Lucy 'Boyish' Heartfillia

©Hiro Mashima

Story: me

Warn: school life, Boyish!Tsundere!Lucy, bahasa kurang baku, a little bit OOC, DLDR

Pair: NaLu—Natsu dan Lucy, and others (slight)


"..cy..Lucy... Lucy Heartfillia!"

BYURR! Segelas air tanpa dosa membasahi parasnya.

Sang empunya nama bangun dari dunia mimpinya yang menurutnya sangat indah itu, kini mata karamelnya terbuka sempurna dan melotot marah kepada yang membangunkannya. Hey, bagaimanapun juga dia berhadapan dengan Lucy Heartfillia—si jago karate yang sudah memiliki sabuk hitam—dia harus merasakan pembalasan.

Dia—Layla Heartfillia yang notabene ibunya sendiri, berkacak pinggang sambil melempar jam weker ke atas selimut yang membalut putrinya. Sepertinya Lucy menyimpan keinginannya tadi.

"Sudahi tidurmu itu. Lihat jam berapa sekarang?! Kau akan telat ke sekolah, Fairy Tool atau apalah itu, cepat mandi sana," bersamaan dengan kalimat terakhir, Layla menutup pintu kamar Lucy dengan agak keras.

"Sial, sudah hampir tiga tahun sekolah di Fairy Tail masih bilang Fairy Tool? Dia pikir ini sekolah bengkel pake 'Tool' segala. Dan ini memang jadwal bangunku! Dasar aneh," dan inilah dia kebiasaan Lucy tiap pagi, menggerutu sambil berjalan ke kamar mandi.

Menyambar handuk dan membuka pintu kamar mandi dengan brutal, atau tepatnya melakukan semua hal secara brutal—that's Lucy for you. Ya, Lucy memang dibesarkan secara feminin oleh ibunya, tetapi sikap boyish-nya yang sebenarnya menurun dari ibunya sendiri tak kunjung hilang. Jude Heartfillia ayahnya tak mau ambil pusing dengan hal ini, toh dia sendiri laki-laki.

Tak lama, Lucy yang gemar mandi ala kucing itu sudah siap dengan seragamnya, kemeja putih dan rok lipit abu-abu bergaris vertikal dengan warna yang lebih gelap*. Tak lupa dengan jaket kuning dengan bergo yang selalu menutupi rambutnya yang dijepit asal. (Sekali lagi) menyambar tasnya, dan (lagi-lagi) menyambar roti di piring, ia keluar dari rumahnya yang megah itu, tanpa basa-basi.

Layla yang tengah duduk di meja makan sembari menyeruput segelas teh, menggelengkan kepalanya.

"Jude, apa ada cara yang membuatnya tidak berbuat semena-mena?"

"Sudahlah, tak ada yang perlu dikhawatirkan darinya, dan itu tidak semena-mena. Aku tidak mempermasalahkan it—ittai!" Jude, yang tengah membaca koran dengan segelas kopi, meringis pelan, memegangi kepalanya yang dilempar entah apa oleh istrinya.

"Kau juga bersikap semena-mena sepertinya. Dasar laki-laki," Layla menggerutu pelan.

"Dan hobi menggerutunya sama sepertimu," gumam Jude sweatdrop, sebelum akhir dilempar sesuatu lagi oleh Layla.

"URUSAI YO!"


Lucy melangkah pede ke gerbang sekolahnya sembari mengunyah sisa roti di mulutnya, menarik banyak perhatian yang sudah biasa ia terima. Sejak duduk di kelas 10, ia sudah menjadi perbincangan hangat karena perilakunya, bahkan ia mempunyai fanclub. Lucy yang notabene cuek itu, menganggap itu sekedar angin. Asalkan sahabat-sahabatnya menerima dia apa adanya, Lucy sudah bersyukur.

"Hey, itu Lucy-sama!"

"Berikan ia jalan."

"The second Erza is here!"

—dan bla, bla, bla. Sampai akhirnya ia berhenti di depan seorang pemuda yang sebenarnya ingin ia hindari seumur hidup. Pemuda itu nyengir.

"Menyingkir, pinkie head." Dan itu membuat grin-nya tambah melebar.

"Aku menghalangimu di tengah koridor, kenapa kau tidak lewat di pinggir?" dan godaan itu meluncur dari mulutnya, seperti biasa. Godaan yang sangat dihindari Lucy. Sejak kelas 10, pemuda itu sekelas dengannya dan memang cukup dekat. Tetapi bagaimanapun juga dia itu jahil, dan Lucy benci dijahili—

—seperti tadi. Lucy tersentak, menyadari perilakunya yang oh-sangat-memalukan baginya. Gadis itu menggeram, wajahnya terasa memanas, sebelum akhirnya ia memalingkan wajah. "A-aku.. mau lewatnya di tengah! Iya! J-jadi menyingkirlah!"

"Mungkin Lucy 'boyish' Heartfillia tidak cocok denganmu," pemuda itu mendekatkan wajahnya dan menyentil dahi Lucy, "Lucy 'tsundere' Heartfillia lebih cocok." Dan itu membuat Lucy menggeram. Ia mendorong badan pemuda itu lalu berlari menjauh.

"Ooi! Kelasmu sekaligus kelasku ada di sini!" ia menunjuk pintu kelas 11-C yang terlewati oleh Lucy, membuat gadis itu memerah malu lagi. Dan ia terpaksa kembali lagi ke tempat dimana pemuda itu berdiri.

"Dasar tsundere," ia menunjukkan grin-nya.

"URUSAI, NATSU DRAGNEEL!"

BRAK! Pintu di banting di kelas itu sudah biasa. Maksudnya sudah biasa di banting Lucy sehingga satu kelas sudah hapal kebiasaannya. Lucy melangkah gusar, dan duduk di samping bangku Natsu. Mungkin Dewi Fortuna sedang tidak berpihak padanya, jadi saat pengacakan bangku ia malah duduk bersama Natsu.

Yah, masih untung sahabatnya Levy McGarden duduk di belakangnya. Lucy adalah tipe orang yang susah di dekati, tetapi Levy adalah sahabatnya sejak SMP, dan kegemaran mereka pun sama—dunia membaca dan menulis. Dan hanya di depan Levy-lah Lucy agak melembut.

"Ne, Lu-chan berantem lagi dengan Natsu?" Levy tersenyum manis dengan sebuah novel di tangannya. Lucy mendengus gusar.

"Yah, dan aku ingin membunuhnya," jawaban Lucy membuat Levy tertawa. "Jadi, novel apa itu yang sedang kau baca?" tanyanya antusias. Levy menghentikan bacaannya.

"Umm, novel karyamu?"

"Eh? Levy, kubilang jangan membelinya! Mou~" Lucy menggeram malu, disusul tawa Levy. Sahabatnya yang boyish ini sebenarnya masih memiliki sisi feminin, dan Levy menyadarinya. Bagaimanapun juga dia ini masih perempuan.

Pemikirannya barusan membuat Levy menyeringai seram. Lucy mengernyitkan alis, melambaikan tangannya di depan wajah Levy. "Levy, kau kenapa?"

"T-tidak!"

"Memikirkan Gajeel, eh?"

"B-bukan!"

"Blushing~" Lucy menyeringai, dan membuat seorang Levy tambah memerah. "D-diamlah! Aku mau keluar dulu, c-cari udara segar!"

Meninggalkan Lucy yang berwajah heran, Levy menyeringai kembali, "sebenarnya mencari Natsu." Ia celingak-celinguk di depan kelas dan menemukan si pinkie head—julukan Lucy untuknya, sedang bersandar di dinding sambil senyum-senyum sendiri.

Levy berdehem, cukup membuat Natsu tersentak, "sudah, jangan pikirin Lucy terus!" Natsu sempat akan protes dengan rona merah tipis di wajahnya, tetapi Levy melanjutkan, "bantu aku, kau mau kan?"

Natsu mengernyit. "Huh? Tentang apa?"

"Tenang saja, tentang Lucy kok," Levy mengedipkan mata. Natsu tersentak kembali, "Oi! B-bukan berarti aku berharap tentang d-dia, aku serius!"

"Aku juga serius!" ia berkacak pinggang, "Begini, aku ingin kau menemukan sisi femininnya dan membuatnya 100% feminin." Mata Natsu melebar, "MEMBUAT LUCY FEMININ?!"

Levy menginjak sepatu Natsu lalu pemuda itu meringis, "jangan keras-keras, bodoh!" tetapi ia kembali menyeringai. "Bagaimana? Setuju?"

Natsu tampak memasang pose berpikir. "Apa ini sebuah tantangan atau iseng saja?"

"Huft, jangan banyak bertanya," Levy mendengus, "ini ada gunanya juga untukmu, kau tahu?" Levy menyunggingkan senyumnya, sebelum akhirnya memukul pelan pundak Natsu. "Kau tak akan menyesal." ia berkata pelan, lalu kembali ke kelas.

Natsu melirik Levy yang sudah menghilang di balik pintu kelas. Wajah pemuda itu datar. "Dia itu sahabatnya, apa ia tidak mengerti sifat tomboy Lucy memang 'dari sananya'?" Natsu menghela napas, sebelum akhirnya memutuskan untuk 'meneliti' Lucy terlebih dahulu.


Sekarang saatnya waktu istirahat setelah pelajaran bersama Freed-sensei berlalu. Lucy beranjak ke kantin, perutnya terasa keroncongan, semenjak Freed-sensei entah mengapa makan sambil mengajar, membuatnya tergoda oleh makanan lezat itu. Apalagi setelah pelajaran Freed-sensei, anak Bisca-sensei sedang memakan bekalnya.

Levy? Tidak, tidak, dia tidak berminat. Ia membuat alibi ingin ke perpustakaan, tepatnya ingin bertemu Mirajane.

"Lucy."

Lucy yang akan keluar kelas, berhenti. Ia sudah hafal suara bariton itu milik siapa—ya tentu saja Natsu, ia mengabaikannya dan kembali berjalan.

"Lushy."

Lucy memperlambat jalannya. Cara mengucapkannya sangat imut, sepertinya dia satu-satunya yang dipanggil dengan cara seperti itu. Oh, apa yang ia pikirkan? Jangan terlalu geer.

"Luce."

Dan kembalilah ia mulai menamai Lucy dengan nama yang baru. Lucy makin memperlambat jalannya, aura gelap menguar dari tubuhnya.

"Luigi. Luigi 'boyish' Heartfillia!"

Empat sudut siku-siku muncul di dahinya, Lucy bertaruh bahwa si pinkie head sedang menunjukkan grin-nya. Lucy berbalik, bersiap menyerang pemuda itu kapan saja tetapi.. ia menginjak tali sepatunya sendiri. Menggerutu 'sialan', gadis itu jatuh menimpa you-know-who. Dan sekelas menatap posisi mereka, Lucy di atas dan Natsu di bawah. Poni pirangnya menggelitik wajah Natsu yang kaget.

Lucy membuka matanya, dan tampak sebuah grin yang paling ingin ia cakar seumur hidup. Natsu tertawa pelan, "hei, rindu banget ya? Sampai peluk gitu." Dan BLUSH!

Lucy cepat-cepat bangkit, dan memalingkan wajahnya. "B-Bodoh! Siapa yang merindukanmu! Dari kemarin kau juga ada di sebelahku!"

"Berarti kalau tidak ada, rindu ya?" dan wajah Natsu yang berdosa itu dilempar oleh penjepit rambut Lucy rasanya 'lumayan' jika mengenai seseorang. Pemuda itu berjengit, menatap penjepit rambut sang boyish yang tergeletak di hidungnya, dan.. baunya shampoo.. shampoo seakan untuk perempuan yang sangat wangi. Jika penjepit rambutnya sewangi ini, bagaimana dengan rambutnya?

Pemikirannya membuat rona merah tipis di wajah Natsu.

"Baka, jangan kegeeran!Ikut aku ke kantin!"

Lalu dengan sigap Natsu mengikuti Lucy seolah ia penunjuk jalan baginya. Selagi ia berjalan, Natsu mengelus hidungnya yang terasa nyeri karena dilempar tadi. Aku menemukan.. sisi femininnya! Ia menaruh kedua tangannya di saku celana. Shampo khusus perempuan dan.. Natsu mengamati Lucy dari belakang yang rambutnya tergerai. Yah, bergonya terbuka, dan Lucy tidak menyadari itu. ..Rambutnya panjang.

Natsu menggeleng. Itu masih berkemungkinan kecil...

Menemukan tempat duduk, Natsu menunggu Lucy memesan makanan. Beberapa menit kemudian, gadis itu membawa sebuah nampan penuh dengan tiga porsi okonomiyaki.

"Luce, kau tidak takut gendut?" tanyanya inosen, lalu sebuah okonomiyaki melayang ke arahnya. "WHAT WAS THAT FOR?!"

"Secara tidak langsung meledekku gendut. Ah ya, tidak ada alibi," Lucy melanjutkan makan sebelum Natsu membuka mulutnya untuk protes. Natsu menghela napas lalu menopang dagunya dan menatap Lucy bosan.

"Nih." Ia melempar pelan penjepit rambut Lucy yang tadi ia simpan di saku celana. Lucy menatapnya sebentar dengan mulut penuh, typical Lucy.

"Eh? Akwu tidwak pwerlwu lagwi. Thernywata dwi gwerai lebwih enakh!" Lucy menyuap dua okonomiyaki sekaligus ke mulutnya. Natsu sweatdrop.

'Kenapa aku selalu menemukan sisi boyish-nya?' ia tidak habis pikir. Ia mengambil penjepit rambut bermotif tengkorak itu ke dalam saku celananya.

Hening diantara keduanya.

"Jadi?" Lucy menelan makanannya, memulai pembicaraan. "Kenapa kau memanggilku? Jika tidak ada perlu, pergi saja." Itu membuat Natsu sweatdrop yang kedua kali. Like a boss—seperti ngusir saja. Pemuda itu menatap Lucy dengan tatapan—masih—bosan, "Ah, itu. Aku hanya ingin bareng denganmu saja."

"Itu tidak penting, pinkie head!" bentak Lucy seenaknya, sumpit ia tudingkan ke depan Natsu dengan sebuah okonomiyaki tertusuk di situ. Gadis itu menggoyang-goyangkan sumpit itu, "pergilah, kau mengganggu makanku!" bersamaan dengan kalimat terakhir, okonomiyaki kesayangannya terbang bebas ke depan Natsu.

Natsu menyipitkan matanya sambil mengelap saus okonomiyaki yang menempel di wajahnya. "Bisakah kau menyuapiku dengan cara lebih romantis, bukan melempar? Atau kau tak tahu apa itu romantis?" ia menunjukkan gigi-giginya dengan grin. Lucy memalingkan wajahnya.

"H-hei! Siapa yang berniat menyuapimu!" ia memakan okonomiyaki terakhir.

"Itu saja? Kau tidak meminta maaf?" Natsu pura-pura merenggut.

"Untuk apa?! K-kau yang salah, menganggu makanku!"

"Alasanmu tidak masuk akal," Natsu mendekatkan wajahnya, membuat gadis itu memerah. "Kau berhutang padaku, tsundere-san." Gerak-gerik pemuda itu sangat sulit ditebak, matanya setengah terpejam—wajah menggoda. Oh ayolah, siapa yang gadis yang tidak merasa nyaman diperlakukan seperti itu? Nona Tsundere kita juga begitu pastinya.

"N-Natsu .. apa yang akan kau lakukan?" tidak sesuai dengan perkataannya, gadis itu bukannya memundurkan kepalanya, malah tetap pada posisinya. Mata karamelnya menampakkan kekhawatiran. Natsu lebih mendekat, wajahnya hanya beberapa inchi dari wajah Lucy. Ia memejamkan mata, menunggu...

Lalu sebuah sentilan mendarat di dahinya.

Gadis itu membuka matanya dengan kesal, lalu sebuah grin menampakkan kehadirannya.

"Wuahaha! Kau berpikir apa? Dasar mesum!" Natsu tertawa berguling-guling. "Aku harus memberi tahu satu kelas!" ujarnya blak-blakan.

Aura horror menguar dari tubuh Lucy. "Jangan.." suaranya mencekam.

"Kalau begitu, tiap pagi buatkan aku bento." Tawar Natsu.

Mata karamel Lucy melebar. Bento? Ben to the To?(?) Apa Natsu lupa ia benci memasak dan tidak bisa memasak? Apa Natsu lupa kalau dirinya sendiri bisa memasak? Kenapa hari ini dia sial sekali? Dan kenapa harus selalu berhubungan dengan Natsu? Dewi Fortuna, kau berpihak pada siapa?

"Enggh... Bento? A-aku.." Lucy menundukkan wajahnya malu, kemudian berkata pelan, "t-tidak bisa memasak.. dan kau sendiri bisa! Dasar bodoh!" suaranya mulai meninggi.

"Itu tidak penting bagiku," Natsu berkata cuek, membuat empat sudut siku-siku muncul di dahi Lucy. "Yang penting, bento."

Lucy mengacak-acak rambutnya, lalu ia menyadari bahwa bergo-nya terbuka. Cepat-cepat ia memakai bergo jaketnya yang kemudian menutupi rambut pirangnya. Gadis itu menghela napas kasar, lalu berkata keras, "Kalau begitu, ajari aku dulu. Aku melakukan ini bukan untukmu! Ingat! Tetapi untuk melindungi harga diriku! Hari ini sepulang sekolah, kunjungi rumahku." Tanpa basa-basi lagi ia pun pergi.

Natsu berdiri semangat. "YOSH! I'm all fired up!"


Mirajane tengah mengumpulkan kertas-kertas data di meja khusus librarian sepertinya. Dia memang seangkatan dengan Lucy dan kawan-kawan, tetapi setelah mengikuti seleksi librarian menggantikan librarian lama yang cuti, disinilah ia. Ia diberikan waktu spesial untuk menjaga perpustakaan. Sepi, seperti biasa. Hanya setengah populasi dari murid yang gemar membaca. Kalaupun 'ramai', pasti saat pelajaran-pelajaran tertentu yang ada sangkutannya dengan buku.

Mata birunya melebar kaget saat mendengar bunyi pintu perpustakaan yang dibuka. Matanya melembut kembali, melihat sosok yang sangat ia kenal.

"Aa, Levy-chan!" serunya.

Levy membalas senyum lembut Mirajane dengan smirk terjahat yang pernah ia buat, membuat Mira bergidik. "K-kau kenapa?"

"Aku menemukannya, Mira!" Levy hampir saja menjerit bangga. "Cara untuk membantu Natsu mendekati Lucy! Sudah lama kita merencanakan ini!"

Mirajane langsung ke mode fangirl-nya. Matanya berbinar, "BENARKAH? KYAAAA~! Mereka itu memang cocok! Aku bangga padamu Levy-chan! Lucy memang tipe orang yang susah di dekati kecuali oleh Natsu! Dan dari sikapnya mereka saling menyukai! Apalagi kadang-kadang Lucy yang suka mampir ke perpustakaan malah curhat denganku! Yah walau agak malu-malu jika diungkit tentang Natsu, setidaknya itu sebuah hint! Apalagi mereka—"

"M-Mira.." Levy tersenyum, menepuk pundak Mirajane yang mencerocos bahagia. "D-dengarkan aku dulu.."

Mirajane menghela napas panjang. "Baiklah.. gomen." Setelah itu kembali tersenyum.

"Aku memintanya untuk melakukan hal yang mustahil, yaitu membuat Lucy 100% feminin. Yah, orang seperti dia pasti akan berpikir 1001 cara untuk melakukannya, jadi secara tidak langsung pasti akan selalu bersama dengan Lucy untuk menelitinya," jelas Levy panjang lebar. Mirajane manggut-manggut.

"Hmm.. kau dapat ide dari siapa? Seperti biasa, jenius," puji Mira dengan senyum terbaiknya. Levy menggaruk kepala belakangnya, "Hehehe.. seperti biasa, saat aku berpikir tidak karuan, dan justru menjadi sebuah ide."

"Sugoiii~" sepertinya Mira akan ke mode fangirl. "Sebentar lagi aku akan melihat Dragneel junior!"

"Masih lama sepertinya, Mira," Levy sweatdrop.

"Oooi, ada yang lihat Levy?"

DEG. Levy dan Mirajane membeku di tempat. Suara itu, yang selalu keras dan lantang. Kalimat yang terkandung pun cenderung santai. Kadang juga cuek. Kita semua tahu walaupun suaranya sebenarnya lembut, 'cara menggunakan'nya sangat boyish.

"Eh, Levy?" Lucy menepuk pundak Levy. Ia melempar tatapan heran kepada keduanya.

"L-Lu-chan?" Levy malah gagap. Lucy berkacak pinggang, masih menduga-duga kenapa keduanya tampak begitu tegang. "Kalian kenapa?"

"Nandemonai," Mirajane terlihat lebih rileks, "Kembalilah ke kelas. Kalian tentu tidak ingin di ceramahi Makarov -sensei?"

"Ah ya! Sekarang jam Pak Tua!" ujar Lucy blak-blakan. "Ayo Levy, kita ke kelas. Jaa ne, Mira-chan!" tanpa sadar Lucy memasang grin di wajahnya, membuat Mirajane menahan mode fangirl-nya.

Hening. Kedua sahabat itu sudah menghilang dari balik pintu perpustakaan. Mirajane tersenyum lebar, lalu berteriak bebas, "KYAA! IA MALAH MEMASANG GRIN PERSIS SEPERTI SI PINKIE HEAD!"


Waktu pulang.

Lucy melenggang dengan tidak anggunnya dari kelasnya. Ia menarik tangan Natsu hingga pergelangan tangan pemuda itu berbunyi. Natsu menggerutu dalam hati, the second Erza ini benar-benar Erza. Kekuatannya saja tidak pantas untuk perempuan. Ayolah, seorang pemegang sabuk hitam karate gak sampai segininya kan?

"Aku akan berbelanja dulu membeli bahan." Lucy membalikkan badannya menghadap Natsu. "Apa menu untuk besok?"

"Hmm.." Natsu memasang pose berpikir. Lalu ia menunjukkan grin-nya. "Okonomiyaki ala kantin!"

TBC

*) Lihat seragam di FT OVA 2.. ato 3 tiga yak'-'a


A/N: Aloha! Akhirnya sempet nge edit fic ini #fyuuh. Abis pembatas paragrafnya belom dimasukin. Haha, arigatou. Yama akan cepet apdet jika pada berminat #plaaak. Dan bakal banyak kejadian yang memaksa Lucy feminin/?. Hoho, nggak semudah itu/? Yah, spoiler/? Daripada kebanyakan tanda tanya, Yama out. Matta ne..