Fairy Tail © Hiro Mashima

Living Under One Roof Create by StrawberryVanila

Summary: Lucy Heartfilia, seorang gadis SMA biasa-biasa saja secara tidak terduga mendapat satu Apartemen dengan seorang aktor terkenal! Tapi bukan perasaan senang yang dirasakannya, melainkan rasa jengkel dan niat untuk mencekik pria itu karena sudah merusak barang berharganya. First Collab Fanfic antara Minako-chan Namikaze dan janeolivia750.

.

.

Seorang gadis berambut pirang tengah duduk di pojok kelas sambil membaca sebuah buku. Mata karamelnya terus menyapu kalimat demi kalimat yang tertera di buku itu. Sesekali dia meringis tidak jelas atau menggumamkan sesuatu. Tidak dihiraukannya hiruk pikuk kelas yang sangat ramai pagi itu. Lucy Heartfilia, gadis berambut pirang itu tidak mempedulikan keramaian di sekelilingnya dan hanya terfokus pada bukunya, dia bahkan tidak menghiraukan teriakan seorang gadis pendek berambut biru yang sudah berdiri di sampingnya, atau mungkin dia sama sekali tidak mendengar teriakan gadis itu?

"LU-CHAN!" teriak Levy kesal, dia menggebrak meja sahabatnya itu, sehingga membuat Lucy tersentak kaget.

"Ah! Levy-chan? Sejak kapan kau berdiri di sini?" tanya Lucy sambil menatap Levy dengan heran.

Levy menepuk jidatnya sebelum menjawab, "Aku sudah berdiri di sini 10 menit yang lalu, dan mengajakmu bicara 8 menit yang lalu. Lu-chan, teganya kau mengabaikanku sejak tadi." rengut Levy, kesal.

Lucy segera meminta maaf kepada sahabatnya itu. "Maaf, Levy-chan. Aku terlalu asyik membaca Novel yang kemarin kau pinjamkan." ucap Lucy sambil menunjukkan Novel yang sedari tadi dia baca ke depan Levy.

Levy merutuk kesal sambil duduk di samping Lucy.

"Huh! Iya deh." katanya sambil mengeluarkan sebuah buku hard cover dari dalam tasnya.

"Memangnya tadi kau bicara apa, Levy-chan?" tanya Lucy.

Levy menoleh ke arahnya. "Ah, aku cuma mau bilang, kalau aku masih belum menemukan Apartemen yang cocok untukmu, Lu-chan." jawab Levy.

Lucy hanya tertawa pelan mendengarnya, "Tidak apa-apa. Lagi pula, aku sudah sangat bersyukur kau mau berbaik hati mengijinkanku tinggal di rumahmu untuk sementara, dan membantuku mencarikan Apartemen yang baru." Lucy tersenyum ke arah Levy.

Levy balas tersenyum. "Sama-sama Lu-chan. Kita ini kan sahabat, aku akan selalu membantu Lu-chan." balas Levy.

Tepat pada saat itu juga, guru Matematika, yang juga merupakan wali kelas mereka Laxus-sensei datang memasuki kelas. Dan dalam hitungan 1 detik, kelas menjadi sunyi. Bahkan suara angin berhembuspun bisa dengan jelas terdengar dari kelas itu. Mata para murid terpaku pada guru bertubuh besar dan tegap yang sedang berdiri di depan kelas dengan aura garang yang menyelimutinya.

"Kalian! Para murid sialan yang menyusahkan! Hari ini kita ujian BAB 3, cepat simpan semua buku dan siapkan kertas 1 lembar di atas meja! Sekarang!" teriak Laxus menggelegar.

Hening

1 detik kemudian.

.

.

2 detik kemudian.

.

.

.

.

.

.

3 menit kemudian.

"APA?! UJIAN?!" teriak semua murid dengan serentak.

"Tapi, sensei, BAB 3 kan belum dipelajari, kami baru belajar sampai BAB 2." Levy mengangkat tangannya.

"Benar! Mana mungkin kami mengerjakan ujian kalau materinya saja belum dipelajari." celetuk Jet dari pojok.

"Maka matilah kalian! Aku sama sekali tidak peduli dengan itu! Sudah kubilang, selama aku tidak masuk kalian harus belajar sendiri! Nah, sekarang aku akan mengambil nilai dari belajar kalian selama 2 minggu ini." ucap Laxus dengan tegas.

Murid-murid kembali mengeluh, dan mengutuk guru berambut pirang itu "gutiting sialan (guru petir sinting -_-)"

Tapi segera menyiapkan kertas dan pena setelah mendapat kiriman deathglare dari Laxus. Baiklah, tampaknya murid-murid kelas 2B harus memulai hari mereka dengan siksaan neraka dunia dari Laxus-sensei selama 2 jam penuh. Ckckck..

XXX

Sementara itu, di sebuah Agensi pemotretan...

"TIDAK MAU!" Seorang pria berambut pink salmon terlihat sedang memanjat jendela terdekat. Seperti berniat bunuh diri. Beberapa kru kameramen segera menahan pemuda itu untuk melompat dari jendela.

"Natsu-san, apa yang mau kau lakukan? Ini lantai 3, apa kau tahu saat kau lompat nanti mungkin wajah tampanmu sudah tak terbentuk?" salah satu kameramen menahan kedua lengan Natsu.

"Benar! Kau akan langsung mati kalau melompat dari ketinggian seperti ini!"

"Ck, lepaskan! Lagian siapa yang mau lompat? Aku cuma mau mengambil dart-ku yang tertancap di atas jendela!" teriak Natsu sambil menunjuk dart yang memang tertancap di atas jendela. Para kru langsung melepaskannya. Natsu berdecak kesal lalu mengambil dart-nya. Dilemparnya dart itu ke arah papan sasaran, dan tepat mengenai tengahnya.

"Natsu, kau tidak mengerti. Klienku menginginkanmu untuk memakai produk barunya, dan dia sudah membayarku dengan mahal. Apalagi dia sudah lama menjadi klien setiaku. Aku tidak bisa mengecewakannya." ucap Makarov.

"Bukan aku yang tidak mengerti, melainkan kau, kakek tua! Sampai matipun aku tidak akan melakukan apa yang kau minta tadi!" teriak Natsu dengan kesal.

"Ck! Memangnya apa susahnya sih berpose seperti itu? Kau hanya tinggal memasang pose yang menggairahkan nan seksi dengan pasanganmu dan berfoto dengan sempurna seperti yang sudah kau lakukan selama ini!" ujar Makarov, tenang.

"Ya, semua itu memang tidak terdengar sulit kalau pasanganku adalah wanita, tapi yang kau perintahkan untuk menjadi pasanganku sekarang 'kan LAKI-LAKI! Aku lebih baik melompat dari jendela itu daripada harus berpose Gay di depan kamera!" teriak Natsu dengan emosi yang meluap-luap.

Makarov menghela nafas. "Tapi tidak ada laki-laki tampan dan terkenal selain kau di sini."

Natsu masih tampak tidak peduli dengan perkataan kakek angkatnya itu. "Kalau begitu, bagaimana dengan si singa sok tampan itu?" Natsu menunjuk Loki yang sedang menggoda salah satu tim penata rias.

Makarov menggeleng. "Tidak bisa. Bob-san maunya kau yang mempromosikan produknya. Lagi pula, dengan popularitasmu yang sekarang, akan lebih mudah menarik minat para calon pembeli." jawab Makarov.

"Tidak."

"Kumohon Natsu! Dia sudah membayarku mahal! Aku tidak bisa mengembalikan uang—maksudku, aku tidak bisa mengecewakannya!" rengek Makarov.

"Jii-chan, sebenarnya kau cuma mengkhawatirkan uangnya saja, 'kan?"

"Begini saja, aku akan mentraktirmu apapun selama 1 minggu kalau kau mau mempromosikan produk ini, bagaimana?" tawar Makarov penuh harap.

Natsu berpikir sejenak. "Apapun?" tanyanya lagi.

Makarov mengangguk dengan ragu, dia harus bersiap-siap menguras dompetnya selama seminggu ini kalau Natsu akan menyetujui tawarannya.

"Baiklah, lagi pula cuma berfoto 'kan? Kurasa tidak masalah. Tapi, jangan sampai melanggar janjimu yang tadi, Jii-chan." ucap Natsu menatap tajam Makarov.

Makarov mengangguk, dalam hati dia mengutuki kebodohannya karena menawarkan Natsu tawaran seperti itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Hanya itu pilihan yang ada di otaknya untuk menarik perhatian Natsu.

"Lalu, siapa yang akan menjadi pasanganku?" tanya Natsu sambil bersiap meluncurkan dart-nya lagi.

"Ah, itu..." Makarov melihat jam tangannya. "Dia akan datang 5 menit lagi. Kau tunggu saja—" belum selesai Makarov menyelesaikan perkataannya, suara ketukan di pintu langsung menginterupsinya. Natsu dan Makarov segera menoleh ke arah pintu itu.

"Master, pasangan untuk iklannya sudah datang." seorang gadis berambut silver panjang muncul dari balik pintu.

"Oh, sudah datang rupanya. Baiklah, persilahkan dia masuk." sahut Makarov.

Mirajane Strauss mengangguk, lalu memberi isyarat kepada pemuda berambut hitam di belakangnya.

"Nah, Natsu. Ini dia pasanganmu untuk promosi kali ini." Makarov menunjuk ke arah pemuda berambut hitam yang memasuki ruangan dengan wajah datar.

Natsu menoleh ke arah pemuda itu, dan melotot saat itu juga. Setelah itu, terdengar amukan dari dalam Agensi terkenal itu.

"NOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!"

XXX

"Hah~" Lucy menghela nafas gusar. Ulangan Matematika tadi gagal total. Suram jadinya. Dia kembali memasang sedotan coca colanya ke mulut dan menyedot minumannya. Dia sekarang berada di Cafe di dekat sekolahnya. Ulangan tadi benar-benar membuatnya stress sampai pulang sekolah. Soal dari Laxus-sensei benar-benar susah. Bahkan dia sendiri yakin, kalau orang yang sudah kuliahpun tidak akan sanggup mengerjakan soal yang berbelit-belit begitu. Mana panjang soalnya melebihi 10 cm lagi.

Kejam.

kata yang cocok untuk Gutiting sialan itu.

Lucy kembali menghela nafas sambil membalik halaman novelnya. Tiba-tiba handphone di dalam sakunya bergetar, menandakan ada telpon masuk. Lucy buru-buru mengangkat telpon itu.

"Halo?" jawabnya.

"Ah, Lu-chan! Ini aku." sahut Levy dari seberang sana.

"Oh, Levy-chan. Ada apa?" tanya Lucy.

"Lu-chan, aku sudah menemukan Apartemen yang cocok untukmu! Letaknya tidak jauh dari sekolah, dan juga dekat dengan supermarket." ucap Levy kegirangan.

"Wah, benarkah? Arigatou, Levy-chan!"

"Hehe, iya. Ngomong-ngomong, kau di mana Lu-chan? Aku dari tadi menunggumu di rumah, tapi kau belum pulang-pulang juga." tanya Levy.

"Aku sedang berada di Cafe. Menenangkan diri selepas ujian dari Laxus-sensei." jawab Lucy sambil berdiri.

"Hah~ Kau tahu? Ujian tadi benar-benar membuat otakku konslet sampai berasap begini. Kau tahu 'kan, Levy-chan kalau aku ini sangat lemah di Matematika?" gerutu Lucy sambil keluar dari Cafe. Dia memasangkan earphone pada ponselnya. Setelah itu menaruh ponselnya di saku.

"Ya, aku sangat tahu itu. Kupikir kau memerlukan pelajaran tambahan khusus Matematika." suara Levy menggema keluar dari earphone yang dipasang Lucy di telinganya.

"Kau gila? Mana mungkin aku mau ikut pelajaran tambahan dengan Gutiting itu." sergah Lucy.

"Bukan. Bukan dengan Laxus-sensei. Tapi, seseorang yang pandai Matematika. Bagaimana kalau kau ikut les privat?"

"Kau tahu sendiri 'kan kalau pengeluaranku bulan ini sedang banyak-banyaknya. Aku terlalu miskin untuk memesan guru privat." ucap Lucy ketus.

"Haha. Benar juga. Aku juga tidak cukup pintar di Matematika. Jadi tidak bisa mengajarimu."

"Haha. Itu tidak benar. Di kelas 'kan cuma Levy-chan yang pandai Matematika. Walaupun kau sudah pernah mengajariku, tetap saja aku—"

JDUK! SRAT!

"Awww!" ringis Lucy ketika bahunya ditabrak oleh seseorang. Dia segera mendongak dan menatap laki-laki berambut pink di depannya dengan kesal. Laki-laki di depannya hanya meringis kesakitan sebelum menumpahkan kekesalannya pada Lucy.

"Aduh! Hei! Kalau jalan pakai mata dong!" maki laki-laki itu.

Lucy bertambah melotot mendengarnya. "Heh! Bukannya kamu duluan yang nabrak?! Dan lagi, di mana-mana jalan itu pakai kaki! Mana ada yang pakai mata!" seru Lucy geram.

"Apapun itu! Lihat! Kau sudah mengotori bajuku dengan sodamu itu!" Laki-laki itu menunjuk jaket putihnya yang sekarang bercorak coklat akibat terkena tumpahan soda Lucy.

Lucy baru sadar kalau sodanya tumpah, dia segera melihat ke arah bajunya yang juga terkena cipratan soda, dan matanya segera terbelalak mendapati Novelnya sudah basah kuyup dan berlumuran soda.

"AAAAA! Novelku! Lihat apa yang sudah kau lakukan pada Novel berhargaku!" Lucy menunjukkan Novelnya yang basah ke depan wajah laki-laki itu. Laki-laki itu segera menepis tangan Lucy dari depan wajahnya.

"Hei! Itukan sodamu! Kau sendiri yang menumpahkannya ke buku tidak berguna itu! Jadi sama sekali bukan salahku!" hardik laki-laki itu.

"Apa katamu?! Tapi aku menumpahkannya 'kan gara-gara kau tiba-tiba menabrakku tadi! Lihat! Tintanya jadi memudar. Ganti! Pokoknya ganti!" teriak Lucy, sehingga orang-orang di sekitarnya menoleh ke arah mereka berdua.

"Apa itu? Pertengkaran sepasang kekasih?"

"Tunggu! Sepertinya aku pernah lihat laki-laki berambut merah muda itu."

"Benar. Aku juga."

"Tungu! Tunggu! Itukan Natsu Dragneel! Aktor yang sedang naik daun itu!"

"Apa? Pantas saja aku pernah lihat!"

"Kyaaa! Natsu-kun! Aku ingin berfoto denganmu!" Laki-laki itu segera berkeringat dingin sambil menatap ke sekelilingnya dengan gelisah.

"Cih, gara-gara teriakan gadis ini!" batinnya kesal, padahal dia sudah menutupi kepalanya dengan tudung jaket agar identitasnya tidak ketahuan. Tapi, gadis berambut pirang cerewet di depannya ini berhasil dengan sukses menarik perhatian orang-orang, dan dia juga baru menyadari kalau tudung jaketnya terlepas dari kepalanya akibat tabrakan tadi. Dia sedang dalam masalah sekarang.

"Mau ke mana kau?! Ganti dulu Novelku!" teriak Lucy sambil mencegat Natsu yang hendak melarikan diri.

"Lepas! Dasar wanita aneh!" seru Natsu sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Lucy.

"Apa katamu?! Kau sendiri dasar makhluk pink aneh tidak berperasaan! Kau pikir bisa langsung melarikan diri dariku setelah berhasil merusak benda berhargaku, hah?!" balas Lucy sengit.

Natsu berdecak kesal. Dia harus segera melarikan diri sebelum...

"Natsu! Beraninya kau kabur setelah memporak-porandakan Agensiku!" teriak Makarov dari kejauhan. Terlihat beberapa orang berseragam ikut berlari di belakangnya.

Natsu tersentak. Dan berniat kabur lagi saat itu juga, namun gara-gara tangan Lucy yang sedari tadi terus mencengkramnya, dia jadi tidak bisa bergerak bebas. Sial! Dia benar-benar berada dalam masalah kali ini. Lucy menoleh ke belakang dengan heran.

"Kenapa orang-orang itu?" batinnya menatap Makarov dan kawan-kawan yang tengah berlari ke arahnya sambil meneriakkan nama Natsu.

"Natsu? Seperti pernah dengar." batinnya menerawang. Namun, tiba-tiba dia merasakan tangannya ditarik seseorang dan berlari dengan kencang. Lucy menoleh ke depan dan mendapati pemuda berambut pink itu sudah berbalik mencengkram tangannya dan menariknya berlari bersamanya.

"Apa yang kau lakukan?! Lepaskan! Tolong! Aku mau diculik!" teriak Lucy entah pada siapa. Orang-orang yang dia lewati hanya memandangnya dengan kening berkerut lalu melanjutkan aktifitas mereka lagi.

Sementara Natsu seperti tidak mendengar teriakan gadis yang tengah ditariknya itu. Dia berlari dengan kencang dan segera memasuki cela kecil di antara toko roti dan toko elektronik. Punggungnya dia sandarkan di dinding, dan tangan kanannya tanpa sadar membekap mulut Lucy, sehingga membuat Lucy tidak bisa bernafas karena hidungnya ikut tertutup oleh tangan besar pria di belakangnya.

"Mmmp! Mmmmmph!" Lucy menepuk-nepuk tangan pria itu. Namun, pria di belakangnya itu malah mencengkram tangannya dan menggenggamnya erat. Mata onyx pria itu terus menatap tajam ke arah cela di antara dua toko itu. Dia menghela nafas lega ketika gerombolan yang tadi mengejarnya sudah melewati tempat persembunyiannya tanpa tahu kalau dia bersembunyi di situ.

"Dasar kakek tua itu! Seenaknya saja menyuruh berfoto dengan si jelek Gray! Dia pikir siapa yang sudi berfoto dengan laki-laki mesum dan homo seperti Ice Stripper itu?!" gerutu Natsu sambil memperkuat cengkramannya pada mulut Lucy, membuat gadis malang itu hampir menangis karena kesakitan.

Lucy menyerngitkan alis sambil mengumpulkan semua tenaganya pada mulutnya, dan...

Gigit.

"AAAWWW!" Natsu mengibas-ngibaskan tangannya dengan cepat ketika merasakan sesuatu yang menjepit kulit telapak tangannya dengan kuat. Dia mendelik tajam ke arah gadis berambut pirang yang tengah terengah-engah di depannya.

"Kau! Ternyata kau masih mengikutiku sampai ke sini! Dasar penguntit!" tunjuk Natsu kearah Lucy.

Lucy segera menepis telunjuk Natsu yang berada tepat di depan hidungnya. "Brengsek! Kau pikir aku sudi apa menguntit banci sepertimu?! Justru kau sendiri yang menarikku sampai ke sini, dasar orang aneh!" sahut Lucy kesal.

"Apa?! Banci katamu?! Beraninya kau menghina orang sepertiku dengan sebutan tidak lazim begitu!" protes Natsu.

"Kenapa tidak lazim? Memangnya ada laki-laki normal yang mempunyai warna rambut bunga sakura sepertimu? Aku yakin kau ini sebenarnya adalah seorang perempuan yang sewaktu proses penciptaannya terjadi kesalahan sehingga kau terlahir dengan bentuk beserta warna rambut aneh seperti ini!" Lucy memandang Natsu dengan tatapan jijik.

"Seburuk apa aku di matamu sehingga kau dengan lancarnya menghinaku sampai seperti itu, hah?! Kau sendiri! Mana ada gadis normal yang menguntit seorang pria terkenal kecuali kalau dia menyukai pria itu!" balas Natsu.

"Sudah kubilang kalau kau sendiri yang menarikku! Dan, apa? Aku menyukaimu? Lebih baik aku jatuh cinta pada orang terjelek di dunia ini dari pada jatuh cinta padamu! Cuih!"

"Apa katamu?!"

"Pokoknya kau sudah merusak Novelku, dan kau harus menggantinya! Itu Novel punya temanku!" seru Lucy.

"Cih, ganti saja sendiri. Aku tidak mau berurusan dengan gadis yang tidak ada imut-imutnya sepertimu!"

"Ap—apa katamu?!" Lucy menarik syal Natsu ketika pemuda itu hendak melarikan diri lagi. "Ganti! Pokoknya harus ganti! Kalau tidak, aku akan menyeretmu menemui orang-orang yang mengejarmu tadi!" ancam Lucy.

"Hehe, coba saja kalau kau bisa." balas Natsu menantang.

Lucy menggertakkan giginya. Berpikir untuk mencari cara agar pemuda di depannya ini mau mengganti Novelnya. Tiba-tiba, dari belakang terdengar sesuatu...

Kretek! Kretek!

Lucy dan Natsu segera menoleh ke belakang, dan molotot secara bersamaan ketika mendapati seorang wanita berambut silver panjang tengah tersenyum ke arah mereka—tepatnya ke arah Natsu, sambil membunyikan jari-jari tangannya. Natsu segera meneguk ludahnya dengan susah payah. Sementara Lucy hanya menyerngitkan alisnya ketika mendengar pria di sampingnya berdesis pelan "Kenapa di antara semua orang, harus dia yang menemukanku?!"

"Kau tidak akan bisa lari lagi, Natsu. Segera kembali ke Agensi atau kau akan mendapatkan hadiah khusus dariku. Kebetulan aku sudah lama sekali ingin mematahkan tulang rusukmu lagi." ucap Mira sambil tersenyum menyerupai iblis.

Lucy hanya melongo mendengarnya. "Mematahkan tulang rusuk? Lagi?" batinnya, menatap ngeri sosok wanita yang baru di sadarinya menyerupai iblis. Dia menoleh ke samping, tempat pria berambut pink yang sejak tadi menjadi tahanannya itu. Dan betapa terkejutnya dia mendapati pemuda berambut pink tadi sudah lenyap di sampingnya. Dia menoleh ke belakang dan melihat kalau pemuda itu tengah berlari sekencang-kencangnya untuk keluar dari cela sempit ini. Dan, dia berhasil lagi melarikan diri. Lucy sempat mendengar pemuda itu berteriak, "Sial! Aku belum mau di opname lagi selama beberapa bulan!" sambil memasang wajah syok plus trauma.

Lucy tiba-tiba merasakan angin berhembus dari sampingnya, dan dia baru sadar kalau wanita yang berdiri di belakangnya baru saja berlari melewatinya dengan kencang. "C-cepat sekali! Mirip seperti Satan yang kutonton semalam." batinnya bergidik. Tapi, tiba-tiba dia menyadari sesuatu yang penting.

"Argh, sial! Dia berhasil melarikan diri! Lalu bagaimana dengan Novel Levy-chan!" Lucy mengutuki kebodohannya yang telah membiarkan Natsu kabur tadi.

Beberapa lama dia mengamuk-ngamuk tidak jelas di dalam cela yang sepi nan gelap itu, akhirnya dia keluar juga, masih dengan perasaan yang meluap-luap. Dia memasuki toko roti di sampingnya sambil menghentak-hentakkan kaki, lalu keluar dengan sepotong roti vanila yang digigitinya dengan ganas. Dia mencoba menumpahkan kekesalannya kepada roti tak bersalah itu sambil terus berjalan menyusuri trotoar. Lalu langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sesuatu yang menarik dari layar televisi yang dipajang di toko elektronik di samping toko roti. Bukan, bukan layar TV-nya yang menarik perhatiannya, tetapi iklan yang sedang ditampilkan di layar televisi itu.

"Dengan memakai produk ini, dijamin gigi anda akan putih bersinar seperti gigi saya. Cling!"

Mulut Lucy langsung ternganga lebar, dan matanya terus terpaku pada sosok yang menjadi bintang iklan pasta gigi itu. Itukan... Itukan laki-laki berambut pink aneh tadi. Kenapa dia bisa jadi bintang iklan dari iklan aneh ini? Ditambah lagi, senyumannya itu yang disertai dengan kilauan berbunyi 'Cling' seperti tadi membuat Lucy memuntahkan roti yang belum sempat ditelannya itu.

"Ba-bagaimana mungkin banci itu..." Gumaman Lucy terhenti ketika merasakan adanya getaran di sakunya. Dia buru-buru mengangkat telponnya dan memasang kembali earphonenya yang sempat terlepas karena ditarik pria aneh tadi.

"Halo? Levy-chan?" sahut Lucy.

"Lu-chan! Kau tidak apa-apa? Tadi sewaktu aku menelpon, aku mendengarmu berteriak! Apa yang sudah terjadi?" tanya Levy terdengar cemas.

Amarah Lucy yang sempat sirna kini datang kembali dan menyelimutinya. "Tidak apa-apa, Levy-chan. Aku hanya ditabrak oleh banci dari planet lain tadi." jawab Lucy dengan ketus.

"Banci dari planet lain? Siapa?" tanya Levy.

"Ck, malas bahasnya. Nanti malam saja ya kuceritakan. Aku mau ke toko buku dulu. Tadi, novelmu tidak sengaja terkena tumpahan sodaku ketika pria banci aneh tadi menabrakku. Dan dia sama sekali tidak mau bertanggung jawab dan lari begitu saja!" ujar Lucy kesal, kembali menggerogoti rotinya.

"Kelihatannya menarik. Kau harus janji untuk menceritakan semuanya secara detail padaku malam ini, Lu-chan."

"Iya. Iya. Jadi, kenapa kau menelpon lagi, Levy-chan?" tanya Lucy sedikit tenang.

"Ah, iya! Aku sudah mengirim pakaian-pakaianmu ke apartemen barumu seperti yang sudah pernah kau pesankan, Lu-chan. Tapi... Apa benar kau akan pindah hari ini juga?" tanya Levy.

"Tentu saja. Aku tidak mau lebih lama merepotkanmu." jawab Lucy.

"Baiklah. Akan segera ku-SMS alamat apartemennya." ucap Levy sedikit terdengar kecewa dari seberang sana, sehingga Lucy merasa sedikit bersalah.

"Baiklah. Kalau begitu, sampai jumpa di sekolah besok." Lucy hendak memutuskan sambungan telponnya sebelum suara Levy menghentikan gerakannya.

"Tunggu dulu, Lu-chan! Apa perlu aku membantumu beres-beres di apartemenmu?" tanya Levy.

"Mmm... Sepertinya tidak usah Levy-chan. Karena barang-barang yang kupunya sekarang sangat sedikit, dan mungkin hampir semuanya adalah pakaian. Jadi, aku akan selesai membereskan semuanya malam ini juga." tolak Lucy.

"Err... Baiklah. Kalau begitu sampai ketemu besok. Bye-bye."

"Bye-bye."

Lucy memutuskan sambungan telponnya lalu berjalan menuju toko buku, tentunya disetiap langkahnya dia selalu menggumamkan, "Banci sialan! Lihat saja kalau bertemu lagi!" terus menerus bagaikan sebuag mantra.

XXX

Cklek. Lucy membuka pintu apartemen barunya sambil menghela nafas. Dia benar-benar lelah seharian ini. Dia ingin cepat-cepat mandi dan tidur, tapi sebelumnya dia harus membereskan barang-barangnya dulu. Lucy berjalan ke arah sofa berwarna merah yang di sampingnya terdapat 2 kardus berisi pakaian dan barang-barangnya. Dia menatap 2 kardus itu cukup lama, lalu akhirnya menghela nafas dan berjalan ke arah sebuah pintu yang menurut asumsinya adalah sebuah kamar.

"Besok saja, deh. Lagi capek juga." gumamnya, sambil memutar kenop pintu. Dan benar saja, ruangan ini adalah sebuah kamar. Dengan tempat tidur king size berseprai putih dan sedikit mengelembung. Mengelembung? Mungkin hanya bantal guling yang kebesaran.

Lucy mengabaikan sesuatu yang mengelembung itu, dan segera membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dipeluknya sesuatu yang dianggapnya guling itu, namun ada yang aneh. Kenapa bentuk gulingnya tidak rata begini. Dan lagi, kenapa guling ini terasa hangat? Lucy segera meraba-raba guling itu, dan tersentak ketika menyadari kalau guling itu tiba-tiba bergerak. Dan tiba-tiba, selimut yang menutupi guling itu terbuka dengan tiba-tiba dan menampilkan sosok sesungguhnya dari balik selimut itu.

Lucy segera menjerit karena terkejut, begitupun sosok yang muncul dari balik selimut tadi. Teriakan mereka berdua terhenti, dan mereka saling melotot satu sama lain dengan tidak percaya.

""KAU?!""

Bersambung...

Yah! Ini dia Chapter collab antara Minako-chan Namikaze dan janeolivia750! Gimana? Ada yang penasaran sama apa yang akan terjadi selanjutnya? Oh iya, gimana kalo kita main tebak-tebakkan? Coba tebak siapa yang nulis chap 1 ini? Minako-chan Namikaze atau janeolivia750? Hehe, boleh dong minta komentar sama jawabannya untuk fanfic beserta tebak-tebakkan yang tadi. Soalnya kami nulisnya gantian, satu chapter-satu chapter... Kalo gitu kami undur diri dulu. Review ya kalo sempat! Haha...

Bye-bye!