"Nah, anak-anak, kalian harus menggambar wajah orang tua kalian di rumah, ya. Boleh Ibu, boleh Ayah, boleh juga paman atau bibi kalian. Lalu kalian harus menuliskan keinginan orang yang kalian gambar dibawahnya. Apa kalian mengerti?"

"Mengelti, Kuyoko-cencei!"

"Baik, sekarang kalian boleh pulang. Hati-hati ya di jalan."

"Ha'iiii~!"


Ren present,

"Akashi's Family"

to Kurobasu Fandom.

AkaKise [Akashi Seijuuro x Kise Ryouta]

Rate : K-T

Warning : MPreg, boy x boy, OC, and many more.

Summary : Keluarga Akashi adalah keluarga yang bahagia dan harmonis.

Saya tidak mengambil sedikitpun keuntungan disini―terkecuali keuntungan batin LoL―, jadi, saya harap, yang tidak suka, tolong, yang tidak suka dengan hubungan boy x boy, AkaKise, uke!Kise, terlebih ada OC nyempil disini, harap menekan tombol X dipojok kiri ^^

Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi

Akashi's Family (c)


Akashi Ryouta, dua puluh tiga tahun, mantan model, mantan copycat dari Teikou dan Kaijou, dan istri dari Akashi Seijuuro itu sedang memperhatikan putra sulungnya yang sedari tadi hanya berguling di lantai. Sesekali ia berhenti dan memandang buku gambar yang putih polos di hadapannya, lalu beralih ke tempat crayon nya, menghela nafas, lalu berguling lagi.

Sungguh, pria yang berbagi darah dengan Seita itu tidak mengerti ada apa dengan putranya.

Melihat sang bocah berumur empat tahun itu membuat jiwa ibunya tidak tahan. Putranya seperti gadis SMP yang baru mengenal namanya cinta pertama.

"Hei, Secchi." Ryouta memanggil, membuat sang anak menolehkan wajahnya kearah sang Ibu.

"Ne, Mama?" Seita bertanya sembari berusaha duduk. Tata krama adalah hal yang selalu diajarkan padanya sejauh ia bisa mengingat.

Ryouta mulai duduk dengan posisi seiza. "Ne, Tacchi sedang apa?"

Ragu untuk menjawab membuat Seita memajukan bibirnya dan mengerutkan dahi.

Melihat itu Ryouta hanya menghela nafas. Anaknya sangat lucuuuu!

"Tacchi cerita saja, Mama akan mendengarkan, kok."

Mulai mengambil nafas dalam, Seita mulai bercerita. "Beginyi, Kuyoko-cencei membelikan tyugas untyuk menggambal wajyah Papa cama Mama, teluuus, halus dibelikan keingyinan olang nyang digambar. Ceita kyan tidyak tyahu keingyinan Papa cama Mama..."

Ryouta tertawa kecil. Jadi karena itu toh. "Hmm... Kenapa Seita tidak menggambar kami berdua saja dahulu, baru bertanya apa keinginan kami begitu Papa pulang?" usul Ryouta.

Seakan baru mendapat penerangan, Seita tersenyum senang. Ia menganggukan kepalanya dengan tampang excited.

"Nah, ayo bantu Mama menyiapkan makan malam, sebentar lagi Papa pulang," Ryouta membelai rambut pirang anaknya sebelum beranjak bangun.

"Neeeee~"

.

"Aku pulang,"

"PAPAAAAAAA!"

Alih-alih tersenyum kecil melihat anak semata wayangnya, Seijuuro langsung menggendong Seita dan langsung mencium pipi gembilnya. "Papa pulang, Seita."

"Ceyamat datyang, Papa~" Seita tersenyum lebar sebelum mencium kedua pipi sang Papa tercinta.

"Arra? Selamat datang, Papa." Ryouta―yang masih memakai apron― keluar dari dapur dan tersenyum manis sembari menghampiri sang suami.

"Aku pulang, Mama." Seijuuro memberikan kecupan ringan di bibir merah sang mantan model itu.

Wajah Ryouta memerah. Ugh, padahal sudah berapa kali ia melakukan ini, tapi kenapa ia masih saja merasa malu?

Melihat reaksi sang istri, mau tidak mau membuat pemilik nama Akashi itu menyeringai. Lalu dengan sengaja, ia mendekati kuping sensitif milik Ryouta. "Mama, aku lapar."

Jikalau wajah Ryouta bisa lebih memerah dari ini, ia yakin sang pemilik rambut merah di depannya akan langsung menyeretnya ke kamar.

Tertawa kecil, Seijuuro menurunkan Seita dan langsung menuju kamarnya yang dilantai dua.

"Aku ganti baju dulu, kalian tunggu saja diruang makan."

Sekilas, Ryouta bisa melihat seringai di wajah tampan itu.

'Seicchi bakaaaa!'

.

Meskipun Seijuuro hanya makan sup tofu serta nasi putih dan minum teh oolong, tapi makanan itu terasa sangat lezat karna Ryouta dan Seita makan bersamanya dengan senyuman.

Mereka makan dengan santai dan tidak mengeluarkan sepatah katapun karna Seijuuro memang tidak suka jika ada yang berbicara saat makan.

"Terima kasih atas makanannya!" Ryouta berkata dengan riang saat makanannya sudah habis, sedangkan Seijuuro dan Seita hanya menangkupkan kedua tangannya.

Ryouta lalu mengumpulkan piring kotor lalu berjalan kearah tempat cuci piring.

Seijuuro dan Seita pindah keruang tengah. Sang Papa mulai membaca novel, sedang sang anak mulai berkutat lagi dengan buku gambarnya.

"Umm... Papa..." Seita memanggil dengan takut-takut.

Seijuuro―yang menyadari panggilan anaknya― menoleh dan menutup novel yang sedang ia baca.

"Ada apa?" Seijuuro mengisyaratkan agar Seita mendekatinya dengan menaruh bukunya di sela-sela sofa.

Dengan perlahan Seita mendekati Seijuuro. "Tadi Kuyoko-cencei membeyikan tugyas, katyanya hayus menggambay wajyah oyang tua, teyus hayus dikasyih apa keinginyan oyang tersyebut dibawahnya." Seita menjelaskan dengan tegas, meskipun malah membuat Seijuuro ingin tertawa karna logat cadel anaknya.

"Lalu? Apa sudah digambar?" Seijuuro mengulurkan tangan, yang langsung diberikan kertas gambar oleh Seita.

"Syudah. Tapyi beyum dituyis keinginyannya. Syoalnya katya Mama hayus nunggyu Papa puyang,"

"Ara? Kenapa Mama dibawa-bawa?" tepat saat Seijuuro melihat gambar anaknya―yang terdiri dari tiga orang, yang paling kecil ditengah―, Ryouta masuk ke ruang tamu sembari menggulung lengan bajunya.

"Mama! Ceita syudah memunjyukan gambarnya cyama Papa! Ayo Mama duduk teyus biyang keinginyan Mama apa!" Seita berteriak kecil, berusaha tidak menganggu Papanya yang sedang serius melihat hasil karyanya.

Ryouta hanya tertawa kecil dan memilih duduk disebelah Seijuuro. "Hmm, lalu?" Ryouta menyenderkan kepalanya di pundak sang suami, merasa nyaman dengan aroma yang dikeluarkan oleh sang kepala keluarga Akashi itu.

"Teyus, sekayang Mama hayus biyang apa keinginyan Mama!" Seita mengambil crayon hitam dan menunjukan raut wajah serius.

"Lho? Bukannya harusnya Papa dulu ya?" Ryouta memandang anaknya dengan bingung.

"Itu karna kau yang paling tua, Ryouta." Seijuuro akhirnya angkat bicara serasa memberikan kertas gambar itu pada Seita yang sedang tiduran di lantai dengan crayon yang mengacung keatas.

"Mou! Aku kan tidak setua itu!" Ryouta menggembungkan pipinya―namun masih saja bersandar di pundak tegap Seijuuro.

"Cepyetaaaaaannn! Ceita udyah ngantyuk, mau boboooo!" Seita mulai merengek, salah satu yang membuat dirinya makin mirip dengan sang Mama.

Ryouta menghela nafas, "Ne, ne. Keinginan Mama tidak muluk-muluk kok. Mama hanya ingin bisa terus bersama Seita dan Papa." Ryouta menjawab sembari tersenyum kecil, namun tak ayal membuat Seijuuro tersenyum juga.

Dengan cepat Seita menuliskan kata-kata yang diucapkan Mamanya. "Teyus, teyus, kayo Papa?" Seita mengangkat wajahnya begitu keinginan Ryouta selesai ditulis.

"Papa hanya ingin melihat Seita tumbuh dewasa didampingi Mama yang sudah mulai berkeriput."

"Seicchiiiiii! Jadi kau ingin melihatku keriput, begitu?" Ryouta langsung bangun dari posisi enaknya hanya untuk menatap garang pada eksekutif muda tersebut.

Seijuuro hanya bergumam tidak jelas menanggapi omongan Ryouta, "Lalu, apa keinginanmu?" dan menatap anaknya yang sedang asik menulis.

"Humm..." Seita mulai mengisi lembar kosong dibawah gambar dirinya. Aih, bahkan wajahnya sudah memerah saat menuliskannya.

"Secchi?" panggil Ryouta. Sepertinya penasaran juga kenapa anaknya hanya diam dengan wajah memerah.

"Inyi." Seita menyerahkan kertas itu ke Seijuuro dengan malu-malu.

Seijuuro menerimanya dan membaca tulisan itu bersama dengan Ryouta. Meski tulisan anak mereka bak cakar bebek, mereka masih bisa membaca dengan jelas jika;

Akashi Seita : Keinginanku adalah mempunyai adik. Aku kesepian...

adalah tulisan yang tertera jelas di bawah gambar yang melambangkan Seita tersebut.

"Nah, Ceita mau bobo duyu yaaaaaa. Oyacumi Papa, Mama." Seita menghampiri kedua orangtuanya, mengecup pipi mereka, lalu berlari kearah kamarnya. Suara pintu yang ditutup membuat Ryouta sadar akan sesuatu.

"Papa, kenapa meremas pinggangku?" Ryouta mulai keringat dingin. Ini tanda bahaya.

"Kurasa matamu belum rusak. Jadi kau bisa membaca tulisan Seita dengan sangat jelas, bukan?" tangan Seijuuro mulai memasuki baju tipis yang dikenakan Ryouta.

"Ngg... Tapi Seita kan tidur..."

"Kita bisa menggunakan kamar di atas."

'Mati aku!'

.

.

.

Well, persiapkan dirimu untuk beberapa jam kedepan, Ryouta."

.

.

.

Ren's note : sebelumnya saya terkena wb, dan sekarangpun masih. Maaf jika ceritanya aneh...

Ren's note 2 : typo = too sleepy to edit.

.

.

.

RnR?