Ringkasan: Kehidupan tidak semudah mimpi kanak-kanak. Terutama jika takdir mengikatmu dalam status bernama shinobi. Siapa yang bisa menebak apa yang ada di ujung mimpi itu?

Peringatan: canon setting; future fict; alternate reality; almost Shikamaru-centric. Belum di-beta.

Disclaimer: Naruto series is the property of Kishimoto Masashi. I gain no financial advantage by writing this.


DARI BAGIAN TIGABELAS

Tiba-tiba saja Temari merasakan firasat tidak enak menyergap punggungnya. Untuk suatu alasan, Temari merasa ragu untuk memutar tubuh dan menemukan apapun yang membuat Ino terkejut. Telinga tajam Temari menangkap langkah-langkah kaki yang mendekat dan Temari merasa semakin ganjil.

Butuh waktu beberapa saat sampai akhirnya Temari memberanikan diri untuk memutar tubuhnya dengan lambat.

Kemudian, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun terakhir, Temari merasakan kembali ketakutan lama ketika menemukan sosok berambut merah bata yang melangkah mendekatinya.

"Gaara—" Temari berbisik parau.


.

#

.

Ujung Mimpi

©fariacchi

Empatbelas: Permohonan

.

#

.


Pemuda berambut merah bata dengan pakaian berwarna senada duduk dengan tenang di sofa ruang kerja Hokage. Namikaze Naruto memberikan senyum cerianya yang agak dibuat-buat. Pemuda berambut pirang itu duduk tepat berseberangan dengan pemimpin muda Desa Suna.

"Aku tidak tahu kau datang secepat ini, Gaara," ujar Naruto. "Pertemuan Aliansi masih minggu depan. Kukira seperti rencana sebelumnya, kau akan datang tiga hari sebelum pertemuan?" Naruto menyodorkan teh panas yang baru saja diantarkan Sakura ke hadapan Gaara.

"Aku sudah mengirim surat bahwa aku akan datang lebih cepat. Ada hal-hal yang perlu kita bicarakan," Gaara melirik sosok kakak perempuannya yang mematung di dekat pintu.

Naruto tertawa canggung. "Be—begitu? Mungkin elangnya tersesat?"

Gaara memandangi Naruto. "Tidak mungkin," jawabnya singkat.

Naruto menelan ludah.

Suasana di ruang kerja Hokage itu sedikit tegang sejak Sang Kazekage, Gaara, menginjakkan kakinya di sana. Ditemani Temari yang berpapasan di gerbang Konoha, Gaara, yang datang bersama Kankurou, segera menuju ke gedung Hokage.

Temari, selama proses itu, hanya bisa mati-matian menahan kegelisahannya. Ia tidak menyangka akan bertemu Gaara secepat ini. Tepat ketika ia dan Shikamaru belum membicarakan apa pun mengenai rencana mereka menghadapi Gaara.

Haruno Sakura berdiri di samping Temari, mencoba memberi dukungan tanpa suara bagi wanita itu. Uchiha Sasuke keluar beberapa waktu lalu, bersama dengan Hyuuga Neji dan—untungnya—Nara Shikamaru. Sakura tidak tahu harus bersikap seperti apa jika tiba-tiba saja Shikamaru dan Temari bertemu dengan Gaara dalam satu ruangan yang sama—dalam keadaan seperti sekarang.

Kankurou mengamati Temari dari tempatnya berdiri, lalu membuka suara, "Hanya perasaanku saja atau kau tampak sedikit lebih gemuk?"

Temari yang terkejut dapat segera menguasai diri dan memandang tajam adiknya yang berpakaian hitam. "Kau minta diterbangkan keluar Konoha atau apa, Kankurou?" jawabnya.

Kankurou mengernyit. "Tidak perlu semarah itu—aku hanya mengungkapkan opiniku," sahutnya.

Temari menggerutu. "Etikamu terhadap wanita nol besar, Kankurou."

Kankurou hanya mengangkat bahu.

Sakura mengawasi semua itu. Dari tempatnya, ia bisa merasakan Temari yang menggerak-gerakan bola matanya tidak nyaman. Gadis itu gelisah—sangat. Sakura merasa kondisi ini tidak baik. Temari bisa merasa tertekan dalam situasi tidak diduga seperti ini—jelas bukan sesuatu yang baik untuk kehamilannya.

Mungkin Sakura harus melakukan sesuatu.

"Eh—jadi, apa yang ingin dibicarakan lebih awal, Gaara?" Naruto memecahkan keheningan dan memandangi sosok berambut merah bata yang duduk tenang di hadapannya.

Gaara melirik Temari yang terdiam. Beberapa detik sebelum akhirnya ia membuka suara, "Aku perlu satu orang lagi di sini."

Temari menggigit bibirnya. Tidak salah lagi, Gaara ingin membicarakan mengenai hal itu. Pembicaraan yang terputus tidak nyaman ketika Temari akan berangkat ke Konoha nyaris dua bulan lalu.

Naruto menaikkan satu alisnya. "Maksudmu?"

Tanpa sadar Temari menahan nafas. Ia tidak siap dengan semua ini. Tidak dengan kondisinya yang seperti sekarang.

Gaara bersuara, "Ini tentang—"

"—Naruto," Sakura menyela.

Dua pasang mata Kage muda berakhir di gadis berambut merah jambu. "Sakura-chan, ada apa?" Naruto bertanya.

Sakura memberikan senyum sopan. "Maaf memotong, tapi bolehkah aku dan Temari-san pergi? Ada administrasi Pertemuan Aliansi yang perlu kami selesaikan," ujarnya.

"Ah—" Naruto menangkap pandangan penuh arti Sakura. "—tentu saja. Kebetulan aku dan Gaara akan membicarakan—" Naruto melirik Temari. "—sesuatu yang penting." Naruto memberikan senyum cerahnya dan memandang Gaara. "Tidak apa-apa kan, Gaara? Kurasa kau bisa bertemu Temari-san di penginapan nanti."

Gaara mengamati Naruto beberapa saat, seolah menyadari sesuatu yang sedang berusaha ditutupi di ruangan itu. Kemudian pemuda bermata hijau cemerlang itu menjawab, "Baiklah."

Sakura tersenyum puas. "Kami permisi," ujarnya seraya menarik lengan Temari dan membawa gadis itu keluar dari ruang kerja Hokage dengan diiringi tatapan Kankurou.

Naruto diam-diam menghembuskan nafas lega. Wajah Temari yang khawatir itu membuatnya sedikit panik. Dan apa pun yang ingin dibicarakan Gaara tampak berhubungan dengan Temari—Naruto juga jadi sedikit khawatir.

Setelah menyeruput teh untuk menenangkan diri, Naruto kembali pada pemuda di depannya. "Jadi, apa maksudnya, Gaara?"

Kankurou, sementara itu, memutuskan bersandar di dinding dekat jendela dan mengamati jalan desa Konoha yang tampak dari sana. Gaara tampak tidak berniat menyingkirkan Kankurou dari ruangan itu, jadi Naruto tidak berkomentar.

Gaara berbicara, "Sebelumnya, kurasa memang kita perlu bicara berdua terlebih dahulu."

Naruto merasakan firasat yang agak tidak enak. Pemuda pirang itu mencoba mengalihkan kegugupan dengan memindahkan dokumen-dokumen yang tercecer di mejanya ke lantai. "Tentang apa?" tanya pemuda itu dengan usaha tenang.

Gaara memberi jeda sejenak sebelum akhirnya bicara dengan tegas, "Tentang hubungan kakakku dengan Nara Shikamaru."

Naruto menjatuhkan dokumennya begitu saja. Mata safir pemuda itu membulat.

Kenapa insting dan firasatnya harus tajam di saat seperti ini?

Namikaze Naruto hanya menyunggingkan senyum hambar. Tidak ada gunanya pura-pura tidak tahu pada seorang Sabaku no Gaara. Sekarang Naruto hanya bisa berdoa agar Gaara tidak menduga segalanya sampai sejauh itu.

Karena kalau sampai tahu, Naruto ragu Shikamaru akan bisa hadir pada Pertemuan Aliansi dengan utuh.

.

#

.


Nara Shikamaru menyandarkan tubuhnya di sofa lumut ruang kerjanya yang dipenuhi dokumen. Pemuda itu memandangi kertas draft materi di tangannya. Corat coret di sana-sini menandakan hasil pertemuannya dengan Hokage, dan masukan dari Haruno Sakura serta Uchiha Sasuke.

Hal terakhir yang ingin diketahuinya adalah kedatangan Gaara yang lebih cepat dari perkiraan.

Shikamaru mengacak rambutnya sedikit. Situasi selalu bertambah kacau setiap kali Shikamaru memeriksa bahwa segalanya membaik.

Hyuuga Neji memandang rekannya dari balik tumpukan dokumen di meja kayu. Pemuda bermata keperakan itu baru saja akan mengujarkan sesuatu ketika pintu ruang kerja Shikamaru terbuka.

Haruno Sakura—dan Temari. Keduanya terlihat cemas. Tidak perlu memiliki byakugan untuk menyadari hal itu. Terutama si gadis berkuncir empat.

"Temari?" Shikamaru selesai dengan dokumen di tangannya. Pemuda itu menangkap jelas sorot kecemasan dari mata turquoise gadis di depan pintunya.

Temari memajukan langkahnya dan membuka bibir, hendak mengatakan sesuatu—dan gadis itu tampak panik.

Tepat ketika Hyuuga Neji mendahuluinya. "Sakura—" panggilnya.

"Ya?" Sakura memandang Neji.

Neji melambaikan beberapa kertas di tangannya. "Aku butuh data mengenai masalah ini. Bisa bantu aku mencari arsipnya?"

Gadis berambut merah jambu itu mengangguk mengerti beberapa saat kemudian. Sebelum keluar, gadis itu memberikan senyuman tipis ke arah Temari.

"Shikamaru—kurasa kita bisa melanjutkannya besok." Neji memandang Shikamaru.

Shikamaru mengenali tatapan itu. Ia bergantian menatap Neji dan Sakura, lalu berujar pelan, "Baiklah." Itu seperti permohonan tanpa suara dari Shikamaru, dan Neji mengerti.

Pintu ditutup, meninggalkan Shikamaru dengan Temari dalam ruang kerjanya.

Shikamaru menghembuskan nafas dan meletakkan kertas-kertasnya di meja kayu. Kemudian pemuda itu memandang Temari. "Sampai kapan mau berdiri saja?" ujarnya. "Duduklah." Ia memberi isyarat di ruang kosong sofa lumutnya.

Temari tanpa suara menuruti pemuda itu.

Satuan waktu berikutnya dihabiskan dengan keheningan. Temari tenggelam dalam pikiran-pikiran khawatirnya mengenai segala situasi. Gadis itu meremas-remas kimono-nya. Bukan seperti Temari takut dengan kehadiran Gaara dan Kankurou. Temari hanya tidak siap—bagaimanapun ia dan Shikamaru belum merencanakan apa-apa mengenai semua ini.

Sebelum Temari selesai dengan pikirannya, tangan hangat Shikamaru begitu saja menggenggamnya.

"Shika—" Temari tercekat.

"—Bodoh. Jangan bersikap seperti segalanya sudah berakhir begitu," Shikamaru menyela. Pemuda itu menatap Temari. "Tenanglah, Temari."

Temari membuka bibirnya, namun tidak ada yang keluar. Temari bisa melihat gurat kecemasan yang sama. Temari tahu bahwa pemuda itu mencoba kuat dan memprioritaskan perhatian pada dirinya.

Dan Temari membenamkan wajahnya di dada Shikamaru.

Bukan salah Temari kalau begitu saja ia menjadi sentimentil. Semua ini adalah situasi yang membuat hidupnya seperti terhuyung oleh badai pasir. Detik awal seperti baik-baik saja, dan detik berikutnya ia sudah tidak bisa melihat apa pun.

Shikamaru membelai perlahan kepala Temari. Pemuda itu tidak berkata-kata, namun membiarkan emosinya mengalir dengan memeluk erat Temari dalam dekapannya.

Temari tidak ingin menangis. Sungguh. Ini bukan hal yang perlu ditangisi—dan menangis tidak menyelesaikan segalanya. Namun sentuhan Shikamaru terlalu hangat—dan itu meruntuhkan segalanya.

"Maaf—Temari," Shikamaru berbisik, menyembunyikan gemertak giginya. Pemuda itu marah pada dirinya sendiri. Untuk segala kekacauan ini, untuk air mata yang diteteskan gadis di pelukannya.

"Shikamaru—aku—" Temari terisak. Ia benci menjadi lemah seperti ini. Namun Temari tidak tahu lagi harus melakukan apa. Yang ia tahu hanyalah bahwa Shikamaru membalas pelukannya. Shikamaru mencoba menguatkannya.

"Kita bisa melalui ini—" itu seperti ucapan bagi dirinya sendiri, tapi Shikamaru tidak peduli.

Mereka membagi kekhawatiran itu bersama. Dalam keadaan seperti ini, mereka hanya bisa saling menguatkan.

.

#

.


Namikaze Naruto selesai dengan penjelasannya, dan menunggu reaksi Gaara yang melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi tidak tertebak.

"Uh—Gaara?"

Gaara menghela nafas. Kankurou, di dekat jendela, sudah berpindah duduk di samping Gaara sejak Naruto mencoba menjelaskan mengenai Nara Shikamaru. Tepat, dua bersaudara Desa Suna itu baru saja mengintrogasi Naruto mengenai nama yang baru saja disebutkan.

"Aku masih tidak percaya Temari seserius itu," Kankurou berujar. "Kami terkejut ketika ia begitu saja menyatakan ingin menikah dengan si Nara itu—" Kankurou menautkan kedua alisnya.

"Naruto," Gaara akhirnya bicara, "aku menerima bahwa Nara Shikamaru dapat dipercaya, aku juga cukup mengenalnya." Jeda. "Tapi ini adalah mengenai pernikahan. Temari adalah kakak perempuanku, dan mengizinkan pernikahannya dengan Shikamaru sama dengan mencoret namanya dari daftar penduduk Desa Suna."

Naruto memberikan pandangan mengerti.

Gaara melanjutkan, "Kau pasti mengerti. Ditambah dengan aturan pernikahan antardesa ninja yang berlaku di Konoha—"

"—sulit bagi kami untuk memutuskan," Kankurou menambahkan.

Naruto menangguk. Pemuda berambut pirang itu menghela nafas panjang. "Aku tahu. Masalah ini sudah kudengar langsung dari Shikamaru sendiri," ujarnya. "Tapi—Gaara, Kankurou—Shikamaru serius. Mereka berdua serius. Tidakkah kalian pikir kita harus membantu mereka?" Naruto memandang Gaara.

"Ini mengenai realita, Naruto," Gaara bicara dengan nada yang sedikit rendah. "Inilah mengapa aku—kita—butuh bicara dengan mereka berdua. Jika mereka serius, mereka harus menanggung konsekuensinya."

Hening.

Suasana menjadi tidak enak. Naruto sedikit lega karena Gaara dan Kankurou tampaknya tidak mengetahui keadaan Shikamaru dan Temari sebenarnya. Tidak menyelesaikan masalah, memang. Namun Naruto merasa Shikamaru sudah memasukkan nama Gaara dalam daftar penyelesaian masalahnya, dan Naruto tidak ingin ikut campur lebih dari kapasitasnya sekarang.

"Sebenarnya—" Naruto merogoh saku jubah Hokage-nya dan mengeluarkan sebuah gulungan. "Konoha ingin mengajukan mengenai masalah ini dalam Pertemuan Aliansi."

Mata hijau Gaara berkilat. Pemuda itu memandangi Naruto.

Namikaze Naruto tampak serius.

Gulungan membuka, menampakkan draft materi yang ditunjukkan Shikamaru dan Neji beberapa jam lalu. Naruto menyodorkan gulungan itu pada Gaara.

"Aku percaya—kalian menyayangi Temari-san seperti kami menyayangi Shikamaru," Naruto berujar pelan. "Kumohon, Gaara—"

Gaara terkejut. Itu sesuatu yang tidak diduga. Naruto tidak setiap saat memohon, apalagi kepada seorang Kage dari desa lain.

Namun mata safir Naruto tampak bersungguh-sungguh.

Gaara melirik Kankurou yang tampak lebih terkejut. Kemudian Gaara mengambil gulungan di meja dan berujar, "Aku mengerti."

Senyum tipis di wajah Naruto sudah cukup untuk sebuah kata terima kasih.

Untuk sesaat, Gaara bertanya-tanya mengapa sepertinya masalah itu menjadi begitu krusial. Apakah sesuatu terjadi pada Temari selama ia di Konoha?

Gaara memutuskan menyimpan pertanyaan itu nanti, dan berkonsentrasi pada gulungan di tangannya.

.

#

.


Shikamaru meremas perlahan jemari Temari. "Sudah tenang?" tanyanya.

Temari hanya mengangguk. Beberapa bagian dari Temari merasa memanas karena perhatian Shikamaru yang jarang-jarang ditemui, sementara bagian lainnya cukup tenang setelah kekhawatiran berlebihan yang tadi.

Sejak hamil, Temari merasa lebih sering cemas. Sakura pernah mengatakan bahwa itu adalah efek dari tekanan mental yang tanpa sadar dilalui Temari selama di Konoha. Mungkin gadis itu benar. Semakin waktu berlalu, semakin Temari merasakan kecemasan.

Pertemuan dengan Gaara mungkin adalah puncak dari segalanya.

"Kau ingin minum sesuatu?" Shikamaru bertanya.

Temari menggeleng. "Tidak usah," jawabnya.

Shikamaru masih menggenggam tangan Temari, dan itu membuat Temari merasa lebih baik. Ia sungguh hanya membutuhkan Shikamaru di sisinya saat ini.

"Kurasa kita perlu menyusun segalanya dari awal," Shikamaru berujar.

Temari tidak merespon. Menyusun rencana adalah hal terakhir yang bisa dilakukannya dalam keadaan seperti ini. Lagipula sejak awal masalah, ia mempercayakan segalanya pada Shikamaru.

Shikamaru mencatat bahwa Temari tampak lebih tenang dan siap mendengarkan. Pemuda itu menarik nafas dan mulai bicara, "Kita tidak punya banyak waktu, Temari."

Sudut mata Temari sedikit berkedut. Namun gadis itu mengangguk. "Aku tahu," ujarnya.

Shikamaru tahu semua ini akan terdengar berat. Namun mereka harus melakukannya. Waktu mereka hampir habis, dan mereka harus melakukan sesuatu—atau memutuskan.

"Dari estimasi dua bulan yang diberikan Sakura waktu itu, hanya tersisa satu minggu. Usia kehamilanmu akan segera memasuki bulan keempat dan kita tidak bisa menutupinya lebih lama."

Temari menggenggam tangan Shikamaru—mengisyaratkan pemuda itu untuk melanjutkan.

"Aku berniat membereskan segala benturan masalah hukum desa pada Pertemuan Aliansi. Jika segalanya lancar … kita bisa segera menikah," Shikamaru mencoba terdengar yakin, meski agaknya ia gagal. "Setelah Pertemuan Aliansi nanti, aku berniat membicarakan keadaan kita kepada orangtuaku … dan kepada Gaara."

Temari mengangguk.

"Itu rencana awalku." Shikamaru memandang Temari. "Kondisinya sekarang—kemungkinan besar kita terpaksa memberitahu segalanya lebih cepat kepada Gaara—"

Gurat cemas muncul kembali di bola mata Temari. "Aku—"

Shikamaru memotong gadis itu, "—Aku yang akan bicara pada Gaara."

Sepasang turquoise Temari membulat beberapa saat. Kemudian gadis itu mengangguk pelan.

"Temari—" Shikamaru bicara lagi. "Mengenai orangtuaku—" jeda sebentar; Shikamaru memandang Temari sungguh-sungguh, "—apa kau bersedia ikut untuk menjelaskan semuanya kepada mereka?"

Temari tanpa sadar memejamkan matanya dan mencoba menarik nafas dalam-dalam. Ia merasakan genggaman Shikamaru yang erat di satu tangannya. Ia merasakan denyut kehidupan di balik obi-nya, dan begitu saja merasakan keinginan untuk mejadi kuat.

Ia harus kuat.

Temari membuka matanya dan memandang Shikamaru. "Aku ikut," ujarnya.

Shikamaru memberikan senyum tipis sebelum kembali mendekap gadis di depannya. "Maaf atas semua kekacauan ini, Temari," Shikamaru berujar pelan.

Temari membalas pelukan itu. Gadis itu menggeleng pelan dan membenamkan kepalanya di bahu tegap Shikamaru. "Kita akan melaluinya bersama—" ujarnya.

Tak ada suara lagi. Baik Shikamaru maupun Temari hanya terdiam dalam pelukan satu sama lain dan mencoba menguatkan diri mereka.

Segalanya semakin tiba di ujung, dan tidak ada yang tahu akan seperti apa hasilnya.

.

#

.


.

Bersambung

.


~fariacchi – 141214~