"A Life"

Disclaimers : Naruto punya Masashi Kishimoto-sensei

Rated : T

Pairing : SasuFemNaru

Warning : Gander Bander,Gaje,Aneh,Typo bertebaran,dll

By : Yamashita Runa

Mata blue shappire,rambut pirang yang panjang,dan wajah yang manis. Cukup sempurna untuk ukuran seorang gadis SMA. Namun sayang,sifatnya yang dibilang pendiam dan cuek sangat menurunkan derajat cantiknya. Meskipun beberapa orang menganggap sifat itu sebagai sifat cool dari seorang Namikaze.

Namikaze,sebuah nama keluarga yang dibenci olehnya.

.

.

Naruto Namikaze,seorang gadis biasa yang terlahir dikeluarga yang luar biasa. Sejak usianya menginjak 5 tahun,sifat Naruto berubah. Ia menjadi pendiam,dan tidak perduli akan apapun. Sejak usianya menginjak 5 tahun pula ia mulai membenci keluarganya sendiri.

Namikaze Kurama

Namikaze Minato

Dan

Namikaze Kushina..

3 orang yang enggan memberikan kasih sayangnya sejak Naruto lahir. Naruto haus akan kasih sayang? Ya,tentu saja. Siapa sih yang tidak mau kasih sayang dari keluarganya sendiri? Tapi kasih sayang itu tidak didapatkan oleh Naruto,keluarganya terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Pekerjaan memuakkan yang melambungkan nama besar Namikaze dikancah dunia.

Naruto egois? Hey ayolah,adakah yang bisa merasakan rasanya setiap pagi harus sarapan sendiri,setiap pulang sekolah tidak ada yang menyambut kedatangannya,dan setiap liburan Naruto harus diacuhkan oleh keluarganya sendiri karena tumpukan berkas-berkas menjengkelkan yang harus dikerjakan?!

'Keluargaku lebih mementingkan materi daripada aku.' Itulah kata mutiara yang selalu terngiang didalam otak Naruto ketika ia melihat wajah keluarganya.

Hidup Naruto juga tidak jauh dari para haters-nya. Banyak anak perempuan disekolahnya yang membenci dirinya. Entah iri karena kecantikan dan kepintarannya dikalahkan oleh Naruto,atau memang iri karena hidup Naruto yang terlihat sangat mewah dan bergelimang harta.

"Aku berangkat,Iruka!" Teriak Naruto dari luar,sementara Iruka hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah majikan yang sudah ia anggap sebagai anak itu.

Naruto segera bergegas menuju KHS dari kediaman mewahnya. "Sial,aku terlambat lagi!" Gumamnya seraya berlari dan menerobos kerumunan warga yang sedang melintas.

Naruto memang sengaja tidak menggunakan mobilnya,karena ia lebih ingin berjalan kaki dari pada harus diantar jemput oleh supir pribadinya. Lagipula jarak rumah ke sekolahnya pun tidak terlalu jauh.

Naruto mulai terengah-engah. Ia berhenti sejenak untuk menetralkan laju nafasnya. Setelah dikiranya cukup menetralkan nafasnya Naruto mulai berlari kembali,dan gerbang besar KHS mulai tampak dihadapannya. "Kotetsu-san! Jangan tutup gerbangnya dulu!" Teriaknya seraya berari cepat,dan..

"Haah.. Hahh.. Hahh..." Naruto kembali terengah. Ia tersenyum puas ketika ia berhasil melewati gerbang yang hendak di tutup. "Arigatou,Kotetsu-san!" Ucapnya seraya mengulum senyum.

"Sama-sama,Naruto. Cepatlah kekelas,sepertinya pelajaran sudah dimulai." Ujar Kotetsu.

Naruto hanya mengangguk dan meninggalkan Kotetsu yang masih menatap punggung si Namikaze muda itu. "Hari ini ia sedikit berbeda." Gumamnya lalu melanjutkan kembali menutup gerbang KHS.

Tap..

Tap..

Tap..

Suara langkah Naruto yang tergesa-gesa menggema di setiap lorong sekolah. Sesekali ia melihat jam tangan yang berada di tangan kirinya. Namun tiba-tiba..

BRUKK...

Naruto terjatuh,ia terududuk seraya mengerang sakit.

"Kau tidak punya mata hah?!" Gertak orang yang ditabrak Naruto. Orang itu tidak terjatuh dan kini ia menarik kerah baju Naruto.

".."

Naruto diam,ia tidak berniat untuk membalas ucapan orang berambut pink yang ada dihadapannya. Karena tidak mendapatkan jawaban,orang itu menatap garang Naruto lalu menampar pipi kanan Naruto dengan cukup keras

PLAK..

"Kau pantas mendapatkan itu,Namikaze!" Ucapnya seraya mendorong tubuh Naruto sehingga gadis berambut pirang itu kembali tersungkur.

Tangan Naruto terkepal erat,namun ia kembali mencoba menenangkan fikirannya dan beralih mengusap setetes darah yang berada di sudut bibir kanannya. Sementara gadis berambut pink aka Sakura tersenyum puas karena berhasil membuly Naruto. Yah,keinginan untuk membuly Naruto selama ini akhirnya terlaksana juga. Karena selama ini Sakura tidak mau membuly Naruto didepan teman-temannya,karena apa? Sakura tidak mau citra 'lemah lembut dan baik hati' nya tercoreng karena membuly Naruto.

Sakura pun melenggang pergi meninggalkan Naruto yang masih menatap lekat gadis bersurai pink itu. Setelah melihat Sakura menghilang dari pandangannya,Naruto bangkit dan menepuk-nepuk roknya yang sedikit kotor karena debu. Ia pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju kelas dengan tenang,seperti tidak ada kejadian apapun yang terjadi padanya barusan.

Setelah sampai di depan pintu kelasnya,Naruto pun segera masuk. Kelas yang tadinya gaduh pun tiba-tiba diam. Ternyata guru pelajaran sejarah belum datang. Naruto menghela nafas leganya,lalu mulai berjalan kembali menuju tempat duduknya- disebelah Hinata.

"Naru,kau terluka?" Tanya Hinata setelah Naruto duduk disebelahnya. Ia menatap ujung kanan bibir Naruto yang sedikit membiru.

"Ini hanya luka kecil,Hinata."

Naruto melirik sahabat baiknya itu. Raut cemas terpantri diwajah cantik Hinata. Naruto hanya diam,ia mengalihkan pandangannya kearah lain. Dan ternyata ia bertemu pandang dengan Sasuke. Naruto menatap balik Sasuke yang tengah menatapnya lekat,entah apa yang terjadi. Namun,suhu diruangan itu terasa turun drastis.

"Naruto—"

Naruto menoleh keasal suara,Temari menghampirinya. "Kenapa kau telat masuk hari ini? Dan—kenapa ujung bibirmu itu,hah?" Temari mulai merasa khawatir juga melihat sahabatnya terluka. Ia yakin ada yang tidak beres dengan Naruto.

"Naruto tidak mau memberitahukannya,Temari." Ucap Hinata pelan,Temari pun menaikan sebelah alisnya. Ia semakin tidak mengerti dengan Naruto,kalau saja ia mau bersikap sedikit baik dan perhatian pasti banyak orang yang akan menyukainya. Dengan sifatnya yang seperti ini saja sudah banyak fans-nya apalagi kalau ia bersikap lembut dan baik?

"Sudahlah,kalian terlalu berlebihan. Ini tidak penting." Ucap Naruto yang mulai merasa jengah dengan tatapan menyelidik Temari dan Hinata.

"Itu penting bagi kami,Naruto. Kamu sahabat kami,dan kami tidak mau kamu terluka."

".."

Naruto kembali terdiam,ia menatap kosong papan tulis yang ada didepannya. Ia kembali merasakan sakit hati kepada keluarganya,mereka bahkan tidak pernah menanyakan kabar atau sekedar menanyakan 'bagaimana harimu disekolah?' mereka hanya tersenyum kearahnya,sekalinya mereka berbincang,pasti mengenai rapat diluar kota atau diluar negeri.

Naruto bosan? Ya,tentu saja. Sebenarnya ia cukup beruntung mempunyai sahabat seperti Hinata dan Temari. Mereka begitu perhatian,meskipun tidak pernah direspon lebih oleh Naruto. Mereka seakan tau beban berat apa yang tengah dipikul Naruto sekarang. Satu lagi kelebihan Hinata dan Temari,mereka berteman dengan Naruto tulus tanpa adanya niat untuk memanfaatkan kekayaan atau kepopuleran Naruto.

"Kakashi sensei datang!"

Gubrak.. Gedebug..

Satu kelas itu tiba-tiba heboh ketika teriakan salah satu anak yang menyatakan bahwa sang guru sejarah baru yang lumayan killer itu hendak datang kekelas mereka. Mereka segera duduk dikursi mereka masing-masing dan mulai membuka buku. Sementara Hinata,Naruto,Sasuke,Neji,Gaara,dan Shikamaru mau tidak mau merasakan sedikit sweatdrop melihat tingkah teman sekelas mereka.

"Ohayou minna!" Yap,kakashi datang bersama Sakura dan membawa lembaran kertas ujian yang kemarin telah dilaksanakan. "Sekarang aku akan membagikan plus mengumumkan nilai ulangan sejarah kalian kemarin."

Semua tegang,kecuali Sasuke cs dan Naruto. Mereka tetap dengan tampang datar mereka. menetap bosan wajah kakashi dan tumpukan lembaran ulangan yang dibawanya. Sementara Hinata dan Kiba hanya tersenyum maklum melihat sahabat-sahabatnya itu. "Mereka memang pelit ekspresi." Lirih Kiba dan Hinata bersamaan. *Jodoh kali ya? Ehh.. ^.^v

"Mulai dari nilai sempurna. Naruto dan Sasuke." Kakashi menghela nafas saat tidak ada tanggapan gembira apapun dari kedua muridnya itu. "Selamat,kalian mendapat nilai 100. Dan silahkan ambil hasil ulangan kalian ini."

Mendapat perintah Kakashi,mereka pun beranjak dari kursinya secara bersamaan. Naruto melirik Sasuke sesaat. Lalu mengambil kertas itu dan membuang muka. Sementara Sasuke tetap bergeming saat mengambil kertas ulangannya.

Kelaspun hening,mereka semua bergelut dengan fikiran mereka masing-masing. Sebenarnya mereka sedikit kagum dengan Sasuke dan Naruto. Yah,bisa dibilang duo tampang datar itu cocok.

Setelah Naruto dan Sasuke kembali duduk ditempatnya,mereka yang ada dikelas itu masih aja hening. Tatapan mereka semua sama,menuju Naruto dan Sasuke. Meski arti tatapan dari mereka semua itu berbeda-beda. Contohnya seperti Sakura yang menatap Naruto dengan benci dan ketika menatap Sasuke berubah menjadi kagum. Aneh? Ya,begitulah keyataannya.

"Yare-yare.. Selanjutnya,Hinata,Gaara,Neji,dan Shikamaru. Kalian mendapat nilai 95. Silahkan diambil hasilnya." Ucap Kakashi.

Dan begitu selanjutnya,Kiba dan Temari yang mendapat nilai 90. "Itu nilai-nilai terbaik. Sementara yang terburuk—" Kakashi diam,dan menatap satu persatu muridnya. Ada beberapa murid yang dapat merasakan aura menyeramkan menguar dari Kakashi kembali merasakan ketegangan.

"Sakura Haruno."

Sakura terbelalak begitu saja. Ia bangkit dari kursinya dan menggebrak meja. Semua yang ada dikelas menatap Sakura dengan horor. "Itu—itu pasti tidak benar! Mungkin kertas ulanganku dirubah oleh Naruto! Seharusnya nilaiku yang sempurna!" Dan terbongkarlah sifat asli Sakura.

"Jangan seenaknya saja menyalahkan orang lain,Haruno. Akui saja kalau kau memang bodoh." Ucap Naruto mengejek. Sudut bibirnya terangkat seraya menatap Sakura yang mulai mendidih.

"Apa kau bilang!" Kedua tangan Sakura terkepal. Wajahnya sudah benar-benar memerah menahan marah. Sakura hendak menghampiri Naruto yang sedang duduk tenang dibangkunya. Namun dihentikan oleh Kakashi, "Berhenti! Jangan bertengkar dijam pelajaranku! Sekarang kalian berdua,Naruto dan Sakura lari keliling lapangan sampai jam pelajaranku selesai!" Gertak Kakashi. Wajah murkanya sangat jelas terlihat. Sementara Naruto? Yah dia syok. Lari? Selama jam pelajaran sejarah selesai? Ok,ini akan menjadi hari buruk terpanjang yang pernah ada.

"Ta—Tapi,sensei,"

"Tidak ada tapi-tapian,Namikaze!" Kakashi menatap garang Naruto. Sementara Naruto hanya menghela nafasnya. 'Semoga tidak kambuh lagi." Gumam Naruto dalam hati.

"Dan jangan coba-coba untuk berhenti berlari,karena aku akan terus memperhatikan kalian!"

Naruto pun beranjak dari kursinya dan sedikit melirik Sasuke yang terus manatapnya. Sementara Hinata menatap punggung sahabatnya yang mulai menjauh itu dengan khawatir. Sasuke cs pun sama,mereka sebenarnya ingin berteman baik dengan Naruto. Tapi apa daya? Ego mereka terlalu tinggi.

Sakura yang masih kesal pun terpaksa mengikuti Naruto.

"Ya,kita lanjutkan pelajaran. Buka halaman 53—"

.

Naruto sudah berlari selama 25 menit. Masih tersisa 1 jam 15 menit lagi. Tapi,nafasnya sudah sangat memburu,jarak lapangan KHS sangat besar dan ia harus berlari selama 1 setengah jam. Wajahnya terlihat pucat,peluhnya berceceran didahinya. Panas yang menyengat pun semakin membuatnya tersiksa. Dan lihatlah Sakura,ia baru berlari selama 20 menit dan kini ia sudah duduk manis dibawah pohon rindang dekat lapangan.

Sesekali Naruto berhenti untuk menetralkan nafasnya yang sangat memburu. Ia membungkuk dengan kedua tangan yang memegang pahanya sebagai tumpuan. Peluh nya semakin bercucuran,waktu terasa sangat lambat sekarang. Ia ingin berlari kembali namun suara Kakashi menghentikan langkahnya.

"Sudah,cepat masuk kelas. SEKARANG!" Teriaknya dari seberang lapangan. Sakura yang masih duduk pun gelagapan dan berdiri.

Naruto berjalan gontai menuju Kakashi,nafasnya sulit sekali untuk kembali normal. Sesampainya dikelas,Naruto segera menjatuhkan tubuhnya dikursi dan menelungkupkan kepalanya dimeja.

"Kau—Sakura,temui aku setelah jam istirahat!" Ucap Kakashi tegas. Lalu tidak lama kemudian,bel istirahatpun berbunyi. Dan Kakashi pun undur diri.

Ruang kelas XI-1 itu sepi. Hanya ada Hinata,Naruto,Temari,dan Sasuke cs. Biasanya Naruto langsung menuju kantin ketika bel berbunyi. Namun kini ia masih menelungkupkan kepalanya dimeja. "Naruto,mau titip apa? Akan kubawakan makanan kesini." Ucap Temari,ia merasa iba pada Naruto. Pasti Naruto sangat lelah sekali sekarang.

Drt..Drt..Drt..

Belum sempat Naruto menjawab tawaran Temari,Handphone Naruto berdering. Ia segera menekan tombol hijau dan ingin mengatakan 'Hallo?' namun tiba-tiba suaranya tercekat.

Deg..

Naruto memejamkan matanya sesaat,mencoba menahan sakit yang tiba-tiba mendera dada kirinya. "Ha—halo." Ucapnya pelan.

"Naruto-sama,anda lupa membawa obat anda! Apa anda baik-baik saja? Aku akan kesana membawakannya."

Naruto terdiam,ia masih menahan sakit yang menyiksa itu. "Iru—ka,sa—kit." Lirihnya,

Hinata dan Temari langsung panik,mereka segera menopang tubuh Naruto yang tiba-tiba merosot dan menjatuhkan handphone nya. Sasuke cs yang sedari tadi memperhatikan pun kaget dan segera menghampiri mereka.

Sasuke pun segera mengambil handphone Naruto dan menempelkannya ditelinga kanannya. "Iruka,apa dia bawa obatnya?" Tanya Sasuke. Ia mengobrak abrik tas Naruto tapi tidak menemukan apapun.

"Sasuke-sama? Ah- Maaf Sasuke-sama,dia tidak membawanya. Saya sedang dalam perjalanan menuju sekolah. Maafkan saya." Jawab Iruka dengan paniknya.

Sasuke pun menutup sambungan telepon itu dan segera membawa Naruto yang sudah pingsan ke uks.

"Kau mau apakan Naru,Sasuke?!" Ucap Temari. Sasuke pun hanya mendengus, "Ke uks." Jawabnya singkat.

Hinata,Neji,Gaara,Shikamaru,dan Kibapun akhirnya mengikuti langkah Sasuke. Banyak pasang mata yang iri melihat Naruto yang digendong Sasuke. Secara tidak sengaja pula,mereka berpapasan dengan Sakura yang baru saja keluar dari ruang guru.

Sakura menggerutu,matanya mengkilat marah melihat Naruto yang terlihat seperti tertidur lelap dengan tenang digendongan Sasuke.

Sesampainya di uks,Naruto segera diperiksa oleh Shizune. Shizune terlihat sangat panik melihat Naruto yang sudah sangat pucat.

Sementara Sasuke cs,Temari dan Hinata menunggu dikoridor. "Naruto sakit apa,Sasuke?" Tanya Hinata seraya menahan tangisnya.

".."

Sasuke tidak menjawab,ia tidak mau semua tau tentang penyakit Naruto. Tapi disisi lain,mereka adalah teman baik Naruto. Apa lagi sahabat Sasuke juga tidak tahu menahu kalau Sasuke sebenarnya dekat dengan Naruto.

"Dan sejak kapan kau dekat dengan Naruto? Kenapa selama ini kau dan Naruto seakan memberi jarak?" Tanya Shikamaru beruntun.

Namun tetap saja Sasuke diam. Ia masih menatap pintu ruang uks itu. Raut wajahnya memang masih datar,namun tetap saja terlihat khawatir.

"Sasuke-sama!" Iruka tergesa-gesa menghampiri Sasuke. "Maaf merepotkan anda lagi."Ucapnya dan ingin membungkuk namun ditahan oleh Sasuke.

"Sudahlah,Iruka." Gumam Sasuke. Sementara Iruka hanya tersenyum.

Cklek..

"Huh,apa dia kelelahan lagi? Sudah kubilang kan,dia tidak boleh kelelahan." Ucap Shizune ketika ia keluar. "Setelah dia sadar berikan obatnya." Perintah Shizune lalu pamit untuk keruang guru.

Mereka semua pun masuk keruang uks. Terlihat Naruto yang pucat tengah berbaring. "Apa mereka sudah tau soal penyakit Naruto?" Tanya Sasuke pada Iruka yang berada disampingnya.

"Tidak. Saya sudah mencoba menelfon Minato-sama dan Kushina-sama. Namun,mereka menjawab sedang sibuk sebelum saya memberitahukan kondisi Naruto-sama."

"Kalau Kurama?"

Iruka menghela nafas, "Ia bilang,ia tidak bisa menemui Naruto sekarang. Jadi- yah,mereka belum saya beritahu semua."

Sasuke terdiam,ah—malang sekali nasib Naruto. Ia punya penyakit,tapi keluarganya benar-benar tidak perduli.

"Ano—Iruka-san dan Sasuke sudah saling mengenal? Tapi,ku kira Naruto dan Sasuke sama sekali tidak mengenal." Tanya Temari.

Iruka tersenyum,ia melirik Sasuke yang tengah menatap Naruto dengan khawatir. "Ya,mereka sudah berteman sejak umur 5 tahun." Iruka memberi jeda sebentar karena semua yang ada diruangan itu tercengang kecuali Sasuke dan Iruka tentunya.

"Sasuke-sama dan Naruto-sama memang sangat dekat,tapi tidak ketika disekolah. Naruto-sama juga sudah dianggap anak oleh keluarga Uchiha." Ucap Iruka.

"Be-benarkah?" Kiba tergagap. Ia tidak menyangka bahwa si bugsu dari 2 marga itu sebenarnya sudah dekat sejak lama.

Iruka pun hanya mengangguk menjawab pertanyaan Kiba.

"Ngh.."

Semua orang di uks itu pun menoleh keasal suara,ternyata Naruto sudah sadar. Kelopak mata itu mulai menampakan iris blue shappire nya. Namun,mata indah itu terlihat kosong dan hampa. Setetes air mata pun mengalir mulus dipipi nya.

"Na—Naru? Kamu tidak apa-apa?" Ucap Hinata seraya menghampiri Naruto.

"Naruto-sama," Iruka menggumam. Iruka menatap khawatir Naruto,ia memang sudah pernah melihat Naruto seperti ini,tapi kejadian itu sudah lama sekali. Iruka kira,Naruto sudah tidak akan seperti ini lagi. Tapi ternyata..

"Aku—Ingin pulang,Iruka." Lirihnya. Matanya sudah terlihat fokus,tapi air matanya tetap menetes.

Naruto pun beranjak dari tempat berbaringnya,ia sedikit mendorong Hinata yang hendak memegang lengannya saat ia terhuyung. Ia pun berjalan tertatih ke arah Iruka yang sejak tadi hanya terdiam. Ia seperti menulikan pendengarannya ketika Temari dan Hinata memanggil namanya dan hendak membantunya berjalan.

Setetes air matanya kembali jatuh saat berpapasan dengan Sasuke,mereka berlawanan arah.

"Sampai kapan kau akan seperti ini terus,Dobe?!"

Naruto terdiam ketika mendengarnya. Ia hanya menahan nafas saat suara britone itu terdengar ditelinganya. Bahunya sedikit bergetar karena tangisnya yang tertahan.

"Sampai kapan kau akan menyia-nyiakan teman mu sendiri,Dobe?!" Sekali lagi,suara Sasuke memecah keheningan.

"Kau tidak tahu apa-apa,Teme!"

".."

"Kau tidak pernah tau rasanya terus menerus dikejar oleh trauma masalalu! Kau juga tidak pernah tau rasanya dicampakkan keluargamu sendiri,Teme." Naruto merosot. Lututnya terasa lemas tanpa tenaga sedikitpun. Airmatanya semakin mengalir deras. "Selama ini aku selalu saja menyusahkan keluargamu,Teme. Bahkan keluargaku pun sama sekali tidak pernah mengurusku. Itu—itu sangat menyakitkan,Teme." Suaranya semakin lirih,membuat semua orang yang berada diuks itu seakan merasakan kepedihan yang Naruto rasakan.

"Maaf." Sasuke menggumam. Ia sudah bertahun-tahun bersama Naruto namun ia tidak pernah bisa mengerti bagaimana perasaan Naruto.

Hinata dan Temari akhirnya berhasil mendekati Naruto yang terduduk,merekapun merangkul erat tubuh rapuh Naruto. Naruto yang diperlakukan seperti itupun semakin terisak.

Sasuke pun menghampiri Naruto yang masih terisak bersama kedua sahabatnya. Sasuke berjongkok didepan Naruto,ia menghapus airmata yang mengalir dipipi mulus Naruto dengan kedua ibu jarinya. "Sebaiknya kau ikut aku,kita bicarakan kekesalanmu ini dengan Kaa-san,aku yakin Kaa-san punya jalan keluarnya untukmu." Ucap Sasuke lembut.

"Aku tida—tidak mau me—repotkan kaa-san lagi,Teme." Ucap Naruto sesenggukan.

Sasuke hanya memutar bola matanya bosan. "Gah,kau itu suka sekali bertele-tele sih." Runtuk Sasuke seraya menarik Naruto keluar Uks.

Sepeninggal dua sejoli itu,ruang uks masih saja hening. Sepertinya para sahabat duo sejoli itu masih memproses apa yang terjadi barusan. Tatapan mereka masih menuju pintu ruangan uks,tanpa gerakan apapun yang mereka perbuat,mereka terlihat seperti boneka manekin.

"Umm,Ekhem." Iruka berdehem. Mereka semuapun tersadar.

"Ah—Ano Iruka-san. Apa mereka selalu seperti ini?" Hinata kembali bertanya.

"Ya,mereka selalu seperti ini." Jawab Iruka sekenaknya.

"Lalu,'kaa-san' yang mereka katakan itu siapa?" Tanya Shikamaru.

"Oh itu,'kaa-san' yang mereka bicarakan itu ibunya Sasuke-sama. Mereka memang selalu meminta pendapat pada nyonya Uchiha."

Mereka semua(minus Iruka) hanya mengangguk mengerti. "Bagaimana sepulang sekolah nanti kita ketempat Naruto atau Sasuke? Aku ingin mendengarkan langsung tentang hubungan mereka." Ucap Kiba.

"Untuk apa kau menunggu sepulang sekolah,Kiba? Kita sudah membolos sekarang,kenapa tidak sekalian sekarang saja?" Saran Neji.

"Nah,Iruka-san mau tidak mengantarkan kami ketempat Naruto dan Sasuke?" Tanya Kiba.

"Ha'i tentu saja."

Shikamaru pun melirik Gaara yang sejak tadi tidak mengatakan apapun. "Kau mau ikut,Gaara?"

"Hn."

Shikamaru pun hanya menggeleng pasrah. 'Harus sabar hadapin orang kaya dia.' Gumamnya dalam hati.

.

Sepanjang perjalanan,Sasuke sesekali memperhatikan wajah Naruto yang terlihat sangat pucat.

"Wajahmu pucat,Dobe." Ucap Sasuke seraya menyetir.

Naruto pun menoleh,ia tersenyum lembut. "Fokuslah menyetir,aku tidak apa-apa." Ucapnya.

Sasuke pun diam,ia kembali fokus menyetir meskipun masih ada rasa khawatir dalam hatinya.

Tak lama kemudian,merekapun sampai di kediaman mewah keluarga Uchiha. Naruto sedikit terhuyung ketika turun dari mobil,namun Sasuke segera membantunya berdiri tegak kembali. "Sudah ku bilang,apa salahnya si kalau aku gedong?!" Ucap Sasuke.

"Aku tidak apa-apa,Teme." Elak Naruto. Yah,sebenarnya juga Naruto masih merasa pusing. Tapi ia tidak mau menunjukannya saja.

"Astaga Naru-chan!" Teriak Mikoto saat Naruto hendak masuk kedalam rumah mewah itu. Mikoto aka Ibu Sasuke segera menghampiri Naruto yang tengah dipapah Sasuke. "Penyakitmu kambuh lagi,Naru-chan? Sasuke! Kenapa tidak kau bawa kerumah sakit?" Ucap Mikoto dengan nada khawatir seraya membantu Naruto duduk di sofa.

"Dia tidak mau." Jawab Sasuke singkat.

"Tapikan—"

"Sasuke benar,kaa-san." Sela Naruto. Naruto tersenyum lembut meski sangat terlihat dipaksakan.

Mikoto pun hanya menghela nafas lelahnya,lalu mengambil teh hangat yang sudah dipersiapkan oleh pelayan untuk Naruto. "Naruto,minum ini dulu." Tawar Mikoto.

Naruto pun meminum teh itu sedikit,namun ia merasa risih.

Mikoto terus menerus menatap lekat wajah Naruto. Naruto yang merasa diperhatikan pun akhirnya menoleh. "Ada apa kaa-san?"

" Sudut bibirmu kenapa,Naru? Kenapa bisa lebam seperti ini?"

Naru menatap lantai dibawah kakinya,ia tidak berani menatap Mikoto dan Sasuke yang tengah menatap khawatir dirinya. "Kaa-san.. Naru lelah." Lirihnya.

Mikotopun hanya menghela nafas lelahnya. 'Anak ini menutupi sesuatu.' Ucapnya dalam hati. Akhirnya ia tersenyum lembut kearah Naruto,Mikoto pikir Naru masih membutuhkan waktu untuk menceritakan semua.

"Hmm.. Sasuke cepat gendong Naruto kekamarnya ya." Perintah Mikoto.

Naruto pun hanya terbelalak. "Eh? Tidak-tidak! Aku bisa jalan sendiri,Kaa-san!" Tolak Naruto.

"Kaa-san tidak menerima penolakan,Naru-chan." Mikoto tersenyum,"Sasuke,cepat bawa Naru-chan."

Sasuke pun menggendong Naruto ala bridal style tanpa protes sedikitpun. Naruto yang tadinya sempat berontak kini terdiam didalam pelukan Sasuke. 'Nyaman.' Ucapnya dalam hati. Narutopun memejamkan matanya,menyendarkan kepalanya di dada bidang Sasuke.

Sasuke yang melihat Naruto terpejampun hanya tersenyum lembut. "Tidurlah yang nyenyak,Dobe." Gumamnya.

.

.

Temari,Hinata,Neji,Gaara,Shikamaru dan Kiba mulai meninggalkan uks. Sesekali mereka bercengkrama,entah apa yang mereka bicarakan tapi mereka terlihat bahagia. Saat mereka melewati koridor kamar mandi,mereka melihat Sakura keluar dari kamar mandi perempuan dengan membawa lap pel dan 1 ember. Mereka pun hanya terdiam sekaligus menghentikan langkah mereka.

Sementara Sakura melihat 6 kawan itu terlonjak kaget dan membuang muka. "Lihat apa yang Naruto perbuat padaku! Aku harus menjalani hukuman gara-gara dia!" Amarah Sakura. Ia menatap tajam satu persatu 6 kawan itu.

"Huh? Apa kau bilang? Harusnya kau sadar diri,Sakura. Aku tau,kau dihukum lagi karena kau melanggar hukuman Kakashi-sensei tadi kan?!" Ejek Temari tepat didepan wajah Sakura.

Wajah Sakura semakin memerah menahan amarah,ia membanting ember kosong dan lap pel itu lalu pergi begitu saja.

"Apa-apaan dia itu. Hih,dasar perempuan nyebelin." Gumam Temari.

"Sudahlah,Temari." Ucap Hinata mencoba menenangkan gadis bercepol empat itu.

Iruka yang tadinya sempat melihat pertengkaran antara Temari dan Sakura semakin tersenyum. Ia senang,setidaknya ada yang membela Naruto disaat Naruto terpojok.

Mereka akhirnya segera mengambil tas mereka dan segera pergi dari sekolah itu. Tentunya dengan izin dari pihak sekolah. *emang ada sekolah yang ngizinin muridnya buat ngebolos yah? Runa juga ga tau -_-" hadeehh... #ditimpuk readers.

.

"Mikoto,aku ingin bertemu Naruto. Dia ada didalam kan?"

Mikoto diam,ia tidak mempersilahkan tamu itu untuk masuk kedalam rumahnya. "Dia sedang istirahat. Lagipula untuk apa kau menemuinya?"

"Aku hanya ingin membicarakan tentang kepindahannya ke Amerika untuk menjadi pengurus perusahaan Namikaze disana. Bukankah aku sudah memeberitahumu sebelumnya,Mikoto?"

".."

Sementara di ruang tamu,Sasuke masih terdiam. Ia tidak sengaja mendengar perkataan tamu itu. 'Amerika?!' Ucapnya dalam hati.

Sasuke menatap sang ibu yang masih memunggunginya. Sang ibu masih menatap tamu itu dengan datar. lupakan soal tidak sopan berbicara di depan pintu,karena Mikoto pun tidak akan menggubrisnya.

"Aku harus menemuinya sekarang,karena setengah jam lagi aku harus terbang ke Tokyo." Ucapnya seraya menoleh kearah belakang Mikoto. "Ah—Sasuke,bisa kau panggilkan Naruto? Sepertinya ibumu sedang sensitive sekarang. Dia tidak mau mempersilahkan ku masuk ataupun memanggil Naruto." Ucapnya lagi.

"Naruto sedang tidak bisa diganggu." Jawab Sasuke singkat lalu meninggalkan ruang tamu.

"Kau dengar itu,Kushina?" Ucap Mikoto dengan sedikit penekanan. Mikoto berusaha tersenyum ramah meski yang terlihat hanyalah senyum paksaan.

"Ada apa sih dengan kalian?! Aku ibunya,tapi kenapa kau yang terlalu over protektif pada Naruto?" Tanya Kushina,ia menatap Mikoto dengan tajam.

"Naruto sakit. Kau tau itu? Tidak. Naruto sedang tidak ingin diganggu. Kau tau itu? Tidak juga kan?" Mikoto menghela nafas lelahnya. "Apa itu yang bisa dibilang seorang ibu?"

".."

Kushina tercengang. Baginya,perkataan Mikoto bagai bom besar yang meledakkan hatinya. Begitu halus,namun menusuk tepat dijantungnya.

"Maaf,Kushina-sama. Pesawat ke tokyo akan lepas landas 20 menit lagi. Kita harus mengejar waktu." Ucap sekretaris Kushina.

Kushina pun hanya mengangguk dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Aku ingin tahu,bagaimana reaksimu ketika Naruto benar-benar membencimu,Kushina." Gumam Mikoto seraya menutup pelan pintu rumahnya.

.

TBC

Holaa... Runa come back,gomennasai karena Runa belum melnjutkan fic sebelumnya tapi Runa malah membuat fic baru -_- salahkan imajinasi Runa yang seenaknya saja datang dan pergi -_- hehe

.

Penyakit apa yang sebenarnya diderita oleh Naruto? Lalu bagaimana cerita masalalu Naruto? Tunggu Chapter selanjutnya yaa... Arigatou!

RIVIEW RIVIEW.. Kritikan,masukan,dan segala macamnya juga Runa tunggu yaaa... ^.^b