Standard disclaimer applied

.

.

.

Aku tak percaya, bahkan jika suatu hari nanti akan ada cahaya, aku tak percaya akan ada cahaya yang cukup kuat untuk menerangi jalanku di luar, di luar kamar ini.

Aku menyukai segala yang ada di kamar ini; aku memasak, menonton televisi, bekerja, bahkan aku bisa menjelajahi dunia meski kakiku tak pernah melangkah lebih ari seratus meter jarak toko dua puluh empat jam di dekat apartemen. Jadi, aku tak butuh apapun lagi selain diam di kamarku.

Dan juga, cintaku bersemi di kamar mini ini.

Sejak pertama kali aku berada di tempat ini , aku sudah menyukainya. Aku tak peduli tentang namanya yang tak kuketahui, status atau pekerjaannya. Yang jelas, hanya dengan melihatnya aku merasa cukup.

Lagipula, jendela-jendela kami berseberangan, dan teropong mini kuningku lebih dari cukup membantu penglihatanku.

Tak ada yang lebih mengenal kebiasaannya selain diriku. Aku tahu betul pukul tujuh tepat ia akan bangun dan mengolesi rotinya dengan selai, menyalakan televisi, lalu berolahraga dengan treat mill-nya. Lalu, lalu ia akan meletakkan baju-baju kotornya ke dalam mesin cuci dengan anjing kecilnya yang mengikuti kesana kemari. Semuanya terlihat jelas dari sini, dan aku, mengikuti gerakan apapun yang ia lakukan.

Ia akan pergi kerja pukul delapan lewat tiga puluh menit, dan tentu saja, aku tak pernah sekalipun melewatkan kata-kata sampai jumpa. Walaupun ia tak mendengarnya.

Tapi, hari berbeda.

Ia tidak mengolesi rotinya dengan selai, tidak menonton televisi. Tidak juga berolahraga. Ia sedang berkemas-kemas.

Mungkinkah.. Ia pindah?

Banyak orang datang mengangkut perabotnya; satu persatu-satu, televisi, alat-alat olahraganya, sofa, meja makan..

Akankah ia benar-benar pergi?

Ruangan itu lama-kelamaan semakin lapang.

Aku sekarang benar-benar akan sendirian?

Ia berjalan ke arah jendela, menggendong anjignya.

Pada akhirnya, cintaku benar-benar tak sampai?

Laki-laki itu menyapukan pandangan ke seluruh ruangan, lalu memandang ke depan, tepat ke arahku.

Ah, di saat seperti ini kau baru sadar ya selama ini diperhatikan? Benar juga, bagimu ini adalah kali pertama melihatku, sekaligus terakhir kali? Maaf, aku tak tahu bagaimana memasang wajah yang tepat.

Bibirmu terbuka, "annyeonghi gyeseo."

Sayang sekali aku dapat menangkapnya dengan jelas. Mungkinkah kau sudah tahu selama ini kuperhatikan?

Ah, benar juga. Sejak awal ini adalah cinta yang kusimpan sendiri. Tak kubagi padanya atau siapapun, aku sendiri yang menjaga dan membiarkannya tumbuh subur. Ini bukan salahnya, Go dok Mi. Lantas kenapa kau menangis?

Ia tidak menyakitimu. Lantas kenapa kau merasa sakit?

aku tak akan bisa mengucapkan 'sampai jumpa' lagi ya, esok pagi? "annyeonghi gyeseo," itu, sebagai ganti ucapan sampai jumpaku.

ia tersenyum dan pergi meninggalkan ruangan itu.

Selamat tinggal, semoga bahagia.

.

.

.

Seperti biasa, kau memang menyedihkan, Dok Mi.