Hallo, ini fic pertama saya di fandom Harry Potter. Saya mau coba bikin fic multipair disini. Saya harap reader bias suka sama fic saya ini. oh iya di cerita ini, Oliver Wood cuma beda 3 tahun sama angkatan Harry.

Disclaimer : Harry Potter © Joanne Kathleen Rowling

Rated : T

Genre : Romance/Friendship

Character : Hermione Granger, Draco Malfoy, Oliver Wood, Cindy Canterville (OC)

Pairing : Draco/Hermione dan Oliver/OC

Warning : AR, Canon-Setting / Semi-Canon, OOC, Typo(s), disini Oliver Wood beda 3 tahun sama angkatan Harry.

Oke, sebelum memulai fic ini saya mau membagikan beberapa quotes yang saya rasa menarik.

"Being deeply loved by someone gives you strength, while loving someone deeply gives you courage." By Lao Tzu

"Keep love in your heart. A life without it is like a sunless garden when the flowers are dead." By Oscar Wilde

"Love is composed of a single soul inhabiting two bodies." By Aristotle

"I have decided to stick with love. Hate is too great a burden to bear." By Martin Luther King, Jr.

"Where there is love there is life." By Mahatma Gandhi

"Men always want to be a woman's first love - women like to be a man's last romance." By Oscar Wilde

First and Last

Prologue

Stasiun King's Cross Peron 9 ¾

"Professor Dumbledore, terima kasih sudah mau mengantarkan dan membantu saya sejauh ini." ucap seorang gadis berusia 11 tahun yang berambut pirang panjang diikat ala ponytail.

"Ini sudah kewajibanku Cindy, sampai berjumpa lagi di Hogwarts!" jawab Professor Dumbledore.

"Kalau begitu, saya akan masuk kompartemen sekarang!" ujar Cindy sambil mengangguk pada Professor Dumbledore.

Di dalam Kereta Hogwarts Express, Cindy berjalan menyusuri tiap kompartemen untuk mencari tempat kosong yang menurutnya nyaman, namun ia sulit menemukannya. Baru setelah sepuluh menit kemudian ia menemukan tempat yang menurutnya nyaman. Ia terdiam sambil menatap jendela kereta untuk melihat pemandangan yang indah. Namun hal itu tidak berlangsung lama.

"Excuse me, I didn't find any empty space left, could I join you here?" tanya seorang gadis yang sebaya dengannya yang memiliki rambut coklat berombak kusut.

"Yes, please!" jawab Cindy dengan senyuman sopan.

"How do you do?" tanya Hermione.

"How do you do, Ah my name is Cindy Canterville, you can call me Cindy, what's yours?" tanya Cindy sambil mengulurkan tangan kanannya.

"Hermione Granger, panggil saja aku Hermione, senang berkenalan denganmu!" jawab Hermione sambil menjabat tangan Cindy.

"Um, maaf kalau pertanyaanku ini kurang sopan, tapi apakah kau Kelahiran-Muggle?" tanya Hermione pada Cindy dengan hati-hati, ia takut kalau pertanyaannya ini akan membuat Cindy merasa tak nyaman atau bahkan tersinggung.

Cindy tersenyum sekilas lalu menjawab ; "Tidak apa-apa, aku bukan Kelahiran-Muggle, kedua almarhum orang tuaku penyihir,hanya saja aku dibesarkan di dunia Muggle."

Hermione hanya mampu membulatkan mulutnya. Jawaban Cindy ternyata menjelaskan alas an mengapa penampila Cindy memang sangat terlihat seperti seorang Muggle, sama halnya dengan dirinya.

Untuk membunuh kebosanan, Cindy memutuskan untuk mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya, History of Hogwarts. Hermione yang melihat hal itu langsung menatap Cindy dengan antusias.

"Ah, apakah kau sudah membacanya? Aku sudah membacanya dan sangat menarik sekali!" ujar Hermione

"Benarkah? Menurutmu apa yang menarik, aku sama sekali belum sempat membacanya aku baru saja membelinya di Diagon Alley!"

"Banyak sekali keajaiban di Hogwarts, seperti langit-langitnya yang disihir bak langit di malam hari yang penuh bintang, tanga-tangganya yang bergerak dinamis, dan masih banyak lagi!"

Cindy menyimak penjelasan Hermione dengan penuh ketertarikan.

"Lalu kira-kira apakah disana ada taman yang indah?" tanya Cindy.

"Tentu saja ada, disana banyak taman yang indah!"

Jadilah akhirnya mereka bercakap-cakap tentang Hogwarts dan banyak hal lain yang akhirnya mereka pebincangkan.

"Ngomong-ngomong apakah kau lapar?" tanya Cindy kemudian.

Hermione mengangguk.

"Aku lupa membawa makanan kecil." ujar Hermione kemudian.

"Snacks! Anybody wants some?" tawar seorang wanita tua di kompartemen mereka.

"Ah kami mau beli, aku mau permen-segala-rasa dan roti-anti-gemuk, Hermione kau mau apa?"

"Aku cukup jelly-pengganjal-perut dan permen-segala-rasa saja."

"Baiklah, semuanya jadi 250 Galleon!"

"Ini uangnya, terima kasih!"

Wanita tua itupun kemudian meninggalkan kompartemen mereka.

Mereka akhirnya menikmati camilan yang tadi mereka beli sambil tertawa karena ternyata permen yang mereka beli memiliki rasa yang tidak lazim. Hermione mendapat rasa tabasco sedangkan Cindy mendapat rasa hibiscus.

"Hermione, nanti kau ingin masuk asrama mana?" tiba-tiba Cindy merasa penasaran akan pilihan Hermione.

"Entahlah, mungkin Ravenclaw atau Gryffindor, bagaimana dengamu?"

"Aku bingung, ayahku Slytherin sedangkan ibuku Hufflepuff." terang Cindy.

Jadilah mereka terdiam cukup lama sambil memikirkan masak-masak tentang pilihan mereka.

Tiba-tiba terdengar suara keributan dalam kereta. Cindy dan Hermione pun keluar untuk mencari tahu. Ternyata ada seekor katak peliharaan seorang siswa yang hilang.

"Cindy, kau sebaiknya tetap di dalam untuk menjaga barang kita, aku akan ikut mencari katak itu." ujar Hermione pada Cindy.

Cindy mengangguk sambil masuk ke dalam tempat mereka tadi.

"Syukurlah aku tidak salah memilihmu, Kalys" ucap Cindy sambil menatap kucing putih peliharaannya.

"Untung aku dan Hermione lebih memilih kucing daripada kodok, burung hantu ataupun tikus." batin Cindy.

-0-

Hermione kemudian memasuki sebuah kompartemen. terlihat seorang anak laki-laki berambut merah dan seorang anak laki-laki lain berambut hitam dan berkacamata.

si rambut merah nampak sedang akan merapal sebuah mantra pada objek seekor tikus.

"Apakah kalian melihat seekor kodok, seorang anak bernama Neville telah kehilangan." ujar Hermione.

"Ah rupanya kau ingin merapal mantra ya, let's see what you've got!" ujar Hermione seraya duduk di hadapan mereka.

si rambut merah pun lantas merapal sebuah mantra yang cukup panjang. Namun hasil yang didapat ternyata sama sekali gagal.

Hermione yang melihatnya lantas tersenyum tipis.

"Aku selalu berhasil merapal mantra-mantra sederhana, lihat ini Oculus Reparo!" ujar Hermione sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke arah kacamata yang dikenakan oleh si rambut hitam. Ajaibnya lensa kacamata yang tadinya sedikit retak kini menjadi bagus seperti baru.

Si rambut hitam yang terkejut lantas melepas kacamatanya dan memperlihatkan segaris bekas luka di keningnya.

"Oh my God, you're Harry Potter!" pekik Hermione kaget.

"And you are?" tanya Hermione pada si rambut merah.

"Ronald Weasley." jawab si rambut merah.

"I'm Hermione Granger, nice to meet you!" ujar Hermione memperkenalkan diri sambil berdiri.

"Sebaiknya kalian kenakan jas kalian, kita akan segera sampai di Hogwarts." lanjutnya sambil berdiri dan berniat kembali ke kompartemennya.

"Ah, sebaiknya kau bersihkan kotoran di hidungmu." lanjutnya pada Ronald.

-0-

"Bagaimana, apa kodok itu berhasil ditemukan?" tanya Cindy pada Hermione begitu Hermione kembali ke kompartemen mereka.

Hermione hanya menggeleng kepalanya.

"Seandainya aku mampu merapal mantra pemanggil, pasti akan lebih mudaj ditemukan." ujar Hermione.

Cindy hanya tersenyum untuk menanggapinya.

"Look, kita sudah sampai ayo bersiap!" sery Cindy kemudian.

Mereka pun kemudian keluar dari kereta dan menaiki perahu untuk sampai ke Hogwarts ditemani Hagrid, seorang staf sekolah yang berbadan raksasa.

Sesampainya di Hogwarts, para murid tahun pertama berkumpul di depan pintu masuk Aula Besar.

"Hermione, bukankah itu Harry Potter?" tanya Cindy pada Hermione sambil menunjuk seorang anak lelaki berambut hitam dan berkacamata.

Hermione hanya mengangguk.

"Ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang di kereta, Harry Potter ada bersama kita untuk masuk Hogwarts tahun ini, namaku Draco Malfoy!" ujar seorang anak laki-laki berambut pirang disisir rapi ke belakang dengan kulit pucat dan dagunya yang runcing pada Harry Potter.

Anak berambut merah bernama Ronald Weasley seketika tertawa mendengar nama anak tadi.

"Kau pikir namaku lucu hah, biar kutebak rambut merah, jas bekas, dan penampilan lusuh dan miskin,kau pasti seorang Weasley!" kata Draco sambil menghina Ronald.

"Pastikan kau tidak salah memilih teman,kau tahu harus bergaul dengan siapa,Potter!" ucap Draco dengan nada angkuh.

"Tentu saja aku tahu bagaimana caranya memilih teman yang tepat, yang pasti bukan seorang yang angkuh dan jahat!" ujar Harry sambil menatap Draco tajam.

"Walaupun dia angkuh tapi dia tampan!" bisik Cindy pada Hermione.

"Dia memang terlihat seperti bangsawan, hanya saja sikapnya sama sekali tak pantas!" timpal Hermione.

'Terlepas dari sikap buruknya, penampilannya memang menarik, astaga ala yang baru saja kupikirkan?' benak Hermione.

Tiba-tiba seorang guru Hogwarts menepuk pundak Draco dan dia pun langsung kembali ke barisan dan tak lupa memandang Harry dengan pandanan tak suka.

"Selamat datang di Hogwarts, sebagai murid tahun pertama, kalian akan diseleksi terlebih dahulu untuk menentukan asrama kalian, ada empat asrama di Hogwarts, Gyffindor, Slytherin, Ravenclaw dan Hufflepuff, seleksi akan segera dimulai sesaat lagi ... ." jelas Professor McGonagall.

"Trevor!" seru seorang anak menginterupsi penjelasan Prof. McGonagall sambil mengambil seekor kodok di dekat kaki guru tersebut.

Murid-murid lain yang melihatnya tertawa melihat aksi anak agak gemuk yang belakangan diketahui bernama Neville Longbottom.

"Baiklah, mari ikuti saya untuk segera melakukan seleksi dengan Sorting Hat!" ujar Prof McGonagall kemudian.

"Hermione, aku gugup!" bisik Cindy pada Hermione.

"So am I" jawab Hermione yang juga berbisik.

"Hey, Draco kau lihat gadis itu?" tanya teman Draco yang bernama Crabbe pada Draco sambil berbisik.

"Yang mana?"

"Yang pirang terikat ke belakang, yang berjalan bersama gadis berambut coklat kusut itu!"

"Ada apa dengan gadis itu?"

"Dia cantik, aku menyukainya!"

"Aku juga!" tiba-tiba temannya yang lain bernama Goyle ikut bergabung.

Sedangkan Draco sendiri hanya terpana pada gadis berambut coklat kusut di seelah gadis pirang yang mereka maksud.

Mereka akhirnya sampai di Aula Besar Hogwarts. Terlihat empat deret meja dan kursi yang menandakan identitas masing-masing asrama. Juga ada satu deret meja dan kursi untuk guru di deret atas.

Semua murid baru memandang takjub, mata mereka menjelajah seisi ruangan.

"Hermione kau benar, langit-langitnya disihir sesuai isi buku History of Hogwarts!" ucap Cindy.

"Kalian tahu darimana?" tanya Ronald.

"Kami membaca buku History of Hogwarts!" jelas Hermione.

"Baiklah untuk murid tahun pertama, kita akan segera memulai seleksi asrama, siapapun ang namanya dipanggil harap maju ke depan dan duduk di kursi yang disediakan." jelas Prof McGonagall.

"Hannah Abbott!" panggil Prof McGonagall.

Seorang anak perempuan berpenampilan lugu maju ke depan dan duduk di kursi seleksi. Prof McGonagall lantas memakaikannya topi sihir yang dapat berbicara.

"Hufflepuff!" seru topi itu lantang.

"Draco Malfoy!" panggil Prof McGonagall

"Slytherin!"

"Keluarganya selama berabad-abad masuk asrama Slytherin. Kebanyakan penyihir jahat masuk Slytherin." bisik Ronald pada Harry.

"Ronald Weasley!"

"Another Weasley, it's obvious, Gryffindor!"

"Hermione Granger!"

"It's okay,don't be nervous, relax!" ujar Hermione pada dirinya sendiri seraya maju ke depan.

"Gryffindor!"

"Neville Longbottom!"

"Gryffindor!"

"Padma Patil!"

"Ravenclaw!"

"Cindy Canterville!"

Terdengar suara banyak orang yang berbisik-bisik tentang Canterville.

"Jadi anak itu dari keluarga Canterville?" tanya Ronald seolah tak percaya.

"Memangnya siapa Canterville, mengapa banyak yang membicarakannya?" tanya Hermione.

"Kau bercanda, semua orang tahu siapa Canterville, mereka adalah keluarga bangsawan yang jauh lebih hebat daripada Malfoy sekalipun!" jelas seorang senior Gryffindor bernama Percy Weasley.

Hermione kini menatap Cindy dengan pandangan tak percaya.

'Dia begitu rendah hati, aku bahkan tak menyangka kalau dia adalah seorang penyihir dari keluarga bangsawan.' begitu pikir Hermione.

Semua orang kini menatap Cindy. Namun hanya ada satu orang ang menatapnya penuh kekaguman sejak dirinya memasuki ruangan, ia adalah seorang senior Gryffindor. ia berharap Cindy masuk ke Gryffindor.

"Wood, kau tak mendengarku ya?" tanya seorang gadis yang duduk di sebelah pemuda itu menegurnya.

"Apa kau tertarik pada gadis kecil Canterville itu, Wood?"

"Maaf, apa yang kau tanyakan tadi?" jawab pemuda tadi namun tak melepaskan pandangannya dari Cindy.

"Kau rupanya benar-benar tertarik, sekarang Oliver Wood sepertinya sudah mulai jatuh cinta!"

"Katie, apa yang kau bicarakan, aku tidak jatuh cinta!" ujar Oliver Wood salah tingkah.

"Sulit sekali, penerus Hufflepufff dan penerus Slytherin ..." seru topi seleksi yang membuat Cindy gugup sekaligus Oliver dan Hermione.

'Aku bingung, aku ingin bersama Hermione,' pikir Cindy.

"Baiklah, Gryffindor!" seru Topi Seleksi.

Semua murid Gryffindor bersorak, terutama Oliver Wood.

Cindy kemudian menghampiri meja Gryffindor bermaksud duduk dekat Hermione namun ternyata tak ada tempat kosong di samping Hermione, ia tak tahu harus duduk dimana.

Akhirnya Oliver Wood memanggilnya dan menepuk tempat kosong di samping dirinya. Tanpa pikir panjang Cindy duduk disitu.

"Welcome to Gryffindor, Cindy!" ucap Oliver sambil tersenyum.

"Thank you Mr ..."

"Oliver Wood, just call me Oliver!" ujar pemuda itu.

"Ah thank you Oliver, tapi aku merasa tidak sopan jika memanggil Anda dengan nama depan, Anda senior saya." jelas Cindy.

"Tak masalah, di Gryffindor tidak ada senioritas." jelas Oliver lagi-lagi dengan senyuman termanisnya.

Cindy pun membalas dengan senyumannya.

"Harry Potter!"

Kini semua perhatian tertuju pada Harry.

Beruntung bagi Oliver, karena hal ini membuat tak ada orang yang menyadari rona merah di wajahnya saat melihat senyuman Cindy.

Harry terus menggumamkan 'Not Slytherin'

"Not Slytherin? padahal kau dapat berjaya di Slytherin, ini pilihat sulit namun baiklah Gryffindor!" seru Topi Seleksi.

Semua anak Gryffindor bersorak senang menyambut Harry.

"Baiklah, untuk menyambut teman-teman baru kita, mari perkenalkan guru-guru kita, Prof Minerva McGonagall,Prof Fillius Flitwick, Prof Severus Snape, Prof Quirinus Quirrel, Prof Pomona Sprout, Prof Aurora Sinistra, Prof Bathsheda Babbling, Prof Charity Burbage, Prof Septima Vector, Prof Sybill Trelawney, Prof Silvanus Ketteleburn, Prof Rolanda Hooch, Prof Binns serta beberapa staff Hogwarts yaitu Argus Filch, Irma Pince, Rubeus Hagrid dan Madamme Poppy Pomfrey!" terang Kepala Sekolah Hogwarts Albus Dumbledore.

"Baiklah, untuk menyambut murid tahun pertama, mari kita semua menikmati hidangan makan malam yang sudah disiapkan oleh para peri rumah Hogwarts!" lanjut Prof Dumbledore sambil menepuk tangannya dan secara ajaib kini di semua meja murid telah tersaji hidangan yang lezat dan lengkap.

Semua murid pun menyantapnya dengan lahap.

Cindy terlihat kebingungan ingin memakan apa.

"Mengapa kau tidak makan?" tanya Oliver pada Cindy.

"Aku tidak tahu ingin memakan apa." jawab Cindy.

"Hey Fred, ambilkan kentang tumbuk dan sup itu!" ujar Oliver pada Fred Weasley.

"Kurasa ini cocok untukmu, cobalah pasti enak!"

Cindy pun mencicipinya dan langsung menyukainya.

"Terima kasih!" ucap Cindy dengan tulus dan dijawab dengan senyuman oleh Oliver sambil mengacak-acak rambut Cindy. Entah bagaimana Cindy senang akan hal itu.

Mata Cindy tertuju pada segelas jus labu namun ia urung mengambilnya karena terlalu jauh dari gapaian tangannya.

Oliver paham akan hal itu, ia lalu mengambilkan segelas jus labu untuk Cindy. Beruntung karena hampir saja jus itu diambil oleh Neville.

"Ah jus labuku …" lirih Neville namun dibalas oleh pelototan Oliver yang memasang wajah galak. Neville pun tertunduk.

Sambil melahap makan malamnya, Hermione tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Draco Malfoy.

'Menurut Cindy, dia ini tampan, apa benar demikian?' begitu pikirnya.

semakin lama ia menatap Draco, muncul semburat merah di wajahnya sendiri.

'Ternyata Cindy benar!'

Ia pun terkikik sendiri karena memikirkannya.

Selesai acara makan malam, Prof Dumbledore kemudian menjelaskan peraturan Hogwarts. Sekesai menjelaskannya, ia kemudian menyuruh semua siswa tahun pertama untuk menuju asrama masing-masing dipandu oleh Prefek tiap asrama.

"Baiklah Cindy, sampai bertemu di Ruang Asrama, aku akan menunggumu disana!" ujar Oliver sambil beranjak dari meja dan menuju ke asrama Gryffindor.

Sambil berbaris rapi menuju asrama Gryffindor, Cindy membayangkan seperti aoa asrama Gryffindor, selama ini ia hanya dapat membayangkan seperti apa Hufflepuff berdasarkan buku harian ibunya.

"Hermione, apa kamu tahu tentang Ruang Rekreasi Gryffindor?" bisik Cindy pada Hermione.

"Ruang Rekreasi Gryffindor adalah ruang dimana semua siswa baik laki-laku aaupun peremouan untuk bersantai, mengemil, mengerakan tugas atau apapun itu." jelas Hermione.

"Oh berarti sama saja dengan Ruang Rekreasi Hufflepuff, kukira berbeda."

"Oh kau sudah mengetahui tentang Hufflepuff?"

"Ya, sedikit tahu dari buku harian ibuku."

"Kau tahu siapa Prefek kita, Cindy?"

"Namanya Percy Weasley, tadi Oliver yang memberitahuku!"

"Siapa itu Oliver?"

"Dia adalah laki-laki yang tadi duduk di sampingku."

"Yang tadi menyiapkan tempat duduk untukmu?"

Cindy mengangguk mengiyakan.

"Kurasa ada yang aneh dengan sikapnya."

"Aneh bagaimana, Mione?"

"Entahlah, dia bersikap terlalu baik padamu." jelas Hermione sambil tersenyum penuh arti.

"Menurutmu begitu?"

Hermione mengangguk.

"Tapi menurutku dia memang baik, dia seperti kakak bagiku."

"Baiklah, sebelum kalian memasuki Gryffindor, kalian harus mengucapkan kata kunci kita pada lukisan The Fat Lady, jangam beritahukan pada murid asrama lain." jelas Percy panjang lebar.

Mereka akhirnya memasuki Ruang Rekreasi Gryffindor.

"Ini adalah Ruang Rekreasi, kalian bebas melakukan apa saja disini asalkan tidak menyalahi aturan, kamar laki-laki ada di sebelah kiri dan kamar anak perempan ada di sebelah kanan, barang-barang kalan sudah ada di kamar masing-masing." jelas Percy kemudian.

"Hai, kita berjumpa kembali, kalau kau ada perlu apa-apa ataupun jika ada ang mengganggumu, jangan sungkan untuk memberitahuku ya, kau sebaiknya pergi tidur untuk beristirahat, esok akan menjadi hari yang panjang." ujar Oliver sambil mengacak-acak rambut Cindy.

"Sampai nanti, Cindy!"

Cindy membalasnya dengan lambaian tangan.

"See, dia hanya baik padamu, dia bahkan tidak melirikmu sama sekali." ujar Hermione.

"Mungkin karena dia belum mengenalmu, besok akan kukenalkan kau padanya, ayo kita tidur sekarang!' ajak Cindy.

Mereka berdua lantas memasuki kamar yang memang di depan pintunya sudah tertulis nama mereka.

Ternyata di dalam kamar sudah ada dua orang teman mereka lagi.

"Kenalkan, aku Lavender Brown dan ini Parvati Patil, kita semua teman sekamar!" sapa seorang gadis berambut pirang berombak dan agak gemuk dan seorang gadis berkulit gelap keturunan India.

"Kenalkan aku Hermione Granger dan ini Cindy Canterville, senang berkenalan dengan kalian." jawab Hermione.

Mereka lantas membereskan barang-barang bawaan mereka.

Cindy lalu meletakkan dua buah foto di salah satu meja di kamar tersebut.

Lama ia menatap foto kedua orang tuanya dan dirinya tersebut sebelum akhirnya ia tertidur.

Cindy dan Hermione berharap bahwa hari esok akan lebih baik.

To Be Continued.

Saya harap prologue ini berkenan di hati reader sekalian. jangan lupa klik review ya. thanks :)