EREN, ANATA WA DOKO E IKU, WATASHI MO IKU

A short fic about ErenMika.


Disclaimer: Shingeki no Kyojin by Isayama Hajime


Eren mendesah. Langit yang begitu gelap tanpa cahaya mendukung suram hatinya. Tetes-tetes air hujan membasahi tanah tempat ia berdiri. Bercak-bercak darah yang mulai mengering kembali basah karenanya.

"Eren, ayo masuk." Mikasa dari balik pintu memanggil.

Eren masih mematung. Mikasa pun maju mendekatinya.

"Eren, ada apa?" tanyanya pelan.

Hening sejenak. Yang ada hanya suara hujan yang makin menderas.

"Semua ini…"

Mikasa menunggu kata-kata selanjutnya.

"… akan segera berakhir…"


"Bukankah itu keinginanmu?"

Eren menoleh ke arah Mikasa.

Bukankah itu keinginanmu?


Eren membanting tangannya ke atas tepi perahu.

Berseru kencang.

"AKU AKAN MEMBUNUH MEREKA SEMUA!"

Jeritnya dengan cucuran air mata.

Hatinya pedih, menyaksikan kematian ibunya sendiri.

IBU-NYA, wanita yang paling disayanginya.

Yang terbaik dalam hidupnya.

Sialan, semua titan itu!


Aku pasti akan melakukannya!

PASTI!


"Mikasa…" panggil Eren, membuat gadis berambut hitam itu mengangkat kepalanya.

"Kenapa… kau ingin masuk ke Pasukan Pengintai?"

Sang gadis terdiam.

"Bukankah sudah jelas?" bisiknya, "Aku harus menjaga Eren."

Eren mendesah kembali.

"Bahkan jika aku hidup di luar dinding? Kau akan tetap mengikutiku, menjagaku?"

"Ya." Mikasa menyahut tegas.

"Kau membahayakan hidupmu sendiri hanya untukku," Eren geleng-geleng kepala, menggumam, "Apa kau tidak akan menyesal, Mikasa?"

Apa kau tidak akan menyesal, Mikasa?


Tidak akan pernah, Eren.

"Tidak sama sekali," Mikasa menyahut, membuat Eren menoleh.

"Karena… Eren sangat penting bagiku." ungkap gadis itu, "Aku yakin, aku tidak sia-sia menjaga Eren. Biarpun aku mati, aku yakin usahaku tak sia-sia, meski hanya untuk melindungimu."

Eren mengangkat kepalanya ke langit. Hujan mulai mereda, Bintang-bintang mulai bersinar, menampakkan diri mereka dari balik awan.

"Ke manapun kau pergi," Mikasa menyambung, "Aku akan tetap berada di sampingmu."

Kau tak akan sendiri.


Aku tak akan sendiri.

Perlahan, Eren merengkuh sang gadis ke dalam pelukannya.

Aku tak akan pernah sendiri.

Dan memeluknya lebih erat lagi.

Karena kau ada, Mikasa.

Terima kasih untuk kesetiaanmu.


"Terima kasih, Mikasa."

Mikasa menggeleng, balas merengkuh saudara angkatnya, "Tidak perlu berterima kasih."

Saat itu—entah kenapa—Eren merasa begitu bahagia. Bersama Mikasa, ia dapat merasakan keindahan dunianya. Walaupun di luar sana titan merajalela, di sini, bersamanya, dunia Eren terasa utuh.


Anata wa doko e iku, watashi mo iku.

-End-


Inspiration by a story in Majalah Ummi :3

Sorry for bad Japan.

The last…

Review?