Kecelakaan ini sungguh sangat aneh.

Pertama, Len dan Yuki terjatuh dari sepeda karena merasa ditabrak sesuatu

Kedua, Len ada diatas trotoar sementara Yuki ditengah jalan. Secara logika, apabila Len terjatuh diatas trotoar maka Yuki akan jatuh tak'kan jauh darinya. Atau kalau misalkan Len terjatuh diatas jalan raya itu berarti dia juga tak'kan jauh dari Yuki dan dia juga pasti akan ikut terlindas truk gandeng itu.

Ketiga, kenapa tadi saat Len menjawab pertanyaan Yuki tentang 'kenapa dia mengendarainya secara sangat cepat', Yuki tidak bisa mendengar jawabannya dan terus bertanya.

Apa yang sebenarnya terjadi? Dan bagaimana nanti Len menjelaskan hal ini ke orang tua Yuki? Tidak mungkin 'kan Len mengatakan ketiga hal yang sudah ditulis diatas'kan. Jika Len mengatakan hal itu dia pasti disangka mabuk -jus pisang-.

Rin melihat Len yang sedang berpikir itupun menyikut lengan Len yang sedang menopang dahinya penuh stress itu.

"apa?" tanya Len.

"perhatikan pelajaran atau Meiko-sensei akan mengeluarkan penggaris ajaib" kata Rin dengan nada kecil, dia seperti sedang memperingatkan.

"aku tau hal itu, Rin-chan" jawab Len sambil memperhatikan papan tulis yang sedang ditulisi Meiko-sensei.

"Bla.. bla.. blaa.. bbbllllaaa.. blaaa... mengerti?" suara Meiko-sensei terdengar seperti itu di telinga Len.

"mengerti, sensei" jawab Len dan murid-murid lainnya (ada yang benar-benar mengerti tapi kebanyakan bingung. Habis kalau ada yang tidak mengerti maka penggaris keramat Meiko-sensei menjilat kulit mereka-mereka yang tidak mengerti)

"Shion BaKaito maju kedepan dan kerjakan nomor satu dan dua" kata Meiko-sensei dengan menunjuk papan tulis lalu menunjuk Kaito dengan board markernya. Kaito nelen ludahnya dalam-dalam. Demi Ice Cream Ma*num, dia nggak bakal bisa ngerjain soal logaritama yang dicampur sama penghitungan sinus+cosinus+tangen dan teorema phytagoras berakar pangkat (author : bayangin aja sekelompok huruf dan angka dan beberapa lambang operasi matematika, lambag akar matematika, pangkat kuadrat, dan kata-kata SIN, COS, TAN, dan LOG. Gue aja yang nge-bayanginnya udah mau muntah kayak baca ffn lemon hent*i). Kaito maju dengan gemeteran. Dia mengambil board marker yang disodorkan Meiko-sensei dan berjalan penuh ketakutan menuju papan tulis.

Di depan sana seorang Shion BaKaito. (author : *dicekokin ice cream sebakul, tepar)

.

.

Oke, ulang lagi.

.

.

Di depan sana seorang Shion Kaito sedang jongkok -eh- lari -eh- mati (readers : serius deh!). Maksudnya, sedang berdiri, ibu jari dan telunjuk sedang mencubit pelan dagunya lalu tangan kanan yang sedang memegang spidol dan menopang tangan kirinya. Uh, lagaknya kayak detektif mau mecahin kasus berat. Meiko-senei menatap semua siswa yang sedang duduk dan memperhatikan aksi berpikir Kaito. Dan tanpa disangka-sangka, si Kaito -yang notabenenya cuma pinter bagian dunia maling memaling- menuliskan sebuah rumus di papan tulis! SEKALI LAGI SAUDARA-SAUDARA DI PA-PA-N TU-LIS!

(author : sengaja diulang biar dramatis)

Satu kelas melotot sama aksi Kaito. Mereka pingin ngasih tepuk tangan ambil lari -maksudnya- berdiri.

"sudah selesai, sensei" kata Kaito kalem.

'INI MAHKLUK SATU KERASUKAN APAAN BISA KALEM DAN NGERJAIN SOAL MATEMATIKA RUWET KAYAK BENANG KUSUT YANG DIKUSUTIN LAGI' itulah isi pikiran anak-anak kelas 11-2.

Meiko-sensei berbalik dan melihat papan tulis. Kaito kembali kebangkunya yang disebelah Miku. Miku memegang jidat Kaito lalu memberi kode kepada sahabatnya yang duduk disamping Len, Kiiroine Rin, yang kurang lebih isinya seperti 'Kaito normal, nggak demam atau kesambet setan, iblis, shinigami, jin atau sebutan lain untuk makhluk halus'.

Meiko-sensei berbalik lalu sejurus kemudian meja guru itu melayang melewati jendela dan jatuh menghantam gerobak tukang bubur yang udah naik haji.

"dasar Shion BaKaito. Kamu itu sekali baka yang terus baka!" teriak Meiko-sensei menggema diseluruh sekolah. Meiko-sensei berkacak pinggang dengan kaki kanan diatas kursi guru. Meiko-sensei udah 11-12 sama preman pasar induk, "dasar idiot, masa kamu menulis kembali soal yang saya tulis. Kalian semua juga! Kenapa make cengo melotot liat si BaKaito ini menulis soal yang aku tulis! Kalian semua aku hukum scouth jam 200 kali! JANGAN ADA YANG MELAWAN! BAKAITO PIMPIN"

Akhirnya kelas 11-2 kena hukuman Meiko-sensei.

.

.

.

"kyujuu kyu" kata Kaito lemes.

'dengan begini betis gue bakalan sebesar bisep Agung Hercules. Liat aja BaKaito! Lo habis gue gebuk pake sword negi keramat keluarga gue!' pikir Miku.

'gue laper. Pengen makan.. BaKaito pulang sekolah nanti gue bakal ratain lo pake roadroller gue!' pikir Rin sambil manyun-mayun kearah Kaito. Kaito mikir Rin lagi ngasih kiss-bye ke dia. Ke GR-an lo Kaito!

'gue tebas lo Kaito habis penyiksaan ini, BaKaito!' pikir cowok berambut ungu panjang yang diikat tinggi-tinggi, Kamui Gakupo.

Len?

Dia masih konsentrasi sama bayangan Yuki yang meninggal kelindas jadi dua.

.

.

.

Yang lain udah selesai scotch jam tapi Len masih saja scotch jam. Dia sudah masuk hitungan 300! Rin yang emang dasarnya teman baik Len, mau menyadarkan Len. Len dilempar pisang oleh Rin. Len sadar dan langsung ngos-ngosan dan jatuh terduduk susah berdiri.

"kenapa udah pada selesai? Masih hitungan 50 tau!" seru Len.

"ada juga kamu yang kelamaan ngerjain hukumannya! Kamu udah masuk hitungan TIGA RATUS LIMA BELAS, KAGAMINE LEN-BAKA!" teriak Kaito.

"ini semua gara-gara kamu, Shion BaKaito!" teriak Yuuma.

"Bener tuh.. bener banget.." yang lainnyaikut ngomporin.

"minna, enaknya si BaKaito kita apain pulang sekolah?" tanya Miku ganas.

"Miku-chann, kawaii deh.." rayu Kaito make puppy eyes. Mata Kaito dapet bogem mentah dari Miku.

"nggak usah nungguin sampe pulang sekolah! Siksa dia waktu jam istirahat, setuju minna?!" teriak Rin.

"SETUJU!" sahut yag lainnya.

"suruh dia maho-an sama Gakupo dikamar mandi sekolah, terus ciuman, melakukan ra- pfftt !" teriak Akita Neru yang dibekep mulutnya sama Teto. Neru dan Teto merupakan seorang fujoshi terkenal seantero sekolah kayak author (*dor).

"itu udah terlalu mainstream Neru-san. Kita suruh saja dia pake baju maid neko plus nekomimi!" seru SeeU sambil mengacungkan nekomimi miliknya. Cewek berkebangsaan Korea yang hidup di Jepang dan cinta sama kucing.

"itu juga udah terlalu mainstream SeeU-san! Kita bilang sama pengurus kantin untuk menahan dan jangan meyediakan ice cream selama sebulan!" seru Gakupo. Anak-anak kelas ini tahu kalau Kaito makan ice cream dirumahnya pasti ice cream itu akan ditaburi bubuk cabai oleh ibunya yang -konon katanya- paling dia sayangi itu.

"jangan!" rengek Kaito dengan puppy eyesnya, "aku bersedia menjadi uke yaoi kamu dalam sebulan asal jangan ice creamku.."

"ogah. Gue udah punya pacar cantik namanya Yukari!" kata Gakupo sambil memperkenalkan pacarnya yang sekolah di sekolah lain.

"please, jangan..." rengek Kaito.

"onegai.."

"onegai"

"onegai"

Dia keliling kebangku murid-murid sambil berkata 'onegai' dengan puppy eyes.

Meiko-sensei balik sambil membawa meja yang tadi melayang dan mengajar lagi.

.

.

.

(skip time. Jam istirahat pertama)

.

.

Kaito pundung di bangkunya. Miku dan beberapa ekor -eh- maksudnya orang temannya sedang makan bento masing-masing. Rin dan Len naik ke atas atap sekolah dengan bento ditangan.

"Len kenapa dari mulai masuk sekolah ttadi pagi sampai pelajaran terakhir tadi kau melamun terus? Aku'kan jadi nggak ada temen buat ngobrol.." tanya Rin sambil memakan bentonya.

"a-aku mengalami kecelakaan tadi pagi bersama Yuki-chan.."

"lalu, apa Yuki-chan selamat?"

Len menggeleng lambat.

"kenapa itu bisa terjadi?"

"entahlah.. Sejak pertama aku menaruh kecurigaan pada sesuatu tapi aku mengacuhkannya begitu saja. Pertama, 4 menit sebelum aku dan Yuki-chan mengalami kecelakaan, Yuki-chan bilang kalau aku mengendarai sangat kencang. Tapi aku merasa aku mengayuh sepeda biasa-biasa saja. Aku menjawab, tapi sepertinya tidak didengar dan Yuki-chan terus bertanya padaku. Lalu kedua, saat ada di persimpangan Oni aku merasa ada semacam truk yang menabrak kami. Kau tahu sendirikan persimpangan Oni hanya bisa memuat pejalan kaki, sepeda, dan mobil kecil. Ketiga, sehabis ketabrak itu, entah kenapa aku bisa ada di jalan Tenshi. Aku dan sepedaku ada diatas trotoar sementara Yuki-chan ada dijalan raya lalu ditabrak. Keempat, jarak antara aku dan Yuki-chan ada sekitar 6 meter jauhnya tapi darah Yuki-chan sampai menciprat kearahku."

"darah? Terciprat? Jalan besar Tenshi? Persimpangan Oni? Truk? Yuki-chan?" gumam Rin sambil menggigit sumpitnya.

"tapi aku juga merasa aneh" kata Len sambil menjepit potongan telur dadar dengan sumpit. Rin merasa tertarik, mungkin saja kasus baru.

"karena semua kejadian itu seperti tidak akan terduga, maksudku, aku tidak mengerti kenapa ini semua bisa terjadi" lanjut Len.

"tapi mungkin saja kan itu garis takdir Yuki-chan" jawab Rin, "eh, tunggu. Tadi kau bilang kecelakaannya ada di jam Tenshi dan persimpangan antara jalan Oni dan Shinigami kan?"

Len mengangguk.

"ingat kasus yang kita pecahkan saat pertama kali? Tentang pembunuhan menggunakan mind control itu" kata Rin.

Len mengingat sebentar dan menjentikkan jarinya.

"oh, aku ingat" seru Len.

"apa mungkin dia pelakunya?"

"oh ayolah, Rin-chan. Pelaku itu sudah mati. Orang tua sang pelaku sudah meninggal sebelum dia bisa menggunakan kemampuan itu, lalu orang yang mengajarkan kemampuan itu pada pelaku sudah mati oleh pelaku, dan dia sama sekali tidak punya saudara" jelas Len.

"kita harus pecahkan kasus ini Len. Demi Yuki-chan" seru Rin sambil mengacungkan sumpitnya. Rin mengeluarkan ponselnya dan streaming siaran TV.

Disitu dia melihat mayat Yuki-chan diberi efek blur. Kecelakaan itu terjadi jam 07.50. Len adalah orang yang selalu mengantar jemput Yuki ke sekolahnya. Len sudah tak punya orang tua dan terpaksa sekolah sambil bekerja.

"dalam kasus kecelakaan ini kurasa ada sebuah -maksudku- banyak kejanggalan" kata Rin sambil memasang wajah ala detektifnya.

"aku sependapat denganmu." sahut Len, "aku sedang tidak mabuk atau bermimpi. Aku akan memecahkan kejanggalan ini"

"aku rasa seseorang mengendalikan keadaan kita. Aku bisa merasakan hal itu. Nanti pulang sekolah kau, Kaito, Gakupo dan Miku-chan datang kerumahku untuk memecahkan kasus janggal ini"

"tentu saja"

Rin dan Len menyelesaikan acara makan mereka dan kembali ke kelas mereka.

.

.

.

.

.

.

(Skip Time . Time : 4.30 p.m

Place : Hatsune's House)

(Len POV)

.

.

Aku sekarang ada dirumah seorang temanku yang bernama Hatsune Miku. Dia adalah anak perempuan dari seorang pemilik toko senjata dan alat detektif di kota Crypton.

"jadi Len, bisa kau jelaskan tentang kecelakaanmu bersama Yuki-chan?" tanya Kaito memulai acara penyelidikan.

Aku meceritakan kembali tentang kecelakaan itu. Miku, Kaito, Rin dan Gakupo mendengarkan sambil memakan makanan kesukaan mereka.

"kau bilang kau ada di Jalan Besar Tenshi?" tanya Kaito.

"Persimpangan Oni'kan tinggal 5 meter lagi menuju sekolah Yuki-chan" ulang Miku.

"tapi kenapa bisa kejadian seperti itu?" tanya Gakupo.

"kalian'kan tau sendiri aku gak bisa mabok

cuma gara-gara minum sake. Lagian pisang dirumahku habis. Dari kemarin aku belum makan pisang sama sekali." jelasku namun tak bisa menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan teman-temanku.

Kaito menyalakan televisi di ruang tamu Miku.

'Kecelakaan tadi pagi masih diselidiki oleh pihak kepolisian Jepang. Namun, pihak kepolisian masih belum bisa menemukan satupun bukti untuk kecelakaan yang mengakibatkan seorang gadis berumur 10 tahun meregang nyawa' kata presenter salah satu acara berita di TV itu.

"kecelakaan itu disiarkan Len" kata Kaito sambil mengecilkan volume suara TV itu.

"sudah kuduga" desis Len, "dan aku pasti akan dicurigai oleh pihak kepolisian"

"kurasa ini kasus baru untuk kita pecahkan" seru Rin, "ayolah, kasus yang kita pecahkan terakhirkan waktu kita SMP kelas tiga.."

"tapi kasus ini terlalu bayak kejanggalan" kata Gakupo.

"bukankah semakin janggal semakin seru?" jawab Rin.

"aku berani ambil resiko untuk menyelesaikan kasus ini" kata Len dengan nada serius.

"aku ikut. Aku akan 'meminjam' beberapa peralatan detektif Tou-san" kata Miku.

"aku ikut" kata Kaito bersemangat.

"terpaksa deh.. Aku ikut" kata Gakupo.

"mulai sekarang kita kumpulkan petunjuk" kata Len mengambil sebuah board marker dan menuliskan kata 'data' di papan tulis diruang tamu itu.

"pertama aku akan mendatangi keluarga Yuki-chan dan meminta maaf. Lalu Miku, aku minta kamu ditemani Rin-chan untuk menyelidiki Persimpnangan Oni. Bawa kamera dan handycam. Untuk jaga-jaga bawa alat kejut listrik. Mengerti?" Len memulai rencana detektif mereka.

"ha'i" jawab Rin dan Miku kompak.

"Kaito dan Gakupo aku minta kalian menyelidiki Jalan Besar Tenshi dan mengambil CCTV yang pernah kita pasang waktu itu."

"ha'i" jawab Kaito dan Gakupo kompak.

"yosh, untuk menghemat waktu, ayo kita mulai penelidikan!" seru Rin. Rin pergi ke kamar Miku dan mengambil handycam dan kamera digital. Miku pergi ke gudang rahasia ayahnya dan mngambil beberapa alat detektif. Kaito dan Gakupo langsung pergi ke Jalan Besar Tenshi.

.

.

(skip time. Time : 5 p.m

Place : Kaai Yuki's House)

.

.

.

Aku melihat ibunya Yuki-chan sedang menangis meraung-raung di halaman belakang rumahnya. Sepertinya suaminya sedang ada di rumah sakit atau kantor polisi.

"Kaai-san" panggil Len dengan nada kecil.

Mata sembap ibunya Yuki menatap Len lalu berlari dan memeluknya.

"Len... Yuki meninggal.." kata ibu Yuki sambil menangis.

"aku tahu, aku yang membuatnya celaka. Gomenasai, Kaai-san"

"tidak... Tidak, kau tidak salah sama sekali. Aku tahu kau pasti sedang sibuk sekolah. Makanya aku tidak menelepon untuk mengantarkan Yuki ke sekolahnya. Lagipula.. sudah tiga hari ponselmu tidak bisa dihubungi.."

Aku dalam pelukan ibu Yuki, kaget setengah mati.

'ponselku mati?' desisku.

"dakedo, ponselku selama ini aktif. Ponselku tidak pernah mati." jelasku.

"sudahlah, aku akan mencoba untuk merelakan Yuki. Arigatou, Len-kun karena selama ini telah mengantar-jemput Yuki." kata ibu Yuki sambil membungkukkan badan lalu pergi meninggalkanku.

Aku berpamitan dengan ibu Yuki dan pergi menuju jalan besar Tenshi. Aku berjalan gontai sambil berpikir tentang semua yang kualami selama hari ini. Kecelakaan Yuki-chan membuatku pusing. Aku melihat Kaito dan Gakupo sedang mencopot handycam yang beberapa bulan lalu terpaksa kami pasang untuk menyelediki sebuah mobil.

"heh, BaKaito! Cepetan dong ngambil CCTV-nya! Kau pikir aku ini tangga?!" seru Gakupo.

"sebentar lagi BaKamui! Yah, obengnya jatuh!" jawab Kaito.

Kaito melompat dari bahu Gakupo dan tak sengaja menginjak rambut Gakupo yang sudah dirawatnya baik-baik.

"ah, lu tuh ya'temen paling ngeselin yang paling baka ya'?! Cepetan lepas! Sebelum polisi dateng!"

"ya, ya, dasar cerewet!" Kaito naik lagi keatas bahu Gakupo dan berhasil melepas CCTV-nya.

"sudah berhasil melepas CCTV-nya"

"hoiy, bagaimana pekerjaannya?" tanyaku.

"beres. Aku akan mengambil rekaman videonya dan kita selidiki sama-sama di rumah Miku-chan. Jaa nee, Len" jawwab Kaito sambil berjalan menuju rumahnya.

.

.

.

(Rin POV)

.

.

.

Aku dan Miku sedang menyelidiki Persimpangan Oni.

"lihat, Miku. Penghubung jalan di persimpang ini cuma muat untuk 2 buah motor. Kata Len'kan, dia serasa ditabrak sebuah truk" kataku sambil menelusuri jalan kecil di persimpangan Oni.

"aku berpikir Len tidak bercanda tapi entah kenpa ceritanya sungguh sangat mengada-ada" komentar Miku.

"lihat. Jalan keluar dari persimpangan ini adalah Jalan Besar Tenshi" seruku. Miku berpikir sebentar.

"kita butuh seseorang untuk dijadikan saksi mata. Tapi siapa?"

"coba kita tanya pria itu"

Aku dan Miku menghampiri seorang pria yang sedang berdiri sambil menyesap kopi kalengnya.

"konnichiwa" sapaku dan Miku sambil menunduk.

"aa, konnichiwa" balas pria itu.

"gomenkudasai, jii-chan. Apa jii-chan tau tentang kecelakaan di Jalan Besar Tenshi?" tanyaku.

"ya, memangnya kenapa?"

"anak kecil yang meninggal itu tetanggaku. Aku hanya merasa kasihan dan sedang mencari bukti apa kecelakaan itu benar-benar tidak disengaja" jelasku.

"tadi pagi sebelum aku berangkat bekerja, aku melihat seorang anak SMA bersepeda. Tapi dia ngomong sendiri padahal tak ada siapa-siapa. Aku curiga lalu sedikit mengikutinya. Tiba-tiba, laki-laki itu terjatuh dari sepedanya dengan mata melotot saat terjadi kecelakaan itu."

"sou ka.. Dakedo jii-chan, apa kau kenal siapa cowok itu?" tanya Miku.

"tidak" jawab pria sambil menggeleng.

"laki-laki yang dimaksud jii-chan itu pasti Len. Cerita Len dan jii-chan itu sama" bisik Miku padaku.

"aa, Jii-chan. Arigatou gozaimashita, atas informasinya."

"ya, sama-sama" jawab pria itu sambil tersenyumpada kami.

"kami harus pergi. Jaa dewa mata nee" pamitku sambil membungkukkan badan.

"aa, jaa dewa mata nee"

Aku dan Miku berjalan beriringan sambil berpikir.

"kita butuh informan lain. Jika hanya pria itu, aku masih kurang yakin" kata Miku.

"ya sudah, kita berpencar dan mencari informasi lainnya. Kau ke Utara dan aku ke selatan. Jaa nee"

"jaa nee. Setelah mengumpulkan banayk informasi, temui aku di tempat ini lagi!" seru Miku sambil melambaikan tangan dan berlari kecil menuju jalan besar Tenshi.

Aku menyusuri Jalan Shinigami dan bertemu dengan seorang gadis berseragan sailor berwarna biru. Dia pasti dari SMA di rayon sebelah.

"konnichiwa, Senpai" sapaku.

"aa, konnichiwa" sahut cewek itu.

"senpai, boleh aku bertanya sesuatu?"

"apa kau salah seorang dari detektif-detektif kepolisian itu?"

"bukan. Memangnya ada detektif yang menanyai senpai?" tanyaku balik.

"ya, begitulah.. Jadi apa yang mau kau tanyakan?"

"kata senpai, senpai ditanyai oleh detektif. Apa yang ditanyakan detektif itu?" tanyaku dengan nada yang dibuat-buat seolah sedang tidak sedang mengintrograsi.

"detektif itu menjadikanku saksi mata untuk kecelakaan di Jalan Besar Tenshi. Karena saat itu hanya aku yang terlihat dalam rekaman CCTV" jawab senpai itu tanpa curiga sedikitpun padaku.

"oh, lalu apa detektif itu bertanya hal lain?"

"tidak hanya itu saja"

'dia berbohong. Mingkin aku terlalu banyak bicara. Aku harus mengganti arus pembicaraan. Lalu, jika gadis ini yang hanya muncul di CCTV, kenapa Len bisa tak terlihat?' pikirku.

"tokoro de, kita belum berkenalan. Watashi wa Mikoto Ran desu. Yoroshiku~" ucapku berbohong. Untung saja name tag-ku sudah dicopot.

"Watashi wa Utane Mayu. Yoroshiku~" kata gadis bernama Utane Mayu itu.

"Utane-san, berasal dari sekolah mana?" tanyaku.

"panggil aku Mayu saja, Mikoto-san. Aku dari Crypton High School. Mikoto-san, sendiri darimana?"

"aku dari Vocasora Gakuen. Oh ya, panggil aku Ran saja" jawabku sambil tersenyum.

"baiklah, Ran. Kau sekolah di Vocasora ya'? Kau kenal dengan Megurine Luka tidak?"

'Megurine Luka?' pikirku merasa tak asing dengan nama itu.

"Megurine Luka? Aku sepertinya kenal tapi aku tak tahu pasti"

"oh begitu ya.. Aku jadi merasa tegang karena tadi diwawancarai oleh kepolisian.." kata Mayu.. curcol?

"memangnya apa yang ditanyakan oleh polisi-polisi itu?" tanyaku pura-pura penasaran.

"mereka bertanya alasan kenapa aku bisa ada disana!? Sudah jelaslah aku mau sekolah!"

"polisi-polisi itu memang kebanyakan orang-orang yang sangat penasaran. Mereka memang sangat menyebalkan" aku berpura-pura setuju dengan Mayu.

"benar-benar menyebalkan setengah jam aku diintograsi sampai aku telat pulang begini. Lagipula kenapa anak cowok berambut kuning itu gak diintrograsi!"

'cowok berabut kuning? Maksudnya Len?' pikirku.

"hah, rupanya ada saksi lain selain Mayu-senpai?" tanyaku.

"tentu saja ada. Begitu anak itu terlindas mata cowok shota itu melotot lebar selebar donat!" sepertinya Mayu sudah kesal.

"haha, Mayu-senpai suka bercanda juga ya.." aku tertawa dipaksakan.

"hei, Ran.. kenapa kau begitu ingin tahu tentang kecelakaan ini?"

"karena korban kecelakaan itu adalah sepupuku. Aku ingin memukul yang menabrak sepupuku!" seruku.

"tapi kau tahu'kan yang menabrak sepupumu itu sudah ditangkap polisi.." kata Mayu sedikit sweatdrop.

"hah, begitu ya?" tanyaku pura-pura tidak tahu. Aktingku bagus'kan?

"jemputanku sebentar lagi datang sepertinya kita harus berpisah. Sayonara!?" seru Mayu sambil berlari menuju halte bus.

"sayonara, senpai" sahutku.

Aku dapat satu informasi baru, bahwa Len sama sekali tak terekam di CCTV. Itu mungkin sebabnya kenapa Len sampai belum dipanggil polisi. Aku harus cari informan lain. Tapi sulit sekali. Ini jalanan sepi tak banyak yang bisa kujadikan informan.

.

.

.

(Kaito POV)

.

.

.

Aku keluar dari kamarku setelah mengcopy rekaman pada CCTV yang tak sengaja kami pasang 3 bulan lalu.

"bagaimana hasil videonya?" tanya si banci ungu yang memuja terong a.k.a Gakupo.

"entah kenapa nada bicaramu seperti seorang suami yang sedang menunggu istrinya melahirkan" jawabku tanpa menjawab pertanyaan dengan wajah kalem.

"aku serius, BaKaito"

"aku juga serius"

"cepetan kasih tahu isi videonya sebelum bilah katana ini menjilat lehermu" ancam Gakupo.

"iya, iya.. Akan kujelaskan saat berkumpul di rumah Miku-chan. Ayo pergi" ajakku dan pergi ke rumah Miku.

.

.

.

(Len POV)

.

.

Aku berjalan menuju rumah Miku. Di depan rumahnya ada Kaito dan Gakupo.

"hoi, minna!" sapaku.

"hoi, Len!" sahut mereka menghentikan aksi merek membobol kunci akses masuk kedalam kediaman Hatsune.

"bagaimana CCTV-nya?" tanyaku.

"beres. Kita hanya perlu menyelidikinya" jawab Kaito sambil menunjukkan sebuah video tape.

"dimana Rin dan Miku?"

"belum datang. Mungkin mereka terlalu keasyikan menelusuri jalan aneh itu" jawan Gakupo.

"aku akan menelepon mereka" aku mau mengambil ponsel flip berwarna kuning milikku di saku celana tapi tak ada benda berwarna kuning itu disana.

"dimana ponselku? Apa aku menjatuhkannya?" gumamku.

"Len, sudah tiga hari kau tak pernah bawa handphone ke sekolah. Kemarin aku mau menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif, kupikir kau belum beli charger baru" kata Kaito sambil mengelus-elus video tapenya.

"e-eh"

"si BaKaito benar, Len" sambung Gakupo yang dipelototi Kaito.

"tapi kemarin aku baru sms-an sama Rin" bantahku. Kaito menunjukkan sebuah ponsel berwarna kuning dengan gantungan jeruk dan huruf kanji beruliskan 'Rin'.

"aku mencurinya kemarin. Untuk balas dendam karena menggilas ponselku dengan Josephine" jawab Kaito. (PS : Josephine itu nama roadrollernya Rin)

"tapi bagaimna mungkin? Ini mustahil! Tadi aku sempat mendengarkan musik menggunakan ponselku saat pelajaran Lola-sensei!" bantahku lagi.

"tadi itu kau pake mp3 player punya Rin" jawab Gakupo. Jujur saja, sekarang aku merasa seperti orang gila baru! Aku menyangka semua yang kulakukan sama seperti biasanya dan ternyata kenyataan itu berbalik 180 derajat!

"sudahlah Len, sudah 15 menit kau bengong begitu.." kata Kaito sambil menarik kunciranku.

"aku tidak mengerti sama sekali tentang yang selama ini telah aku alami. Mungkin aku terlalu depresi karena orang tuaku sudah lama meninggal.." ucapku nyaris mengeluarkan emosi yang sudah kutahan-tahan selama 15 menit lamanya.

"penyelidikan bisa dimulai sekarang, Miku dan Rin sudah pulang" kata Gakupo sambil menunjuk Miku dan Rin yang sedang berjalan sambil berpikir.

.

.

.

Sekarang aku dan Kaito sedang menyiapkan alat pemutar video tape dan menunggu cemilan yang sedang dibuat Miku.

"Miku! Udah belum?!" teriak Kaito sambil membereskan kabel supaya tak menghalangi jalan.

"eh, kau pikir ini cemilan buat nonton film?! Kita ini mau menyelidiki kasus bukan nonton film, BaKaito!" teriak Miku sambil membawa nampan berisi berbagai jenis pancake.

"Kaito, mana video tape-nya?" tanyaku.

"itu diatas meja" jawab Kaito sambil nelen pancakenya sekali gigit. Wajar dapet pancake es krim dia..

Aku mengambil video tape itu dan memasukkannya kedalam pemutar video tape itu. Aku menekan tombol 'close/play' dan video itu nampak di televisi.

Jalanan terlihat lengang karena saat itu bukanlah jam keja yang sibuk. Rambu lalu lintas bertuliskan 'dont walk' terpampang jelas. Yuki-chan berlari diatas zebra cross lalu tak lama kemudian datang truk gandeng itu dan Yuki-chan terlindas.

"Kaito, previous videonya pelan-pelan" perintah Miku. Kaito mengambil remote dan menekan tombol previous terus-menerus sehingga video itu mundur perlahan.

"Lihat! Yuki tiba-tiba muncul!" seru Rin sambil menunjuk layar TV.

"Kita butuh CCTV lain dari ujung jalan dari asal datangnya truk itu" kata Miku.

"tapi CCTV itu punya pihak kepolisian, kemungkinan sudah diambil sebagai barang bukti" jawab Kaito. Aku, Gakupo dan Rin mengangguk.

"lalu kita harus bagaimana? Di video ini cuma terlihat Mayu-senpai, Len, Yuki dan truk itu. Jalanan sepi karena belum waktunya sibuk. Jam sibuk itu lima menit setelah kecelakaan ini!" tanggap Rin. Rin mengambil board marker berwarna merah. Dia melingkari aku yang ada di video itu, Yuki, seorang gadis dengan bando kelinci, dan kepala truk gandeng itu. Pokoknya dia mengotori TV punya Miku.

"aku punya ide" kata Gakupo sambil menjentikkan jarinya.

"apa?" tanya kami beremapat kompak

"ingatkan kalau sekolah kita punya jaringan internet yang bagus? Besok kita bolos jam pelajaran pertama sampai ketiga atau mungkin lebih, menghubungkan laptop Kaito yang anti-firewall dengan jaringan internet sekolah dan meretas data CCTV milik kepolisian" jwlas 6akupo sambil menggambar rencananya diatas selembar kertas.

"ingatkan terakhir kali kita meretas data dan nyaris ketahuan? Aku harus upgrade lagi anti-firewall di laptop-ku kalau begitu caranya. Dan ingat jangan sampai ketahuan kelompok occult dan OSIS" jawab Kaito sambil menjilati pancake yang dilumuri ice cream.

"entah kenapa kelompok occult itu sangat tidak menyukai kita" komentarku.

"oh ya, aku baru ingat sesuatu" kata Rin sambil memakan potongan terakhir pancake jeruknya, "kalian kenal tidak yang namanya Megurine Luka?"

"itukan ketua klub occult yang sudah alumni angkatan tahun kemarin" jawab Gakupo, "soalnya aku pernah jadi pacar si Kaichou itu. Benar-benar pilihan yang buruk" jawab Gakupo.

"oh, itukan senpai kita yang pernah diisukan membuat orang meninggal dengan pentagram yang di ruang pemanas. Ingat tidak?" sambung Miku.

"oh itukan senpai kita yang berambut pink kayak Yuuma" sambungku.

"iya aku ingat sekarang" ucap Rin sambil mengangguk.

"KIRIMAN KHUSUS UNTUK NONA HATSUNE" teriak seseorang dari depan rumah.

"sepertinya tukang pos. Tunggu disini ya" kata Miku, "ne, chotto matte"

Tak lama kemudian, Miku kebali dengan sebuah amplop besar berwarna coklat.

"paket ini isinya apa ya'?" tanya Miku sambil membolak-balikkan amplop itu.

"coba kulihat" ucapku sambil menarik amplop ditangan Miku, "Cap pos amplop ini dari Osaka. Kau punya saudara di Osaka?"

Miku menggeleng.

"kalau begitu apa isinya?" tanya Rin penasaran lalu aku membuka amplop itu...

-To Be Continued-

Author : arigatou, buat yang udah rela baca fic Mysterious Accident. Saya author baru jadi harap dimaklum kalo fic-nya rada gj. Udah panjang GAJe lagi, maklum author sibuk ngerjain tugas dan masih newbie.

Gak banyak bacot lagi...

RnR please (*puppy eyes no jutsu) Terima flame yang bermakna ^^. Satu review sangat bermakna bagi saya.

.

.

.