Penghormatan terakhir untuk Nenek Chiyo dilaksanakan dua hari setelah Kazekage kembali.

Gaara memastikan jika nenek tua yang menolongnya dan Sunagakure itu mendapat penghormatan yang layak.

Para ninja Konoha pun masih tinggal di Sunagakure, mereka menunggu sampai pemakaman itu dilaksanakan setelahnya mereka akan kembali. Tapi tanpa Naruto dan Jiraiya.

Semua yang ikut dalam misi ini telah dimandat untuk tidak memberitahu apa yang terjadi dengan Naruto. Jiraiya telah berkirim pesan menggunakan kataknya untuk memberitahu apa yang terjadi pada murid termudanya tersebut. Misi ini telah naik menjadi level S: ke rahasiaan yang harus dijaga hingga ajal mereka.

Tapi Tsunade tetap akan menunggu laporan langsung dari Tim Kakashi dan Guy.

.

Sakura merengut. Tangannya masih mengambang diatas permukaan kulit wajah Naruto.

Luka bakar itu perlahan mulai menghilang. Menyisakan kulit kemerah mudaan. Sakura tidak pernah melihat Naruto seperti ini, temannya itu selalu memiliki kemampuan menyembuhkan diri yang sangat luar biasa dan melihatnya seperti ini justru terlihat aneh-meresahkan.

"Apa kamu yakin aku tidak perlu disini Naruto?" Sakura bertanya untuk kesekian kalinya.

Dibelakang Sakura, Kakashi berdiri tak jauh. Dia menaruh tangan kirinya diatas pundak Sakura.

"Sunagakure memiliki ninja medis yang baik. Lagipula jika kamu tidak kembali orang-orang akan curiga kenapa kamu tidak pulang bersama kami, Sakura." Kakashi mencoba menjelaskan.

Sakura tahu itu. Tapi itupun masih belum bisa menenangkan hatinya.

Naruto justru tersenyum lebar.

"Aku tidak tahu Sakura-chan sangat peduli padaku." Naruto berkata dengan senangnya. Ia akan memeluk teman setimnya itu tapi Sakura justru menekankan tangannya pada kedua pipi tirus Naruto dengan kuat.

"Apa yang aku bilang mengenai diam ketika sedang perawatan, Naruto?" Sakura bertanya dengan senyum sadisnya.

Naruto tertawa tanpa humor. Wajahnya terlihat lucu dijepit oleh jari-jari Sakura.

"Dalam beberapa hari semua lukamu akan sembuh. Syukurlah tak akan ada bekas." Sakura menjauhkan tangannya dari wajah Naruto dengan senyum lega.

Naruto sontak mengusap kedua pipinya. Gadis pirang itu bangkit untuk duduk. Rambut pirang panjangnya terurai tak beraturan.

"Aku benar-benar merasa tidak nyaman dengan rambut ini. Aku ingin memotongnya!" Naruto berkata dramatis dengan mengusap rambut pirang panjangnya kesal.

Pukulan andalan Sakura lagi-lagi mendarat dikepala Naruto.

"Jangan berani kamu memotong rambutmu itu!" Sakura berdesis tak terima. Ia berjalan kebelakang Naruto dan duduk dibelakang gadis pirang tersebut.

Naruto mencoba menengok untuk mengetahui apa yang dilakukan oleh teman setimnya. Tapi Sakura memalingkan wajah Naruto agar memandang Kakashi yang hanya duduk santai sambil membaca buku kesayangannya.

Perlahan Naruto merasakan jari-jari Sakura menyisir rambut pirang panjang miliknya. Tangan Sakura begitu mahir dan sabar, menyisiri dengan hati-hati untuk tidak terlalu menyakiti Naruto.

Pemuda yang baru menjadi gadis itu menikmati perlakuan Sakura, dia menutup matanya dengan ekspresi rileks.

Jemari Sakura terus memainkan kemahirannya dalam menata rambut.

"Sudah." Sakura berkata dengan bangga.

Naruto membuka matanya dan segera menatap Sakura bingung.

"Jika kamu merasa rambutmu ini menutupi pandanganmu, kamu bisa mengepangnya atau sekedar menguncirnya kebelakang." Sakura kembali menjelaskan. Dia membawa sisian rambut Naruto yang baru dikepangnya kedepan.

Naruto hanya ber'oh'.

"Aku bisa mengajarimu cara mengepang." Sakura tersenyum kembali. Tapi lebih lebar dari sebelumnya.

Naruto dengan antusias menunggu pengajaran Sakura. Setidaknya rambutnya tidak akan acak-acakan lagi jika dia tahu cara menatanya.

Selama setengah jam Naruto dan Sakura sibuk mengepang. Naruto masih belum mengerti dan Sakura kembali dengan sabar membimbing temannya.

Di sudut lain ruangan inap tersebut Kakashi hanya bisa tersenyum. Tim mereka terlihat lebih harmonis sekarang. Sayangnya ada kekurangan yang masih belum bisa mereka isi.

Andai Sasuke ada bersama mereka. Mungkin saat ini pemuda itu akan mengejek Naruto.

Andai saja.

.

"Kalian mengertikan? Orochimaru akan mengirim mata-matanya untuk mencari keberadaan Naruto. Konoha bukan tempat yang pas untuk Naruto saat ini, karena itu jangan sampai kalian membiarkan informasi keberadaan Naruto diketahui siapapun. Teman-teman kalian tahu jika Naruto sedang menjalani latihan khusus dengan Jiraiya-sensei. Biarkan spekulasi itu yang beredar. Mengerti?" Kakashi menjelaskan panjang lebar beberapa jam sebelum pemakaman untuk nenek Chiyo dilaksanakan.

Semua mengangguk mengerti.

Tapi hanya Sakura yang terlihat tidak nyaman.

Kakashi mengalihkan pandangannya pada Sakura.

"Kazekage dan Jiraiya-sensei akan menjaga Naruto disini. Sampai suasana lebih aman dan kondisi Naruto membaik, dia akan tetap di Sunagakure."

Sakura mengangguk mengerti.

.

.

.


Pemakaman adalah yang menyedihkan. Seluruh Sunagakure menghadirinya. Suasana berkabung yang menyelimuti itu begitu kental.

Kazekage sedang mengucapkan terima kasihnya kepada nenek Chiyo atas jasa nya membela dan menjaga Sunagakure.

Kemudian setiap orang menaruh bunga pada batu nisan besar milik nenek tua tersebut. Beberapa orang yang mengenal dekat sang nenek sempat terhenti untuk mengusap batu kematian tersebut.

.

.

.


Seluruh tim Konoha itu berdiri didepan gerbang desa Suna. Gaara, Temari, Kankurou, Jiraiya, dan Naruto juga ikut mengantar para ninja Konoha itu pergi.

Lee dengan dramatisir memeluk Naruto sambil berlinang airmata sebelum Tenten menendangnya karena pelukannya itu bisa saja dianggap tidak sopan karena Naruto sekarang seorang perempuan. Neji hanya memberi anggukan kepada Naruto. Guru Guy memancarkan senyum kemilangnya.

Kakashi-sensei menepuk pelan puncak kepala Naruto pelan.

Dan Sakura...

Teman setim Naruto itu memeluk Naruto erat dan membuat Naruto berjanji untuk tidak memotong rambutnya.

"Saat kamu kembali aku akan membawamu berbelanja baju lebih banyak lagi,Naruto." Ucap Sakura dengan senyum lebarnya.

Naruto berwajah horror dan mengangkat kedua tangannya menyerah.

"Tidak perlu Sakura-chan! Aku sudah puas dengan pakaian ini haha." Naruto berucap sambil menunjuk pakaian hitam yang ia pinjam dari Temari.

Saat semua akan pergi Gaara mengucapkan terima kasih yang mengejutkan semuanya.

Naruto tersenyum lebar ke arah Gaara.

.

.

.


Naruto berjalan tertatih. Badannya belum sembuh tapi ia tidak akan melewatkan mengantar temannya pergi.

Jiraiya dan Naruto menginap salah satu dipenginapan.

Naruto melirik kesamping ke arah Gaara yang berjalan didepan diikuti beberapa Shinobi. Temari dan Gaara sepertinya membicarakan hal yang serius.

Naruto berjalan perlahan. Disampingnya Jiraiya pun mengikuti langkah Naruto, memastikan murid termudanya itu tidak tersungkur karena kecerobohannya. Tuhan tahu betapa gadis pirang itu selalu tersandung hal yang tidak jelas.

Naruto menatap seluruh jalanan Sunagakure dengan kagum. Suasana disini begitu berbeda dengan suasana Konoha. Sesuatu yang menyegarkan ketika kamu bisa berjalan tenang sambil menatap sekeliling tanpa mendapati pandangan jijik dan benci.

Betapa Sunagakure berbeda dari Konoha. Orang-orang disini telah menerima Gaara yang seorang Jinchuuriki sebagai Kazekage mereka. Mereka bahkan menatap kagum dan hormat pada Gaara yang seumuran dengan Naruto. Semua terlihat berbeda.

Tanpa sadar Naruto berjalan menundukkan wajahnya. Rambut pirang terkepangnya menutupi wajahnya.

"Jiraiya-sama, Naruto."

"Ah." Naruto segera mendongak begitu mendengar Gaara memanggil namanya.

"Ada yang harus kita bicarakan. Ikutlah dengan kami." Gaara segera membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan didepan.

Naruto menatap bingung.

Jiraiya merangkul pundak Naruto dan berbicara dengan santai.

"Aku sempat melihat burung pesan milik Konoha. Aku rasa ini pesan khusus mengenai dirimu."

Naruto berusaha berjalan dengan senormal mungkin tapi sesekali ia akan tertatih dan Jiraiya akan membantu Naruto untuk tegak.

.

Naruto tidak mengerti. Begitu dia sampai diruang kerja Kazekage disana sudah ada seorang ninja medis.

Gaara mengambil jubah Kazekagenya. Memakainya dengan mudah kemudian duduk dan menatap ke arah para tamu diruangannya.

Temari mengambil posisi dibelakang Gaara.

"Pesan dari Konoha telah diterjemahkan. Atas perintah Hokage, Uzumaki Naruto akan tinggal di Sunagakure sebagai perwakilan Konoha. Hokage juga akan mengirim seseorang untuk membantumu disini." Gaara berucap tenang. Pandangannya beralih pada ninja medis yang ada disana, dia mengangguk kecil.

Ninja medis itu menatap Naruto.

"Aku akan bertanggung jawab untuk perawatanmu. Namaku Akai." Ninja medis itu tersenyum kecil.

Naruto membalasnya dengan senyum lebar.

"Aku Uzumaki Naruto. Salam kenal Akai."

Akai kembali tersenyum. "Jika anda tidak keberatan aku ingin memastikan sesuatu." Akai mengulurkan tangannya.

Naruto menatap Gaara. Menelengkan kepalanya sedikit. Dan Gaara memberi Naruto anggukan kecil.

Gadis pirang mendekati Akai. Ninja medis itu pun memberi senyum meyakinkan pada Naruto. Dengan hati-hati dia menggunakan chakra ditangannya untuk memeriksa Naruto. Ia menaruh chakra itu pada nadi dipergelangan tangan Naruto.

"Utusan Konoha sudah berangkat sejak kemarin. Besok pagi mungkin mereka akan datang." Gaara berkata pelan. Ia mencoba mengalihkan perhatian Naruto pada pemeriksaannya.

Naruto mengangguk pelan.

"Akai adalah ninja medis terbaik kami saat ini. Dan dia adalah orang yang terpercaya." Temari menjelaskan.

"Demi keamanan mu, keberadaanmu disini akan menjadi rahasia. Karena itu Akai selain menjadi ninja medis mu, dia juga bertugas mengawasimu."

Naruto membuka mulutnya untuk protes jika dia perlu diawasi tapi Jiraiya meremas pundak Naruto dan memasang wajah serius yang membuat Naruto tidak menolak perintah Gaara.

Akai menjauhkan tangannya dari Naruto.

Ninja medis itu menggeleng pelan ke arah Kazekage.

"Aliran chakra nya tertutup. Tapi ini beresiko. Jika terlalu lama ditutup ada kemungkinan dia tidak akan bisa menjadi ninja lagi, atau aliran chakra yang besar itu akan membanjiri tubuhnya." Wajah Akai merengut.

Naruto melangkah mundur. Matanya berkilat emosi.

"Apa maksudmu aku tidak bisa menjadi ninja?" Naruto menggertakan giginya.

"Naruto..." Jiraiya menghela nafas.

"Perubahanmu itu memiliki sisi negatif. Kyuubi adalah kumpulan energi yang kekuatannya berasal dari rasa benci. Chakra mu yang sekarang sudah berubah seutuhnya menjadi chakra Kyuubi itu sendiri. Kamu belum bisa mengendalikan kekuatan sebesar ini karena itu kemarin aku terpaksa harus menutupnya kembali dengan segel milik Yondaime. Seperti yang kamu dengar, sedikit saja chakramu mengalir maka chakra itu akan mengalir keseluruh tubuhmu. Dan kejadian kemarin-" Jiraiya menghentikan kata-katanya. Ia tidak ingin membuat Naruto dimakan rasa bersalah kembali karena memikirkan tindakannya yang melukai semua teman-temannya.

Naruto menundukkan kepalanya. Semua yang ada di ruang Kazekage itu terdiam.

"Naruto..." Jiraiya memanggil pelan.

Naruto menggeleng keras. Ia menganggkat wajahnya dan menatap ke arah mereka semua dengan wajah kecewa.

Gadis pirang tersebut memundurkan langkahnya dan berlari keluar dari ruangan tersebut.

.

Kenapa?

Kenapa mereka bisa seenaknya memutuskan apa yang harus dilakukan Naruto?

Apa mereka tidak tahu jika menjadi ninja terbaik adalah impian Naruto? Bagaimana dia bisa mencapai nya jika ia bahkan tidak bisa menjadi ninja lagi?

Apapun akan Naruto lakukan. Dia selama ini selalu bertahan demi mencapai impiannya. Impiannya adalah satu-satunya pegangan hidupnya yang membuat ia tidak pernah mundur. Bagaimana bisa mereka menghancurkan semua nya?

Naruto berlari entah kemana.

Ia berlari ditempat asing ini.

Tak ada Iruka-sensei yang akan mengucapkan kata-kata menenangkan.

Tak ada kepala patung Yondaime Hokage yang biasa ia ajak berbicara.

Naruto terus berlari tak menentu arah.

.

Naruto memandang langit yang mulai menggelap.

Ia tak tahu ini dimana.

Seluruh tubuhnya merasa sakit. Otot-otot kakinya mulai memprotes.

Gadis itu berhenti setelah beberapa jam menjelajah tanpa arah.

Ia duduk dibelakang tempat yang ia duga sebagai akademi Sunagakure. Disini bahkan tak ada ayunan.

Naruto hanya bisa merebahkan tubuhnya disamping pohon besar yang kemungkinan digunakan untuk latihan berjalan menggunakan chakra.

Ia lelah.

Angin malam gurun yang dingin menerpa Naruto. Baju hitam yang ia pinjam dari Temari telah basah oleh keringatnya dan berkat itu kini dinginnya angin makin ia rasakan.

Mata Naruto membesar terkejut ketika kakinya yang berada diatas pasir itu tiba-tiba tidak bisa digerakan.

"Gaara!" Naruto mendesis tidak suka. Ujung kaki hingga lututnya kini terbalut oleh pasir yang seolah mencengkramnya.

Naruto mengedarkan pandangannya, mencari sang Kazekage. Mata nya langsung memincing tajam ke arah beberapa meter disamping kanannya, dimana Gaara sedang menyenderkan tubuhnya dengan santai.

Gaara telah kembali menggenakan pakaian merah khasnya. Tanpa jubah dan topi Kazekage miliknya. Tong besar yang selalu dibawanya pun absen.

"Apa maumu?" Naruto bertanya dingin. Ia melipat kedua tangan nya membandel. Menutup kedua kelopak mata nya emosi.

Tak ada jawaban. Hanya angin malam yang masih berhembus.

Semakin lama dalam diam membuat Naruto gemas. Gadis muda itu akhirnya membuka mata nya juga.

Ia menaikan alis matanya kesal.

Sang Kazekage masih saja berdiri diposisi yang sama dan wajah pasif nya tak berubah sama sekali.

"Apa maumu Gaara?" Naruto bertanya lelah. Ia mencoba menggerakan kakinya. Nihil. Sulit sekali.

Gaara lagi-lagi tidak menjawab. Dia hanya berdiri dibawah bayangan pohon.

"Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku. Jika aku tidak bisa mengakses chakra dalam tubuhku bagaimana aku bisa menjadi ninja?" Naruto bertanya.

Gaara tidak menjawab.

"Semua orang membenciku. Aku pikir jika aku bisa menjadi ninja yang hebat dan bisa diandalkan maka semua orang akan memandangku berbeda. Semua orang akan memperhatikanku. Karena itu ninja adalah impianku..." Naruto berkata kembali. Ia meremas celana hitamnya.

Kembali tak ada jawaban. Gaara masih berdiam diri. Membiarkan gadis muda itu mengeluarkan apa yang dia inginkan.

Keduanya diam.

"Kamu tidak perlu mengunci pergerakanku seperti ini Gaara. Aku sudah tidak sanggup berjalan kembali." Naruto menghela nafas panjang.

Perlahan pasir dikaki Naruto mulai berjatuhan.

"Chakra bukan kunci utama menjadi ninja." Akhirnya Gaara berkomentar.

Naruto menengokkan kepalanya.

Memikirkan kata-kata Gaara dengan serius.

"Oh!" Tiba-tiba Naruto menepukkan kepalan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya.

"Taijutsu! Lee masih bisa menjadi ninja dengan mempertajam kemampuannya dalam taijutsu!" Naruto berteriak gembira.

Naruto mengangkat kedua tangannya kedepan. Memperhatikan setiap tubuhnya dengan baik.

"Tapi tubuh ini lebih lemah dari tubuh sebelumnya. Kenapa lengan ku jadi lebih kecil?" Naruto terus berkomentar mengenai tubuhnya yang baru. Menandai jika tubuh itu jauh dari tubuh ideal untuk menjadi ninja.

Naruto terus menerus menggerutu. Ia sepertinya lupa dengan keberadaan Gaara karena sibuk dengan monolog nya sendiri.

Kazekage itu akhirnya muncul dari balik bayangan. Dia berjalan mendekati Naruto. Membiarkan gadis itu terus dalam monolog kesalnya.

Ninja berambut merah itu mengagetkan Naruto ketika dia menarik tangan Naruto dan menaruhnya dipundak.

Naruto menutup mulutnya terkejut.

Gaara ternyata membantunya berdiri.

"Jiraiya-sama khawatir denganmu. Lebih baik kita kembali." Gaara berkata dengan nada tenangnya. Wajah pasif itu tak berubah sedikitpun.

Naruto tiba-tiba tersenyum lebar.

"Hey, terima kasih Gaara."

Kazekage muda itu menatap Naruto dengan heran. Naruto masih tersenyum lebar tapi karena tidak mendapat balasan dari Gaara lama-lama Naruto menjadi merasa canggung dan segera menutup mulutnya.

Naruto mencengkram pundak Gaara terkejut ketika pasir-pasi dibawah kakinya mengeras dan bergerak ke atas.

Naruto menatap Gaara dengan kagum ketika mereka berdua terbang dengan menggunakan pasir pelindung milik Gaara.

Kazekage itu menatap ke depan. Dia tidak terlihat risih dengan tangan Naruto yang masih mencengkram pundaknya. Ekspresi wajah datarnya tak berubah sama sekali.

"Ah, Gaara. Seharusnya ditempat ini ada ayunan. Anak-anak sangat menyukai ayunan bukan?" Naruto kembali bicara untuk mencairkan suasana.

Lagi-lagi Gaara terdiam. Tapi Naruto sempat melihat sudut bibir Gaara naik walau hanya sedikit.

Akhirnya Naruto memutuskan diam dan menikmati angin malam yang menerpa mereka.

Terkadang sunyi itu memang menyenangkan.

.

Naruto menatap heran ke arah rumah didepannya. Gaara membawa mereka bukan ke penginapan dimana Naruto dan Ero-sannin menginap.

Pasir dibawah kaki mereka mulai memecah. Akhirnya kaki mereka menyentuh tanah.

Gaara membuka pintu rumah dua lantai tersebut.

Kazekage itu membawa Naruto ke ruang tamu dimana Jiraiya sudah terlihat marah dan Akai berdiri disudut lain dari Jiraiya.

Begitu Gaara membaringkan tubuh Naruto di sofa, Akai segera bekerja. Dia memeriksa Naruto dan mencoba mengurangi rasa sakit gadis itu.

"Apa yang kamu lakukan Naruto. Masih banyak cara untuk mengatasi masalah ini. Jangan berbuat bodoh seperti tadi bocah." Jiraiya menatap Naruto tajam.

Gadis blonde itu tertawa pelan.

"Um... Aku tidak berpikir. Maaf Ero-sannin." Naruto mengatakan dengan malu. Ia mengusap pipinya tanpa sadar.

Jiraiya ber-face palm.

"Rumah ini akan menjadi tempat tinggal kalian selama disini." Gaara menyela momen guru-murid tersebut.

"Ah, tentu saja. Terima kasih atas kebaikanmu Kazekage." Jiraiya berucap dengan sopan.

Gaara mengangguk kecil.

"Aku permisi." Gaara pamit dan keluar dari rumah itu dalam diam.

Setelah Gaara tidak ada, tubuh Naruto baru merasakan efek dari berlari selama berjam-jam. Chakra milik Akai yang mengalir ke tubuhnya itu terasa hangat.

Hal terakhir yang Naruto dengar adalah suara samar-samar Ero-sannin yang mengerutu karena Naruto belum mandi.

.

.

.


Keesokkan nya saat Jiraiya maupun Akai masih tertidur dikamar mereka masing-masing, Naruto sudah terbangun lebih dulu.

Semangatnya sedang sangat membara.

Ia akan mengadaptasi cara berlatih Lee yang selalu berlari mengelilingi Konoha pada pagi dan sore hari, dengan begitu otot kakinya akan mulai terbentuk dan terbiasa dalam hal yang lebih berat lagi.

Setelah mandi dan berganti baju-baju yang entah darimana itu.

Naruto mengambil celana training berwarna hitam bergaris orange. Serta jumper berwarna orange dengan lengan berwarna hitam. Rambut pirang panjangnya ia sisir seadanya. Karena rambut panjang itu masih basah maka Naruto membiarkan nya tergerai.

Naruto selalu berwajah merah mengingat bagaimana Sakura rela membelikan pakaian dalam untuknya. Bahkan mengajarinya bagaimana cara memakainya.

Meski telah lama menjadi perempuan tapi tetap saja terasa aneh.

Setelah siap, Naruto bergerak diam-diam. Ia memakai sandalnya dan segera keluar rumah.

Baru akan melangkah keluar tiba-tiba anbu Suna muncul.

"Aku hanya ingin berlari sebentar. Kamu bisa ikut kalau mau." Naruto berucap cepat sambil melanjutkan larinya.

Dan sepertinya jawaban Naruto cukup memuaskan karena ninja itu menghilang tapi Naruto bisa merasakan ninja itu mengikutinya dalam diam.

Naruto tidak peduli selama ia masih bisa berlatih, begini pun tidak apa-apa.

Naruto menghirup nafas dalam.

Sunagakure berbeda dengan Konoha. Disini lebih dingin dimana Konoha akan sejuk pada pagi buta seperti ini.

Langit pun masih terlihat menggelap.

.

Naruto berhenti sesaat. Menyeka keringatnya kemudian ia merogoh kain potongan yang ia siapkan untuk mengikat rambutnya.

Naruto menguncirnya secara asal. Ia tidak bisa serapih Sakura tapi apa boleh buatkan. Rambut pendek lebih mudah ketimbang rambut panjangnya itu.

Naruto sempat tersesat ketika berlari tapi ninja Sunagakure yang mengawasinya itu akan muncul dan memberi arah kepada Naruto.

Tidak terasa langit mulai cerah. Ia tidak tahu berapa lama dia sudah berlari tapi keringatnya sudah sangat banyak dan kakinya tidak akan bertahan lebih lama lagi untuk berlari.

Begitu Naruto sampai dirumah, Akai telah bangun dan sedang menyiapkan sarapan. Perut Naruto sangat kelaparan. Dan setelah menyapa ninja medis itu Naruto segera pergi mandi lagi.

Jiraiya bahkan belum bangun.

Naruto kembali ke dapur setelah mandi. Rambutnya kembali basah- Naruto merasa bodoh kenapa tadi dia membasahi rambutnya saat mandi pagi buta tadi.

Naruto sekarang mengenakan kimono panjang berwarna biru tua dengan obi hitam. Kimono lebih mudah dipakai sekarang ketimbang baju-baju wanita yang sempat dibelikan Sakura. Mungkin karena selama berada ditempat Orochimaru dia selalu memakai kimono.

"Nona Uzumaki." Akai menyapa dengan sopan. Ninja pria itu menaruh makanan yang baru dimasaknya diatas meja.

"Jangan terlalu formal denganku Akai. Naruto saja cukup." Naruto berkata dengan riang. Dia langsung duduk di kursi. Sudah lama ia tidak makan makanan rumah.

Senyum Naruto sangat mengembang.

Tapi Naruto seketika senyum Naruto berkurang begitu melihat makanan yang didominasi sayuran dan bahan-bahan yang Naruto tidak tahu.

Akai tertawa pelan.

"Makanan ini bagus untuk kesehatan mu."

Naruto memasang wajah tidak suka tapi tetap memakannya ketika Akai memberikan piring berisi makanan yang Naruto tidak ketahui namanya itu.

Wajah Naruto langsung berubah cerah ketika merasakan masakan itu ternyata tidak buruk, sangat lezat malahan.

.

Selesai makan dan membereskan semuanya dengan dibantu Naruto, Akai segera memeriksa kondisi Naruto.

Ia dengan senang memberitahu jika gadis ini lebih baik dan perkembangan kesehatannya sangat menakjubkan meski chakra dalam tubuhnya tidak keluar untuk membantu.

Jiraiya bangun dan kembali menggerutu ketika ia ketinggalan sarapan bersama mereka.

.

.

.


Gaara kembali memanggil mereka ke ruang kerja Kazekage.

Naruto kembali berganti baju mengenakan celana hitam dan kaus berwarna merah.

Ada satu orang diruangan itu yang membuat Naruto membeku ditempat.

Seragam abu-abu tanpa lengan dan topeng hewan.

Anbu Konoha.

Gaara mempersilahkan mereka masuk.

"Naruto, dia yang akan menemanimu disini." Gaara memperkenalkan.

Anbu itu membalikkan tubuhnya. Dia melepaskan topengnya.

"Kode nama ku untuk misi ini adalah Yamato. Salam kenal." Anbu itu berkata dengan suara berat dan dia tersenyum.

Jiraiya menaikan alismata nya.

"Apa kamu yang mengendalikan elemen kayu seperti Hashirama-sama?" Tanya Jiraiya terkejut.

Anbu itu masih tersenyum.

"Ya. Aku dikirim untuk membantu Naruto mengendalikan chakra Kyuubi didalam tubuhnya."

Mendengar itu Naruto langsung bersemangat.

"Bagaimana cara Yamato-san membantu ku mengendalikan chakra Kyuubi?" Naruto bertanya antusias.

"Apa kamu masih menyimpan kalung pemberian Hokage?" Yamato bertanya dan Naruto segera mengangguk. Mengeluarkan kalung biru miliknya yang ia sembunyikan dibalik bajunya.

"Aku akan menunjukkannya. Ah Kazekage-sama apa ada tempat yang aman untuk kami berlatih?" Yamato bertanya sopan.

Gaara segera bangun.

Naruto bergerak-gerak tak sabar.

"Tunggu dulu..." Jiraiya menghentikan semuanya.

Anbu itu terdiam.

"Apa yang akan kamu lakukan itu sangat berbahaya. Ini-bukan hanya mengenai chakra Kyuubi." Jiraiya merengut mengatakannya. Ekspresinya menjadi khawatir.

"Hokage-sama telah menjelaskannya secara langsung kepadaku, tapi aku tidak keberatan untuk mendengar detailnya dari Anda, Jiraiya-sama." Yamato menjawab dengan lancarnya.

Gaara masih terdiam membiarkan Jiraiya mengatasi ini. Ini tidak sepenuhnya hak nya untuk ikut campur.

Naruto yang terlalu bersemangat justru melupakan pentingnya keselamatan dirinya sendiri.

"Baiklah." Jiraiya menjawab mengalah.

Naruto segera berteriak senang.

.

.

.

Tbc