Aloha... Fict ini hanya akan terdiri dari beberapa chapter aja, dan terinspirasi dari lagunya The Rain Ft Endank Soekamti. Ada yang pernah denger nama punk band ini/nggak? Aku sih baru denger hari ini. Video mv 'Terlatih Patah Hati' bener2 gokil, tapi liriknya dalem banget. Thank's untuk Ulil yang nggak sengaja ngasih tahu ini lagu ke saya (:

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Romance, Hurt/comfort, friendship

Warning : OOC, genderswitch, typo (s)

Here We Go...

Sad Sonata

Chapter 1 : Broken Heart

By : Fuyutsuki Hikari

Pagi hari di Konoha Gakuen berjalan seperti biasa. Para gadis remaja tanggung itu sudah berdesak-desakan sepanjang lorong kelas menuju kelas 3A, kelas dimana Sasuke berada. Tujuan para gadis itu hanya satu, melihat sang pangeran es sekolah. Hal itu cukup memberi mereka semangat untuk menjalani pelajaran hari ini yang terkadang terasa berat, terutama untuk murid kelas 3.

Seorang gadis remaja, tinggi badan seratus enam puluh centimeter, berkulit putih, dengan rambut pirang panjang yang dikuncir dua di atas kepala juga ikut berdesak-desakan untuk melihat sosok sang pangeran pagi ini. Mata sapphirenya sesekali melirik ke arah ujung lorong, berharap jika pangerannya itu segera datang, karena bel masuk sebentar lagi akan segera berbunyi. "Lama sekali," keluhnya tidak sabar.

"Kyaaaa..." Teriakan para siswi yang berada di ujung lorong itu terdengar begitu memekakan telinga. Naruto berjinjit untuk melihat sosok Sasuke yang mulai berjalan mendekat dan berbelok masuk ke dalam ruang kelasnya. Naruto mendesah lega setelah melihatnya kemudian berlalu pergi. "Yosh, cukup untuk mengisi penuh baterai energi agar semangat hingga sore nanti." Katanya riang sambil berlari menuju kelasnya.

Sudah bukan rahasia umum lagi jika gadis berambut pirang itu menyukai Sasuke. Dia bahkan mengatakannya dengan lantang di depan kelas Sasuke saat jam istirahat. Saat itu Naruto masih duduk di kelas 2 SMA. Alhasil, selama tiga bulan dia menjadi bulan-bulanan siswi yang lain karena menganggapnya lancang. Sementara Sasuke hanya menanggapi dingin pernyataan cinta itu, dia menganggap sosok Naruto hanya gadis berisik yang bodoh, dan dia tidak suka perpaduan itu.

Naruto tidak pernah putus asa untuk mendapatkan cinta dari sang pangeran es. Dia tahu, di samping Sasuke selalu berdiri Sakura si gadis berambut pink yang merupakan siswi populer, bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena kemampuan akademiknya. Memang terkadang rasa minder datang menyergap Naruto tiap kali melihat Sasuke berjalan berdampingan dengan Sakura. Tapi demi Tuhan, demi mengejar Sasuke-lah, ia rela tidak meneruskan pendidikan SMA-nya ke sekolah musik dan lebih memilih masuk Konoha Gakuen untuk mengikuti pemuda itu.

Jangan salahkan Naruto jika dia tidak terlalu pandai dalam bidang akademik. Dunianya selama ini hanya berkisar musik, sementara akademik hanya sebagai sampingan saja untuknya. Hanya karena Sasuke sajalah dia mulai belajar tekun. Hampir selama dua tahun, ia rela tidak menyentuh biola kesayangannya. Dia takut akan tergoda untuk memainkannya kembali dan berhenti pada tujuan awalnya, yaitu untuk menangkap hati Sasuke.

Segala cara sudah Naruto lakukan untuk menarik perhatian pemuda itu. Mulai dari mengganggunya setiap kali bertemu dengan suara cemprengnya, membuatkan Sasuke bekal makan siang yang selalu ditolak mentah-mentah, hingga sengaja datang kesiangan agar ia dihukum oleh guru pengawas. Naruto akan senang hati menerima hukuman tersebut, karena hal itu memberinya kesempatan untuk bisa bersama pemuda dambaannya lebih lama, sebab Sasuke yang menjabat sebagai ketua OSIS, bertanggung jawab untuk mengawasi para murid yang terkena hukuman.

"Sampai kapan kamu mau mengikutiku?" tanya Sasuke kasar saat Naruto terus membuntutinya menuju ke atap sekolah. Tempat Sasuke biasa menghabiskan waktu istirahat siangnya jika tidak ada pekerjaan di ruang OSIS. Naruto hanya tersenyum lebar menatap wajah tampan Sasuke. "Hentikan senyum bodohmu itu, Dobe. Apa kamu tidak merasa malu terus mengikutiku?"

Naruto menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sasuke mengatupkan mulutnya, menahan rasa marah yang mulai tidak bisa dia kontrol. Dia sangat benci para siswi yang selalu tidak tahu malu, terus menguntit dan mengikutinya kemanapun dia pergi. Dia benci saat para siswi itu meneriakkan namanya, hal itu benar-benar mengganggunya. Terlebih dengan gadis yang ada di hadapannya ini. Naruto selalu mampu membuat dirinya keluar dari sikap coolnya, dan itu seringkali mengganggu pikirannya.

Sasuke mengambil napas dalam sebelum akhirnya membuka mulutnya untuk mengatakan hal yang selama ini dia simpan dalam-dalam. "Berhenti mengikutiku, pergi dari hadapanku! Kamu hanya mengganggu ketenanganku. Aku benar-benar tidak menyukaimu," katanya dingin. "Aku tidak suka wanita centil yang terus berteriak-teriak, mengikuti kesana-kemari. Terutama gadis yang selalu tersenyum memuakkan." Lanjutnya kejam dan dingin. "Aku tidak suka wanita bodoh, juga berisik. Kamu tahu, semua itu ada padamu."

Hati Naruto sangat sakit saat mendengar pernyataan Sasuke. Setiap kata yang keluar dari mulut Sasuke saat ini bagaikan ribuan jarum yang menusuk langsung hatinya. "Sebaiknya kamu memikirkan masa depanmu, kita sudah kelas tiga. Sampai kapan kamu mau bermain-main?" tukas Sasuke dingin, perlahan dia berbalik meninggalkan Naruto yang masih diam mematung.

Gadis itu tahu, jika pada akhirnya dialah yang akan terluka. Dia sudah menyiapkan diri untuk hari ini, menyiapkan diri untuk patah hati. Harapannya pupus dan kini hatinya cidera serius. Naruto menatap langit mendung di atasnya, wajahnya terlihat tenang, namun tidak nampak binar ceria seperti biasa di sana. Tidak ada tetesan air mata di pipinya, hanya ada sebuah senyuman kecil pada bibirnya yang sedikit bergetar. Ia mengambil napas panjang dan bersandar pada pagar besi pembatas atap gedung. "Jadi ini akhirnya," ucapnya lirih. Naruto mengacak rambut pirangnya kasar dan merentangkan kedua tangannya lebar. "Sayonara, Teme!" teriaknya keras dengan senyum terkembang dipaksakan.

.

.

Naruto pulang ke asrama lebih cepat hari ini. Ia memiliki seorang kakak laki-laki yang sudah bekerja dan kini tinggal di Suna. Kedua orang tua mereka merupakan aktivis kemanusiaan yang sering berkeliling ke negara-negara yang dikenal dengan sebutan negara ketiga. Sayangnya, keduanya meninggal saat Naruto berusia lima belas tahun karena wabah kolera di salah satu negara yang mereka kunjungi.

Gadis itu membuka sepatu sekolahnya dan menghempaskan diri ke atas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamar, pandangan matanya menerawang jauh dan kosong. Naruto melirik telepon genggam yang ada di atas meja belajar dan meraihnya, mencari sebuah nama pada kontak nomor dan menghubunginya.

"Moshi-moshi?"

"Naruto?"

"Hm," jawab Naruto.

"Kamu sakit?" tanya Kurama terdengar begitu khawatir.

Naruto bergerak gelisah di tempat tidurnya. Ia mengambil napas dalam mencoba menetralkan suaranya. "Apa tidak boleh jika aku menghubungi nii-sanku sendiri?"

Gadis itu bisa mendengar desahan napas panjang Kurama dari seberang telepon. "Kamu jarang menghubungiku, kamu selalu menghubungiku jika kamu sedang ada masalah. Sebenarnya ada apa?"

"Aku patah hati," jawab Naruto dengan kekehan pahit.

Sunyi beberapa saat kemudian, hanya ada suara hembusan napas keduanya yang terdengar. "Pria itu sangat pintar karena sudah menolakmu," canda Kurama buka suara. Mencoba mencairkan suasana aneh di antara keduanya.

Naruto kembali terkekeh. "Nii-san tahu, aku sudah menyiapkan diri untuk hari ini. Tapi sepertinya hatiku masih belum bisa menerima rasa sakit karena patah hati."

Andai saja Naruto bisa melihat wajah Kurama yang menahan amarahnya saat ini. Di dalam hati dia mengumpat kasar, mengutuk pemuda yang sudah berani menyakiti adik satu-satunya ini. "Di luar sana pasti ada seseorang yang mencintaimu, Naruto. Cinta yang tulus dan akan membuatmu sangat bahagia. Anggap saja kejadian hari ini adalah pelajaran untuk terlatih patah hati."

Gadis itu tertawa lepas mendengar penuturan Kurama. Pria itu mengernyit dan menjauhkan telinganya dari telepon genggamnya. "Kenapa tertawa?"

Naruto menutup mulutnya rapat dan menggelengkan kepalanya pelan. "Kata-kata nii-san benar-benar lucu." Katanya sambil terkekeh. "Terlatih patah hati?" Naruto kembali tertawa keras. "Perumpamaan apa itu?"

"Aku senang kamu kembali tertawa," kata Kurama lega.

"Nii-san?"

"Hmmm..."

"Tolong kirimkan Polaris kepadaku, sesegera mungkin."

"Kamu akan kembali bermain biola?" Kurama nampak terkejut, namun Naruto bisa mendengar nada bahagia pada suara kakaknya tersebut.

"Begitulah," Naruto tersenyum dan menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Nii-san senang mendengarnya, nii-san akan mengirimkannya padamu sesegera mungkin."

"Hai, arigatou, nii-san."

"Jaga dirimu baik-baik, pulanglah saat liburan. Nii-san masih ada rapat setelah ini, jaa..."

"Jaa," balas Naruto lembut dan menutup sambungan teleponnya.

.

.

.

Keesokan harinya, seperti yang diinginkan oleh Sasuke, Naruto mulai menjauh darinya. Tidak ada lagi rutinitas pagi seperti hari-hari biasanya. "Kamu tidak menunggu kedatangan Sasuke?" Hinata nampak aneh melihat Naruto sudah duduk manis di sampingnya pagi ini. Biasanya, gadis pirang itu akan ikut menunggu kedatangan Sasuke di lorong sekolah. Berdesak-desakkan dengan puluhan siswi lainnya hanya untuk dapat melihat sosok Sasuke di pagi hari.

"Aku sudah mengundurkan diri dari kelompok pengagum dan pecinta setia tuan Uchiha," jawab Naruto datar. Tangan kanannya menopang dagu sementara tangan lainnya membuka halaman demi halaman buku sejarah yang sedang dibaca olehnya.

Hinata mengernyit semakin bingung. "Kamu menyerah?"

"Hm..." Jawab Naruto tidak jelas.

"Kamu serius?" Hinata mengguncang bahu Naruto keras, membuat Naruto berdecak dan menatapnya kesal.

"Aku serius." Balas Naruto ketus.

"Apa yang membuatmu berubah pikiran?" tanya Hinata berubah lembut. Matanya mendelik ke arah pintu masuk, saat Lee masuk ke dalam kelas dengan tergesa-gesa, meneriakan yel-yel semangat masa mudanya yang memekakkan telinga. Naruto menutup buku di depannya dan menghela napas panjang tanpa bisa menatap wajah sahabatnya itu secara langsung. "Kemarin, dia menolakku dengan jelas. Karena itu, aku tidak memiliki alasan lagi untuk tetap mengejarnya." Jelas Naruto pahit, kepalanya tertunduk dalam. Dulu, saat dia menyatakan cinta pada Sasuke di depan kelas pemuda itu, Sasuke hanya diam tanpa mengatakan apapun. Namun kemarin, perkataan tajam Sasuke, sukses membuat Naruto mundur.

Hinata menghela napas, prihatin. "Maaf, Naruto."

Naruto menyikut tangan Hinata pelan dan tertawa renyah. "Kenapa kamu minta maaf, bukan kamu yang membuat hatiku cidera."

"Naruto?" Hinata semakin cemas mendengar penuturan sahabat pirangnya ini.

"Jangan khawatir, luka ini akan sembuh dengan sendirinya. Mungkin butuh waktu, tapi suatu hari nanti pasti sembuh. Aku akan lupa akan semua sakit yang disebabkan oleh ucapannya. Seperti nii-sanku bilang, anggap saja hal ini sebagai latihan patah hati."

"Kakakmu aneh," cibir Hinata tajam.

"Aku tahu," kata Naruto membenarkan dan tersenyum simpul. "Semua ini ada baiknya juga," lanjut Naruto tenang.

"Maksudmu?"

"Aku akan mulai berlatih biola lagi, bagaimana menurutmu?" Naruto melirik ke arah Hinata yang kini menatapnya takjub dengan mulut terbuka lebar. Naruto berdecih dan menutup mulut Hinata dengan tangannya.

"Kamu tidak bercanda?" Naruto menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum lembut. Hinata memekik dan memeluk Naruto erat, ikut bahagia akan keputusan Naruto. Hinata tahu, jika napas Naruto adalah musik. Hinata yang sudah berteman lama dengan gadis pirang itu sempat kecewa karena Naruto memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Konoha Gakuen dan mundur dari sekolah musik Suna. Hinata benar-benar merasa bersalah karena Naruto pertama kali bertemu dengan Sasuke saat dia menginap di rumahnya, saat itu mereka masih duduk di tahun ketiga SMP. Kebetulan Sasuke datang berkunjung untuk menjenguk Neji yang tidak masuk sekolah selama beberapa hari karena sakit.

Anggap saja jika Naruto jatuh cinta pada pandangan pertama pada Sasuke siang itu. Dan akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Konoha, melepaskan kesempatan untuk melanjutkan sekolah di Suna Music School. Hinata tahu jika Naruto harus bekerja ekstra keras agar bisa menyesuaikan diri dengan kurikulum sekolah. Naruto terlihat begitu tersiksa saat dia jauh dari segala sesuatu yang berbau musik. Namun, Hinata begitu tersentuh dengan keteguhan hati Naruto yang tetap semangat dan tersenyum riang dalam menghadapi kesulitannya.

"Aku akan mendukung semua keputusanmu, Naruto." Kata Hinata lirih dan menepuk-nepuk punggung Naruto lembut.

"Arigatou, Hinata-chan." Balas Naruto setengah berbisik.

Keseharian Naruto lebih tenang setelahnya, tidak ada lagi rutinitas hariannya untuk mengganggu Sasuke. Semua itu hanya jadi kenangan masa lalu kini. Naruto sering tersenyum kecil jika melewati lorong-lorong sekolah, tempat dia sering mengganggu Sasuke setiap harinya. Sekarang Naruto memiliki rutinitas baru, berlatih biola di salah satu kelas kosong yang sudah tidak terpakai. Dia biasanya berlatih di sana mulai dari jam pulang sekolah hingga pukul enam sore, sebelum akhirnya pulang ke asrama untuk istirahat.

Naruto tidak bisa berlatih di asrama, karena ruangannya tidak kedap suara. Siswi lain pasti akan protes jika ketenangan mereka diganggu oleh suara gesekan biola Naruto. Ia merinding ngeri, mengingat betapa ganasnya para siswi yang sedang marah. Jangan lupa, Naruto pernah menjadi korban kekejaman mereka, akibat kenekatannya menyatakan cinta pada Sasuke secara terbuka.

.

.

.

"Kamu sedang mencari siapa?" tanya Neji pada Kiba yang bergerak-gerak gelisah di tempat duduknya. Shikamaru yang duduk di samping Kiba bahkan tidak bisa tidur karena terganggu oleh gerakan tubuh Kiba. "Duduk, Kiba! Aku tidak bisa tidur jika kamu terus berbuat gaduh." Kata Shikamaru tajam.

Kiba menghela napas panjang dan akhirnya duduk. "Ini kantin, Shika. Tempat kita makan, bukan untuk tidur." Balas Kiba mengingatkan. Shikamaru menguap lebar menanggapi ucapan Kiba, melipat kedua tangannya di atas meja dan mulai menutup matanya.

"Siapa yang kamu cari," kini Sasuke bertanya. Dengan malas dia menyuapkan makan siangnya ke dalam mulut.

"Naruto," jawab Kiba datar tanpa mengalihkan pandangannya dari pintu masuk.

Neji menarik sebelah alisnya ke atas dan menatap Kiba bingung. "Kenapa kamu mencarinya?"

"Aku hanya merasa aneh," jawab Kiba.

"Aneh?" Sasuke menyimpan sumpitnya di atas mangkok dan mengelap mulutnya dengan serbet. "Apa yang aneh," tambahnya datar.

"Biasanya dia selalu mengikutimu kemana pun kamu pergi." Jelas Kiba. "Tapi belakangan ini aku sama sekali tidak melihatnya di sekitarmu, aku bahkan tidak mendengar suaranya. Kalian tahu, bekal makan siang yang dibuatnya benar-benar lezat." Kiba menjilat bibir bagian bawahnya, membayangkan sekotak bento buatan Naruto. Pemuda itu memang selalu mendapatkan bento yang sebenarnya dibuat Naruto untuk Sasuke, namun karena Sasuke selalu menolak, akhirnya Naruto memberikan bento itu pada Kiba.

"Apa yang kamu lakukan padanya, Sas?" Neji langsung bertanya to the point.

"Hn."

"Dia tidak mungkin seperti itu tanpa alasan," kini Shikamaru menimpali. "Dia anak baik, Sas. Aku harap kamu tidak berbuat kasar padanya."

"Aku juga menyukainya sebagai teman," ujar Kiba. "Dia memang berisik, tapi dia lebih baik dari semua fans gilamu."

Sasuke menatap ketiga temannya datar dan membuang muka. "Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya menolaknya, itu saja."

"Mengenal sifatmu, aku yakin jika kamu melontarkan kata-kata tajam padanya." Dengus Neji menggeleng lemah.

"Hn..."

"Kasihan sekali Naruto. Aku rasa dia sangat syok," wajah Kiba berkerut sedih.

"Kalian terlalu berlebihan," kata Sasuke dingin. "Aku hanya tidak ingin memberi dia harapan palsu, itu saja." Jelasnya sebelum berdiri dan keluar dari dalam kantin dengan langkah angkuh. Ketiga temannya hanya bisa menghela napas panjang, melihat sifat dingin Sasuke.

Sasuke keluar kantin dengan wajah datar seperti biasa, langkah panjangnya membawa dirinya menuju ruang OSIS yang berada di gedung sebelah utara. Sasuke berhenti berjalan saat matanya menangkap sosok Naruto yang berjalan beberapa meter di depannya bersama Hinata. Gadis pirang itu tersenyum, Sasuke bahkan bisa mendengar tawa bahagia keluar dari mulut Naruto saat ini. Yang membuatnya terkejut, gadis itu mengacuhkannya saat mereka berpapasan muka. Bukan Sasuke tidak suka, dia malah bersyukur karenanya.

Naruto menyelipkan rambut pirangnya ke belakang telinga, dan terus mengobrol sepanjang jalan dengan Hinata, mengacuhkan keberadaan Sasuke. Tanpa pemuda itu sadari, hatinya merasakan kehilangan karenanya. 'Sejak kapan dia menggerai rambutnya seperti itu?' kata Sasuke dalam hati. 'Mungkin dia tidak sadar jika aku berdiri di sini,' batin Sasuke. 'Untuk apa aku memikirkan hal ini?' tambahnya dalam hati. 'Seharusnya aku senang, karena si Dobe itu mulai tahu diri.' Sasuke kembali meneruskan perjalanannya menuju ruang OSIS, beberapa siswi yang berpapasan dengan dirinya berbisik-bisik dan melemparkan tatapan memuja, namun tidak berusaha untuk mendekat. Mereka terlalu takut untuk berhadapan dengan Haruno Sakura. Siswi populer yang sangat dekat dengan Sasuke. Hubungan tanpa status, namun tetap membuat Sakura mengklaim jika Sasuke adalah miliknya.

.

.

Naruto tersenyum lega, jari-jari tangannya yang pada awalnya terasa kaku, kini mulai bisa bergerak luwes. Alunan lagu terus mengalun, hasil gesekan atara senar dan busur biola. "Apa yang kamu lakukan di sini?" suara tegas Kurenai menginterupsi kegiatan Naruto. Gadis itu berbalik dan menatap Kurenai, sedikit gugup. "Sensei?"

"Aku tanya, apa yang kamu sedang lakukan di sini?" Kurenai kembali bertanya dengan tangan dilipat di depan dada.

"Berlatih," jawab Naruto pelan.

Kurenai melirik ke arah biola yang kini tergantung di sisi kiri tubuh Naruto. "Kamu bermain biola?" Naruto mengangguk pelan. "Kenapa berlatih di sini?"

"Saya bukan anggota klub musik," jawab Naruto dengan wajah tertunduk. "Saya juga tidak mungkin berlatih di dalam kamar asrama." Jelas Naruto panjang. "Tolong saya, sensei. Ijinkan saya untuk berlatih di sini." Katanya memelas.

"Kamu sudah kelas tiga, Naruto. Kenapa kamu tidak serius belajar untuk masuk universitas?" tegur Kurenai yang kini berdiri bersandar pada sebuah meja, masih dengan tangan dilipat di depan dada.

Naruto menghela napas dan menyimpan biola beserta busurnya ke dalam kotak. "Saya memutuskan untuk masuk ke universitas seni. Saya ingin serius belajar biola, saya pernah membuat kesalahan sebelumnya. Saya berhenti berlatih biola dan masuk ke sekolah ini demi sesuatu yang mungkin akan saya sesali di masa depan nanti. Karenanya, saya ingin mengganti waktu yang hilang itu, sekarang." Kata Naruto menatap Kurenai serius dan penuh tekad.

"Kamu perlu seorang guru, Naruto. Kamu tidak bisa belajar sendiri."

"Saya tahu," sahut Naruto tenang. "Sayangnya, guru biola saya hanya bisa mengajar di kelasnya saja. Dan itu berarti, saya harus keluar asrama."

"Berapa hari yang kamu perlukan untuk berlatih dengan beliau setiap minggunya?"

Naruto terdiam, dalam hati dia mulai menghitung. "Empat hari dalam satu minggu, tiga jam setiap harinya."

"Begitu," sahut Kurenai pelan. "Aku akan meminta ijin pada pihak sekolah agar mereka memberimu kelonggaran. Tapi ingat, Naruto. Jangan menyia-nyiakan kepercayaanku padamu. Aku akan sangat marah jika tahu kamu menggunakan ijin khusus untuk hal lain."

"Benarkah?" pekik Naruto senang. "Benarkah anda akan membantu saya?" tanya Naruto semangat.

"Ya," jawab Kurenai pendek. "Dengan satu syarat," kata wanita itu tegas.

"Apapun," balas Naruto antusias.

"Mainkan sebuah lagu untukku."

Naruto mengangguk begitu gembira, diambilnya biola dan busurnya dari dalam kotak. Naruto mengapit ekor biola dengan dagu, busur biola sudah berada di tangan kanannya. Ia menarik napas panjang, menutup mata dan mulai menarikan jari-jarinya, membentuk kunci nada pada senar biola. Menggesekkan busurnya di atas sana hingga keluarlah melodi indah, mengalun begitu lembut, penuh perasaan. Kurenai memang tidak mengerti mengenai musik, tapi alunan biola Naruto saat ini benar-benar membuatnya nyaman. Guru muda itu terpukau, ternyata firasatnya benar selama ini. Naruto memiliki dunia lain yang sangat diminatinya, dan ternyata hal itu adalah musik.

.

.

.

"Kenapa kamu baru kembali ke asrama?" tegur Sasuke yang kebetulan berpapasan dengan Naruto saat gadis itu pulang les biola malam ini. Pemuda itu pulang terlambat karena ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya malam ini di ruang OSIS. Sasuke bisa saja mengacuhkan Naruto, namun hati kecilnya berkata lain. Dia butuh alasan untuk bicara dengan gadis itu, dan sepertinya sekarang adalah saat yang tepat.

"Pihak sekolah memberiku ijin keluar asrama selama empat hari dalam satu minggu. Aku tidak melanggar aturan," jawab Naruto datar. Ia merogoh saku seragam sekolahnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih yang kini sudah sedikit kusut dan menyerahkannya pada Sasuke.

Sasuke menerima amplop itu dari tangan Naruto dan mengeluarkan isinya, membacanya cepat dan mengembalikannya kembali pada Naruto. "Kalau sudah tidak ada masalah, aku pergi." Kata Naruto dingin dan hendak berjalan pergi. Langkahnya tertahan karena tangan Sasuke menggenggam pergelangan tangan kanannya erat.

Mata Naruto berkilat marah, dengan kasar dia coba melepaskan diri dari Sasuke. "Lepaskan tanganku!" desisnya tajam.

"Kita harus bicara," kata Sasuke datar.

"Jangan membuang waktu berharga anda untuk saya, Uchiha-san." Sindir Naruto dalam.

Sasuke memicingkan mata, tidak suka akan nada suara Naruto. "Kenapa sikapmu aneh belakangan ini?"

"Apa maksudmu?" tanya Naruto dengan gigi gemertak menahan marah.

"Kamu bersikap aneh, mengacuhkanku, dan tidak seceria biasanya."

Naruto mendengus dan menatap Sasuke dengan tatapan mengejek. "Kenapa kamu harus peduli?"

"Jawab saja pertanyaanku, Dobe." Desis Sasuke marah.

"Aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawabmu," katanya ringan dan menepis tangan Sasuke kasar. "Urusi saja urusanmu, jangan ikut campur kehidupan pribadiku!"

"Kamu marah karena aku menolakmu, begitukan?" ejek Sasuke dengan mimik wajah puas.

Naruto mengulum senyum tipis dan balik menatap Sasuke tajam. "Aku memang patah hati karenamu, itu benar." Aku Naruto dalam. "Kata-katamu melukaiku, itu kenyataan. Dan saat ini, aku hanya melakukan apa yang kamu inginkan. Aku menjauh dari duniamu. Kamu tidak perlu khawatir, sekolah kita cukup luas. Jika aku dan kamu bisa menjaga jarak, aku yakin kita tidak akan pernah bertemu muka lagi hingga kelulusan nanti."

Sasuke tidak mampu membalas tiap kalimat yang terlontar dari mulut Naruto. Mulutnya seolah kelu, tubuhnya seakan membeku. Tanpa disadarinya, dia membiarkan Naruto pergi kembali ke asrama, padahal masih banyak yang ingin dibicarakan olehnya. "Sial!" ia mengumpat keras dan mengacak rambutnya kasar. Sasuke tidak mengerti kenapa hatinya gelisah mendengar penuturan Naruto. Hati kecilnya seolah tidak rela saat tahu jika gadis itu memang sengaja menghindari dirinya.

Ia sudah mulai terbiasa dengan kesehariannya yang terus diganggu oleh gadis pirang itu. Dan sekarang, gadis itu memutuskan untuk menghilang dari kehidupannya hanya karena ucapan kasarnya. "Damn!" Sasuke menendang batu kerikil keras. "Kenapa aku harus terganggu karena hal ini? Seharusnya aku senang, kenapa aku jadi marah pada diriku sendiri? Sial!" Sasuke terus mengumpat. Setelah sedikit tenang akhirnya dia berjalan kembali menuju tempat mobil jemputannya diparkir untuk pulang ke rumah.

.

.

.

"Darimana, Neji?" tanya Sakura judes. Dia begitu sibuk merapihkan arsip pertanggungjawaban OSIS yang sebentar lagi akan diganti dan melantik kepengurusan baru.

"Dari kelas Hinata, Naruto meminjam buku catatan milikku, kenapa?" balas Neji dingin.

"Jadi gadis bodoh itu sekarang mengejarmu, setelah Sasuke-kun menolaknya mentah-mentah?" Sakura mengejek Neji. Rahang pemuda itu menjadi kaku, menahan marah. Sasuke yang mendengar percakapan itu dari mejanya nampak cuek, walau sebenarnya hati kecilnya ikut mengutuk Neji.

"Jangan sembarangan bicara, Sakura! Naruto teman Hinata, aku juga sudah mengenalnya sejak lama. Apa salahnya jika dia meminjam buku dariku?" balas Neji setenang mungkin.

"Kenapa dia tidak meminjam pada teman sekelasnya, contohnya pada Lee."

"Karena aku berjanji untuk membantunya belajar, kenapa kamu harus keberatan Sakura? Aku saja tidak merasa terganggu." Desis Neji tajam.

"Aku tidak menyukai wanita genit itu, yang bisa dia lakukan hanya tertawa, mengobral senyuman pada semua orang dan sangat berisik."

"Kamu juga berisik," sahut Shikamaru cepat. Ia mengucek pelan kedua matanya dan menguap lebar. "Kamu cemburu pada Naruto, bukan begitu Sakura?"

"Jangan bercanda," raung Sakura tidak terima.

"Tutup mulut kalian, dan kembali bekerja!" kata Sasuke begitu tegas. Neji mendelik ke arah Sakura untuk terakhir kali sebelum akhirnya kembali duduk di kursi kerjanya di ruang OSiS. Shikamaru kembali tertidur, sementara Kiba yang sedari tadi diam akhirnya bisa melepas napas lega setelah merasakan ketegangan selama beberapa saat. Sedangkan Sakura terus bergumam tidak jelas di tempatnya duduk.

Selesai jam sekolah, Naruto berkeliling mencari Neji untuk mengembalikan buku catatan milik pemuda Hyuuga itu. Gadis itu mengerucutkan bibirnya ketika dia tidak berhasil menghubungi Neji, karena telepon genggam pemuda itu sedang tidak aktif saat ini. Naruto mengurungkan niatnya saat melihat Neji berjalan bersama Kiba juga Sasuke, mereka berjalan tepat ke arah Naruto sedang berdiri saat ini.

Naruto baru saja berbalik dan hendak melangkah pergi saat Kiba memanggilnya dengan lantang. "Naruto?"

Mau tidak mau, akhirnya Naruto kembali membalikkan badan dan memasang wajah datar. "Hai," sapa Naruto mengangkat tangan kanannya ke udara.

"Kamu kemana saja, sudah lama aku tidak melihatmu." Kata Kiba merangkul pundak Naruto tanpa merasa canggung. Naruto menghempaskan tangan Kiba kasar dan mendelik ke arahnya. "Aku sibuk," jawab Naruto cuek tanpa menyadari jika saat ini Sasuke menatap tajam ke arahnya dan ke arah Kiba. "Kebetulan, kita bertemu di sini." Naruto mengulum senyum manis pada Neji dan mengeluarkan sebuah buku catatan dari dalam tasnya. "Terima kasih, catatanmu benar-benar membantuku."

Neji menerima catatan dari Naruto. "Sudah selesai?"

"Begitulah," Naruto menjawab santai. "Aku harus pergi, jaa..." Naruto melambaikan tangan pada Neji dan berlalu pergi tanpa melirik ke arah Sasuke maupun Kiba.

"Aku tidak tahu jika kalian seakrab itu," Kiba memutuskan keheningan di antara mereka selepas kepergian Naruto.

"Memangnya kenapa jika kami akrab?" mata Neji berbinar jahil menatap Sasuke. "Tidak akan ada yang terganggu juga jika seandainya aku menyukai Naruto?"

"Jangan bercanda," Kiba menatap Neji dengan mimik serius.

"Kenapa tidak? Naruto sangat manis. Aku rasa aku menyukainya." Kata Neji lagi dengan maksud tersembunyi. Batinnya bersorak senang melihat perubahan aura Sasuke yang mulai menggelap.

"Tapi Naruto tidak menyukaimu." Kata Kiba cepat. "Dia menyukai Sasuke." Tambahnya melirik takut ke arah Sasuke.

"Sasuke tidak menyukai Naruto," jawab Neji tenang. "Lagipula, perasaan bisa berubah seiring waktu. Bukan begitu, Sasuke?"

"Hn."

"Aku single, Naruto juga single. Bukankah kami cocok? Aku akan pastikan agar Naruto bisa move on darimu, Sasuke." Neji tersenyum senang, melenggang pergi dengan santainya, tanpa menghiraukan aura hitam yang keluar dari tubuh Sasuke saat ini.

.

.

.

TBC

Bagaimana? Lanjut/tidak? Monggo direview, thank you (: