Fairy Tail © Hiro Mashima

Living Under One Roof Create by StrawberryVanila

Summary: Lucy Heartfilia, seorang gadis SMA biasa-biasa saja secara tidak terduga mendapat satu Apartemen dengan seorang aktor terkenal! Tapi bukan perasaan senang yang dirasakannya, melainkan rasa jengkel dan niat untuk mencekik pria itu karena sudah merusak barang berharganya. First Collab Fanfic antara Minako-chan Namikaze dan janeolivia750.

.

.

"Lu-chan, bisakah kau berhenti mencoret-coret bukumu sendiri? Ini masih pagi tahu," Levy menatap malas Lucy yang tengah asyik menumpahkan kekesalannya kepada sebuah buku yang tak bersalah itu.

Lucy segera menoleh ke arah Levy dan memanyunkan bibirnya. "Tapi Levy-chan! Banci jelek itu benar-benar menyebalkan sekali hari ini! Oh, tuhan. Sampai kapan aku harus merasakan tekanan batin seperti ini? Apakah keberuntungan selalu menjauhiku?" Lucy berbicara secara mendramatisir sehingga membuat Levy sweatdrop di tempat.

"Ahaha. Sabar saja, Lu-chan. 2 bulan 2 minggu lagi kau akan segera terbebas darinya." ucap Levy menenangkan sahabatnya.

"Hah. Masih lama Levy-chan. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan tinggal dengan si pink itu." Lucy menghela nafas, lalu kembali mencoret-coret bukunya.

Kalian mau tahu apa yang sedang ditulis Lucy? Mari kita lihat.

'NATSU DRAGNEEL BANCI SIALAN! KUHARAP DIA LENYAP DARI DUNIA INI SAAT INI JUGA! ATAU PALING TIDAK, KUHARAP DIA ITU TIDAK MEMPUNYAI MULUT SUPAYA AKU TIDAK PERLU MENDENGAR TERIAKKAN KEKANAK-KANAKKANNYA SETIAP SAAT! AH, AKU BENCI SETENGAH MATI SAMA NATSU DRAGNEEL! ARTIS JELEK! TIDAK LAKU! TIDAK PINTAR BAHASA INGGRIS! MANIAK TABASCO! DAN SELALU MAIN PERINTAH SAJA SEPERTI AKU INI ADALAH PEMBANTUNYA!'

Dan begitulah serentetan kalimat yang ditulis Lucy tebal-tebal dan menggunakan huruf balok semua. Levy bahkan sampai sweatdrop dua kali membaca tulisan Levy. Seberapa benci sabahabatnya itu kepada Aktor tampan Natsu Dragneel?

"Lu-chan, aku tidak menduga kau bisa se-stress ini tinggal berdua dengan seorang artis terkenal. Memang apa yang sudah terjadi tadi pagi?" tanya Levy.

"Apa? Artis terkenal? Cuih! Bagiku, dia tidak lebih dari seorang pria pengangguran yang hanya bisa bermalas-malasan saja di rumah. Bahkan sampai sekarang pun aku tidak pernah melihatnya keluar Apartemen untuk bekerja. Aku jadi ragu, apa dia itu benar-benar artis atau cuma sekedar mirip." Lucy merobek lembaran-lembaran kertas coretan yang menjadi pelampiasan kekesalannya tadi, dan meremekkannya menjadi sebuah bola kertas lalu membuangnya keluar jendela kelas.

"Dan tadi pagi sikapnya itu benar-benar mengesalkan! Dia memperlakukanku seperti seorang pembantu!" seru Lucy, matanya melotot kesal.

"Luce, mana makananku?"

"Luce, piringnya di mana?"

"Luce, kenapa kau tidak membangunkanku jam 2 pagi tadi? Lihat, aku jadi melewatkan Piala Dunia!"

"Luce, kenapa tempat tidurku belum kau bersihkan?"

"Luce, di mana sikat gigiku?"

"Dan yang lebih parahnya lagi, dia bahkan berteriak dengan lantang sampai-sampai tetangga sebelah bisa mendengar suara sumbangnya itu!" Lucy nyaris melempar bukunya juga keluar jendela.

"Memang apa yang dia teriakkan sampai-sampai kau bisa se-stress ini?" tanya Levy sambil menaikkan alisnya.

Lucy mengerutkan alisnya tanda dia sedang menahan emosi yang meluap-luap. "Dia teriak, "Luce! Tolong pakaikan aku baju, dong!"

Levy langsung melongo mendengarnya. Sementara Lucy sudah kembali mencoret-coret bukunya dengan ganas.

"Apa? Dia benar-benar meneriakkan itu?" tanya Levy syok.

"Iya!"

"Dengan lantang dan kuat?"

"Iya, Levy!"

"Dan kau benar-benar melakukannya? Maksudku memakaikannya baju?"

"Iy—Apa?! Tentu saja tidak!"

"Kau tidak bohong kan?"

"Untuk apa aku berbohong?! Argh! Dia benar-benar mengesalkan! Apa tidak ada pria yang lebih menyebalkan dari Natsu Dragneel?!" Lucy mengacak-acak rambut pirangnya dengan frustasi.

"Ada. Laxus-sensei." Levy menunjuk ke arah bayangan Laxus yang lewat melalui kaca kelas.

Sontak, semua murid yang juga melihat bayangan Laxus yang berjalan menuju pintu kelas mereka pun segera duduk di tempat duduk mereka masing-masing.

"Selamat pagi, murid-murid nakal dan tidak berguna. Hari ini kita ujian! Segera keluarkan kertas selembar dan simpan semua buku kalian! Ketahuan mencontek, bersiaplah untuk melompat dari lantai 3 ini!" (waduh, ni guru baru aja masuk kelas udah langsung to the point aja mau kasih ujian, ckckck)

Sontak murid-murid kembali berteriak tidak terima.

"Apa? Ujian lagi?!"

"Tapi, sensei! Kami baru saja ujian seminggu yang lalu!"

"Benar! Masa' setiap minggunya ujian terus sih! Kau benar-benar kejam, sensei!"

"DIAM! Tutup mulut kalian dan turuti perintahku!" Laxus menggebrak meja guru, sehingga membuat murid-murid yang sibuk berkoar-koar diam dengan seketika.

Mereka pun segera mengeluarkan kertas selembar, meskipun masih diselingi rutukan kepada guru yang tidak bisa disebut guru itu.

Levy menoleh ke arah Lucy yang tengah menangis sengsara di sebelahnya. "Bagaimana? Lebih menyebalkan siapa?"

"Huhu... Kupikir, lebih menyebalkan Gutiting sialan ini... Huah, aku tidak sempat belajar." Lucy menjambak rambut pirangnya.

"Tenang saja, Lu-chan. Nanti kucontekin, kok, kalau aman." bisik Levy.

Lucy segera memutar bola matanya mendengar kata "kalau aman".

"Err, aku harap itu bisa terjadi. Karena menurut sejarahku bersekolah di sini, kita tidak akan pernah bisa mencontek bahkan menoleh sedikitpun kalau sudah berhadapan dengan ujian Laxus-guru petir sinting-ini." bisik Lucy lemah.

Dan, bertambahlah daftar alasan Stress Lucy untuk hari ini.

XXX

Cklek.

"Tadaima..." Lucy memasuki apartemen dengan sangat lemas. Tampaknya stress berkepanjangan dapat membuat energinya terkuras hari ini.

Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari sosok pria berambut pink.

Tidak ada. Ke mana pria pemalas itu? Ah, peduli amat dengan si bodoh itu. Yang jelas, akhirnya aku bisa istirahat tanpa ada yang mengusikku!

Lucy segera menghempaskan tubuhnya di atas sofa panjang. Dia menghela nafas panjang, demi merilekskan pikirannya. Dia menutup matanya dan akhirnya dia tertidur dengan tenang.

XXX

Lucy membuka matanya yang terasa berat. Dia mendudukkan dirinya sambil memegang kepalanya.

"Astaga. Bahkan di dalam mimpi pun aku tidak bisa lepas dari yang namanya stres." gumamnya.

Entah kenapa dan apa sebabnya sehingga dia bisa bermimpi di mana dia sedang berada di dalam kelas sendirian bersama Laxus yang memberikan setumpuk kertas ujian untuknya, dan dia terpaksa mengerjakan ujian itu dengan Laxus yang berdiri tepat di hadapan mejanya, mengawasi pekerjaannya. Lalu, dari sampingnya, datanglah Natsu yang berteriak, merengek-rengek padanya minta makan. Oh, bahkan di dalam mimpi pun kesialan masih mengikutinya. Tidak adakah sedikit keberuntungan yang tersisa untuknya?!

Lucy menarik nafas berat, sebelum beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar untuk mengganti seragam sekolahnya. Namun, saat dia baru saja membuka pintu kamar, dia langsung dikejutkan oleh pemandangan Natsu yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil...

"Majalah-majalahku!" jerit Lucy. Dia segera berlari ke arah Natsu dan mendorong pemuda itu hingga nyungsep ke lantai lalu mengambil semua majalah yang tengah dibaca pria itu.

"O-Oi, Luce! Aku belum selesai membacanya!" teriak Natsu sambil mencoba meraih majalah-majalah yang sudah berpindah ke pelukan Lucy.

"Tidak! Ini barang berhargaku! Dan lagi, beraninya kau melihat-lihat barang-barang pribadiku tanpa meminta ijin dulu kepadaku!" seru Lucy.

"Apanya yang berharga? Itu cuma majalah yang berisi kumpulan foto jelek Gray." ucap Natsu tidak peduli.

"Enak saja kau bilang jelek. Gray Fullbuster ini sangat tampan. Bahkan lebih tampan dari wajah jelekmu itu!" bela Lucy.

"Apa?! Beraninya kau membanding-bandingkan wajah tampanku ini dengan wajah datar bintang porno itu!" teriak Natsu tidak terima.

"Apa maksudmu dengan bintang porno? Gray tidak pernah memainkan film yang bertema mesum!"

"Kau ini! Lantas ini apa?" Natsu segera merampas salah satu majalah yang berada di tangan kiri Lucy dan membolak-balik halamannya.

"Nih. Lalu apa artinya ini?" Natsu menyodorkan majalah itu tepat di wajah Lucy.

Mulut Lucy langsung menganga lebar. Di depannya, terpampang jelas foto Gray yang sedang stripper sambil berpelukan dengan seorang laki-laki tak ia kenal, dan mereka berpose mesra alias Pose GAY!

"I-Itu..."

"Hah? Kenapa? Tidak mampu berkata-kata? Huh, daripada mengidolakan bintang porno ini, lebih baik kau mengidolakan pria ini. Sudah tampan, tidak homo, dan selalu menolak berpose gay dengan laki-laki manapun." Natsu tersenyum sombong sambil membalik beberapa halaman majalah itu. Dia menunjukkan foto lain pada Lucy dan foto itu tak lain adalah fotonya sendiri yang berpenampilan keren dan berpose mesra bersama seorang wanita cantik.

Lucy segera melotot menatap foto itu. Perasaan jengkel dan amarah langsung menghampirinya tanpa dia sadari. Segera direbutnya majalah itu dari tangan Natsu dan berteriak, "Tampan apanya? Aku lebih suka Gray yang berfoto dengan seorang pria daripada kau yang mau saja berfoto dengan seorang tante-tante centil!"

"A-Apa? Aku sama sekali tidak berfoto dengan tante-tante centil! Dia hanya sekedar lebih tua beberapa tahun dariku!" hardik Natsu.

"Cih, sama saja. Dasar bodoh. Keluar sana! Aku mau ganti baju!" usir Lucy.

"Tidak mau!"

"Apa? Jadi kau mau tetap berada di sini dan melihatku mengganti baju?! Dasar banci mesum!" teriak Lucy.

"Enak saja! Bisakah kau berhenti memanggilku banci? Baiklah, baiklah. Aku keluar sekarang." ujar Natsu, mengalah. Dia pun berjalan ke arah pintu. Namun, sebelum dia benar-benar keluar, dia menyempatkan diri untuk mengatakan, "Dasar gadis aneh pecinta fujoshi," yang langsung membuat Lucy berteriak-teriak seperti orang gila saat itu juga.

XXX

Makan malam kali ini terasa sangat aneh sehingga membuat Natsu tidak henti-hentinya melongo menatap Lucy yang makan bak kerasukan setan.

"Luce, kau lapar atau kelaparan?" tanya Natsu menatap Lucy yang nafsu makannya bahkan melebihi anak gorila yang kelaparan.

"Diam. Aku harus cepat-cepat belajar untuk remedial besok, jadi tidak mau membuang-buang waktu untuk berlama-lama makan denganmu," jawab Lucy sambil mengunyah steaknya dengan cepat dan menelannya dengan cepat pula.

Natsu hanya terbengong-bengong melihat lauk di meja makan terus diraup oleh Lucy. "Mau cepat belajar katanya? Jelas-jelas dia ini memang kelaparan sampai-sampai lauk di meja makan ini habis dimakannya." batin Natsu sweatdrop.

Dia semakin melongo ketika Lucy selesai makan dan menyuruhnya untuk mencuci semua piring sampai bersih. Natsu tentu saja tidak terima dan mengeluh habis-habisan soal Lucy yang sudah menghabiskan semua lauk dan seenaknya menyuruhnya mencuci piring, tapi Natsu segera bungkam ketika mendapatkan kiriman deathglare dari Lucy.

XXX

Setelah selesai mencuci semua piring dan membereskan meja makan, Natsu segera berjalan menuju kamar untuk istirahat. Tapi, ketika dia melewati ruang TV, dia melihat Lucy tengah duduk di atas karpet dengan menumpukan tubuhnya di atas meja dan menulis-nulis sesuatu di buku. Raut wajah gadis itu tampak sangat serius. Niat Natsu untuk masuk ke kamar langsung terurungkan dan pria itu malah berjalan ke arah Lucy.

"Serius sekali belajarnya. Luce memang gadis yang rajin," batin Natsu sambil mencoba melihat apa yang sedang ditulis Lucy di buku. Namun, dia harus kembali sweatdrop di tempat, karena bukannya menulis sesuatu yang berbau pelajaran, Lucy malah menggambar wajah Laxus dengan tubuh cebol dan wajah super jelek. Di samping gambar Laxus, tertulis "Gutiting sialan. Kuharap dia berubah menjadi cebol seperti ini dan jomblo untuk selamanya"

"Hahaha. Luce, kau mau belajar atau mau menyantet orang?" Natsu mendudukkan dirinya di sofa, tempat Lucy menyandarkan punggungnya.

"Huh, dua-duanya kurasa." jawab Lucy ketus.

"Haha. Ngomong-ngomong, apa itu Gutiting?" tanya Natsu sambil meraih remote TV.

"Guru petir sinting."

"Se-sinting itukah gurumu sampai-sampai kau memberinya julukan senista itu?"

"Ya. Dia benar-benar sinting. Level sintingnya sama dengan kesintinganmu." jawab Lucy sambil membuka buku modulnya.

"Hey, apa maksudnya itu?!" protes Natsu, namun Lucy hanya mengabaikannya dan membaca buku dengan tampang yang lebih serius.

Natsu menghela nafas melihatnya, lalu dia berbisik, "Yah, berjuanglah kalau begitu."

Lucy menoleh ke arah Natsu dan tersenyum. Lalu dia kembali menekuni buku Matematika-nya. Lama dia mencoba memahami apa yang tertulis di buku itu, sambil tangannya ikut menguraikan jalan soal-soal, dia akhirnya depresi sendiri karena tidak bisa memahami bagaimana-dan kenapa soal itu bisa menghasilkan jawaban ini sementara jawabannya menghasilkan itu. Akhirnya Lucy hanya bisa mengacak-acak rambutnya dengan depresi.

"Oh, soal ini, ya. Pertama-tama, kau harus temukan dulu koordinat untuk simpangan ini."

Lucy segera menoleh ke samping demi mendapati wajah Natsu yang sangat dekat dengan wajahnya, bahkan pipi mereka nyaris bersentuhan saat dia menolehkan wajahnya tadi.

"N-Natsu...?!" ucap Lucy menatap Natsu dengan terkejut.

Namun, seperti tidak mendengarkan, Natsu malah menjulurkan tangannya dan menunjuk jawaban Lucy. "Lagian jawabanmu ini salah. Seharusnya 'b=4' bukannya 'b=8'." ujar Natsu menggurui.

"Be-benarkah? Pantas saja hasilnya lain." Lucy segera menghapus angka 8 di buku tulisnya. Dia kembali menguraikan soal itu, dan akhirnya tersenyum senang karena hasilnya sama dengan di buku soal. Baru saja dia ingin mengucapkan terima kasih pada Natsu, tapi pria itu lebih dulu bersuara.

"Luce, tampaknya kau perlu bimbingan belajar." ucap Natsu.

"Apa?"

"Yah, habis semua soal yang kau jawab salah semua. Lihat, bagian ini, ini, ini, dan ini salah. Dari mana kau dapat 5? Bukankah seharusnya 7?" Natsu kembali menunjuk bagian-bagian yang salah di buku Lucy.

"Eh? Benarkah? Aduh, soal matematika ini benar-benar membunuhku." Lucy kembali menghapus bagian-bagian yang ditunjuk Natsu tadi.

"Tuh kan. Kalau kau fokus pada bagian ini, kau pasti bisa mendapat jawabannya. Cobalah." suruh Natsu.

"B-baik." Lucy pun mulai mengerjakan apa yang disuruh Natsu tadi, setelah selesai, dia langsung menyamakan hasil jawabannya dengan jawaban yang sudah tertera di buku soal, dan lagi-lagi jawabannya benar.

"Wah! Aku tidak menyangka kau pintar sekali di matematika, Natsu! Ah, lalu yang ini bagaimana cara menjawabnya?" Lucy menunjuk salah satu soal yang pendek namun susahnya minta ampun.

"Oh, yang itu. Kau hanya perlu menguraikannya lagi dan menyusunnya sesuai dengan penyebutnya." jelas Natsu. Dia mengambil pensil yang masih dalam genggaman Lucy, dan menulis serentetan rumus di buku Lucy.

"Cobalah pakai rumus ini." perintah Natsu.

"Baik." Lucy pun mulai menguraikan soal itu.

"Bukan. Bukan begitu. Kalau kau kalikan begitu, hasil x dalam kurung malah jadi x lagi. Dan lagi, kenapa kau menaruh y nya di sini? Pantas saja jawabannya jadi ngawur begini." Natsu kembali menunjukkan kesalahan Lucy.

"M-Maaf." Lucy buru-buru menghapus jawabannya.

"Dasar. Perhatikan ini. Bukan perhatikan aku, perhatikan bukumu," ujar Natsu melihat Lucy malah memperhatikan wajahnya dengan tampang aneh dan tampak tidak mendengarkan penjelasannya. Dan dia pun sadar kalau jaraknya dengan Lucy sangat dekat, bahkan jarak wajah mereka tidak kurang dari 5 cm.

Natsu buru-buru menjauh beberapa cm dari Lucy. "Ma-Maaf! Aku terbawa suasana, jadi..." Natsu memalingkan wajahnya yang memerah.

"T-Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, bisa kau ajarkan aku lagi? Kurasa aku benar-benar butuh guru pembimbing saat ini. Aku janji deh, besok akan kumasakan ayam goreng saus tabasco untukmu." Lucy menyerlingkan matanya pada Natsu.

"Benarkah? Baiklah, kalau begitu dengan senang hati aku akan mengajarimu!" Natsu kembali mendekat ke arah Lucy dan mengajarkan gadis itu.

Bohong kalau Lucy tidak merasakan apapun terhadap Natsu dengan jarak yang sangat dekat seperti ini. Dia justru harus mati-matian menahan diri agar tidak terlena akan aroma tubuh Natsu yang benar-benar membuatnya mabuk. Dan lagi, dia merasa tidak punya kelainan jantung atau apapun, tapi kenapa dia merasa berdebar-debar begini, ya?

Natsu pun merasakan hal yang sama. Dia berusaha tetap fokus mengajari Lucy sementara wangi vanila dari shampo yang dipakai Lucy terus menyeruak dan menggoda indra penciumannya.

"Fokus Natsu, fokus!" Natsu terus mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terbuai dengan aroma tubuh Lucy.

Dan setelah berjam-jam mengajari Lucy, yang apa memang dari sananya sangat tidak bisa matematika, Natsu pun akhirnya bisa menyandarkan tubuhnya di sofa dengan lega. Lucy ikut mendudukkan dirinya di samping Natsu.

"Terima kasih, Natsu! Kini aku yakin, kalau besok nilaiku tidak jeblok lagi! Dan bisa dipastikan, daftar alasan stresku bisa berkurang besok!" ucap Lucy dengan senang dan bahagia.

"Haha, ya. Sama-sama, Luce." jawab Natsu sambil mengganti chanel TV.

Lucy menatap Natsu beberapa lama, lalu bertanya, "Natsu, kau ini artis, kan? Kenapa kau tidak pernah melakukan pemotretan atau setidaknya mendapatkan telpon dari manajermu yang mengingatkan jadwalmu layaknya seorang artis terkenal?" tanya Lucy heran.

"Oh, itu. Ada sedikit masalah yang terjadi, jadi aku tidak bisa datang ke agensi selama seminggu ini." jawab Natsu tersenyum gugup. "Tepatnya tidak mau." tambahnya dalam hati.

Lucy hanya membulatkan bibirnya sambil ber-oh panjang.

"Kau sendiri Luce, bukankah kau masih SMA? Kenapa malah tinggal di apartemen sendirian bersama seorang laki-laki asing sepertiku? Memangnya orang tuamu tidak marah?" tanya Natsu.

Lucy menggeleng. "Ibuku sudah meninggal sejak aku berumur 10 tahun. Ayahku sendiri bekerja di luar negeri. Aku hidup sendirian di rumah dengan uang yang selalu dikirimkan Ayah setiap bulan." jawab Lucy.

"Begitu. Lalu kenapa kau menyewa apartemen begini?" tanya Natsu.

"Ceritanya begini, rumah tetanggaku dulu kebakaran, dan apinya itu sangat besar sampai-sampai menjalar ke rumahku. Saat itu, pemadam kebakaran belum datang, jadinya rumahku dan beberapa rumah lainnya hangus terbakar. Ayahku memintaku untuk pindah saja ke luar negeri dan tinggal bersamanya, tapi aku menolak. Jadinya dia mengirimkanku uang untuk menyewa sebuah Apartemen. Yah, seperti itulah cerita hidupku." Lucy menyandarkan punggungnya di sofa.

Natsu menatap Lucy dengan iba, lalu mengusap kepala Lucy dengan lembut, membuat gadis berambut pirang itu menatap terkejut pria di sampingnya.

"Kau kesepian, ya? Tapi tenang saja. Sekarang kau tidak perlu kesepian lagi. Sekarang kan kau tinggal bersamaku," Natsu tersenyum lembut ke arah Lucy.

"Eh?" Lucy menatap Natsu dengan bingung.

"Aku sangat suka berada di dekat Luce. Jadi akan kupastikan, kalau kau tidak akan sendirian lagi," Natsu tersenyum semakin lebar.

Lucy langsung memerah mendengar kata-kata Natsu barusan. Suka berada di dekatku? Ke-kenapa dadaku semakin berdebar begini?

Lucy buru-buru berdiri dari duduknya, membuat Natsu yang masih mengusap kepalanya terlonjak kaget. "Ku-Kurasa sudah waktunya bagiku untuk tidur. Selamat malam Natsu," Lucy segera berjalan menuju pintu kamar. Tapi, sebelum dia memutar kenop pintu, dia sempat menolehkan kepalanya ke arah Natsu yang masih menatapnya heran.

"Dan juga... Terima kasih atas bimbingan belajarnya dan... Aku sangat senang mendengar kata-katamu tadi." Lucy tersenyum lembut, lalu memasuki kamar.

Natsu membulatkan matanya mendengar kata-kata Lucy. Dia menutup mulutnya dengan punggung tangannya, tidak menyangka kalau dia akan mengucapkan kata-kata seperti itu kepada Lucy. Tapi, entah kenapa kata-kata itu meluncur dengan lancarnya melalui mulutnya.

"Kurasa, aku perlu mengontrol kata-kataku agar tidak keluar begitu saja." batinnya, dengan wajah yang memerah.

Drrrtt... Drrttt.. Drrrttt...

Natsu buru-buru meraih ponselnya yang bergetar di atas meja.

Dia menyerngitkan alisnya melihat nama Makarov tertera di layar ponselnya. Dia segera mengangkat telpon dari kakek angkatnya itu.

"Halo? Ada apa, Jii-chan?" jawab Natsu.

"Natsu! Kau pikir sudah berapa lama kau meninggalkan agensiku dan menelantarkan kontrakmu, hah?!" teriakan penuh emosi langsung menggema di ruangan itu. Natsu buru-buru mengecilkan volume handphonenya. Bisa gawat kalau Lucy dengar.

"Aku tidak mau kembali ke agensi kalau aku masih di suruh berfoto bersama si stripper itu!" desis Natsu pelan.

"Tidak. Aku sudah menyuruh Loki untuk menggantikan peranmu. Jadi hal itu sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi. Kumohon, kembalilah ke agensi. Aku janji tidak akan menyuruhmu berfoto Gay dengan laki-laki manapun lagi," mohon Makarov.

Natsu memutar bola matanya. "Aku tahu itu taktik Jii-chan untuk membujukku agar kembali ke agensi. Tapi sayang sekali, aku tidak akan tertipu begitu saja."

"Tidak! Ini sungguhan! Aku bahkan akan mentraktirmu sepuasnya seperti yang kujanjikan seminggu yang lalu. Dan kau tidak perlu berfoto Gay dengan laki-laki manapun."

Ujung bibir Natsu berhasil naik keatas. "Hooo... Benarkah? Kalau begitu, apakah jii-chan bersedia mentraktir 2 orang sekaligus?" tanya Natsu.

"Apa? Enak saja! Kau pikir aku ini dompet berjalan! Tidak mau!"

"Ya sudah, kalau begitu aku juga tidak mau kembali ke agensi." balas Natsu santai.

"Argh! Baik-baik! Terserah kau saja!" terdengar isakan tidak rela dari seberang sana.

"Hehe, gitu dong! Baiklah, mulai besok aku akan kembali lagi ke agensi."

"Hah... Akhirnya kau mau juga. Oh iya, aku baru saja mendapat tawaran untuk menyutradarai sebuah film yang diyakini akan sangat populer nantinya. Dan sudah kuputuskan, kau sebagai pemeran utamanya."

"Seperti apa filmnya? Apakah tentang percintaan?" tanya Natsu.

"Ya. Tapi juga diselingi adegan action yang kau sukai? Bagaimana? Film ini diangkat dari novel yang sudah sangat populer di kalangan remaja bahkan orang tua." ujar Makarov meyakinkan.

"Hmm... Menarik. Kalau orang-orang banyak menyukainya, berarti orang itu juga..." gumam Natsu. Dia menengok ke arah pintu kamar yang di dalamnya terdapat seorang gadis berambut pirang tengah tertidur dengan pulas.

"Apa? Siapa yang kau maksud?" tanya Makarov.

"Tidak. Baiklah, aku setuju memainkan peran utama di film ini. Lalu, siapa saja pemeran pendukung dan pemeran utama perempuan nya?" tanya Natsu lagi.

"Kalau pemeran utama perempuannya itu adalah artis cantik dan sudah lama mengarungi dunia per-filman. Yah, singkatnya seniorlah. Lalu, soal pemeran pendukungnya, ada Ultear Milkovich, Meredy, Gajeel Redfox, Gray Fullbuster—"

"Setelah kupikirkan baik-baik, aku menolak untuk bermain di film ini. Sekian dan terima kasih."

Dan dengan itu, Natsu segera menutup telponnya. Baru saja dia ingin menaruh kembali ponselnya ke atas meja, tiba-tiba ponselnya bergetar kembali. Dan nama Makarov lagi-lagi tertera di sana. Natsu menekan tombol oke untuk menjawab, namun baru saja dia ingin membuka suara, tapi teriakkan kemarahan Makarov lebih dulu mendahuluinya.

"Anak sialan! Kalau orang lagi ngomong itu jangan dipotong! Mana langsung dimatiin lagi! Dan kenapa kau langsung berubah pikiran begitu saja?! Padahal aku sudah susah payah meyakinkanmu!"

"Berisik! Dasar kakek tua! Kan sudah pernah kubilang ribuan kali, kalau itu berhubungan dengan bintang porno, Gray, aku tidak akan pernah mau! Titik!" baru saja Natsu ingin mematikan ponselnya, tapi lagi-lagi suara Makarov menghentikan gerakannya.

"Tunggu! Jangan ditutup dulu! Kumohon, pikirkan baik-baik soal film ini. Film ini dijamin akan meraub keuntungan yang amat besar. Kau tidak mungkin melewatkan begitu saja kesempatan untuk menjadi bintang film terbaik tahun ini kan?"

"Tetap tidak mau. Sudahlah Jii-chan. Cari artis lain saja," jawab Natsu malas.

"Tidak. Satu-satunya artis untuk pemeran utama di sini adalah kau! Dan aku tidak akan mengganggu-gugat keputusanku sendiri. Ini sudah mutlak." tegas Makarov.

"Yah, baiklah kalau begitu. Siap-siaplah untuk bangkrut karena aku juga tidak mau mengganggu-gugat keputusanku untuk tidak berperan dalam film-mu yang ini. Baiklah, sudah malam. Aku tidur dulu, ya! Selamat malam Jii-chan! Kuharap kau tidak mendapatkan mimpi buruk malam ini!"

Dan sambungan telponpun segera di putus secara sepihak oleh Natsu. (Dasar, ni anak durhakanya kebangetan deh)

Natsu segera mematikan ponselnya dan berjalan menuju kamar. Dia sempat terpaku sebentar melihat Lucy yang tidur di atas futon dan bukannya di tempat tidur. Natsu berjalan menuju Lucy yang tampak nyenyak, namun juga terlihat tidak begitu nyaman di futon. Rasa bersalah langsung menghinggapinya. Dia ingin membangunkan Lucy agar tidur saja di tempat tidur, tapi egonya berhasil mengalahkan niat baiknya. Dia pun segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tangannya dia tumpukan di keningnya, dan matanya menerawang ke langit-langit kamar.

"Mungkin aku perlu membeli satu tempat tidur lagi, kali ya."

Dan setelah itu, kamar itu menjadi sunyi karena dua manusia di dalamnya sudah terlelap dan pergi ke alam mimpi mereka masing-masing. Entah mereka mendapat mimpi buruk atau mimpi indah, yang jelas mereka terlihat nyaman dengan mimpi masing-masing.

Bersambung...

Okee, Minna-san.. Kali ini Via-chan sama Mina-chan mau nyelipin Behind The Scene dari Living Under One Roof, Tenang gak spoiller kok, ini cuman iseng-iseng aja kok terserah mau dibaca atau enggak, So.. Cekidot!


1 Desember 2013 22:29 Alias Malam Hari ~(^O^~)

JaneOlivia750: Via-chan sih mulai memikirkan bagian Nalu moment, tapi karna udah mulai ngantuk besok saja kasih taunya :D

Minako-chan Namikaze : Oh yaudah.. Aku juga ada piket kelas sama piket umum besok.. Ditambah lagi upacara bendera… Ck.. Tidak adakah istirahat bagi author yg malang ini?

*ngedumel gak jelas*

JaneOlivia750: Sabar Mina-chan kesibukan pasti berlalu *apaan tuh?*

Minako-chan Namikaze: Haha..Yalah.. Oyasumi Via-chan.. Semoga gak dapet mimpi buruk malem ini.. Haha

JaneOlivia750: Oyasumi Mina-chan ^^ Mudah-mudahan Via-chan bermimpi tentang moment Nalu aja #ngarepsangat Dan mudah-mudahan Mina-chan tidak bermimpi buruk, entah mungkin Natsu dan Juvia sedang mengejar Mina-chan sekarang #plakk

Minako-chan Namikaze: Aamiin… Semoga aku juga.. Pengennya dapet mimpi tentang fanficku yg tentang Edo-Nalu Haha, aku ngefans banget sama pair ini..

JaneOlivia750: #lol entah apa jadinya

Minako-chan Namikaze: Oh tidak.. Entah dimana aku harus bersembunyi dari dua monster itu.. Klo ngumpet dibelakang Gray, Cuma Juvianya aja yang berhenti, Natsunya tetep nerobos.. Kalo ngumpet dibelakang Lucy, cuma Natsunya yg berhenti, eh Juvia bikin tsunami.. Hanyut deh semua org.. Haha! :D

JaneOlivia750: #LOL kenapa gak di Erza aja?

Minako-chan Namikaze: Erzanya lagi liburan bareng Jellal..LOL

JaneOlivia750: #LOL Mina-chan hanya bisa berharap, tenang Via-chan akan memberikan aba-aba saat Natsu akan membakar rumah Mina-chan XD

Minako-chan Namikaze: Aku akan lempar tuh kadal slayer ke mobil yg lagi gerak.. Nyahaha.. Muntah2 deh kayak kucing hamil

JaneOlivia750: #ngakaksangat Juvia? Juvia? Tapi nanti kasian Lucy harus ngurut badannya Natsu dulu #LOL

Minako-chan Namikaze: Tinggal jadiin Gray sbg temeng… Klo beruntung, bikin Juvia pingsan sama pesona Gray.. Haha, Emng Lucy mau dijadiin tukang urut? *ngakak

JaneOlivia750: Yakin Gray jadi temeng? Nanti Mina-chan sendiri malah klepek-klepek ngeliat badan 'wow' Gray

Minako-chan Namikaze: Gak lah.. Aku udah kebal sama Gray yg Striple, aku mungkin bakal klepek2 kalo liat Natsu yg stripless.. Kyaa! *fangirlingnya kumat

JaneOlivia750: *membayangkan Lucy jadi tukang urut* LOL kagak sih.. Yang ada Lucy nyuruh Leo Dkk buat nge-urut Natsu

Minako-chan Namikaze: aku ragu kalo Loki mau ngurut kaki bau Natsu.. *dibakar*

JaneOlivia750: Via-chan mah lebih milih Jellal *Fangirling sambil nyengir*

Dan percakapan berlanjut sampai akhirnya kami berkata "Oyasumi" dua kali XD Ini gak ada maksud apa-apa loh.. Ini cuman percakapan ringan selama buat fanfic

So Keep Reading this fanfic and..

Review!