Hanya dalam waktu sekitar sebulan, aku udah update 4 fic LOL #nista Oke, met baca!

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Semakin Dekat, Semakin Merapat, Semakin Melekat (c) Uchiha Yuki-chan

Chara: Akatsuki, khususnya Pain, Hidan, Itachi, Sasori, dan dua Flower Boy Akatsuki: Kisame dan Kakuzu

Warning: OOC, OOC, OOC, OOC. Bahasa Kasar. Bahasa Gaul nan tak baku. Bagi para saseng fans (?) Akatsuki atau salah satu / lebih chara Akatsuki, dimohon jangan baca fic ini jika kalian tidak ingin mengalami kontroversi hati. I have warned you~

Just for fun. Tidak mengambil keuntungan materi dari fic ini.

Dilarang memposting ulang tulisan ini dengan cara apapun dan di media apapun tanpa seijin penulis, Uchiha Yuki-chan. Oke broh? Happy reading broh


Episode (?) Sebelumnya...

"Giliran sapa neh?" tanya Itachi separuh masih dongkol dan separuh semangat banget. Maklum, doi udah punya niat nista buat nulis hal-hal buruk dan aib-aib siapapun yang menjadi korban berikutnya.

"Kakuzu," jawab Pain.

Itachi menyeringai.

'Mampus lu! Gue bongkar semuanya! Hidup lu penuh aib, sih!'

-oOo-

Pein: Kakuzu itu anggota paliiinnggg baik! Ga ada tandingannya deh. Dia dermawan banget. Masa ya, dia pernah nemu uang 1000 yen, trus dikasih ke tukang ngamen 5 yen, itupun ada kembalian! Dermawan banget, 'kan? Gua sebagai Ketua, bersyukur banget deh punya anak buah kayak dia. Sesuatu banget deh kehadiran dia di hidup gue. Bagai setetes air di Padang Sahara… Hanya satu kalimat yang pengen banget gue sampein ke Kakuzu: I can't live without you…

Hidan: DEMI JAA… SHIIIINNNN! Dia partner terbaik yang pernah gue dapat. Dia kuat—jantungnya aja ada lima cuy. Gue merasa amaann banget kalau ama dia. Orang lemah kayak gue gak bakal bisa apa-apa tanpa dia. Keren banget deh. Tubuhnya atletis, six packs booo. Sumpah, cowok manapun pasti iri banget padanya dan cewek manapun, akan ngiler saat ngelihat doi. Ga boong, kok. Sumpah. Apapun yang gua tulis di sini, ga ada yang palsu. Gue sama sekali ga terpaksa atau merasa takut terancam kalau dia mau naikin bunga bon kas gue ke dia, jika gue nulis kalimat yang jelek-jelek. Sumpah, gue ikhlaaassss banget nulis semua ini.

Sasori: Baik

Kisame: Dia adalah permata dari lumpur. Laksana sinar mentari di tengah musim dingin. Tiadalah kata mampu menggambarkannya. Kesempurnaan adalah dirinya. Malaikat adalah sifatnya. Tampan adalah rupanya. Dermawan adalah sikapnya.

Cadarnya menyebarkan bau wangi—menyembunyikan wajah rupawannya dari baliknya. Perawakannya muda bagai remaja. Dan dermawan dan baik budi dan pekertinya.

Oh, Kakuzu. Betapa aku mencintaimu (?)

Itachi: Kakuzu?! Satu hal yang nempel di pikiran gue dan gue yakin, di pikiran SEMUA orang ketika denger nama dia: PELIT MAMPUS DUNIA AKHIRAT! GA ADA DERMAWAN-DERMAWANNYA! PELIT! KIKIR! RIBA' (?)! GA ADA BAGUS-BAGUSNYA DEH IDUP DOI ITU! MUBADZIR BANGET EKSISTENSINYA DI DUNIA INI! DOI BAHKAN GA PANTES MASUK NERAKA! MENDING KALAU PELIT, TAPI GANTENG GITU! ORANG MUKA AJA UDAH KAYAK JAMBAN KELINDES TRAKTOR (?) GITU! SUMPAH YA, KALAU PUN ADA ORANG YANG BICARA BAIK-BAIK SOAL DOI, KEMUNGKINANNYA CUMA ADA DUA: 1) ORANG ITU TAKUT KALAU BICARA JELEK, BUNGA BON KASNYA BAKAL DILIPAT GANDAIN AMA KAKUZU, 2) ORANG ITU SINTING!

KAKUZU ITU SAYANG BANGET AMA UANG! MELEBIHI SAYANGNYA PADA DIRI SENDIRI! GUE YAKIN, DIA BAHKAN BISA IDUP TANPA OKSIGEN SELAMA UANG ADA DI DUNIA INI. PANTEESSS AJA DOI JOMBLONYA TOTALITAS! DAN PLIS, ITU CADAR BISA GA SIH DIGANTI? SEINGAT GUE YANG DIBILANGIN PEIN, ITU CADAR UDAH DOI PAKE SEJAK BAHKAN AKATSUKI BELUM KEBENTUK! DEMI TUU..HAAANNN!

INTINYA, KAKUZU ITU:

K-ORUPTOR TO THE MAX!

A-H, SEBEL GUE!

K-IKIRNYA BIKIN ORANG MURTAD JADI TOBAT!

U-ZUR MAMPUS! TINGGAL BIKIN LIANG LAHAT AJA!

Z-OMBLONYA(?) BERKOMITMEN DAN TOTALITAS

U-DIK, TUA, DEKIL, INGUSAN, GA ASYIK,

"Pein, boleh minta kertas lagi ga?" celetuk si Itachi saat suasana hening karena teman-temannya masih sibuk nulis.

"Emang elu nulis paan ampe kertas lu habis?" tanya Pain.

"Ah! Ntar lu juga tahu!" desak Itachi, "Sini cepetan!"

"Ogah! Itu aja udah cukup! Lu mau bikin skripsi, apa?" tanya Pain ngeles.

Sedangkan Kakuzu hanya menatap si Pewaris Uchiha dengan lirikan heran dan tajam dari kedua matanya. Perasaannya mengatakan bahwa apapun yang ditulis si Itachi, itu adalah hal yang bikin Kakuzu bakalan 100% naikin bunga kas bon doi!

"Udah selesai! Yok kita baca!" ujar Sasori yang kertasnya masih terlihat kosong melompong.

"Ah! Tunggu, sayang banget nih nanggung!" protes Itachi sembari berusaha untuk merampok jatah kertas Sasori yang ga kepake. Sayang banget, 'kan? Itachi udah ngerangkai kata-kata makian di otaknya dan tinggal ditulis doang!

"Cukup! Cukup!" lerai Pain sembari merebut kertas Sasori, biar ga dipake Itachi. Lagipula apa sih yang ditulis si Uchiha itu? Ngefans banget ama Kakuzu ya ampe detil banget tulisannya.

Sedangkan si Kakuzu hanya terdiam melihat semuanya. Tapi dia bersumpah demi gunung yang gonjang-ganjing, dia akan menaikkan kas bon siapapun yang berani melukai perasaannya (halah!).

Meski dengan berat hati, Itachi akhirnya ngalah juga dan merelakan novelnya (?) urung tertamatkan.

Beberapa detik kemudian setelah Kakuzu membaca…

"Itachi, kas bon lu kena bunga 60% tiap bulannya, ya," ujar Kakuzu kalem, tenang, dan nyantaaaiii banget senyantai orang ngomentari keriput Itachi (lagi).

Kemudian, sisipkan deskripsi 'awkward moment' di sini.

Beberapa detik kemudian, barulah kesunyian itu terpecah. Sasori, Pein, Hidan, dan Kisame yang langsung meneriakkan syukur (bahkan Kisame ampe lebay menangis segala), dan Itachi yang berteriak 'WHUTZ?!' dengan cukup alay dan sok asyik, di depan muka Kakuzu.

"Kenapa, Zu?!" Itachi protes dengan ekspresi seolah-olah masa depannya terenggut sadis akibat tendangan di selangkangannya. Hatinya udah ketar-ketir, karena maklum saja, kas doi ga sedikit. Ga usah dikasih bunga aja Itachi baru bisa lunasin kalau dia bisa sukses jadi pacarnya Tante-Tante borju suatu hari nanti.

"Yes! Yes! Yes!" beda banget dengan Itachi, ke-empat anggota yang lain (minus Kakuzu) ber-yes-yes ria sembari ngepalin tangan. Ini nih, contoh nyatanya istilah "persahabatan itu masih kalah dengan kas bon".

Tanpa ngejawab tuntutan Itachi, Kakuzu dengan santainya ngelanjutin, "Dan Sasori, Pain, Hidan, dan Kisame, kas bon kalian dapet bunga 55 persen," masih dengan santai, doi nyatet angka-angka jahannam tersebut di buku jahannam berisi kas bon dari member jahannam.

Bagaikan suatu ironi di atas ironi yang paling ironi, keadaan berbalik. Itachi ngakak, dan keempat temannya membeku. Mematung. Seolah-olah Kira telah khilaf salah fandom dan nulis nama mereka berempat di bukunya.

"KENAPA, JJUU!" teriak kelompok 55 persen dengan medok dan muntab. Menatap tak percaya, terluka, tersakiti, dan deskripsi lebay lainnya.

"Why?" Kakuzu sok asyik pake nge-English segala, "You, you, you, you, and you!" telunjuk lentik-tanpa-kuteks-tapi-kuku-item-gegara-sering-dipake-garuk-pantat dari Kakuzu nunjuk wajah rekannya satu-satu, "Pada nyakitin kokoro akika!" kali ini tangannya menebah dada.

"Nyakitin apa? Semua tulisan gua tentang elu bagus-bagus kok, nih!" Pain nunjukin kertasnya yang penuh tertulisi berbagai macam pujian untuk Kakuzu.

"Gua juga, Zu! Nih lihat, gua bahkan nulis kalau gua ikhlas banget buat memuji-muji elu gini!" teriak Hidan menekankan kata 'ikhlas' dengan terlalu kuat hingga terkesan doi kayaknya sangat terpaksa. Telunjuk doi nunjuk kata 'ikhlas' di kertasnya yang tampak tebel dan bikin kertasnya nyaris robek karena kayaknya, pas nulis Hidan terlalu menekan bolpoin di kertasnya.

"Ngibul banget kalian!" maki Kakuzu dengan lagak balik kayak preman, "Ga usah akting deh!"

Itachi masih ngakak, terlepas dari ekspresi keempat temannya yang menjadi korban rentenir berkedok Preman Kelas S-emprul, "Rasain! Makanya, jangan caper!" hina Itachi dengan ekspresi niat dan nyakitin banget, "Giliran gue tadi aja dikata-katain abis-abisan!"

Kakuzu manyunin bibirnya dan menatap dengan hati hancur (halah) pada yang lain. Sasori tuh… masak Cuma nulis kata 'baik' doang di kertasnya. Sasori pikir ada yang tanya 'Apa kabar?' ke dia, apa? Tapi mending sih, daripada tulisan Kisame. Selain ketauan banget ngibulnya, juga bikin Kakuzu seketika rasanya ingin bunuh diri saking lebay dan alaynya tulisan makhluk blesteran hiu-manusia itu.

Pein ngehela napas, "Padahal gue pengen acara ini bikin kita tambah deket," ujarnya dengan akting sok sedih seolah ia adalah aktor protagonis sebuah film dan sekarang lagi diputerin backsound lagu-lagu mellow, "Kenapa kalian marah sih kalau temen bilang jujur?!"

"Halah! Palingan lo ntar ga marah, Cuma langsung bantai kita pas giliran elu yang dibahas," komentar Kakuzu tepat sasaran.

"Udah, udah. Ayo lanjut!" kata Pein mengalihkan topik. Rasanya kebelet bokernya makin menjadi aja dan menyebabkan perut serta pantatnya gonjang-ganjing.

Kisame hanya berurai air mata.

Kas bon naik 55 persen per bulan… Kira-kira Paris Hilton mau ga, ya, booking dia semalam doang?

"Selanjutnya, Kisame!" kata Pein.

Hidan melongo, "Yakin nih kita mau nulis soal Kisame?"

"Emang kenapa?" sembur Sasori judes. Maklum aja, moodnya langsung jelek banget begitu tahu bahwa ia kena rampokan 55 persen. Plis, itu rasanya sama kayak kalau kalian tahu orang tua bercerai, trus kalian diputusin dan ditinggal merit pacar, trus kalian ga lulus UAS, trus fic kalian dapet flame, trus Author kesukaan kalian gosipin kalian diam-diam, dan plus kalian tahu bahwa entah gimana, kalian diduga sebagai anggota jaringan teroris Irak oleh FBI Amerika Serikat.

Intinya: 'Sakitnya tuh di sini….' Batin Sasori sembari menebah dada.

"Ya… soalnya gue ga bisa jamin kalau otak gue bisa nemuin hal bagus apapun soal Kisame."

Kisame disini langsung aktifin death glare dari kedua mata ikannya.

"Maksud lo apaan, hah, bencong!" ujar Kisame rasis dan ga nyambung banget.

"Ya di antara kita semua, elu kan yang paling sering dihina!" tukas Hidan merasa tersinggung diragukan gendernya, "Liat aja, para fans Naruto sering ngatain elu. Bahkan di cerita ini juga!"

"Emang lu ga pernah dikatain, hah, banci!"

"Tapi ga sebanyak elu, ngondek!"

"Setidaknya gue ga sesat kayak elu, melambay!"

"Setidaknya gue kalau dijual ga lima puluh yen per ons di pasar, cowok bottom!"

"Apa? Gue seme-in elu sekarang juga tahu rasa lu!"

Hadeeehhhh…

Ketiga anggota yang lain hanya jeduk-jedukin jidat mereka di pohon terdekat mereka.

"UDAAAAARRRRGGGHHH!" Pein separuh melerai separuh nge-rock, "Kalian ini apaan seh? Kampret! Ngerti ga seh keinginan gue biar kita bisa lekat dan rapat lagi?!" Pein muntab, "Biyung… Biyung… (?), punya anak buah kok pada semprul semua!"

"Tapi, Pein—"

"Udah bacot!" bentak Pein yang membuat Kisame menganga layaknya ikan yang kejerat kail nelayan, "Sekarang kita lanjut! Dan kalian kalau masih berisik, gue pastiin hal terakhir yang bisa ditulis tentang kalian adalah 'Rest in Piss!'"

"Rest in peace."

"Maksud gue itu."

'Apaan. Barusan lu bilang 'Istirahat dalam air kencing' gitu' pikir yang lain, namun terdiam daripada nantinya mereka beneran dijadiin Pein 'Rest in Piss' gegara banyak bacot.

-oOo-

Pein: Jujur aja, terkadang gue ngerasa kasihan banget ama hidup ini anak. Apapun mengenai dirinya, selalu mengundang caci maki. Apapun yang dilakuin, selalu dinistai. Coba nih ya, seandainya Kisame dan Sasori ngelakuin suatu hal yang sama, dengan cara yang sama, di tempat dan waktu yang sama, pasti respon para cewek-cewek bagai langit dan bumi. Kasihan banget pokoknya. Kalau gue terima yang lain jadi Akatsuki karena bakat dan keahlian mereka, gua dulu terima Kisame karena kasihan doang. Abisnya, dia ngelamar (?) jadi anggota sambil bilang bahwa dia ga punya tempat tinggal dan belum makan tiga hari. Hhhh…

Hidan: Salah satu alasan kenapa Akatsuki bisa ganti status dari organisasi kriminal menjadi perkumpulan tukang sirkus adalah Kisame. Contohnya aja ya, di fic-fic (?) humor, pasti salah satu bahan lawakan nista adalah soal Kisame. Hinaan apa coba, yang ga pernah didapatkan Kisame? Keturunan hiu lah, anak haram lah, tunangannya ikan teri lah. Kasihan lah pokoknya. Sering saking kasihannya gua, gua pengen Pain relain dia kembali ke laut aja. Tapi Pain ga mau kasih tahu apa alasannya. Tebakan gua sih ya, Pain ga mau Kisame pergi karena jika tuh hiu pergi, maka predikat 'yang paling terhina se-Akatsuki' bakal disandang Pain, yang notabene the 2nd nistaest di sini. Yah, kan wajar, dia juga sering banget dikatain. Padahal ketua tuh, pemilik rinnegan! Masak sering dikatain sebagai sindikat bokep dan penggemar berat Britney Spears? Padahal salah! Pain ga gitu kok! Pain kan nge-fans beratnya ama Maria Ozawa! Hhh… Beginilah jika menghabiskan sebagian besar harimu di organisasi yang gersang perempuan.

Kakuzu: Pertama kali gua lihat Kisame waktu Pain ngenalin dia, yang terpikir di otak gua cuma satu: "Dia kalau dijual harganya bisa nyampe 1000 ryo, ga, perkilo?" Karena sumpah, mukanya itu bikin gua seketika mikir Pain sampe ngerekrut hewan saking ga ada orang lain lagi yang mau gabung di organisasi ini. Meski dia sering jadi bahan bully-an, tetapi bagi gua dia manusia yang baik karena dia yang paling dikit utang uang kas dari gue. Tentu saja, bagi gua, baik buruknya manusia itu kan dinilai dari sedikit-banyaknya utangnya. Jadi menurut gua, Kisame itu manusia baik.

Sasori: Dia berasal dari Kirigakure, bukan?

Itachi: Pertama kali ketemu ama gua, dia bilang bahwa namanya adalah Samuel. Tapi waktu gua tahu namanya Kisame, dia bilang bahwa namanya aslinya adalah Kisam(u)e(l). Jujur banget, gua waktu itu sweatdrop. Kulitnya biru, dan karenanya gua dulu sempet saranin Kisame cari side-job di TV jadi figuran orang mati. Udah pas deh, tanpa perlu make-up buat bikin mukanya biru. Dia punya gigi yang runcing—gua dulu pernah buka tutup botol pake gigi dia. Sekalipun dia sering banget dapet hinaan, tapi dia selalu ceria. Tak muda putus asa. Tetap semangat. Tetap rajin merawat bunga sambil bernyanyi dan mengejar kupu-kupu. Intinya, semakin nista dan hina banget.

Setelah membaca semua tulisan di kertas-kertas itu, Kisame hanya tersenyum getir. Tatapannya penuh sorot luka. Ekspresinya seolah menunjukkan bahwa hatinya diredam sakit yang tak terkira. Ya, intinya hanya dengan satu sesi dari Kisame, genre fic ini banting stir dari humor menjadi angst/tragedy.

"Kalian memang sahabat yang baik," gumam Kisame sembari tersenyum.

Pain menepuk pundak Kisame, "Tentu. Inilah arti teman—kami tahu semua tentangmu."

"Lu nyadar 'kan kalau tadi cuma sarkasme?" mau tak mau Kisame melirik jengkel ke Pein. Apanya yang 'semakin dekat semakin melekat'? Permainan gak jelas ini justru membuat Kisame pengen pindah organisasi—bahkan pindah fandom sekalian jika bisa.

"Jangan salahin gua dong," Pain ga terima disindir anak buahnya, lantas doi menoleh ke Hidan dan nampol budak Jashin itu pake batangan jatinya, "Lu juga! Ngapaen lo hina-hina gua di sesi Kisame ini, hah?"

"Setelah ini yang bakal dibahas kan elu, Pain. Jadi gua cuma mau ngasih prolog-nya doang," ujar si budak Jashin, yang langsung kembali mengumpat ketika jati Pain ngebentur kepalanya.

Sasori menatap kertas Hidan, "Bahkan dia lebih banyak bahas lu, Pain, ketimbang si Kisame sendiri."

"Diem lu, Sas!" bentak Kisame tiba-tiba. Ia menatap Sasori dengan pandangan matanya yang terluka—secara harfiah, karena tanpa sengaja barusan serpihan batangan jati Pain masuk ke matanya, "Maksud lu apaan nulis gini? Lu ngeinterview gua apa gimana? Sakitnya tuh disiniiii…." Kisame nunjuk dadanya dengan ekspresi sakit yang lebe, "…tau ga, Sas?"

"Sori, Sam, gue selama ini mikir lu dari Ame-gakuen," Sasori kena tampol Pain, "Maksud gue, Ame-gakure," doi kena tampol Pain lagi, "Oemji helloooww! Apa sih, bro?! Biasa aja keles!" dia noleh jengkel, lebay, dan alay, ke arah Pain.

"Dari hongkong dia dari Ame?!" Pain ga terima desanya yang kecil dan udah penuh sial itu harus ketambahan sial lagi karena dikira desa kelahiran Kisame.

"Ya… abisnya disana banyak air," ujar Sasori, "Dan Kisame itu ikan."

Rasanya Kisame bisa mendengar jelas bunyi 'jleb' imajiner yang berasal dari jantungnya karena alasan absurd dari Sasori barusan.

Sedangkan Kakuzu dari tadi diam. Sibuk ngitung dalam hati, berapa banyak uang yang bakal dia terima karena kenaikan kas bon teman-temannya.

Ternyata dia masih gondok karena sesi dia sebelumnya, saudara-saudara.

"Sudahlah, ayo lanjut!" lerai Hidan, yang merasa udah bosen ama kegiatan nista ini. Mana dia belum sarapan pula.

"Sekarang giliran Pain, 'kan, yak?" si Kakuzu bertanya. Matanya yang berwarna ijo terlihat semakin berbinar dan semakin ijo.

Pain menelan ludah gugup tatkala melihatnya.

"Oke!" Pain nantang, seolah jadi satu-satunya manusia di bumi ini yang bersih tanpa aib dan dosa, "Gua ga takut!"

-oOo-

Chap depan adalah chap terakhir hoho. Well, jaa!

Feedback?

Thanks!

Yukeh