Disclaimer – Seperti yang kita semua tahu: Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime (klo itu punya saiia, saiia buat latarnya di Indonesia XD)

FOR ARMIN CS05 CHALLENGE


WARNING –OOC, Intro Nggak Nyambung,Humor Mulai Hilang (part 2), Gaje, Garing, GuestStar, AU, AT, dan A-A lainnya (?)

Latar Tempat Crossover Dengan Anime Lain (gyah, maksudnya apa?)

Figuran Lalu-Lalang Crossover Dengan Anime Lain

(SOALNYA LATARNYA DI ASRAMA ANIME! :3)


Armin menjatuhkan dirinya ke atas tanah. Ia sudah benar-benar capek. Eren mati-matian menyemangati sahabatnya sambil terus menyeret Jean yang beratnya entah berapa ton (ngarang bebas). Bertholdt sudah jalan merangkak. Christa berpegangan pada Eren, khawatir bocah itu terdorong dan ia akan jatuh ke jurang di samping mereka. Mikasa daritadi mengawasi Eren. Marco sudah menyender ke dinding tebing. Terlalu lelah. Dan jam di pergelangan tangan Armin menunjukkan pukul setengah sembilan malam.

Sepertinya hanya Annie yang berdiri tegak. Ia maju dan memimpin semua temannya menuruni sisi tebing yang rapuh.

TRAKK!

"AAAHHH!" Armin menjerit, kaget. Tanah tempat ia berpijak runtuh.

"ARMIN!" dengan cepat, Eren menyambar sahabatnya yang hampir terjatuh ke jurang. Malangnya, Jean yang menggantikan posisi Armin untuk jatuh ke jurang.

"JEAANN!"

"TOLONG DIA, CEPAATT!"

"JEAANN! JEAAANNN!" Marco berhasil menangkap sahabatnya, "AKU DAPAT DIA! JEAN, KAU MASIH BISA BERTAHAN?!"

"TARIK DIA LANGSUNG! DIA TAK MUNGKIN MENJAWAB!"

"SIAPAPUN, BANTU MARCO, DONG! JEAN ITU BERATNYA 1000 TON, TAHU NDAK?!"

"JEAN! TIDAK—DIA MAU JATUH LAGI!"

"TOLONGIN MARCO, OYY!"

"YA TUHAN, CAPSLOCK JEBOL!" (?)

Annie yang merupakan benda terdekat dengan Marco kala itu, langsung melemparkan dirinya ke depan dan menarik tangan Jean yang satu lagi. Bersama-sama Marco, keduanya berhasil menyelamatkan Jean dari juang.

"S, syukurlah…" Armin tiba-tiba ambruk kala itu. Ia sudah terlalu tegang melihat capslock author jebol ketika menulis percakapan mereka.

"ARMIINNN!"


Armin membuka matanya yang biru. Sekelilingnya berwarna putih. Hampir semuanya—tunggu. Ada sesosok berwarna krem dan coklat di sebelah kirinya.

"Armin! Armin!" suara yang familier, eh?

"Baru tahu gue malaikat warnanya coklat ama krem." Armin ngigo.

"ARMIINNN!"

Mata Armin langsung terbuka lebar mendengar namanya dipanggil sekencang suara toa, entah berapa hertz. Yang jelas, karena ia masih bisa mendengarnya, tidak mungkin di atas 20.000 hertz (eh, kok jadi belajar Fisika sih?).

"E, Eren?"

"Kau kenapa? Kau tidak apa-apa, kan?"

"Ergh, tidak apa-apa. Tapi, Eren, bisa turun dari perutku, tidak?"

Eren meringis, "Maaf. Aku khawatir, sih."

"Y, ya, tidak apa-apa."

Annie datang, menyibak tirai pintu, "Makan malammu." ujar gadis itu singkat. Ia meletakkan sebuah baki di atas meja, lalu berlalu begitu saja.

"Kita di villa? Y, yang lain, bagaimana?"

Eren meringis, "Kita tadi sudah dekat dengan ujung jalan, lho. Sayang kau langsung pingsan. Jean sudah bangun, dan herannya dia nggak pingsan ngelihat Marco setelah Christa cerita bahwa Marco sudah menyelamatkan hidupnya." si Rambut Coklat tertawa, "Tenang saja. Semua oke."

Armin hanya mengangguk, kembali mem-flashback semua yang terjadi hari itu, "Kelompok kita… jadi yang paling akhir sampai ke finish, ya?"

"Tapi pengalaman kelompok kita paling seru!" Eren menukas, "Bertholdt yang bercerita di depan semuanya tentang petualangan kita hari ini. Dan tahu tidak—kelompok kita dapat tepuk tangan paling heboh!"

Armin tertawa lemas, mendengar cerita sahabatnya. Eren hanya tersenyum, lalu mengambil semangkuk bubur hangat dari baki dan berkata, "Kau harus makan."

"B, biarkan aku sendiri," Armin membalas lemah.

"Tidak. Biar aku menyuapimu," ujar sahabatnya lembut. Ia menyendok potongan bubur lalu mendekatkannya ke mulut Armin, "Say 'Aaah'…"

GREK. Pintu terbuka, menghentikan acara suap-menyuap yang baru saja mulai.

"Sudah sehat, Nak?" tanya Masamune. Armin mengangguk lemah, tapi Eren menyela, "Ia masih harus istirahat."

"Tentu, memang itu mauku. Kita akan tinggal di pulau ini selama beberapa hari lagi sampai kau sembuh," Masamune tersenyum, "Dan Eren, kamu yang bertugas menjaganya, oke?"

"O, oke."

"Kalo gitu, aku keluar dulu, ya. Selamat makan dan sori deh, mengganggu."

Armin memiringkan kepala, mengangguk kembali. Masamune pergi keluar dan menutup pintu.

"Nah, ayo makan lagi," kata Eren.

"Kau nggak makan?" Armin bertanya khawatir.

"Aku boleh ambil sebagian dari bubur ini, kan?"

Armin tersenyum mendengar nada sarkastis dalam perkataan Eren, "Yah, bolehlah."

Eren membalas senyum sahabatnya, kembali menyuapi lelaki berambut pirang di hadapannya.


Saat itu, Armin merasakan betapa indahnya persahabatan.


Persahabatan yang telah mengukuhkan mereka untuk saling berbagi sepiring bubur. Jadi, jangan pelit dengan sahabatmu, ya. Kau akan merasakan sejuknya persahabatan ketika kalian saling berbagi…


-SDAA-AASnK YANG PENUH KEGAJEAN, END-


Boleh minta RnR, para readers yang baik~?