Sampah Organik
hide bio
Follow . Favorite
Joined 03-20-10, id: 2295292, Profile Updated: 01-25-11

Saya datang kemari bukan untuk membuat kekacauan. Tidak perlu bertanya siapa saya, karena itu tidak penting. ;)

Saya hanyalah sebuah rumput kecil yang mungkin tak akan pernah pantas menjadi pohon.

Tapi setidaknya saya tahu, jika nanti rumput kecil ini mati, ia bisa menjadi sampah organik... sampah yang akan menjadi makanan bagi pohon untuk tumbuh, hidup, dan besar. Dan ini membuktikan, tak semua sampah itu merusak.

Ya. Saya mungkin tak akan pernah bisa menjadi pohon besar yang dapat menghijaukan... tapi biarkanlah saya menjadi sampah organik, yang akan membantu pohon untuk tumbuh subur.


Disclaimer:
I do not own this. All credits belongs to ambudaff


Jadilah Pohon

Written on Wednesday, March 25, 2009 at 4:35pm


Akhir-akhir ini ada banyak peristiwa yang menggempur fandom Naruto, terutama di section bahasa Indonesia di FFn. Ada pergesekan antara pro dan kontra yaoi, ada aL4y3rz, dan terakhir ini ada spammer yang menyamar sebagai flamer, tanpa membaca fic tanpa melihat siapa author, langsung masuk ke review, main babat saja semua: 'Mati aja loe' dan seperti itu ucapannya. Dia mengaku sebagai Arara~ (jangan lupa tanda ~ nya, karena ada author dengan pen name Arara di Amerika sana) dan dia itu paling SENOIR di fandom Naruto. Perhatikan, tidak ada typo dalam kata yang dikapitalisir.

Reaksi teman-teman author?

Merasa sudah gerah, banyak yang pindah fandom, mencari fandom yang lebih adem ayem, yang tidak ada flamer-nya, yang sedikit makhluknya.

Menurut Ambu, itu salah.

Mengumpamakan fandom Naruto sebagai kota Jakarta yang sudah sumpek penuh polusi, beberapa orang pindah fandom, ada bahkan yang kabur seutuhnya dari FFn, meninggalkan utang-utang fic multichapternya melirik seseorang dikepruks

Ayolah, jangan seperti itu. Tiap fandom ada ciri khasnya masing-masing, dan tentu saja tidak mudah untuk pindah fandom begitu saja. Kenapa Ambu masuk ke fandom Naruto tapi tidak meninggalkan Supernatural dan Harry Potter? Tidak begitu saja mudah ditinggalkan.

Lalu, bagaimana kalau sudah enek, sudah kesel, sudah muak dengan keadaan di fandom Naruto ini?

Jawab: ada berapa orang sih yang membuat gara-gara? Ada berapa orang juga yang tetap berkarya, tetap bagus tulisannya, tetap konsisten menulis apapun yang terjadi.

Nah, masa' kita pindah fandom karena ada seorang flamer yang spammer? Pindah fandom karena beberapa gelintir aL4y3rZ (duh, cape' nulisnya juga). MASA' KITA KALAH?

Hidup ibarat di Jakarta sumpek penuh polusi, tapi apakah kita akan dibunuh karenanya? Tidak kan, hanya sesek doang. Kalau begitu, hiduplah di pinggiran kota Jakarta, tanamlah pohon di halaman, maka polusi tidak akan begitu terasa. Tapi tetap saja kan di Jakarta? Lha, kalau memang perlu, mengapa tidak? Begitu juga dengan fandom Naruto, sudah penuh dengan polusi, apakah kita tidak bisa menjadi pohon, menjadi kesegaran, menjadi sumber oksigen di tengah-tengah polusi? Apakah memang sudah tidak bisa tertolong lagi sehingga harus pindah kota, a.k.a pindah fandom? Pindah fandom lho, bukan rangkap fandom seperti yang Ambu lakukan :P

Ataukah memang Ambu begitu terpencilnya sehingga bisa merasa: ah, tenang-tenang saja di fandom Naruto. Setiap kali buka 'Naruto fanfic Archive', tidak semua dibaca, cari saja beberapa nama yang dikenal, ada Niero, baca. Ada Yvne, baca. Ada aicchan, teriak-teriak kesenangan. Ada blackpapillon, ada yang ngebel pintu juga dicuekin. Ada MzProngs, yaiy! Ada dilia, ada himura kyou. Dan seterusnya. Ada nama baru, baca sekilas, kalau menjanjikan, review beri semangat, kalau kelihatannya alay, tinggalkan dan jangan pernah dibaca lagi.

Kaya'nya ... tidak sesumpek yang dibayangkan.

Dan bayangkan kalau penulis potensial satu persatu meninggalkan fandom ini dengan alasan sumpek itu. Akan berkurang pohon-pohon yang menjadi sumber oksigen dalam fandom. Semakin sumpek.

Kenapa tidak berusaha menyuburkan diri untuk jadi pohon yang menjadi sumber kesegaran? Kenapa malahan meninggalkan fandom terpuruk dalam kesumpekan? Coba hitung, kira-kira saja, kalau dalam satu halaman 'Archive' itu ada 25 fics. Katakanlah, ada 15 author yang 'segar' dan 10 author yang 'berpotensi menjadi polusi'. Kalau yang 15 itu satu persatu meninggalkan fandom, maka prosentasi akan berbalik, 15 orang 'polusi' sedang yang 'segar' tinggal 10. Itu hitungan kasarnya, ya. Lama-lama ... abis dong pohonnya T_T

Makanya, marilah kita menjadi pohon, menjadi sumber kesegaran dalam fandom, tebarkan oksigen, kalau bisa tarik potensi-potensi baru untuk jadi pohon juga. Kalaulah tidak jadi pohon, jadi rumput juga bisa kan?

Mari kita rapatkan barisan. Jah, kok kaya' kampanye?

Maafkan kalau ada salah kata, tapi ini sekedar pendapat. Silakan direspon.


Hutan - Pohon-Pohon yang Beranekaragam

by ambudaff on Sunday, January 16, 2011 at 9:34am


Pertama kali Ambu kenal fanfiction, fandom Harry Potter, tempatnya di FFN. Masih berbahasa Inggris. Seiring dengan meluasnya 'pergaulan'-ciee, Ambu juga menemukan banyak fanfiction Harry Potter bermutu, berbahasa Inggris, di-misalnya, FictionAlley, OwlTauri, Potions And Snitches bahkan fic NC17 diRestricted Section

Saat itu, FFN dijuluki 'Situs-Yang-Tak-Boleh-Disebut-Namanya' dengan bercanda oleh rekan-rekan penulis. Kenapa? Karena isinya yang besar, dan kalau kita ingin mencari fic bermutu di sana, sulit! Bisa 'tersesat'. Harus ada yang merekomendasikan. Kalau mencari sendiri, sebaiknya mencari dengan bantuan C2, community yang mengumpulkan fic-fic bermutu. Sebaliknya dengan situs-situs lain yang sudah disebut di atas, kecil, khusus (ada situs khusus fic Severus Snape, ada situs khusus Ron-Hermione, dsb) dan fic yang masuk harus melalui beberapa syarat, sudah dibeta misalnya.

Selain perbedaan-perbedaan di atas, ternyata ada satu yang baru Ambu sadari sekarang, dan ini mungkin juga merupakan satu dari banyak penyebab perpecahan penulis terutama di FFN Indonesia sekarang.

Apa?

Di situs-situs khusus tadi, kolom yang harus diisi dalam 'Character' tak terbatas. Bisa satu nama, dua, tiga, empat dan seterusnya. Tergantung ada berapa banyak tokoh utama dalam cerita itu. Jadi, bisa saja kita menulis: 'Albus Dumbledore, Severus Snape, Minerva McGonagall, Horace Slughorn, Harry Potter, Hermione Granger, Ron Weasley' sebagai tokoh utama cerita kita.

Sedang di FFN? Hanya ada dua kolom kosong untuk kita isi dengan nama character.

Pembatasan yang mungkin bisa dimaklumi, karena situs yang begitu besar.

Tak disadari, nama yang tercantum kemudian dimaknai sebagai 'pairing'.

Kamu penulis FFN? Fandom apa? Pairing apa?

Pertanyaan itu begitu sering diajukan saat kita pertama kali berkenalan. Dan mulanya, membuat Ambu heran. Banyak membaca fic dari berbagai situs, membuat Ambu tak terikat dengan pairing, baik membaca maupun membuat. Banyak tulisan bagus dengan pairing berbeda yang Ambu baca, banyak ide untuk membuat fic dengan pairing berbeda dari fandom berbeda, kadang crossover, kadang tanpa pair. Semua itu membuat Ambu jadi heran, kenapa nanya pair? Memangnya kita hidup hanya dalam lingkup pair itu saja?

Sepertinya mereka yang bertanya seperti itu, hanya membaca fic di lingkungan FFN saja, dengan keterbatasan tokoh yang dikemukakan: hanya dua. Padahal ada berapa fic yang tokoh utamanya banyak, ada berapa fic yang tokoh utamanya dua tapi no pair? Kenapa harus berhenti di pertanyaan pairing apa?

Pertanyaan itu kemudian malah meruncing ke: straight atau slash? Lalu meruncing lagi pada 'penulis straight tak suka pada penulis slash' dan atau sebaliknya. Lalu perang pair, perang straight/slash. Lalu keluarlah fic-fic aneh yang seharusnya tak pernah ada, dan dikompori lagi dengan review yang banyak itu.

Kenapa para penulis tak membuka mata, bahwa dunia ini luas? Dunia ini tak hanya terdiri dari pairing yang dia suka?

Dan ini bisa ditarik lagi ke dunia nyata.

Mungkin rekan-rekan pernah membaca berita, ada banyak perselisihan di sekitar kita, perselisihan yang tak perlu. Ahmadiyah diserang, gereja digembok, dan sebagainya. Pernah kan?

Ini bermula dari orang-orang yang mengganggap dirinya sendiri saja yang benar, orang lain yang berbeda pandangan itu salah, dan celakanya, mereka menggunakan kekerasan dalam 'membasmi yang tidak benar' itu.

Apa ada kesamaan dengan mereka yang mencetuskan 'pairing war' atau 'straight/slash war'?

Baik mereka yang menyerang orang-orang yang berbeda keyakinan dengan mereka, ataupun 'penulis' yang menyerang penulis lain yang berbeda pairing atau slash/straight, punya kesamaan.

Mereka tidak bisa melihat perbedaan.

Dunia itu harus diisi oleh orang-orang yang berkeyakinan sama dengan mereka. Yang berbeda keyakinan, basmi!

Kalau punya keyakinan seperti itu semenjak kecil, tak ada yang memberi pencerahan, maka jelas saja saat dewasa ia akan terus keras punya keyakinan seperti ini.

Jika semasih muda gemar menyerang penulis pairing yang berbeda, gemar menyerang penulis straight/slash, dan bukannya berusaha memperbaiki EYD, memperbaiki typo, berlatih merancang plot dan deskripsi; jangan salahkan jika mereka dewasa gemar menyerang orang yang berbeda keyakinan dengan mereka, dan bukannya membantu mencari pelaku korupsi dan menyeretnya ke pengadilan!

Terlalu berlebih-lebihan? Sepertinya iya. Buat apa sih dipikirin, itu kan urusannya orang dewasa! Tapi, apa yang muncul ke permukaan di masa dewasa, bukankah itu adalah kebiasaan sejak kecil, disadari atau tidak?

Seharusnya kita sadar bahwa hutan itu terdiri dari bermacam pepohonan. Dari mulai rumput, semak, pohon kecil, sampai pohon besar...


Jadilah pohon, Kawan!