a/n: Untuk Fani shuuya: LaMi akan ada, tenang saja XP tapi bukan di chap 9. Mira ngga bakal jones kok XD. hikari609: Soal Summer..anda betuuuuul #spoiler #ehketauan #dahpadatauyak. LaMi yang serius(?) akan ada setelah NaLu benar benar bersatu/?

Balasan ripiw lainnya di bawah'-')/

I dont own Fairy Tail XP

.

Lisanna mempercepat langkah kakinya ke rumah keluarga Strauss. Ia tidak bisa berhenti memikirkan drama tadi, adegan tersembunyi saat lampu padam. Psh, mengambil kesempatan dalam kesempitan, ya, Lucy? Ia mendengus dalam hati. Jelas-jelas ia melihat Natsu dan Lucy.. ermm, kissu, dari cahaya hapenya. Kebetulan saja saat lampu padam, ia tengah memainkan hapenya. Apa yang sangat spesial darimu sehingga Natsu tidak memilihku?

Gadis berambut putih yang usianya terpaut satu tahun lebih muda dari teman seangkatan Mira-nee—termasuk Natsu dan Lucy—mengingat masa SD dan SMPnya bersama senpai tercintanya, Natsu. Saat SD, Natsu selalu menemaninya kemanapun, menjaganya. Hingga senpai-nya duduk di kelas 2 SMP, ia mulai mengacuhkan Lisanna. Psh, ia mendengus lagi. Yang ia lakukan hanya memberitahu perasaannya. Dan selama 2 tahun, Natsu mengacuhkannya. Dua tahun, sialan!

Saat kecil, Lisanna dan Natsu sudah saling kenal duluan. Saat Natsu berkenalan dengan Lucy dan makan bersama di restauran—bersama keluarga Natsu tentunya, disitulah semuanya berubah. Natsu sering menceritakan tentang Lucy—walaupun ia belum tahu namanya saat itu—kepada Lisanna dan segala aktivitas yang mereka lakukan bersama selalu mengingatkannya pada Lucy. Lisanna kecil belum merasa cemburu, tetapi saat TK, perasaan itu muncul.

Lucy masuk ke TK yang sama dengan mereka dan satu angkatan dengan Natsu. That was when she left behind. Lucy cenderung tomboy, jadi lebih akrab dengan Natsu.

Aku tidak ingin mengingat masa TK lagi, Lisanna menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tiba di depan pintu rumah keluarga Strauss, ia membuka pintu pelan-pelan dan mendapati rumah sepi. Elf-nii memang sering pulang malam—entah mengapa, mungkin ke rumah Evergreen?—jadi ia tinggal berdua dengan Mira-nee. Lisanna buru-buru naik ke lantai dua, ke kamarnya, di sebelah kamar Mira. Saat ia melewati kamar Mira yang pintunya sedikit terbuka, mau tidak mau ia penasaran dengan suara Mira yang tengah menelpon.

"Mou~ ayolah Laxus," bujuk Mira dengan nada ngambek. "Aku sudah membujuk Gray untuk menjadi Mr. Of The Day, tetapi dia trauma entah kenapa. Makanya, aku usulkan ada Mr. Laxus Of The Day! Ini demi Natsu dan Lucy, ne?"

"Tidak! mana mungkin aku melakukan sesuatu demi si rambut pink itu! sangat gay!" seru Laxus dari seberang. Mirajane menghela napas, "baiklah, aku akan melakukan sesuatu yang kau pinta. Barter—jika memang kata itu yang tepat menggambarkannya."

"Hmm," Laxus diam sejenak. "Kau—" ia berhenti sejenak, lalu tergagap, "N-nggak usah, dari awal aku nggak niat. Selamat malam." Klik.

.

Laxus menghela napas dan bergumam sial. Sedikit lagi. Baru saja ia berniat meminta Mirajane untuk menjadi kekasihnya. Tetapi ia belum siap.

Sial.

Lebih baik ia tidur sajalah...

.

"Apa yang akan ia katakan tadi?" gumam Mirajane. Ia menghela napas untuk kedua kalinya, menatap hapenya dengan tatapan kosong—dan ia tidak tahu bahwa di seberang sana, pipi Laxus sedikit memerah—lalu terkaget ketika mendengar suara Lisanna. "M-Mira-nee?"

"Aa, Lisanna," jawab Mirajane. "Apa yang kau lakuk—oh! Kau menguping?" tiba-tiba aura di sekitar Mirajane menjadi ungu. Lisanna mundur satu langkah.

"A-a-a-ku nggak s-sengaja! L-lagipula, ada apa dengan.. Natsu dan.. Lucy?" saat menyebutkan nama kedua sahabat masa kecilnya, ada rasa tidak suka. Mira menangkap nada tidak suka itu. "Ooh, mereka? Kami hanya ingin menyatukan mereka~" matanya berbentuk hati.

"M-menyatukan?"

"Hmm, karena sejak Ur-sensei membuat mereka duduk bersebelahan, mereka lebih banyak bertengkar! Walaupun mereka lebih dekat sih—tapi terima kasih pada rencana Levy, sekarang mereka bukan cuma dekat, tetapi jarang bertengkar! Terkadang saat makan siang, Lucy membawa bento untuk Natsu! Awalnya ia sering masuk ke kamar mandi, tapi sekarang nggak lagi dan oh! Wendy-chan bahkan mendukung mereka! Drama ini kurang memberi efek pada mereka karena melenceng, tapi, ya sudahlah—aku mempunyai rencana B! yaitu—"

"Mira-nee," Lisanna sweatdropped. "Intinya, geng 11-C ingin menyatukan Natsu dan Lucy, kan?"

Mira tertawa grogi, lalu matanya bersinar, "Ooh! Kau ingin ikut melakukannya, Lis? Kau bisa meminta maaf pada Nats—"

"Untuk apa?" potong Lisanna dingin. Mirajane menatap Lisanna dengan kesal, "Lisanna!"

"Untuk apa?!" ulang Lisanna lagi, bulir air mata terbentuk di ujung matanya. "Aku hanya menyampaikan perasaanku padanya saat kami SMP! Apakah itu salah!" lalu ia berlari keluar dari kamar Mira dan membanting pintu kamarnya.

Hening. Mira men-tsk kelakuan adiknya, "bagaimanapun juga, caramu salah."

.

"Go! Natsu!"

"Tch."

Adegan itu terjadi berulang-ulang di kepala Lucy selagi ia berbaring di atas tempat tidurnya. Saat drama, Lisanna berteriak menyemangati kepada Natsu, dan Natsu memalingkan wajahnya.

Kenapa?

Bukankah seharusnya Natsu senang melihat teman masa kecil mereka? Seharusnya ia membalas dengan cengiran khasnya itu. Walaupun ia ada rasa tidak rela sih..

Huh?

Cengiran khasnya itu hanya boleh dilihat olehmu!

"Oi, oi, terdengar egois sekali," komentar Lucy pada dirinya sendiri.

Lega bukan, saat ia justru memalingkan wajahnya?

"Apa?!" desis Lucy. "Ada apa denganku?! Aku teman yang jahat! Aku tidak boleh berpikir begitu! Seharusnya aku—" lalu ia menyadari sesuatu. Teman.

Apakah itu adalah kata yang bisa menggambarkan hubungannya dengan Natsu? Mereka sudah dua kali hampir berc-c-c—abaikan kata itu, dan saat mereka melakukannya, Lucy malah menempatkan syal Natsu di antara mereka! Dan Natsu bilang, ia berhutang tiga kali padanya? Apa-apaan itu?

"Setelah apa yang kita lakukan, apa kita masih berteman?" gumamnya, menyentuh bibirnya.

"Sahabat, dasar bodoh."

Lucy menengok ke samping dan mendapati orang yang berada di dalam pikirannya—"HIYAAAAAAA!"

Sesaat kemudian Natsu berada di lantai dengan benjolan besar di kepala. "Urgh.. apa-apaan kau.. Lushii..."

Pipi Lucy memerah saat mendengar namanya keluar dari mulut Natsu, entah mengapa. "Apa-apaan bagaimana?! Kau yang selalu datang malam-malam dan tidur di sampingku!"

"T-Tapi," Natsu menunjukkan puppy eyes. "Tempat tidurmu enak sekali! Membuatku lebih nyenyak.." dan harum. Natsu ingin menambahkan itu, tetapi khawatir akan dilempar keluar jendela.

"Ah, terserahlah," gumam Lucy lalu membalikkan badannya. Natsu tersenyum lebar lalu melompat ke atas tempat tidur. Ia merapatkan tubuhnya dengan punggung Lucy lalu memeluknya dari belakang.

"Natsu!" desis Lucy, merinding karena merasakan nafas hangat Natsu di tengkuknya.

"Ya?" Lucy bertaruh bahwa pemuda ini sedang nyengir.

"Urgh," geram Lucy, dengan wajah memerah. Natsu tertawa kecil. Mereka bertahan di posisi itu untuk beberapa lama dalam keheningan yang nyaman. Tidak tahan, Lucy membuat suara.

"Ne," mulainya.

"Apa?"

"Bagaimana hubunganmu dengan.. Lisanna.. dulu?" tanyanya pelan. Mata Natsu melebar, tidak menyangka Lucy akan menanyakan hal itu. Lucy sendiri kaget, tidak menyadari bahwa mulutnya sendiri yang bergerak mengucapkannya.

"Dia hanya seperti adik kepadaku," jawab Natsu pelan, mengingat cara Lisanna menyampaikan perasaannya. Tch.

"Oh." Hening setelah itu. Lucy menyesal telah menanyakan sesuatu yang membuat atmosfer terasa canggung.

"Ne," ia mulai lagi.

"Yah?"

"Kita..akan selalu menjadi tem—maksudku, sahabat, kan?"

Hening lagi. Natsu merasa mulutnya kering. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Sahabat eh? Tiap orang senang jika dianggap sahabat, lalu mengapa Natsu merasa hatinya seakan menciut?

"...yah." akhirnya ia menggumam pelan, tetapi Lucy mendengarnya. Ia tersenyum, walaupun merasa mulutnya pahit.

"Apapun yang terjadi..kan?"

"Yah." Gumamnya, menguap, lalu terlelap. "..sahabat..."

That kiss meant.. nothing.. right?

.

"SAHABAT!" teriak Gray histeris. "Bagaimana bisa kalian sahabat kalau kalian sudah melewati batasnya?!"

"Apa maksudmu?" tanya Natsu heran. Sekarang sedang makan siang. Khusus hari ini, Natsu mempertaruhkan harga dirinya untuk berbicara dengan Ice-Princess tentang Lucy. Sementara geng 11-C makan bersama di kantin, Natsu dan Gray makan di atap.

"Kalian sudah berada di dekat zona pacaran, dasar bodoh!" seru Gray sambil menjilat es krimnya. Natsu hanya menatap Gray dengan bengong. Gray menggeram, "Baiklah! Baiklah!" lalu ia menelpon Mira. "Halo? Mira? Ya, aku menyetujui tawaran Mr. Gray Of The Day, yah terserahlah. Aku tidak memuji kehebatan mengupingmu saat aku menasehati flame brain di kelas saat itu! terserahlah." Gray mematikan hapenya lalu menghadap ke Natsu yang penuh tanda tanya di kepalanya.

"Apa?" tanya Natsu sambil mengunyah rotinya yang dilumuri saus tabasco.

Entah darimana Gray menarik sebuah papan tulis dan di tangannya terdapat spidol. Gray berdehem, "baiklah, flame brain," mulainya, menulis kata teman, sahabat, dan pasangan di papan tulis. "Aktivitas apa saja yang dilakukan ketiga hubungan antar-manusia ini?"

"Apa-apaan ini?" gerutu Natsu.

"Jawab saja!"

"Baiklah baiklah! Untuk teman, mungkin.. meminjamkan barang? Uhh.. memberi makanan? Membantu mengerjakan PR? Memuji? Uhh.."

"Lanjut ke sahabat!" seru Gray.

"Sahabat..." Natsu mengingat-ingat apa saja yang ia lakukan bersama Lucy. "Aa!"

"Aku yakin kegiatannya aneh," gumam Gray curiga.

"Masuk ke kamar Lucy, bersembunyi di balik lemari Lucy, makan makanan Lucy, meminum gelas Lucy, meminjamkan syalku untuk Lucy, tidur di tempat tidur Lucy, memasak bersama Lucy—"

"Oi, oi," Gray sweatdropped lalu menggigit es krimnya.

"—lalu mandi bersama Lucy—"

Gray menyemprotkan es krimnya.

"APA?!"

"Itu bohong," Natsu menjulurkan lidahnya dengan kekanak-kanakan. Gray menghela napas, "jangan membuatku jantungan, kepala api. Karena kalau kau benar mandi bersamanya, aku yakin Lucy sudah membunuhmu duluan."

"Aa, benar juga,"

"..." hingga sekarang Gray masih mengira kenapa dia bisa punya teman seperti Natsu. "Baiklah, kepala api. Kita abaikan persahabatan ekstrem-mu dengan Lucy, kita lanjut ke zona pasangan." Gray menunjuk kata pasangan di papan tulis. "Biasanya, apa yang dilakukan sepasang kekasih?"

"Walaupun aku menjawab," Natsu menelan rotinya, "bagaimana kau bisa tahu kalau aku benar?"

Sebuah panah melesat ke dada kiri Gray. 'B-benar juga.. aku tidak punya pacar..' kemudian Gray memasang wajah -sok- tahu, "Psh, kau tahu apa tentangku?"

"Jomblo," jawab Natsu enteng. Kemudian papan tulis yang ditulis Gray tadi melayang ke arahnya. "Hey!"

"Aku akan jelaskan—jika kau tidak mendengarkan aku akan memberitahu Lucy tentang kebohonganmu tadi—mengenai sepasang kekasih. Seperti yang aku katakan di kelas waktu itu, sepasang kekasih pada umumnya selalu bermesraan—yah kecuali Gajeel dan Levy, selalu tsundere satu sama lain—dan biasanya, apa yang orang lakukan saat bermesraan?" Gray menatap Natsu sambil masih memasang wajah sok tahunya, tak lupa memakan es krimnya lagi. Sepertinya es krim Gray tahan cair.

"Urgh.." seketika Natsu mengingat Jellal dan Erza saat ia dan Lucy menghancurkan mesin minuman. Jellal mencium kening Erza dan Erza bersikap manja.. Ah! Itu dia! "Biasanya perempuan bersikap manja ke pasangannya, dan laki-lakinya.. menciumnya?"

Gray tersedak es krimnya. 'Aku saja tidak kepikiran! Sial.. tunggu, darimana dia tahu?!'

"Katakan," gerutu Gray yang kini baju seragamnya hilang, "jangan-jangan kau pacaran diam-diam dengan Lucy?!"

Giliran Natsu yang tersedak roti dengan wajah merah. "APA?!"

Gray menyeringai, "Ooo.. otak api sudah menyukai seseorang, bukan, mencintai," ia berkomentar, "Natsu sudah besar rupanya," ia meniru suara Igneel.

"M-m-mencintai Lucy?!" wajah Natsu kini semerah rambut Erza. "Kata siapa?!"

"Kata Lucy,"

"APA?!"

"DEMI TUHAN, DRAGNEEL, JANGAN TERUS BERTERIAK! ITU BOHONG!"

Wajah Natsu yang memerah akhirnya memudar jadi pink, "sebenarnya.. bisa jadi.. aku menyukai Luce.." gumamnya malu-malu, seketika menemukan bahwa langit terlihat menarik. "tapi.. aku tak bisa melakukan apa-apa. Ia menyukai Summer.."

Gray menahan keinginannya untuk melompat dan menari karena keberhasilannya dalam program Mr. Gray Of The Day. Jadi, ia hanya menyeringai. "Hmm.. arti namamu apa?"

"...musim panas,"

"Apa arti Summer?"

"...musim panas?" itu terdengar seperti pertanyaan daripada pernyataan.

"Jadi?"

"Jadi apa?" tanya Natsu balik. Seringai Gray menghilang dari wajahnya. Ia baru 95% berhasil ternyata. "Jika nama kalian artinya sama, berarti..?"

Natsu terdiam sejenak, lalu matanya melebar. Ia menjentikkan jari selagi Gray menatapnya penuh harapan. "Summer adalah Bahasa Inggris dari Natsu!"

Gray membanting kepalanya ke lantai semen. "SUMMER ADALAH KAU, BODOH! LUCY MEMIMPIKANMU!"

"Wha—?" pipi sang penyuka saus tabasco memerah lagi. Menyadari alasan mengapa ia selalu ingin mencium Lucy dan mengetahui siapa Summer sesungguhnya, Natsu merasakan kelegaan dari hatinya. "Ah," ia berkata akhirnya. Ia berdiri dari duduknya dan membalikkan badannya dari Gray. "Sankyuu, Gray." Ia melambaikan satu tangannya, lalu berlari turun dari atap bersamaan dengan bunyi bel.

Kini ia tahu apa yang harus ia lakukan.

Gray menghela napas, "semoga dia tidak melakukan hal yang bodoh..."

.

"Luce," panggil Natsu suatu hari di kelas.

"Hmm?" Lucy merespons sambil mengernyitkan alis. Sejujurnya, belakangan ini ia merasa Natsu menjadi lebih diam dan lebih sering menatapnya saat ia tidak melihat. Lucy merindukan Natsu yang lama, yang ribut, yang.. pokoknya Natsu. Natsu + diam = aneh. Walaupun Natsu versi ribut lebih aneh sih..

"Apa.. ada seseorang yang kau sukai?"

Lucy berhenti memerhatikan Bisca-sensei yang sedang menerangkan. Ia melihat ke arah Natsu dengan heran. "M-memangnya.. kenapa?"

Levy yang berada di belakang mereka, mulai menyeringai sendiri.

"Hmm.. penasaran," jawab Natsu sambil nyengir. "Ayo, katakan. Kau bisa mengatakan apa saja kepadaku."

Lucy terdiam sejenak lalu menundukkan kepalanya. "Sebenarnya.. ada."

Natsu menahan cengirannya yang ia rasa makin melebar. "Eeeh.. siapa?"

"S-s-s-summer.." gumamnya dengan wajah sangat merah. Di belakang, Levy menunggu reaksi Natsu dengan antusias. Kagetnya, Natsu hanya tersenyum lebar seolah sudah mengetahui sesuatu.

"Eeh, Summer ka?" tanyanya balik. "Bukannya artinya musim panas?"

"Lalu?" Lucy mulai bingung sendiri.

"Aku Natsu, dan namaku juga musim panas," bisiknya ke telinga Lucy. Lucy merasakan hangat dari dalam tubuhnya. Darahnya berdesir dan jantungnya berdetak lebih kencang. Lucy berusaha membuka mulutnya dan berbicara, namun gagal. Alhasil mulutnya hanya terbuka tanpa sepatah kata pun.

Natsu menyeringai. "Lucyy, apa kau menyukaiku?" ia berbisik sambil menyelipkan rambut Lucy yang membingkai wajahnya ke belakang telinganya.

Yang Lucy tidak mengerti adalah, mengapa tubuhnya terasa kaku.

"Karena, Luce," Natsu menempelkan bibirnya ke telinga Lucy yang tertutup bergo jaket. "Aku tidak menyukaimu."

Levy membuka mulutnya lebar-lebar, kalau bisa jatuh ke meja.

"O-oh.. begitu.." hanya itu yang bisa Lucy katakan. Lalu ia menoleh ke arah Natsu dengan wajah terluka, "l-lagipula! Kau dan Lisanna terlihat lebih cocok! D-dan Summer belum tentu kau, walaupun nama kalian sama! Hehe! Dan aku menganggapmu sahabat sama sepertimu, jadi kau tidak perlu mengatakannya! Hehehe!" ia berusaha membuat suaranya ceria.

"Ah, jahat sekali, Luce," Natsu menopang dagunya dengan tangannya. "Aku tidak menyukaimu, aku mencintaimu." Ia menoleh sedikit ke arah Lucy dan menunjukkan grin-nya. Selama pelajaran berlangsung, Lucy hanya menunduk dengan wajah memerah.

Bagaikan kilat, gadis itu langsung menyadari Summer yang ada di mimpinya memang Natsu.

.

Seusai pelajaran, Lucy buru-buru ke kamar mandi lalu membilas wajahnya dengan air di wastafel. Ia menghela napas.

"Apa dia hanya menggodaku seperti biasa?" tanyanya kepada kaca di depannya. Selama ini ia menyukai Summer—jika Summer adalah Natsu, berarti ia menyukai Natsu? Pantas saja saat Summer muncul di mimpinya.. ia merasa Summer familiar seperti seseorang yang ia kenal.

Yang tak ia sangka, ia bisa menemui Summer secara live! Saat kelas 10 pun, pertama kali menemui Natsu, ia tak bisa menghilangkan rasa familiar itu, tapi ia diam saja.

Saat ia mulai mengetahui bahwa Natsu adalah seseorang yang jahil dan selalu membuatnya kesal, ia mulai berpikir bahwa tidak mungkin Natsu adalah Summer. Kepribadian Summer jauh berbeda darinya!

Tapi.. mimpi dan dunia nyata berbeda..

"Yang bisa kulakukan sekarang adalah menerima bahwa aku mencintainya.." Lucy menghela napas lagi lalu menepuk pelan pipinya yang memerah. "Astaga.. aku mencintai Natsu.."

"Lu -chan! Ayo ke kantin!" terdengar suara Levy dari luar. Lucy yang tadinya senyum-senyum sendiri lalu keluar dari kamar mandi.

"Ayo!"

.

Hari itu pun, saat makan siang, geng kelas 11-C yang berkumpul terheran-heran melihat Lucy yang gampang blushing saat ada Natsu. Natsu sendiri gampang nyengir saat ada Lucy. Keduanya terlihat seperti mengetahui sesuatu, tetapi belum mengonfirmasi satu sama lain.

Gray hanya bisa menebak-nebak apa yang Natsu lakukan setelah programnya itu.

Levy memilih bungkam, dan akan memberitahu yang lain saat ditanya.

Erza masih melihat situasi normal-normal saja.

Jellal mencurigai bahwa Natsu sudah menyampaikan perasaannya.

Gajeel tadinya memikirkan Pantherlily, tetapi saat melihat Natsu dan Lucy, malah memikirkan mereka.

Mirajane terjebak di dunianya sendiri. Laxus, Natsu&Lucy, Laxus, Natsu&Luc—tunggu, kenapa Laxus?

Juvia memerhatikan Gray dari jauh sambil melihat lirikan Gray kepada Natsu dan Lucy yang membuatnya curiga—Gray gay terhadap Natsu atau menyukai love rival? Bagaimana dengan.. kecupan singkat Gray di tengah turunnya hujan saat itu? sampai sekarang Juvia belum berani menanyakannya.

Begitulah suasana makan siang yang sepi..

"Minna! Ayo main truth or dare!"

Semuanya memuncratkan makanan yang mereka makan.

"Mendadak sekali!" seru Levy kepada Mira yang memasang tampang tidak bersalah.

"A-aku mau ke toilet dulu.." kata Lucy sambil berdiri dari bangkunya.

"Aku akan menemani Lucy!" seru Natsu polos.

"JANGAN!"

"K-kalian.. tidak ingin bermain?" tanya Mira dengan mata berkaca-kaca. "Padahal.. makan siang ini kita selalu diam dan.. aku.. ingin kita mengobrol lagi!" ujarnya sambil menutup wajahnya dengan tangan.

Dan saat setetes air mata jatuh dari mata Mirajane, seketika satu meja panik.

"Whoa! Mira! Ayo! Kita main! Yay!" seru Levy sambil memeluk Mirajane.

"Yah! Aku sudah lama tidak main!" seru Gray sambil merangkul Natsu. "Benar kan, flame breath?!"

"Tentu saja, putri es!" jawab Natsu sambil ikut merangkul Gray.

"Ah.. baiklah," Jellal ikut berpartisipasi.

"Juvia setuju selama ada Gray-sama!" seru Juvia.

"Sebaiknya kita segera memainkannya sebelum bel," saran Erza dengan gaya bicara formalnya.

"A-ah! Aku tidak jadi ke toilet kalau begitu!" seru Lucy.

Gajeel hanya menggumamkan sesuatu dengan kesal sementara yang lain menganggapnya juga setuju. Mitosnya(?), setelah membuat seorang Mirajane menangis, keesokan harinya orang itu akan babak belur. Dan anehnya, Laxus selalu menyeringai.

Gajeel, Natsu, Gray dan Jellal tidak masalah dengan mitos itu, tapi dengan Erza yang akan menyiksa orang yang membuat temannya menderita—itu motto hidupnya.

Mirajane menghentikan aktingnya lalu tersenyum lebar. "Baiklaaah~ kita mulai dari siapa ya? Hmm.. Jellal, kalau begitu! Truth or dare?"

Matchmaker Mirajane strikes again... makanya, semuanya kecuali Jellal dan Erza menghela napas.

"Truth," jawabnya tenang sambil meminum jusnya.

"Apa kau dan Erza bersama?"

Lalu Jellal tersedak jusnya sendiri sementara Erza memerah. "Ah—! Itu—aku—Erza—uhh—iya! B-benar.."

Natsu dan Lucy menyeringai bersamaan. Mirajane hanya tersenyum. "Kenapa kalian tidak memberitahuku?"

Jellal hanya meminum jusnya kembali.

"Mira," tegur Erza yang sudah normal kembali, "kami tidak ingin para OSIS mengetahui hal ini, karena nanti mereka akan mengira Jellal dan aku memperlakukan satu sama lain secara berbeda. Ini merupakan ketidak adilan dan penghalang terhadap gelarku yang terhormat."

"...Oh," jawab Mira selagi angin berhembus.

"Baiklaah! Selanjutnya Jellal memilih seseorang!" seru Levy tiba-tiba, mengubah atmosfer canggung.

"Hm.. kau, Levy," jawab Jellal enteng. Levy terhenyak, Gajeel berdehem. "Apa yang aku lakukan salah?" tanyanya menghadap Gajeel yang protektif. Gajeel hanya memalingkan wajahnya.

"Aku truth," jawab Levy akhirnya.

"Apa Gajeel itu posesif?" kemudian keduanya memerah.

"K-k-kenapa kau menanyakan hal itu?" tanya sang kutu buku. Di seberang Jellal, Mirajane memberikan dua jempol dengan bangga.

"Karena tadi," jawab Jellal enteng lagi.

'Dia tidak jauh menyebalkan dari peran Mystogan..' pikir Lucy sweatdropped.

"...dia.. yah.. kadang-kadang.." gumam Levy, lalu berteriak semangat, "ERZA! GILIRANMU!"

"Dare," jawabnya sambil tersenyum.

"Hmm.." Levy tampak melirik Natsu dan Lucy sementara keduanya menelan ludah. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Jellal. Mungkin pembalasan bisa dilakukan. "Cium Natsu!" ia mendeklarasikan pembalasan dendamnya. 'Heh, ini karena membuatku malu,' pikirnya.

"APA-APAAN ITU?!" teriak Lucy dengan kesal. Lalu ia menutup mulutnya dengan wajah yang sangat memerah. "M-Maksudku.. silahkan saja.. umm.."

"Aku tidak setuju," jawab Natsu lalu merangkul Lucy. "Aku masih punya 3 hutang kepada nona tsundere di sini."

"Hutang?" tanya Juvia penasaran.

"Heh, hutang ci—" BUGG.

Hening melanda setelah Lucy meniup tangannya yang baru saja melayang ke kepala Natsu. "Jadi? Erza?" tanyanya sinis.

Levy menangkap nada kecemburuan dalam kata-kata sahabatnya yang belum berhasil dibuat feminin oleh Natsu. Akhirnya ia menghela napas. "Baiklah, ganti jadi Jellal."

Wajah Erza menjadi semerah rambutnya. Jellal menahan smirk-nya. Ia menyukai bagaimana wajah Erza yang tegas menjadi memerah dan malu-malu.

Memang, Erza sangat pemalu dalam mencium atau dicium—baik di pipi ataupun di bib—ah, dia tidak bisa menyebutkannya. Wataknya yang keras akan menjadi selembut puding jika romance dikaitkan dengan hidupnya. Sekarang sudah sekitar dua bulan ia bersama Jellal, dan hubungan mereka belum macam-macam—karena kissu saja sudah akan membuat Erza pingsan!

Mungkin sekarang saatnya Erza belajar..

Jadi, disinilah ia, di depan Jellal, menarik kerah baju kekasih tercintanya dan membanting bibirnya dengan bibir Jellal. Belum sampai 5 detik, Erza sudah kembali ke tempat duduknya dengan wajah sangat merah. Jellal sendiri sedang mengaduh kesakitan sambil memegang mulutnya.

Semuanya jawsdropped.

"Wow, romantis sekali," komentar Gajeel sarkastis.

"A-ah, mari kita lanjut?" ujar Mirajane sambil tertawa grogi. Erza langsung bersemangat, memikirkan orang yang tepat sebagai pelampiasan rasa malunya. "GRAY!"

Gray jatuh dari tempat duduknya, lalu bangkit lagi. "I-i-iya, Erza?"

"Pilih salah satu!"

"O-oh? I-itu.. heheh.. dare!"

"Baiklah," Erza menyeringai. "Luruskan permasalahanmu dengan Juvia." Lalu ia agak berbisik, "yang di bawah hujan..."

"E-E-Erza-san m-melihatnya?!" Juvia setengah berbisik setengah berteriak. Erza hanya menyeringai. "Aku melupakan sesuatu di ruangan OSIS hari itu."

"Apa ada yang tidak kuketahui di sini?" Mirajane bertanya sambil memiringkan kepalanya. Bagi orang lain yang kurang dekat dengannya, bisa saja mengira itu hanya sekedar pertanyaan. Tapi, bagi teman dekatnya, itu adalah isyarat wajib untuk memberi tahu apa yang telah terjadi. Jika tidak, demon Mirajane keluar, tentunya.

"A-ah, Mira!" seru Gray panik. 'Kenapa hidupku dikelilingi dengan cewek yang menyeramkan,' pikir Gray putus asa. "I-itu.."

"Gray sudah besar rupanya," Natsu meniru suara Igneel. Di kantor, Igneel bersin.

"Diamlah, flame breath!" seru Gray. Lalu ia menghadap Erza. "Erza, apa yang perlu diluruskan?"

Erza hanya diam dan melirik ke arah Mirajane. Sang penjaga perpustakaan yang belakangan ini meminta Eve menggantikannya, mengangkat sebuah kunci dan tersenyum inosen. Semua yang ada di meja berubah menjadi biru, kecuali Lucy.

"Hukuman bagi yang tidak mau mengikuti? Masih ingat semua bukan?" tanyanya dengan senyum manis.

"Uhh.. aku lupa," jawab Lucy enteng.

Tanpa basa-basi, Gray menghadap Juvia dan berkata dalam satu tarikan napas—"Juvia aku tidak pernah akan bosan terhadap hobi stalk mu dan justru aku merindukannya saat kau tidak ada tapi aku tidak suka jika kau disambut dan digoda Lyon saat ke rumahku jadi jangan pernah berpikir bahwa kau menganggu hidupku karena aku mulai menyukaimu dan selalu memerhatikanmu."

"Gray-sama.." Juvia mengangkat kedua tangannya menutupi mulutnya lalu memeluk Gray-sama-nya hingga terjatuh dari kursi. "Juvia sangat bahagia! Ciuman satu detik itu saja membuat Juvia senang!"

"A-aku bilang aku mulai menyukaimu! Dan saat aku menciummu itu refleks! Refleks!" bela Gray histeris. Juvia lalu menatap lelaki yang berada di bawahnya, "kalau begitu Juvia akan mengajari Gray-sama agar lebih menyukai Juvia. Juvia tidak akan memaksa Gray-sama, dia hanya akan mengajari."

Gray kembali duduk di bangku kantin dan menghela napas. "Kalau begitu..Minggu.. kencan?" tawarnya, melihat ke arah selain Juvia. Kali ini, yang membuat satu meja kaget, Juvia menjawab lebih kalem, "Baiklah."

Setelah puas jawsdrop, Mirajane menjerit bahagia sambil mengeluarkan banyak love dari matanya, "Aku mencintaimu Erzaaa~!"

"Oh?" kata Lucy. "Bukannya Laxus?"

Mirajane hanya tersenyum dengan tiga garis siku-siku di dahinya. "Gray, pilih salah seorang."

"Ah!" Gray kembali bersemangat lalu menunjuk Natsu dengan jari tengah kakinya, walaupun itu mustahil. "Flame breath, tentu saja!"

"Hmph," Natsu bertindak sok keren dan seketika wajahnya berubah menjadi seperti pria-pria di manga shoujo dengan background pink dan banyak bunga, "silahkan saja. Sebagai seorang pria, aku memilih dare."

"Makan pocky ini," Gray menunjuk sebungkus pocky milik Levy. "Satu batang saja cukup."

"Apa tidak terlalu gampang, ice freak?"

"Oho, tidak," jawab Gray lalu menunjuk Gajeel. "Gajeel akan menggigit sisi lainnya."

"..." otomatis Natsu dan Gajeel melempar tatapan 'aku-tidak-akan-melakukan-hal-najis-itu-bersama-orang-najis.'

Gajeel hanya menyeringai sambil melempar tatapan 'kau-ingin-melakukannya-dengan-Lucy-kan?-gihiii.'

Natsu hanya memerah sambil menjawab 'bukan-urusanmu,-panci-gosong!'

"Gray! Aku tak mengira kau fudanshi!" seru Lucy syok.

"AKU TIDAK SUKA YAOI!" teriak Gray dengan wajah jijik. "Jadi, otak api, kau mau melakukannya?"

"Ganti orang!" tawar Natsu sambil nyengir grogi. Gajeel mendengus geli. 'sudah kuduga, gihii.'

"Tidak bisa!" seru Gray bangga. Rencana dadakannya akan berhasil. Levy dan Mirajane akan bangga padanya dan memberinya stok es krim setahun. Dan ia akan menyembunyikannya dari Lyon dan Silver! Haha! Mungkin ia akan memberikan satu bungkus untuk Ur-sensei—yang notabene mempunyai hubungan darah dengannya—jika datang ke rumahnya.

Ingat, satu bungkus saja.

Kenapa ia jadi memikirkan ini?

"Baka! Apa kau mau dihukum?" tanya Lucy heran walaupun ia lupa apa hukumannya. Natsu hanya menelan ludahnya, tetapi ia benar-benar tidak mau melakukan hal gay seperti itu bersama Gajeel!

"Yah, bukannya aku punya pilihan lain," gumam Natsu putus asa, wajahnya berubah menjadi biru. Mirajane dan Levy tersenyum lebar.

"Tenang saja, hukumannya sudah diubah menjadi lebih mudah," Mirajane mengedipkan sebelah matanya. Walaupun ia mengatakannya mudah, tapi.. tetap saja, semuanya menyeramkan jika Mirajane yang mengatakannya!

"Dan itu akan dilaksanakan jika kami sudah mempersiapkannya," Levy menepuk pundak Lucy. "Tenang saja, Lu-chan, tidak perlu mengingat hukuman yang lama. Pelajari yang baru saja."

Mau tidak mau Lucy menelan ludahnya. "O-oke.."

"Giliranmu, flame face." Kata Gajeel. "Bunny-girl, bersiaplah."

"Kenapa?" tanya Lucy was-was, menarik bergo jaketnya sehingga hampir menutupi wajahnya.

"Karena kau harus memilih truth or dare!" jawab Natsu ceria, seolah melupakan hukuman yang menantinya.

"Psh, kalau hanya Natsu, aku bisa," Lucy menyeringai. Natsu juga menyeringai. "Aku dare, tentu saja."

"Oh?" Natsu menopang dagunya lalu menatap Lucy dengan intens, seolah bisa menembus mata karamel Lucy dan melihat isi tubuh gadis itu. Lucy merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dan darah mengalir ke pipinya. "Kalau begitu," ujarnya dengan suara serak.

Telapak tangan Lucy menjadi berkeringat dan sekarang ia telah memainkan rok lipit abu-abunya dengan grogi. 'Apa.. ia akan memintaku menjadi kekasi—APA YANG KAU PIKIRKAN LUCY?! Mungkin saja pengakuannya cuma untuk menggodaku seperti biasa!' Lucy teriak-teriak sendiri di dalam pikirannya.

"kau," Natsu melanjutkan perkatannya, "harus.."

'menjadi?' tebak Lucy.

"menjadi.."

'AAAAAK! DIA BENAR-BENAR AKAN MEMINTAKU MENJADI—"

"..feminin saat di sekitar kami, sampai Levy puas," Natsu menunjukkan grin kemenangan kepada Levy. Levy langsung membuka mulutnya lebar-lebar—kenapa hal ini tidak terpikirkan olehnya?!

Natsu menatap Levy yang mengatakan, 'aku-menang!'

Levy membalas, 'hah!-belum-tentu-Lu-chan-mau-melakukannya.'

Natsu membalas, 'tidak-mungkin-juga-dia-memilih-hukuman-sepertiku-karena-dare-yang-kuberikan-tidak-segay-Gray.'

Levy membalas, 'tapi-menurut-Lu-chan-itu-sangat-gay.'

Natsu membalas terakhir kalinya, 'lihat-saja.'

Kemudian mereka menghadap ke arah Lucy yang wajahnya tertutup poni.

"Mou, Natsu," gumamnya pelan dengan suara yang polos, membuat semua orang yang berada di meja itu hampir terjungkal. "Aku... sangat bodoh, mengharapkan hal lain darimu." Lucy membuka bergo jaketnya, menampakkan rambut pirang panjangnya. "Tapi.. bukankah tantanganmu terlalu mudah?" ia tersenyum manis lalu tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan satu tangan.

'KI-KI-KIAMAT!' jerit satu meja histeris dengan pemandangan langka di depan mereka.

"Dan aku tidak mau mendapat hukuman," Lucy memajukan bibir bawahnya, cemberut. "Jadi.. untuk Natsu-kun—" Natsu merinding mendengar sufiks itu dari mulut Lucy. "—aku akan melakukan apa saja. Hahaha~" Lucy menarik lengan kiri Natsu dan mendongakkan kepalanya ke telinga sang pemuda.

"Tapi setelah Levy-chan PUAS, aku akan membunuhmu," desisnya pelan agar tidak ada yang mendengar. Natsu menelan ludahnya.

"Tapi," Lucy menekan perkataannya dengan wajah memerah, "jika di kelas apa yang kau katakan memang benar, aku.. mencintaimu, Natsu-kun," bisiknya sambil membuat lingkaran di punggung Natsu dengan telunjuknya.

"L-Luce.. aku jujur.. kau tahu?" Natsu balas berbisik dengan wajah memerah.

"Hmm.." Lucy kembali ke posisinya semula, menjauhkan tubuhnya dari tubuh Natsu. "Aku akan berbicara denganmu lagi nanti, Natsu-kun." Ia mengerlingkan matanya.

Bersamaan dengan itu, bel berbunyi.

"Sudah kuputuskan," seru Mirajane yang memanfaatkan momen bisik-berbisik Natsu-Lucy untuk berdiskusi dengan Levy. "Besok—Sabtu—adalah hari dimana hukuman Natsu dilaksanakan!" ujarnya menggunakan gaya bicara Erza.

Geng 11-C tak mengatakan apa-apa, hanya menyeringai lebar—mengira apa yang akan terjadi besok.

Jellal menghela napas, 'apa hanya aku saja yang waras di sini?'

.

Tbc

.

A/N: Yak! Yama tambahin 1k+ words sebagai bonus!(?) abis, update lama DX. Gomen ne... ^^'a

Review corner~: : yah, itulah Fairy Tail. Pasti ngaco XD(?). kanzo kusuri: semua rencana disini memang untuk menyatukan NaLu^^ dan yak, kita lihat saja nanti. Arigatou^^ zuryuteki: kissu dong:* /digampar/ konflik masih ringan, huahaha/?. Kou Keehl: Yap. OMG XD. Minako-chan Namikaze: Haha, baca di kelas? XD kayaknya baca fic ini jadi pada gila ye XD. AzureLestya: Yay! Ada yang bilang ngaco lagi! XD bukan cuma YamaX''D. christie stephanie: gomen, Yama update yang rada lama:''' Ganba-chanEgao SM: kalo ada waktu, bakal update kok XD NaLu momen memang harus greget! XD Guest: arigatou :D dah ditambah 1k+ words kok. Tanami-chan: ahaha.. udah lanjut nih. Jadi chap 9 /?/ hikarimizu05: arigatou, ini lanjutannya^^ : ini lanjutannya gehehe/? dilaedogawa: arigatou, apa mungkin anda saudara Conan Edogawa? :o Guest: arigatou, ini lanjutannya^^ Pororo-chan: haha, tanpa kegajean, fic ini pasti gaada . arigatou^^

Terima kasih sudah mereview dan mem-fave dan alert dan Cuma sekedar baca ato Cuma nge klik tanpa baca/?. Bagi yang melaksanakan puasa, mohon maaf lahir batin ye XD bentar lagi lebaran XD pulang kampung, yeay/? XD

Jaa ne XD